CHAPTER 1 : Absolute Formula

Absolute Formula

 

Tittle                : Absolute formula

Author             : yolk-ed bacon (nama baruu)

Genre              : math-fic, school life, teenager, AU

Rating              : teenager

Length             : Chaptered

Cast                 :

–          Oh Sehun

–          Shin Ah Hyun

Other cast       : revealed soon :)

***

hallo hallo semua apa kabarnya? mari kita berkumpul bernyanyi bersama . <– Jalan sesama

saya datang membawa FF dengan genre lagi-lagi romance, tapi sekarang lagi sok-sokan bikin yang ada lil touch of mathematics *wk gaya banget kan ya saya?

mianhae ya kalo matematika-nya rada aneh, soalnya kan saya belom resmi jadi anak SMA jadi nggak tau SMA matematikanya kayak apa, lha di cerita ini si Sehun sama Ah Hyun udah SMA. begitu saja..

HAPPY READING ALL (~’0′)~

***

There’s simple equation, where a^2 + b^2 = c^2

It’s an absolute formula, you can’t deny

***

Ah Hyun POV

“berapa nilaimu?”

“waah, bagus ya!”

“aku harus belajar lebih keras lagi di ulangan berikutnya..”

“lihat! Nilaiku 100!”

Aku hanya terdiam tanpa berminat bergabung dengan topik pembicaraan yang berpotensi membuatku bunuh diri saat ini juga. Ulangan Matematika. Suatu momok tersendiri bagiku. Ulangan matematika selalu identik dengan sebuah remidial, dan berujung dengan mata panda karena aku harus belajar semalaman suntuk-tanpa tidur-sebelum ulangan matematika. Tapi lihat, aku tak pernah mendapat nilai lebih dari 60.

Kadang aku menyesali takdirku, kenapa aku harus seburuk ini dipelajaran matematika? Kenapa fisika bahkan juga menuntutku untuk mempunyai skil yang bagus dalam pelajaran matematika? Kenapa ilmu pengetahuan sosialpun bahkan juga membutuhkan matematika? Terkutuk kau sang ahli matematika, yang telah menciptakan rumus yang begitu rumit, bahkan lebih rumit daripada benang kusut.

“Menyesali takdirmu, eo?” aku menoleh ke sumber suara. Nara tersenyum di sampingku.

“nee…” jawabku malas, aku kembali menatap nanar ke arah langit-langit, menyangga kepalaku dengan tanganku.

“YAK! Apa kau pikir hanya dengan memandangi langit-langit kelas bisa membuat nilaimu berubah menjadi 100?” Nara menarik tangan yang tadi kugunakan untuk menyangga kepalaku. Otomatis, kepalaku jatuh ke meja. Aku menatap nanar ke arahnya sambil mengelus-elus daguku yang sakit terbentur meja.

“lalu aku harus bagaimana? BAGAIMANAAAAA????” tanyaku yang mulai tidak bisa mengendalikan emosi. Selalu begini. Aku bahkan hampir menangis karena nilai matematikaku selalu buruk. Nara mendengus kesal, lalu menoleh ke arah pintu kelas.

“Oh Seonsaengnim! Kurasa ada yang butuh bimbingan tambahan bersama Anda di sini!” tiba-tiba Nara berteriak memanggil Oh Seonsaengnim yang baru saja lewat di depan kelasku. Dia berniat mengirimku ke neraka atau bagaimana aku.tak.tahu.jalan.pikiran.anak.ini.

“Nona Park, kau sudah cukup bagus dalam pelajaran matematika, kau masih mau belajar matematika denganku?” Oh seonsaengnim menghampiri kami. Aku terus berdoa dalam hati, semoga Nara tidak menyuruhku untuk mengikuti bimbingan tambahan dengan Oh seonsaengnim.

“bukan aku, ssaem. Tapi Shin Ah Hyun yang membutuhkannya. Anda bisa mengajarinya secara privat bukan?” Nara mengatakan sesuatu yang akan mengantarku ke ‘neraka’. Nara adalah murid kesayangan Oh seonsaengnim, pasti Oh ssaem akan mengabulkan keinginan Nara.

“tentu saja bisa, aku bahkan sudah merencanakan ini sejak lama. Shin Ah Hyun, datang ke rumahku nanti sore. Arraso?”

Dan inilah akhir dunia.

Atau mungkin awal untuk memulai duniaku yang baru. Dunia yang penuh dengan matematika.

***

            Seseorang membukakan pintu gerbang kediaman keluarga Oh seonsaengnim sesaat setelah aku memencet bel-nya. my first impression is, rumah ini terlihat sangat tradisional tanpa terlihat kuno sama sekali. Designer rumah ini pasti sungguh jenius.

“kau sudah datang Shin Ah Hyun. Ayo masuk” kini Oh seonsaengnim sudah berdiri di ambang pintu masuk rumahnya, menyapaku dan membuyarkan pikiranku yang sedang mengagumi design rumah Oh seonsaengnim.

Aku melangkah menuju pintu masuk. Melepas sepatuku sebelum masuk ke dalam.

“duduklah..” perintah Oh seonsaengnim. Lantas aku duduk ke sofa yang empuk ini. Tak lama datang seorang pelayan di rumah ini, membawakan dua gelas teh ginseng. Bisa kupastikan satu gelas teh ginseng itu untukku.

Pipipipipipipip~

Tiba-tiba ponsel seonsaengnim berbunyi. Ia meminta izin kepadaku untuk menjawab telfon itu dengan eye-contact-nya. Aku mengangguk mempersilahkan.

Setelah berbicara beberapa lama, seonsaengnim melihatku dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“ada apa, ssaem?” tanyaku.

“Shin Ah Hyun, sepertinya aku tidak bisa memberimu tambahan hari ini.” Kata seonsaengnim, membuatku berteriak girang dalam hati. Aku – matematika = Surgaaa….

“aa.. sayang sekali. Kalau begitu, aku boleh pulang sekarang?” tanyaku pada seonsaengnim dengan sedikit basa-basi didepannya.

“tidak!” kata seonsaengnim tegas, membuat mataku hampir lepas dari tempatnya karena kaget.

“kenapa tidak, ssaem. Bukanka Anda tidak bisa mengajarku hari ini?”

“Ah! Ini dia, Oh Sehun cepat kemari!” aku menoleh ke arah dimana pandangan Oh seonsaengnim terfokus.

Oh Sehun sunbaenim, jadi dia putra dari Oh seonsaengnim? Aih, kenapa aku baru menyadarinya. Apa Oh seonsaengnim berniat menyuruh Sehun sunbaenim menjadi tutorku hari ini? Aish jinjja.

“ne, abuji..” Sehun sunbae tidak jadi naik tangga, ia mendekat kemari.

“gantikan abuji untuk mengajari hoobae-mu ini pelajaran matematika. Abuji harus pergi ke suatu tempat dengan eomma-mu.” Jelas Oh seonsaengnim pada putranya itu. Sehun sunbae langsung memperhatikanku dari atas sampai ke bawah. Aku takut, lalu hanya bisa menunduk.

“abuji, apa sebuah keharusan? Shireo!” tolak Sehun sunbae mentah-mentah.

“kau mau uang jajanmu ku potong 50% bulan ini, Oh Sehun?” ancam Oh seonsaengnim. Kalau aku jadi Sehun sunbae sudah pasti aku akan menuruti kata-kata Oh seonsaengnim daripada uang jajan harus dipotong 50%.

“arraso. Aku akan ganti baju dulu.” Sehun sunbae menyerah.

“nah, Shin Ah Hyun. Aku pergi dulu. kalau Sehun membentakmu atau tidak becus dalam mengajar, hubungi aku. Arra?”

Aku hanya mengangguk kikuk.

***

            “jadi kau, Shin Ah Hyun..” tanya Sehun sunbae, sedikit terdengar sinis.

“ne, sunbaenim mengenaliku?” tanyaku mencoba akrab.

“aku hanya tahu, kau itu tidak pintar matematika kan? Terlihat jelas dari wajahmu.” Kata Sehun sunbae, masih terdengar sinis.

“…” aku diam saja, tak bermaksud menanggapi.

“soal ini kerjakan, kalau ada yang kau tidak bisa tanya padaku. Dengan begitu aku akan tahu mana bab yang belum kau fahami.” Sehun sunbae memberiku 5 lembar soal matematika. Entah datangnya dari mana, karena setahuku saat ia menemuiku tadi ia tak membawa sehelai kertaspun.

“ne.” Jawabku patuh.

Aku mulai mengerjakan soal nomor satu. Bab relative frequency, aku tidak menemui kesulitan berati dalam hal ini. Aku pernah mempelajari ini saat kelas 3 sekolah menengah, dan aku masih mengingatnya cukup baik.

Frekuensi relatif sama dengan banyak kejadian yang muncul dibagi dengan banyak percobaan yang dilakukan.

            Soal nomor dua. Logaritma. Bab yang sulit, tapi soal yang sedang aku hadapi tidaklah sesulit biasanya.

a log b = c , maka ac = b

            nomor tiga. Di mana aku mulai menyerah. Pangkat dan akar.

sunbaenim, kau bisa mengajariku bab ini?” aku menunjuk soal nomor 3 dengan ujung ballpoint-ku.

“pangkat dan akar. Kau benar-benar tidak bisa hal ini?

(23 + 25 )1/2 = ….

            “pertama-tama kau harus memangkatkan angka di dalam kurung dengan satu per dua. Untuk memudahkan menghitung kita ubah bentuknya menjadi…..”

Aku mendengarkan penjelasan Sehun sunbae dengan serius. Tak ingin menampakkan image bodoh di mata sehun sunbae.

“Kau mengerti?” tanya Sehun sunbae di akhir penjelasannya. Aku mengangguk dengan ragu. Ada satu hal yang masih aku tak mengerti.

sunbae, kenapa hasilnya bisa dua akar sepulur? Padahal jelas-jelas saat aku menghitung, hasilnya akar empat puluh?” tanyaku polos. Sehun sunbae mengacak rambutnya frustasi.

“kau tidak pernah SMP ya?” ia mengejekku atau sedang bertanya serius?

“tentu saja pernah.” Jawabku ketus.

“kenapa hal seperti ini saja kau bisa tidak tahu?”

“…..” aku mendelikkan bahuku.

“ish jinjja. Akar empat puluh bisa rumah bentuknya menjadi dua akar sepuluh. Coba kau kuadratkan angka dua lalu dikalikan dengan angka di dalam akar. Begitulah caranya!”

“…….” aku tidak menjawab. Terlalu rumitttt (_ _”)

“kenapa diam saja? Tidak paham?”

Aku mengangguk, rasanya ingin menangis.

***

            Kini aku sedang membereskan buku-buku di atas mejaku. Berniat pulang bersama Nara yang sudah selesai membereskan buku-bukunya, ia menungguku di ambang pintu.

“Shin Ah Hyun, ini jadwalmu mengikuti bimbingan di rumahku. Selalu datang, arra?” tiba-tiba Oh seonsaengnim sudah berada di hadapanku, menyodorkan selembar kertas yang aku tahu itu jadwal bimbinganku di sana. Aku menerimanya, lalu aku memeriksanya sebentar. Ah, besok aku harus datang.

“Ne, ssaem. Kalau aku ingin pintar matematika, aku harus rajin datang, ne?” tanyaku, Oh seonsaengnim tersenyum lalu pergi meninggalkan aku dan Nara yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku.

“jadi, besok kau baru ada bimbingan? Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan saja?” tanya Nara sesudah ia melihat jadwalku.

“jalan-jalan kemana?” tanyaku asal, sedikit tidak tertarik.

“ayolah, sudah lama kita tak jalan-jalan ke mall. Aku ingin membeli cardigan. Ya yaaa?” rengek Nara. Ia bahkan menarik-narik tanganku.

arraso, tapi kau harus mentraktirku makan siang, eo?” aku menyerah dengan syarat.

“yippie~ kajja!”

Kami berlari menuju mall.

***

            Kini aku dan Nara sedang berada di sebuah cafe, masih di dalam kawasan Mall. Melepaskan lelah setelah berkeliling mencari cardigan seperti yang diinginkan oleh Nara, akhirnya ia memilih cardigan berwarna soft pink dengan beberapa aksen pita dan kancing baju yang dibalut kain, manis sekali. Aku sampai ingin membelinya, tapi aku sedang tidak membawa uang.

“bagaimana bimbingan belajarmu bersama Oh seonsaengnim kemarin?” tanya Nara saat pesanan kami sudah datang. Aku meminum sedikit capuccino float-ku,

“aku tidak belajar bersama Oh ssaem kemarin.”

“mwo? Kau membolos?” selidiknya. Aku menggeleng tegas.

“tidak! Kemarin aku diajari oleh Oh Sunbaenim

“Oh sunbaenim?” tanyanya penasaran.

“Oh Sehun sunbaenim” lanjutku.

“MWO? Oh Sehun sunbaenim katamu? Sunbaenim kita yang tampan itu kann?” tanyanya berlebihan. Kini matanya menatapku lekat, seperti ingin menerkamku.

“iya, kau tak usah berlebihan seperti itu. Lagipula ia mengajariku hanya untuk hari itu saja. Oh seonsaengnim ada perlu, makanya ia menugasi Sehun sunbae untuk mengajariku.” Jelasku panjang lebar. Nara terlihat lega mendengar penjelasanku.

“kenapa? Kau menyukai Sehun sunbaenim? Kau cemburu?” godaku pada Nara.

“aa..aniya..” nada bicaranya terdengar gugup.

“aku hanya mengaguminya saja, lagipula Sehun sunbaenim sudah memiliki pacar. Kau hati-hati..” aku mengangguk, lalu meminum lagi cappucino float-ku sampai hanya menyisakan setengahnya.

***

            Sudah 1 jam 20 menit aku mengikuti bimbingan matematika bersama Oh Sehun sunbae hari ini. Ya, aku mendapat bimbingan dari Sehun sunbae lagi, karena Oh seonsaengnim berpendapat kalau aku pasti akan lebih cepat memahami matematika kalau bersama Sehun sunbae, ya tak bisa aku pungkiri itu memang benar.

Awalnya Sehun sunbae sempat mengelak untuk mengajariku lagi. Tapi lagi-lagi Oh seonsaengnim mengancamnya dan berjanji akan menaikkan uang sakunya setiap bulan. Tentu saja Sehun sunbae tidak menolak.

1 jam 20 menit ini diisi dengan penjelasan Sehun sunbae tentang aplikasi matematika, beberapa materi yang belum aku mengerti, dan bentakkannya padaku karena aku sulit mengerti. Untung saja ia masih punya cukup kesabaran, kalau tidak sudah habis aku dimakannya.

Tok Tok Tok…

Seseorang mengetuk pintu di luar sana, membuat Sehun sunbae menghentikan penjelasannya terhadapku. Ia memerintahkan pelayan di rumahnya untuk membukakan pintu dengan pandangan mata.

Begitu pintu terbuka, terlihat seorang gadis cantik. Tidak asing bagiku, tapi siapa ya?

“Jiyeon-ah..” panggil Sehun sunbae, pada gadis itu tentunya. Ah aku baru ingat, itu Jiyeon sunbae. Apa Jiyeon sunbae pacar Sehun sunbae?

“Jiyeon-ya, kenapa kau kemari?” lanjut Sehun sunbae. Jiyeon sunbae menatapku penuh tanda tanya. Mungkin dia penasaran kenapa aku bisa ada di sini.

“Sehunnie.. gadis itu…”

“dia hoobae kita, aku sedang mengajarinya matematika.” Potong Sehun sunbae sebelum Jiyeon sunbae menyelesaikan perkataannya.

Sunbaenim, kurasa aku harus pulang sekarang. Annyeonghaseyo sunbaenim..” pamitku, aku merasa atmosfir di rumah ini mulai suram dan waktu bimbinganku memang sudah habis. Aku berjalan ke arah pintu, tak lupa membungkuk kepada Sehun sunbae dan Jiyeon sunbae yang hanya terpaku.

“Sudah akan pulang?”

Aku sedang memakai sepatuku, tiba-tiba seseorang menanyaiku. Ternyata Oh seonsaengnim, beliau sedang duduk di kursi yang ada di teras rumah sambil membaca koran.

“ah, ne ssaem. Annyeonghaseyo seonsaengnim..” pamitku lalu menunduk dan mulai melangkah pergi.

“hati-hati di jalan, Shin Ah Hyun..”

Aku menoleh lagi ke belakang lalu mengangguk.

***

            Sudah 45 menit lebih aku menunggu bus di halte ini, kenapa tidak ada satupun bus yang lewat? Padahal langit sudah mulai gelap. Sebentar lagi jam menunjukkan pukul 6 sore. aku sudah meminta eomma atau appa untuk menjemputku di sini tapi mereka sedang menghadiri pesta pernikahan anak dari teman appaku, aku juga tidak sekaya itu untuk mempunyai sopir pribadi, mungkin memang seharusnya aku menunggu lebih lama lagi di sini.

Aku sudah melakukan berbagai hal untuk mengusir rasa bosanku di sini. mulai dari menyingkirkan satu persatu kerikil yang tersebar di sekitar kakiku dengan cara menendangnya, mengamati mobil-mobil yang lewat-berharap aku akan melihat mobil temanku- sampai mengerjakan soal-soal matematika yang kemarin sudah di ajarkan Sehun sunbae padaku. Nihil, bahkan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6:10 sore. Haruskah aku menunggu lebih lama.

“masuklah, akan aku antarkan kau pulang!” hah? Suara siapa itu? Penculik yang akan menculikku dan memperbudakku? Aku mengedarkan pandanganku ke arah datangnya suara itu.

Aku terlonjak kaget saat mendapati Sehun sunbae sudah berdiri tegap di depanku. Dari mana datangnya makhluk ini?

“Aku baru saja mengantarkan Jiyeon pulang, lalu tak sengaja melihatmu masih di sini. masuklah ke mobilku, aku akan mengantarmu pulang.” Perintahnya, aku menurut saja daripada harus berada di tempat ini lebih lama.

“duduk di depan saja!” aku baru saja akan masuk ke dalam mobilnya, tapi ia menyuruhku duduk di jok depan. Baiklah. Aku keluar lagi, lalu menutup pintu mobilnya. Berjalan menuju tempat duduk yang ia kehendaki, lalu memasang safety belt dengan tepat. Dan mobil ini meluncur membelah kota Seoul yang mulai sepi.

“di mana rumahmu?” tanya Sehun sunbae memecah keheningan yang sedari tadi tercipta.

“gyeonggi apartementsunbae tau kan?”

“ne.” Jawabnya, lalu suasana kembali hening sampai mobil ini berhenti tepat di depan gyeonggi apartement.

“gamsahamnida sunbaenim. Maaf jika aku merepotkanmu.” Kataku sebelum aku keluar dari mobilnya.

“tidak apa-apa, aku tak tega melihatmu menunggu bus yang tak kunjung datang, lagipula hari sudah gelap.” Jawabnya.

sunbae, mau mampir untuk meminum segelas teh ginseng dulu?” tawarku padanya, ia sudah jauh-jauh mengantarku sampai rumah.

“tidak perlu. Ini sudah malam.”

“baiklah, annyeong sunbaenim..”

Aku keluar dari mobilnya, tak lama setelah itu mobilnya sudah melesat meninggalkan aku yang melambai ke arah perginya mobil Sehun sunbae.

***

            “lusa ulangan logaritma, kau siap?” tanya Nara padaku setelah pelajaran berakhir. Aku menghembuskan nafasku dengan berat. Mengumpulkan semua energi positif yang ada dalam diriku.

“aku akan berusaha! Aku akan meminta Sehun sunbae untuk mengajariku 2 hari ini” jawabku mantap. Kali ini aku tak boleh mendapat nilai kurang dari 60 lagi. Aku muak.

“baguslah! Kau pasti bisa! Hwaiting!” Nara mengepalkan tangannya, memberikan semangat untukku. Aku ikut mengepalkan tanganku ke atas lalu ke bawah.

Hwang seonsaengnim masuk kelas kami, sekarang pelajaran sejarah. Aku dan Nara tak melanjutkan percakapan kami lagi, fokus dengan mata pelajaran hari ini.

***

            Seperti biasa, aku sudah berada di rumah Oh seonsaengnim sore ini, tapi aku datang tidak sesuai jadwal. Aku sengaja datang hari ini agar aku lebih siap dalam menghadapi ulangan lusa. Tapi sekarang hanya ada Sehun sunbae, Oh seonsaengnim masih ada keperluan di sekolah.

Sehun sunbae acuh tak acuh padaku, selain ia merasa hari ini bukan kewajibannya untuk mengajariku matematika, ia juga sedang tidak dalam pengawasan Oh seonsaengnim. Aku terdiam memikirkan cara agar ia mau mengajariku dan meninggalkan PSP-nya itu.

sunbaenim…” rengekku.

“hmmm…” ia tak bergeming, bahkan untuk melirikku saja tidak sempat.

sunbaenim, ajari aku logaritma. Besok lusa aku ulangan. Sunbae jebal..” rengekku lagi. Dan yak berhasil, ia menghentikan permainan PSP-nya lalu menatapku.

“dengan atau tanpa aku ajari, nilaimu pasti akan tetap sama. jelek!” umpatnya tepat didepan mukaku. Aku kira ia akan mengajariku, jadi ternyata ia menghentikan permainan PSP-nya hanya untuk mengejekku. Baiklah..

sunbaenim, aku berjanji!” teriakku, membuat ia terlonjak. Hah!

“berjanji apa?” kini ia melunak.

“kalau sunbaenim mau mengajariku, dan aku berhasil mendapat nilai lebih dari 70, maka sebagai rasa terimakasihku aku akan mengabulkan apapun yang sunbae minta. Bagaimana?” tawarku. Bisa aku lihat, matanya mulai bersinar-sinar sekarang. Hah! Jadi kelemahanmu pada materi huh?

johta!! Lalu kalau kau tidak berhasil mendapat nilai lebih dari 70?” tanyanya. Aku berpikir sejenak.

“kau harus memberiku apa yang aku minta!” jawabku simple. Aku sebenarnya tak menginginkan apapun darinya, kecuali otak pintarnya.

“kau ini! Baiklah.. ayo kita mulai bimbingannya. Kau sudah tahu dasar logaritma bukan?”

aku mengangguk. Aku sudah tahu dasarnya, tapi untuk variasi dari logaritma, aku tak terlalu memahaminya.

***

            Tinggal satu hari lagi. Besok aku akan menghadapi ulangan matematika. Kini aku sudah standby di depan meja belajar rumah Oh seonsaengnim. Sehun sunbaenim belum keluar dari peraduannya(?) sepertinya ia sedang menelfon seseorang, ah mungkin Jiyeon sunbae.

“sudah menunggu lama?” tiba-tiba orang yang sedang aku pikirkan muncul. Ia memang hobi sekali mencul tiba-tiba di hadapanku, atau jangan-jangan ia juga seperti itu pada semua orang?

“tidak, baru 20 menit aku di sini” kataku dengan penekanan di kata ’20 menit’.

“mianhae..” ia mengacak rambutku asal lalu duduk di depanku. Seenaknya saja ia mengacak-acak rambutku yang sudah tertata rapi huh? Kini aku harus merapikannya kembali.

“sudah cepat! Mulai saja bimbingannya!” perintahku tak sabar.

“lihat! Kau sudah berani memerintahku adik kelas?” smirk terpancar dari wajah Sehun sunbae, kurasa ini bukanlah pertanda baik. Oh Tuhan, apa aku sedang menggali kuburanku sendiri?

“kerjakan ini!” perintahnya, ia memberiku setumpuk soal yang aku juga tak yakin bisa menyelesaikannya dalam 7 hari.

“MWOYA?!” aku tak terima. Aku hanya mengambil satu soal yang ada di urutan paling atas, lalu menyingkirkan sisa soal yang lainnya. Dan yang terakhir, tersenyum evil ke arah Sehun sunbae. Kau pikir aku gentar dengan hal kecil seperti ini Huh? Kataku dalam hati.

***

            “Ini sudah selesai!” aku menyerahkan soal + jawabanku pada Sehun sunbae dengan senyum kebahagiaan-meskipun sebenarnya aku tidak begitu bahagia-. Sehun sunbae menerimanya, memeriksa satu persatu dan sesekali mengangguk-anggukan kepalanya. Tak jarang ia mengeryitkan dahinya, dan pada saat itu aku ketakutan, apa jawabanku salah?

“nomor 15, coba kau ulangi lagi.” Ia menyerahkan kembali soal itu padaku.

“nomor 15?” aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal itu. Nomor 15 aku tidak begitu paham cara penyelesaiannya.

sunbae, boleh aku menyerah saja? Aku tidak tahu caranya..” tanyaku polos.

“kau ini gampang sekali menyerah, baiklah kali ini saja aku akan mengajarimu. Lain kali kau harus pintar mengaplikasikan dasar-dasar logaritma.”

“…” aku tak menjawab, hanya mengangguk. Lalu Sehun sunbae mulai mengajariku bagaimana caranya menyelesaikan soal nomor 15.

***

           Aku sudah menyelesaikan ulangan matematika ku dengan…..bisa dibilang sedikit lebih sukses dari biasanya. Ya aku menyadari kalau bimbingan kilat selama 2 hari hanya akan berpengaruh 10% di nilai ulanganku besok, tidak sepenuhnya apa yang keluar dalam ulangan pernah di ajarkan oleh Sehun sunbae tempo hari.

Aku meminum jus kiwi yang tadi aku pesan. Aku sedang berada di kantin bersama Nara. Dapat kulihat dari ekor mataku Nara sedang melihat sesuatu/seseorang dengan sangat serius. Hah, aku sedang tidak tertarik untuk melihat apa yang sedang ia lihat.

“bagaimana ulanganmu?” selalu seperti ini, datang dengan tiba-tiba. Sehun sunbae.

“bukan urusanmu” jawabku ketus, lalu meminum lagi jus kiwiku sampai hanya menyisakan setengah bagiannya.

“tentu saja urusanku, aku tutormu. Dan ini hidup dan matiku!” sangkal sehun sunbae berlebihan. Tunggu, sepertinya ada yang tidak senang dengan kehadiran Sehun sunbaenim di dekatku saat ini. Sedikit jauh di belakang Sehun sunbae, Jiyeon sunbae menatap ku intens, seperti ingin memangsaku hidup-hidup.

“hidup dan matimu? Dia?” aku menunjuk Jiyeon sunbae dengan ujung daguku, Sehun sunbae berbalik melihat apa yang baru saja aku maksud.

“hahaha! Ah Hyun-ah, itu dua hal yang berbeda!” katanya. ia tertawa dan matanya menghilang, lucu sekali. Ini pertama kalinya ia memanggil namaku. Tapi entah mengapa, aku sedikit tidak senang dengan apa yang baru saja terlontar dari bibirnya. Moodku mendadak menjadi buruk.

“baiklah, seminggu lagi nilaimu diumumkan bukan? Aku harap di hari yang sama pada minggu depan, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan” hah? Apa yang sedang ia bicarakan?

‘apa yang aku inginkan’ hadiah dariku karena aku mendapat nilai 70? Aku harap juga begitu sunbae, dan aku harap juga kau tidak akan meminta barang yang mahal dariku.

Kita tunggu saja seminggu lagi, dan lihat berapa nilai yang tertera di lembar jawab ulanganku.

TBC

 Annyeonghaseyo reader-deul..

akhirnya bikin FF lagi, dan lagi-lagi cast-nya mas-mas EXO. wkwk, bukan selain karena sekarang saya cuma lagi ngefans sama EXO, juga karena ada yang request FF ini, ya jadi beginilah..

buat Kiki say, maap Request-mu lagi di bikin :3 soon bakal diselesein ‘.’9 dan soal FF who part 8 itu………….err gataulah gimana nasibnya. ide mentok.

Okidoki, RCL ditunggu yaw..

and the last but nggak penting..

GWS buat saya, buat idung saya, buat tenggorokan saya yang sakit, sama kepala saya yang CHENat-CHENut..

 

24 thoughts on “CHAPTER 1 : Absolute Formula

  1. Meski saya benci matematika tp ternyata ceritanya bagus… O y klo blh numpang nanya cast ceweknya itu oc ya?
    Keep on writing y

  2. Keren~~~ Apalagi Cast-nya Thehun XDDD

    Wahh~~~ Kira-kira apa ya, yang diminta sama Thehun?? Jadi penasaran >.<

    Keep Writing Ya thor ^^

    Fighting!!

    *Bow bareng Baekhyun, Gikwang, Thehun* #JEDERR DUARR BYURR MIAUUW (???)

  3. Kyaaa!! Gomawo chingu!! Melihat FF request-anku + dengan namaku, hatiku jadi berbunga-bunga.. Ingin meledak rasanya.. (?) #apacoba? POKOKNYA DAEBAK DEH!! Gomawo chingu~ nnti chapter selanjutnya tolong mention aku lagi ya~ sekarang aku ingin menenangkan hatiku yang cenat cenut ini dulu..
    Oh ya, maaf udah ngerepotin bgt T_T

  4. Huaaa aku benci matematikaaa >//<
    #plaaak
    tapi pengen diajarin sama Sehun jugaaaaa kekekee~
    ff.a bagus bgt thor,, kira2 Sehun minta apa yaa o.0
    #garuk kepala Sehun
    kebanyakan bacot saya XD
    #nyadar diri
    inti.a aku suka bgt sama ff mu thor,, next chap jangan lama2 yaa;)
    #bawa kabur Sehun:D

  5. Bagus thor…….ehehehe, daebak saya suka…

    Oiya, saya sekalian numpang promote wp baru saya nih…
    Ada yang berminat menjadi admin atau author di exoshidaefanfic.wordpress.com ? Kalau ada, baca syaratnya di blog tsb…

    Mohon bantuannya, karena wp tsb masih baru…
    ~ Kamsahamnidah ~

  6. KYAAAAA!! Ada kai!! Dia selingkuhanku #bisik2 #disembelihsehun. AKU JUGA MAU BACA!! Judulnya apa? ._. KYAAA!! Chingu-ya saranghaeyo~ muacchh! <3 #kabur

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s