[CHAPTER] My Everything – Part 3

 

Title : My Everything

Author : Reenesmee Potter

Main Cast : Kim Kibum (SuJu) , Im Yoona

Supporter cast : Lee Donghae, Jiyeon, Choi Minho, Bae Suzy, Choi Siwon, Kim Heechul, Lee Jinki

Genre : Romance, frienships, School Life

Length : Short Story

A/N : Semuanya adalah Author POV ^^

Part 3

 

Author POV

Yoona menghembuskan napas berkali-kali. Hari ini adalah hari terakhirnya untuk MOS, dan sialnya, menurut desas-desus yang beredar hari ini adalah puncak dari kesialan para peserta MOS. Ia tidak khawatir seberapa parah sunbaedeulnya nanti akan mengerjainya, atau seberapa capek nanti bila ia sudah dikerjai oleh sunbaedeulnya. Ia hanya khawatir akan satu hal. Sore nanti.

Ya, ternyata sebagian sunbaenya itu membatalkan pertemuan dikarenakan alasan… yang… ah, tak cukup dimengerti Yoona. Yang pasti sih, dia sangat bersyukur akan pembatalan itu. Sangat sangat bersyukur. Dan sialnya, yang membuatnya sesak napas lagi adalah sore nanti. Pertemuan mereka diganti sore nanti. Yoona jadi gila lagi.

Memikirkan nama Café Shappire saja sudah membuat tubuhnya panas dingin, apalagi datang ke dafe itu nanti sore? Yoona tak habis pikir. Kenapa setelah selmalaman berpikir matang-matang, ia malah memutuskan untuk datang ke café itu? Ingin rasanya ia mengabaikan tantangan itu, namun bila ia mengabaikannya, pasti seluruh sunbae kelas XII akan marah besar dan kehidupannya untuk bersekolah di situ pasti tidak akan aman. Ia bisa mencium gelagat itu.

Sekedar untuk mengalihkan pikiran, Yoona memandang ke sekelilingnya. Seluruh peserta MOS sudah terduduk rapi, tak ada yang berani membuka mulutnya. Meski kakak Pembina atau kakak pelatih MOS belum datang, tentu saja mereka merasa was-was. Yoona kembali menghembuskan napasnya keras dan menunduk.

“Selamat pagi,” sebuah suara dari balik mikrofon lapangan itu membuatnya kembali mendongak. Dan ia sangat terkejut. Tubuhnya langsung membeku di tempat. “Dikarenakan ketua OSIS, Lee Jinki sedang menghadiri rapat besar yang tidak berlangsung di sini, maka saya, Kim Kibum selaku wakil OSIS akan menggantikan tugasnya pada hari ini,” Mampus! Batin Yoona.

“Oh… ooh.. Kim Kibum ternyata wakilnya!” beberapa yeoja memekik tertahan. Yoona mengerutkan alisnya, lalu mengerucutkan bibirnya. “Asik, aku sudah lama inginmelihatnya dari dekat,” Dasar centil! Dumel Yoona lagi ketika salah satu yeoja itu berceletuk pelan, namun tetap tertangkap oleh gendang telinganya.

“Kami telah mendata sepuluh orang anak,” ujarnya lagi dibelakang mikrofon, “Sepuluh orang. Jumlah yang sedikit, kan?” ucapnya dengan seringaian kecil. Yoona memandangnya datar. Sementara ia yakin, banyak yeoja yang akan meleleh melihat tampang menyebalkannya sekarang.

“Ya, sepuluh anak ini,” Kibum menggantungkan kalimatnya, “Adalah anak yang benar-benar mengecewakan kami, melalui hasil tes,” tubuh Yoona menegang. Ia tak dapat menelan air liurnya sama sekali. Ia yakin, reaksi terkejutnya dialami oleh seluruh anak di lapangan itu. “Sepuluh anak itu, setelah dipanggil namanya, silahkan maju ke depan,” suaranya menjadi dingin.

“Pertama, Choi Seul Rin,” panggilnya. Pekikkan kaget terdengar dari belakang, membuat Yoona mau-tak-mau ikut menoleh. Seorang yeoja tingg idengan rambut diikat dua, serta berkaca mata tebal tengah melotot tak pecaya. Kedua matanya memerah, bahunya terguncang karena menahan tangis. Dengan dorongan paksa dari teman-temannya, akhirnya ia melangkah maju ke depan. Kepalanya menunduk, jelas tak mau menunjukkan wajahnya. Yoona yakin, gadis itu merasa lebih baik ia ditelan bumi daripada menghadapi ini.

“Kedua, Lee Jongki,” seorang namja dengan rambut cepak yang tengah duduk bersila di sisi kanan berjengit ketika mendengar namanya disebut. Raut kekecewaan dan ketakutan tergambar jelas diwajahnya.

“Ketiga, Park Minri,” nama-nama itu terus meluncur dari bibir Kibum dengan nada meremehkan. Yoona menggenggam tangannya erat, berharap, sangat berharap namanya tidak akan di sebut. “Dan kesepuluh, Im Yoona.”

JEGERR

Yoona mendelik ngeri, tangannya benar-benar gemetaran, matanya mulai memanas. Apakah hasil tesnya seburuk itu? Tuhan, ia tidak percaya ini. Ia yakin telah belajar sebelum tes, dan ia yakin di setiap pelajaran disekolahnya, ia mendapat nilai yang di atas rata-rata. Dan ini?

Dengan lemas ia berdiri karena beberapa tangan temannya menyeretnya agar cepat berdiri dan melangkah  ke depan, bersama dengan Sembilan anak yang bernasib sama dengan dirinya.

“Baiklah, tugas pertama kalian adalah…” Yoona sudah merasakan hawa membunuh dari tatapan LeeJinki, ketua OSIS merangkap ketua mentor mereka saat MOS. “Yang perempuan, kuras kolam renang sekolah ini,”Yoona benar-benar mau pingsan. Apa? Kolam renang? Dikuras?? Yang perempuan?? Helloooo yang perempuan disini hanya tiga! “Dan yang laki-laki, kalian bisa menyikat seluruh kamar mandi yang ada di sekolah, plus…” well, Yoona bersyukur karena hanya kolam renang. “Kalian bisa membersihkan kebun,”

Kalian tahu bagaimana bentuk wajah kesepuluh anak itu sekarang? Seakan mengatakan bahwa lebih-baik-aku-dihukum-BK-daripada-melakukan-tugas-tak-berkeprimanusiaan-ini. Yoona hanya bisa mengatrur napasnya yang menjadi satu-satu. Belum ia melaksanakan tugas itu, napasnya sudah ngos-ngosan bagai marathon keliling kota!

__

Jiyeon menatap surat dan sekotak coklat di tangannya. Jantungnya berdegup keras, wajahnya terlihat tegang dalam beberapa saat. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, berusaha meredam rasa gugup yang menjalarinya kini. Yup, ia ingin menyatakan perasaannya secara langsung kepada namja yang sedari dulu sudah disukainya, Choi Minho.

Ia terlalu takut untuk keluar kelas sekarang. Berkali-kali ia meyakinkan diri sendiri kalau saat pulang nanti adalah waktu yang tepat baginya untuk menyatakan perasaannya. Tapi ini sulit sekali dipercaya. Ketua kelas yang berkharisma, prefeksionist, dan multitalenta, Kang Jiyeon, menembak seorang namja? Ia harus berpikir seribu kali mengenai hal ini.

“Hahaha… kau benar sekali Kibum-ah, hahaha….” Jiyeon menoleh tajam ke sebuah suara yang sepertinya taka sing lagi ditelinganya. Dan begitu menemukan siapa sang empunya suara, ia langsung melengos malas. Di saat menegangkan seperti ini kenapa mesti disertai dengan kehadiran seorang LEE DONGHAE?

“Hai, Jiyeon,” Jiyeon tersentak ke belakang ketika sekejap kemudian seseorang sudah duduk di atas mejanya. Ia mendongak, dan mendelik begitu melihat manusia ikan itu (??) ups, maksudnya Lee Donghae tengah menatapnya dengan cengiran lebar.

“Mau apa kau ke sini?” tanya Jiyeon sinis. Donghae menyeringai, membuat emosi Jiyeon langsung melejit ke ubun-ubun.

“Ih, jangan galak-galak dong,” Donghae tersenyum lagi. Jiyeon berekspresi seakan mau muntah melihat tingkah Donghae.

“Cepat katakana masalah anda, keperluan anda, setelah itu KELUAR!” seru Jiyeon kesal. Bukannya tersingung, namja di depannya malah terus tersenyum. “Kau gila ya?!?”

“Ah, aniyo. Aku mau berkata, dan hanya sekali, arra?!” ujarnya sambil menatap ke manik mata Jiyeon. “Saranghae,”

“MWOOOOOOOOOOO?” Jiyeon berteriak bagai menggunakan mikrofon (??), menggema hingga ke sepanjang koridor di depan. Donghae kembali tersenyum, kali ini senyum tulus, mengacak rambut Jiyeon lalu melangkah menjauh.

“Tak usah memikirkan jawabannya, annyeong,”

Dan Jiyeon mematung ditempat.

__

“Bagaimana yang di sebelah sana?” teriak Yoona kepada seorang yeoja yang sedang mengoreksi sisi lain kolam. Yeoja itu mendongak dan membuka mulutnya, hendak balas meneriaki,

“Sudah bersih, kolamnya bisa diisi dengan air lagi kok!” Yoona tersenyum senang. Akhirnya, selama 4 jam penuh perjuangan, pekerjaannya hampir selesai. Ia menyeret langkahnya ke tepi kolam sambil menggotong sebuah selang raksasa berwarna kuning.

Drap

Drap

Drap

Ketiga yeoja yang sedang bersusah payah itu menoleh. Seorang yeoja lain berambut panjang dengan seragam sekolah ngibrit ke balik dinding kamar mandi perempuan yang ada di sudut kolam renang indoor itu. Ketiganya yakin bahwa yeoja itu adalah sunbae mereka. Merasa di perhatikan, yeoja itu menoleh menatap mereka dengan pandangan memelas.

“Itu… bukannya Suzy sunbae?” gumam Yoona bingung.

“Hey! Kalian! Kalau ada orang yang bertanya dimana aku, jangan beritahu, oke?” ujar yeoja yang diyakini sebagai Bae Suzy itu. Ketiga peserta MOS polos itu hanya menganggukkan kepala mereka. Suzy menghela napas lega dan langsung bersembunyi ke dalam kamar mandi.

Drap

Drap

Drap

“Hey! Kalian! Lihat ada seorang yeoja berambut panjang berlari ke arah sini?” seorang namja jangkung langsung bertanya tanpa pemanasan dulu (??). Ketiga anak itu terpaku sejenak. Wah? Ini kan Choi Minho yang katanya terkenal itu?

“Aniyo,” gumam salah satu dari mereka. Bukan Yoona tentu saja. Setelah terdiam sejenak, namja itu berlari keluar.

“Fiuhh.. jongmal gomawoyo… silahkan lanjutkan tugas kalian..” Suzy tiba-tiba sudah keluar dari tempat persembunyiannya sambil menghirup napas lega.

__

“Kau menembak Jiyeon?” Yesung tersentak mendengar kata-kata Donghae yang baru saja keluar dari mulutnya. Kepalanya langsung berputar menghadap chingunya itu sepersekian detik kemudian.

“ya, begitulah,”

“Ya, Lee Donghae, kau benar-benar gila,” Yesung berceletuk sambil meletakkan penanya dengan hati-hati. Sementara Kibum yang duduk di sampingnya hanyamelirik Donghae malas.

“Hei, perasaan itu tidak boleh dibohongi,” bela Donghae sambil mengerutkan keningnya kesal.

“Tapi caramu benar-benar bodoh. Jiyeon itu jelas-jelas naksir Minho, malah kau tembak. Bukannya hubungan kalian nanti malah makin hancur, ya tidak, Kibum?” Yesung menyenggol lengan Kibum yang sedang menikmati music dari I-podnya. Kibum tersentak dan melepas earphone itu.

“Ne?”

“Heishh… dasar,” gumam Yesung kesal.

“Lagipula, aku yakin, seyakin-yakinnya, Jiyeon bakal ditolak deh sama Minho,” ungkap Donghae pede, “Karena, Minho-Suzy itu lebih populer daripada Minho-Jiyeon,”

“Lalu, kau akan datang pada Jiyeon dan menghiburnya bagai super hero, begitu?” sahut Yesung malas. Merasa dikacangin lagi, Kibum kembali memasang earphone ke telinganya.

“Ya… soal itu aku juga ragu,” gumam Donghae pada akhirnya. “Aku saja merasa ragu, kemungkinan Minho menerima Jiyeon itu juga besar sih, mereka kan lumayan akrab dan sering ikut dalam berbagai organisasi,”

“Baru nyadar? Jadi jangan terlalu pede dulu,” sembur Yesung dan kembali berkonsentrasi ke bukung yang berjudul ‘1000 Cara Membuat Lawakan Ampuh’.

“Kau ini! Bukannya mendukungku!” dumel Donghae kesal.

“Aku bingung deh, kenapa bisa kalian tahu kalau Jiyeon akan menembak Minho?” tanya Kibum tiba-tiba. Yesung dan Donghae menoleh menatapnya, dan terbengong-bengong. Seluruh anak kelas tiga sedang meributkan hal itu, bagaimana bisa ia tak tahu?

“Well, seingatku karena surat cintanya pernah tertinggal di perpustakaan, dan di baca si penjaga perpustakaan,” jelas Yesung singkat. Kibum mengerutkan keningnya.

“Siapa?”

“Kim Sora, kau tahu kan mulutnya ember begitu,” dengus Yesung. “Tentu saja berita itu langsung menyebar seantreo sekolah,”

__

“YA! Oppa, kenapa kau habiskan cheese ring-nya?” rutuk Yoona sambil mendelik ke sebuah toples bening yang tinggal berisi remah-remah kue kering. Gantian ia menghujamkan tatapan menghina pada kakaknya yang sedang menonton televisi dengan kedua kaki di atas meja. “OPPA!”

“Ya, mianhae, aku lupa kalau itu camilan kesukaanmu,” Niel, namja yang menyandang status sebagai kakak Yoona itu hanya melirik sekilah pada Yoona dan kembali berkonsentrasi dengan televisi di hadapannya.

“Aku tidak akan memaafkan oppa sebelum oppa membantuku,” katanya dengan suara dengusan. Niel menoleh menatapnya bingung.

“Ne?”

“Oppa, kau harus membantuku,”

“Apa?”

“Antarkan aku ke Café Shappire sekarang,” ujar Yoona pelan tanpa ekspresi. Niel melongo sejenak, lalu menerjap-nerjapkan matanya.

“Hanya itu?” Yoona menggeleng pelan.

“Ani,” sahutnya lagi datar. “Aku akan menghabiskan jatah cookies-mu selama sebulan!”

“MWOYA? ANDWAE!!” pekik Niel kaget. Namun Yoona malah menarik-narik lengan Niel anarkis.

“Kkaja! Antarkan aku ke Café Shappire, ini menyangkut urusan hidup matiku, tahu?!” pekiknya sambil mendorong punggung oppanya yang baru saja menyambar kunci motor.

“Arra! Arra! Tapi jangan kasar seperti ini,. Oke?!” NIel melepaskan bahunya dari cengkeraman Yoona. Yoona hanya mengangguk dan mengekori oppanya di belakang.

Brumm…

Yoona tersenyum lega saat mendapati oppanya tengah menstarter motornya, menunggunya naik ke atas boncengan. Baiklah, sekarang atau tidak sama sekali.

__

“Wah, Im Yoona, kau datang,” salah seorang sunbaenya itu menyambut Yoona dengan senyuman puas. Yoona menatapnya datar, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

“Jadi, apa yang harus kulakukan di sini?” tanyanya datar. Sunbaenya itu terkejut dengan nada dalam suara Yoona.

“Wah, nona, ternyata kau sangat tidak sabaran,”

“Lebih baik jika cepat selesai, kan?” balas Yoona masih dengan nada yang sama. Sunbaenya itu mendesah pelan, lalu menatap Yoona.

“Baiklah, kau tunggu di sini, akan ku suruh Kibum menemuimu,” Yoona hanya meliriknya sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ditunjuk itu.

Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Yoona mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan kesal. “Namja macam apa yang membiarkan yeoja menunggunya seperti ini,” dengusnya kesal.

“Kau kenapa bersungut seperti itu?” seseorang menarik kursi dihadapannya dan duduk menatap Yoona datar. “Sudah kubilang, tak usah datang,”

“Baiklah, sunbae, kalau au memang tak ingin aku datang, aku akan pulang lagi,” Yoona bersiap untuk berdiri ketika tangan namja di hadapannya menahan pergelangan tangannya. Yoona menoleh kesal. “Apa lagi?”

“Duduk dulu,” sunbae di depannya—yang bernama Kim Kibum—mengarahkan dagunya ke kursi yang tadi Yoona duduki dan kembali menatap Yoona datar. Yoona berdecak kesal, dan menurutki kata-kata sunbaenya itu.

“Jadi, apa yang mau kau bicarakan?” Kibum meronggoh sakunya, lalu mengeluarkan sebuah gantungan berbentuk seorang gadis kecil yang sudah kusam warnanya.

“Kau tahu benda ini?” Yoona tertegun.

“Apa itu?”

__

Flashback

“Apa itu, Yoona?” tanya seorang yeoja kepada Yoona yang sedang memperhatikan gantungan yang sudah kusam warnannya di hadapannya. “Jelek sekali rupanya,”

“Ash, kau menghina sekali sih, ini pemberian chingu lamaku, kau tahu,” jawab Yoona tak terima. Yeoja yang berstatus sebagai sepupu Yoona yang bernama Sungkyu itu menjulurkan lidahnya sejenak, lalu kembali menatap Yoona.

“Bentuknya kenapa anak laki-laki?” tanya Sungkyu heran. Yoona tersenyum.

“Karena kami saling bertukar gantungan. Ia memegang yang bentuknya yeoja, sedangkan milikku yang namja,” jelas Yoona. “Namanya Kim Kibum,”

“Nde? Kim Kibum?” Sungkyu mengerutkan keningnya.

Flashback end

Seorang yeoja berambut pirang sebahu sedang berpikir keras si salam kamarnya yang lumayan luas itu. keningnya berkerut dengan tangan yang menopang dagunya. “Ssh, kalau itu memanfg Kibum oppa, aku harus bertindak. Ya, Sung RIn menyukai Kibum oppa, bila Yoona adalah yeoja yang menjadi sahabat kecil Kibum oppa dan dekat dengannya, aku tidak boleh membiarkan cinta bersemi di antara mereka,” gumam Sungkyu.

“Apa aku harus merebut gantungan itu drainya? Tapi aku belum pernah mengetahui Kibum oppa memiliki gantungan kunci yang berbentuk yeoja dengan warna yang luntur seperti itu. Ck, apa aku harus bertanya padanya?”

__

Seorang yeoja berambut panjang sedang asyik berkutat dengan tanah liat dan meja putar dihadapannya. Kemeja lengan panjangnya ditekuk hingga sesiku, dan ia masih berusaha membentuk guci yang tengah ditanganinya berbentuk tabung sempurna.

“Kau masih di sana, Suzy-ah?” tanya seorang yeoja lagi, kali ini rambutnya lebih pendek. Yeoja bernama Suzy itu mendongak lalu mengangkuk kecil ke yeoja yang berdiri tak jauh darinya itu.

“Ne, aku harus menyelesaikan ini dulu,” ujarnya pelan.

“Kalau sudah selesai tolong kunci pintu ya, kuncinya kau yang bawa juga tak apa,” sahut yeoja itu lagi. Suzy mengangguk, dan kembali melanjutkan aktifitasnya setelah mendengar suara pintu ditutup dari luar.

Baru saja lima belas menit ia kembali berkutat dengan guci dihadapannya, ia mendengar lagi suara langkah sepatu. Namun suara itu terdengar begitu samar, sampai ia sendiri ragu apakah benar memang ada orang di sana. Berusaha tak memperdulikannya, ia tetap melanjutkan aktifitasnya seakan tak mendengar apa-apa.

“Kenapa ada kau di sini?” tanya sebuah suara berat. Suzy terlonjak, ia menoleh cepat namun tanpa sengaja jarinya menyenggol meja putar di hadapannya yang masih berputar bersama gucinya, menyebabkan salah satu bagian dindingnya gepeng.

“ASH!” makinya pelan lalu emnghentikan meja putarnya. Ia menoleh menatap namja yang mengusiknya itu kesal. “Sedang apa kau di sini?”

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu, untuk apa kau di sini? Bukankah yang keluar tadi adalah Yuri noona?” tanya namja yang tak lain tak bukan itu adalah Choi Minho. Suzy mengelap tangannya, lalu menatap namja yang berdiri tak jauh drainya itu datar.

“Dia guruku, wae?”

“Nde? Gurumu?”

TBC

Mianhae telat keluarnya T^T biasa.. lagi mandek hohoho ^o^

Dimohon komen, kritik dan sarannya yahhh XDD

22 thoughts on “[CHAPTER] My Everything – Part 3

  1. Sebener nya sulit untuk dimengerti-_-apalagi aku bacanya di jam-jam yang bukan waktunya hhee
    tapi tak apa lah , aku suka couple YoonBum MinZy YeonHae yang ada disini :)
    jadi jangan lama-lama ya thor nge post chap selanjutnya ;)
    keep writing (y)

  2. diblog ini bkebanyakan castnya Yoonhae, yoonbum dikit,,,,,padahal Yoonbum shipper masih banyak..
    kasihan banget couple ini,,,,,

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s