[Freelance Chapter] What If – Chapter 1

Title : What If

Author : ririnadya or nadiasong

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Oneshot

Main Cast(s)

Jung Yoora – OC
Lee Jinki/Onew – SHINee
Lee Hyuk Jae/Eunhyuk – Super Junior

Support Cast(s)

SHINee’s members
Super Junior’s members
Jang Hyunseung – B2ST
Kim HyunAh – 4minute

Summary

“Maafkan bila cintaku tak mungkin kupersembahkan seutuhnya maaf bila kau terluka karena ku jatuh … di dua hati”

Lee Jinki—

“Ne, algesumnida, ye” ucapku pada manager hyung saat menyudahi percakapan kami di telepon.

Aku menarik nafas berat, terasa rasa pegal yang melanda ke seluruh tubuhku, rasanya seperti tersambar ribuan batu yang bisa membuatku helpless. Tapi kusadari, ini pekerjaanku dan inilah resikonya.

Menjadi artis hallyu tidaklah mudah, perlu waktu minimal 5 tahun untuk menjadi artis hallyu. Trainee sangat melelahkan, tetapi jika kau bisa menikmati kesengsaraan menjadi trainee selama bertahun-tahun, kau bisa menikmati hasilnya di kemudian hari, saat kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan, dan impikan. Hope,friends,love, and dream, semua bisa kau raih asalkan kau mau bekerja keras selama bertahun-tahun. Aku, Lee Jinki, member dari sebuah boyband asal negeri gingseng, SHINee telah melewati masa-masa itu, dan kini, aku telah mencicipi hasil dari masa-masa sengsaraku, semua yang kuinginkan bisa kupenuhi dengan diriku sendiri, bahkan wanita yang aku cintai sedari dulu, dapat dengan mudah aku miliki.

Aku tersenyum mengingat masa-masa saat aku sedang berlatih keras untuk menjadi seorang artis di negeri ini, semuanya terasa seperti mimpi untukku. Akupun lalu berdiri dari tempat dudukku, berjalan dengan santai menuju lemari pakaianku lalu memilih dengan cermat apa yang akan kukenakan, dan memilih salah satu kaos berwarna krem yang membuat aku terlihat lebih “pria”, aku lalu mengambil tas ranselku dan segera bergegas menuju gedung SMENT.

“OPPAAAAAAA KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriakan histeris gadis-gadis di depan gedung JYP sambil membawa papan nama yang tertuliskan “I LOVE YOU SHINee” atau “Lee Jinki, yeongwonhie saranghae”. Aku hanya tersenyum sambil membenarkan letak kacamata guessku dan bergegas masuk kedalam kantor.

“Bagaimana? Apa yang kepala direktur katakan padamu? Apa ia menyuruhmu membawakan acara bersama yeoja-yeoja SNSD?” Tanya Victoria saat aku kembali dari ruangan direktur.

“Aniya, aku juga akan menolak jika disuruh begitu, sayang. Kau tau aku kan?” jawabku sambil memegang dagunya.

“Iya, tapi kau tidak bisa menolak uang, oppa” ujarnya cemberut sambil menyingkirkan tanganku dari dagunya.

“Mwoya? Kau marah.yaa~” ujarku manja sambil memeluknya dari belakang

“Oppa, yaa~ ini di kantor bagaimana kalau ada seseorang yang melihat kita?karier kita akan hancur oppa” ujarnya setengah berbisik. Hihi lucu sekali wajahnya.

Chu~

“Jangan marah lagi chagi, aku duluan, SHINee membutuhkanku, annyeong” ujarku dengan memberi wink pada Vic yang sedang memegang bibirnya sambil bersemu merah.

 

“Hyung” teriak Minho saat aku sedang duduk di backstage MuBank.

“Yaa~ Minho-ya” teriak jonghyun kesenangan melihat kehadiran bocah rapper bertubuh atletis ini.

“Aku ada berita dari omma-mu hyung” ujar Minho lagi sambil menatap ke arahku. Apa? Aku? Tumben sekali dia berbicara padaku, kecuali jika ada maunya.

“Naya?” tanyaku sambil menunjuk wajahku sendiri seperti seorang pelajar bodoh yang tidak mengerti tentang materi yang dipelajarinya.

“Lantas siapa lagi hyung? Jonghyun hyung? Itu tidaklah mungkin, aku saja tidak mengenal omma-nya” jawabnya sambil memainkan handphonenya yang baru ia keluarkan dari saku jeansnya.

“Wae?” tanyanya lagi ketika aku sedang memperhatikan tingkah lakunya yang begitu … hm mungkin aneh dengan cara berbicara dan bergayanya saat didepan kamera.

“Kau aneh Minho-ya” ujarku to the point. Aku adalah orang yang tidak suka terbelit-belit.

“Aneh? Kau katarak hyung, aku ini manly” ucapnya sok bergaya ala model professional. Hey, bukankah dia itu memang model professional sebelum bergelut ke dunia musik.

“Terserah kau. Ah~ apa yang omma-ku katakana padamu Minho-ya?” aku teringat akan tujuan utamanya kemari tadi.

“Dia mau menjodohkanmu Hyung” ujar Jonghyun sambil tertawa, langsung saja aku memelototinya.

“Haha, hanya bercanda” jawabnya sambil menyunggingkan senyumnya yang khas.

“Tapi apa yang dikatakan Jonghyun hyung benar, hyung” ucap Minho yang langsung membuatku terbatuk.

“MWOOOOOO? Kau bercanda”

“Apa kau lupa orang seperti apa aku ini, hyung? Aku bukan seorang pembohong” ujarnya sambil merapihkan rambutnya

“Haha kau bercanda, Choi Minho” ujarku sambil tersenyum kecut.

Jalanan setapak mulai ramai didatangi orang-orang yang berlalu lalang, aku melihat sekililing, berusaha mencari seseorang. Sebenarnya aku tidak akan mau berbuat begini kalau bukan karena ibuku, berita yang minho katakana tadi, aku tanyakan lagi langsung kepada ibuku dan jawabannya adalah

“Tunggulah dia di depan kantormu jam 5 sore nanti, dia berambut sedada”.

Entah kenapa meskipun aku menolak permintaan ibuku tadi, aku malah menunggunya di depan kantorku dengan penyamaran yang lengkap. Setiap yeoja yang berambut sedada selalu aku curigai, tapi nyatanya sudah 2 jam sejak aku menunggu, tapi yeoja itu tidak muncul-muncul

“Ah sial” umpatku

“Aku dikerjai”

Akupun lalu membalikkan badanku menuju mobil Hyundai hitamku yang sedari tadi kuparkirkan didepan kantor.

“Huwaaaaaaaa” teriakku terkejut dengan seorang yeoja yang tiba-tiba berdiri dibelakangku dengan rambutnya yang tertutup syal dan sweaternya.

“Aku sudah disini sejak 3 jam yang lalu” ucapnya sambil merapihkan syalnya yang berantakan.

Mwo, 3 jam yang lalu? Apa mungkin dia…

Jinki POV –END—

Jung Yoora–

Aku duduk di kursi depan mobil Hyundai hitam miliknya, dia memakai kacamata hitamnya. Dia menatap jalanan didepannya dengan seksama, aku sempat terpana saat pertama kali melihatnya di TV, tetapi setelah bertemu dengannya tadi, aku agak speechless, dia dingin, tidak seperti pribadinya saat berada di depan kamera. Cih, apanya yang berkarisma? Orang dingin seperti ini, apa yang harus dibanggakan.

“Lihat apa kau, pendek?” tanyanya mengagetkanku

“Tidak” jawabku singkat

“Oh ya, siapa yang kau sebut pendek?” tanyaku lagi tanpa mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

“Kau” jawabnya singkat

Hey, aku? Aku pendek?

“Jangan bercanda aku adalah gadis yang paling tinggi di kelas sastra inggrisku” ujarku membela diri.

“Cih, meskipun begitu kau tetap saja pendek” jawabnya lagi.

Dia menyebalkan, sangat menyebalkan. Kata-katanya tidak sopan bagi seorang yeoja. Oppaku saja di Indonesia tidak pernah berkata begitu padaku. Dia sangat menyebalkan.

“Terserah kau” akhirnya aku mengalah.

Mobil kami, maaf maksudku mobil ‘calon suamiku’ berhenti tepat didepan sebuah rumah bergaya eropa di Seoul. Rumah itu unik, berwarna putih dengan tangga yang menjulang didepannya *bayangin aja rumahnya YongSeo couple di WGM*.

“Kita sudah sampai, ayo  turun, ibuku sudah menunggumu” ujarnya dengan tampang sok cool.

Aku terdiam di jok depan mobilnya, seakan tidak mendengar kata-katanya. Rasanya aku seperti disengat lebah melihat bagaimana ia berbicara kepadaku tadi. Beda sekali dengan di dalam mobil tadi, yang ini lebih sopan.

“Santai sajalah agashi, ibuku tidak akan memarahimu, karena kau putri orang kaya” celetuknya

Huwaaaah, tidak jadi deh menganggap dia sopan. Aku turun dari mobilnya sambil menatapnya kesal, melihat matanya, seperti orang yang mengajak debate .

“Hei, apakah kau asli orang Korea, Jinki-ssi?” tanyaku berbasa-basi ketika kami berjalan masuk ke dalam rumahnya, eh mungkin rumah orang tuanya.

Tetapi dia tidak menjawab, menyebalkan sekali orang itu, tidak sopan.

“Annyeonghaseyo omma” ujarnya ketika kami memasuki ruang tamu.

“Annyeonghaseyo, ommonim, naneun Jung Yoora imnida” ujarku memberi salam padanya sambil membungkuk 90o

“Aigoooo, sakura sudah besar ternyata. Aigooo, yeppoyo” ujarnya sambil memujiku

Tapi, dia memanggilku apa? Sakura? Bukankah tidak ada yag tau nama jepangku.

“Jusunghamnida ommonim, kau tau nama Jepangku dari mana?” tanyaku hati-hati. Kulihat Jinki melirikku.

“Tentu aku tau, ommamu sering memanggilmu dengan Sakura jika sedang bercertita tentangmu” jawabnya sambil memasang muka yang ramah, beda sekali dengan anaknya.

Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Kulihat Jinki yang sudah mulai gelisah entah karena sebentar lagi akan ada jadwal atau akan bertemu dengan seseorang.

“Jinki-ssi sepertinya kau sedang sakit, apa sebaiknya kita pulang saja?” ujarku sambil memasang muka simpati.

Jinki omma melirik anaknya dan kemudia melirikku, dia tersenyum senang seperti seseorang yang mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Aigoooo, Sakura, baru pertama bertemu saja sudah seperhatian ini dengan Jinki, bagaimana jika sudah menikah. Kau pasti akan menjadi istri yang paling sempurna untuk uri Jinki” ujarnya sambil menggapit lengan Jinki, Aku haya tersenyum melihat mereka. Sungguh manis ibu dan anak ini, Ah~ andai omma ada disini.Tapi sayang, omma berada jauh denganku, di Indonesia.

“Sakura, sebaiknya kalian pulang saja Jinki juga sepertinya sedang dalam mood yang buruk” ujar Jinki omma padaku.

“Aniya, bagaimana dengan acara makan malamnya? Kasihan ommonim sudah membuat berbagai masakan untuk kami” ujarku lagi, tetapi Jinki malah berkata.

“Kalau begitu kau saja yang menetap dan makan disini”

Huh menyebalkan sekali dia

“Sudahlah kalian berdua pulang saja” lerai Jinki omma yang sepertinya sudah tahu karakter anak laki-lakinya kalau sudah berkata seperti itu.

“Kau menyebalkan Lee Jinki-ssi” ucapku sewaktu kami – aku dan Jinki –sudah berada di dalam mobil Jinki.

AUTHOR –

*aaaaah~ miaaaan , sepertinya cerita ini agak lebay –maksudnya sangat lebay—riri lagi ga konsen nih, tapi harus membuat ini cerita makannya jadi seperti ini, miaaaaaaan readers L*

Summer after high school when we first met
We make up in your Mustang to Radiohead
And on my 18th Birthday
We got matching tattoos

Used to steal your parents’ liquor
And climb to the roof
Talk about our future
like we had a clue
Never plan that one day
I’d be losing you

And in another life
I would be your girl
We keep all our promises
Be us against the world

And in another life
I would make you stay
So I don’t have to say
You were the one that got away
The one that got away

 

Alunan lagu Katy Perry – The one that got away, terdengar jelas di sebuah apartemen mewah di kota Seoul pada pagi itu. Kamar apartemen itu tampak berantakan, majalah-majalah berserakan, di setiap sudut kamar terdapat banyak kertas-ketas. Buku-buku sastra inggris bertebaran di meja ruang televisi, Penghapus, pensil, dan alat-alat tulis lainnya berserakan didekat buku-buku itu.  Bekas minuman kaleng masih tersisa banyak di samping tempat tidur, Yoora terduduk sambil menenggelamkan wajahnya di pojok ruangan, piyama berwarna merah mudanya penuh dengan bercak kemerahan, isak tangis terdengar dari dirinya, seluruh tubuhnya gemetaran, ia menggenggam sebuah pisau di tangan kirinya, pisau itu penuh dengan bercak merah yang sama dengan bercak merah yang ada di piyamanya, samar-samar ia tertawa terkikik, lalu menangis lagi. Rambut sebahunya berantakan akibat acakan tangannya.

“Victoria ya” gumamnya disela-sela tangisannya.

Lee Jinki menelusuri jalanan kota Seoul dengan mobilnya, dentam irama lagu keluar dari speaker mobilnya. Jinki memakai sunglasses dengan merk Calvin Keithnya dipadukan dengan Jaket parasit putihnya, ia berbelok ke sebuah apartemen ternama di kota itu.

Ia memarkirkan mobilnya di basement apartemen lalu keluar dengan santainya tetapi dengan topi agar penyamarannya tidak terdeteksi (?).

“Chogiya, apakah ada yang bernama Yoora di apartemen ini?” tanyanya pada resepsionis lobby.

“Sebentar, akan saya cari” jawab resepsionis itu lagi

“Tidak ada,sajangnim” ujar resepsionis itu lagi

“Ah jeongmal? Bukankah omma bilang dia berada di apartemen ini” keluhnya pada dirinya sendiri.

“Chogiya sajangnim, apakah anda diberi nomor kamar orang yang anda cari? Karena ada pemilik apartemen yang berasal dari luar Korea”

“Jeongmal, kalau begitu kamar 217 siapa pemiliknya?” Tanya Junho lagi

“Apakah nona Sakuragi Sakura?” Tanya resepsionis itu lagi.

Jinki berpikir sejenak.

“Mungkin, kemarin omma memanggilnya dengan nama Sakura” ujar Jinki.

“Silahkan menaiki lantai 2 dan belok kiri disitu terlihat kamar 217” ujar resepsionis itu lagi.

“Ah ye, gamsahamnida” ujar Jinki.

Jinki lalu berlajan menuju elevator dengan santainya.

“217…217….217” gumam Jinki ketika ia berjalan menelusuri lorong apartemen mewah itu.

“Ah~ igeo” ucapnya lagi ketika ia melihat kamar apartemen yang bernomor 217.

Jinki menekan tombol bel kamar Yoora, tetapi Yoora tidak keluar juga untuk membukakan itu. Jinki menekannya lagi kali ini 3 kali dentingan bel, tetapi Yoora tidak kunjung membuka pintunya.

“Yoora-ssi…Yoora-ssi, ini aku apakah kau ada didalam?” ujar Jinki sambil sedikit berteriak.

“….”

“Yoora-ssi” panggil Jinki lagi

“Baiklah mungkin kau tidak ada didalam” Ujar Jinki lagi sambil membalikkan badannya dan berjalan kearah elevator lagi.

“Cih buat apa aku disini? Sepertinya omma hanya mengerjaiku” gumamnya lagi.

PRAK

Kunci mobil Jinki terjatuh dari kantung celananya, Jinki membungkukkan badannya untuk meraih kunci itu, tapi kemudian ia melirik kearah pintu kamar 217.

Ia berdiri lalu berbalik kearah kamar 217 lagi dengan pandangan was-was, antara ketakutan dan penasaran. Setelah sampai didepan pintu, ia mencoba memegang engselnya, dan menggesernya dengan hati-hati.

“Ini tidak terkunci” ujarnya.

Kemudian dengan hati-hati ia melangkah ke dalam kamar itu.

Matanya menatap sekeliling ruangan, ruangan itu tampak berserakan dengan kertas-kertas, buku-buku, minuman kaleng, dan bahkan sampah.

“Berantakan sekali kamar ini, ada dia tidak pernah membersihkannya, cih mengapa ia jorok seka .. YOORA-SSI” kaget Jinki saat melihat tubuh seorang gadis dengan pisau ditangannya dan piyama yang bertebaran darah (?), dengan cepat Jinki mendekati Yoora, dan memegang pisau dari tangan kirinya.

“ANDWEEE” teriak Yoora saat Jinki merebut pisau itu dari tangannya.

Jinki yang kaget melihat Yoora yang ternyata masih sadar itu langsung memeluk tubuh Yoora dengan spontan. Yoora yang kaget dengan tindakan spontan Junho berusaha melepaskan pelukan Jinki. Tapi pelukan Jinki terlalu kuat untuk seorang yeoja.

“YA~ neo micheoseo! Lepaskan aku!” teriak Yoora sambil terus berusaha lepas dari pelukan Jinki.

“Diamlah!keep in your mind, Jung Yoora!”

To Be Continue

 

Readeeeers, miaaaaan ffnya gaje banget, soalnya ini ff adalah ff terabal-abal dari semua ff yang abal-abal trus juga ini ff pertama riri yang dikirimin ke blog blog khusus buat nulis ff hehe. Jalan ceritanya ngaco bangeeeeet, udah gitu ganyambung lagi, waaah maafkan saya readers *membungkuk 90o* Riri udah kehilangan pikiran buat bikin cerita yang lebih abal-abal nih, eh maksudnya seru hehe, tapi buat yang udah baca makasiiih banget, neomu neomu gamsahamnida, jangan lupa comment ya mesipun sepatah dua patah, buat siders juga makasih udah baca, tapi besok-besok belajarlah meng-comment ff-ff yang baru kalian baca, oke *wink*. Oh ya sekedar informasi karakter Jinki disini author rubah dari yang aslinya hehe jadi jangan kaget ya kalau baca cerita ini.

Gamsahamnidaaaaa! :D *peluk cium buat readers, BIGHUG buat author yang udah publish ini ff*

6 thoughts on “[Freelance Chapter] What If – Chapter 1

  1. Bagus feelnya dapat thor, wkt baca kata pembukanya aku kiranya genrenya angst…
    Keep on writing y…
    P.S: aku penasaran apa yg akan dikatakan jinki akhirnya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s