Why…?

Why…?

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Luna/Park Sun-Young [F(x)], Yang Fan/Ze Mei Dao [Hit-5]

Genre: Romance

Length: One Shoot

Capcussss: Annyeong! Seneng banget tiap kali comeback *sok* dengan ff terbaru. Aku harap para readers juga seperti itu^^ Seperti biasa, tiap kali bawa ff selalu ngebut jadi maafkan kalo banyak kesalahan, kurang inilah kurang itulah, author hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan #ngeles.

Aku gak tidur dua malem nih gara2 ide ff ini muncul begitu aja pas lagi usaha tidur, dan sialnya aku harus masuk kerja pagi -_-

-Copyright & Cross-Posting By Gita Oetary-

*****

Matahari bersinar terang. Luna sampai harus memicingkan matanya saat ia keluar dari tempat kerjanya pada jam makan siang.

Tapi lalu matanya terperangkap pada sosok pria berwajah tampan yang tengah memperhatikannya.  Terperangah memandang senyuman yang dileparkan lelaki itu untuknya.

Dadanya berdesir saat lelaki itu berjalan kearahnya. Masih dengan senyuman yang itu-itu saja.

“Ayo.” Lelaki itu mengulur tangannya yang disambut Luna dengan senang hati.

Mereka berjalan menuju sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilap yang terparkir di pinggir trotoar. Lelaki itu membukakan pintu untuk Luna. Membuat dadanya berdebar sekali lagi.

Mobil melesat di tengah padatnya lalu lintas Seoul pada siang hari. Selama perjalanan jemari Luna tak pernah terlepas dari pegangan lelaki di sampingnya.

“Mau kemana?” Luna tiba-tiba buka suara.

“Kemana saja. Asal bersamamu.”

Bersamamu

Aku tak perduli kemana

Asal denganmu. Hanya kita berdua.

Lelaki itu menghentikan mobilnya tepat sebelum mencapai pesisir pantai yang berpasir. Mereka berdua berpandangan sesaat, saling melempar senyum.

Nampak air laut berkilauan ditimpa cahaya matahari. Angin berhembus sepoi-sepoi. Mereka berdua turun dari mobil bersamaan. Angin langsung menerpa wajah Luna. Membuat gadis itu tersenyum senang.

“Sudah lama sekali yah?” Cetus lelaki itu, seraya memasukkan tangannya di kantong celana.

Luna mengangguk. Memang sudah lama sekali sejak mereka berdua kepantai. Menikmati hembusan angin. Cahaya matahari yang hangat. Yah, sudah lama sekali.

“Luna.” Panggil lelaki itu.

Luna menatapnya dengan rambut panjangnya yang tengah dipermainkan angin.

“Aku datang kemari untuk mengatakan sesuatu kepadamu.”

“Apa?”

“Maukah kau menikah denganku?”

Luna menatap lelaki itu tak percaya. Banyak sekali yang ingin dikatakan olehnya. Tapi ketika ia melihat lelaki itu menatapnya, ia insaf. Ia terlena dalam kerinduan yang perlahan tanpa sadar menggerogoti jiwanya yang sepi.

Luna menggigit lidahnya saat lelaki itu meraih tangannya. Membawa dirinya hanyut dalam dekapannya yang hangat. Yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.

“Menikahlah denganku, Luna.”

 

Hongkong, December 2010

Musik yang berdentam ingar-bingar langsung menyambut kedatangannya. Sorot lampu yang berkelap-kelip membuat ruangan itu berubah warna setiap beberapa detik sekali. Sebentar biru. Sebentar merah. Sebentar hijau dan ungu.

Klub itu cukup terkenal di Hongkong, Lokasinya di Luard Road 20 mengambil tempat di sebuah basement yang dekat dengan Stasiun MTR Wanchai. Big Apple Pub & Disco selalu ramai apalagi pada malam-malam weekend seperti sekarang.

Yangfan melangkahkan kakinya masuk kedalam. Lampu blitz berputar-putar di lantai dansa. Yangfan terpaku di dekat deretan kursi bar. Bias cahaya mirror ball kembali berputar mengitari ruangan, membuat matanya silau. Ia seperti tersesat dalam keriuhan.

Tapi kemudian matanya terperangkap pada sosok wanita berambut sebahu. Yang tengah menari di lantai dansa mengikuti iringan lagu dari DJ. Seorang bartender memberinya sebotol bir. Yangfan langsung meneguknya.

“Kenapa baru kelihatan?” tanya bartender tersebut.

Yangfan hanya balas tersenyum seraya mengedipkan mata. Ia menunjuk gadis yang tadi menarik perhatiannya dengan dagunya. “Siapa dia?”

“Dia?” si bartender memastikan. Setelah melihat anggukan Yangfan ia kembali berkata, “model dari Korea. Cantik yah?” Yangfan kembali membalas dengan anggukan.

Suasana kian keruh karena asap rokok yang mengepul-ngepul. Yangfan baru hendak memutuskan untuk ikut menari di lantai dansa, ketika itulah seorang pria menepuk bahunya. Lelaki itu menunjukkan jalan. Yangfan bergegas mengikuti tanpa suara.

Lelaki tadi memilih tempat duduk di sudut ruangan yang jauh dari loud speaker. Tempat yang agak terkucil. Disana tempat yang disediakan berupa kursi empuk dan sofa yang nyaman.

Yangfan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.

Dua orang waiter datang bersamaan, membawakan sebotol Red Wine, Tequila dan buah-buahan untuk kedua orang itu. Kemudian segera berlalu dari sana.

“Sampai kapan kau mau hidup seperti ini?” cetus lelaki yang umurnya lebih tua itu seraya memegang gelas kristal berisi batu es di tangannya.

Ge, bagaimana kabar Mama?” tanya Yangfan acuh.

“Memangnya kau masih perduli?”

Yangfan melempar tatapan sinis kearah kakak laki-lakinya dan mendengus. “Aku tak perduli!”

“Kudengar kau di drop out lagi dari kampusmu. Dasar kau ini. Kerjanya bikin masalah saja. Kau pikir enak menjadi gelandangan?”

“Aku tak akan menjadi gelandangan!” tegas Yangfan. “Aku ingin jadi sepertimu, seperti Ze Wang Lu Gege.”

Wanglu tersenyum kecut. Dalam hati ia merasa bangga karena adiknya begitu menyukainya. Tapi juga merasa khawatir di saat bersamaan.

“Menjadi sepertiku itu bukan hal yang bisa dibanggakan, Didi.”

“Tapi kau sukses kan? Memiliki beberapa klub malam terbesar di Asia. Aku tak butuh sekolah untuk mendapatkan uang. Aku bisa menjadi bawahanmu, Ge. Kau bisa memberiku salah satu bisnismu untuk kukerjakan.”

“Kau bisa mengambil semua yang kupunya, kau tau itu Yangfan. Tapi setidaknya jadilah orang yang berguna. Dasar anak keras kepala.”

“Aku belajar dari ahlinya.” Yangfan melirik kakak laki-lakinya sekilas lalu terkekeh.

Tiba-tiba seorang perempuan tinggi semampai telah berjalan kearah mereka.

Begitu indah.

Dengan senyuman yang menawan ia mendekat.

Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna merah membara dengan tali yang disangkutkan di balik leher jenjangnya. Belahan dada gaunnya rendah, mempertontonkan payudaranya yang ranum dan berbentuk indah.

Rambutnya dibiarkan tergerai sampai ke punggung. Seuntai kalung berlian menghias lehernya. Raut wajahnya jelita dengan sedikit polesan makeup. Gayanya terlihat berkelas. Sikapnya anggun dan terlatih.

Dimei!” seru Yangfan terkejut.

Wanita itu adalah istri Ze Wang Lu. Seorang mantan artis yang sekarang menjadi penulis bernama Huang Yi.

“Sudah lama tidak bertemu, kau makin tampan saja.” Ujar Huangyi sembari duduk di samping suaminya.

Yangfan tertawa, “lebih tampan dari Wanglu kan?”

 

Malam semakin memanas. Lantai dansa semakin penuh sesak. Wanglu dan istrinya Huangyi sudah pergi lebih dulu untuk menemui teman-teman mereka di tempat lain.

Yangfan menjejalkan kakinya menuju lantai dansa. Gadis yang tadi menarik perhatiannya sudah tak berada disana melainkan duduk diantara kursi-kursi dengan segelas Margarita terselip di tangannya. Yangfan lalu berjalan mendekat, menghampiri gadis itu.

“Hai,” sapanya.

Gadis itu menatapnya dari balik bulu matanya yang lentik, memperhatikan penampilan Yangfan dari atas kepala sampai ke ujung kaki.

“Kulihat kau sendiri, mau kutemani?” tanya Yangfan.

“Aku tak butuh teman.” Cetus gadis itu keras berusaha membuat suaranya terdengar di antara bisingnya ruangan itu.

Yangfan beringsut mendekat. Melepas gelas yang ada di tangan gadis itu, menarik ujung rambutnya lembut. Bau shampoo yang dipakai gadis itu tercium jelas. Campuran bunga dan strawberry. “Apa yang kau butuhkan?”

Gadis itu meneliti wajah Yangfan yang sudah tak lagi berjarak di hadapannya. Dadanya berdesir menyaksikan sketsa wajah yang terpahat sempurna itu. Hidungnya mancung dengan pupil yang kecil, ia memiliki kelopak mata ganda yang jarang dimiliki orang Mandarin. Bibirnya menggoda.

Yangfan menyediakan segalanya. Perasaan yang selalu dibutuhkan Luna. Rasa dimiliki. Disayang. Dipeluk. Yangfan memberikan segala hal yang pernah ia inginkan. Yang selama ini hanya ada dalam mimpinya saja.

Gelombang hasrat memuncak diantara mereka. Diantara kilatan lampu disco, diantara gemerlap ruang dansa. Membuat mereka tak sanggup melepaskan satu sama lain. Menarik segala sesuatu diantara mereka yang bisa menghalangi pergerakan. Membuat bahkan udara sekalipun enggan berada diantaranya.

 

***

Pagi-pagi sekali Luna terjaga. Seperti ditampar mimpi buruk. Ia melompat dari atas ranjang. Menyibakkan selimut dengan kasar. Mendorong dengan tega punggung Yangfan. Membuat lelaki itu tersentak bangun tanpa mampu mencerna apa yang terjadi.

Yangfan melirik gadis yang kini tengah memeluk selimut dengan pandangan berkabut. Kepalanya pening karena semalam terlalu banyak menegak minuman keras.

“Siapa kau?” cetus gadis itu dengan suara serak.

“Hmm… bicaranya nanti saja. Aku masih ngantuk. Kepalaku pusing sekali…”

Yangfan kembali berbaring sambil meringsut dibawah bantal.

Luna menarik kasar bantal yang dipeluk Yangfan dan memukul kepala lelaki itu dengan berang. Matanya menatap Yangfan setajam samurai ketika laki-laki itu akhirnya duduk di atas kasur.

“Kau sengaja menjebakku kan!” hardiknya menggelegar. Seperti petir meledak di siang hari yang terik. “Kau menjeratku!” Dengan jari gemetar Luna mencengkram selimut dan bantal merapat ditubuhnya yang telanjang.

“Apa maksudmu?” tanya Yangfan tak terima. “Kau sendiri yang membawaku kemari! Ini kamar hotelmu kan!?” kilatan amarah terpancar di matanya. Sudah tak dipedulikannya lagi kepalanya yang sakit. Ia beringsut mendekati Luna yang terdesak ke tembok.

“Apa yang kau lakukan?” cetus Luna ketakutan. “Jangan mendekat!”

Tapi Yangfan terus mendesaknya. Sampai tak ada lagi celah untuk Luna melarikan diri dari sana. Ia merutuki dirinya yang begitu bodoh karena sudah membawa lelaki asing masuk ke kamarnya, tidur di ranjangnya, mendekap tubuhnya, menyentuh wajahnya. Sebersit perasaan asing menggelenyar di tengkuknya. Membuat ia merinding ketakutan. Namun juga nikmat.

“Jangan dekati aku! Jangan menyentuhku!”Luna meraung pilu. “Kumohon…” bisiknya kalut.

Tapi tubuh Yangfan tidak terasa menjauh. Luna memejamkan matanya erat-erat. Merasakan tubuhnya ditindih.

Yangfan meraih ujung selimut. Melepas bantal yang dicengkram Luna meskipun awalnya gadis itu menolak setengah mati. Ia melingkarkan selimut itu sampai menutupi seluruh tubuh Luna. Lalu memeluk pinggang ramping gadis itu.

Luna hampir menangis. Ia meraung di pelukan Yangfan yang menghanyutkan masih dengan mata terpejam. “Lepaskan aku…” pekiknya tertahan.

Perlahan tubuhnya terangkat. Luna mengejang dalam pelukan Yangfan. Sampai saat lelaki itu menurunkannya dan melepas pelukan baru ia membuka mata. Dan dalam beberapa saat pandangan keduanya bertemu. Hanya sedetik.

Luna termangu. Yangfan memungut pakaiannya dari lantai dan memberikannya ke Luna yang sedang berada di kamar mandi, tempat ia tadi membawanya. Yangfan sendiri sudah berpakaian, setelah itu ia hanya mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Lalu sepi.

Luna merenung dalam diam. Pikirannya kosong, membuat ia harus berpikir lebih keras. Sampai tanpa sadar ia terduduk di lantai marmer kamar mandi dengan perasaan terluka. Dengan tubuh ternoda. Ia menangis. Mengeluarkan semua air mata yang ia punya.

*

Luna berjalan keluar kamar dengan kepala tertunduk. Menghitung setiap langkah yang ia ambil sampai pintu keluar hotel tempatnya menginap. Hari ini ia ingin menghabiskan waktu sendirian. Lagipula pemotretan sudah berakhir, tak ada lagi yang perlu ia pikirkan.

Meskipun begitu, ia belum ingin pulang ke Korea dan menghadapi kenyataan yang dibencinya.

Dan ketika ia melangkah ke lobi, ia tak tahu apakah harus berhenti atau justru berlari.

Ia melihat sosok lelaki yang sejak tadi tak berhenti mengganggu pikirannya. Lelaki itu duduk di lobi tamu. Duduk dengan tenang. Luna merasa perlu menghindar daripada kembali masuk dalam perangkap orang asing tersebut. Seharusnya…

Tapi entah mengapa langkahnya tak searah dengan jalan pikirannya. Karena ia terus berjalan maju.

Yangfan bangkit ketika melihat Luna muncul di hadapannya. Dengan tatapan yang membuat Luna seakan dibanjiri ratusan kuntum mawar. Dengan senyuman yang melambungkan angannya hingga ke langit ketujuh. Membuatnya entah mengapa merasa sedikit lega.

Melihat senyum Yangfan yang tulus, tiba-tiba Luna menyesali perbuatannya tadi. Meskipun Yangfan sudah menodainya. Meskipun lelaki itu sudah menyentuhnya. Semua itu bukan cuma kesalahannya semata. Luna juga bersalah.

Dan ia tak perduli jika ia yang disalahkan sekalipun. Karena ia menginginkan Yangfan berada di sisinya sedikit lebih lama. Hanya sedikit lebih lama, salahkah?

*

Siang itu Yangfan dan Luna menyusuri keindahan Pulau Lantau dengan menaiki Cable Car terpanjang di Asia yang akan membawa mereka ke puncak gunung tertinggi disana. Lantai kabinnya terbuat dari kaca sehingga mereka bisa dengan leluasa melihat pemandangan di bawah. Tapi juga cukup mengerikan untuk Luna melihat pemandangan dari jarak sejauh itu.

“Lihat.” Yangfan menunjuk patung-patung Buddha raksasa yang berdiri agung di puncak gunung. Luna tertegun melihat tangannya di gamit. Tapi cepat dihalaunya debur yang menyelinap di dadanya.

Cable Car tersebut berhenti. Yangfan membawa Luna makan siang di salah satu restoran. Makanannya tidak begitu enak, tapi cukup mengisi perut mereka yang keroncongan sejak tadi.

Setelah meninggalkan restoran tersebut mereka pergi mengunjungi biara dan kuil Buddha. Mereka menghabiskan waktu selama dua jam sebelum kembali menempuh perjalanan dengan Cable Car lagi.

Sesampainya mereka di Hongkong, hari sudah malam. Yangfan mengajak Luna makan malam romantis di lantai 62 Hopewell Centre. Sebenarnya lumayan sulit mendapatkan kursi disana. Tapi semua selalu terasa mudah saat bersama Yangfan. Lelaki itu hanya perlu menelpon seseorang dan tempat akan selalu  tersedia.

Lift kaca bergerak naik menjauhi daratan. Gemerlap Hongkong, Kota yang konon tidak pernah tidur itu nampak menakjubkan dilihat dari atas. Yangfan dan Luna memandang terpesona pemandangan yang dilihatnya.

Sampai akhirnya mereka sampai di lantai 62. Seorang pelayan pria menjemput mereka, Yangfan menyebutkan nama seseorang yang ditebak Luna adalah teman yang tadi ditelponnya. Kemudian mereka di antar menuju meja paling luar, yang membuat mereka bisa dengan leluasa menikmati pemandangan dari atas.

Pelayan tadi dengan sigap langsung menanyakan pesanan Yangfan dan Luna. Menghilang sejenak lalu kembali lagi membawa dua cangkir kopi hangat dan sebuket roti kering sebagai pembuka makan malam.

“Kau konglomerat yah?” tanya Luna tiba-tiba sembari menghirup kopi di tangannya.

Yangfan memandangnya heran. “Memangnya kenapa?”

“Mendapatkan tempat sebagus ini. Kudengar katanya perlu waktu berbulan-bulan hanya untuk reservasi.”

“Kan sudah kubilang temanku manager disini.”

Luna mengangkat bahu tak acuh dan kembali menyeruput kopinya.

*

Tanpa terasa malam berlalu demikian cepat. Makanan di atas piring sudah tandas tak bersisa. Tapi tak satupun yang ingin beranjak dari sana. Seakan ingin mengurung malam bersama mereka. Supaya pagi tak pernah lagi datang.

Tapi toh pada akhirnya perpisahan akan selalu terjadi.

Yangfan mengantar Luna sampai ke hotel.

“Terima kasih sudah mengantarku,” desah Luna bimbang. Ketika mereka berada di depan lobi dan harus berpisah.

Yangfan hanya mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang saat ini sudah menjadi kesukaan Luna.

Ingin ia menarik tangan Yangfan dan berlari dari sana. Menenggelamkan dirinya dalam bekapan sayang yang dimiliki Yangfan. Membiarkan dirinya terhanyut pasrah pada gelombang yang tercipta hanya ketika ia bersama lelaki itu.

Namun, apakah lelaki itu juga merasakan hal yang sama dengannya? Yang tak ingin berpisah. Yang tak ingin malam berlalu?

Hati kecil Luna mendesak dirinya untuk mengajak Yangfan bertemu lagi, besok, lusa, besoknya lagi, dan seterusnya. Atau sekedar mengajaknya makan malam dan membalas kebaikannya hari ini.

Tapi bukankah Yangfan sendiri yang harus meminta? Jika ia menyukai Luna. Jika ia merasakan sesuatu kepadanya. Ia pasti akan berjuang mendapatkan Luna. Tak perduli bagaimanapun caranya.

Tapi Yangfan hanya tersenyum tipis dan berkata singkat, “Good night and sleep well.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tanpa bertanya satu hal pun.

Dan Luna terpaksa memutar tubuhnya. Menyeret pergelangan kakinya ke kamar secepat mungkin. Supaya ia tak perlu lagi menengok ke belakang dan menemukan sosok Yangfan telah berlalu.

 

***

Seharusnya Luna jangan membiarkan debar ini menjajah hatinya. Seharusnya Luna jangan membiarkan celah itu terbuka dan meloloskan Yangfan ke dalam hidupnya.

Tapi kehidupannya merupakan tubuh yang butuh bernafas, merupakan dahaga yang harus dilepaskan. Dan hanya Yangfan yang dapat menawar semua itu. Tak perduli seberapa sering Luna mengabaikannya. Tak perduli sekuat apa ia menolak pesona lelaki itu.

Yangfan akan selalu kembali kepadanya. Akan selalu memenuhi isi otaknya. Akan selalu menghantui mimpinya. Yangfan akan selalu begitu. Dan tak ada yang bisa dilakukan Luna selain membiarkannya.

Luna sedang tak ingin kemana-mana. Sejak pagi ia mendekam diri dalam kamar hotel. Telponnya tak berhenti berdering. Salah satunya dari managernya yang menyuruhnya segera pulang ke Korea.

Ibunya juga menelpon tadi pagi, menanyakan kabar dan ujung-ujungnya menyuruh ia cepat pulang untuk bertemu anak temannya. Sekeras apapun Luna menolak perjodohan itu, tetap saja ibunya tak mau tahu.

Bel berdenting. Luna bergegas meraih pintu dan membukanya. Yangfan sudah berdiri di depannya. Dengan kemeja berwarna putih dan jins. Kasual tapi menggoda. Entah kata apa yang tepat untuk menjabarkan penampilan Yangfan malam ini. Lelaki itu terlihat jauh lebih tampan dari kemarin.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yangfan sambil melongos masuk tanpa dipersilahkan.

“Aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku sedang tidak punya pekerjaan jadi mau mengajakmu ke pantai. Cepat sana ganti baju!” Yangfan  berselonjor di atas sofa. sementara Luna segera menghilang dibalik pintu kamar.

Tak berselang begitu lama, Luna kembali lagi di hadapan Yangfan dengan memakai celana pendek dan kemeja putih. “Ayo,” ajaknya dan mereka segera berjalan keluar.

*

Mereka tiba di pantai Repulse, salah satu pantai terbaik di Hongkong. Luna menenteng sandal jepitnya saat ia berjalan di pesisir pantai sementara Yangfan melipat celananya sampai dibawah lutut.

Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri pantai berpasir putih tersebut. Padahal hari sudah malam, tapi pengunjung nampak lebih banyak dibandingkan sore hari. Tak heran karena pemandangan disini justru lebih baik saat malam.

Ge…”

“Hmm?”

“Besok aku kembali ke Korea.”

Ucapan Luna sontak membuat Yangfan menghentikan langkahnya dan memandang gadis itu.  “Kenapa?”

Luna menatap wajah Yangfan, rambutnya nampak berwarna keemasan dibawah temaram lampu jalan. “Sudah waktunya aku pulang.”

“Aku mengerti, tapi kenapa secepat itu? Aku bahkan belum membawamu  ke The Peak, naik kereta kayu, pergi ke Madame Tussaud, dan kita juga belum ke Ocean Park atau Disney Land.”

Luna terkikik geli. Jauh di dasar hatinya, ia senang melihat reaksi Yangfan yang keberatan dengan kepergiannya. Jika lelaki itu tak ingin ia pergi, bukankah berarti ia tak bertepuk sebelah tangan?

Tapi tiba-tiba Yangfan angkat bicara lagi, “sudahlah, pergi saja. Lagipula aku juga mulai kerja seminggu lagi. Kita juga kan tidak punya hubungan apa-apa. Aku hanya menyesal saja kalau tidak membawa turis sepertimu ke tempat-tempat wisata disini. Kan sayang sekali.”

Senyum di bibir Luna perlahan memudar. Ia menatap air laut yang beriak dengan perasaan tak menentu. Mendung menggantung di sudut matanya. Luna merasa dadanya sakit. Sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang tersangkut dari dalam sana.

“Iya…” bisik Luna serak pada akhirnya. “Aku pasti akan menyesal, tapi kurasa semua tempat yang sudah kukunjungi sudah lebih dari cukup.” Luna mendesah sedih, “aku ingin pulang.”

***

Semalam ketika ia beranjak menjauh setelah mengungkapkan jadwal keberangkatannya siang ini, Yangfan sama sekali tidak mencegatnya, bahkan tidak mengantar dirinya kembali ke hotel. Lelaki itu diam saja disana. Membiarkan Luna menghilang dari pandangannya, dari hidupnya.

Luna melipat baju-bajunya dan menjejalkan ke dalam koper bersama sikat gigi, parfum dan perlengkapan makeup lain. Galau menyelimuti hatinya. Ia ingin sekali menghubungi Yangfan, tapi takut lelaki itu menolak panggilannya.

Taksi yang ia tumpangi membawanya ke bandara Chek Lap Kok. Luna mendesah berat saat ia menjejalkan kaki ke tanah, sementara taksi tadi beranjak pergi.

Seorang pria pengangkut barang menawarkan jasanya untuk gadis itu namun ditolak Luna dengan sopan. Ia tak ingin ada orang lain yang membawakan barangnya. Karena bukan itu yang membuat dirinya berat meninggalkan Hongkong, melainkan disini, di dasar hatinya.

Beban itu tak mau pergi.

Seoul, June 2012

Pemotretan terakhir baru saja selesai. Luna menghempas tubuhnya di atas kursi yang sudah di sediakan untuknya sementara seorang Hair Stylist mulai mencopoti jepitan-jepitan rambut di kepalanya dan menyisir rambut Luna sampai halus kembali. Riasan wajahnya di tangani oleh orang yang tadi meriasnya.

Ia bagai sebuah patung manekin, tubuhnya diambil alih orang lain. Tugasnya satu-satunya cuman berdiam diri di depan kamera, putar sana putar sini, sesekali tersenyum kalau disuruh.

Seseorang menepuk pundaknya. Luna tersentak dari lamunannya. Ia menatap lelaki yang kini berdiri di belakangnya tanapa ekspresi.

“Ada yang mencarimu,” ujar lelaki itu.

“Siapa? Perempuan, laki-laki?”

“Laki-laki.”

“Suruh masuk saja.”

“Kau kan sebentar lagi selesai, langsung saja keluar menemuinya.”

Luna mendengus kesal melihat tingkah asisten Fotografer itu. Disaat bersamaan rambut dan riasan wajahnya sudah selesai dibersihkan. Luna pun segera beranjak pergi.

*

Matahari bersinar terang. Luna sampai harus memicingkan matanya saat ia keluar dari tempat pemotretan pada siang hari. Luna merogoh tasnya dan mengambil kacamata hitam. Ia mengedarkan pandangan mencari managernya. Tapi lalu matanya terperangkap pada sosok pria berwajah tampan yang tengah memperhatikannya. Luna terperangah memandang senyuman yang dipaparkan lelaki itu untuknya.

“Ayo.” Lelaki itu mengulur tangannya.

… dan getaran yang menggelisahkan itu pun bermula…

Mobil melesat di tengah padatnya lalu lintas Seoul pada siang hari. Selama perjalanan mereka membisu.

“Mau kemana?” Luna tiba-tiba buka suara.

“Kemana saja. Asal bersamamu.”

*

Lelaki itu menghentikan mobilnya tepat sebelum mencapai pesisir pantai yang berpasir. Mereka berdua berpandangan sesaat, saling melempar senyum.

Nampak air laut berkilauan ditimpa cahaya matahari. Angin berhembus sepoi-sepoi. Mereka berdua turun dari mobil bersamaan. Angin langsung menerpa wajah Luna. Membuat gadis itu tersenyum senang.

“Sudah lama sekali yah?” Cetus lelaki itu, seraya memasukkan tangannya di kantong celana.

Luna mengangguk. Memang sudah lama sekali sejak mereka berdua bertemu.

“Luna.” Panggil lelaki itu.

Luna menatapnya dengan rambut panjangnya yang tengah dipermainkan angin.

“Aku datang kemari untuk mengatakan sesuatu kepadamu.”

“Apa?”

“Maukah kau menikah denganku?”

Luna menatap lelaki itu tak percaya. Banyak sekali yang ingin dikatakan olehnya. Tentang penantiannya yang tak berujung. Tentang perasaannya yang terombang-ambing. Tapi ketika ia melihat lelaki itu menatapnya, ia insaf. Ia terlena dalam kerinduan yang perlahan, tanpa sadar menggerogoti jiwanya yang sepi.

Luna menggigit lidahnya.

“Menikahlah denganku, Luna.”

Sekarang ia tahu, mengapa tadi hatinya terasa pilu. Ternyata seperti ini rasanya mencintai seseorang. Lama waktu berselang tapi mereka bahkan tak pernah saling berhubungan. Luna saja heran bagaimana bisa Yangfan menemukannya.

“Dua tahun berlalu, Ge…” Luna berbisik. “Dua tahun berlalu tanpa kabar. Sekarang, bagaimana mungkin kau meminta hal yang tak masuk akal begini?”

Yangfan menatap Luna heran. “Tak masuk akal?” sergahnya. “Aku cinta padamu, Luna. Apanya yang tidak masuk akal?”

“Butuh waktu selama itukah untukmu menyadari perasaanmu sendiri, Gege?”

Yangfan menarik napas dalam.

“Tetap saja semua sudah terlambat…” Luna menggeleng pedih.

“Terlambat kenapa?”

Sebenarnya Yangfan tak perlu bertanya lagi. Ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum gadis itu mengutarakannya. Bahkan sebelum lamarannya ditolak.

Ia tahu semua hal dengan jelas. Ia yakin Luna masih mencintainya. Tapi gadis itu bukan lagi orang yang ia kenal dulu. Ia bukanlah Luna yang dulu.

Karena saat ini…

“Aku sudah menikah.”

-The End-

Huaaaaaa >_____< endingnya gak banget yah? Tapi aku senyum2 sendiri loh ngebayangin gimana respon kalian hehehehe~

Makasih yah udah baca ampe selesai ^^

Hohoho… pasti gak ada yang kenal sama Yang Fan kan? Apa cuma aku aja yang gak kenal? Kebetulan kemaren nemu video di youtube yang bilang kalo Sehun ada lagi kembarannya selain WuZun jadi aku mampir deeh. Dan surprise nemu boyband china yang keren >_< dan empat membernya termasuk Yang Fan adalah seorang Cassiopeia hahahaha~ aaah aku cinta mereka *kissu*

Boyband Hit-5 ternyata udah debut sejak 08’ loh, dan kayaknya cuman punya satu album apa mini album gitu. Tapi mereka keren-keren sumpah!! Apalagi Yang Fan >_< seneng akhirnya nemu yang ideal kayak gini. Karna aku juga suka WuZun sih, tapi WuZun kadang jelek #ditamparfanznya dan Sehun, tapi Sehun masih kecil dan dia cuman milik Luhan seorang.

Awalnya niat masukin member EXO, tapiiii~ Yang Fan mau ditaro dimana? Jadi, kalo mau baca versi EXO ato bahkan Yaoi silahkan mampir ke wp aku^^

15 thoughts on “Why…?

  1. Aduh thor sakit perut ini baca ff ini hehe… Keren dah. Ditunggu sequel ato ff lainnya dr author
    Keep on writing y

  2. thor, selamat udah brhasil bkin z keseeellll sm akhir ceritanya. udah senyum2 kirain bakal happy ending, eh ngga taunya akhirnya gitu,,,

    #tertipu

    tp ceritanya keren, bikin sequelnya dong,,,

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s