Dreams Come True [Part 1]

Title : Dreams Come True

Author : Lusy Zanita (@lusyznt)

Main Cast :

Jung Hye-Jin (OC)

Cho Kyu Hyun

Choi Si Won

Yesung / Kim Jong Woon

Other Cast :

Choi Soo Young

Genre : Drama, Romance

Rating : PG-15

Type : Chaptered [in progress]

Length : 1686 words (ficlet)

Special thanks to Poster : http://rarastory.wordpress.com/ -Rara-

 Disclaimer: This story is ©Lusy Zanita 2012, and cast on my story belong to God.

Previous Part : Teaser

NOT FOR SILENT RIDERS!

***

~Part 1~

“Iya, bu, aku tahu… aku sedang berada di jalan, hari ini hari pertamaku masuk kuliah. Cepatlah kembali ke sini bu, aku tidak mungkin mencarinya sendirian, Seoul itu luas sekali , bahkan semenjak aku kehilangan—” suara Hye-Jin tercekat begitu melihat sesuatu di hadapannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, bahkan pasokan udara kini rasanya kian menipis.

Ponselnya terjatuh dengan bebas menghantam aspal yang ia pijaki, tak lama kemudian gadis itu menyusul terjembap di bawah. Matanya mengerjap cepat berusaha mengontrol otaknya untuk kembali normal. Rupanya Tuhan masih sayang terhadap dirinya, bila tidak, pasti sekarang gadis itu tengah pingsan dan berlumuran darah.

TIINNN…TINNN…

Seakan baru tersadar dari imajinasinya, gadis itu kembali mengerjapkan matanya. Kemudian berdiri dan menghampiri pintu kemudi, “YA! Apa kau buta, hah? Tak melihat orang berjalan, cepat buka pintunya!” teriak Hye-Jin brutal. Seingatnya dia sudah menyebrang dengan hati-hati, sekalipun ia menyebrang dengan ponsel yang menempel pada telinga, gadis itu sama sekali tak melihat ada mobil yang melaju. Jadi, ini bukan salahnya ‘kan?

“Hei! Cepat buka pintunya!” teriaknya sekali lagi. Setelah itu, jendela mobil itu perlahan turun, menampakkan sosok pemuda di dalamnya.

“Ada apa?” tanya pemuda itu santai.

“Ada apa katamu? Kau sudah hampir menabrakku, dan kau bertanya ada apa?!”

“Lalu apa maumu? Hanya hampir, kau tidak tertabrak, bukan? Apa yang kau masalahkan?”

“Setidaknya kau minta maaf! Jangankan minta maaf, turun dari mobil saja tidak! Kau itu punya hati tidak?”

Pemuda itu menatap mata Hye-Jin tajam, “Hanya dalam anganmu!” ucap pemuda itu kemudian melesat pergi meninggalkan Hye Jin yang tercengang.

“Apa-apaan dia itu? Dasar brengsek!” umpat Hye-Jin kesal.

***

Hye-Jin berlari tergopoh-gopoh menuju aula penerimaan mahasiswa baru.

Kalau bukan karena mobil sialan itu pasti ia tidak akan tergesa-gesa seperti ini—batinnya kesal. Hampir saja terlambat, siapa yang menaruh ruang aula di ujung koridor seperti ini sih? Membuat repot saja.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat datang bagi para mahasiswa baru yang telah berhasil—” suara sang rektor yang sedang memberi ucapan sambutan tak lagi didengarkan oleh gadis bertubuh mungil itu, ia sudah terlanjur mempunyai mood jelek hari ini.

Hampir tertabarak mobil. Adu mulut dengan penjaga gerbang karena hampir terlambat. Dan sekarang harus mendengar ocehan tak penting. Bahkan ajang untuk mengenal ‘teman baru’ saja ia malas.

“Hye-Jin? Kau, Jung Hye-Jin kan?” tanya seorang gadis di sebelah Hye-Jin.

Gadis itu mengamati Hye-Jin dengan ekspresi berharap, sedangkan Hye-Jin sendiri sedang berusaha mengingat siapa gerangan gadis di sebelahnya ini. Kenapa ia tahu namanya?

Manik mata Hye-Jin mengamati gadis di hadapannya dari atas sampai bawah, begitu sebaliknya. “Sooyoung?” tebak Hye-Jin. Gadis itu mengangguk cepat.

“Kau Sooyoung? Ya Tuhan, aku tidak menyangka kita akan satu kampus!”

“Akhirnya kau mengingatku! Aku juga tak menyangka kau akan kembali Hye-Jin ah,” ucap Sooyoung senang.

“Ah… itu karena aku—”

“Sooyoung ah aku sudah mengurus segala sesuatunya, kau bagaimana?” Seorang pemuda tiba-tiba saja memotong ucapan Hye-Jin dan berdiri di samping Sooyoung.

“Ah… Maaf aku tidak tahu kalau kau sedang berbicara dengan temanmu,” ucap pemuda itu menyesal.

“Tidak apa-apa, hanya obrolan dengan teman lama—” Sooyoung menengahi.

“Oh iya, kenalkan ini, dia sepupuku,” lanjut Sooyoung mengenalkan keduanya.

Sedangkan Hye-Jin dan juga pemuda itu justru saling menatap satu sama lain, berharap bahwa hanya dengan saling menatap keduanya bisa menyelami hingga sudut-sudut hati terdalam mereka. Pemuda yang tampan—oh tidak, bahkan sangat tampan. Pemuda itu yang tersadar lebih dulu segera mengulurkan tangannya.

“Halo,” sapanya. Hye-Jin yang kembali tersadar segera membalas sapaan serta uluran tangan pemuda itu.

“Hye-Jin. Jung Hye-Jin. Senang berkenalan denganmu,” ucap Hye-Jin disertai senyum manisnya. Senyum termanis yang ia punya.

“Siwon. Choi Siwon,” balas pemuda itu—yang bernama Siwon—ramah dengan senyum yang menampakkan kedua lesung pipinya.

Kedua tangan mereka masih saling bertaut sampai Sooyoung berkata, “Hei, sampai kapan kalian akan bertatapan seperti itu?”

“Akh— maaf,” ucap Hye-Jin. Semburat berwarna merah tipis menghiasi wajahnya.

Dan Sooyoung pun tahu, kedua anak manusia itu akan cocok satu sama lain.

***

Persis seperti dugaan Sooyoung, dua bulan setelah kejadian itu pun Hye-Jin dan juga Siwon menjadi sangat dekat. Bahkan mereka masuk pada fakultas yang sama—Fakultas Seni, hanya bedanya jika Siwon mengambil Fakultas Seni Pertunjukan atau Seni Theater, Hye-Jin memilih berada di Fakultas Film dan Televisi, menjadi sutradara adalah impian Hye Jin.

“Hye-Jin ssi! Pangeranmu datang lagi!” teriak salah seorang teman sekelas Hye-Jin—Victoria. Bahkan mahasiswa satu fakultas juga sudah tahu bahwa Siwon dan Hye-Jin adalah pasangan tak terpisahkan. Tapi jika ditanyai akan hubungan mereka, pasti Hye-Jin hanya akan menjawab “Kami hanya bersahabat! Tak lebih.” Itu masih jawaban dari seorang Jung Hye Jin, kita tak tahu versi jawaban dari Siwon, bukan?

“Ada yang ketinggalan?” tanya Hye-Jin ketika sampai di depan pintu, berhadapan dengan Siwon.

“Sooyoung menitipkan ini kepadaku, katanya ini baju yang ia pinjam sewaktu menginap di rumahmu,” jawab Siwon sembari menyerahkan sebuah bungkusan kepada Hye-Jin.

“Kenapa tak ia sendiri yang mengembalikan padaku?”

“Entahlah, dia tak begitu jelas. Tadi pagi saja dia hanya berkata ‘Siwon ah! Kemarin ini Hye-Jin baju menginap, Terima kasih!’ lalu ia segera berlari, sepertinya sedang terburu-buru.” Siwon menirukan gaya berbicara Sooyoung kemudian mengangkat bahu malas. Hye-Jin membulatkan bibirnya pertanda mengerti.

“Karena urusanku sudah selesai, kalau begitu aku pergi dulu ya, kelasmu sebentar lagi akan mulai kan?”

“Mm.” Hye-Jin mengangguk lalu membalik badan akan memasuki kelasnya, tapi suara Siwon kembali menghentikan langkahnya.

“Ada apa?”

“Emm, nanti malam aku ke rumahmu ya? Kemarin, orang tuaku sudah kembali ke Jepang.”

“Baiklah, aku akan menunggumu. Sampai jumpa!” Hye-Jin menampilkan senyum terakhirnya sebelum menghilang di balik pintu.

Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya jika orang tua Siwon pergi berbisnis ke Jepang, Siwon pasti akan pergi ke rumah Hye-Jin. Entah hanya menumpang makan atau hanya sekedar mengobrol. Pria itu kesepian, sama seperti Hye-Jin, bahkan mungkin melebihi Hye-Jin. Sejak kecil tinggal sendirian di rumah sebesar itu siapa yang akan tahan? Hanya tinggal bersama pembantu yang mengurus rumah tangga, dalam setahun mungkin hanya dua tiga kali orang tua Siwon pulang ke Seoul, lalu kembali ke Jepang. Sejak kecil juga Siwon lebih sering menghabiskan waktunya di rumah Sooyoung, itulah mengapa Siwon lebih sering terlihat bersama dengan Sooyoung, Siwon lebih menganggap orang tua Sooyoung karena sesibuk apapun mereka, mereka tetap meluangkan waktu untuk Sooyoung—memprioritaskan anak mereka—. Tapi semenjak Siwon mengenal Hye-Jin, pria itu lebih sering menghabiskan waktu bersama Hye-Jin, Sooyoung tak keberatan, karena Siwon berhak akan kehidupannya sendiri.

***

“Kau tahu, aku sudah hampir gila kalau seperti ini terus,” ucap Sooyoung menggebu-gebu. Kedua gadis itu tengah berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kantin.

“Tugas yang mereka berikan lama-kelamaan akan membunuh mahasiswanya! Kau lihat, rambutku sedikit demi sedikit mulai rontok!”

Hye-Jin tertawa menanggapi, “Kau tidak perlu berlebihan seperti itu Sooyoung ah, itu demi kebaikan dirimu juga agar menjadi dokter yang hebat suatu saat nanti!”

“Ahhh… lebih baik dulu aku ikut mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Seni bersama Siwon. Menyesal aku.”

“Memang kau bisa berakting?”

“Tentu saja tidak.” Setelahnya kedua gadis itu tertawa.

“Ah! Baju yang kutitipkan pada Siwon kemarin sudah kau terima?” tanya Sooyoung begitu teringat akan baju yang ia titipkan pada Siwon dua hari yang lalu.

“Sudah, tapi kenapa kau kelihatannya sangat terburu-buru waktu itu?”

“Itu karena Kyosunim tiba-tiba saja memanggilku untuk menyerahkan beberapa tugas yang seharusnya tidak dikumpulkan hari itu. Jadi aku harus kembali ke rumah dan mengambilnya, aahhh untung saja sudah kuselesaikan sejak awal, jadi tidak begitu merepotkan. Entahlah, akhir-akhir ini para Kyosunim terlihat sangat sibuk mengurus ini itu, sepertinya hanya dengan kepindahan anak itu saja sudah begitu menggemparkan kampus!” ucap Sooyoung panjang lebar.

“Hah? Anak itu? Siapa? Siapa yang pindah ke mana?” tanya Hye-Jin heran.

“Jadi, kau belum tahu? Ya Tuhan, gosip ini sudah meluas dan kau belum tahu? Kau kemana saja hei gadis manis?”

Ya! Aku tidak sepertimu dan gadis lain yang sukanya menggosip tidak penting,” cibir Hye-Jin.

“Ya ya ya, terserah apa katamu Jung Hye-Jin. Ah! Itu dia! Kibum ssiYa!” Sooyoung berteriak memanggil seorang pemuda yang tengah berjalan menyusuri koridor, berjarak lima meter di hadapan kedua gadis itu.

“Sudah dulu ya, aku ada perlu dengannya. Oh, Tuhan, kenapa dia berjalan cepat sekali,” gumam Sooyoung kemudian berlalu mengejar pemuda tadi.

Hye-Jin menatap punggung Sooyoung yang semakin lama semakin menjauh. Setelah tak terlihat, barulah gadis itu melanjutkan perjalanannya.

***

#Hye-Jin Point of View

Baiklah, ini terlalu berlebihan memang. Membawa sekardus ramyun instan tanpa bantuan seorang lelaki. Bahkan aku dan kardusnya saja sudah hampir sama tinggi.

Jangan salahkan aku karena membawanya sendirian, ini semua gara-gara Siwon yang dengan seenaknya menghabiskan persediaan ramyun instanku. Dan saat aku memintanya untuk menemaniku belanja, dia justru di panggil oleh Kyosunim. Dasar menyebalkan.

Sepi.

Kulangkahkan kakiku menapaki aspal, kurasakan ada sesuatu melaju dari arah sana. Truk.

Oh, hanya truk.

Apa? Truk?

Kaki, ayo bergeraklah! Aku tidak mau mati seperti ini. Kenapa sulit sekali menggerakkan kaki-kaki ini?!

“Akh!” Rasanya sepatuku lepas! Ramyun-ku…

Tapi… Kenapa tubuhku seperti ada yang memeluk? Kubuka perlahan kedua manik mataku, mata? Hidung? Kenapa ada seseorang di atas tubuhku? Dia seorang pemuda, pemuda itu juga sudah membuka matanya. Mata kami saling menatap. Dia itu… siapa?

“Emm, maaf?” ucapku lirih, semoga saja dia mengerti maksudku.

“Ah! Maaf, aku tidak bermaksud. Tadi aku melihatmu…”

“Hampir tertabrak,” potongku cepat karena melihat dia sedikit panik.

“Tidak apa-apa, seharusnya justru aku yang mengucapkan terima kasih karena telah menolongku. Kalau tidak ada kau, mungkin saja aku sudah tertabrak truk,” lanjutku.

Pemuda itu tersenyum menanggapi. Senyum itu rasanya pernah aku lihat, tapi… kapan? Kemudian dia menjulurkan tangannya. “Aku Yesung, kau?”

Sesaat aku masih terpaku oleh senyuman itu jika saja ia tidak berdeham menyadarkanku, “A-aku Hye-Jin. Jung Hye-Jin,” balasku sambil tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu.

Ramyun-ku!” Segera saja aku memunguti bungkusan-bungkusan yang masih terlihat bagus, setidaknya masih ada beberapa. Pemuda tadi—Yesung— berjongkok di sampingku untuk membantu.

“Terima kasih,” ucapku menerima bungkusan terakhir yang diulurkan olehnya.

“Bajumu sobek.” Tunjuknya pada bajuku di bagian bahu. Aku sendiri baru menyadarinya setelah diberitahu olehnya, bagian bahuku sedikit luka, pantas saja dari tadi terasa perih.

“Tidak apa-apa, rumahku berada di sekitar sini, jadi tak masalah. Kau sendiri mau kemana?”

“Aku tadi hanya lewat, emm… kalau begitu, aku pergi dulu ya?” pamitnya undur diri.

“Sampai jumpa kalau begitu, sekali lagi terima kasih.” Yesung tersenyum lagi. Ya Tuhan, ada apa denganku? Setiap melihatnya tersenyum, aku bahkan secara tak sadar hanya menatapnya. Bahkan setelah Yesung berjalan menjauh pun aku masih terus menatap punggungnya hingga punggung itu benar-benar menghilang dari pandanganku.

Sebenarnya dia itu siapa? Kenapa aku seperti pernah mengenalnya… Yesung ssi

-TBC-

.

.

Title : Dreams Come True

Author : Lusy Zanita (@lusyznt)

Main Cast :

Jung Hye-Jin (OC)

Cho Kyu Hyun

Choi Si Won

Yesung / Kim Jong Woon

Other Cast :

Choi Soo Young

Genre : Drama, Romance

Rating : PG-15

Type : Chaptered [in progress]

Length : 1686 words (ficlet)

Special thanks to Poster : http://rarastory.wordpress.com/ -Rara-

 Disclaimer: This story is ©Lusy Zanita 2012, and cast on my story belong to God.

Previous Part : Teaser

NOT FOR SILENT RIDERS!

***

~Part 1~

“Iya, bu, aku tahu… aku sedang berada di jalan, hari ini hari pertamaku masuk kuliah. Cepatlah kembali ke sini bu, aku tidak mungkin mencarinya sendirian, Seoul itu luas sekali , bahkan semenjak aku kehilangan—” suara Hye-Jin tercekat begitu melihat sesuatu di hadapannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, bahkan pasokan udara kini rasanya kian menipis.

Ponselnya terjatuh dengan bebas menghantam aspal yang ia pijaki, tak lama kemudian gadis itu menyusul terjembap di bawah. Matanya mengerjap cepat berusaha mengontrol otaknya untuk kembali normal. Rupanya Tuhan masih sayang terhadap dirinya, bila tidak, pasti sekarang gadis itu tengah pingsan dan berlumuran darah.

TIINNN…TINNN…

Seakan baru tersadar dari imajinasinya, gadis itu kembali mengerjapkan matanya. Kemudian berdiri dan menghampiri pintu kemudi, “YA! Apa kau buta, hah? Tak melihat orang berjalan, cepat buka pintunya!” teriak Hye-Jin brutal. Seingatnya dia sudah menyebrang dengan hati-hati, sekalipun ia menyebrang dengan ponsel yang menempel pada telinga, gadis itu sama sekali tak melihat ada mobil yang melaju. Jadi, ini bukan salahnya ‘kan?

“Hei! Cepat buka pintunya!” teriaknya sekali lagi. Setelah itu, jendela mobil itu perlahan turun, menampakkan sosok pemuda di dalamnya.

“Ada apa?” tanya pemuda itu santai.

“Ada apa katamu? Kau sudah hampir menabrakku, dan kau bertanya ada apa?!”

“Lalu apa maumu? Hanya hampir, kau tidak tertabrak, bukan? Apa yang kau masalahkan?”

“Setidaknya kau minta maaf! Jangankan minta maaf, turun dari mobil saja tidak! Kau itu punya hati tidak?”

Pemuda itu menatap mata Hye-Jin tajam, “Hanya dalam anganmu!” ucap pemuda itu kemudian melesat pergi meninggalkan Hye Jin yang tercengang.

“Apa-apaan dia itu? Dasar brengsek!” umpat Hye-Jin kesal.

***

Hye-Jin berlari tergopoh-gopoh menuju aula penerimaan mahasiswa baru.

Kalau bukan karena mobil sialan itu pasti ia tidak akan tergesa-gesa seperti ini—batinnya kesal. Hampir saja terlambat, siapa yang menaruh ruang aula di ujung koridor seperti ini sih? Membuat repot saja.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat datang bagi para mahasiswa baru yang telah berhasil—” suara sang rektor yang sedang memberi ucapan sambutan tak lagi didengarkan oleh gadis bertubuh mungil itu, ia sudah terlanjur mempunyai mood jelek hari ini.

Hampir tertabarak mobil. Adu mulut dengan penjaga gerbang karena hampir terlambat. Dan sekarang harus mendengar ocehan tak penting. Bahkan ajang untuk mengenal ‘teman baru’ saja ia malas.

“Hye-Jin? Kau, Jung Hye-Jin kan?” tanya seorang gadis di sebelah Hye-Jin.

Gadis itu mengamati Hye-Jin dengan ekspresi berharap, sedangkan Hye-Jin sendiri sedang berusaha mengingat siapa gerangan gadis di sebelahnya ini. Kenapa ia tahu namanya?

Manik mata Hye-Jin mengamati gadis di hadapannya dari atas sampai bawah, begitu sebaliknya. “Sooyoung?” tebak Hye-Jin. Gadis itu mengangguk cepat.

“Kau Sooyoung? Ya Tuhan, aku tidak menyangka kita akan satu kampus!”

“Akhirnya kau mengingatku! Aku juga tak menyangka kau akan kembali Hye-Jin ah,” ucap Sooyoung senang.

“Ah… itu karena aku—”

“Sooyoung ah aku sudah mengurus segala sesuatunya, kau bagaimana?” Seorang pemuda tiba-tiba saja memotong ucapan Hye-Jin dan berdiri di samping Sooyoung.

“Ah… Maaf aku tidak tahu kalau kau sedang berbicara dengan temanmu,” ucap pemuda itu menyesal.

“Tidak apa-apa, hanya obrolan dengan teman lama—” Sooyoung menengahi.

“Oh iya, kenalkan ini, dia sepupuku,” lanjut Sooyoung mengenalkan keduanya.

Sedangkan Hye-Jin dan juga pemuda itu justru saling menatap satu sama lain, berharap bahwa hanya dengan saling menatap keduanya bisa menyelami hingga sudut-sudut hati terdalam mereka. Pemuda yang tampan—oh tidak, bahkan sangat tampan. Pemuda itu yang tersadar lebih dulu segera mengulurkan tangannya.

“Halo,” sapanya. Hye-Jin yang kembali tersadar segera membalas sapaan serta uluran tangan pemuda itu.

“Hye-Jin. Jung Hye-Jin. Senang berkenalan denganmu,” ucap Hye-Jin disertai senyum manisnya. Senyum termanis yang ia punya.

“Siwon. Choi Siwon,” balas pemuda itu—yang bernama Siwon—ramah dengan senyum yang menampakkan kedua lesung pipinya.

Kedua tangan mereka masih saling bertaut sampai Sooyoung berkata, “Hei, sampai kapan kalian akan bertatapan seperti itu?”

“Akh— maaf,” ucap Hye-Jin. Semburat berwarna merah tipis menghiasi wajahnya.

Dan Sooyoung pun tahu, kedua anak manusia itu akan cocok satu sama lain.

***

Persis seperti dugaan Sooyoung, dua bulan setelah kejadian itu pun Hye-Jin dan juga Siwon menjadi sangat dekat. Bahkan mereka masuk pada fakultas yang sama—Fakultas Seni, hanya bedanya jika Siwon mengambil Fakultas Seni Pertunjukan atau Seni Theater, Hye-Jin memilih berada di Fakultas Film dan Televisi, menjadi sutradara adalah impian Hye Jin.

“Hye-Jin ssi! Pangeranmu datang lagi!” teriak salah seorang teman sekelas Hye-Jin—Victoria. Bahkan mahasiswa satu fakultas juga sudah tahu bahwa Siwon dan Hye-Jin adalah pasangan tak terpisahkan. Tapi jika ditanyai akan hubungan mereka, pasti Hye-Jin hanya akan menjawab “Kami hanya bersahabat! Tak lebih.” Itu masih jawaban dari seorang Jung Hye Jin, kita tak tahu versi jawaban dari Siwon, bukan?

“Ada yang ketinggalan?” tanya Hye-Jin ketika sampai di depan pintu, berhadapan dengan Siwon.

“Sooyoung menitipkan ini kepadaku, katanya ini baju yang ia pinjam sewaktu menginap di rumahmu,” jawab Siwon sembari menyerahkan sebuah bungkusan kepada Hye-Jin.

“Kenapa tak ia sendiri yang mengembalikan padaku?”

“Entahlah, dia tak begitu jelas. Tadi pagi saja dia hanya berkata ‘Siwon ah! Kemarin ini Hye-Jin baju menginap, Terima kasih!’ lalu ia segera berlari, sepertinya sedang terburu-buru.” Siwon menirukan gaya berbicara Sooyoung kemudian mengangkat bahu malas. Hye-Jin membulatkan bibirnya pertanda mengerti.

“Karena urusanku sudah selesai, kalau begitu aku pergi dulu ya, kelasmu sebentar lagi akan mulai kan?”

“Mm.” Hye-Jin mengangguk lalu membalik badan akan memasuki kelasnya, tapi suara Siwon kembali menghentikan langkahnya.

“Ada apa?”

“Emm, nanti malam aku ke rumahmu ya? Kemarin, orang tuaku sudah kembali ke Jepang.”

“Baiklah, aku akan menunggumu. Sampai jumpa!” Hye-Jin menampilkan senyum terakhirnya sebelum menghilang di balik pintu.

Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya jika orang tua Siwon pergi berbisnis ke Jepang, Siwon pasti akan pergi ke rumah Hye-Jin. Entah hanya menumpang makan atau hanya sekedar mengobrol. Pria itu kesepian, sama seperti Hye-Jin, bahkan mungkin melebihi Hye-Jin. Sejak kecil tinggal sendirian di rumah sebesar itu siapa yang akan tahan? Hanya tinggal bersama pembantu yang mengurus rumah tangga, dalam setahun mungkin hanya dua tiga kali orang tua Siwon pulang ke Seoul, lalu kembali ke Jepang. Sejak kecil juga Siwon lebih sering menghabiskan waktunya di rumah Sooyoung, itulah mengapa Siwon lebih sering terlihat bersama dengan Sooyoung, Siwon lebih menganggap orang tua Sooyoung karena sesibuk apapun mereka, mereka tetap meluangkan waktu untuk Sooyoung—memprioritaskan anak mereka—. Tapi semenjak Siwon mengenal Hye-Jin, pria itu lebih sering menghabiskan waktu bersama Hye-Jin, Sooyoung tak keberatan, karena Siwon berhak akan kehidupannya sendiri.

***

“Kau tahu, aku sudah hampir gila kalau seperti ini terus,” ucap Sooyoung menggebu-gebu. Kedua gadis itu tengah berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kantin.

“Tugas yang mereka berikan lama-kelamaan akan membunuh mahasiswanya! Kau lihat, rambutku sedikit demi sedikit mulai rontok!”

Hye-Jin tertawa menanggapi, “Kau tidak perlu berlebihan seperti itu Sooyoung ah, itu demi kebaikan dirimu juga agar menjadi dokter yang hebat suatu saat nanti!”

“Ahhh… lebih baik dulu aku ikut mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Seni bersama Siwon. Menyesal aku.”

“Memang kau bisa berakting?”

“Tentu saja tidak.” Setelahnya kedua gadis itu tertawa.

“Ah! Baju yang kutitipkan pada Siwon kemarin sudah kau terima?” tanya Sooyoung begitu teringat akan baju yang ia titipkan pada Siwon dua hari yang lalu.

“Sudah, tapi kenapa kau kelihatannya sangat terburu-buru waktu itu?”

“Itu karena Kyosunim tiba-tiba saja memanggilku untuk menyerahkan beberapa tugas yang seharusnya tidak dikumpulkan hari itu. Jadi aku harus kembali ke rumah dan mengambilnya, aahhh untung saja sudah kuselesaikan sejak awal, jadi tidak begitu merepotkan. Entahlah, akhir-akhir ini para Kyosunim terlihat sangat sibuk mengurus ini itu, sepertinya hanya dengan kepindahan anak itu saja sudah begitu menggemparkan kampus!” ucap Sooyoung panjang lebar.

“Hah? Anak itu? Siapa? Siapa yang pindah ke mana?” tanya Hye-Jin heran.

“Jadi, kau belum tahu? Ya Tuhan, gosip ini sudah meluas dan kau belum tahu? Kau kemana saja hei gadis manis?”

Ya! Aku tidak sepertimu dan gadis lain yang sukanya menggosip tidak penting,” cibir Hye-Jin.

“Ya ya ya, terserah apa katamu Jung Hye-Jin. Ah! Itu dia! Kibum ssiYa!” Sooyoung berteriak memanggil seorang pemuda yang tengah berjalan menyusuri koridor, berjarak lima meter di hadapan kedua gadis itu.

“Sudah dulu ya, aku ada perlu dengannya. Oh, Tuhan, kenapa dia berjalan cepat sekali,” gumam Sooyoung kemudian berlalu mengejar pemuda tadi.

Hye-Jin menatap punggung Sooyoung yang semakin lama semakin menjauh. Setelah tak terlihat, barulah gadis itu melanjutkan perjalanannya.

***

#Hye-Jin Point of View

Baiklah, ini terlalu berlebihan memang. Membawa sekardus ramyun instan tanpa bantuan seorang lelaki. Bahkan aku dan kardusnya saja sudah hampir sama tinggi.

Jangan salahkan aku karena membawanya sendirian, ini semua gara-gara Siwon yang dengan seenaknya menghabiskan persediaan ramyun instanku. Dan saat aku memintanya untuk menemaniku belanja, dia justru di panggil oleh Kyosunim. Dasar menyebalkan.

Sepi.

Kulangkahkan kakiku menapaki aspal, kurasakan ada sesuatu melaju dari arah sana. Truk.

Oh, hanya truk.

Apa? Truk?

Kaki, ayo bergeraklah! Aku tidak mau mati seperti ini. Kenapa sulit sekali menggerakkan kaki-kaki ini?!

“Akh!” Rasanya sepatuku lepas! Ramyun-ku…

Tapi… Kenapa tubuhku seperti ada yang memeluk? Kubuka perlahan kedua manik mataku, mata? Hidung? Kenapa ada seseorang di atas tubuhku? Dia seorang pemuda, pemuda itu juga sudah membuka matanya. Mata kami saling menatap. Dia itu… siapa?

“Emm, maaf?” ucapku lirih, semoga saja dia mengerti maksudku.

“Ah! Maaf, aku tidak bermaksud. Tadi aku melihatmu…”

“Hampir tertabrak,” potongku cepat karena melihat dia sedikit panik.

“Tidak apa-apa, seharusnya justru aku yang mengucapkan terima kasih karena telah menolongku. Kalau tidak ada kau, mungkin saja aku sudah tertabrak truk,” lanjutku.

Pemuda itu tersenyum menanggapi. Senyum itu rasanya pernah aku lihat, tapi… kapan? Kemudian dia menjulurkan tangannya. “Aku Yesung, kau?”

Sesaat aku masih terpaku oleh senyuman itu jika saja ia tidak berdeham menyadarkanku, “A-aku Hye-Jin. Jung Hye-Jin,” balasku sambil tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu.

Ramyun-ku!” Segera saja aku memunguti bungkusan-bungkusan yang masih terlihat bagus, setidaknya masih ada beberapa. Pemuda tadi—Yesung— berjongkok di sampingku untuk membantu.

“Terima kasih,” ucapku menerima bungkusan terakhir yang diulurkan olehnya.

“Bajumu sobek.” Tunjuknya pada bajuku di bagian bahu. Aku sendiri baru menyadarinya setelah diberitahu olehnya, bagian bahuku sedikit luka, pantas saja dari tadi terasa perih.

“Tidak apa-apa, rumahku berada di sekitar sini, jadi tak masalah. Kau sendiri mau kemana?”

“Aku tadi hanya lewat, emm… kalau begitu, aku pergi dulu ya?” pamitnya undur diri.

“Sampai jumpa kalau begitu, sekali lagi terima kasih.” Yesung tersenyum lagi. Ya Tuhan, ada apa denganku? Setiap melihatnya tersenyum, aku bahkan secara tak sadar hanya menatapnya. Bahkan setelah Yesung berjalan menjauh pun aku masih terus menatap punggungnya hingga punggung itu benar-benar menghilang dari pandanganku.

Sebenarnya dia itu siapa? Kenapa aku seperti pernah mengenalnya… Yesung ssi

-TBC-

.

.

Title : Dreams Come True

Author : Lusy Zanita (@lusyznt)

Main Cast :

Jung Hye-Jin (OC)

Cho Kyu Hyun

Choi Si Won

Yesung / Kim Jong Woon

Other Cast :

Choi Soo Young

Genre : Drama, Romance

Rating : PG-15

Type : Chaptered [in progress]

Length : 1686 words (ficlet)

Special thanks to Poster : http://rarastory.wordpress.com/ -Rara-

 Disclaimer: This story is ©Lusy Zanita 2012, and cast on my story belong to God.

Previous Part : Teaser

NOT FOR SILENT RIDERS!

***

~Part 1~

“Iya, bu, aku tahu… aku sedang berada di jalan, hari ini hari pertamaku masuk kuliah. Cepatlah kembali ke sini bu, aku tidak mungkin mencarinya sendirian, Seoul itu luas sekali , bahkan semenjak aku kehilangan—” suara Hye-Jin tercekat begitu melihat sesuatu di hadapannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, bahkan pasokan udara kini rasanya kian menipis.

Ponselnya terjatuh dengan bebas menghantam aspal yang ia pijaki, tak lama kemudian gadis itu menyusul terjembap di bawah. Matanya mengerjap cepat berusaha mengontrol otaknya untuk kembali normal. Rupanya Tuhan masih sayang terhadap dirinya, bila tidak, pasti sekarang gadis itu tengah pingsan dan berlumuran darah.

TIINNN…TINNN…

Seakan baru tersadar dari imajinasinya, gadis itu kembali mengerjapkan matanya. Kemudian berdiri dan menghampiri pintu kemudi, “YA! Apa kau buta, hah? Tak melihat orang berjalan, cepat buka pintunya!” teriak Hye-Jin brutal. Seingatnya dia sudah menyebrang dengan hati-hati, sekalipun ia menyebrang dengan ponsel yang menempel pada telinga, gadis itu sama sekali tak melihat ada mobil yang melaju. Jadi, ini bukan salahnya ‘kan?

“Hei! Cepat buka pintunya!” teriaknya sekali lagi. Setelah itu, jendela mobil itu perlahan turun, menampakkan sosok pemuda di dalamnya.

“Ada apa?” tanya pemuda itu santai.

“Ada apa katamu? Kau sudah hampir menabrakku, dan kau bertanya ada apa?!”

“Lalu apa maumu? Hanya hampir, kau tidak tertabrak, bukan? Apa yang kau masalahkan?”

“Setidaknya kau minta maaf! Jangankan minta maaf, turun dari mobil saja tidak! Kau itu punya hati tidak?”

Pemuda itu menatap mata Hye-Jin tajam, “Hanya dalam anganmu!” ucap pemuda itu kemudian melesat pergi meninggalkan Hye Jin yang tercengang.

“Apa-apaan dia itu? Dasar brengsek!” umpat Hye-Jin kesal.

***

Hye-Jin berlari tergopoh-gopoh menuju aula penerimaan mahasiswa baru.

Kalau bukan karena mobil sialan itu pasti ia tidak akan tergesa-gesa seperti ini—batinnya kesal. Hampir saja terlambat, siapa yang menaruh ruang aula di ujung koridor seperti ini sih? Membuat repot saja.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat datang bagi para mahasiswa baru yang telah berhasil—” suara sang rektor yang sedang memberi ucapan sambutan tak lagi didengarkan oleh gadis bertubuh mungil itu, ia sudah terlanjur mempunyai mood jelek hari ini.

Hampir tertabarak mobil. Adu mulut dengan penjaga gerbang karena hampir terlambat. Dan sekarang harus mendengar ocehan tak penting. Bahkan ajang untuk mengenal ‘teman baru’ saja ia malas.

“Hye-Jin? Kau, Jung Hye-Jin kan?” tanya seorang gadis di sebelah Hye-Jin.

Gadis itu mengamati Hye-Jin dengan ekspresi berharap, sedangkan Hye-Jin sendiri sedang berusaha mengingat siapa gerangan gadis di sebelahnya ini. Kenapa ia tahu namanya?

Manik mata Hye-Jin mengamati gadis di hadapannya dari atas sampai bawah, begitu sebaliknya. “Sooyoung?” tebak Hye-Jin. Gadis itu mengangguk cepat.

“Kau Sooyoung? Ya Tuhan, aku tidak menyangka kita akan satu kampus!”

“Akhirnya kau mengingatku! Aku juga tak menyangka kau akan kembali Hye-Jin ah,” ucap Sooyoung senang.

“Ah… itu karena aku—”

“Sooyoung ah aku sudah mengurus segala sesuatunya, kau bagaimana?” Seorang pemuda tiba-tiba saja memotong ucapan Hye-Jin dan berdiri di samping Sooyoung.

“Ah… Maaf aku tidak tahu kalau kau sedang berbicara dengan temanmu,” ucap pemuda itu menyesal.

“Tidak apa-apa, hanya obrolan dengan teman lama—” Sooyoung menengahi.

“Oh iya, kenalkan ini, dia sepupuku,” lanjut Sooyoung mengenalkan keduanya.

Sedangkan Hye-Jin dan juga pemuda itu justru saling menatap satu sama lain, berharap bahwa hanya dengan saling menatap keduanya bisa menyelami hingga sudut-sudut hati terdalam mereka. Pemuda yang tampan—oh tidak, bahkan sangat tampan. Pemuda itu yang tersadar lebih dulu segera mengulurkan tangannya.

“Halo,” sapanya. Hye-Jin yang kembali tersadar segera membalas sapaan serta uluran tangan pemuda itu.

“Hye-Jin. Jung Hye-Jin. Senang berkenalan denganmu,” ucap Hye-Jin disertai senyum manisnya. Senyum termanis yang ia punya.

“Siwon. Choi Siwon,” balas pemuda itu—yang bernama Siwon—ramah dengan senyum yang menampakkan kedua lesung pipinya.

Kedua tangan mereka masih saling bertaut sampai Sooyoung berkata, “Hei, sampai kapan kalian akan bertatapan seperti itu?”

“Akh— maaf,” ucap Hye-Jin. Semburat berwarna merah tipis menghiasi wajahnya.

Dan Sooyoung pun tahu, kedua anak manusia itu akan cocok satu sama lain.

***

Persis seperti dugaan Sooyoung, dua bulan setelah kejadian itu pun Hye-Jin dan juga Siwon menjadi sangat dekat. Bahkan mereka masuk pada fakultas yang sama—Fakultas Seni, hanya bedanya jika Siwon mengambil Fakultas Seni Pertunjukan atau Seni Theater, Hye-Jin memilih berada di Fakultas Film dan Televisi, menjadi sutradara adalah impian Hye Jin.

“Hye-Jin ssi! Pangeranmu datang lagi!” teriak salah seorang teman sekelas Hye-Jin—Victoria. Bahkan mahasiswa satu fakultas juga sudah tahu bahwa Siwon dan Hye-Jin adalah pasangan tak terpisahkan. Tapi jika ditanyai akan hubungan mereka, pasti Hye-Jin hanya akan menjawab “Kami hanya bersahabat! Tak lebih.” Itu masih jawaban dari seorang Jung Hye Jin, kita tak tahu versi jawaban dari Siwon, bukan?

“Ada yang ketinggalan?” tanya Hye-Jin ketika sampai di depan pintu, berhadapan dengan Siwon.

“Sooyoung menitipkan ini kepadaku, katanya ini baju yang ia pinjam sewaktu menginap di rumahmu,” jawab Siwon sembari menyerahkan sebuah bungkusan kepada Hye-Jin.

“Kenapa tak ia sendiri yang mengembalikan padaku?”

“Entahlah, dia tak begitu jelas. Tadi pagi saja dia hanya berkata ‘Siwon ah! Kemarin ini Hye-Jin baju menginap, Terima kasih!’ lalu ia segera berlari, sepertinya sedang terburu-buru.” Siwon menirukan gaya berbicara Sooyoung kemudian mengangkat bahu malas. Hye-Jin membulatkan bibirnya pertanda mengerti.

“Karena urusanku sudah selesai, kalau begitu aku pergi dulu ya, kelasmu sebentar lagi akan mulai kan?”

“Mm.” Hye-Jin mengangguk lalu membalik badan akan memasuki kelasnya, tapi suara Siwon kembali menghentikan langkahnya.

“Ada apa?”

“Emm, nanti malam aku ke rumahmu ya? Kemarin, orang tuaku sudah kembali ke Jepang.”

“Baiklah, aku akan menunggumu. Sampai jumpa!” Hye-Jin menampilkan senyum terakhirnya sebelum menghilang di balik pintu.

Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya jika orang tua Siwon pergi berbisnis ke Jepang, Siwon pasti akan pergi ke rumah Hye-Jin. Entah hanya menumpang makan atau hanya sekedar mengobrol. Pria itu kesepian, sama seperti Hye-Jin, bahkan mungkin melebihi Hye-Jin. Sejak kecil tinggal sendirian di rumah sebesar itu siapa yang akan tahan? Hanya tinggal bersama pembantu yang mengurus rumah tangga, dalam setahun mungkin hanya dua tiga kali orang tua Siwon pulang ke Seoul, lalu kembali ke Jepang. Sejak kecil juga Siwon lebih sering menghabiskan waktunya di rumah Sooyoung, itulah mengapa Siwon lebih sering terlihat bersama dengan Sooyoung, Siwon lebih menganggap orang tua Sooyoung karena sesibuk apapun mereka, mereka tetap meluangkan waktu untuk Sooyoung—memprioritaskan anak mereka—. Tapi semenjak Siwon mengenal Hye-Jin, pria itu lebih sering menghabiskan waktu bersama Hye-Jin, Sooyoung tak keberatan, karena Siwon berhak akan kehidupannya sendiri.

***

“Kau tahu, aku sudah hampir gila kalau seperti ini terus,” ucap Sooyoung menggebu-gebu. Kedua gadis itu tengah berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kantin.

“Tugas yang mereka berikan lama-kelamaan akan membunuh mahasiswanya! Kau lihat, rambutku sedikit demi sedikit mulai rontok!”

Hye-Jin tertawa menanggapi, “Kau tidak perlu berlebihan seperti itu Sooyoung ah, itu demi kebaikan dirimu juga agar menjadi dokter yang hebat suatu saat nanti!”

“Ahhh… lebih baik dulu aku ikut mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Seni bersama Siwon. Menyesal aku.”

“Memang kau bisa berakting?”

“Tentu saja tidak.” Setelahnya kedua gadis itu tertawa.

“Ah! Baju yang kutitipkan pada Siwon kemarin sudah kau terima?” tanya Sooyoung begitu teringat akan baju yang ia titipkan pada Siwon dua hari yang lalu.

“Sudah, tapi kenapa kau kelihatannya sangat terburu-buru waktu itu?”

“Itu karena Kyosunim tiba-tiba saja memanggilku untuk menyerahkan beberapa tugas yang seharusnya tidak dikumpulkan hari itu. Jadi aku harus kembali ke rumah dan mengambilnya, aahhh untung saja sudah kuselesaikan sejak awal, jadi tidak begitu merepotkan. Entahlah, akhir-akhir ini para Kyosunim terlihat sangat sibuk mengurus ini itu, sepertinya hanya dengan kepindahan anak itu saja sudah begitu menggemparkan kampus!” ucap Sooyoung panjang lebar.

“Hah? Anak itu? Siapa? Siapa yang pindah ke mana?” tanya Hye-Jin heran.

“Jadi, kau belum tahu? Ya Tuhan, gosip ini sudah meluas dan kau belum tahu? Kau kemana saja hei gadis manis?”

Ya! Aku tidak sepertimu dan gadis lain yang sukanya menggosip tidak penting,” cibir Hye-Jin.

“Ya ya ya, terserah apa katamu Jung Hye-Jin. Ah! Itu dia! Kibum ssiYa!” Sooyoung berteriak memanggil seorang pemuda yang tengah berjalan menyusuri koridor, berjarak lima meter di hadapan kedua gadis itu.

“Sudah dulu ya, aku ada perlu dengannya. Oh, Tuhan, kenapa dia berjalan cepat sekali,” gumam Sooyoung kemudian berlalu mengejar pemuda tadi.

Hye-Jin menatap punggung Sooyoung yang semakin lama semakin menjauh. Setelah tak terlihat, barulah gadis itu melanjutkan perjalanannya.

***

#Hye-Jin Point of View

Baiklah, ini terlalu berlebihan memang. Membawa sekardus ramyun instan tanpa bantuan seorang lelaki. Bahkan aku dan kardusnya saja sudah hampir sama tinggi.

Jangan salahkan aku karena membawanya sendirian, ini semua gara-gara Siwon yang dengan seenaknya menghabiskan persediaan ramyun instanku. Dan saat aku memintanya untuk menemaniku belanja, dia justru di panggil oleh Kyosunim. Dasar menyebalkan.

Sepi.

Kulangkahkan kakiku menapaki aspal, kurasakan ada sesuatu melaju dari arah sana. Truk.

Oh, hanya truk.

Apa? Truk?

Kaki, ayo bergeraklah! Aku tidak mau mati seperti ini. Kenapa sulit sekali menggerakkan kaki-kaki ini?!

“Akh!” Rasanya sepatuku lepas! Ramyun-ku…

Tapi… Kenapa tubuhku seperti ada yang memeluk? Kubuka perlahan kedua manik mataku, mata? Hidung? Kenapa ada seseorang di atas tubuhku? Dia seorang pemuda, pemuda itu juga sudah membuka matanya. Mata kami saling menatap. Dia itu… siapa?

“Emm, maaf?” ucapku lirih, semoga saja dia mengerti maksudku.

“Ah! Maaf, aku tidak bermaksud. Tadi aku melihatmu…”

“Hampir tertabrak,” potongku cepat karena melihat dia sedikit panik.

“Tidak apa-apa, seharusnya justru aku yang mengucapkan terima kasih karena telah menolongku. Kalau tidak ada kau, mungkin saja aku sudah tertabrak truk,” lanjutku.

Pemuda itu tersenyum menanggapi. Senyum itu rasanya pernah aku lihat, tapi… kapan? Kemudian dia menjulurkan tangannya. “Aku Yesung, kau?”

Sesaat aku masih terpaku oleh senyuman itu jika saja ia tidak berdeham menyadarkanku, “A-aku Hye-Jin. Jung Hye-Jin,” balasku sambil tersenyum. Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu.

Ramyun-ku!” Segera saja aku memunguti bungkusan-bungkusan yang masih terlihat bagus, setidaknya masih ada beberapa. Pemuda tadi—Yesung— berjongkok di sampingku untuk membantu.

“Terima kasih,” ucapku menerima bungkusan terakhir yang diulurkan olehnya.

“Bajumu sobek.” Tunjuknya pada bajuku di bagian bahu. Aku sendiri baru menyadarinya setelah diberitahu olehnya, bagian bahuku sedikit luka, pantas saja dari tadi terasa perih.

“Tidak apa-apa, rumahku berada di sekitar sini, jadi tak masalah. Kau sendiri mau kemana?”

“Aku tadi hanya lewat, emm… kalau begitu, aku pergi dulu ya?” pamitnya undur diri.

“Sampai jumpa kalau begitu, sekali lagi terima kasih.” Yesung tersenyum lagi. Ya Tuhan, ada apa denganku? Setiap melihatnya tersenyum, aku bahkan secara tak sadar hanya menatapnya. Bahkan setelah Yesung berjalan menjauh pun aku masih terus menatap punggungnya hingga punggung itu benar-benar menghilang dari pandanganku.

Sebenarnya dia itu siapa? Kenapa aku seperti pernah mengenalnya… Yesung ssi

-TBC-

.

.

.

Annyeong!!! :D ini dia part 1 dari ff dreams come true, gimana? aneh yaaa?? maaf yaa kalo aneh dan gak sesuai harapan :( tapi author tetap berusaha yang terbaik untuk kelanjutan ff ini koo ^^ oiya, kunjungi wp pribadi aku juga yaa –> http://choisiwonlusyworld.wordpress.com/ , emm last but not least…

Komen and Like, please?

-your comment is a spirit for me-

17 thoughts on “Dreams Come True [Part 1]

  1. “ngga bisa ditebak” itu kata pertama yang aku ucapin pas selesai baca cerita ini. kirain soo yong bakalan sama yeesung. ngepost next chapternya jangan lama lama author, hehe *be the best :)*

  2. Yang nabrak diawal2 dan ngeselin pasti si epil kyuhyun deh wkwkwkwk. Kok hyejin nggak galau sih digantung sama siwon? *eh kekekekeke. Keren thooooor!!! :3 ditunggu kelanjutannyaaaa ^^

  3. kyaa,,, penasaran banget. memang senyum yesung oppa bikin galau ♥.♥
    ditunggu part 2 nya ^-^ keren ceritanya (✿◠‿◠)

    Clouds We’re as weird as Yeye (~ ̄▽ ̄)~

  4. aannyeeongggg….. aku reader baru nih.. keke..aahh suka nih sma cerita ffnyaaa.. kayanya bakalan seru deh ini… oke lnjut bca part slnjtnyaa. ekke

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s