Whether I Hate You or Not (Chapter 6)

Title                       : whether I hate you or not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/Life

Cast                       :

Main Cast            : Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Kim Saena a.k.a Choi Saena

Kim Yoonhee

Other cast           : SHINee – Choi Minho

SS501 – Kim Hyun joong

Super junior – Cho Kyuhyun

Disclaimer           : Super junior are belong to God,SM Entertaiment,and their parents

SS501 Kim Hyun joong is belong to God,DSP Entertaiment,and his parents.

SHINee Choi Minho is belong to God.SM Entertaiment,and his parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.

Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic.

Please take with full credit.

Warning               : Lolicon,a little bit violence and NC

If you don’t like this fanfic. Please No Bash.

Don’t like. Don’t read.

Prev chap :

Prolog   Chapter 1   Chapter 2    Chapter 3   Chapter 4    Chapter 5

New support cast : Kim Jonghyun SHINee

#NP

Teen Top – Going Crazy

DBSK – You Only Love,White Lies

SS501 – Because I’m stupid

Author Pov

Kesedihan itu takkan terbayar oleh kata-kata

suatu kata yang terlampau indah

hanya akan memberikan harapan semu

semua kata janji yang manis itu

hanya akan membutakan mata

Perlahan semua Kristal itu mengering,yang tertinggal hanyalah serpihan air mata yang meninggalkan jejak pada pipi mulus yeoja itu. Yoonmi mengangkat wajahnya dari atas bantal yang tadi digunakannya untuk meredam teriakan kekesalannya. Ia tidak ingin membangunkan seluruh anggota keluarganya hanya untuk melihatnya dalam keadaan berantakan.

Kenapa… kenapa kau lakukan itu padaku? Apa aku bersalah? Kau.. membuka semuanya.. semua yang sudah lama ingin kuhapus

Yoonmi terduduk lemas di pinggir tempat tidurnya. Memutar kembali memori beberapa jam lalu yang baru saja dialaminya. Donghae,namja itu secara ajaib bisa mengetuk pintu hatinya. Membuat Yoonmi bisa merasakan lagi satu hal yang dulu sangat dibencinya,tetapi namja itu juga yang kembali menguak semua luka lamanya.

Yoonmi menyentuh bibirnya,tempat Donghae meletakkan sesuatu yang sensitive di bagian sensitivenya juga. Yoonmi merasa sedikit jijik dengan perlakuan Donghae tadi? Jijik? Mungkin tidak!

Yoonmi hanya merasa sedikit takut dan aneh. Bagaimanapun juga telah mempunyai anak dalam usia mudah membuat benteng pertahanan Yoonmi semakin kuat. Walaupun perlakuan Donghae padanya sangat baik,terlalu baik malah,tetapi Yoonmi merasakan sebagian dirinya masih menolak perlakuan namja itu.

Dia dan Yoonmi tidak mempunyai hubungan khusus,tetapi kenapa namja itu berani sekali melakukan hal yang menurutnya kelewat batas itu. Satu hal yang bahkan tidak pernah terlintas lagi di benaknya sejak kejadian 18 tahun yang lalu.

“ Sebenarnya kau ada di mana?” Yoonmi menatap nanar ke luar jendela kamarnya. Sinar rembulan perlahan masuk menyusupi tirai tipis yang menutupi kaca jendela kamarnya.

Tidak bisa dipungkiri oleh hatinya,walaupun namja itu telah merenggut sesuatu yang berharga baginya,memberikan suatu beban dalam hidupnya,hampir merusak masa depannya,Yoonmi masih mempercayai namja itu akan kembali padanya. Mempertanggung jawabkan semua yang ia lakukan pada Yoonmi.

“ Andai kau kembali,kita akan hidup bahagia.Aku,kau,dan anak kita..Yoonhee..” Yoonmi berkata dengan suara lirih,mungkin saja suara itu hanya bisa didengar oleh angin.

“ Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau tega membuatku seperti ini?” Yoonmi mulai kehilangan kontrol atas dirinya. Semua bayangan bersama namja itu terputar kembali dalam benaknya,membuat Yoonmi ingin meledak saat itu juga.

Yoonmi membuka pintu kamarnya perlahan dan turun ke lantai bawah. Dengan gerakan hati-hati ia menuju ke dapur dan membuka lemari berisi minuman keras milik appanya. Seumur hidup Yoonmi tidak pernah menyentuh minuman beralkohol itu,tetapi saat ini emosi menguasai dirinya.

Yoonmi hendak mengambil salah satu botol dalam rak itu. Saat tiba-tiba satu pikiran merasuki otaknya.

Bagaimana kalau omma tahu aku mabuk dan bagaimana jika aku masih menyebut nama namja itu di depan omma?

        Yoonmi menarik kembali tangannya dan terduduk lemas di lantai dapur. Gagal mengonsumsi sesuatu yang dikiranya bisa meringankan semua beban di hati dan pikirannya. Semua beban akibat rindu yang ditahan mati-matian,perasaan yang dihalangi oleh keegoisan,semua kenyataan yang seakan menghimpitnya dan menyuruhnya untuk mundur.

“ Kembalilah padaku dan aku akan melupakan semua yang pernah kau lakukan padaku,kembalilah..kumohon..”

***

        Saena melangkah masuk ke dalam gerbang sekolahnya dengan perasaan campur aduk. Takut,was-was,dan curiga tercampur menjadi satu dalam benaknya. Ancaman dari Yoonhee semalam memang sempat membuat nyali Saena sedikit ciut,apalagi ia sempat berniat bolos hari ini dan berpura-pura sakit.

Tetapi seluruh niatan itu dibatalkannya karena hal itu akan beresiko besar padanya. Minho akan khawatir setengah mati,bagaimanapun juga Saena dan Minho sangat dekat,bisa berakibat fatal kalau ia ketahuan membohonhi kedua orangtuanya dan pihak sekolah,dan yang paling tidak diinginkannya terjadi adalah Yoonhee menganggapnya pengecut karena tidak berani masuk sekolah.

Saena menolehkan kepalanya ke kiri danke kanan sambil sesekali memasang telinganya baik-baik untuk mencari tahu apa yang sudah dilakukan Yoonhee sejauh ini,mungkin saja yeoja gila itu sudah melakukan sesuatu yang bisa membuat Saena pulang dengan tidak selamat.

Saena menghembuskan nafas lega saat mengetahui tidak ada satu pun dari mereka yang menyebut namanya atau membicarakannya. Memang masih ada beberapa orang yang menatapnya sinis saat ia melewati mereka. Pengaruh kejadian beberapa hari itu memang masih kuat,walaupun sudah memudar seiring dengan berjalannya waktu dan sikap Saena yang terlalu cuek pada perilaku mereka.

Pesona Minho memang sudah keterlaluan,sampai-sampai beberapa orang masih sempat-sempatnya menyindir Saena secara halus,walaupun Saena sudah memasang muka tembok sekalipun. Bagaimana kalau mereka semua tahu Saena dan Minho tinggal serumah? Dan bagaimana reaksi mereka saat tahu Saena adalah kakak Minho? Mungkin mereka semua akan berwajah munafik dan berpura-pura baik terhadap Saena.

“ Ssssttt itu orangnya..”

“ Siapa?”

“ Yeoja yang digosipkan dengan Minho..”

“ Ah jinjja? Tidak kusangkan namja setampan dia seleranya buruk sekali…”

Beberapa yeoja yang lewat di samping Saena berbisik-bisik mengenai dirinya dan Saena hanya lewat dan memasang gaya cuek seolah mereka hanyalah angin. Mungkin karena kesal dengan kelakuan Saena yang terlalu tidak peduli. Salah satu dari mereka sengaja mengeraskan volume suaranya saat mengatakan kalau selera Minho dalam memilih yeoja buruk sekali.

Hebatnya,Saena hanya melemparkan senyuman sinis pada mereka dan tidak memperdulikan apa yang mereka katakan tentangnya

***

        Saena berusaha memfokuskan pandangannya pada buku di hadapannya. Tidak peduli dengan keadaan sekitarnya yang mulai ramai oleh suara-suara orang yang sedang bergosip,atau sekedar membicarakan pelajaran.

“ Kalian masih ingat kejadian 4 hari yang lalu?” Minra,yang duduk di sebelah Saena,menolehkan kepalanya ke arah Yoonhee yang tiba-tiba datang sambil mengembangkan senyumannya.

Tidak,bukan hanya Minra yang terpecah perhatiannya dan akhirnya menatap Yoonhee yang berdiri di ambang pintu kelas. Hampir semua orang yang berada di kelas itu mempunyai tatapan yang sama dengan Minra. Tatapan penasaran,walaupun kebanyakan yang memberikan perhatian pada Yoonhee adalah kaum hawa,beberapa kaum adam hanya berusaha mencuri-curi pandangan pada yeoja yang mempunyai paras cantik itu.

Sedangkan Saena tidak bergeming sedekitpun dari aktivitasnya. Menurutnya,memperhatikan yeoja yang suka cari perhatian seperti Yoonhee,sama saja melakukan hal yang tidak berguna dan sia-sia.

“ Kejadian apa?” Beberapa yeoja mulai tertarik dengan kata-kata yang terlontar dari mulut yeoja cantik namun bermata tajam.

“ Tentang pangeran kita..”

Pangeran kita? Saena lagi-lagi hanya bisa menahan tawanya saat kata-kata itu meluncur mulus dari bibir Yoonhee. Mmebuat beberapa siswi berkasak-kusuk ria,memutar kembali memori mereka tentang kejadian yang membuat heboh sebagian besar yeoja di sekolah. Beberapa namja yang mulai menyadari ke mana arah pembicaraan ini,hanya bisa mendengus dan kembali pada aktivitas mereka masing-masing.

Merasa iri? Mungkin! Minho dua tahun di bawah mereka. Namun pesonanya sudah berhasil memikat yeoja-yeoja yang berada di tingkat atasnya. Memang bukan hanya Minho yang menjadi ‘The Most Wanted’ di sekolah mereka,ada beberapa namja yang seangkatan dengan mereka yang juga menjadi idola. Tetapi tetap saja pesona Minho bisa menutupi pesona yang lainnya.

“ Minho?” Seorang yeoja bertanya memastikan,walaupun sudah pasti jawabannya adalah iya.

“ Ne,siapa lagi? Kalian tahu apa yang dilakukan Minho dan yeoja yang ditariknya itu?” Yoonhee memutar-mutar kalimatnya. Sengaja membuat suasana memanas seketika,membuat Saena ikut panas mendengar setiap kata yang terlontar.

Beberapa yeoja mulai ribut lagi,tetapi kali ini mereka sudah mulai mencuri pandang ke arah Saena. Memang sejak kejadian itu,Saena sudah menjelaskan kalau tidak ada apapun diantara dia dan Minho,namun tetap saja hal itu sulit dipercayai oleh sebagian besar orang yang melihat langsung kejadian itu.

Tetapi kenyataan bahwa hari-hari berikutnya Saena dan Minho terlihat seperti dua orang yang tidak saling mengenal lagi. Membuat kecurigaan mereka surut,dan menyangka bahwa Saena dan Minho memang benar-benar tidak ada hubungan khusus. Untungnya saat kejadian itu,tidak ada yang mengikuti mereka berdua dan menyaksikan secara langsung apa yang terjadi,kecuali Yoonhee yang sudah melihat bahkan mendokumentasikan apa yang terjadi.

“ Kalian akan tahu nanti.” Yoonhee tersenyum sinis sambil melangkah keluar kelas. Walaupun bel akan beebunyi sebentar lagi,tetap saja itu tidak menyurutkan langkah Yoonhee.

“ Apa-apaan dia itu? Sudah membuat heboh dan sekarang meninggalkan kita dalam keadaan penasaran.”

“ Kim Yoonhee memang menyebalkan. Dia membesar-besarkan kejadian 4 hari yang lalu,padahal kita semua tahu kalau dia juga mengincar Minho.”

“ Jinjja?”

“ Ne,dia merasa dirinya sempurna untuk Minho,memang benar dia cantik dan kaya,sempurna sebagai putri pelengkap pangeran,tetapi sifatnya yang angkuh itu agak sedikit membuatku muak.”

Minra dan Saena hanya bisa menyimak pembicaraan spontan itu sambil sesekali meringis kecil karena mendengar beberapa dari mereka mulai mengatai Yoonhee dengan berbagai hinaan yang agak kejam.

“ Bagaimana kalau mereka semua tahu kau adalah noona dari pangeran mereka?” Minra berbisik di telinga Saena.

“ Aku akan terkanal.. dan itu semua akan menyebalkan.”

***

        “ Apa pesananku sudah kau buat?” Yoonhee menghampiri seorang namja yang sedang asyik membaca sebuah buku yang tebalnya kira-kira 10 cm. Membuat Yoonhee hanya bisa mengernyit heran,kenapa  bisa ada manusia yang tahan membaca buku membosankan itu?

“ Yo..Yoonhee..” namja itu menyebut nama yeoja yang berada di depannya dengan terbata-bata. Kelihatan sekali kalau namja itu gugup berhadapan dengan makluk lawan jenis yang sekarang ada di hadapannya.

Yoonhee terpaksa mengeluarkan senyuman mautnya,sebuah senyum yang mampu membuat namja manapun bertekuk lutut di hadapannya.

“ Jadi pesananku sudah selesai?” Yoonhee melirik jam tangan berwarna pink yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia merasa bosan jika harus berkomunikasi lama-lama dengan namja itu.

“ N..ne,sudah..” namja dengan kacamata berbingkai hitam itu,mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Yoonhee.

“ Gomawo,kau memang baik sekali.” Yoonhee mengusap pipi namja itu perlahan sebelum meninggalkannya.

Yoonhee tidak tahu,ada seseorang yang melihat kejadian itu dair balik jendela kelas namja itu,seseorang yang sedang terbakar cemburu melihat perlakuan Yoonhee terhadap namja itu.Sentuhan tangan Yoonhee di pipi namja itu,membekas di memori orang itu,membuatnya mengepalkan sebelah tangannya menahan emosi,kemudian ia melangkah pergi dari sana,tepat sebelum Yoonhee keluar dari kelas itu.

Namja berkacamata itu hanya bisa menghembuskan nafas lega sesaat setelah Yoonhee meninggalkannya. Betapa bodohnya ia,sehingga mau menjadi pelayan yeoja itu selama bertahun-tahun. Pelayan? Itu benar,sudah hampur 2 tahun ia menjadi pelayang Yoonhee. Pelayan dalam arti mau disuruh untuk melakukan beberapa hal. Bukan pelayan yang mengikuti ke manapun putrinya pergi,tetapi lebih seperti asisten ketika butuh.

Sudah lama ia menyimpan perasaan pada Yoonhee,sebuah perasaan yang mampu membuatnya mau melakukan apapun yang diperintahkan Yoonhee padanya. Berharap yeoja itu mau membukakan pintu hatinya,hanya untuknya. Tetapi sepertinya harapan itu akan sia-sia,karena Yoonhee sudah memantapkan hatinya untuk mencintai Minho.

“ Tenang saja,Yoonhee,aku akan merebutmu darinya.” Namja itu mengulaskan sebuah senyuman licik,tersembunyi di balik sikap polos dan penurutnya.

***

        Donghae memperhatikan setiap gerak-gerik Yoonmi yang berada para ruang transparan itu. Ruangan kerja desainer Shining Dream memang seperti itu,tidak ada dinding yang melapisi ruangan-ruangan itu,termasuk sekat-sekatnya,semuanya terbuat dari kaca tebal transparan,sehingga sang pemilik ruangan dapat terlihat dari luar. Termasuk ruangan di sebelahnya dapat terlihat dari ruangan kerja sendiri,karena sekat yang membatasinya juga transparan.

Yoonmi tahu sejak tadi Donghae berdiri di sana dan memperhatikannya. Itu semua bisa ditangkapnya dari sudut matanya. Tetapi ia tidak berniat untuk benar-benar melihat ke arah Donghae,ia hanya bisa diam dan melanjutkan pekerjaannya,berharap pria itu pergi dari depan ruangannya,sehingga ia bisa bergerak bebas dan leluasa tanpa pengawasan.

Donghae hanya bisa menatap Yoonmi dengan tatapan sedih. Sejak tadi ia hanya bisa mematung di sana,memandang Yoonmi yang seolah-olah tidka bisa dijangkaunya. Memang benar Yoonmi ada di hadapannya dan ia bisa masuk ke ruangan itu kapan saja,tetapi yeoja itu sendiri yang membuat selaput perlindungan yang tidak akan bisa ditembusnya.

Perlahan Yoonmi mengambil map-map yang berada di atas mejanya dan dari gerak-geriknya,Donghae tahu yeoja itu akan keluar ruangan. Donghae bersiap-siap untuk menahan tangan yeoja itu ketika ia melangkah di hadapannya.

Yoonmi berusaha tidak melihat kehadiran Donghae di sampingnya. Ia berusaha memantapkan langkahnya,tidak peduli dengan kehadiran seseorang yang sudah membuka kembali daerah terlarang dalam hatinya.

Grab!

Donghae menarik tangan Yoonmi,sehingga kedua berhadapan. Saling melemparkan tatapan satu sama lain. Donghae bisa melihat garisan sendu di mata Yoonmi,membuatnya semakin merasa aneh,seperti ada sesuatu yang menusuk di hatinya melihat adanya garis kesedihan itu. Yoonmi tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Donghae pada lengannya. Waktu seolah berhenti berputar di area mereka,membuat keduanya hanya mematung.

Yoonmi tersadar siapa yang ada di hadapannya.Bukan… Bukan dia sosok yang dirindukan hatinya. Bukan dia yang tadi berada dalam imajinasi liarnya. Yoonmi sudah  tertipu oleh perasaannya sendiri. Bagaimana mungkin ia membayangkan Donghae adalah sosok yang selama ini ditunggunya?

“ Mi..mianhae..” Donghae berkata dengan nada gugup,setelah melihat Yoonmi menepis tangannya kasar dan meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Donghae tidak berusaha mengejar Yoonmi dan meminta maaf padanya. Ia tahu semua itu akan sia-sia,Yoonmi butuh waktu sendiri.

***

        Foto dirinya dan Minho!

Saena mematung di depan mading sekolah,terlihat jelas di papan berisi kreasi siswa itu sebuah foto atau mungkin jauh lebih baik dibilang sebuah poster dengan ukuran cukup besar,mungkin ukurannya sama dengan poster film bioskop,bahkan lengkap dengan keterangan di bawahnya.

Poster itu berisi foto Saena dan Minho yang sedang berpelukan dan dibawahnya terdapat keterangan berisi sinopsis. Darah Saena mendidih saat melihat keterangan yang terdapat pada bagian bawah foto itu. Kalimat-kalimat biasa tetapi untuknya bermakna menyindir. Menyakitkan..

Kisah cinta mengharukan antara pangeran tampan dan itik buruk rupa yang bermimpi menjadi angsa putih. Entah memang kebaikan hati sang pangeran ataukah tatapan sang itik yang mengiba yang membuat sang pangeran meluluhkan hatinya?!

Saksikan di bioskop-bioskop kesayangan anda!

        Kalimat itulah yang tertera di dalam poster itu. Dengan gerakan cepat,diambilnya poster yang menurutnya menjijikan itu dan merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil,kemudian Saena membuangnya. Entah sudah berapa banyak yang melihat poster itu,Saena tidak perduli yang ia tahu,ia tidak ingin lebih banyak orang lagi yang membaca poster itu.

Setelah berpikir semuanya akan baik-baik saja,Saena berlari masuk ke dalam kelasnya. Waktu istirahat sudah berakhir 10 menit yang lalu,ia terpaksa terlambat masuk ke dalam kelas karena harus mengerjakan tugas di perpustakaan,akibatnya ia sama sekali tidak tahu siapa yang menempel poster itu dan apa maksud kalimat sindiran yang terdapat di bagian bawahnya.

Saena memang sudah bisa menebak siapa pelakunya,hanya saja ia perlu membuktikan kebenarannya sebelum menuduh.

“ Masuk..”

“ Mianhaeyo,seongsaenim,saya harus mengerjakan tugas di perpustakaan tadi.” Saena membungkukkan badannya di hadapan guru yang sudah memulai pelajarannya.

“ Baiklah,silahkan duduk.” Saena bernafas lega saat Kwon Seongsaenim menyuruhnya untuk segera duduk,ia berpikir mungkin saja ia akan dihukum tapi kenyataannya ia tidak mendapat teguran sama sekali.

Saena merasakan aura di sekitarnya menjadi panas dan aneh. Seperti banyak pasangan mata yang menghujam ke arahnya. Saena melirik ke arah kiri dan kanannya,tatapan para yeoja di kelas itu menandakan amarah yang tertahan dan itu semua ditujukan padanya.

Saena menyadari arti tatapan mereka semua. Itu pasti karena poster yang tertempel di mading yang dilihatnya beberapa saat lalu. Poster yang memuakkan,Saena merasa sedikit lega karena ia sudah menghancurkan benda itu.Walaupun saat jam istirahat tadi,sudah banyak orang yang berlalu lalang di tempat strategis itu.

Saena duduk di kursinya dan mengambil bukunya dari dalam tas saat disadarinya Minra menyenggol lengannya,mengisyaratkan sesuatu. Minra membisikkan sesuatu di telinga Saena sambil menyerahkan secarik kertas yang sudah dilipat menjadi dua bagian.Saena membuka kertas itu dan terbelalak melihat isinya. Sama persis dengan yang dilihatnya di mading,hanya saja ini dalam ukuran lebih kecil.

“ Siapa yang menyebarkan semua ini?” Saena berkata dengan suara sekecil mungkin.

“ Entahlah.. sebelum istirahat kita pelajaran olahraga dan setelah kita semua selesai berganti pakaian,kertas itu sudah ada di meja masing-masing.” Minra berkata sambil melirik ke arah Kwon seongsaenim yang sudah menjelaskan apa yang ditulisnya.

Di sudut ruangan Yoonhee mengembangkan senyumannya saat melihat Saena sedikit panik melihat apa yang sudah tersebar luas di sekolah. Yoonhee merasa puas melihat gurat kecemasan yang tergambar jelas di wajah Saena.

        Apa setelah ini kau masih bisa tersenyum,Saena?

***

        Saena sama sekali tidak bisa tenang menikmati jam istirahat keduanya. Tatapan semua orang tampak mengintimidasinya,membuatnya merasa sedikit takut. Tanpa diberitahu pun,Saena sudah bisa menduga siapa yang sudah membuat poster dan brosur itu dan menyebarkannya,sehingga hampir seluruh penjuru sekolah tahu.

Saena menghampiri meja orang yang diyakini adalah seseorang di balik semuanya. Seseorang yang harusnya tidak menjadi masalah baginya,tetapi sekarang adalah ancaman terbesarnya.

“ Apa maksudmu melakukan semua ini?” Saena menggebrak meja Yoonhee dengan kasar,menunjukkan tatapan kemarahan samar dari bola matanya.

“ Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Jangan pernah macam-macam atau kau akan merasakan akibatnya.” Yoonhee tersenyum penuh kemenangan pada yeoja yang berada di hadapannya.

“ Jadi ini caranya?” Saena bertanya dengan nada yang sedikit diturunkan. Ia tidak ingin menimbulkan sensasi karena bertengkar dengan Yoonhee,baginya sudah cukup dengan beredarnya foto dirinya dan Minho,ia pasti akan dibenci oleh seluruh fans-fans adiknya itu.

“ Aku memang lebih licik daripadamu,Saena,jadi berhati-hatilah!” Yoonhee bangkit dari kursinya dan berjalan melewati Saena,sengaja menabrak bahunya,sebagai pertanda kalau ia serius dengan apa yang sudah dikatakannya.

Yoonhee berjalan menyusuri lorong-lorong kelas yang sedikit ramai karena jam istirahat yang baru di mulai beberapa saat lalu. Tangan seseorang menariknya dan memaksanya pergi ke suatu tempat.

“ Apa yang kau inginkan?”Yoonhee menatap namja yang berada di hadapannya dengan pandangan jengah.

“ Aku sudah melakukan apa yang kau mau,Yoonhee..”

“ Lalu?” Yoonhee memandang namja yang berada di depannya dengan sambil menaikkan sebelah alisnya.

“ Biasanya memang aku tidak pernah mengharapkan apapun darimu,Yoonhee,tapi bolehkah aku meminta satu hal saja?”

“ Apa?”

“ Aku ingin memelukmu. Agar aku tahu kalau aku masih punya kesempatan.” namja itu berkata dengan suara pelan.

“  Bukankah sudah aku bi..” kata-kata Yoonhee terputus oleh satu dekapan pada tubuhnya. Namja itu memeluk Yoonhee dalam diam dan kehangatan yang berbeda. Membuat Yoonhee terdiam dan membiarkan namja itu tetap memeluknya,seakan ada sesuatu yang menahannya untuk tetap diam dalam pelukan namja itu.

Minho mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju udara di depannya. Emosinya bercampur aduk saat ini. Perasaan marah,kecewa,sedih,dan lainnya bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Suatu perasaan terbakar,akibat melihat sesuatu yang terlalu menyakitkan baginya.

Pemandangan seorang yeoja dan namja yang sedang berpelukan,sesuatu hal yang biasa bagi orang lain. Tetapi tidak baginya,itu diakibatkan suatu rasa abstrak yang tumbuh perlahan di hatinya,sebelum rasa itu berkembang lebih jauh,Minho harus menghentikannya. Karena apa yang disebutnya puncak rasa itu,sudah menjadi terlalu jauh.

“ Yoonhee.. kenapa kau lakukan ini padaku?”

Minho melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu. Kejadian tadi pagi saat Yoonhee mengelus pipi namja itu masih terekam jelas di otaknya,sekarang gambaran hubungan khusus antara Yoonhee dan namja itu makin jelas dengan pelukan mereka berdua. Yoonhee kelihatan nyaman di dalam pelukan namja itu.

“ Apa ini berarti aku kalah?” Minho mengucapkan kata-katanya dengan sangat pelan sehingga hanya bisa didengarnya oleh dirinya sendiri.

***

        “ Pertama kalinya aku melihat wajahmu seperti ini.” Minho hanya tersenyum kecil mendengar gurauan teman-temannya. Saat ini hati dan pikirannya sedang kacau. Ia sama sekali tidak bisa berpikir apa-apa setelah hatinya terluka.

“ Apa ini semua karena semua brosur yang beredar tentangmu? Sudahlah,gossip itu akan reda sendirinya.” Minho menoleh saat mendengar kata-kata asing yang masuk ke telinganya. Brosur?

“ Brosur? Tentangku?” Minho bertanya dengan nada bingung. Sedangkan teman-temannya yang berada di sekelilingnya hanya melemparkan tatapan ‘apakah kau benar-benar tidak tahu’ padanya.

“ Lihatlah ini!Bukankah ini fotomu dengan seorang yeoja? Siapa dia?” Minho tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat isi foto itu.Foto dirinya dan Saena yang sedang berpelukan.

Tanpa berkata apa-apa lagi,Minho melangkahkan kakinya menuju ke luar kelas,padahal guru yang mengajar sudah berdiri di depan pintu.Yang ia pikirkan hanyalah keinginan untuk menenangkan dirinya.

Minho melangkah ke arah atap sekolah,satu tempat yang mungkin bisa menyimpan semua kegundahan hatinya,meredakan setiap luapan amarah yang siap menyembur ke permukaan. Minho menghentikan langkahnya saat menginjak sebuah kertas. Kertas yang sama yang beberapa saat lalu dilihatnya. Sebuah brosur berisi fotonya dan kakaknya yang sedang berpelukan dengan beberapa kalimat di bawahnya.

Emosi yang tadinya mati-matian ditahan olehnya perlahan menyembur ke permukaan. Hari ini sudah terlalu banyak kejadian yang mengaduk-ngaduk emosinya,membuatnya harus mati-matian menahan luapan perasaan yang kian mencekiknya. Minho meremas kertas yang berada di genggamannya dan kembali melangkahkan kakinya ke tempat itu.

“ Serahkan dia padaku,aku akan menjaganya lebih baik darimu.” Seorang namja melihat ke arah Minho yang sedang menaiki tangga menuju atap sekolah dengan tatapn yang sulit aiartikan. Tatapan iri dan dengki yang menjadi satu.

***

        Setiap detik waktu yang terlewati terasa sangat menyedihkan bagi Yoonmi. Ia tidak bisa lagi berpikir dengan jernih karena satu makhlukyang berlawanan jenis dengannya. Makhluk itu dengan segala pesona keindahannya berhasil membuat Yoonmi berhenti memikirkan hal lain selain memikirkan dia.

Yoonmi hanya memandang kosong ke arah tumpukkan kertas-kertas yang harusnya sudah terisi gambaran-gambaran fantasinya. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah wajah Donghae. Sulit sekali untuk melupakan setiap jengkal wajah namja itu dalam pikirannya. Yoonmi berusaha mengontrol setiap detakan jantungnya yang semakin liar,karena terus-menerus memikirkan namja itu.

Yoonmi merindukan sentuhan ringan namja itu di tubuhnya,sama seperti beberapa saat lalu,saat di mana Donghae menahan tangannya. Yoonmi berharap Donghae mangatakan sesuatu kepadanya. Penjelasan dari apa yang sudah dilakukannya semalam,Yoonmi menunggu kata-kata itu keluar dari mulut Donghae.

Tetapi yang berhasil didapatinya hanyalah kata-kata maaf,kata-kata yang sama sekali tidak diharapkannya. Yoonmi menyadari arti tatapan mata Donghae padanya,suatu tatapan penyesalan,Yoonmi tidak mengerti apa yang membuatnya marah pada namja itu,ia hanya berusaha mengekpresikan apa yang selama ini tersembunyi oleh sikap angkuhnya.

Sekelebat banyangan sosok itu muncul lagi di hadapannya,kali ini begitu jelas,bukan hanya sebuah bayangan yang tadi muncul dan tenggelam begitu saja dalam benaknya. Donghae lagi-lagi muncul di depan ruang kerjanya. Terlihat jelas dari kaca bening itu,sosok Donghae yang berdiri agak jauh di depan ruang kerjanya.

Sebegitu besarkan rasa egonya sehingga hanya bisa mematung dan menganggap Donghae tidak ada? Sebegitu besarkah rasa trauma menghimpit hidupnya dan merusak setiap jengkal kebahagiaan yang harusnya didapatkannya?

Donghae sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya hari ini,sudah berkali-kali ia melangkahkan kakinya ke ruangan yeoja itu. Yeoja yang sudah berhasil memporak-porandakan hidupnya. Ia bahkan melempar semua berkas-berkas pekerjaannya,yang untungnya ruangan kerjanya tertutup oleh dinding yang tidak transparan,sehingga tidak seorang pun bisa melihat apa yang sudah dilakukannya.

Ia hanya ingin memastikan Yoonmi berada dalam keadaan baik-baik saja. Donghae bahkan hampir menertawakan kalimatnya. Baik-baik saja? Atas apa yang dilakukannya semalam? Donghae sama sekali tidak tahu apa yang membuat Yoonmi benar-benar menutup dirinya dari semua hal. Mungkin terlalu cepat untuk mengatakan cinta pada orang yang bahkan tidak benar-benar dikenalnya.

Rasa itu tumbuh begitu cepat,bahkan di saat kau tidak menyadari rasa itu benar-benar telah ada dalam dirimu sebelumnya. Terlalu terlambat menyadarinya dan kau sudah kehilangan dia yang begitu rapuh di dalam genggamanmu. Sekarang yang bisa dilakukan hanyalah melihat sosoknya yang sudah tak lagi bisa kau jangkau.

Tanpa disadari olehnya,kakinya sudah melangkah menuju pintu itu,bersiap membukanya. Saat mata Yoonmi bertubrukkan dengan matanya. Bola mata mereka saling memancarkan kata-kata penuh hasrat satu sama lain. Membekukan setiap atmosfer,menghentikan waktu yang sedang berputar. Terdiam pada tempat yang sama,mengucapkan setiap kata yang tidak bisa diucapkan lewat bibir.

“ Apakah aku menggangumu?” Donghae memberanikan diri berbicara,tidak tahan dengan suasana canggung yang terjadi.

“ Aniya..” Yoonmi menjawab dengan suara tercekat di tenggorokan,entah mengapa rasanya ia tidak sanggup lagi menahan gejolak rasa aneh yang tumbuh perlahan di dadanya. Ia ingin melupakan segala kejadian itu,memaafkan Donghae dan kembali tenang seperti biasa. Tetapi ada sebagian kecil hatinya menolak melakukan semua itu,ia kembali bersikap dingin pada Donghae.

“ Aku hanya ingin..”

“ Kalau kau ingin meminta maaf dariku,aku sudah memaafkanmu,Donghae-ssi,jadi sekarang kau dan aku sama-sama merasa lega.” Yoonmi berkata sebelum Donghae mengutarakan keinginannya. Yoonmi bisa merasakan tatapan kecewa Donghae karena jawabannya yang begitu ketus dan dingin,tetapi Yoonmi tidak bisa tidak peduli dengan itu semua,sebagian hatinya hancur saat harus berkata seperti itu.

“ Oh baiklah,aku rasa kau masih butuh waktu sendirian,Yoonmi,mianhae telah menganggumu,aku akan menjelaskan semuanya ketika kau sudah lebih baik.”

Setelah Donghae berlalu pergi dari ruangan kerjanya. Yoonmi memandang kepergiannya dengan tatapan sendu yang sama. Tatapan kehilangan yang sama.

“ Aku merasa lebih baik jika kau di sini,Donghae.”

***

        Saena melangkah menuju gerbang sekolah dengan perasaan campur aduk,ia tahu sejak tadi sudah berpuluh-puluh pasang mata yang melihat ke arahnya dan memandangnya dengan puluhan ekspresi berbeda,namun terlihat ekspresi marah dan terluka pada setiap tatapan itu.

“ Ikut kami!” Beberapa yeoja menarik Saena dan memawanya ke satu tempat. Saena hanya bisa pasrah mengikuti keinginan pada yeoja itu. Ia tidak berteriak ataupun berusaha melepaskan cengkraman tangan yeoja-yeoja itu di bagian-bagian tubuhnya.

“ Kau tahu Saena,kau tidak pantas untuknya!” Salah seorang dari mereka menatap Saena dengan tatapn sarah dengan kebencian. Beberapa orang lainnya hanya diam dan menatap Saena dengan pandangan yang sama,terluka.

“ A… aku tahu.. dan aku memang benar-benar tidak punya hubungan apa-apa dengannya.” Saena hanya bisa menjawab dengan suara kecil,sebagai manusia normal,rasa takut sudah terlanjur menguasai pikirannya.

“ KAU! Jangan berbohong lagi pada kami!”

“ Aku tidak berbohong..” Saena mulai tersudut dan menitikkan air matanya. Ia bukanlah manusia lemah yang gampang menitikkan air mata,tetapi ini semua terlalu menyakitkan baginya.

“ INI SEMUA BUKTINYA..” Berlembar-lembar kertas berhamburan di wajahnya. Membuat yeoja itu menunduk semakin dalam.

“ KAU! DASAR MURAHAN!”

“KAU MEMPUNYAI HUBUNGAN KHUSUS DENGANNYA KAN?”

“ Kenapa kau tidak menjawab?!”

Saena tidak merasakan ada satupun bagian tubuhnya yang dilukai oleh mereka. Mereka memang tidak bermain kontak fisik dengannya,tetapi mereka sudah berhasil menekan batin Saena,membuat yeoja itu meneteskan air matanya semakin deras.

“ Aku…” Entah kekuatan dari mana Saena bangkit dari posisinya yang tersudut. Ia berhasil menatap balik beberapa pasang mata yang sedari tadi menghujam ke arahnya.

“ Apakah kalian pikir hanya kalian yang menderita?! Kalian tidak berpikir kalau Minho sama menderitanya dengan kalian!” Saena berteriak dengan kekuatan yang masih dipunyainya. Rasa sesak yang sejak tadi menghantuinya sudah terlanjur hilang entah kemana. Saena hanya berpikir semua yeoja yang berada di hadapannya dan yeoja lainnya yang berada di luar sana,yang sama-sama mengidolakan Minho,hanyalah makhluk egois yang tidak pernah memikirkan kebahagiaan Minho.

Saena tahu semua idola-idola adiknya itu,perlahan membuat Minho sedikit stress. Hampir setiap hari mereka mengganggu Minho,tidak memberikan sedikit ruang privasi bagi namja itu. Saena,yang merupakan kakak Minho,walaupun kenyataan itu tidak diketahui oleh siapapun,kecuali Minra, mendapatkan perlakuan buruk hanya karena memeluk adiknya sendiri.

Bagaimana jika mereka semua tahu yeoja yang dicintai Minho adalah Yoonhee? Seseorang yang sudah menyebarkan ini semua dan membuat Saena diperlakukan seperti itu. Saena sama sekali tidak rela,Minho jatuh ke pelukan yeoja itu. Yoonhee sama sekali tidak pantas untuk Minho. Sebesar apapun rasa cinta Minho untuk Yoonhee,Saena tetap tidak akan merelakan Minho.

Semuanya terdiam memandang Saena yang menatap mereka dengan tatapan amarahnya. Tatapan yang selama ini tidak pernah dikeluarkannya pada situasi apapun,bahkan saat bertengkar dengan Yoonhee dulu,ia sama sekali tidak mengeluarkan tatapan mengerikan itu.

“ Apa kau pernah mempunyai seseorang yang begitu kau idolakan sehingga kau nyaris mati kalau tidak bisa melihatnya?” Saena menoleh saat mendapati satu suara yang mendominasi suasana hening itu. Salah satu dari yeoja itu berkata dengan suara pelan,tidak sarat emosi.

“ Maafkan kami.. Aku tahu kami terlalu egois dan ingin memiliki Minho,tidak memperdulikan keadaannya yang terganggu dan menderita karena kami. Jika Minho memang takdirmu,terimalah,Saena,dia adalah namja paling sempurna yang aku tahu.”

“ Aku… Aku memang tidak mempunyai hubungan dengannya. Kalau kalian ingin mendapatkannya,tolonglah dengan cara yang wajar,jangan sakiti dia.” Saena melemparkan senyumannya.

“ Tentu saja,Saena”

“ Mereka semua bodoh!” Yoonmi menggertakkan giginya kesal melihat rencananya yang gagal. Ia hanya bisa menatap beberapa yeoja yang tadinya ia kira akan mengeroyok Saena,tetapi nyatanya dengan mudah mempercayai omongan Saena.

***

        Yoonhee melangkah dengan kesal menuju mobilnya. Ia sama sekali tidak percaya semua yang sudah direncanakannya akan menemui kegagalan seperti ini. Kalau sudah seperti ini,ia yang akan bertindak sendirian,ia tidak akan melibatkan para figuran yang tadinya ia pikir bisa dengan mudah dipancing emosinya,tetapi malah sekarang ia yang emosi melihat semua itu.

Yoonhee merasakan ada tangan seseorang yang menariknya dan memeluknya dari belakang. Tanpa diberitahu siapa orang itu, Yoonhee sudah bisa menebak orang itu adalah orang yang sama yang meminta dipeluk olehnya beberapa saat lalu.

“ Jonghyun-ah,lepaskan aku!” Yoonhee berusaha melepaskan pelukan namja itu ditubuhnya. Namun karena tenanga namja itu lebih besar daripada tenaganya,otomatis Yoonhee tidak bisa menyingkirkan tubuh namja itu 1 cm pun dari tubuhnya.

“ Kenapa kau tidak pernah belajar,Yoonhee?”  Jonghyun memundurkan tubuhnya,memerikan sedikit ruang bagi Yoonhee untuk bergerak menghadap ke arahnya.

“ Belajar untuk?”

“ Mencintaiku..”

“ Kau terlalu naïf,Jonghyun,bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku tidak bisa bersamamu?”

“ Aku hanya mencintaimu.. apa yang bisa membuatmu mencintaiku? Bukankah aku sudah mengabulkan semua permintaanmu?” Jonghyun menatap Yoonhee dengan tatapan memohon. Tetapi tatapan sendunya tidak bisa membuat Yoonhee luluh.

“ Aku tidak bisa mencintaimu,mianhae..”

“ Apa karena namja itu?”

Yoonhee menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Jonghyun yang masih memandangnya dengan tatapan yang sama.

“ Kalau ia memang penghalang antara kau dan aku,aku akan mencelakainya,Yoonhee.” Kalimat itu merupakan petir bagi Yoonhee,ia sama sekali tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir seseorang yang selama ini selalu diremehkannya.

“ Apa maksudmu?”

“ Sudah cukup aku berpura-pura tidak tahu apa-apa,selama ini aku hanya berpura-pura lemah di hadapanmu,Yoonhee,itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu! Tetapi tidak sekarang,saat ada namja lain yang masuk ke dalam hidupmu,aku harus tahu seberapa besar pesona dia sehingga kau bisa bertekuk lutut di hadapannya.”

“ Minho.. aku mencintainya karena…. karena… tidak ada alasan khusus kenapa aku mencintainya dan aku jamin kau harus berhadapan denganku,Jonghyun,kalau kau berani menyentuhnya.”

***

        “ Minho,kau ada masalah?” Saena memperatikan lekuk wajah adiknya yang terlihat aneh,seseorang yang biasanya hanya memakai topeng saat di sekolah,tetapi di rumah ia dengan bebas tertawa dan bisa melepas topengnya,sekarang tidak lebih dari sekedar patung yang tidak bisa berbicara.

“ Noona,gwechanayo?”

“ Ne,nan gwechana,ada apa?”

“ Aku sudah melihat poster dan brosur-brosur itu,noona,dan aku berjanji akan menemukan pelakunya,kau tenang saja..”

“ Jadi kau uring-uringan hanya karena masalah sepele seperti itu? Kau ini lucu,Minho-ah.. Kau tidak lihat kalau aku baik-baik saja?”

“ Ne…hehehehehe…sebenarnya ada masalah lain,noona,tapi aku tidak ingin menceritakannya sekarang,aku sedang sakit kepala.”

“ Biar aku tebak.. soal cinta begitu?”

“ Kau tahu apa yang ada dipikiranku tanpa aku harus menceritakannya,noona.”

“ Yoonhee? apa yang dia lakukan?”

“ Mianhae,noona,aku rasa aku sedang tidak ingin membicarakannya.”

Minho melangkahkan kakinya menuju ke kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya sama sekali tidak tenang,ia selalu memikirkan Yoonhee. Entah sejauh apa yeoja itu sudah masuk ke dalam pikirannya. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan kalau ia akan kehilangan Yoonhee.

Saena memandang pintu kamar Minho yang tertutup dengan pandangan menerawang,ia sama sekali tidak ingin menyakiti adiknya,hanya saja ia tidak mampu membayangkan Minho berada pada tangan yang salah. Ia sama sekali tidak percaya Yoonhee bisa menyayangi Minho sepenuh hati.

Saena mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia bisa merasakan kalau ponselnua bergetar,menandakan ada pesan masuk. Saena membuka pesan-pesan itu dan sedetik kemudia wajahnya berubah menjadi pucat.

Kau tahu kau tidak pantas untuknya!

Apa kau tidak mempunyai cermin di rumah? Lihat wajahmu!

Bahkan tidak ada bagian tubuhmu yang bisa menggambarkan kau itu menarik!

Saena membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselnya dari nomor yang berbeda-beda. Saena hanya menghela nafas melihat kata-kata penghinaan dan sindiran  yang ditulis orang-orang itu. Saena tahu,tidak semudah itu membebaskan diri dari para idola adiknya,mereka tidak akan mencelakai Saena secara fisik,tetapi akan menekannya dengan cara seperti ini.

“ Mereka tidak tahu,mereka berhadapan dengan siapa..”

***

        “ Ada apa kau tiba-tiba mengajakku ke sini?” Saena tidak bisa menyembunyikan rasa herannya saat Minho membawanya ke tempat ice skating.

“ Aku hanya perlu menjernihkan pikiranku.”

“ Kau pikir aku yeojachingumu?” Saena mendelik marah pada Minho,sedangkan Minho hanya tersenyum dengan wajah tidak bersalah.

“ Aku hanya kepikiran untuk mengajakmu,noona,lagipula kau tidak ada kerjaan.”

“ Kau harus membayarku untuk paksaanmu ini.”

“ Ne,tenang saja,aku akan mentraktirmu ice cream 3 porsi.”

“ Aigooo.. kau pikir aku bisa disuap hanya dengan hal seperti itu?” Saena mengerucutkan bibirnya,pertanda kesal.

“ Baiklah baik,benda apa yang sedang kau inginkan?”

“ Bagaimana kalau kau membelikanku stock cemilan untuk 1 tahun?” Saena memandang Minho dengan mata berbinar-binar.

“ Kau ingin membuatku bangkrut,noona?”

“ Aniya… Ayolah,Minhoo..kau ini pelit sekali.” Saena tertawa sambil menyenggol pelan lengan Minho.

Bruk!

Saena merasakan sakit di beberapa tempat di bagian tubuhnya saat ia menabrak seseorang. Orang yang ditabraknya pun sama-sama terjatuh dan meringis menahan sakit. Ia baru saja akan memarahi seseorang yang sudah menabraknya,saat ia menyadari siapa orang itu.

“ Saena..” Saena berdiri dan menatap yeoja yang berada di depannya. Saena mengenali yeoja itu,dan senyuman jahil mengembang di bibirnya.

“ Minho-ah,noonamu ini harus ke toilet sebentar,kau main ice skate bersama Minra noona saja ya..” Setelah berkata begitu,Saena melangkahkan kakinya keluar dari arena ice skate sambil tersenyum kecil.

“ Sepertinya kau sedang merasa senang.” Saena mengangkat wajahnya yang menunduk karena menyembunyikan tawanya.

“ Donghae oppa.” Saena bisa merasakan wajahnya memanas saat ia melihat seseorang yang secara mendadak mendapatkan perhatian khusus di hatinya.

“ Apa yang oppa lakukan di sini?”

“ Memangnya tempat ice skate hanya untuk anak muda?” Donghae tertawa saat menyadari raut wajah Saena menjadi semakin aneh. Antara malu dan gugup yang bercampur menjadi satu.

“ Jadi?” Minra tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena Saena tiba-tiba menghilang dan meninggalkannya hanya berdua dengan seseorang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“ Kita akan bermain ice skate berdua? Bukankah begitu,noona?”

***

        Yoonhee sedang membaca majalah,saat di dengarnya suara deru mobil perlahan memasuki garasi rumahnya. Tanpa diberitahu,Yoonhee sudah bisa menduga kalau appanya sudah pulang dari luar negeri. Yoonhee menaruh majalah yang tadi masih dipegangnya ke atas meja dan berjalan menuju pintu.

Tidak dipungkirinya,ia merindukan sosok appanya,sudah hampir 3 bulan ia tidak bertemu appanya,dan ia tahu hari ini appanya akan pulang. Walaupun sejak kecil,Yoonhee tidak pernah dekat dengan appanya,bahkan sang appa bersikap dingin ketika berhadapan dengan Yoonhee,tetapi yeoja itu tidak akan pernah menyerah untuk meluluhkan hati appanya.

“ Appa kau baru pulang?” Yoonhee membungkukkan badannya dan tersenyum pada appanya yang baru saja masuk ke dalam rumah. Namja paruh baya itu tidak memperdulikan sapaan Yoonhee padanya,ia hanya memandang sekilas yeoja itu kemudian melangkah masuk ke ruang tengah.

“Appa,apakah kau sudah makan? Mau kusiapkan makan malam untukmu?” Yoonhee tidak menyerah begitu saja dengan perlakuan dingin yang baru saja diterimanya.

“Kau tidak usah repot-repot mengurusiku..”

Jawaban itu seakan mengantam Yoonhee. Perlakuan dingin dan jawaban ketus hampir selalu diterimanya dari sosok appa yang selama ini transparan baginya. Yoonhee hanya menunduk saat appanya berjalan melewatinya dan menaiki tangga.

“ APPA! Chamkanman..” Yoonhee berteriak saat appanya sudah menaiki anak tangga kedua.

“ Ada apa?”

“ Sampai kapan kau akan menganggapku tidak ada?” tanpa disadarinya air mata mulai mengalir di pipi Yoonhee.

Perasaan sakit karena harus menahan rasa rindunya selama bertrahun-tahun. Perasaan iri terhadap teman-temannya yang mendapat perlakuan hangat dari appa mereka. Perhatian dan kasih sayang yang cukup dari figure seorang ayah,itulah yang Yoonhee harapkan dari sosok appanya. Sedangkan semua rasa itu tidak pernah didapatkannya.

“ Aku adalah anakmu,appa,tapi kau tidak pernah menganggapku benar-benar ada.”

“ Kau..” appa Yoonhee tidak melanjutkan perkataannya,ia hanya terdiam beberapa saat,berusaha menyusun kata-kata yang tepat.

“ Apa aku pernah melakukan kesalahan? Apa aku tidak pantas disebut anakmu?”

“ Kau bukan anakku..”

Satu pernyataan dingin keluar begitu saja dari mulut appanya,membuat Yoonhee terdiam beberapa saat mencerna semua kata-kata itu. Sulit untuk dipercayai oleh pendengarannya,kata-kata yang begitu menyakitkan keluar dengan mudahnya dari satu sosok yang selama ini selalu ada diimpiannya.

“ APPA! Apa yang kau lakukan?!” Yoonmi berlari dan memeluk Yoonhee yang masih mematung dengan pandangan kosong,menatap sang appa yang masih terdiam di posisinya.

“ Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,Yoonmi,anak itu tidak bisa terus-terusan membenciku,aku memang bukan appanya,kau tahu itu,Yoonmi.”

“ Appa…” Yoonmi memandang Yoonhee yang masih berada di dalam pelukannya. Tatapan shock masih tercetak jelas di wajahnya.

“ Apa maksudnya semua ini,eonni? A..appa?”

“ Yoonhee,kau harus tahu kalau Yoonmi adalah ibu kandungmu,dia bukan eonnimu,tapi dia adalah ommamu.” Setelah berkata seperti itu,Tuan Kim melangkahkan kakinya menaiki tangga. Tidak peduli pada akibat yang akan ditimbulkan setelah ia mengatakan hal itu.

“ Sampai kapan appa tidak bisa menerima kehadiran Yoonhee? Dia putriku,appa!” Yoonmi berteriak dan berharap appanya bisa mendengar apa yang selama ini selalu menggangu pikirannya.

“ Yoonmi,appa sangat menyayangimu,semua keinginanmu sudah appa turuti dan appa sadar kau telah tumbuh menjadi yeoja yang manja,sekarang Yoonhee adalah tanggunganmu,Yoonmi,dia sudah besar untuk tahu segalanya.”

“ Eonni? omma?”

Yoonmi hanya terdiam,ia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari putrinya sendiri. Ini adalah hal yang sudah ditunggunya sejak lama,diakui oleh anaknya sendiri,hanya saja ia tidak akan menyangka hal ini terjadi dengan begitu cepat dan bisa menimbulkan efek negatif bagi Yoonhee.

“ Yoonmi eonni,jawab aku!”

“ Yoonhee,mulai sekarang,kau panggil aku dengan sebutan omma.”

***

        “ Tadi kau datang ke sini dengan siapa?” Donghae menatap Saena dengan tatapan geli karena yeoja itu tampak kesulitan berjalan di area yang dipenuhi es.

“ Ahh..tadi kau bertanya apa,oppa?” Saena berpegangan pada besi-besi penyangga area ice skate itu. Sebenarnya ia sama sekali tidak bisa bermain ice skating,berjalan di atas es saja,ia sudah menemui kesulitan. Tetapi Minho memaksanya dan membujuknya tadi,sehingga Saena luluh dan mau memenuhi permintaan adiknya itu.

“ Kau ke sini dengan siapa?”

“ Ah,dengan dongsaengku.Oppa sendirian?”

“ Lalu di mana dongsaengmu?

“ Dia sedang bermain juga di area ini,tetapi aku tidak tahu dia ada di mana,aku sengaja meninggalkannya dengan temanku.”

“ Aku tahu kau pasti berniat menjodohkan dongsaengmu itu dengan temanmu kan?”

“ Seperti yang sudah kau pikirkan,oppa,tapi aku tidak berniat menjodohkan,aku hanya ingin mendekatkan mereka.”

“ Itu sama saja..” Donghae mengacak rambut Saena. Entah mengapa ia merasa kalau yeoja itu lucu sekali,dan ia seperti menemukan sosok seorang adik dalam diri Saena.

“ Oppa,apa yang kau lakukan?” Saena merapikan rambutnya yang sedikit kusut karena ulah Donghae.

“ Kau itu lucu sekali,Saena..”

“ ARGGHHH..” Saena kehilangan keseimbangannya dan terjatuh,membuat Donghae tidak bisa lagi menahan tawanya.

Wajah Saena merah padam karen posisinya saat terjatuh tadi,benar-benar memalukan. Apalagi tempat ice skate saat itu sedang ramai sekali,beberapa orang bahkan sempat menoleh dan tertawa kecil saat melihat Saena,sedangkan Donghae masih menertawakan ekspresi Saena saat terjatuh tadi.

“ Oppa,kau jahat sekali!” Saena berusaha menjaga keseimbangannya dengan berpegangan pada besi-besi penyangga. Ia tidak ingin mendapat malu dua kali karena harus terjatuh lagi dengan posisi lebih memalukan dari posisi tadi.

“ Kau tidak bisa bermain ice skate?”

Saena mengangguk ragu-ragu,takut Donghae akan menertawakannya lagi dan membuat semua orang di area yang luas ini,ikut memberikan perhatian mereka kepada Saena.

“ Mianhae karena aku sudah menertawakanmu,kau itu memang benar-benar lucu,Saena,aku lepas kontrol dan akhirnya malah menertawakanmu bukannya malah membantumu.”

“ Gwechana,oppa,aku memang pantas ditertawakan.”

“ Jadi,kau marah padaku?”

“ Aniya..”

“ Bagaimana kalau aku mengajarimu bermain ice skate?”

***

“Ada di mana Saena? Kenapa dia lama sekali?” Minra melirik ke arah pintu masuk area ice skate dengan pandangan was-was.

“ Molla,mungkin saja noonaku yang aneh itu pulang ke rumah.”

“MWOO??” Minra hanya bisa menatap Minho dengan tatapan terkejut. Sebenarnya hubungan kakak adik macam apa yang sedang mereka jalani. Minho terlihat tenang saat Saena tidak juga kembali padahal sudah 1 jam ia dan Minho bermain di area itu.

“ Ada apa,noona?”

“ Apa kau tidak takut terjadi sesuatu dengan,Saena? Kau ini bagaimana?! Kau adalah dongsaengnya,tetapi kau terlihat tidak peduli dengan noonamu sendiri.”

“ Aku sudah mengenal Saena noona dari kecil,aku sudah tahu kebiasaannya,tadi aku yang memaksa dia ke sini,mungkin saja dia merasa terpaksa dan jenuh,akhirnya satu keberuntungan menghampirinya,kau tiba-tiba datang dan ia bisa menitipkan aku padamu.”

“ Aigoooo.. kau pikir aku baby sitter?”

“ Apakah aku terlihat seperti bayi?” Minho menatap Minra dengan tatapan khasnya,tatapan yang berhasil membuat semua yeoja meleleh,termasuk Minra,kalau ia tidak cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“ A…aniya,aku tidak berkata seperti itu.”

Suasana canggung perlahan menguasai mereka berdua,memang sejak awal tidak banyak bahan pembicaraan diantara mereka,sehingga hanyalah suasana dingin dan canggung yang terjadi diantara mereka. Minra harus mati-matian meredam detak jantungnya yang tidak karuan karena berdekatan dengan idolanya.

“ Kau tidak perlu terlalu canggung denganku,noona,aku adalah anak yang menyenangkan,bukankah begitu?” Minho melemparkan senyuman  jahilnya pada Minra.

Minra cukup terkejut karena sikap Minho yang ditunjukkan olehnya di sekolah dan yang baru saja ditunjukkannya pada Minra adalah dua sikap yang berbeda. Berarti apa yang dikatakan Saena selama ini benar,kalau Minho adalah sesosok anak yang ramah dan terkadang jahil,bukan sosok dingin dan tersembunyi,satu hal yang selama ini selalu menutupi semuanya.

“ Kata siapa?”

“ Ayolah,noona,akui saja kalau aku ini akan yang menyenangkan.”

“ Mungkin benar,tapi aku sama sekali tidak menangkap adanya gelagat anak baik dalam dirimu.” setelah berkata seperti itu,Minra berlari ke tengah area ice skate meninggalkan Minho yang masih terpana dengan kata-kata yang keluar dari mulut yeoja itu.

“ Noona,chamkanman..” Minho menyusul Minra yang sudah terlanjur hilang diantara banyaknya orang,tetapi dengan cerdiknya Minho bisa dengan cepat mengenali sosok yeoja itu.

Kesedihannya perlahan menghilang,memang masih ada rasa sakit akibat kejadian-kejadian yang dilihatnya tadi siang,dan itu semua masih menganggu pikirannya,tetapi semua itu telah terobati dan ia sudah bisa tertawa lepas seperti sebelumnya. Sebuah tawa yang selama ini hanya bisa ditunjukkannya pada Saena,karena Saena,satu-satunya orang yang berhasil membuanya tertawa,tetapi sekarang,ada orang lain yang mampu membuatnya tertawa lepas,seolah tidak ada beban.

***

        “ Sudah cukup tertawanya,oppa?” Saena berusaha menyembunyikan tatapan kesalnya.

Donghae berusaha mengontrol tawanya,sehingga hanya berupa senyuman kecil karena melihat ekpresi Saena yang terlihat kesal. Sudah hampir satu setengah jam,Donghae mengajari Saena bermain ice skate,tetapi sepertinya yeoja itu bukan tipe orang yang mudah untuk mengerti apa yang sudah diajarkan dengan cepat.

Berkali-kali Saena harus terjatuh karena keseimbangannya yang buruk,dan selama Saena jatuh,Donghae tertawa karena berbagai ekspresi lucu yang ditimbulkan yeoja itu. Donghae sama sekali tidak merasa kesal karena Saena tidak bisa mengikuti apa yang sudah diajarkannya dengan cepat,harus mencoba berkali-kali sampai ia benar-benar bisa.

Donghae menyukai semangat yang dipancarkan yeoja itu,sesuatu yang membuatnya menjadi ikut bersemangat mengajari Saena. Yeoja itu tidak mengeluh sakit ataupun lelah,walaupun Donghae tahu,ia sudah terjatuh berkali-kali dan mungkin saja menimbulkan memar.

“ Mianhae,Saena,kau tahu aku tidak bisa mengontol tawaku saat melihatmu terjatuh.”

“ Alasan yang sama untuk kesekian kalinya,oppa?”

“ Andai aku membawa cermin,kau harus melihat ekspresimu sendiri saat jatuh.”

“ Apakah aku begitu memalukan saat jatuh?”

“ Aniya,mungkin kau merasa malu,tapi jatuh saat belajar ice skate adalah hal yang biasa sama seperti jatuh saat kau belajar berjalan.”

Saena hanya mendengus kecil saat mendengar penjelasan Donghae. Sebenarnya ia tidak malu pada puluhan pasang mata yang akan menontonnya ketika terjatuh,ia malu pada Donghae yang sudah mengajarkannya dengan sangat sabar,tetapi ia sama sekali tidak bisa menguasainya dengan baik.

Ia merasa sangat bodoh pada namja yang menurutnya seperti malaikat itu,cahayanya terlalu menyilaukan mata. Membuat Saena harus terus-menerus menundukkan kepalanya,melindungi matanya dari pancaran sinar Donghae yang begitu menusuk.

“ Oppa,kau belum menjawab pertanyaanku.”

“ Pertanyaan apa?”

“ Sedang apa kau di sini sendirian?”

“ Bukankah aku sudah menjawab pertanyaan itu tadi? Memangnya arena ice skate hanya untuk anak muda saja?”

Saena hanya bisa mengerutkan keningnya,bingung karena pertanyaannya hanya dijawab oleh pertanyaan lagi. Donghae yang mengerti arti tatapan bingung Saena,hanya melemparkan senyuman tipis,ia sudah lelah karena terlalu banyak tertawa dengan yeoja itu. Ternyata keputusannya pergi ke tempat ini adalah keputusan yang tepat karena ia bisa melupakan masalahnya sejenak.

“ Bukan itu maksudku,oppa. Apa kau terbiasa ke sini dan bermain sendirian? Apa enaknya main ice skate sendiri,bukannya malah kau akan merasa semakin jenuh?”

“ Biasanya aku ke sini dengan teman-temanku,namun hari ini mereka semua tidak ada yang bisa menemaniku.”

“ Oppa,kau ada masalah?”

Donghae menoleh,sedikit merasa heran karena Saena bisa menebak apa yang dirasakannya,walaupun sejak tadi ia berusaha tersenyum menyembunyikan semua gejolak perasaannya.

“ Hahahahahahaha… aniya..” Donghae berusaha tertawa,walaupun suara tawanya itu terdengar berbeda,karena ia tidak sedang benar-benar ingin tertawa.

“ Kau berbohong,oppa.”

“ Ne?”

“ Raut wajahmu mengatakan kalau kau ada masalah,tapi kau berusaha menutupinya dengan suara tawamu.”

“ Ternyata aku tidak berbakat untuk berbohong.”

“ Aku bangga karena sudah bisa membuatmu tertawa,oppa. Sejak awal kau memang sudah mempunyai beban di pikiranmu.”

“ Ne,aku berterima kasih padamu karena hal itu. Aku memang mempunyai masalah yang cukup rumit.”

“ Kau mau berbagi denganku,oppa?”

Donghae terdiam dan itu membuat Saena sadar telah memasuki wilayah pribadi milik namja itu. Suasana canggung langsung menyelimuti keduanya. Membuat Saena menyesal telah menanyakan sesuatu yang agak sensitif bagi Donghae. Masalah pribadinya.

“ Mianhae..”

“ Gwechana,aku tahu kalau kau peduli padaku,Saena. Tetapi aku tidak bisa membicarakan masalahku denganmu,bukan karena aku tidak percaya padamu,tapi masalah ini sedikit membuatku stress dan aku tidak ingin membawa suasana tidak mengenakkan diantara kita.”

“ Ne,oppa,aku harap kau merasa lebih baik.”

“ Kau adalah yeoja yang menyenangkan,Saena,biasakah nanti kita bertemu lagi?”

Saena terdiam karena pertanyaan Donghae. Donghae ingin bertemu lagi dengannya,Saena tersenyum saat membayangkan saat-saat menyenangkan yang akan dilaluinya lagi bersama Donghae.

“ Ne,oppa,tentu saja.”

***

        “Aku tahu apa yang sudah kau rencanakan,noona,kenapa kau meninggalkanku berdua dengan Minra noona ?”

“ Aku sudah bilang padamu,Minho-ah,aku tidak ingin bermain ice skate,jadi kebetulan sekali ada Minra di sana dan aku menitipkanmu padanya.” Saena melangkah mendahului Minho menuju pintu masuk rumah mereka.

“ Oh ya? Jadi kau tidak mau bermain ice skate?” Minho bertanya dengan nada yang mencurigakan.

“ Ne,memangnya ada apa?” Saena menangkap ada sesuatu yang Minho ketahui tentang dirinya.

“ Aku melihat seseorang yang mirip denganmu tadi,dia sedang bersama seorang namja dan sepertinya namja itu sedang mengajarinya bermain ice skate,dan dari caranya terjatuh,aku yakin itu adalah kau,noona.”

“ A..aku…”wajah Saena kembali memanas karena mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Saat-saat menyenangkannya bersama Donghae.

“ Ahh noona,aku tidak menyangka ternyata kau meninggalkanku bersama Minra noona,agar kau bisa bersama namja itu. Siapa dia?”

“ Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat sedang keluar dari arena ice skate. Dia adalah Tuan.Lee,pengusaha yang aku wawancarai waktu itu.”

“ Dia masih muda sekali. Aku kira ia seumuran dengan appa.”

“ Aku juga tidak menyangka kalau ia semuda itu.”

“ Noona kau tidak menjalin hubungan dengan seorang ahjussi kan?”

“ Tentu saja tidak. Apa yang kau pikirkan saat bertanya seperti itu?”

***

        Kebebasan belum sepenuhnya menghampiri Saena. Keesokan paginya saat di sekolah berbagai hal mulai menimpa dirinya. Buku tugasnya menghilang entah kemana,mungkin saja ada yang menyembunyikannya,sehingga Saena harus dihukum. Ada yang menaruh surat berdarah pada laci mejanya dan berbagai macam hal lainnya.

Saena tidak yakin bukan Yoonhee yang melakukan semuanya. Yeoja itu memang tidak kelihatan dari pagi,ia tidak masuk tanpa izin. Tetapi ia bisa saja menyuruh teman-temannya yang melakukan semua itu untuk mengganggu Saena. Saena sudah berusaha untuk tidak peduli pada semua perlakuan yang diterimanya hari ini,tetapi tetap saja telinganya terasa panas akibat sindiran-sindiran yang dilontarkan padanya.

“ Masih benari menampakkan wajah rupanya.”

“ Ia tidak sadar kalau ia sama sekali tidak diterima di sini.”

“ Sungguh yeoja yang tidak tahu malu,ia tidak sadar dengan dirinya sendiri.”

“ Aneh sekali,apa yeoja itu tidak mempunyai rasa sadar diri?”

Cukup sudah! Saena sama sekali tidak tahan lagi dengan semua sindiran itu. Ia mengambil tasnya dan melangkah dengan cepat menuju pintu kelasnya. Saat ia akan melewati pintu kelasnya,salah seorang yeoja yang berada di dekat pintu masuk mengahalangi langkahnya. Membuat Saena menabrak sedikit bagian tubuh yeoja itu.

“ Ada apa?”

“ Kau mau melarikan diri?”

“ Aniya,aku pikir aku tidak ada urusan denganmu.”

“ Memang tidak,tapi dengan kami semua.” Yeoja itu memanggil beberapa temannya dan mereka semua membawa Saena ke satu tempat.

***

       Minho berusaha menahan emosinya mati-matian saat melihat kondisi noonanya yang cukup mengenaskan. Memang penderitaan fisik yang dialaminya tidak parah,hanya beberapa cakaran dan lecet kecil,tetapi entah apa yang sudah dikatakan oleh para yeija itu pada Saena sehingga membuat yeoja itu menjadi ketakutan.

Minho memandang Saena yang sedang tertidur. Beberapa saat lalu ia baru bisa menenangkan noonanya yang terus-terusan menangis, entah apa yang membuatnya begitu sedih dan menderita. Minho merasa miris melihat keadaan noonanya,apalagi ini semua karena dirinya. Karena semua poster dan brosur tentang dirinya dan Saena,semua ini karena kesalahannya. Minho tidak akan bisa berhenti menyalahkan dirinya karena memang itu semua adalah kesalahannya.

“ Noona,apa kau begitu menderita karena aku?”

Tok Tok Tok

Minho menoleh saat pintu kamar Saena diketuk,ia melangkahkan kakinya dengan berat hati untuk membuka pintu itu.

“ Ada apa?” Minho bertanya saat mengetahui salah satu pelayan di rumahnya sedang berdiri di depan pintu.

“ Ada yang mencari anda,tuan muda.”

Minho melangkahkan kakinya menuju ruang tamu,di mana tamu yang tidak diundang dan datang pada saat yang tidak tepat itu,menunggu. Minho bisa melihat siapa yang datang adalah seorang namja,karena siluet tubuh orang itu yang membelakanginya.

“ Nugu-ya?”

Orang itu berbalik dan Minho bisa melihat wajah orang itu dengan jelas,hanya saja ia sama sekali tidak mengenal namja itu.

“ Kau mungkin tidak mengenalku,Minho,tapi aku tahu apa yang kau butuhkan.”

“ Katakan siapa kau dan apa maumu.”

“ Aku tahu siapa yang sudah membuat noonamu seperti itu.”

“ Kau..”

“ Aku punya buktinya kalau kau mau tahu.”

“ Apa?”

“ Kau ingin tahu pelakunya?”

Minho menatap namja misterius yang tiba-tiba datang padanya dan mengatakan kalau ia mempunyai bukti seseorang yang telah menyebarkan brosur dan poster sehingga membuat noonya yang paling disayanginya celaka.

“ Siapa orangnya?”

“ Berjanjilah satu hal padaku.”

“ Apa?”

“ Jangan dekati Yoonhee!”

Minho terkejut dengan apa yang sesungguhnya diinginkan namja itu. Menggunakan bukti pelaku seseorang yang membuat Saena celaka untuk membuatnya menjauhi Yoonhee,sayangnya itu tidak akan terjadi.

“ Tidak akan! Kau tidak bisa membuatku menjauhinya.”

“ Kau yakin,Minho-ah? Kalau kau tahu siapa pelakunya kau akan membenci yeoja ini selamanya,benar begitu?”

“ Katakan apa maumu sebenarnya,kalau kau menginginkan aku menjauhi Yoonhee,jawabannya adala tidak.”

“ Sayang sekali Minho,yeoja yang kau cintai itu adalah pelakunya.”

***

To Be Continued

7 thoughts on “Whether I Hate You or Not (Chapter 6)

  1. aku tau siapa namja yang tak di undang itu ^^
    wah aku udah nunggu lama ,eh baru keluar …
    Suka suka , author buat penasaran aja ni
    cepet di post ya chap selanjutnya :)
    keep writing ^^

  2. waaah part nya udah dipost toh.. saya udh lama nungguinnya thor.. hhehe.. saya smakin penasaran sma part slanjutnya.. hayoo diterusin yah thor…

  3. Woaaaaaaahhh akhirnya ketauan jg yoonhae … Kira” min ho ngejauhin yoonhae g ??? Mending sm minra aja drpd yoonhae …..

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s