[Chapter 3] True Love

Title : True Love

Author : Shi Arvioryna

Cast in this chapter:

  • Lee Chaerin (fiction)
  • Cho Kyuhyun Super Junior
  • Song Hyeri (fiction)
  • Park Minna (fiction)
  • Cho Ahra
  • Kim Kyoungjae (Eli) U-Kiss

Rating : G

Genre : Romance, Friendship, Angst

Disclaimer : This story is MINE! Read Yes, Like Yes, Comment Yes! But please No Plagiat! Hargai para author yang bikin FF ya!

Note : Aku kembali. Adakah yang merindukanku? #narsis hehe ^^ Mian banget ya aku baru sempet bikin FF lanjutannya. Pasti udah pada nungguin kan? #narsis lagi

Aku ngebut bikin FF ini. Jadi harap maklum ya kalau hasilnya kurang memuaskan. Happy Reading ^^

~~~***~~~

Dua bulan telah berlalu sejak pertemuan ‘tak sengaja’-ku dengan namja itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun. Ralat. Maksudku Evil. Sepertinya nama itu lebih cocok untuknya dibanding namanya sendiri. Lagipula sifatnya memang seperti evil, tak henti-hentinya mengangguku. Seperti hari ini. Dia telah sukses menghancurkan mood-ku dengan tingkahnya yang sudah di luar batas. Seenaknya saja dia merebut handphone-ku, tanpa seijinku tentunya. Tidak hanya itu. Dia juga mengirim sms ke hampir semua teman sekelasku yang isinya: ‘Aku adalah gadis tercantik’. Darimana dia tahu nama teman-temanku?

Gila! Benar-benar gila! Kurasa dia harus dibawa ke psikolog. Ani. Psikiater kurasa bisa mengatasi tingkah gilanya itu. Atau jika perlu seret saja dia ke rumah sakit jiwa.

Sebenarnya apa salahku? Apa karena kejadian proomnite itu? Sebegitu dendam kah dia padaku? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar di otakku. Aku akui, aku memang salah sudah mencuri dengar percakapannya malam itu. Argh! Tingkahnya benar-benar membuatku pusing. Lebih baik aku berhenti memikirkannya. Bisa-bisa virus ‘gila’-nya menular padaku.

“Kau kenapa, Rin-ah?” tanya Minna yang sontak saja menyadarkanku.

“Oh.. Eh.. Wae?” tanyaku bingung. Aku melihat sekeliling. Ah, iya. Saat ini aku berada di kantin sekolah bersama dua sahabatku.

“Masih marah karena kejadian tadi?” Kali ini yang bertanya Hyeri.

“Tentu saja,” jawabku cepat. “Bagaimana mungkin aku tidak marah? It’s impossible,” tambahku dengan emosi yang masih menguasaiku.

“Sudahlah.  Jangan marah lagi. Lagipula Kyu sudah minta maaf, kan?” Kudengar Hyeri mencoba menenangkanku.

“Minta maaf?” Aku terkejut dengan ucapan Hyeri. Orang itu minta maaf? Tidak mungkin. Kurasa otak-nya sudah rusak jika dia sampai melakukannya. “Apa menurutmu dia serius mengatakannya?”

Hyeri dan Minna terdiam. Mereka sangat mengenal diriku. Jadi mereka pasti tahu kalau aku tidak akan dengan mudah memaafkan orang yang sudah mempermalukanku. “Kurasa tidak,” Minna berkata lirih.

Aku menatap kedua sahabatku, kemudian menghela napas panjang. “Sudahlah, tidak usah membicarakan dia lagi. Lebih baik aku menyiapkan mentalku saat masuk nanti,” kataku akhirnya. Aku membayangkan cemoohan apa lagi yang kudapat dari teman-temanku. Sial! Dia benar-benar membuatku malu.

“Bagaimana rasanya jadi yang paling tercantik?”

“Aku baru tahu kau ikut kontes gadis tercantik.”

“Harusnya kau memakai mahkota.”

. . .

Itu adalah sebagian cemoohan yang kudapat hari ini. Sampai bel pulang berbunyi pun, mereka masih belum berhenti mencemoohku. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan mereka. Aku juga tidak membalas mereka. Untuk apa? Itu justru akan membuat mereka semakin bersemangat mencemoohku. Yang bisa kulakukan hanya bersabar sambil memikirkan rencana ‘balas dendam’-ku pada Evil gila itu. Tunggu saja, Kyu!

Aku mempercepat langkahku saat berjalan keluar kelas. Kudengar teman-temanku masih asyik menertawakanku. Aku harus segera pulang. Aku sudah tidak tahan lama-lama berada di sini. Aku bisa meledak! >_<

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang tanganku. Belum sempat aku menoleh untuk melihat siapa pemilik tangan itu, dia sudah berjalan mendahuluiku. Ternyata Kyoungjae. Tangannya menarik tanganku untuk mengikutinya. Aku hanya pasrah. Menurut saja dengan arah tujuan Kyoungjae.

Ternyata dia membawaku ke tempat parkir, tempat di mana motornya diparkir. Dia melepaskan pegangan tangannya lalu menaiki motor kesayangannya. Aku hanya diam saja melihatnya seperti itu. Bingung.

“Kenapa kamu hanya diam saja? Naiklah!” tanyanya yang sekarang sudah siap dengan perlengkapan berkendara-nya. Lagi-lagi dia berkata tanpa menatapku. Lagi?

“Hhh…” Aku mendesah pasrah. Kuturuti saja perkataannya. Aku duduk di belakangnya.

“Aku akan mengantarkanmu pulang,” katanya lagi.

“Hemm…” jawabku singkat. Kyoungjae mulai menjalankan motornya menjauh dari sekolah.

***

Aku berjalan pulang dengan tergesa-gesa. Aku lelah mendengar ejekan teman-temanku. Rupanya mereka belum lelah menggosipkanku. Padahal sudah dua hari berlalu sejak hari itu, hari dimana petaka ini muncul. Dan sialnya, aku belum bisa melancarkan aksi balas dendamku karena sejak hari itu, dia tidak pernah muncul. Ya, Evil itu sudah dua hari tidak masuk. Aku bertanya pada Donghae Oppa yang notabene adalah sahabatnya. Tapi dia tidak tahu kemana Evil itu pergi.

“Kudengar kau adalah gadis tercantik.” Sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku. Aku mendongakkan kepala dan kulihat ada tiga orang gadis sudah berdiri di hadapanku. Aku menatap mereka bingung, berusaha mengenali mereka. Tapi nihil. Tak ada satu pun dari mereka yang ku kenal.

“Nuguseyo?” tanyaku tanpa memperdulikan tatapan dingin mereka.

“Apa yang cantik darimu?” tanya gadis yang berdiri di tengah. Dia mulai berjalan mengelilingiku. Melihatku dari atas ke bawah. Kedua temannya yang lain mengikuti tingkah gadis itu dengan melihatku dari atas ke bawah. Berulang-ulang.

Tentu saja aku merasa risih diperhatikan oleh mereka seperti itu. Apalagi dengan tatapan mereka yang seolah meremehkanku.

“Tak ada yang cantik darimu.” Tiba-tiba gadis yang berdiri paling dekat denganku membuka suaranya. Kedua temannya mengangguk mendengar penuturan gadis itu.

“Sombong sekali kau mengatakan bahwa kau gadis tercantik,” kata salah satu dari mereka, yang sedari tadi hanya diam.

“Kuperingatkan padamu. Jangan sombong! Jangan pernah mengaku kalau kau itu gadis tercantik karena semua itu tidak benar!” Gadis yang berdiri di dekatku menatap mataku tajam. Aku baru sadar kalau saat ini aku berada di situasi yang buruk. Tapi aku berusaha untuk tenang. Karena sedikit saja aku menunjukkan ketakutanku, itu akan semakin membuat mereka merasa menang. Tak akan kubiarkan mereka melakukan hal buruk padaku. “Atau kau ingin kami merusak wajahmu agar kau bangga dengan wajahmu yang tidak cantik itu?” Ia berkata lagi. Mereka bertiga tertawa.

“Dia memang cantik.” Tiba-tiba kudengar suara lain di belakangku. Suara itu, sepertinya aku mengenalnya. “Dia memang adalah gadis tercantik. Setidaknya itu menurutku,” ujarnya lagi yang semakin meyakinkanku dengan pendengaranku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati namja itu sedang berdiri di sana. Ya, namja itu adalah Evil gila yang menyebabkan semua masalah ini muncul. Dia menatap mereka, ketiga gadis yang berdiri di depanku, dengan tatapan dinginnya. Terpancar kemarahan di kedua matanya. Dia terlihat sangat menakutkan.

Perlahan namun pasti Kyuhyun berjalan ke arahku. Dia berhenti tepat di sampingku. “Aku yang melakukannya. Aku yang menyebarkan rumor itu. Jadi berhentilah mengganggunya,” akunya. Aku menatap namja itu. Dahiku berkerut. Ada apa lagi dengannya?

“Kalau tidak, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghentikannya,” ancamnya. Matanya semakin memancarkan kemarahannya. Aku menoleh untuk melihat ketiga gadis itu. Anehnya, kali ini aku tidak melihat wajah angkuh yang sedari tadi diperlihatkannya padaku. Ekspresi mereka berubah menjadi ketakutan.

“Mi… Mianhe, Kyuhyun-ah. Aku tidak akan mengganggu dia lagi. Aku minta maaf Lee Chaerin,” kata salah satu di antara mereka dengan takut-takut. Kemudian mereka bergegas pergi meninggalkanku dan Kyuhyun yang masih berdiri di tempat yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi?

Belum selesai aku mencerna kejadian yang berlangsung begitu cepat tadi, Kyuhyun menggenggam tanganku dan menariknya keras. Ia berjalan mendahuluiku. Mau tak mau aku harus mengikutinya. Genggaman tangannya begitu kuat.

“Ya! Lepaskan aku!” Aku berusaha melepas genggaman tangannya. Tapi dia tak bergeming. Dia tetap saja menarikku. Kyuhyun membawaku sampai ke tempat parkir. Dia menyalakan motornya yang terparkir paling ujung.

“Ayo naik!”

“Kita mau kemana?” tanyaku bingung.

“Sudahlah, naik saja. Nanti kau juga tahu.”

Aku menatap wajahnya yang kini tertutup helm. Aku tidak yakin akan ajakannya itu. tapi seolah mengerti apa yang aku pikirkan, dia kembali berkata, “Aku tak akan menyakitimu. Aku janji.” Kata-katanya itu seperti sihir untukku. Entah kenapa aku percaya padanya. Aku memposisikan diri duduk di belakangnya.

Kyuhyun mulai melaju meninggalkan halaman sekolah. Ia mempercepat laju motornya, membuatku semakin keras menyeimbangkan diri agar tak jatuh. Aku berusaha untuk tidak berpegangan padanya. Tapi tak kusangka, dia justru menarik tanganku dan meletakkan di pinggangnya. Dan lagi-lagi aku hanya menurut. Aku menatap punggung Kyuhyun. Menerka-nerka apa yang ada di pikirannya saat ini.

Kyuhyun menghentikan motornya tepat di depan sebuah cafe es krim. Tanpa disuruh, aku turun dari motornya. Dia memakirkan motornya lalu berjalan ke arahku.

“Ayo masuk,” ajaknya sambil tersenyum. Apa aku tidak salah lihat. Dia tersenyum? Bukan senyum biasa yang sering ia tunjukkan bila bersama teman-temannya. Senyumnya kali ini lebih terlihat… tulus.

Kyuhyun menarik tanganku pelan dan membuka pintu cafe. Terpampang jelas suasana cafe yang sangat kukenal ini. Sebenarnya aku agak terkejut saat dia membawaku ke sini tadi. Bagaimana dia bisa tahu tempat ini? Tapi setelah dipikirkan lagi, itu wajar karena. Banyak orang yang tahu tempat ini. Namun tak ada yang tahu kenangan yang aku miliki di tempat ini.

Namja itu, Kyuhyun, mengajakku duduk di salah satu tempat kosong yang ada di dekat jendela. Aku mengedarkan pandanganku. Suasana cafe ini sedikit berbeda dari terakhir kali aku datang ke sini. Saat aku memandang sekeliling, aku menangkap sosok yang aku kenal sedang berjalan ke arah kami.

“Welcome, Chaerin-ah,” yeoja itu menyapaku. Dengan senyum manis yang terukir di wajahnya, tentunya. Dia adalah manajer cafe ini, atau bisa kusebut pemilik cafe ini. Aku biasa memanggilnya Ahra Onni. Aku mengenalnya karena dulu aku sering datang ke cafe ini. Saking seringnya, hampir tiap hari aku dan Sunghyun datang kesini. Aku tersenyum getir. Rasanya sudah lama aku tak menyebut namanya.

“Mau pesan apa?” tanya Ahra Onni ramah.

“Seperti biasa, Onni,” jawabku tak kalah ramahnya.

Ahra Onni tersenyum lalu ganti menatap Kyuhyun. “Aku akan mengambilkan susu hangat untukmu,” katanya dengan nada datar.

“Ya! Memangnya aku anak kecil yang masih suka minum susu,” jawab Kyuhyun dengan muka cemberut. Bibirnya mengerucut. “Aku juga ingin makan es krim, Nuna,” tambahnya masih dengan muka yang cemberut, membuatnya semakin terlihat lucu. Tanpa kusadari aku tersenyum melihat tingkahnya itu. Seorang Cho Kyuhyun bisa bertingkah seperti itu. sungguh kejadian langka. Tapi tunggu dulu. Dia memanggil Ahra Onni dengan sebutan ‘Nuna’?

Ahra Onni menghela napas panjang. “Ne. Kau boleh makan sepuasmu, Kyu-ah.” Dia mengacak pelan rambut Kyuhyun. “Maaf ya kalau adikku menyusahkanmu. Aku ke dapur dulu,” katanya padaku sebelum ia berjalan pergi.

Adik? Aku tidak salah dengar, kan? Siapa yang dimaksud adik olehnya? Tidak mungkin Evil gila di depanku ini kan? Aku memandang Kyuhyun dengan tatapan tajam. Dilihat dari mana pun dia tidak mirip dengan Ahra Onni. Apalagi sifatnya itu. Berbeda jauh dengan Ahra Onni yang sangat baik dan ramah.

“Cho Ahra dan Cho Kyuhyun. Terima saja lah kalau aku memang adalah adiknya,” ucapnya mengagetkanku. Sepertinya ia tahu apa yang sedang aku pikirkan.

Tak ada percakapan antara aku dan namja itu. Setelah pesanan kami datang pun, suasana tak berubah. Aku lebih asyik menikmati ek krim cokelat-ku dengan pikiranku yang kini dipenuhi oleh Kyuhyun.

“Mianhe,” ujarnya pelan. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihatnya. “Aku minta maaf, Rin-ah. Aku sering menyusahkanmu.” Ia berkata lagi. Kali ini dengan menatap kedua mataku, seolah ingin mengatakan kalau dia benar-benar serius.

Aku berpikir sejenak. Dia memang sering membuatku susah. Tak henti-hentinya dia mengerjaiku. Tapi bagaimana pun dia sudah menolongku tadi. Kali ini, hanya untuk kali ini saja, aku akan memaafkannya.

Seringai kecil muncul di bibirku. Aku punya rencana. “Baiklah. Aku akan memaafkanmu,” ujarku. Kyuhyun tersenyum senang. “Tapi dengan satu syarat,” lanjutku. Kulihat senyuman Kyuhyun menghilang dan berganti dengan kerutan di dahinya.

“Syarat? Syarat apa?”

“Mudah. Kau tinggal berdiri di tengah cafe ini dan katakan kau menyesal telah mengerjaiku. Dan jangan lupa permintaan maafnya.”

Kyuhyun membulatkan matanya. “Mwo? Shireo!” tolaknya mentah-mentah. Sudah kuduga. Dia pasti tak akan mau. Tapi bukan Chaerin namanya kalau tidak berhasil ‘memaksa’ Evil itu melakukannya.

“Kau tidak mau? Ya sudah. Aku tak akan memaafkanmu.”

Aku menyendok es krim cokelat-ku dan memasukkannya dalam mulutku. Hmm.. Enak. Cokelat memang yang terbaik.

Kulirik Kyuhyun yang duduk di depanku itu. Dia terlihat sedang berpikir. Sesekali dia melirik ke tengah cafe kemudian matanya akan berkeliling ke seluruh ruangan ini. Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya itu.

“Aku akan melakukannya.”

Yes! Aku berhasil. Kyuhyun mulai berjalan dan berhenti tepat di tengah cafe. Aku memperhatikan setiap gerak- gerikya. Dia terlihat ragu. Namun sedetik kemudian dia melakukannya.

“Mohon perhatiannya,” kata Kyuhyun memulai aksinya. Setelah mata seluruh pengunjung cafe tertuju padanya, ia mulai melanjutkan. “Di sini, atas permintaan seorang gadis yang duduk di dekat jendela sana,” ujarnya sambil menunjukku. Semua orang mengikuti arah telunjuk Kyuhyun. Untuk sesaat aku menjadi pusat perhatian. Tapi itu hanya sebentar karena mereka kembali fokus pada Kyuhyun. “Aku telah melakukan kesalahan dan sudah membuatnya marah. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang kulakukan itu. Karena itu, aku ingin meminta maaf padanya. Dan dia berjanji akan memaafkanku jika aku meminta maaf di sini. Terima kasih sudah mendengarkan.” Ia menutup pernyataannya itu dengan membungkukkan badannya. Semua orang bertepuk tangan. Aku tersenyum puas. Ini menjadi hiburan yang menarik, kan?

“Kau puas?” tanya Kyuhyun setelah ia duduk di depanku. Mukanya merah. Dia pasti sangat malu. Hehe…

“Sangat puas,” jawabku mantap.

“Syukurlah. Jadi kau bisa memaafkanku, kan?”

“Ne. Sudah kubilang aku akan memaafkanmu jika kau melakukannya.”

Kyuhyun mengaduk pelan es krim di depannya lalu menyendokkannya ke mulutnya. Ia tak berani memandangku. Mukanya masih merah, walaupun warnanya mulai memudar. “Mukamu merah, Kyu. Kau pasti sangat malu.” Tanpa pikir panjang aku mengucapkan kata itu.

Ia memegang kedua pipinya, tempat semburat merahnya tadi muncul. “A.. Ani. Kau pasti salah lihat. Aku tidak malu,” elaknya masih dengan kedua tangan di pipinya. Aku tertawa. Lucu sekali bocah ini kalau sedang malu. Harusnya tadi kurekam pengakuannya itu. Bisa kujadikan senjata agar dia tak macam-macam lagi denganku.

Kyuhyun menyodorkan sebelah tangannya di depanku. Dia menggerakkan tangannya seperti meminta sesuatu dariku. “Ponselmu mana?” tanyanya.

Aku mengerutkan kening. “Ponselku? Untuk apa?” Aku balik bertanya. Bingung.

“Sudah, berikan saja!” pintanya tak sabaran.

Aku memicingkan mata. Aku curiga padanya. “Jangan-jangan kau mau mengirim sms aneh lagi? Andwae!” tebakku asal.

Dia menghela napas panjang. “Tidak akan. Aku hanya ingin meluruskan masalah yang sudah kubuat.”

Aku menatap Kyuhyun ragu. “Kau yakin?” tanyaku memastikan. Kyuhyun mengangguk pasti. Aku kembali berpikir. Kurasa tak masalah memberikannya kesempatan sekali lagi. Dia bisa bertobat.

Akhirnya dengan ragu aku memberikan ponselku. Dia langsung merebutnya. Entah apa yang dia lakukan dengan ponsel berhargaku itu karena aku tak boleh mendekat padanya. Aku memandanginya dengan perasaan was-was. Aku tahu dia sedang mengetik pesan dengan ponselku. Tapi aku tak bisa menebak apa  isi pesannya. Dan ketika dia menunjukkan ‘evil smirk’ nya, aku baru sadar ternyata aku salah. Kurasa dia tidak akan bertobat. Aku juga salah telah memberikan ponselku padanya.

Kyuhyun mengembalikan ponselku dengan senyum lebar yang terkembang di wajahnya. Langsung saja aku mencari pesan yang baru saja dikirimkannya. Mencarinya berulang-ulang. Tapi tak–

“Tak akan ada. Aku sudah menghapusnya.” Dia tertawa. Aku terduduk lemas, menyesali kesalahan bodoh yang aku lakukan.

***

Aku berjalan gontai menuju kelas. Rasanya malas sekali untuk sekolah. Semalam tidurku tak nyenyak. Aku memikirkan tentang pesan itu. Dan bayangan saat teman-teman mencemoohku muncul. Aku mendesah pelan. Sepertinya aku harus siap untuk mendapatkannya lagi.

Aku membuka pintu kelasku. Kulihat semua orang di kelas memperhatikanku. Tapi sedetik kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda karena kedatanganku. Aku menatap teman-temanku dengan heran. Sebelumya aku yakin mereka akan mencemoohku. Aku bahkan sudah mempersiapkan untuk itu. Tapi kenapa mereka malah diam? Mereka malah terkesan cuek padaku? Ada apa?

“Rin-ah,” Hyeri melambaikan tangan padaku. Aku langsung saja menghampirinya kemudian duduk di kursi di sebelahnya yang masih kosong.

“Ada apa dengan mereka?” Aku berbisik agar tak ada yang mendengarku selain Hyeri.

“Maksudmu teman-teman sekelas kita?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk. “Itu karena sms kemarin,” ujarnya berbisik.

SMS? Memang isinya apa?”

“Kau belum melihatnya?” Hyeri terkejut. Aku mengiyakan pertanyaan Hyeri. Ia lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan ‘pesan’ yang dimaksud padaku.

From                : Rin

Message          :

Yang mengirim pesan ini adalah Cho Kyuhyun, anak kelas 12-IPA-2. Dan yang mengirim pesan yang isinya Chaerin adalah gadis tercantik, itu juga aku yang melakukannya. Aku hanya ingin memberitahu kalian bahwa Chaerin memang adalah gadis tercantik. Setidaknya itu menurutku. Jadi berhentilah mengganggu gadisku. Atau aku sendiri yang akan menghentikan kalian ^^

Nb: Jangan beritahukan pesan ini pada Chaerin.

Aku membulatkan mata tak percaya. Jadi ini pesan yang dikirimkannya dari ponselku kemarin? Dan dia menyebutku apa? ‘Gadis’-ku? Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, manahan emosiku yang hampir meledak. Awas kau, Cho Kyuhyun!

***

To Be Continued

Bagaimana menurut kalian? Maaf kalau banyak typo yang bertebaran. Males editnya. Hehe ^^

8 thoughts on “[Chapter 3] True Love

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s