Infinitely Yours

image

Infinitely Yours

Title: Infinitely Yours

Author: Yoo Jangmi (J.b2utyH:LLER)

Genre: Romance, Drama, Action (a little maybe), AU

Length: Oneshot (?)

Rating: PG15 (?) *udah pol ini ratingnya-_-*

Cast:
SNSD’s Jessica Jung / Jung Sooyeon
Super Junior’s Lee Donghae
Kim Dahye (OC)
*other casts just find them*

Disclaimer:
Semua cast kecuali OC udah pasti bukan milik author, but the storyline + cover, is 100% MINE!

Author’s Note:
Annyeong! tumben-tumbenan author mengangkat (?) HaeSica couple sebagai main cast *biasanya kan YoonHae*
Tiba-tiba terpikir bikin FF ini waktu denger lagu INFINITE – Only Tears *kagak nyambung* hehehe, makanya judulnya Infinitely Yours *membawa nama INFINITE*. Sebenarnya sih tu judul juga sedikit (?) minjem dari sebuah novel yang pernah author liat di toko (- -“)v *liat doang, gak baca, gak punya duit buat beli* #plak.
Tapi ceritanya jelas beda.
Ya udahlah kebanyakan ngomong, entar FFnya basi (?). Don’t Be Siders, Don’t Be Plagiator!!

*H A P P Y  R E A D I N G*
________________________________________________________________________________________________________________________________________________

“영원히 널 사랑해”
(yeongwonhi neol saranghae)
“i love you forever, because i’m infinitely yours”

~***~

Jung Sooyeon menatap appa-nya dengan tatapan kesal. Ia merasa selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh appa-nya, mungkin itu semua karena ia adalah anak satu-satunya, dan juga karena ia adalah putri Presiden. ya, appa-nya adalah Presiden Korea Selatan.
“appa, aku tidak butuh bodyguard” kata Sooyeon, sudah lima kali ia mengatakan hal ini hari ini. “Sooyeon-a, ini demi keselamatanmu juga, kau tahu kan appa ini Presiden negara ini” kata Presiden Jung sambil menandatangani beberapa dokumen. Sooyeon berdiri dari tempat duduknya dan berseru, “yang Presiden itu appa! bukan aku!! aku ingin seperti orang lain, pergi kuliah tanpa harus diikuti orang-orang berbaju hitam!”. Sooyeon menendang meja kerja appa-nya lalu pergi keluar ruangan itu, tidak lupa juga ia membanting pintunya sekeras mungkin.
Di luar, ia langsung disambut oleh salah satu bodyguard-nya, Lee Donghae. “Jung Sooyeon agasshi, mau kemana?” tanya Donghae sambil menghalangi jalan Sooyeon. “minggir!” kata Sooyeon galak. “jawab dulu mau kemana” kata Donghae lagi. “aku mau kemana? itu bukan urusanmu! kau bukan siapa-siapa, jadi sekarang MENYINGKIR DARI JALANKU!” kata Sooyeon. Donghae, sudah menjadi bodyguard Sooyeon selama 3 tahun, jadi ia sangat mengenal nonanya itu. Sangat mengenal, sampai akhirnya ia jatuh cinta pada Jung Sooyeon, tapi ia tahu, tidak mungkin ia bisa bersama Sooyeon. Terlalu banyak halangan. “Sooyeon agasshi, aku minta jangan pergi ke klub malam” kata Donghae. “sudah kubilang itu bukan urusanmu!” kata Sooyeon, ia mendorong Donghae supaya menyingkir, lalu berjalan melewati laki-laki itu. “ia pasti akan ke sana” pikir Donghae, ia tahu kemana tujuan Sooyeon, jadi ia memutuskan untuk mengikuti gadis itu secara diam-diam.

~***~

[klub]

Sooyeon minum satu gelas lagi, lalu berjalan ke toilet, ia sudah mulai merasa pusing. Itu artinya ia mabuk.
Sampai di depan toilet, ada dua orang pria menghalangi jalannya. Sooyeon menutupi sebagian wajahnya dengan syal, lalu berkata “kalian siapa? aku mau lewat, minggir”
“Jung Sooyeon, kau tidak perlu menutupi wajahmu, kami tahu siapa kau” kata salah satu dari dua pria itu, sambil menghampirinya lalu memegang tangannya. “yah naega sondaejima!!!(jangan sentuh aku)” seru Sooyeon sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman pria itu. “ada kata terakhir, Sooyeon agasshi?” kata pria yang satunya lagi sambil mengeluarkan pisau. “dangshineun nuguya?!! berani-beraninya mengancamku!” seru Sooyeon lagi. Tiba-tiba, seseorang menghajar pria yang memegang tangannya sampai pingsan, lalu menarik Sooyeon ke belakangnya. “Lee Donghae?” kata Sooyeon kaget dan marah karena diikuti, tapi ia terlalu lemah untuk mengomel. Jadi ia diam saja. “agasshi, berdiri saja di belakangku, aku akan mengatasi yang satu lagi” kata Donghae pada Sooyeon. Baru saja ia akan menghajar pria yang memegang pisau, tapi pria itu cepat-cepat kabur.
Sekarang Donghae berbalik dan kembali fokus pada Sooyeon. “Sooyeon agasshi, gwaenchanayo?” tanya Donghae. “gwaenchana, aku tidak membutuhkanmu, sudah sana pergi” kata Sooyeon, gadis itu hendak pergi meninggalkan Donghae, tapi kepalanya pusing, ia pun kehilangan keseimbangan, untung Donghae sempat menangkapnya sebelum ia jatuh ke lantai. “Sooyeon agasshi, kau tidak baik-baik saja, ayo kita pulang sekarang” kata Donghae. “yah jangan panggil aku agasshi!!! jangan bawa aku pulang juga” protes Sooyeon. “baiklah, Sooyeon-a, kalau begitu kau mau kemana?” kata Donghae, ia begitu sabar menghadapi Sooyeon yang seperti itu. Meskipun dimaki ratusan atau ribuan kali juga, ia tidak peduli. “kemana saja asal bukan rumahku” kata Sooyeon sambil memegangi perutnya yang mual. “geurae, kau bisa jalan?” kata Donghae, bukannya menjawab pertanyaannya, Sooyeon malah memuntahi pakaiannya. Tapi ia tidak sedikitpun protes. “mian” kata Sooyeon pelan. “lain kali jangan minum lagi, kau tidak bisa minum alkohol, kau sendiri tahu itu. Kita ke rumahku saja” kata Donghae, lalu membantu Sooyeon berdiri dan berjalan. Ia membawa gadis itu pergi dari situ, lalu ke rumahnya dengan naik taksi.
________________________________________________________________________________________________________________________________________________

[tomorrow morning]

Sooyeon terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak. Kepalanya masih terasa pusing, perutnya juga mual. “ini dimana?” tanya Sooyeon, ia berusaha untuk bangun, dan berjalan keluar dari kamar. Rumah ini tampak asing baginya, ia yakin ini pertama kalinya ia kesini.
“agasshi”. Tiba-tiba sebuah suara yang ia kenal memanggilnya, Sooyeon melihat ke sumber suara dan mendapati Donghae yang sedang membawa segelas air madu untuknya. “agasshi, ini minum dulu” kata Donghae sambil menyodorkan gelas berisi air madu itu pada Sooyeon. Sooyeon segera meminumnya dalam beberapa teguk. “jangan panggil aku agasshi, aku benci itu” kata Sooyeon, lalu kembali ke kamar untuk mengambil mantel dan syalnya. Donghae menghela napas lalu mengikuti Sooyeon, ia berdiri di depan pintu kamar sambil memperhatikan Sooyeon. “kau mau kemana?” tanya Donghae. “aku mau ke rumah Dahye” jawab Sooyeon acuh tak acuh. “tadi pagi Presiden Jung menelponku, ia menanyakan keberadaanmu” kata Donghae. “kau bilang apa saja pada appa?” tanya Sooyeon, ia takut Donghae melaporkan kejadian di klub tadi malam pada appa-nya. “aku bilang kau ada di rumah Kim Dahye, dan aku masih menjagamu. Tapi aku tidak bilang soal kejadian di klub itu, tenang saja” kata Donghae sambil tersenyum pada Sooyeon. Gadis itu hanya memasang ekspresi datar lalu bertanya lagi. “jadi sekarang, apa yang harus kulakukan?”
“setidaknya pulang dulu sebentar, baru setelah itu akan kuantar ke rumah Kim Dahye” kata Donghae. Sooyeon kelihatan sedang menimbang-nimbang, tapi akhirnya ia setuju.
************************************************************************************************************

[Sooyeon’s house]

Begitu sampai di rumah, Sooyeon langsung menemui appa-nya. Presiden Jung kelihatan sangat marah, pria itu menghampiri Sooyeon, lalu menatap anaknya itu lekat-lekat. Dan..

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sooyeon. “kau sudah sangat keterlaluan. Memangnya kau pikir appa tidak tahu kejadian semalam? kau tahu, yang kau lakukan itu bisa merusak nama baik appa sebagai seorang presiden” kata Presiden Jung. Sooyeon menyentuh pipinya yang memerah, ia menarik napas panjang lalu balik menatap appa-nya. “appa jahat. Appa egois, appa cuma memikirkan reputasi appa, appa tidak pernah memikirkanku, tidak pernah mengerti perasaanku. aku…aku benci jadi anak appa, aku sangat benci!” kata Sooyeon, pipinya memang sakit, tapi tamparan itu lebih terasa sakit dihatinya. Ia tahu ia salah, tapi semua itu juga karena appa-nya, yang kurang perhatian dan tidak pernah ada waktu untuknya. Rasanya ia lebih baik mati sekarang.

“geurae, kalau memang begitu yang kau pikirkan, pergi dari sini! Kau bukan anakku sekarang” kata Presiden Jung, lalu menunjuk pintu. “tanpa disuruh aku akan pergi, dan selamanya tidak akan pernah kembali lagi, Presiden Jung” kata Sooyeon, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

“aku tidak akan pernah menyesal” batin Sooyeon, sambil menghapus air matanya. Ia cepat-cepat berjalan keluar dari rumahnya, atau mungkin lebih tepatnya bekas rumahnya dan menemui Donghae yang menunggu di depan rumah. Melihat Sooyeon yang sedang menangis, Donghae langsung melontarkan sejumlah pertanyaan karena khawatir. “Sooyeon-a, gwaenchanayo? Presiden Jung bilang apa saja? kau menangis?” tanya Donghae sambil mengulurkan tangannya, ia hendak menghapus air mata Sooyeon, tapi gadis itu segera menepis tangannya. “nan gwaenchana” kata Sooyeon sinis “cepat antar aku ke rumah Dahye sekarang” kata Sooyeon dengan nada memerintah. “Sooyeon-a, jawab dulu pertanyaanku” kata Donghae. “yah Lee Donghae baboya!!!! tidak bisakah kau menurut saja?? apa kau tidak bisa lihat, aku lelah, aku….aku stress, aku…aku mau mati saja” kata Sooyeon, lalu mulai menangis lagi sambil menatap tanah. Donghae menghela napas, lalu memeluk gadis itu. “uljima Sooyeon-a” katanya, berusaha menenangkan Sooyeon. “aku benci hidupku, aku benci diriku sendiri, aku…”
“jangan berkata begitu, Sooyeon-a” kata Donghae, memotong kata-kata Sooyeon tadi. “tapi kau tidak tahu rasanya jadi diriku, tidak ada yang peduli padaku, semua orang benci padaku, bahkan appa-ku sendiri tidak pernah peduli padaku. Hidupku sangat hancur” kata Sooyeon lagi. “itu tidak benar, aku peduli padamu, aku sama sekali tidak membencimu” kata Donghae, lalu ia menarik napas dan melanjutkan. “aku sangat mencintaimu, Sooyeon-a. Jadi jangan pernah merasa kau tidak punya siapa-siapa. Kau punya aku, selamanya aku adalah milikmu”
Sooyeon cukup terkejut mendengar kata-kata Donghae, tapi ia bisa merasakan ketulusan dalam kata-kata itu. Ia yakin Donghae tidak berbohong padanya. Baru kali ini, Sooyeon mendapatkan perlakuan seperti ini, sebelumnya ia tidak pernah ada yang berkata begitu padanya. Bahkan ini juga pertama kalinya ia bisa merasa nyaman dan tenang ketika bersama seseorang.

Setelah Sooyeon tenang dan berhenti menangis, Donghae melepaskan pelukannya lalu tersenyum pada Sooyeon, yang lagi-lagi hanya dibalas dengan ekspresi datar. “kaja, kita ke rumah Kim Dahye” kata Donghae. Sooyeon hanya mengangguk pelan.
….
________________________________________________________________________________________________________________________________________________

[Dahye’s House]

Kim Dahye, gadis itu sedang duduk depan TV, meskipun perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada TV. Ia sedang sibuk mengobrol dengan seseorang lewat SMS.

“pagi ini petugas keamanan di Cheonghwadae, hampir menangkap seorang mata-mata, yang pernah hampir tertangkap juga beberapa bulan yang lalu, namun kali ini lagi-lagi ia berhasil kabur. Diduga, orang ini mengincar putri Presiden Jung satu-satunya, Jung Sooyeon…”

Begitu mendengar berita itu, Dahye langsung meletakan ponselnya dan fokus pada TV. “ada yang mengincar Sooyeon? kira-kira apa tujuannya?” batin Dahye, ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada sahabatnya, meskipun ia tahu, Sooyeon punya banyak bodyguard, dan tentu saja satu yang paling setia. Tapi tetap saja ia khawatir.

tok..tok..tok

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Dahye. Gadis itu langsung terlonjak kaget, karena sedang fokus pada TV. Ia berjalan ke pintu depan rumahnya, dan membuka pintu itu. Ia sudah berpikir yang bukan-bukan, ternyata yang datang Sooyeon bersama bodyguard-nya Lee Donghae.
“omo Sooyeon-a, aku pikir siapa” kata Dahye, lalu menghela napas lega. “memangnya kau pikir siapa?” tanya Sooyeon. “bukan siapa-siapa, ayo masuk” kata Dahye, lalu masuk ke dalam, diikuti oleh Sooyeon dan Donghae. “oh Sooyeon-a, kau baik-baik saja kan?” tanya Dahye sambil kembali duduk di sofa. Sooyeon duduk di sebelahnya, dan menjawab. “tentu aku baik-baik saja. ada apa sih?” tanya Sooyeon, ia agak heran melihat sikap Dahye. Biasanya Dahye tidak seperti itu. “tadi aku lihat berita, katanya ada mata-mata di Cheonghwadae. Ia mengincarmu” kata Dahye. “ada mata-mata di Cheonghwadae? berarti dugaanku tidak salah” kata Donghae, ia ingat beberapa kali sering melihat orang berpakaian hitam dengan gerak-gerik yang tidak wajar (?) di sekitar Cheonghwadae, tapi ia tidak begitu yakin. Mungkin orang itu juga ada hubungannya dengan dua orang pria yang menyerang Sooyeon di klub malam.
“iya aku lihat beritanya” kata Dahye pada Donghae sambil mengangguk. “mengincarku…, bagaimana maksudmu?” tanya Sooyeon. “nado molla, mungkin maksudnya…ia ingin membunuhmu. Kau tahu kan, sebagai ancaman pada Presiden dan sebagainya” kata Dahye. mendengar Dahye menyebut Presiden, Sooyeon langsung menundukan kepalanya. “ancaman pada Presiden? kalau begitu mereka salah, karena appa tidak akan peduli meskipun aku mati” batin Sooyeon.
“ehm Dahye-sshi, aku mau keluar sebentar, tolong jaga Sooyeon” kata Donghae, lalu berdiri dari tempat duduknya. “kajima” kata Sooyeon tiba-tiba. Donghae langsung menatapnya dengan tatapan heran. “ani, maksudku…”
“aku cuma sebentar” kata Donghae lagi. Ia berjalan ke pintu dan pergi keluar.

“Sooyeon-a, tidak biasanya kau begitu pada Lee Donghae, ada apa?” tanya Dahye bingung. “Dahye-ya, entah kenapa aku merasa aman dan nyaman bersamanya, tapi aku baru sadar tadi, ketika ia…ia memelukku dan berkata kalau ia mencintaiku” ujar Sooyeon. “mwo? Lee Donghae berkata begitu? ia berani sekali, eh tapi tadi kau bilang kau merasa nyaman bersamanya. Mungkin kau menyukainya dari dulu, hanya saja kau baru sadar” kata Dahye. Sooyeon ingin membantah kata-kata Dahye, tapi sepertinya itu benar. “tapi, aku rasa aku tidak mungkin bersamanya” kata Sooyeon pelan. Dahye mengerucutkan bibirnya lalu berkata “kenapa tidak? ia laki-laki yang baik”
“ya, dia terlalu baik untukku. aku tidak pantas untuknya” kata Sooyeon sambil memainkan ujung syalnya yang berumbai. “yah kenapa kau berkata begitu?? kalian berdua cocok kok, lagipula kau itu sangat beruntung punya seseorang seperti Lee Donghae” kata Dahye. Sooyeon tersenyum kecil, “aku sangat beruntung, tapi Donghae punya seseorang sepertiku sangatlah sial” kata Sooyeon,
“Dahye-ya, aku lapar. Masak sesuatu yuk” ajak Sooyeon, berusaha mengganti topik pembicaraan. “baiklah, tapi aku cuma punya tahu dan beberapa toples Kimchi” kata Dahye sambil merengut, “tidak apa-apa, kita buat sup tahu saja” kata Sooyeon sambil tersenyum. “kalau begitu ayo!”

________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Donghae berdiri di depan rumah Kim Dahye sambil melihat ke sekitar. Sebenarnya sejak di perjalanan menuju kesini tadi, ia sudah merasa ada yang mengikuti mereka, sudah pasti tujuan utamanya adalah Sooyeon. “baiklah, kelihatannya tidak ada yang aneh. tapi tetap saja Sooyeon dalam bahaya, sepertinya aku tidak boleh meninggalkannya sendirian walaupun hanya sedetik” kata Donghae dalam hati.
Ia memutuskan untuk berjaga beberapa menit lagi. Setelah ia merasa semuanya aman, ia pun masuk kembali ke dalam rumah, tanpa mengetahui sebenarnya ada seseorang yang sedang mengawasi dari kejauhan.

Begitu masuk ke dalam rumah, ia melihat Dahye baru keluar dari dapur sambil membawa setoples Kimchi. “Dahye-sshi, Sooyeon ada dimana?” tanya Donghae. “oh Sooyeon di dapur, tenang saja dia tidak hilang kok” kata Dahye sambil tersenyum dan meletakan toples berisi Kimchi itu di meja.
Donghae segera menyusul Sooyeon ke dapur. Gadis itu sedang mencicipi kuah sup tahu yang dimasak oleh Dahye. “Sooyeon-a” panggil Donghae sambil menghampiri Sooyeon. “ne” sahut Sooyeon singkat tanpa sedikitpun melihat ke arah Donghae. “besok, kita pergi dari sini ya” kata Donghae, sukses membuat Sooyeon terkejut. “mwo? tapi kenapa?” tanya Sooyeon. “karena aku merasa ada yang mengikuti kita, hanya ada dua cara supaya kau selalu aman. Pertama, pulang ke rumahmu, atau pindah-pindah tempat. Tapi aku tahu, kau tidak akan mau pulang, jadi…” kata Donghae, kata-katanya terhenti. “shireo, aku mau di sini, terserah apa katamu, tapi aku mau disini. hah ternyata kau sama saja dengan appa” kata Sooyeon kesal sambil meletakan pisaunya dengan kasar di meja dapur.”Sooyeon-a, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, itu saja” kata Donghae sambil memegang bahu Sooyeon. “memangnya, kita mau pergi kemana lagi?” tanya Sooyeon, satu-satunya tempat untuk tinggal yang terpikir di otaknya selain rumahnya adalah rumah Dahye. “ke rumahku” jawab Donghae. “mwo? kau pasti sudah gila” kata Sooyeon, ia menyingkirkan tangan Donghae dari bahunya lalu pergi meninggalkan dapur.

************************************************************************************************************

[a few days later]

Hari demi hari telah berlalu. Sooyeon masih tinggal di rumah Dahye. Dan Donghae juga masih selalu bersamanya, menjaganya siang malam, tanpa mempedulikan penolakan dan makiannya. Sungguh ia tidak mengerti apa yang ada di otak laki-laki itu, kenapa bisa-bisanya mencintai seorang perempuan yang bad temper seperti dirinya.

Sekarang Sooyeon sedang duduk sendirian di depan rumah Dahye sambil melamun menatap langit malam kota Seoul yang dihiasi lumayan banyak bintang. Tiba-tiba saja Donghae datang dan duduk di sebelahnya. “Sooyeon agasshi, bukankah sudah kubilang jangan berada diluar sendirian?” kata Donghae. “jangan panggil aku agasshi!” protes Sooyeon. Donghae hanya tersenyum lalu mengulurkan tangannya. “mwoya?” tanya Sooyeon bingung. “aku mau mengajakmu jalan-jalan” kata Donghae. “malam-malam begini? yang benar saja” kata Sooyeon ketus, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Akhirnya, Donghae meraih tangan Sooyeon, dan menarik gadis itu ikut bersamanya.

“yah neo michyeoseo?!!” Seru Sooyeon, tapi betapa pun kesalnya dia, kakinya tetap melangkah mengikuti Donghae.
Laki-laki itu membawanya ke sebuah taman sepi. Dari situ, bintang-bintang terlihat lebih jelas. “untuk apa kita kesini?” tanya Sooyeon sambil melihat ke sekeliling taman itu. “untuk melihat bintang” jawab Donghae singkat, lalu mengangkat tangannya dan membuat gerakan seolah sedang menarik garis diantara bintang-bintang. “itu the archer, dan di sebelah sana kau juga bisa melihat rasi bintang yang lainnya” kata Donghae lagi. “oh bagaimana kau bisa tahu hal itu?” tanya Sooyeon kagum sambil melihat ke langit, tanpa sadar ia tersenyum. Ia sangat jarang tersenyum apalagi di depan Donghae. “Sooyeon-a” panggil Donghae. Sooyeon beralih menatap Donghae, “ne?” katanya, masih sambil tersenyum. “kalau tersenyum, kau jadi lebih cantik”. Mendengar kata-kata Donghae, senyum di bibir Sooyeon langsung hilang. Ekspresi datar kembali menghiasi wajahnya. “gomawo” katanya datar, lalu kembali menatap langit yang bertabur bintang.

Tiba-tiba saja, Donghae mendengar sesuatu atau mungkin saja seseorang, bergerak dibalik semak-semak. Firasat buruk mulai mendatanginya (?), ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, entah apa. Ia meraih tangan Sooyeon lagi, “Sooyeon-a, lebih baik kita pulang saja, ini sudah larut malam” kata Donghae, terdengar agak panik. “eoh, keunde…”. Belum selesai Sooyeon bicara, Donghae segera menariknya pergi dari situ. “kenapa ia terdengar panik begitu?” pikir Sooyeon heran.
“yah kenapa tiba-tiba kau mengajakku pulang? dan kenapa kau panik begitu?” tanya Sooyeon. “entahlah, perasaanku tidak enak” kata Donghae, sesekali ia melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
Tapi takdir memang tidak bisa dihindari. Sesuatu yang tidak diinginkan pun bisa terjadi.

Sekumpulan pria berbaju hitam muncul dan menghalangi jalan mereka. Pria-pria itu membawa senjata tajam, sementara salah satunya, yang mungkin adalah pemimpinnya, membawa senjata api.
Donghae langsung berdiri di depan Sooyeon untuk melindungi gadis itu. Ia memang tidak membawa senjata apa-apa, yang ia punya saat ini hanya keberanian, kemampuan bela diri, dan rasa cintanya untuk Sooyeon. “apa yang kau lakukan? kau bisa mati!” kata Sooyeon panik. “kau tidak perlu khawatir, yang perlu kau lakukan hanya berdiri di belakangku. Aku pernah bersumpah saat pertama kalinya aku datang ke Cheonghwadae. Aku bersumpah, aku adalah rompi anti pelurumu” kata Donghae. “tapi…”. Sooyeon tak bisa berkata-kata lagi, rasa panik dan takut memenuhi dirinya.
“minggir, kami menginginkan Jung Sooyeon!” kata salah satu pria yang membawa senjata api. “tidak akan pernah. Kalian ingin Jung Sooyeon, bunuh aku dulu” kata Donghae. “yah Lee Donghae!” pekik Sooyeon kaget, entah kenapa, air mata mulai berjatuhan di pipinya.

Pria itu tersenyum licik, lalu memberikan kode pada anak-anak buahnya untuk membuat barisan penghalang, supaya Donghae dan Sooyeon tidak bisa kabur. Sekarang ia menyiapkan pistolnya, dan melihat ke arah Donghae. “kau ingin mati hah? akan kubantu kalau begitu” katanya, lalu bersiap untuk menembak. “yah kenapa kau masih berdiri di depanku? biarkan saja aku mati” kata Sooyeon lirih. “aniyo Sooyeon-a, kau harus hidup” kata Donghae sambil menggenggam tangan Sooyeon. “saranghae, Sooyeon-a” kata Donghae lagi.
Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah peluru meluncur ke arahnya.

“Sooyeon-a, hiduplah dengan baik. Ingat satu hal, selamanya aku adalah milikmu, sampai mati sekalipun”

Lee Donghae, laki-laki itu pun jatuh ke tanah, belum sepenuhnya mati, tapi sekarat. Sooyeon juga jatuh terduduk di tanah, ia menggenggam tangan Donghae sambil menangis sesenggukan “baboya! kenapa kau melakukan ini? yah Lee Donghae, bicara padaku, jangan mati, nal tteonajima (jangan tinggalkan aku)” kata Sooyeon. “Sooyeon-a, aku…..aku tidak akan meninggalkanmu” kata Donghae, dan dengan kekuatan terakhir yang ia punya, ia berkata, “yeongwonhi, nan nekkeoya. yeongwonhi, neol saranghae”
…..

**The End**

________________________________________________________________________________________________________________________________________________

huaaa gaje sekaleee!! mianhae readers yang sangat aku cintai, aku tidak bermaksud memberikan FF gaje seperti ini. Mian yaa #digetok reader u.u
oh ya, kalimat yang terakhir itu, artinya ini: “selamanya aku adalah milikmu, selamanya aku mencintaimu”

Dan sumpah aku sendiri gak ngerti apakah ini termasuk oneshot atau ficlet?? jumlah katanya sekitar 3000-an lho (gak termasuk note aku yang dibawah ini) ya udahlah, i hope you like it!
sekalee lagi mian kalo gaje *bow sedalem-dalemnya*
keep RCL yaa :D

19 thoughts on “Infinitely Yours

  1. yaah , nasib sica eonni gmna donk ? T.T
    aduh , kasiaaaan , sica eonni mati juga deh *loh ?* biar nyusul donghae Oppa ;)
    yaa yaa author , *aegyo face.____.* kasiaaaan T.T

  2. Bagus kok… :)
    Jdi Bad Ending nih? :/
    Sicanya mati gk? Mana mungkin dya bsa . kabur dri org” jht itu…
    Aq ska! :D

  3. Oke, karena Kakak tadi bilang suka di kritik, saya langsung cari-cari FF terbaru Kakak… ^^ Dan eng-ing-eng, di sinilah saya! Sebenarnya cukup banyak yang ingin saya kritik tapi saya kritik yang dasar-dasar saja ya.

    – Pemisahan setiap paragraf. Di atas… errr, banyak sekali ide pokok yang seharusnya dipisah malah dijadikan satu dalam satu paragraf contohnya:

    Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sooyeon. “kau sudah sangat keterlaluan. Memangnya kau pikir appa tidak tahu kejadian semalam? kau tahu, yang kau lakukan itu bisa merusak nama baik appa sebagai seorang presiden” kata Presiden Jung. Sooyeon menyentuh pipinya yang memerah, ia menarik napas panjang lalu balik menatap appa-nya. “appa jahat. Appa egois, appa cuma memikirkan reputasi appa, appa tidak pernah memikirkanku, tidak pernah mengerti perasaanku. aku…aku benci jadi anak appa, aku sangat benci!” kata Sooyeon, pipinya memang sakit, tapi tamparan itu lebih terasa sakit dihatinya. Ia tahu ia salah, tapi semua itu juga karena appa-nya, yang kurang perhatian dan tidak pernah ada waktu untuknya. Rasanya ia lebih baik mati sekarang.

    Bagusnya, aksi appa Sooyeon yang menampar sooyeon dipisah dengan reaksi sooyeon atas aksi appa seooyeon. Karena aksi dan reaksi itu memiliki ide pokok yang berbeda. Seperti juga menerima, berbeda arti dengan memberi. ^^

    – Kalimat langsung. Kakak menulis seperti ini, bukan?
    “appa, aku tidak butuh bodyguard” kata Sooyeon, sudah lima kali ia mengatakan hal ini hari ini.
    Seharusnya
    “Appa, aku tidak butuh bodyguard,” kata Sooyeon, sudah lima kali ia mengatakan hal ini hari ini.
    Perhatikan huruf kapital dan koma di akhir kalimat langsung.

    – Penulisan istilah asing seperti bahasa korea dan bahasa inggris harus dicetak miring. Karena harus dibedakan dari bahasa Indonesia dan bahasa asing.

    – FYI aja, Drabble : <500 kata | Ficlet : 501-1500 kata | Oneshoot: 1501-3000 kata

    Errr, ini aja sih ya, kalau kepanjangan entar Kakak bingung sendiri. Kalau mau diskusi ke saya atau mau balas kritik ke blog saya aja. Saya akan dengan senang hati menerima. :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s