CHAPTER 1 : Fate or ….?

Fate or?

Chapter I : How can this begin…

Tittle                : Fate or ….?

Author             : babacon (@nhdni)  ß ganti nama lagi u,u

Genre              : teenager life, romance.

Rating              : Teenager

Length             : chaptered

Cast                 :

–          Kim Jongin

–          Lee Shinka

 

***

Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan. Sekarang, satu jam lagi, satu menit lagi, bahkan satu detik lagi, kita tak akan pernah tahu apa yang Tuhan takdirkan kepada kita.

Tapi waktu terus berjalan. Kemarin, hari ini, dan besok, akankah kau menyebutnyakebetulan?

***

Author POV

Entah apa yang menarik dari langit sore ini sampai-sampai Kim Jongin, atau panggil saja Kai, tak mengalihkan pandangannya dari langit dalam kurun waktu 30 menit. Ada yang mengganggu pikirannya. Sejak berkumpul dengan teman-temannya siang tadi, pikirannya menjadi kalut.

Siang tadi Kai pergi menemui Sehun, Taemin, dan dua hyungnya Baekhyun dan Chanyeol. Hanya sebuah pertemuan seperti biasanya, tapi satu hal yang membedakan pertemuan tadi dengan pertemuan yang dulu-dulu. setiap temannya datang membawa seorang kekasih, kecuali dirinya. Dan itu sukses membuatnya ‘dikucilkan’ oleh hyung dan temannya.

“kenapa tidak cari pacar saja Kai-ah? Tidak laku? Hahaaha..”

            Masih ingat benar bagaimana Baekhyun mengoloknya seperti itu. Dan kalimat itu terus terngiang dikepalanya. Ia bukannya tidak laku atau apa, ia punya ketampanan, uang, dan ya sedikit otak dengan kemapuan lebih, dan tak sulit untuk mencari gadis yang menyukainya di sekolah, hanya saja tidak ada gadis yang benar-benar bisa ia percaya untuk menjadi kekasihnya. Ia takut gadis itu hanya memanfaatkan harta atau kepintarannya saja.

“annyeonghaseyo…” seseorang berdiri di ambang gerbang rumahnya sembari membawa sepiring kue cokelat. Membuyarkan pikiran Kai.

“kau.. masuk saja!” teriak Kai. Gadis yang berdiri di depan gerbang rumahnya itu sontak membuka sendiri gerbang yang tertutup lalu masuk ke dalam menghampiri Kai yang juga melangkah ke arah gadis itu.

“Ibuku baru saja membuat kue cokelat, ini untukmu..” gadis itu menyodorkan sepiring kue cokelat ke arah Kai. Kai menerimanya.

“pasti enak. Sampaikan terima kasihku pada ibumu, Shinka-ya,”

“arraso.. aku pulang dulu, annyeong Kai-ah..” pamit Shinka pada Kai, begaimanapun tugasnya untuk mengantarkan kue sudah selesai.

“Shinka-ya! Jakkaman!”

“nde?” Shinka membalikkan badan, berhadapan dengan Kai lagi.

“mau jalan-jalan bersamaku?” tawar Kai. Sebenarnya hanya modus, karena Kai ingin membicaran sesuatu dengan Shinka di suatu tempat.

“eum.. baiklah, lagipula kita sudah jarang jalan-jalan seperti dulu.” Shinka mengangguk. Sejak mereka lulus sekolah dasar mereka melanjutkan ke sekolah yang berbeda, dan intensitas merekapun mulai berkurang.

“tunggu disini, aku akan segera kembali.” Kai melesat ke dalam rumah untuk meletakkan kue cokelat itu di meja makan. Kini ia kembali ke hadapan Shinka.

“kajja!”

***

            Kai sibuk mengamati Shinka yang sedang menikmati bubble tea di hadapannya. Bubble tea miliknya di biarkan begitu saja tanpa sempat  tersentuh.

‘Lee Shinka, cantik, tinggi. Tidak buruk untukku.’ Pikir Kai.

Shinka yang sedari tadi merasa di amati oleh Kai menatap tajam ke arah Kai. Ia berhenti meminum bubble tea-nya dan mulai bertanya,

“kenapa melihatku seperti itu? Terpesona,huh?” goda Shinka pada Kai.

“jadilah pacarku..” pinta Kai to the point.

“MWOYA?!” pipi Shinka memerah seketika, refleks ia berteriak sekeras itu, tapi saat mengetahui semua orang di dalam cafe kini melihat ke arahnya, Shinka hanya bisa tersenyum kikuk.

“jadilah pacarku, kau tidak dengar?” Kai mengulang permintaannya. Shinka masih terlihat shock.

“kau gila ya? Haish Kim Jong In..” Shinka mengacak-acak poninya frustasi.

“bantu aku. Semua temanku sudah punya pacar dan aku belum. Jebal Shinka-ya..” Kai menunjukkan puppy eyes yang sebenarnya tidak cute sama sekali.

“alibi, huh? Bilang saja kau memang suka padaku! Ckck, tak usah memakai alasan yang tidak rasional seperti itu. Iyakan? Kau suka padaku kann?” Shinka malah menanyai Kai dengan rentetan pertanyaan bodoh itu. Kai menaikkan satu alisnya, melihat tingkah aneh gadis di hadapannya ini.

“tsk! Aku tidak berbohong. Lagipula apa yang bisa aku sukai darimu? Hah?” Kai balik bertanya. Membuat Shinka mengerucutkan bibirnya, merasa di rendahkan.

“apa yang akan kau berikan padaku jika aku mau menjadi pacar pura-puramu, hah?” tawar Shinka. Ia tak mau dirugikan atas hal ini.

“ Kau akan sering ku ajak jalan-jalan, dan yang pasti akan sering aku traktir. Bagaimana?” tawar Kai, Shinka tersenyum. Ia bisa memanfaatkan Kai saat jalan-jalan ke Mall. Hihihi ia tertawa puas dalam hati.

“satu permintaan dariku, kau harus memberiku hadiah sesering mungkin, arra?”

“arraso, arraso. Jadi kau mau?” Kai memastikan.

“….” Shinka tidak menjawab apapun, hanya mengagguk setuju.

“jadi, sekarang kau pacarku. Mengerti?”

“ne, Kim Jong In.” Jawab Shinka malas. Ia meminum bubble tea-nya lagi.

***

            Kai duduk manis di ruang tamu kediaman keluarga Shinka. Ia sedang menunggu Shinka untuk turun dari kamarnya, dan berniat mengajaknya bertemu dengan teman dan hyung-hyungnya. Untuk apa ia meminta Shinka untuk jadi pacar palsunya kalau tidak menunjukkan Shinka di depan hyung dan teman-temannya?

“ada apa? Kau mengganggu hari minggu-ku yang tenang, Jongin-ah” Shinka turun dari kamarnya. Ia baru saja dibangunkan oleh eommanya.

“dasar kerbau! Cepat mandi, kita akan pergi ke suatu tempat!” perintah Kai dari bawah, refleks Shinka langsung naik lagi ke kamarnya dan pergi mandi. Ia tak mau menyia-nyiakan jalan-jalan gratisnya ini. Mungkin bisa disebut, kencan pertamanya dengan Kai.

Hah? Kencan pertama?

***

            “Hyung! Itu Kai datang!” Sehun menujukkan jarinya ke arah Kai yang sedang berjalan mendekat dengan Shinka.

“Kai? Siapa gadis yang bersamanya itu? Wah..” Baekhyun menatap takjub kearah Kai. Baru kemarin ia mengolok-olok Kai karena Kai tidak punya pacar, tapi hari ini Kai sudah datang bersama seorang gadis yang kemungkinan besar adalah pacarnya, karena Baekhyun tau Kai tidak memiliki adik perempuan.

“Annyeong, Hyung!” sapa Kai begitu sampai di tempat berkumpul.

“Kai, pacarmu?” tanya Chanyeol penasaran.

“Ne!” jawab Kai mantap, “perkenalkan dirimu” Kai menyenggol lengan Shinka.

“Annyeonghaseyo, Lee Shinka imnida. Bangapseumnida..” Shinka membungkuk lalu tersenyum ke semua orang.

“Lee Shinka! Kau..yang ikut olimpiade bersamaku waktu itu kan?” tanya seorang gadis bernama Shin In Jung yang notabene adalah pacar Taemin.

Shinka butuh sedikit waktu untuk mengingat gadis yang tadi mengajaknya bicara, olimpiade matematika itu sudah berlangsung satu tahun lalu.

“eum, Shin In Jung. Benar?” Shinka tersenyum lebar saat ia sudah bisa mengingat nama gadis itu, In Jung.

“Kalian saling kenal? Bagus lah kalau begitu.” Kata Taemin.

“Oh iya, Shinka-ssi. Ini Oh Sehun, Park Chanyeol, Lee Taemin, dan Byun Baekhyun. Dan ini Han Nayoung pacar Oh Sehun, Kim Heejin pacar Park Chanyeol, dan Park Nara pacar Baekhyun,” In Jung memperkenalkan setiap orang satu persatu. Kini ia tahu kenapa Kai memintanya untuk menjadi pacar pura-puranya.

“dan kau In Jung-ssi, kau pacar Lee Taemin, benar?” Shinka melanjutkan apa yang seharusnya In Jung katakan. In Jung tersenyum malu-malu.

“baiklah, karena kita semua sudah berkumpul ayo mulai bermain dengan wahana yang ada di sini. setuju?” tanya Baekhyun selaku orang yang paling tua diantara sehun-kai-Chanyeol.

“Setujuuuu!!!” koor para namja semangat.

“kalau begitu, kita berpisah. 2,5 jam lagi kembali ke tempat ini. Arra?” perintah baekhyun. Lalu semua orang kecuali Kai dan Shinka sudah mulai berpencar dengan tujuan masing-masing.

“teman-temanmu itu aneh sekali..” Shinka membuka suaranya saat mereka mulai berjalan.

“wae?” tanya Kai,

“kenapa harus berkumpul dulu, kalau akhirnya harus berjalan terpisah-pisah seperti ini.” Jawab Shinka. Kai terkekeh.

“sudahlah, itu tidak penting.”

“…” Shinka tidak berniat menjawab apapun, karena tidak ada yang perlu dijawab atau ditanggapi.

Sekarang mereka berjalan dalam diam. Mereka sama-sama canggung. Meskipun bukan kali pertama mereka berjalan-jalan di taman hiburan seperti ini, tapi ini kali pertama berjalan-jalan dengan status ‘berpacaran’. Entahlah, tapi memang begitu kenyataannya.

Tiba-tiba Kai merangkul pundak Shinka saat melihat Sehun dan Nayoung ada di dekat mereka. Hanya untuk berakting seperti pasangan kekasih pada umumnya agar mereka tidak terlihat sedang berpura-pura pacaran.

“Kai..” Shinka menatap aneh tangan Kai yang bertengger(?) di pundaknya.

“ada Sehun dan Nayoung. Kita harus terlihat seperti pasangan kekasih. Mengerti?” Kai berbisik pada Shinka.

“arraso. . tapi…. Kai, mari buat perjanjian!” pinta Shinka.

“perjanjian, apa?”

“kita hanya boleh seperti ini saat di depan teman-temanmu saja. Jangan lakukan ini saat di kita sedang berjalan-jalan sendiri atau saat tidak ada temanmu. Arra?”

“arraso.. lagipula siapa yang mau merangkulmu, huh?” ledek Kai. Lalu Kai mendapatkan ‘death glare’ dari Shinka.

 

***

            “jadi begini rasanya berkencan denganmu?” sindir Shinka pada lelaki di sampingnya ini.

“apa maksudmu?” kai tak mengerti.

“seperti yang kau katakan, kita sedang berjalan-jalan. Bahkan di taman hiburan seperti ini kita hanya berjalan-jalan. Hmm…” Shinka berkata tanpa menatap Kai, untuk menunjukkan bahwa ia sedang bosan.

“aa… kau mau membawaku kemana, Jongin-ah!!” Shinka berteriak karena Kai dengan tiba-tiba menyeretnya menuju suatu tempat. Entahlah mungkin suatu wahana.

“tunggu di sini, arra?” Kai pergi mengantri tiket.

Shinka menghentak-hentakkan kakinya pelan ke tanah, sesekali ia mengamati keadaan sekitar. Menengok ke kanan, kiri, lalu ke depan dan ke atas, matanya tak berhenti berkedip ketika ia menyadari sesuatu. ROLLER COASTER!

Jantungnya tak bisa berdetak dengan normal lagi sekarang, berdetak 10 atau bahkan 100 kali lebih cepat dari biasanya. Sampai sekarang, saat ia sudah duduk di bangku roller coaster.

Dan ketika roller coaster ini mulai berjalan perlahan, Shinka tanpa sadar menggenggam tangan kanan Kai erat. Kai menatap nanar tangannya yang digenggang erat, ia ingin protes pada Shinka, tapi saat mengetahui ekspresi wajah ketakutannya, Kai mengurungkan niatnya untuk mengomel pada Shinka. Kai tak tega melihat ekspresi Shinka, kalau bisa ia ingin tidak jadi saja naik roller coaster, tapi sayang, roller coaster ini meluncur dengan cepat. Satu hal yang harus Kai hadapi, konsekuensi atas apa yang akan terjadi setelah ini.

 

***

            Kai memapah Shinka yang berjalan lemas dan sempoyongan. Ia menguatkan rangkulannya pada pundak Shinka agar Shinka tidak oleng dan terjatuh. Shinka tak mempermasalahkan adanya skinship antara dirinya dan Kai, yang terpenting sekarang adalah menemukan bangku untuk duduk.

Akhirnya Kai mendudukkan Shinka pada sebuah bangku kosong di dekat wahana roller coaster. Ia tak duduk di samping Shinka, hanya menatap lekat-lekat gadis itu. Bodoh, umpatnya pada dirinya sendiri karena ceroboh seperti ini. Ia memutuskan untuk membelikan Shinka minum, mungkin itu akan sedikit membuat Shinka merasa lebih baik.

“Kai.. kemana?” tanya Shinka lirih saat ia melihat kaki Kai melangkah pergi.

“tunggu di sini, aku akan beli minum.” Jawab Kai seadanya lalu berlari.

“…..” Shinka mengangguk, ia memijat dahinya yang terasa pening juga memegangi perutnya yang terasa mual. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Shinka naik roller coaster, dan di sisa hidupnya nanti ia bersumpah ia tak akan naik roller coaster lagi.

Shinka menikmati rasa pusing dan mual sembari menunggu Kai yang tak kunjung datang. Di saat seperti ini satu detik bagaikan satu hari bagi Shinka. Untunglah ia mendengar derap langkah menuju ke arahnya, ia menolehkan kepalanya pelan. Dilihatnya Kai menyodorkan sebotol isotonik padanya, sedangkan satu tangannya lagi memegang air mineral.

Shinka menggapai-gapai air mineral yang sebenarnya tidak dibeli Kai untuknya. Kai ngotot memberi Shinka isotonik, tak mau memberikan air mineralnya karena menurut Kai, Shinka pasti lebih baik meminum isotonik daripada hanya air mineral saja.

Karena keinginannya tak kunjung diindahkan oleh Kai, Shinka menarik kuat air mineral itu.

“Shinka-ya… isotonik saja..” tawar Kai.

“bukakan tutup botolnya..” perintah Shinka, ia terlalu lemah sekarang, untuk membuka tutup botol yang masih tersegel saja ia tidak mampu.

“Igo..” Akhirnya Kai menyerah, dan menyerahkan kembali sebotol air mineral yang sudah terbuka tutupnya. Sementara ia menegak isotonik, dan duduk di samping Shinka yang juga sedang meminum air mineralnya pelan.

Kai semakin iba melihat gadis yang terduduk lemah di sampingnya ini, ia mengulurkan tangannya ke arah pundak Shinka lalu memijatnya pelan. Tapi tangan gadis itu menepisnya, lalu menatap sinis kearahnya.

‘apa aku keterlaluan?’ pikir Kai.

 

***

            Kai menyentuh layar ponselnya, mengetik sebuah pesan untuk Baekhyun, hanya ingin memberitahu agar Baekhyun tidak mencarinya karena kini ia dan Shinka sudah pulang. Shinka dan Kai pulang 1 jam lebih awal dari Baekhyun dan kawan-kawannya karena keadaan Shinka benar-benar buruk, bahkan setelah perdebatan kecilnya dengan shinka soal air mineral, Shinka mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak mau bicara sepatah katapun, bahkan sehurufpun pada Kai.

Ia ingat bagaimana emotionless-nya wajah Shinka saat turun dari motornya. Shinka berjalan masuk ke gerbang rumahnya tanpa mengucapkan ‘annyeong’ ataupun ‘terimakasih’ padanya, ya terimakasih karena telah membuat Shinka jadi seperti ini. Setidaknya berkata ‘kau brengsek, Kai!’ itu lebih baik daripada mendiamkan Kai dan membuat Kai terus-terusan merasa bersalah pada Shinka. Tapi memang kenyataannya Kai bersalah.

sudahlah Kai, lupakan Shinka. Ini bukan sepenuhnya salahmu, Shinka juga bodoh. Kalau ia takut naik roller coaster, kenapa ia tak bilang saja padamu untuk tidak menaiki roller coaster? Kenapa ia malah hanya berdiri mematung, diam dan mengikutimu sampai ke bangku roller coaster dan akhirnya seperti ini?’ devil-side dari dirinya muncul. Untuk sejenak ia membiarkandevil-side nya bergerilnya di pikirannya, tapi 30 detik setelahnya, ia kembali memikirkan Shinka.

Apa begini rasanya punya pacar? Pikir Kai.

Meskipun hanya status..

 

***

            “Kau pucat, kenapa?” tanya Younghwa, teman sebangku Shinka sesaat setelah Shinka duduk di bangkunya.

“ya, jawab kau kenapa, sakit? aku antar ke UKS ya?” tanya Younghwa lagi karena sahabatnya ini tak kunjung bereaksi ataupun menjawab.

“tidak usah” jawabnya singkat,

“aku boleh melihat PR matematikamu ya?” lanjut Shinka sambil mengeluarkan buku tulis bersampul biru dari dalam tasnya.

Younghwa menaikkan satu alisnya, tidak biasanya Shinka ingin menyalin PR matematikanya. Malahan biasanya Younghwa yang sering menyalin PR matematika Shinka. ‘pasti ada yang tidak beres’, pikir Younghwa.

“cerita padaku dulu kau kenapa, baru kau boleh menyalin pekerjaanku” Dengan begini Younghwa berharap Shinka akan bercerita padanya sedikit. Atau mungkin Shinka hanya akan bicara ‘aku baik-baik saja’, tapi jika Shinka hanya menjawab ‘aku baik-baik saja’ Younghwa tak akan meminjamkan PR-nya pada Shinka. Pintar bukan?

“aissh.. kau ini banyak syarat.”

“kalau tidak mau ya sudah! Kau mau menyalin PR milik siapa lagi? Butuh 30 menit untuk menyalin lima lembar PR kita kali ini, dan see.. baru kita yang datang ke kelas. Hm?” ancam Younghwa.

“arraso.” Akhirnya Shinka menyerah, daripada harus berdebat dengan Younghwa lebih lama, dan bisa menyalin PR Younghwa secepatnya.

“kemarin aku naik roller coaster,” lanjutnya.

“lalu?”

“kau tau kan aku takut ketinggian, dan hal-hal semacam itu. Haaahh..” Shinka menghela nafasnya sambil memijat dahinya yang masih terasa pening.

“ooh…” “tunggu! Dengan siapa kau pergi kemarin? Kau….” Younghwa mulai curiga, karena biasanya Shinka hanya pergi keluar bersamanya.

“kemarin… uhm..” Shinka tergagap,

“ah sudahlah itu tidak penting! Mana PR-mu?” kilahnya agar Younghwa tak bertanya lebih jauh soal kemarin dan tentunya tentang Kai. Tapi dengan begini Younghwa akan lebih penasaran.

Soal hubungan pura-puranya dengan Kai, Shinka tak mau Younghwa tahu. Karena satu, dirinya dengan Kai hanya menjalani hubungan pura-pura, dua; ia tak mau Younghwa salah paham, dan tiga; Younghwa tak perlu tahu akan hal ini. Terlalu tidak penting untuk diumbar.

Shinka mulai membuka buku tulis Younghwa. Dilihatnya hanya satu lembar PR yang harus ia salin. Ia menatap Younghwa dengan tatapan mati-kau-karena-menipuku-! Sementara yang ditatap hanya nyengir kuda, lalu satu detik kemudian Younghwa lari keluar kelas.

***

Shinka POV

Hari ini Younghwa merengek memintaku memperbolehkannya main di rumahku. Entah, tidak biasanya ia seperti ini. Apa jangan-jangan ia masih ingin tahu kemarin aku pergi dengan siapa dan ingin mencari tau tentang itu di rumahku?

Bodoh.

Tapi..

Jika ia bertanya pada eomma dan eomma menjawabnya, maka…

Aku tidak siap melihat tingkah Younghwa yang berlebihan karena status pura-puraku dengan Kai. Apalagi eomma tidak tahu kalau aku dan Kai hanya pacaran pura-pura, pasti eomma akan berkata seolah-olah aku dan Kai adalah kekasih sungguhan.

Ya Tuhan, berkati aku..

 

“Shinka-ya.. kau punya jus jeruk di rumah kan?” Younghwa mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangannya. Aku dan ia pulang naik bus karena tak punya banyak uang untuk naik taksi, dan itu artinya kami harus berjalan dari halte ke rumahku. Tidak jauh, hanya saja cuacanya sangat panas.

“Ada.” Kataku setelah mengingat-ingat apa yang ada di dalam lemari pendinginku. Aku berharap benar-benar ada jus jeruk di lemari pendingin, bukankah setiap perkataan adalah doa?

“benar-benar ada atau ti…. OMO! Shinka-ya lihat!!” Younghwa mengguncangkan bahuku, tidak terlalu keras tapi cukup membuatku merasa seperti sedang ada gempa bumi.

Aku mengalihkan arah pandangku terhadap objek yang saat ini sedang ditunjuk oleh Younghwa.

K-A-I, dan lihat lah apa yang terjadi setelah ini….

“OMO! Lelaki itu melambaikan tangannya ke arah kita!” Younghwa berteriak histeris seperti sedang melihat Super Junior atau BigBang di depan matanya. Kampungan. Dan ini membuatku malu.

“Sudahlah, ayo kita masuk saja!!” aku menyeret Younghwa yang sekarang masih menatap Kai nyaris tanpa berkedip. Aku tak percaya lelaki itu bisa mengubah Younghwa jadi seperti ini. Aku membuka gerbang depan rumahku.

“Lee Shinka!”

Bodoh, Kai… jangan panggil aku untuk kali ini saja.

“ne?” jawabku pura-pura tak kenal, Younghwa tersenyum girang di sampingku.

“ah aniya, nuguya?”

Kai tersenyum ke arah Younghwa.

“nae chingu, Younghwa.” Sepertinya aku tak bisa pura-pura tidak kenal dengannya.

“annyeong. Younghwa imnida~”

“annyeong. Kai imnida..” kai memperkenalkan dirinya sediri lalu menjabat tangan Younghwa yang terulur padanya.

“sudah selesai kan perkenalannya? Youngie, ayo masuk!”

“kenapa kau? Cemburu melihat aku dan Younghwa?”aku tercekat, tidak jadi menarik Younghwa ke dalam rumah karena perkataannya barusan. Ku tatap wajah tanpa dosa-nya itu nanar, dengan pandangan mataku aku seolah bicara ‘apa kau bilang?’

“tidak,” jawabku ketus, lalu menarik Younghwa untuk segera masuk. Tapi Younghwa tidak bergerak, entah membatu atau apa, ia sama sekali tak mau bergerak. Malah menatapku penuh curiga.

“tunggu.. cemburu? Kai-ssi apa maksudmu?” younghwa menatap kami berdua –aku dan kai- secara bergantian.

aku mengisyaratkan Kai untuk tidak mengatakan yang tidak-tidak tentang ‘hubungan’ kami pada Younghwa dengan isyarat mata. Tuhan mulai saat ini, saat dimana Kai menunjukkan smirk-nya untukku, aku merelakan Younghwa tahu tentang kami. Terserah apa reaksi yang akan diberikan Younghwa karena hal ini.

“apa temanmu ini tidak memberi tau dirimu? Aku dan Shinka….”

“Aku dan Kai berpacaran.” Lanjutku sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya. Aku tahu ini kalimat yang akan Kai katakan, biarkan aku yang mengatakannya saja.

“…..” Kai tercengang dengan apa yang barusan aku katakan, matanya menatapku bingung. O_O

“……” Sepertinya Younghwa sedang mencerna apa yang aku katakan, dan sebentar lagi BOM akan meledak.

 

1……

 

2……

 

3……

 

“MWOYA? PACARAN? KAU? KAI?”

 

Sudah kuduga.

 the story just begin…

 

TBC – or END?

 

 A/N :

annyeong haseyoo~ this is the second chaptering-req-fanfic. maunya sih pengen oneshoot aja tapi kok ceritanya gak memungkinkan buat dibikin oneshoot.

buat yang nunggu absolute formula (emang ada yg nunggu .___.)  ini lagi progress chapter 2, ditunggu aja yaa..

chapter 2 FF ini bakal dipublish setelah absolute formula chap 2 kelar, so tunggu giliran yaa :3

thankiesss :3 mumumu :*

dont forget to RCL <3

11 thoughts on “CHAPTER 1 : Fate or ….?

  1. HUUUUAAAAAAAAAA!!!!! ceritanya keren chingu :)
    kenapa harus ada yang namanya TBC???? kenappaaa -_-
    di tunggu chapter selanjutnya :D
    HWAITING :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s