Slow But Sure [chapter 3]

 

Author : @HareTa_mi (www.haretami.wordpress.com)  a.k.a Lee Jung Hee

Casts : Lee Donghae, Jung Sooyeon (Jessica), Lee Junghee, Jung Il Woo (ocs), and others.

Genre: romance, conflict, friendship, tragedy, school life, AU, Family

Rate : PG

Length : chapter

Disclaimer : STORY AND COVER PURE MINE. DO NOT PLAGIARISM AND COPY PASTE. 

previous : chapter 1  chapter 2

ps: annyeong haseyo *bow*. ini dia chapter 3 dan mian author telat ngepost disini karena sbenarnya cerita ini udah beberapa chapter siapnya dari dulu, maklum ini kan ff lama author yang amburadul dulu jadi baru sempat di post sekarang. hehe,
oh ya catat ya Lee Jung Hee itu author sodaraan sama donghae. :p *dicakar fishies. oke, kebayangan cincau #typo cerocos, langsung aja Enjoy reading ya :D

Donghae pov

entah kenapa, seketika aku merasa kurang yakin dengan penglihatanku sendiri…

Bayangkan saja, kenapa bisa jam segini yeoja yang tengah bersemayam dalam mimpiku sekarang juga ada di pemakaman umum ini. 

Setelah melihatnya cukup dekat, ternyata benar. Itu sooyeon. Aku sedikit mengerutkan kening, karena hari masih pukul 9 pagi, dan setahuku ini jam anak sekolahan. Dan yang juga membuatku bingung, adalah dia juga tidak memakai seragam dan kemarin- kemarin ini juga datang ke makam. Apa orang tuanya meninggal dan ia selalu menjenguknya?

Sooyeon pov

“eomma, tttega sekali kepadaku…. WAEYO…. ?!” teriakku. Aku masih tidak habis pikir kenapa eomma bisa- bisanya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan appa. kalau pada akhirnya mereka akan saling menghianati, jadi untuk apa melahirkanku ke dunia ini? Pikirku kecewa sekaligus sedih.

Aku masih terisak memandang geram ke arah batu nisan di makam eomma. Sungguh kekecewaan ini hanya dapat kuungkapkan di hadapan semua orang yang tidak bernyawa di tempat yang tenang ini. namun, sesaat kemudian terdengar bunyi petir menyambar- nyambar di langit- langit bumi yang tadinya masih biru cerah. Setelah itu, hujan pun mulai berjatuhan.

Kemudian, tiba- tiba saja seseorang menghampiriku sambil menutupi kepalaku dengan bajunya *atau lebih tepatnya jasnya! Aku yang masih terisak langsung terkejut dengan apa yang dilakukan orang itu. ku alihkan pandanganku, ternyata… lagi- lagi namja itu.

“waeyo? Kkkenapa kau ada disini….?” ucapku sedikit kaku ditengah-tengah hujan yang membasahi aku dan dirinya.

“ahhh, nanti saja bertanya… yang jelas sekarang ayo kita ke mobilku…hujan akan semakin lebat!” namja itu ternyata membuka jas kerjanya dan menutupi kepalaku.

“yak, kau donghae ssi…. memangnya kau siapa? Nuguseyo?” tanyaku protes.

“ah, sudah kubilang nanti kita bicara. Yang jelas ayo kita pergi dari sini, hujan akan semakin deras!” ujarnya lalu dengan spontan segera menarik tanganku untuk berdiri. Kemudian namja itu merangkulkan tangannya di pundakku sambil tetap menutupi sebagian tubuhku agar tidak terkena air hujan.

**

Dia membawaku ke sebuah caffee, karena kondisiku yang sedikit kedinginan. Setelah meneguk secangkit air teh, kemudian dia mulai menanyaiku. Padahal seharusnya aku yang bertanya.

“kenapa jam segini kau bisa ada di pemakaman?”

“…” aku masih belum bisa menjawab, jujur saja tidak mungkinkan aku menceritakan masalah pribadiku!

“maksudku… apa kau tidak sekolah hari ini?” tanyanya lagi.

“ahni”

“mmm, kalau aku boleh tau, makam siapa yang tadi itu?”

“eomma” jawab ku datar dan masih diliputi perasaan kecewa.

“owh, mianhe… aku bukan bermaksud membuatmu bersedih!”

“lalu kau tinggal sendirian?” tanyanya lagi.

Tapi aku tidak menjawab.

“kau sendiri, kenapa juga bisa ada di pemakaman di waktu yang juga sama denganku?” ujarku mengalihkan pertanyaannya.

“menjenguk appa!”

“hm, berarti eommamu masih hidup?”

“ne..”

“kenapa kau membantuku?” ujarku mengeluarkan semua yang tengah berkecamuk di kepalaku tentang namja bernama donghae ini.

“karena kau butuh!”

“andhwe, aku tidak butuh…”

“karena aku diajarkan oleh orang tuaku untuk saling membantu!”

Perkataannya langsung membuatku terhenyak dengan kenyataan yang kualami. Andai saja orang tuaku tidak bercerai, pasti mereka berdua akan mendidikku sehingga bisa menjadi anak yang baik seperti namja ini.

“maksudku, untuk ukuran orang yang baru kenal, kenapa terlalu baik?”

“…” namja itu tampak memikirkan sesuatu yang tidak kuketahui.

“hatiku memintaku untuk membantumu!”

Apa? Hatinya? Apa ada sesuatu yang dialami hatinya terhadap diriku?

“Ghamsahamnida… kalau begitu aku pamit pulang!”

Seketika namja itu memegangi tanganku untuk tidak pergi.

“diluar masih dingin. Duduklah disini sebentar… “

“waeyo? Aku harus pulang…” tolakku.

“ku mohon, berbincanglah sebentar denganku.. mungkin kita bisa menjadi teman!” ujarnya sedikit kaku.

“teman? Kau? Pertama kau membawaku ke apartemenmu, lalu menabrakku dengan pintu mobilmu, kemudian memaksaku menjadi model, lalu membawaku ke sini Dan sekarang ingin menjadi temanku!! Lalu setelah itu apa?”

Ujarku sedikit ceplos karena hal itu mungkin sangat mustahil.

“memangnya tidak boleh aku berteman dengan gadis SMA. Apa karena aku tidak anak sekolahan lagi, jadi kau tidak mau?”

“kau aneh!” ujarku kemudian segera pergi meninggalkannya.

***

Donghae pov

Apa? Apa yang baru saja aku ucapkan? Kenapa lidah ini mudah saja mengatakan ingin berteman dengannya? Ingin mendekatinya? Bukankah aku harus mendekatinya perlahan-lahan? Langkah demi langkah? Tapi apa?

Entah ia sudah menyadari atau tidak, tapi cepat atau lambat sooyeon pasti menyadari kehadiranku, tujuanku sebenarnya! Oh tuhan…

Dengan langkah sigap akhirnya aku dapat mengikuti bis yang membawa sooyeon, sepertinya menuju ke apartemennya. Aku berusaha mengikutinya tidak terlalu dekat agar dia juga tidak curiga.

**

Ku buka pintu mobil, dan lengkap dengan kacamata untuk penyamaran. Aku mengikuti langkah sooyeon yang seolah- olah cepat menuju pintu apartemennya. Akhirnya, aku melihatnya masuk ke apartemen nomor 170 lantai 10. Aku menguntitnya dari balik dinding dan tanpa sengaja aku melihat password yang ditekannya. ‘******’ (017170)

Seketika aku langsung meraih pulpen dan mencatat kode itu untuk sementara di telapak tanganku. Dan yeoja itu pun masuk tanpa menyadari aku yang menguntitnya sedari tadi. Aku menahan nafas lega. Sangat senang rasanya, lebih dari pentunjuk yang ku dapat hari ini. meskipun diiringi sedikit dengan problem dengan sooyeon. Tapi, dengan password ini, kapanpun aku bisa mendatangi apartemennya, aku pasti bisa mencari tahu lebih detail tentang dirinya dengan masuk ke apartemennya. Yap, semuanya mungkin terjadikan! Impossible is nothing.

*****

Author pov

“apa? Sooyeon di pecat?” ujar yoona sampai suaranya terdengar ke seisi ruangan di SMC.

“…mm.. ne..” jawab salah seorang teman kerjanya.

“waeyo?” ujar taeyeon sedikit emosi.

“entahlah. Kemarin sore dia tampak mengemasi barang- barangnya. Setelah dipecat melalui telefon oleh presdir!”

“ugh, memangnya apa salahnya? Setahuku sooyeon bekerja sangat baik akhir- akhir ini.”

“ne, aku juga sempat heran kenapa? Tapi, kupikir ini terkait masalah lain, mungkin pribadi atau sejenisnya!”

“pribadi ya…” kata yoona mencoba mengingat sesuatu.

Akhirnya yoona dan taeyeon pun langsung sadar dan mungkin sudah tau kenapa sooyeon bisa di pecat. Pasti ada kaitannya dengan ayah sooyeon, presdir di SDS.

Yoona dan taeyeon pun berlalu dan kembali ke pekerjaan mereka. Mungkin hal ini juga jadi pemicu kenapa sooyeon tidak masuk kelas hari ini. mungkin saja dia habis bertengkar dengan appanya.

**

Sooyeon pov

Menangis, menyesal hanya satu kali. Setalah itu aku harus menatap masa depan tanpa masa lalu. Sudah, semuanya sudah berlalu. Tuhan memang menakdirkan kalau pernikahan appa dan eomma memang diakhiri dengan penghianatan. Aku tidak boleh menangis lagi, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Aku tidak boleh roboh hanya karena di pecat dari SMC. Masih banyak kantor di luar sana yang membutuhkanku.

Lupakan SM dan cari yang lebih baik. Aku diriku, appa biarkan dia mengurus perushaannya sendiri. Luka akan ku lupakan meskipun luka tidak akan pernah hilang.

Aku melangkah ke arah pintu otomatis di sebuah perusahaan. Wish star company menerima tenaga kerja di bagian staf manajemen. Setelah melalui tahap- tahap dan tidak lupa wawancara, akhirnya aku dinyatakan lulus dan mulai bekerja besok sehabis pulang sekolah.

Wish star semacam perusahaan yang merekrut aktris dan aktor terkenal. Sedikit berbeda dengan SM. Tapi yang penting bagiku, bagaimana aku bisa bertahan dengan kemampuanku, tanpa orang lain. Aku yang menjalani hidupku, aku yang sendiri yang melakukannya. Terserah aku dianggap anak durhaka, tidak balas jasa, tidak tau terima kasih, yang terpenting ini hidupku. Masalah cinta, itu akan datang sendirinya dan hal itu juga tidak ku permasalahkan.

***

Author pov

“nonna jung, kau tampak tekun sekali bekerja!” sapa Leeteuk sang presdir di wish star.

“oh, presdir… “ sooyeon bangkit berdiri sambil membungkukkan sebagian badannya.

“apa kau setiap hari, dahulunya selalu bekerja sehabis pulang sekolah?” tanya leeteuk yang sepertinya lumayan perhatian dan mungkin jauh lebih baik dari siwon.

“ne presdir..”

“mmm, setelah seminggu melihatmu bekerja, jadi aku melihat ada sisi lain yang harus kau lakukan dengan kemampuanmu itu.” ujar leeteuk mengawali maksudnya.

“jadi, apa kau mau melakukan riset sekaligus tawaran kerja sama kepada perushaan lain?” tanya leeteuk

“mmm, maksudnya?” ujar sooyeon yang masih belum mengerti sepenuhnya.

“begini. Kau lumayan kuat untuk melakukan riset dan promosi. Jadi, super dream star company adalah tujuanmu. Jadi kau mau kan?”

Sooyeon langsung terkesiap dengan tawaran itu. bagaimana mungkin presdir langsung menunjukkan. Setahunya ia hanya bekerja normal- normal saja. Tidak terlalu menampakkan keahlian. Tapi? Masalahnya sekarang, kenapa harus super dream star. Jangan sampai ia di pecat lagi gara- gara tawaran kerja yang sama. Pasti, nanti appanya juga akan menelfon leeteuk dan juga menyuruhnya untuk memecat sooyeon?!

“SDS maksudnya?” tanya sooyeon ragu.

“ne, kau mau kan?” tanya leeteuk berharap.

Tapi sooyeon tampak sangat ragu untuk memutuskan hal itu.

“oke, aku beri kau waktu dua hari untuk memikirkan hal itu. kalau kau mau akan ada bonus. Tapi kalau tidak, tidak masalah!” ujar leeteuk sambil berlalu karena belum tampak keyakinan dari raut muka yang ditampilkan sooyeon.

*****

Setiap detik yang dilalui donghae di SDS terasa begitu indah. Ia membiarkan jari- jarinya menari di atas keyboard sedangkan pikirannya melayang- melayang menghampiri sooyeon. Setiap detik lamunannya terasa begitu indah seperti kenyataan. Ia masih menimbang- nimbang waktu kapankah perasaannya bisa ia ungkapkan? Kapankah sooyeon bisa mengetahui dirinya? Menyadari donghae yang mencintainya? Melihatnya seutuhnya?

Tapi, meskipun rasa cintanya sudah semakin menguap- nguap terhadap sooyeon, tetap saja semuanya butuh proses dan waktu. Dan sekarang ia masih sibuk memecahkan teka- teki tentang keluarga sooyeon. Mungkin lebih tepatnya tentang ayahnya.

“donghae, ada masalah denganmu!” ujar presdir yang memerhatikan donghae akhir- akhir ini sering meminta izin. Ditambah lagi, presdir ilwoo juga waktu itu melihat donghae meminta izin untuk pergi ke makam ayahnya.

Tapi, donghae seperti orang yang hanya tinggal badannya saja, sedangkan pikirannya sudah melayang ke hati seorang yeoja. “donghae, apa kau mendengarku?” ujar presdir sambil melambaikan tangannya di depan muka donghae. Seketika namja itu langsung terkesiap dan terpaksa membalikkan pikirannya ke keadaan semula.

“oh presdir. Mianhe..” ujar donghae sedikit kikuk.

“ada apa denganmu akhir- akhir ini?” tanya presdir.

“ahni. Naega gwhenchana…” ucap donghae memutar fakta.

“lalu, kenapa kau terlalu sering meminta izin dan kinerjamu juga tampak berkurang…?” tanya presdir sedikit curiga.

“ahni. Mianhamnida presdir ssi, aku yakin aku baik- baik saja!”

“hm, beberapa hari yang lalu ku lihat kau mendatangi makam ayahmu. Dan mungkin satu minggu sebelumnya aku juga melihatmu ke pemakaman. Apa kau yakin baik- baik saja?”

Donghae yang mendengarnya langsung terseruak mengetahui presdir yang sepertinya sering melihatnya datang ke makam.

“ne presdir. Aku hanya merindukan ayahku. Diluar itu aku akan berusaha bekerja lebih baik!”

“waktu itu aku juga datang ke makam. Tapi sayangnya anakku tidak mendatangi makam eommanya. Dan satu minggu yang lalu itu, saat aku juga melihatmu, kebetulan anakku juga datang ke makam. Sejak itu, aku sering mencek keadaan ttalku dengan mendatangi makam itu.”

Donghae dengan ekspresi iba langsung berpikir tentang perkataan presdir ilwoo. Ditambah lagi terkait dengan putrinya. Donghae sepertinya juga ingin tau siapa sebenarnya putri presdir yang tidak mau pulang itu?

*****

Sooyeon pov

Setalah berpikir panjang dan mempersiapkan diri, akhirnya ku putuskan menerima tawaran presdi waktu itu. bagaimanapun reaksinya, aku harus siap mempresentasekan pekerjaanku di super dream star. Apapun yang akan dilakukan appa nantinya, biarlah ku urungkan dulu untuk memikirkan hal itu. aku harus bisa mengelakkan masalah pribadi. Dan akan lebih baik jika kulupakan.

Hari ini, setelah menceritakan semua yang terjadi kepada yoona dan taeyeon, akhirnya kedua sahabatku itu dapat memaklumi. Kami pun pulang bersama seperti biasa, tapi sampai di persimpangan terpaksa harus berpisah karena memang kantor kami sudah berbeda.

“tok tok tok…” aku mengetuk pintu diruangan presdir leeteuk.

“ne, silahkan masuk” sahut presdir dari dalam.

“oh sooyeon ah, jadi apa kau sudah memutuskannya?”

“ne. Aku menerima tawaran kerja itu.” ucapku. Dan presdir langsung terlihat senang.

Aku pun mulai dipersiapkan untuk melakukan presentase perihal kesuksenan dalam berbisnis. Pasalnya, super dream star dari dulu memang sering mengundang wish star atau karyawannya untuk saling berbagi.

Setelah semua urusan selesai, jadilah hari senin ini aku siap untuk presentase di SDS. Presdir leeteuk menganjurkanku untuk tetap memakai seragam sekolah. Entah apa alasannya aku tidak tahu. Memang sangat aneh tampaknya!

Author pov

“meeting akan segera dimulai. Dan kali ini kita akan kedatangan tamu dari wish star. Jadi kalian bersikap lah yang baik!” ujar ilwoo memberi instrusksi kepada semua karyawannya di meja meeting.

“presdir, tamunya sudah datang.” ujar seorang sekretaris.

“oh, suruh dia masuk..”

“nonna, silahkan masuk. Semoga anda merasa nyaman bekerja sama dengan kami.” Ucap sekretaris itu mengakhiri instruksinya.

Jung soo yeon melangkah pasti membuka pintu ruang meet itu. jantungnya yang tadinya berdebar- debar sekarang mulai bisa diaturnya. Ia mencoba untuk santai dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Perlahan ia ternyata sudah memasuki ruangan itu, otomatis semua karyawan di SDS mengalihkan pandangan ke arahnya. Soo yeon mencoba tidak menundukkan kepala, namun tetap ia tidak berani menatap karyawan SDS apalagi presdirnya.

“sssssooyeon….” donghae bergumam dengan keterkejutan yang luar biasa tetapi tidak didengar siapapun.

Presdir ilwoo yang melihat lagi kedatangan anaknya dalam urusan pekerjaan tampak curiga. Pasalnya, baru- baru ini anaknya itu baru saja di pecat, dan secepat inikah mendapatkan pekerjaan baru?

Kemudian, pikiran bahwa sooyeon pura- pura sebagai tamu yang akan berpresentase mulai muncul di pikiran ilwoo.

“hm, coba kita lihat siapa yang datang. Jung soo yeon, benarkah ingin berpresentase atau ada maksud lain?” ujar presdir sedikit menyindir.

“ jung ah, jadi inikah keputusanmu? Kau sudah memikirkannya matang- matang?”

Dan donghae tampak yang paling heran di antara semuanya ketika mendengar hal itu.

“mianhe, aku datang kesini dengan cara yang baik. Jadi tolong sebagai presdir anda menghargai tamu. Satu lagi, masalah pribadi jangan sekali- kali dikaitkan dengan pekerjaan!” ujar sooyeon yang mencekam semuanya.

“ckckck, ternyata putriku setelah lama sekali tidak tinggal denganku, sekarang sudah pintar sekali berbicara!”

“mwo? Putriku, ttal ku? Apa sooyeon itu putri presdir? Kkkkenapa aku baru tahu?” donghae membatin.

“dia putri presdir!” bisik eunhyuk ke telinga donghae.

“ah, sooyeon kenapa tidak terpikir olehku selama ini? kenapa bisa- bisanya aku yang lumayan dekat dengan presdir tidak tau tentang hal ini?” batin donghae yang masih sedikit kaget dan menyesali ketidak tahuannya selama ini.

“baiklah. Aku tau kau dari wish star, dan sekarang silahkan memulai presentasemu jung soo yeon!”

Sooyeon pun memulai presentasenya dan menjelaskan dengan rileks setiap kata demi kata yang dimunculkan di layar in- focus. Sekali- kali ia menatap karyawan, namun pandangannya langsung tertumpu ketika melihat donghae juga ada di ruangan meet itu, dan ditambah lagi pandangan mereka juga sering bertemu.

Saat sooyeon berpresentase donghae tampak yang paling serius memerhatikan yeoja itu. bahkan donghae sepertinya juga yang paling antusias karena terus melontarkan pertanyaan.

Sedangkan sooyeon hanya memandang kesal kearah donghae, karena kenapa ia bertemu lagi dengan namja itu. kenapa terlalu banyak kebetulan dalam pertemuannya mereka?

***

Meeting hari itu pun berakhir. Sooyeon dengan segara pamit pulang. Namun, dari belakang donghae tampak mengejar sooyeon. “yak, sooyeon jamkkan,,, jamkkan…” ujar donghae sedikit berteriak.

Sooyeon pun berhenti. “mwo?”

“ayo kuantar pulang. Sudah malam begini, tidak baik yeoja SMA masih naik bis!” tawar donghae.

“hm, memangnya kau siapa?”

“ah ayolah. Bukankah kita sudah sering bertemu. Aku pun juga rela menjadi temanmu meskipun kau tidak menganggapku!” ujar donghae ceplosk. Dan presdir yang ada di lorong ternyata melihat percakapan antara donghae dan sooyeon itu.

“hm, baiklah. Sebelumnya aku minta maaf atas kejadian di caffee waktu itu. tapi, bisakah kau bersikap lebih baik kepadaku?” donghae memohon.

“baiklah. Kalau kau yang mau mengantarkanku, ya sudah!” ucap sooyeon mulai menyerah karena setiap pertemuannya dengan donghae tampak sangat aneh. Namja itu bisa sangat baik, namun kadang membuat sooyeon sangat jengkel.

“nah, kalau begitu ayo!” donghae tampak sangat girang.

Mereka pun masuk ke mobil donghae dan di perjalanan donghae selalu bertanya dan bertanya. Entah sampai kapan puasnya.

“jadi kau putri presdir yang kabur itu?”

“hush, bukan kabur. Tapi aku hanya ingin tinggal sendirian!” ucap sooyeon dan tidak lupa menjitak kepala donghae.

“kenapa dari awal kau tidak bilang?”

“yah, aku kan juga tidak tau kau bekerja di super dream star!” sooyeon membantah.

“eps tunggu dulu. Katamu kau bekerja di SMC, lalu di SDS juga. Dan anehnya saat aku datang ke pemakaman kau juga ada. Dan kau juga sering muncul tiba- tiba di mana aku berada!? Siapa kau sebenarnya? Malaikat atau iblis? Hah tidak mungkin juga ada malaikat jahat sepertimu!”

Donghae langsung tertawa mendengar ucapan polos sooyeon barusan.

“haha, kalau aku memang benar malaikat memangnya kenapa?” ujar donghae di sela- sela tawanya.

“agh cepatlah. Kau harus jujur!”

“senin sampai jumat aku di SDS sedangkan sabtu minggu di SM. Aku ke pemakaman kebetulan juga melihat makam ayahku!” jelas donghae yang sekarang sudah menghentikan tawanya.

“owh… mm, pasti kau tahu sendirikan makam siapa yang ku kunjungi!” ujar sooyeon yang mulai teringat lagi akan kenangan bersama eommanya.

“ne. Tapi, kenapa kau harus tinggal sendirian. Kenapa tidak tinggal bersama presdir? Dia ayahmu!” “aku tahu!”

“geuttae?”

“aku ingin hidup tanpanya!” ujar sooyeon jujur.

“waeyo? Ku sarankan kembalilah ke rumahmu. Presdir tampak sangat kacau tanpamu!”

Sooyeon yang mendengar itu sedikit tersadar akan kesalahan besarnya. Tapi, lukanya tetap belum sembuh sepenuhnya.

“agh, kenapa aku jadi mengatakan ini kepadamu. Kenapa kau jadi menasehati ku?” sooyeon jengkel. Sedangkan donghae hanya tersenyum- senyum maut. Dan tanpa sengaja sooyeon melihat sisi baik dari diri donghae.

“aku hanya ingin kau hidup normal,Tanpa bekerja maksudku!” donghae mulai mengutarakan perhatiannya.

“…” sooyeon termenung. Sebenarnya apa yang dikatakan donghae itu semua benar. Anak SMA mana yang rela bekerja sehabis pulang sekolah? Pasti tidak ada yang menolak jika harus kembali tinggal bersama ayah seorang presiden direktur!

“oke. Kuharap kau mau mempertimbangkan hal itu. tolong pikirkan ayahmu.”

Baru kali ini sooyeon tidak protes di nasehati seorang namja yang lebih tua darinya. Biasanya setiap appa berbicara ia selalu melawannya dengan kata- kata yang lebih tajam. Tapi, donghae mampu menyampaikan kata- kata itu tanpa cekangan dari sooyeon.

*****

“kenapa kau bisa tau aku pulang jam segini?” tanya sooyeon ketika melihat donghae di gerbang sekolahnya.

“ekhem….” terdengar sindiran dari taeyeon. kemudian yoona malah menyiku tangan sooyeon.

“oke, kami duluan. Sepertinya presdir choi sudah menunggu. Selamat menikmati pekerjaan barumu sooyeon…” ujar yoona kemudian segera pergi bersama taeyeon.

“hei, kalian berdua. Kuberi tahu kalau namja iani bukan siapa- siapa. Jangan berpikir yang lain…” teriak sooyeon. Sedangnya yoona dan taeyeon tampak hanya terkekeh.

Kemudian sooyeon membalikkan badannya menatap donghae yang berdiri di samping mobilnya.

“anggap saja tadi malam kau tidak pernah mengantarkanku. Anggap saja semua percakapan semalam itu tidak ada. Kita sama sekali tidak punya hubungan apa- apa. Jadi untuk apa kau datang menemuiku lagi?” sooyeon berkacak pinggang sambil memalingkan mukanya menatap gerombolan siswa yang berjalan menjauhi sekolah. Sooyeon berusaha secuek mungkin. Karena kejadian tadi malam tidak bisa di tolaknya lagi. Ia terpaksa mau diantar donghae karena memang kondisinya yang mengharuskan.

“seperti yang pernah kubilang dulu. Aku mau berteman denganmu, aku akan mengantarkanmu ke wish star setiap hari. Tidak masalahkan?” tawar donghae yang hanya tersenyum melihat reaksi sooyeon .

“tolong, jangan menambah beban di pundakku. Aku tidak ingin ada lagi namja pengacau yang hadir dalam kehidupanku.”

“hah, aku bukanlah pengacau. Aku hanya berbaik hati kepadamu karena kau….” donghae menghentikan kalimatnya, menyadari kalau dia hampir saja salah bicara.

“putri presdir. Kau pasti di suruh menjagaku oleh presdir mu itu kan?!” tebak sooyeon yang sebenarnya itu memang benar. Tapi bukankah donghae memang juga memiliki tujuan tersendiri dari awal?

“oh, ahni.. ahni!”

“aku tau, tidak usah berbohong. Dan maaf aku tidak bisa membantumu memenuhi perintah presdir itu kepadamu. Aku sudah terlambat…” kemudian sooyeon berlari menuju halte.

“ugggh sial lagi! Kenapa aku bisa salah bicara lagi? Ada apa dengan mulut ini? kenapa kegagalanku mendekatinya selalu karena mulut ini?” batin donghae memaki- maki mulutnya sambil mengacak rambutnya dengan perasaan kacau.

***

“yeoboseyo…” suara seorang gadis memulai percakapan di telefon.

“ah, junghee ya?” tanya donghae sedikit tidak percaya. Karena biasanya yeosaengnya itu hanya menelfon satu kali seabad.

“waeyo? Oppa terkejut? Apa suaraku terdengar menyeramkan?”

“ah… ahni. Tumben sekali kau menelfonku. Biasanya selalu aku yang memulai menelfon duluan.” Jawab donghae yang sebenarnya sangat rindu dengan adik perempuannya yang sekolah di Jepang mengikut eomma-nya itu.

“yak, oppa sudah berapa umurmu sekarang? Kenapa kau masih seperti itu? cara bicaramu sama sekali tidak ada kemajuannya!” komentar junghee yang sebenarnya juga tidak kalah rindu dengan kakaknya itu.

“oke, kau tau sendirikan aku bekerja di SDS jadi tentunya aku sangat sibuk. Ada masalah apa lagi kau menelfonku? Jangan sampai aku harus berangkat ke jepang menyelesaikan masalahmu?”

“UGH, oppa andai saja aku di sana, pasti sudah ku pukuli kepalamu yang tidak pernah berpikir itu.” junghee mengeluarkan nada menggeram di balik telefon.

“kau tau, ada masalah yang sangat besar. Tapi, ini bagiku. Aku hanya ingin memberi tahu padamu oppa! Aku harus pindah ke korea besok karena lagi- lagi aku siswi jenius ini di kirim ke luar negeri khususnya ke sekolah seni untuk study tour selama satu bulan dan sialnya lagi aku dikirim ke korea. jadi otomatis aku akan tinggal di rumah iblis jelek yang sering menyiksaku lagi!” papar junghee.

“yak, kau ini. lihat saja besok saat kau melihat wajahku, pasti kau akan langsung pingsan karena aku sudah semakin tampan. Kau harus ingat itu. aku jauh lebih tampan dari yang dulu! Eh, tapi… apa harus tinggal di apartemenku?”

“hm sebenarnya aku sama sekali tidak ingin tinggal bersamamu oppa. Jadi, di korea nanti kau harus mencarikan apartemen untukku agar aku tidak mendapat siksaanmu lagi seperti yang dulu- dulu!” pinta junghee sambil terkekeh di balik telefon.

“ah, enak saja kau ingin tinggal sendirian. Aku tidak akan mengizinkan! Lebih baik aku menyiksamu di apartemenku dari pada harus merogoh gajiku untuk membiayai apartemenmu! Oke besok kalau sudah sampai, telfon aku!”

Donghae pun akhirnya menyerah berdebat dengan adiknya yang selalu mengatakannya iblis jelek itu. padahal donghae yakin, semua kata- kata yang diucapkan adiknya maknanya adalah kebalikannya.

“pasti!”

TITTT…

“ahhh, junghee seperti apa ya, yeosaengku itu sekarang? Dulu dia sangat lucu dan sering ku godai? Dan apa selama 2 tahun di jepang wajahnya sudah semakin cantik? ahh, junghee sebenarnya aku sangat senang kau pulang. Semoga satu bulan itu waktu yang lama. Aku sungguh merindukanmu!” batin donghae yang sudah melupakan masalahnya dengan sooyeon tadi. Sekarang donghae tampak lebih bersemangat karena sebentar lagi ada yeosaeng yang bisa ia ajak bercerita, bermain, bercanda bahkan untuk dijaili.

***

Sooyeon pov

“sooyeon ah, gwenchanayo?” ujar seseorang yang membuka pintu dan langsung membuatku tersentak dari lamunanku.

“ah, presdir ssi, gwenchana!!!” balasku singkat sambil melanjutkan pekerjaanku di depan layar computer.

“aku hanya ingin bertanya, sebenarnya kau sungguh- sungguhkan melakukan presentase saat di SDS malam itu?” Tanya presdi yang langsung membuat tulang- tulangku berdecit dan rasanya sangat ngilu.

“oh, ne. presdir ssi. Ku rasa aku sudah melakukannya secara maksimal!”
“tapi….” Presdir mengehentikan ucapannya, dan aku yakin lagi pasti appa mengatakan sesuatu tentang presentaseku. Dan pasti sesuatu yang tidak enak di dengar oleh presdir leeteuk.

“jeongmal mianhe presdir. Mungkin pihak SDS tidak merasa puas dengan presentaseku. Mianhamnida, aku sudah berusaha semaksimal mungkin!” ujarku lagi, berharap presdir salah bicara.

“aku tau. Sooyeon ya, dari segi kemampuanmu aku yakin kau pasti tidak akan menyia- nyiakan kesempatan itu untuk menunjukkan kemampuanmu di SDS. Tapi, anehnya presdir jung il woo di SDS, malah tidak puas dan langsung menelfonku malam itu!!!”

Aku tertegun. Rencana apa lagi yang akan dilakukan appa? Sampai kapan ide- idenya akan habis untuk membuatku kembali? Kenapa dia harus menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya ia menyukai presentaseku? Padahal aku sempat meliriknya mengangguk- ngangguk saat aku menjelaskan di SDS malam itu!! Tapi, apa lagi ini??? Apa dia tidak puas setelah membuatku di pecat dari SMC??

“jadi, apa yang presdir SDS itu katakan?” tanyaku pelan.

“kurang sempurna dan memuaskan. Itu saja!” jawab presdir leeteuk singkat sambil menepuk- nepuk pundakku yang tampak tengah kecewa.

Kemudian presdir yang baik itu beranjak pergi tanpa tanpa membiarkanku berkomentar terlebih dahulu. Ia hanya tersenyum, tidak tampak sedikitpun kekecewaan dari raut muka yang ditampilkannya. Benar- benar jauh dari sikap mantan presdirku dulu, presdir choi siwon.

***

Junghee pov

Di dalam pesawat sekalipun, aku tetap tidak akan jauh dari buku. Buku ilmu kebumian dan astronomi yang selalu ku bawa kemanapun itu. jauh di lubuk hatiku, aku sama sekali tidak ingin menghabiskan waktu satu bulan kedepan hanya untuk belajar di sekolah seni. Performance arts seoul. Aku pastinya lebih suka diundang ke universitas dan mempelajari pola belajar mahasiswa yang berjurusan astronomi, antariksa dan sejenisnya.

Seperti sudah menjadi kondratku sejak lahir, aku sungguh terobsesi dengan hal- hal yang berkaitan dengan tiga hal itu astronomi. Dan mungkin teman- temannya juga membuatku akan tertarik. Aku, siswi SMA dan sudah meraih medali emas di ajang IJSO. Dan well, Sekarang aku harus menerima kalau 1 bulan kedepan harus bergaul dengan dunia seni yang hanya hiburan semata itu.

Tidak lama kemudian, pesawat landing di bandara int incheon. Aku yang masih berkutit di buku kesukaanku dan tampak yang turun paling terakhir saat seorang pramugara yang pastinya tampan mengingatkanku kalau pesawat sudah landing

“permisi nonna. Pesawat sudah landing.” Ujarnya sesopan mungkin layaknya pramugara umumnya.

Aku tidak membalas tatapan maupun ucapanya, aku masih menatap buku dan langsung beranjak menuruni tangga. Dan instingku mengatakan pramugara itu pasti menatapku lekat- lekat dari belakang sampai aku sudah tidak tampak lagi olehnya.

***

“yak, oppa.. sudah berkali- kali ku telfon, tapi kenapa baru diangkat? Kau tau, pesawat sudah landing sedari tadi!” protesku di telefon saat panggilan ke-17 barulah ada tanggapan dari nomor yang ku tuju.

“mianhe… kau tau sendirikan aku baru saja naik pangkat dan pastinya sangat sibuk!.” ujar donghae menjelaskan alasannya. padahal seharusnya ia langsung saja menjemput tanpa mengatakan alasan- alasan yang selalu tentang hal itu diucapkannya denganku.

“oke, kalau tidak bisa aku naik taxi saja. Dimana alamat apartemen barumu?” ujarku sambil berjalan menyusuri lautan manusia di incheon. Tampak sebagian dari mereka tengah berpelukan, mungkin dengan keluarganya. Aku menjepit telefon ke bahu dengan memiringkan kepalaku 45 derajat. Karena, tau sendikan dua koper dan satu buku pegangan ini, membuat tidak ada lagi tempat di tanganku untuk memegang handphone.

Kemudian, pandanganku tertuju pada seorang namja yang tengah berdiri tempat di depanku sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan ekspresinya tampak sangat santai.

Seperti kobaran api yang tengah menjalar di seluruh urat nadiku, aku langsung berhenti, melepaskan pengangan ke koper, dan cepat- cepat mematikan handphone. Namja itu seperti biasa tersenyum jail.

“apa kau di pecat dari SDS, dan sekarang menjadi pengurus kebersihan di incheon?” ujarku tanpa menatap wajahnya yang masih senyum- senyum maut dan bisa membuat orang melting. Ya, kadang- kadang aku tampa sadar memang mengakui kelebihan senyumnya itu.

“hahaha, sudah berapa kali kau kalah oleh ku?” ujarnya kemudian dengan tawa juga membuat orang melting karena wajahnya tetap berkilau kalau ku pandangi.

Sedetik kemudian, dia langsung memelukku sangat erat tanpa bisa ku tepis. Padahal ungkapan kejengkelanku ini masih belum terbalas dengan kebohongannya di telefon tadi. Tapi, ini yang selalu dilakukannya kalau emosiku sudah berada di titik tertinggi. Dan aku tidak dapat menolak lagi. Aku balas pelukannya dan dengan tulus mengatakan betapa sialnya aku bertemu lagi dengannya.

“apa katamu?” ia langsung melepaskan pelukannya setelah kuakhiri kalimat itu.

“aku merindukanmu. Kau sangat jahat telah meninggalkanku!” ujarku tanpa bisa menyembunyikan kata- kata itu lagi. Aku tidak bisa membohongi diriku lagi terhadap orang yang satu darah denganku ini.

Kemudian kami berpelukan lagi dengan penuh kerinduan.

***

Aku duduk di samping donghae oppa yang tengah mengemudikan mobilnya. Sedangkan aku sangat kangen untuk menggodanya dengan ucapan- ucapan yang akan membuatnya marah, dan akhirnya ia akan membalas dengan menjailiku juga.

“kau tega sekali!” ujarku memandang cemberut ke arahnya yang masih berpakaian jas yang sangat elegan dan wibawa itu.

“apalagi junghee ya? Princess cantik, yang baik hati dan rajin membaca ?” ujar donghae semanis mungkin dan kutahu itu hanya sindiran. Tapi jauh di hatinya, aku tahu kata- kata itu pasti sangat tulus diucapkannya. Ya, Mengingat kondisiku yang memang seperti itu.

“sudah berapa tahun kau mengirimku ke markas nenek sihir itu? hah, kau pasti tidak ingatkan?” donghae langsung tersentak ketika aku menyelipkan kata nenek sihir yang sebenarnya itu adalah ibuku sendiri. eah…

“hush.. aku akan tidak pernah memaksa eomma membawamu ke jepang. Kau saja yang terlalu bersemangat untuk bersekolah di jepang yang bertaraf internasional itu!” balas donghae dan aku langsung terdiam.

Sebenarnya waktu itu aku benar- benar galau untuk memutuskan jalanku sendiri. Dari kecil, aku sang pemimpi yang tidak pernah berhenti bermimpi ini memang ingin sekali bersekolah di sekolah terbaik mengingat kondisi keluargaku yang juga sangat memungkinkan untuk membiayai sekolahku. Tapi, disisi lain aku harus tinggal dengan eomma yang sudah dari dulu menjadikanku bonekanya. Sungguh, aku sendiri tidak tau kenapa di zaman seperti ini masih ada siswi sepertiku. Siswi yang sangat terobsesi untuk belajar dari pada menikmati dunia hiburan! Semua orang yakin, ini efek dari seorang ibu yang tidak pernah putus menekankan anaknya agar belajar- belajar dan belajar!

Yah karena aku memang bertekat terbang ke angkasa biru meraih mimpi- mimpiku jadilah aku tinggal berdua di jepang bersama eomma selama beberapa tahun setelah kematian appa. Sampai akhirnya sekarang ini aku terpaksa lagi balik ke korea hanya untuk berkenalan dengan dunia seni yang lebih diminati kalangan umum saat ini. tapi tetap saja, serpihan kebebasan mulai tumbuh saat aku menyadari bahwa 1 bulan kedepan aku akan bebas dari si nenek sihir itu. dan dengan terpaksa satu bulan ini ku tinggalkan sekolahku di jepang untuk menikmati sedikit saja kebebasan dengan tinggal bersama kakakku.

“yah, kalau saja sekolah bertaraf internasional itu bisa ku pindahkan ke korea, orang bodoh mana yang akan menolak hal itu. memangnya di dunia ini siapa yang rela tinggal dengan nenek sihir?” ujarku mengungkapkan semua hal yang selama ini hanya bisa di dengar oleh hati kecilku. Ku rasa sampai di apartemennya nanti, aku akan terus berkicau menceritakan ribuan pengalamanku di jepang. Lebih tepatnya siksaan yang lebih banyak ku dapatkan.

Donghae oppa yang setuju kalau eomma adalah nenek sihir hanya menatapku iba dengan mata sayupnya.

“mianhe. Kau tau sendirikan, sebelum appa meninggal ia mengamanatkan kepada temannya, presdir jung il woo untuk terus membantuku bekerja. Bahkan appa juga meminta agar aku di ajarkan sebaik mungkin di SDS agar nantinya juga bisa naik pangkat di SDS. Dan pada akhirnya aku sendiri nanti yang akan memimpin perusahaan hasil keringat appa, HeearPhy itu.” jelas donghae panjang, dan tidak tampak sedikitpun dari perkataannya ingin menjailiku.

“ne. Tapi biarlah. Kalau disuruh memilih, ya terpaksa aku memilih mimpiku dari pada harus tinggal denganmu!” tambahku yang mulai mengawali hasratnya untuk kembali jengkel dengan ucapanku. Dan sudah ku perkirakan, jitakan donghae oppa langsung menyambar di kepalaku yang tampaknya semakin jenius ini. ya, sentuhan yang kurindukan itu.

“oke. Aku tidak mau menambah- nambah kekesalanku. Karena kalau kau semakin di lawan, maka aku akan berpeluang untuk kalah. Jadi, 1 bulan ini kau akan di tempatkan di sekolah mana?” tanya oppa yang aku yakin tengah mengubur kekesalan yang sebenarnya sangat ingin diungkit- ungkitnya karena ia dan aku juga sudah lama tidak berdebat.

“kalau aku tidak salah. Performing art seoul!” jawabku singkat sambil menghirup hembusan angin kerinduan dari negeri ini.

Donghae pov

“kalau aku tidak salah. Performing art seoul!” ujarnya yang langsung membuat sekujur tubuhku tertarik akan perkataan itu. semua bulu- bulu di tubuhku bahkan ikut berdiri saking tertariknya.

“apa dimana tadi?” tanya ku lagi berharap otakku salah menerjemahkan bunyi yang merambat ke lubang telingaku itu.

“PERFORMING ART SEOUL!” ujar junghee tepat di depan telingaku dan sekejap aku langsung terngiang- ngiang akan satu hal. Yap, benar_ sooyeon siswi SMA yang tengah kuincar juga bersekolah di sana. Apalagi junghee juga sudah kelas 3 meskipun lebih muda setahun dengan sooyeon. Yah itu karena junghee mengikuti program akselerasi saat SMP makanya sampai SMA ia tetap lebih cepat satu tahun dari siswa umumnya. Dan sooyeon kan juga kelas 3? Apa junghee akan sekelas dengan sooyeon? Pikiranku bertanya- tanya. Namun, sudut mataku melirik junghee yang lebih bingung karena mulutku yang tiba- tiba berhenti tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“kenapa kau diam?” tanyanya yang tadi juga terdiam.

“ah, ahni. Aku hanya mencoba mengingat letak sekolah itu!” jawabku berhasil membuat alasan agar dia tidak banyak bertanya.

“hm, berhubungan aku tidak tahu di mana letaknya? Jadi setiap pagi oppa maukan mengantarkanku?” tawarnya dan anehnya lagi aku langsung mengiyakan permintaanya. Benar- benar__ dia sepertinya sedang memanfaatkan kondisiku yang masih tidak stabil ini.

***

Author pov

Setelah mengantarkan junghee ke apartemen donghae, namja itu langsung balik ke kantor dan meminta maaf karena sampai malam hari ia tidak bisa menemani junghee yang baru datang di apartemennya. Donghae langsung tancap gas karena tidak ingin presdir jung menegurnya lagi.

“donghae, kau ingatkan aku diamanatkan untuk mengajarimu memimpin perusahaan dengan baik?” ujar presdir jung dari belakang ketika donghae sudah duduk di ruangannya.

“oh, presdir…” ujar namja itu sedikit tergagap.

“mianhe presdir, aku baru saja menjemput junghee di incheon!” ujar donghae sebelum presdir yang ternyata teman ayahnya dulu menanyai alasannya.

“oh, jadi junghee pulang ke korea! Setahuku adikmu itu sangat tekun belajar.. apa di jepang libur?” tanya jung ilwoo yang sangat tau seluk beluk anggota keluarga temannya. Dan sebaliknya donghae malah tidak tahu sama sekali tentang keluarga teman ayahnya ini, sebelum malam itu ia mengetahui tentang putri siapa sooyeon itu.

“ahni presdir. junghee di dikirim dari sekolahnya ke performing art seoul dan katanya untuk menambah pengetahuan di dunia seni dan mungkin sekalian study tour!” terang donghae.

“aneh juga ya. Setahuku dia sama sekali tidak suka dengan seni. Malah lebih terobsesi dengan sains.” Komentar ilwoo yang jauh lebih mengenal junghee dari pada donghae dulunya.

“ne presdir. Aku juga masih merasa aneh!” tambah donghae menyetujui komentar ilwoo.

“oh ya, aku hampir lupa. Kapan kau akan siap memimpi HeearPhy?”

Donghae langsung terkesiap dengan pertanyaan itu. ia sama sekali belum memikirkan, bahkan hampir melupakan tanggung jawabnya atas heearphy.

“mmm, kurasa aku masih belum pantas!” jawab donghae seadanya.

“aku sebenarnya sadar kalau sekarang belum waktunya kau mengambil alih perushaan teman lamaku, tapi ku lihat kau tidak terlalu berusaha mempersiapkan diri untuk Heearphy. Ada apa denganmu donghae ya? Katakan saja, aku sudah mengenalmu lebih dari kau mengenalku!” terang ilwoo yang selalu baik terhadap putra teman lamanya itu.

“ahni presdir. Aku hanya merasa belum sanggup memikul beban itu. aku masih 21 tahun!” tambah donghae.

“aku tahu kau masih muda. Tapi cobalah berusaha dari sekarang? Jangan terlalu banyak bermain, bahkan berkencan dengan gadis yang tidak jelas asal- usulnya di luar sana!” nasehat presdir dan jelas membuat donghae tidak setuju. Pasalnya donghae sama sekali tidak kencan apa lagi denan gadis yang tidak diketahui asal- usulnya! Tapi, sebenarnya perkataan presdir memang berkaitan dengan kondisinya saat itu. donghae yang tengah sibuk mengincar hati Sooyeon. Dan bodohnya lagi kenapa dari kemarin donghae tidak pernah berpikir kalau suatu saat nanti ilwoo akan menjodohkannya dengan sooyeon? *ya mungkin…

“mianhe presdir. Tapi aku sungguh belum pernah berkencan dengan yeoja lain!” bantah donghae berusaha tampak tidak melawan.

“baiklah kalau masalah itu aku percaya padamu. Tapi kumohon bersungguh- sungguhlah demi HeearPhy. Itu saja!” kemudian ilwoo keluar tanpa mendengar komentar donghae.

***

Junghee yang baru datang ke apartemen donghae sama sekali belum membongkar isi tas dan kopernya. Sedari tadi ia masih berkutit di depan buku bersampul gambar galaksi itu. junghee, seperti sifatnya sangat tekun, rajin, dalam membaca. Dan apalagi buku tentang ilmu astronomi yang disukainya.

Yeoja itu setalah mandi tadi sore langsung duduk manis diatas tempat tidur di apartemen donghae. Kamar yang sangat nyaman, luas, peralatan yang lumayan lengkap dan junghee juga sudah nyaman membaca di atas tempat tidur itu sedari tadi. Dan dengan yakin junghee berpikir kalau itu kamar untuknya.

“yak, apa yang kau lakukan di kamarku?” donghae yang sudah datang tanpa berbunyi langsung menuju kamar dan melihat junghee masih menatap buku yang sama seperti ia baru datang tadi.

“mwo? kamarmu? Bukankah ini kamar untukku?” tanya junghee tanpa merasa bersalah sedikitpun setelah sedikit mengtori kamar donghae.

“apa kau bilang? Ini jelas- jelas kamar utama dan ini kamarku. Kamar mu di sebelah, di kamar tamu!” ujar donghae dengan nada yang keras dan junghee malah cuek tidak bersalah.

“ah, oppa kau pelit sekali!” junghee pun menutup bukunya kemudian pindah ke kamar tamu di apartemen donghae.

dan akhirnya ia terpaksa menunggui kamar yang tidak bisa disamakan dengan kamar donghae. Meskipun peralatannya lengkap, tetap sajakan kamar utama jauh lebih baik.

Tapi sudahlah, toh fasilitas di kamar ukuran medium itu juga memadai. Seperti kamar mandi, tempat tidur untuk satu orang, sebuah lemari dua pintu yang cukup untuk mengisi pakaian junghee selama satu bulan kedepan, sebuah meja yang ternyata ada komputernya, dan yang sedikit menarik bagi junghee ada jendelanya. Ibarat burung- burung yang selalu dalam posisi enak jika bertengger di atas pohon, junghee paling suka bertengger sambil membaca buku di konsen jendela yang lumayan besar. Apalagi kalau sudah malam hari. Hal itu jauh lebih nyaman menurutnya di bandingnya membaca di dalam kamar utama sekalipun. Menit berikutnya, terdengar teriakan donghae dari luar.

“hei junghee… cepat kemasi barang- barangmu di koper ini. apa kau menunggu aku pulang untuk merapikan barang- barangmu ini huh?”

“NE!” jawab junghee tidak kalah keras yang sekarang sudah bertengger di jendela yang sudah di bukanya. Dan jendela itu juga terdiri dari dua pintu, jadi lumayan luas dan sangat nyaman menurutnya.

Donghae pun datang membuka pintu dan menarik lengan junghee yang sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan donghae barusan.

“jadi apa ada oleh- oleh untukku?” tanya donghae yang detik sebelumnya tengah marah- marah. Kemudian junghee pun membuka kopernya mengeluarkan barang- barang yang dibawanya. Donghae juga ikut membuka koper yang lain. Junghee tampak mengacak- ngacak isi koper yang tertata rapi itu di sofa depan telivisi ruang tengah.

“Omo, ya tuhan!” donghae tidak percaya dengan isi koper berwarna hijau yang merupakan koper yang paling besar itu.

“apa? Memangnya kenapa? Tidak masalahkan!” jawab junghee menghiraukan keterkejutan kakaknya.

“apa kau akan berjualan buku di sini?” tanya donghae menatap aneh ke arah junghee. Yang benar saja, satu koper itu isinya penuh dengan buku, comic, dan novel. Yang tadi sukses menyakinkan donghae kalau adiknya benar- benar sudah gila. Gila buku.

Dan karena sudah maklum dengan junghee yang sudah tidak waras lagi, donghae pun membantu menyusun buku- buku junghee di dalam lemari baju di kamar tamunya. Karena ia memang tidak menyiapkan rak buku untuk kamar tamu. Bahkan buku- buku itu lebih banyak memakan tempat dibandingkan pakaian- pakaian adiknya.

~~**

“kenapa kau menatapku seperti itu? apa aku terlalu indah dan mempesona untuk dipandangi?” tanya junghee ketika akhirnya mereka sudah selelai berkemas dan sekarang sedang duduk di sofa menatap layar kaca. Tapi hanya donghae yang menonton, sedangkan junghee beralih membaca novel sherlock holmes edisi ketiga di samping donghae.

“aku hanya heran kenapa ada orang gila sepertimu tapi masih berwajah seperti ini!!” jawab donghae memulai kejailannya untuk menggoda adiknya.

Junghee menutup novelnya dan plaaak plaaak plaaak… ia langsung memukuli donghae dengan novel itu.

“aku sendiri heran. Kenapa kau bisa berbeda dariku. Padahal kita satu darah dan keturunan. Aku, eomma, donghwa oppa dan appa gila karena buku. Sedangkan kau??” junghee memulai memanas- manasi donghae.

Kemudian donghae langsung mencubit pipi junghee yang manis itu. dan junghee juga membalas menarik- narik telinga donghae.

Detik berikutnya, “hentikan… jangan membuat wajah cantikku semakin jelek dengan tangan nakalmu ini!” protes junghee masih menarik daun telinga kakaknya.

“kau dulu yang berhenti, telingaku bisa kepanjangan gara- gara kau tarik!”

~~**

Dan setelah lelah bertengkar, akhirnya mereka sadar juga kalau mereka baru satu hari bertemu setelah beberapa tahun.

Junghee kembali duduk di samping donghae dan tidak melupakan bukunya. Sedangkan donghae melototkan matanya ketika drama yang dinanti- nantinya sudah mulai.

***

“bagaimana di jepang?” tanya donghae ketika layar televisi menampilkan iklan.

“luar biasa!” jawab junghee menutup bukunya. Mungkin sudah tamat atau dia sudah bosan membaca novel itu 17 kali.

“bagaimana sekolahmu?” tanya donghae yang mulai memulihkan sisi perhatiannya.

“lebih luar biasa lagi!” tambah junghee bangga terhadap dirinya.

“HeearPhy, kau sering mampir?”

“setiap pulang sekolah. Memperhatikan kemajuannya dan tidak jarang aku menegur karyawan- karyawan pemalas yang salah alamat masuk ke HeearPhy!” ucap junghee yang sepertinya akan memulai curhatannya.

“haha,..” donghae tertawa sekilas dan kembali melanjutkan. “apa perushaan semakin maju atau sebaliknya?” tanya donghae sambil mengingat nasehat presdir jung tadi siang.

“yah, karena aku rajin mengontrol dan kehadiranku memotivasi mereka, jadi perusahaan lebih maju di bandingkan yang dulu!” ujar junghee merasa dirinya terlalu hebat.

“ah, kau ini! memangnya kau presdirnya?” protes donghae mengacak rambut adiknya.

“ngomong- ngomong, oppa kapan akan bekerja di perusahaan ataupun memimpinnya dan kita bisa tinggal di jepang bersama?” tanya junghee berharap keadaan kembali seperti awal. Dimana donghae setiap hari bisa meredakan pertengkarannya dengan eomma. Donghae yang setiap hari selalu menghapus air mata junghee kalau gadis itu tengah bersedih. Donghae yang selalu mendengar curhatannya. Dan donghae yang sebenarnya sulit sekali terpisahkan dari lembaran- lembaran kehidupannya.

Donghae pov

Aku tersentak mendengar pertanyaan junghee. Ingatan akan memori beberapa tahun silam menguasai seluruh pikiranku saat ini. aku benar- benar rindu akan masa itu. andai saja aku rajin bekerja dan berusaha, pasti sekarang HeearPhy sudah jatuh ke tanganku. Mengingat kondisi eomma yang semakin hari umurnya semakin bertambah.

Tapi, aku sendiri yang tidak berusaha mengembalikan kebersamaan dengan keluargaku. Aku malah bermalas- malasan di korea dan mementingkan urusanku. Aku yang seakan lupa kalau junghee sedikit tersiksa hidup tanpa diriku yang mencerahkan sedikit harinya karena harus hidup berdua dengan eomma yang memang tegas, kejam dan terlalu disiplin kepada anak- anaknya.

Aku disini malah memikirkan perasaanku sendiri. Aku kembali teringat akan wajah yeoja yang tengah membutakanku akan kehidupan indahku di masa lalu. Sooyeon yang kupikir sama manisnya dengan yeosaengku. Entahlah, cinta memang membutakan semuanya. Aku tidak bisa memungkiri hal itu. tapi, aku berjanji kalau sudah mendapatkan sooyeon, maka nanti aku akan menikahinya, tinggal bersamanya di jepang, dan kembali menemani bidadari kecil ini yang ku tahu benar- benar membutuhkanku.

“mianhe, junghee ya… aku belum bisa, aku belum siap menahan beban yang sangat berat itu!” ucapku dengan ekspresi melemas begitu juga dengan junghee.

“aku tahu, mungkin 21 tahun terlalu muda untuk oppa. Tapi, tidakkah oppa ingin menemaniku di jepang? Aku benar- benar kesepian!” junghee menatapku, dan aku merasa benar- benar bersalah selama ini.

“mianhe. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Tapi aku harus tinggal di korea bersama presdir jung il woo, sampai akhirnya aku benar- benar siap untuk mengambil alih HeearPhy!” aku mengelus rambutnya yang lembut. Tampak kekecewaan dari bibirnya yang mengerucut.

Kemudian aku mencoba mengalihkan suasana agar junghee tidak bertambah kecewa terhadapku.

“bagaimana dengan astronomi, cita- citamu maksudku?”

“7 tahun lagi aku akan merubah diriku, HeearPhy, Jepang, Korea, dan Dunia!” jawab junghee mantap dan langsung ku sambut dengan tatapan berbinar.

Aku sungguh tidak dapat lagi mendeskripsikan sosok junghee yang sangat ku kagumi itu. tidak jarang aku termotivasi oleh prestasi- prestasi yang terus di ukirnya. Aku yakin, setelah junghee dewasa nanti Heearphy aku jauh berubah. Sebuah perushaan yang hanya menghasilkan zat- zat kimia untuk membantu proses pengobatan semua orang, 7 tahun ke depat pasti akan berubah total seiring bertambahnya kepintaran junghee. Aku yakin, penemuan yang di lakukan HeearPhy saat ini, pasti belum ada apa- apanya di bandingkan dengan 7 tahun kedepan. Masa dimana aku sudah meduduki kursi presiden direktur dan junghee sebagai ilmuan yang ku jadikan sebagai kordinator seluruh kegiatan penemuan dan pembaruan di HeearPhy. Semoga….

“aku senang memiliki adik sepertimu. Kau jauh lebih pintar dariku. Aku saja, satu kalipun tidak pernah mendapat medali emas di ajang IJSO. Jangankan dapat, untuk ikut saja aku tidak lolos!” ujarku memujinya dan ia tampak biasa saja. Tidak terlalu kagum atau malu- malu kucing. Mungkin ia memang sudah biasa mendengarnya, untuk ukuran orang pintar sepertinya maksudku!

“ah, aku tidak kalah senang memiliki oppa yang tampan sepertimu!” ujarnya memujiku. Aku tau dia pasti keceplosan.

“nah benar kan aku sangat tampan seperti malaikat! Kau saja yang baru membuka mata dan menyadari hal ini!” tambahku memancarkan senyum ke arahnya. Begitu juga dengan dirinya. Sebuah senyum kerinduan yang sekarang kembali bisa ku lihat.

“ngomong- ngomong, apa kau sudah punya namjachingu?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan lagi.

“tidak” jawabnya biasa saja, tanpa ada keinginan untuk menemukan namja yang bisa menjaganya selamanya. Karena tidak mungkin aku terus yang menjaganya? Bagaimana dengan sooyeon nanti? Dan Apalagi kalau aku benar- benar sudah menikah dengan sooyeon?

Aish… Aku kembali berkhayal.

“ah, apa namja di jepang seleranya rendah sekali ya? Kenapa bisa kau tidak laku?”

“ahniyo. Namja jepang sangat tampan bahkan 170 kali lebih dari mu oppa. Hanya saja aku tidak butuh kekasih!” ujarnya singkat dan sangat santai.

“haha, bilang saja kau tidak laku! Kalau begitu, mau tidak aku jodohkan dengan temanku, seperti kyuhyun, eunhyuk, yesung, atau yang lainnya?” tanyaku meningat kyuhyun yang tampak cocok untuknya. karena sama- sama pintar.

“ah, jangan membicarakan masalah namjachingu. Aku tidak suka!” ujar junghee yang dari dulu sepertinya belum puber juga. Kenapa bisa, ia tidak pernah sekalipun jatuh cinta pada seorang namja? Aneh bukan?

“oke. Aku tau hal itu dari dulu! Dan Kau mau kan ku jodohkan dengan kyuhyun? Ku pikir dia sangat sempurna untukmu!” tambahku kembali mengingat kyuhyun yang pasti langsung suka dengan junghee.

“enak saja kau ini. andhweyo.. aku tidak akan mau!” protesnya tepat di depan telingaku.

“ahhh.. iyaiya aku hanya bercanda! Tapi, apa ada namja yang kau suka? Atau sedang kau taksir?” tanyaku sambil mengelus- ngelus telingaku yang kepanasan karena getaran suaranya.

“ahniyo. Sekali lagi, aku merasa tidak ada gunanya berpacaran. Apalagi semasa muda yang sangat berharga ini. dunia membutuhkan kita untuk belajar dan memperbarui dunia. Bukannya enak- enakan berpacaran. Lagian, kalau aku sudah sampai umur nanti, aku pasti akan di carikan eomma jodoh, lalu menikah. Jadi mungkin dari pernikahan saja aku memulai mencintai seorang namja!” aku terhening mendengarnya. Eomma benar- benar mengubah putrinya menjadi remaja yang paling aneh. Dan tidak merasakan kesenangan di masa remaja. Karena ku pikir masa remaja adalah masa paling menyenangkan, apalagi untuk berpacaran dan bersenang- senang. Tapi sudahlah, mungkin ada untungnya juga junghee tidak ingin berpacaran di masa- masa seperti ini! hm

“oppa sendiri. Sudah tua seperti ini kenapa belum mendapatkan yeojachingu? Apa tidak laku lagi karena mungkin sudah menjadi barang lama?” telingaku langsung berdiri. Biarpun dia pintar tapi mulutnya benar- benar melebihi remaja umumnya. Lebih parah dariku. Persis seperti eomma.

“yak, kau lihat saja sebentar lagi. Aku akan memperkenalkan kepadamu siapa yeojaku. Dan di umur 25 nanti aku akan memimpin HeearPhy dan sekaligus menyunting yeoja idamanku saat ini!” ujarku kembali tesenyum mengingat sosok sooyeon yang umurnya hanya satu tahun di atas junghee. Tapi, tidak masalah menurutku. Aku 21 tahun sedangkan sooyeon 18 tahun. 4 tahun lagi umurnya sudah 22 tahun. Aku yakin kalau sudah berpacaran 4 tahun nantinya pasti sooyeon langsung senang ketika kuajak menikah. Semoga…

“jadi siapa dia? Bolehkah aku mengenalnya?” tanya junghee penuh semangat tentang kekasih orang lain. Padahal dia sendiri malah tidak mau tau tentang dirinya dan nasib percintaannya.

“hehe, sebenarnya aku belum berpacaran dengannya. Tapi, nanti kalau dia sudah menerimaku pasti langsung ku kenalkan kepadamu!” aku kembali tersenyum membayangkan kalau junghee adalah sooyeon yang tengah berada satu bangku denganku.

“yah, tidak asik lagi. Kau pasti akan sibuk dengan pacarmu, dan tinggallah aku sebatang kara!” ujarnya melemas dan sekali lagi. Junghee benar- benar menghiburku malam ini.

“makanya cari namja sendiri. Aku kan hanya kakakmu. Jadi, kau harus mencari namja, kalau tidak aku akan mejodohkanmu dengan si monkey eunhyuk!” ujarku menggoda junghee yang sama sekali tidak tertarik dengan sahabatku itu.

“ANDHWEYO!”

Aish…

***

Author pov

“tidak ada waktu untuk berbicara denganmu!” ujar sooyeon ketika tangannya di tarik seseorang masuk ke dalam limusin hitam.

“dengarkan aku baik- baik!” terang ilwoo yang sudah duduk di dalam limusin itu sedari tadi. Sooyeon menatapnya kesal.

“kalau kau tidak juga kembali ke rumah, maka kau tidak akan mewarisi sedikitpun kekayaanku. Dan perusahaan tidak akan pernah jatuh ke tanganmu. Meskipun kau sudah sekolah di bidang seni untuk memimpin SDS tadi jangan berharap. Aku tidak akan memberikan SDS untuk gadis durhaka sepertimu!” sooyeon langsung terdiam mendengar ancaman itu.

Memangnya siapa yang tidak ingin mewarisi perushaan terkenal di korea itu? Sooyeon tampak berpikir keras. Baginya mungkin kalau tidak mendapatkan alih perusahaan itu tidak apa- apa. Tapi bagaimana dengan harta kekayaan eomma yang sebagian berada di tangan appanya? Bukankah sooyeon seharusnya mendapatkan peninggalan dari ibunya?

Sooyeon langsung keluar dari limusin itu. Ilwoo menghembuskan nafasnya yang sebenarnya tidak tega mengatakan hal itu. Tapi bagaimana lagi, ia berusaha sangat lama namun semakin lama yang tampak hanya lah jalan buntu.

Sooyeon bingung dengan dirinya. Ia belum dapat memilih antara kekayaan atau dendam!

TBC–
nah gimana? mian ya  typonya dan bahasanya aduh author ga sanggup bacanya, sekali lagi ini udh lama banget loh di ketiknya, percaya deh, makanya bahasanya kayak gitu!! U,u
nah, sekarang giliran readers yang  kasih komentar terhadap ff lama author ini, dulu- dulu yah author kan masih newbie? gimana pendapatnya tentang cerita ini? hayyooo…

oke di tunggu komentarnya, di harapkan komentar itu bisa mengimbangi statistik yang lumayan  tinggi! karena banyak yang ninggalin komen maka next chapt akan author usahakan bisa di post secepatnya!
jadi yg ga sbaran, marahin aja silent reader biar author ga ngambek.. hehe
*emangnya ada yang nantiin ff gaje ini? 
ufff…
last,
oh ya gomapseumnida ^_^

15 thoughts on “Slow But Sure [chapter 3]

  1. Bakal jadi HaeSica kan ? Lanjut ya? Keren! XD Aku suka .. Like This yo~! Like This yo~! Like This yo~! Like This yo~! Like This yo~!

  2. aq ska karakter Jessica dsni. . . meskipun anak dri seorang Presdir tpi dia msih mw melanjutkn hidupny dngn hasil kerja kerasny sndiri meskipun memang orng yg kras kpla. . . daebak
    semoga dpt ide yng bgus bwt mlnjutin FFny. .

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s