Dreams Come True [Part 2]

Title : Dreams Come True

Author : Lusy Zanita (@lusyznt)

Main Cast :

Jung Hye-Jin (OC)

Cho Kyu Hyun

Choi Si Won

Yesung / Kim Jong Woon

Other Cast :

Choi Soo Young

Genre : Drama, Romance

Rating : PG-15

Type : Chaptered [in progress]

Length : 2093 words

Special thanks to Poster : http://rarastory.wordpress.com/ -Rara-

 Disclaimer: This story is ©Lusy Zanita 2012, and cast on my story belong to God.

Previous Part : Teaser

NOT FOR SILENT RIDERS!

***

~Part 2~

Seorang gadis tampak sedang menempelkan ponsel di telinganya, berbicara serius dengan lawan bicaranya di sebrang sana. Ketara sekali mereka sedang membicarakan hal-hal yang penting, karena sang gadis sesekali menekankan beberapa kata untuk meyakinkan si lawan bicara.

“Can I trust you for this?—” Suara gadis itu terdengar sedikit

“—Yes, I would give everything what do you want if you can—”

“Hye-Jin-ah? Kau di dalam?” Tanya sebuah suara memotong ucapan sang gadis, kemudian disusul oleh sebuah kepala yang muncul di ambang pintu, Siwon rupanya. Hye-Jin terlonjak kaget karena tak sigap, gadis itu terlihat sedikit panik.

“Eh, i-iya, aku di sini. Ke-kenapa?” Hye-Jin berbicara dengan nada gugup bercampur aneh. Siwon menautkan kedua alisnya, merasa heran dengan sikap Hye-Jin. Sepertinya pemuda itu hanya memanggilnya pelan, kenapa bisa sampai sekaget itu?

“Kau sedang apa di ruangan gelap seperti ini?” tanya Siwon.

“A-aku sedang me-mencari sesuatu, ya, sedang mencari sesuatu. Ada apa kau kemari?”

Siwon masih sedikit merasa aneh dengan sikap Hye-Jin, tapi pemuda itu abaikan yang kemudian berkata, “Dari tadi Sooyoung memanggilmu, dia bilang dia ingin memakan dakjuk buatanmu.”

“Ah, begitu. Baiklah, kau pergi duluan saja, nanti aku menyusul, ya?”

“Emm, baiklah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama, kau tahu sendiri bagaimana Sooyoung jika sedang merajuk,” ucap Siwon yang kemudian melangkah pergi setelah mendapat sebuah anggukan dari Hye-Jin.

“Fiuh, hampir saja.”

**

“Mana?” tanya Sooyoung cepat saat melihat Siwon berjalan menuju arahnya.

“Katanya sebentar lagi dia menyusul,” jawab Siwon santai kemudian menjatuhkan tubuhnya dengan posisi senyaman mungkin di sofa yang bersebrangan dengan Sooyoung. Pria itu lalu menyalakan TV menghiraukan Sooyoung yang mengerucutkan bibirnya.

“Aku lapar!”

“Tapi kau sudah makan sejak dua jam yang lalu,” ujar Siwon tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.

“Kau hanya ingin makan dakjuk saja? Tidak ada yang lain lagi?” tanya Hye-Jin yang tiba-tiba sudah berada di ruang TV bersama mereka. Gadis itu tampak mengenakan jaket yang membungkus tubuhnya.

“Kau mau kemana?” tanya Sooyoung menghiraukan pertanyaan Hye-Jin beberapa waktu lalu.

““Kau ingin makan dakjuk buatanku bukan? Persediaan bahan makanan sudah habis, jadi aku berniat membeli bahan-bahannya di supermarket,” jawab Hye-Jin.

“Tidak usah—”

“Tidak apa-apa, aku juga sekalian ingin membeli persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan. Kau tahu kan, bibi Lee sedang mengambil cuti. Lagi pula tuan rumah macam apa aku ini melihat tamunya kelaparan.”

Dakjuk saja?” ulang Hye-Jin sekali lagi. Sooyoung mengangguk.

“Aku antar!” Siwon akhirnya membuka suara, pria itu segera menyambar kunci mobilnya lalu berjalan mendahului Hye-Jin.

“Dasar! Aku saja belum menyetujuinya,” cibir Hye-Jin.

“Kau jaga rumah sebentar ya,” lanjut Hye-Jin yang kemudian berjalan menyusul Siwon yang ternyata sudah lebih dulu duduk di mobilnya.

“Benar tak perlu kutemani ke dalam?” tanya Siwon meyakinkan karena Hye-Jin memintanya menunggu di mobil. Hye-Jin mengangguk.

“Benar, kau tunggu di sini saja. Aku tak akan lama,” ucap Hye-Jin. Lalu gadis itu bergegas keluar mobil dan berlari-lari kecil memasuki supermarket.

“Sudah, sudah, sudah. Berarti tinggal daging,” gumam Hye-Jin pada dirinya sendiri. Gadis itu berjalan menuju counter yang menjual daging.

“Hye-Jin?” tegur sebuah suara. Hye-Jin memalingkan wajah mencari sosok yang menegurnya.

“Ah! Kau yang waktu itu kan?”

**

“Kenapa kalian lama sekali sih? Aku sampai mengantuk menunggu kalian berdua. Cacing-cacing di perutku juga tak bisa diam, mereka menjerit meminta untuk diisi,” cecar Sooyoung tanpa henti saat Hye-Jin dan Siwon baru saja menginjakkan kaki di dalam rumah.

Siwon mengacuhkan ucapan Sooyoung lalu memilih melenggang pergi menuju ruang TV.

“Maaf, aku tadi bertemu dengan seseorang di supermarket. Kami mengobrol, dan aku jadi lupa waktu,” jawab Hye-Jin kemudian terkekeh. Gadis itu sekarang sedang disibukan oleh beberapa peralatan dapur dan juga bahan makanan.

“Siapa?” tanya Sooyoung yang mengikuti Hye-Jin ke dapur.

“Bukan siapa-siapa, kalau kau kuberi tahu pun mungkin tak mengenalnya. Karena aku juga baru mengenalnya tempo hari.”

Hye-Jin masih berkutat dengan segala tetek bengek peralatan dapur, sedangkan Sooyoung lebih memilih membolak-balikan majalah fashion di tangannya. Keheningan pun tercipta. Hanya suara TV yang dinyalakan Siwon-lah penyelamat keheningan itu, walau tidak sepenuhnya membantu. Omong-omong soal Siwon, sejak Hye-Jin membicarakan ‘seseorang’ yang ditemuinya di supermarket, pria itu menjadi orang yang lebih pendiam, walaupun biasanya memang pendiam tapi ini tidak seperti biasanya. Bahkan sampai makan malam usai dia masih tak melontarkan sepatah kata apapun. Hanya ucapan terima kasih lalu laki-laki itu pamit untuk pulang ke rumahnya. Dasar aneh.

“Sepupumu itu kenapa sih? Dari tadi dia hanya diam tak mengeluarkan kalimat apapun, kalau pun berbicara dia hanya berterima kasih lalu pamit pulang. Dasar aneh,” ujar Hye-Jin.

Kini, kedua gadis itu sedang berada di kamar Hye-Jin, menatap langit-langit kamar Hye-Jin yang dihiasi oleh taburan bintang buatan yang dapat menyala di malam hari. Sooyoung memang selama beberapa hari ini menginap di rumah Hye-Jin untuk menemaninya selama pembantu rumah itu mengambil cuti. Dan jika siang hari Siwon juga ikut bersama dengan mereka, pria itu baru akan pulang jika sudah malam.

Sooyoung menoleh mengamati wajah Hye-Jin, lalu terkekeh pelan, “Mana aku tahu, aku bukan ibunya.”

“Justru kau lebih mengenal tentang diri Siwon dari pada ibunya sendiri kalau kau ingin tahu Choi Sooyoung,” ujar Hye-Jin sinis. Sooyoung tertawa, kemudian ia berhenti tertawa setelah gadis itu melihat ekspresi Hye-Jin yang tampak menerawang jauh ke atas.

“Sebenarnya aku sudah lama ingin bertanya tentang ini padamu, tapi belum sempat menemukan waktu yang tepat.” Sooyoung memecah kesunyian itu. Hye-Jin menolehkan kepalanya menghadap Sooyoung, memusatkan perhatiannya kepada gadis itu.

“Tentang apa?”

“Tentang perihal kau yang kembali ke Korea secepat ini.”

Mata Hye-Jin terbelalak. Ia tahu, suatu saat Sooyoung pasti akan menanyakan hal itu. Perihal tentang kembalinya ke Korea. Tapi ia tak menyangka akan terjadi saat ini. Haruskah ia bercerita segalanya?

Hye-Jin menghela nafas sejenak, “Ya, aku tahu kau pasti akan menanyakannya. Baiklah, sepertinya aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu mulai sekarang. Tapi bersiaplah, mungkin ini adalah cerita paling panjang yang pernah kau dengar.”

Mereka—Hye-Jin dan Sooyoung, menghabiskan malam mereka dengan bercerita tentang perihal kembalinya Hye-Jin ke Korea. Karena sebelum ini, saat perpisahan SMP dulu Hye-Jin pernah mengatakan pada Sooyoung yang notebane adalah sahabatnya saat jaman SMP kalau gadis itu mungkin akan menetap di New York mengikuti kedua orang tuanya, kalau pun kembali mungkin sepuluh tahun kemudian Hye-Jin baru kembali ke Korea.

“Kau tahu bukan, saat aku masih Sekolah Dasar aku mengalami kecelakaan dan hilang ingatan secara permanen? Jangan bilang kau lupa akan hal itu, aku sudah bercerita panjang lebar padamu saat itu,” ujar Hye-Jin.

“Tentu saja aku masih mengingatnya! Aku bukan kau yang mempunyai ingatan sangat buruk nona,” balas Sooyoung. Hye-Jin kembali menghela nafas, lalu kembali melanjutkan ceritanya.

“Setelah mengalami kecelakaan aku seperti orang linglung untuk beberapa bulan, aku tidak mengingat apapun, bahkan namaku sendiri tidak tahu. Tapi ibu memberitahu namaku adalah Jung Hye-Jin, saat aku bertanya kenapa namaku mengikuti marga ibu bukan ayah, ibu menjawab karena ayahku adalah seorang Warga Negara Asing jadinya aku diikutkan ke dalam marganya saja. Aku percaya itu. Dan ketika aku menjadi siswa tingkat akhir di masa SMP, ayah dituntut bekerja di New York, negara asalnya, untuk mengurusi perusahaan yang di sana dalam waktu yang cukup lama. Itu alasanku saat itu memberitahumu kalau mungkin aku tak akan kembali ke Korea. Sampai beberapa bulan yang lalu aku menemukan sebuah foto di album usang milik ibu, dan detik itu juga ibu akhirnya menceritakan segalanya. Segala faktanya bahwa aku ternyata bukan anak kandung dari ayahku sekarang, melainkan anak dari orang yang berada di foto tersebut. Di foto itu terpampang jelas sebuah keluarga kecil, di mana ada ayah kandungku, ibu, aku kecil dan juga bocah laki-laki yang kira-kira dua tiga tahun di atasku. Pantas saja selama ini jika aku bertanya kenapa tidak ada foto sewaktu aku kecil bersama ayah dan ibu, ibuku hanya tersenyum menanggapi.” Hye-Jin sedikit memberi jeda pada ceritanya, dadanya terasa sesak. Kembali mengingat ayah yang selama ini begitu menyayanginya ternyata bukan ayah kandungnya.

“Tunggu dulu, kau tadi bilang bocah laki-laki? Siapa?” tanya Sooyoung tak sabar.

“Aku belum menyelesaikan ceritaku Choi Sooyoung-ssi,” ucap Hye-Jin sabar.

“Oh, oke oke. Maaf.” Sooyoung nyengir tanpa dosa.

Hye-Jin menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkannya kembali, “Dan saat aku bertanya siapa ayah kandungku, ibu tak mau memberitahunya. Dia bilang orang itu tak pantas aku ketahui, dia hanya pria brengsek yang membuang anak dan istrinya demi memelihara wanita malam yang sering mabuk-mabukan di club. Aku tak berani bertanya macam-macam lagi tentang ayah kandungku setelahnya, melihat ibu dipenuhi dengan emosi saat mengucapkannya aku mengerti bagaimana tersiksanya kami dulu. Dan mengenai bocah laki-laki itu, dia… adalah kakak laki-lakiku—”

“Kakak laki-laki mu?!!” teriak Sooyoung memotong cerita Hye-Jin lagi.

“Hei! Kau tak perlu berteriak seperti itu! Mau dilanjutkan tidak?”

“Eh—iya iya, maaf.” Hye-Jin memutar bola matanya bosan. Anak itu benar-benar, pikir Hye-Jin.

“Dia adalah kakak laki-lakiku, entah para hakimnya yang buta atau apa. Hak asuh kakak laki-lakiku jatuh pada ayah, dan hak asuh atas aku jatuh pada ibu. Hidup kami mulai terpisah saat itu, dan dari informasi yang ibu dapat, ayah dan juga kakak pindah ke Mokpo. Sedangkan kami hidup di Seoul, kami juga kehilangan kontak dengan kakak karena ayah melarangnya berhubungan dengan kami, walau begitu ibu masih mengawasi gerak-gerik ayah jika sampai menyakiti kakakku. Satu tahun kemudian ibu menikah dengan ayahku sekarang, sampai saat aku mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan, ibu memutuskan untuk tidak memberitahu perihal keluarga kami dulu karena melihatku sering sakit-sakitan sebab terlalu sering memikirkan kakak laki-lakiku. Aku hidup normal setelahnya, dan beberapa bulan semenjak kami pindah ke New York, ibu mendapat kabar bahwa ayah kandungku meninggal karena overdosis. Segera saja ibu terbang ke Korea untuk menjemput kakakku, tapi setelah sampai di Korea, menurut para tetangga yang ada di sana ternyata kakakku telah diadopsi oleh keluarga baik hati yang mau menampungnya kemudian pergi ke luar kota. Ibu kehilangan jejaknya sejak saat itu, dan aku kembali ke sini karena aku juga ingin mencari dia. Aku… sungguh menginginkan keluarga yang utuh, walau tidak bersama ayah kandungku. Aku yakin kami akan bahagia jika berkumpul bersama kembali. Tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan jejaknya sama sekali, bahkan wajahnya pun aku tak ingat karena amnesia ini. Aku dan juga ibu hanya mengandalkan informasi seadanya untuk mencarinya, kami hampir menyerah karena para detektif yang kami sewa tak kunjung mendapatkan hasil. Mereka bilang data yang kami berikan terlalu ambigu sehingga sulit melacaknya. Aku… aku…” Hye-Jin tak menyelesaikan kalimat terakhirnya karena tergantikan oleh isakan kecil yang keluar dari bibirnya.

“Ssshhh, sudahlah, jangan menangis. Aku yakin kau akan menemukannya segera,” ucap Sooyoung menenangkan sembari mengelus-elus puncak kepala Hye-Jin. Hye-Jin mulai sedikit tenang setelah itu.

“Terima kasih,” bisik Hye-Jin. Walau hanya sebuah bisikan, Sooyoung dapat mendengarnya dengan jelas. Gadis itu tersenyum.

“Nah, karena kau sudah selesai bercerita sebaiknya kita tidur sekarang, sudah dini hari. Kau benar-benar membuktikan ucapanmu kalau ini adalah cerita terpanjang yang—eh, sudah tidur? Cepat sekali anak ini, sebaiknya aku juga tidur sekarang. Selamat malam ne, Jung Hye-Jin.” Kalimat terakhir yang diucapkan Sooyoung adalah kalimat terakhir sebelum gadis itu juga ikut terbang ke alam mimpinya.

***

“Hye-Jin-ssi, kau dipanggil oleh Lee Kyosunim. Dia sedang menunggumu di kantornya,” ucap salah seorang teman Hye-Jin.

“Terima kasih Victoria-ssi.” Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu segera melenggang pergi menuju ruangan sang Kyosunim-nya tersayang. Sudah gadis itu duga, Lee Kyosunim pasti menagih tugas essay itu sekarang. Kenapa Lee Kyosunim hobi sekali sih menagih tugas secara mendadak? Kalau Hye-Jin tak tahu tabiat sang guru, pasti gadis itu sudah keteteran menggarap tugas kuliah seperti teman-temannya.

“Permisi,” ucap Hye-Jin sopan. Gadis itu mendengar kalimat yang mempersilahkannya untuk masuk, segera saja dia masuk ke dalam ruangan itu. Dan yang didapatinya adalah dua orang laki-laki sedang berbicara, salah satu di antaranya yang diketahui Hye-Jin sebagai Lee Kyosunim dan satunya tidak Hye-Jin ketahui karena tubuh pria itu membelakanginya.

“Maaf Lee Kyosunim, saya dengar anda memanggil saya.”

“Ya, tentu saja! Kau pasti tahu maksudku kan nona Jung? Letakan saja tugas essay-mu itu di meja, setelah itu kau boleh keluar,” ujar Lee Kyosunim.

Hye-Jin mengangguk paham kemudian melangkah mendekati meja untuk meletakan tugasnya, saat hendak meletakannya, suara seseorang menarik perhatiannya, “Kau lagi,” ucap pria itu.

“Eh-” Hye-Jin menolehkan kepalanya menghadap laki-laki yang tadi.

“KAU!” teriak Hye-Jin sambil menunjuk-nunjuk hidung laki-laki yang di hadapannya, emosi gadis itu kembali memuncak jika mengingat kejadian dua bulan lalu.

“Singkirkan tangan kotormu dari hadapanku, dasar jelek,” cemooh pemuda itu.

“Hei! Jaga bicaramu! Kau pikir kau siapa berani—”

“Ternyata kalian sudah saling kenal ya? Wah, bagus sekali kalau seperti itu,” potong Lee Kyosunim, tampaknya sedikit banyak ekspresi pria tua itu sedikit memancarkan kebahagiaan.

“Tidak!” sanggah keduanya bersamaan.

“Lihat, lihat? Kalian bahkan sangat kompak, aku senang sekali kalian terlihat akrab. Sepertinya kau akan betah di sini Cho Kyuhyun-ssi.”

Oh! Jadi orang menyebalkan seperti dia namanya Cho Kyuhyun, batin Hye-Jin.

“Kau itu jelek,” cemooh Kyuhyun lagi.

Ya! Kau berhenti mencemoohku! Kau pikir kau siapa, hah?” tantang Hye-Jin. Kyuhyun hanya menyeringai, seringaian mengejek.

“Bahkan kalau aku mau, aku bisa menendangmu keluar dari kampus ini,” balas Kyuhyun santai.

“APA?”

-TBC-

.

.

.

Ya halooo?? cepetkan yaa aku update nyaa, hohoo :D

gimana gimana? Setelah berhibernasi, Kyuhyun akhirnya muncul juga ke permukaan #eh

Emm, sorry kalo masih ada typo yang bertebaran and maaf juga kalo masih membosankan seperti chapter yang lalu :3 aku selalu berusaha yang terbaik kok, semoga di next part bisa lebih baik lagi yaa :) kunjungi juga blog pribadiku yaah : http://choisiwonlusyworld.wordpress.com/ :D Last not but least

Like and Komen please?

-your comment is a spirit for me-

13 thoughts on “Dreams Come True [Part 2]

  1. huaaaaaaaaaaaa makin mantap nih!!!!! ahh itu kakak nya hyejin yesung ya ???? *sotoy* keke.. aaahhh entr itu hyejin sma kyu kan ya ?? eh tp entr jangan2 malah kyu lagi yg kakak nya hyejin.. ahhh andwae! haha.. part selanjutnya ditunggu bgt loh.. fighting!

  2. Kakaknya Hyejin?
    Yesung??
    OMO!!!
    Ngga sabar!!!! Chapter 3nya next thor..

    Ah, iya, aku lupa, aku reader baru disini, thanks yaa

  3. penasaran sama kakaknya hyejin .jgnan kakaknya hyejin yesung y
    bistu hyejin jadian siwon terus soo ma kyu
    tapi daebak thor ,ditunggu kelanjutannya

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s