Beyond The Dream [CHAPTER 5]

image

CHAPTER 5 : Come To You

Title: Beyond The Dream
Sub-Title: Come To You

Author: Yoo Jangmi (J.b2utyH:LLER) & Park Jihyun

Genre: School, AU, Friendship, Drama, Teen Romance

Length: Chaptered

Rating: T

Main Cast:
– f(x)’s Krystal Jung / Jung Soojung
– INFINITE’s Nam Woohyun
– Beast’s Lee Gikwang
– Super Junior’s Lee Donghae
– SNSD’s Im Yoona
– T-Ara’s Park Jiyeon

– f(x)’s Sulli / Choi Jinri
– SHINee’s Choi Minho
– INFINITE’s Hoya / Lee Howon
– T-Ara’s Ryu Hwayoung
– f(x)’s Luna / Park Sunyoung
– Boyfriend’s Kim Donghyun

Other Cast:

– MBLAQ’s Lee Joon
– MBLAQ’s Yang Seungho
– EXO-K’s Oh Sehun
– 4minute’s Kwon Sohyun
– Beast’s Yong Junhyung
– Teen Top’s L.Joe / Lee Byunghun
– KARA’s Kang Jiyoung
– KARA’s Goo Hara
– 4minute’s Kim Hyuna
– T-Ara’s Hyomin
– RaNia’s Xia / Jang Jinyoung

~The Teachers~
*SNSD’s Kim Taeyeon (as Vocal teacher)
*Super Junior’s Eunhyuk / Lee Hyukjae (as Dance teacher)
*SNSD’s Kim Hyoyeon (2nd Dance teacher)
*Ailee (as Dance teacher)
*T-Ara’s Park Soyeon (as Vocal teacher)
*Super Junior’s Leeteuk / Park Jungsoo (as Principle)
*and other teachers*
*other Kpop stars as cameo*

Disclaimer:
Semua cast kec.OC bukanlah milik duothor, tapi cerita milik kita!

Duo thor’s Note:
Annyeong!! here comes the 5th chapter!!!! eottaeyo?? ada yang waiting?? gak ada? baiklah tidak apa-apa #plakkk
habisnya rasanya kok komen makin dikit di setiap chapnya #plakk :( *kick siders* oh ya, mian yaa author gak bisa ngasih cover yang bagus, cuma bisa berupa tulisan dan gambar aja mianhae jeongmal~~~ *gak ada ide bikin cover* #plakk
huh ya udahlah, Don’t be silent reader don’t be plagiator!!!
**HAPPY READING**

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Previous:| TEASER | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3 | CHAPTER 4 |

#CHAPTER 5#

“ia menyanyi untuk…Nam Woohyun” kata Hwayoung. “mwo?! Nam Woohyun??? kenapa kau bisa berpikir orang itu Nam Woohyun??” tanya Sunyoung kaget. “entahlah, tapi firasatku bilang orang itu Nam Woohyun” kata Hwayoung, ia 1000% (?) yakin kalau Jinri menyanyikan lagu itu untuk Woohyun, tapi Sunyoung belum sepenuhnya percaya pada perkataannya. “ah tapi…sudahlah nanti kita tanya saja pada Jinri” kata Sunyoung, Hwayoung mengangguk setuju.

~***~

[ruang siaran]

Jinri mengakhiri lagunya dengan menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “uljima Jinri-ya, sejak kapan kau jadi cengeng” kata Jinri dalam hati, berusaha membuat dirinya sendiri berhenti menangis, tapi sama sekali tidak mempan.
Hoya meletakan gitarnya di bawah, lalu mematikan microphone yang menyala. Untung saja ia segera menyadari hal itu, kalau tidak semua orang bisa mendengar Jinri menangis. “Jinri-ya, gwaenchanayo??” tanya Hoya, Jinri mengangguk pelan “sudahlah Jinri-ya, berhenti menangisi si babo itu” kata Hoya lagi.
Jinri mengelap wajahnya yang basah lalu tersenyum kecil. “jigeum gwaenchana, aku juga tidak akan menangisinya lagi” katanya. “geurae, sekarang aku tidak mau lagi memikirkanmu atau menangisimu. Annyeong, Nam Woohyun”

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________

[1 month later]

Taeyeon masuk ke dalam ruang guru, lalu menutup pintunya. Setelah itu, ia berkumpul bersama guru-guru lainnya, untuk membahas school trip tahun ini.
“jadi, ada yang punya saran?” tanya Park Jungsoo selaku kepala sekolah. “aku ada saran!” kata Hyoyeon semangat sambil mengangkat tangannya. “ne, Kim Hyoyeon sonsaeng”
“bagaimana kalau ke Jeju, disana ada Natural History Museum, oh ya dan ada Dragon Head Rock juga, sepertinya cocok untuk school trip” kata Hyoyeon. “ah tapi menurutku Gunung Seorak sepertinya lebih bagus” kata Hyukjae, lalu menirukan gaya biksu yang bertapa (?). “aish, masa anak-anak disuruh mendaki gunung” kata Hyoyeon sambil memukul lengan Hyukjae. Jungsoo menepuk dahi, lalu menunjuk Taeyeon yang sedang melamun. “Kim Taeyeon sonsaeng, ada saran?” tanya Jungsoo. Taeyeon tersadar dari lamunannya lalu menunjuk dirinya sendiri. “oh oh nayo?? ehm…Pulau Nami?” kata Taeyeon. Semua guru di ruangan itu langsung menatapnya. “waeyo? apa aku salah bicara?” tanya Taeyeon bingung. “itu ide yang sangat cemerlang, Kim Taeyeon sonsaeng, pulau Nami itu tempat yang bagus” kata Jungsoo. “eoh, lagipula di sana adalah tempat shooting drama serial Winter Sonata” kata Hyoyeon sambil tersenyum. “oh geuraeyo, jadi school trip tahun ini….ke Pulau Nami?” kata Taeyeon memastikan, semuanya mengangguk. “kita akan ke sana pagi-pagi, dan pulang sore harinya, setelah itu dilanjutkan dengan pelatihan khusus selama 3 hari di sekolah” kata Hyukjae.

Setelah keputusan itu dibuat, Taeyeon mengetik pengumuman untuk anak-anak, di selembar kertas. Setelah itu ia pergi ke mading sekolah untuk menempelnya. “sonsaengnim, itu apa?” tanya Donghyun yang kebetulan lewat situ. “oh Kim Donghyun, sudah beberapa hari ini kau tidak terlihat di sekolah” kata Taeyeon sambil menempel pengumuman itu. “ah itu aku sakit, saem itu apa?” kata Donghyun. “oh ini pengumuman untuk school trip dan pelatihan khusus” ujar Taeyeon sambil tersenyum. “oh school trip, kemana?” tanya Donghyun lagi. “ke Pulau Nami” jawab Taeyeon, setelah urusannya beres, ia tersenyum lagi pada Donghyun lalu berkata “beritahu yang lain untuk lihat pengumumannya juga ya”. “ne saem” kata Donghyun, dan Taeyeon pun pergi. “mmm Pulau Nami ya? kedengarannya bagus” gumam Donghyun lalu memasukan kedua tangannya ke saku celana dan pergi ke lokernya.
Sesampainya di sana, ia bertemu Sunyoung, yang entah sedang mencari apa di lokernya. “Sunyoung-a!” sapa Donghyun sambil tersenyum. Sunyoung langsung menoleh ke sumber suara, dan begitu melihat Donghyun, bayangan kejadian yang waktu itu muncul lagi di otaknya. (*baca di Chapter 3*) “a…annyeong” kata Sunyoung pelan sambil menundukan kepala karena malu. Donghyun menatapnya dengan tatapan heran, lalu berkata “kau sudah tahu belum, school trip tahun ini ke pulau Nami”. “mwo?? Namiseom??? waa jinjja?? ah menyenangkan sekali, eh tapi kau tahu darimana?” kata Sunyoung, kelihatan semangat. “ada pengumumannya di mading” kata Donghyun. “kalau begitu aku mau lihat, annyeong Donghyun-a!!!” kata Sunyoung lalu kabur (?) ke mading sekolah. “dia kenapa sih? aneh” gumam Donghyun sambil membuka pintu lokernya, dan ia pun menemukan potongan kertas yang dulu itu di dalam lokernya, ternyata ia masih menyimpannya. Donghyun mengambil kertas itu dan bolpoin, lalu mengganti tulisan di kertas itu. Setelah itu ia menempelnya di loker Sunyoung. “hope you read it” batin Donghyun sambil tersenyum.

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________

[kantin]

“Mwo!!?? Namiseom??!!” seru hampir semua anak yang ada di kantin. Seperti biasa, ini acara gosip sebelum istirahat siang dari Hyuna, Hara dan Hyomin. “eoh Namiseom atau Nami Island, ah menyenangkan sekali kalau school trip-nya benar-benar kesana” kata Hara. “yup di kertas pengumuman, katanya kita akan berangkat lusa” kata Hyomin. “dan setelah itu dilanjutkan dengan pelatihan khusus di sekolah selama 3 hari” lanjut Hyuna.
“waa pulau Nami, salah satu tempat paling romantis di Korea kurasa” kata Hwayoung, Jinri yang duduk di sebelahnya diam saja, baginya, seberapa romantisnya pun pulau Nami, tidak akan ada artinya. “Hwayoung-a, aku mau ke toilet sebentar” kata Jinri, lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pergi.

“huh naega baboya! aku bilang aku ingin melupakannya tapi aku masih mengingatnya, ayolah Choi Jinri!!! masa tidak bisa menghapus nama Nam Woohyun dari otakmu?!” kata Jinri dalam hati sambil memukul-mukul kepalanya sendiri, dan…

Brukk!!

Tiba-tiba ia menabrak seseorang. ‘Seseorang’ itu adalah Nam Woohyun. Mereka saling pandang beberapa saat, kemudian Jinri menundukan kepalanya dan melanjutkan berjalan, tapi Woohyun terus menghalangi jalannya, sampai akhirnya Jinri bicara juga. “yah, kamu ini kenapa sih?” kata Jinri. “Jinri-ya, kenapa kau bersikap seperti itu?” tanya Woohyun, “bersikap seperti apa?” kata Jinri balas bertanya. “bersikap seperti tidak mengenalku” kata Woohyun lagi. “aku memang tidak mengenalmu, atau setidaknya aku berusaha untuk tidak mengenalmu!” kata Jinri. “tapi kenyataannya kan kita saling mengenal” kata Woohyun sambil menatap Jinri dengan tatapan ‘ya-kan-?’ (?). “kalau begitu beraktinglah, pura-pura saja kita tidak pernah kenal” kata Jinri, lalu melanjutkan perjalanannya.
“apa dia benar-benar sudah melupakanku? ish kenapa aku harus peduli, biar saja dia melupakanku. Masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari Choi Jinri yang babo” batin Woohyun, tapi meskipun begitu, tetap saja ia merasa aneh kalau Jinri bersikap begitu padanya. Seperti ada yang hilang.
“huh sudahlah abaikan saja” gumamnya, sambil melangkahkan kakinya menyusuri koridor, menuju ke kamarnya. Ia memutuskan untuk melakukan refreshing otak selama jam istirahat siang, alias tidur.

Setiba di depan kamarnya, ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Di dalam juga ada Gikwang dan Donghae yang sedang membicarakan school trip. “yah kenapa wajahmu itu kusut sekali?” tanya Gikwang. Woohyun melempar dirinya ke tempat tidur lalu menjawab “tidak apa-apa, jangan ganggu aku mau tidur”
Gikwang melihatnya dengan pandangan heran, lalu matanya teralih pada selembar syal biru di atas meja, yang biasa di pakai Woohyun belajar. “ini syal siapa?” tanya Gikwang sambil mengulurkan tangannya, hendak mengambil syal itu. sontak Woohyun terbangun dan menghentikan niatan Gikwang. “yah geugeot sondaejima! (jangan sentuh itu)” seru Woohyun. “kenapa?” kata Gikwang bingung “ng…karena itu milikku, itu benda yang penting, jadi hyung tidak boleh menyentuhnya” kata Woohyun sambil mengambil syal itu. “itu milikmu, terus apa hubungannya dengan ‘Gikwang tidak boleh menyentuhnya’. Kau juga pernah menyentuh barang-barang kami” kata Donghae heran. Woohyun menggaruk kepalanya yang tidak sama sekali gatal sambil mencari alasan. “ehmm itu…itu dari seseorang. Ah pokoknya itu benda yang sangat penting, jadi jangan sembarangan menyentuhnya” kata Woohyun. “hyung, aku mau tanya” kata Woohyun lagi. “tanya apa?” kata Donghae. “kalau ada seseorang menyatakan perasaannya pada seseorang, lalu seseorang itu menolaknya, lalu seseorang yang menyatakan perasaannya itu sedih dan tiba-tiba berkata kalau ia akan melupakan seseorang itu, lalu ia menyanyikan lagu sedih, dan sebulan setelahnya, seseorang itu bersikap seolah tidak mengenal seseorang yang satunya lagi, apa itu wajar?” kata Woohyun panjang lebar, yang sebenarnya sedang menceritakan kisahnya sendiri. Donghae dan Gikwang, keduanya menatapnya dengan tatapan bingung, “kau ini bicara apa sih? tidak bisa pakai bahasa manusia ya?” tanya Gikwang, “eh jujur saja, aku tidak mengerti apa maksudmu” kata Donghae lalu nyengir. “aish maksudku, Jinri menyatakan perasaannya padaku, lalu aku menolaknya, Jinri jadi sedih dan tiba-tiba ia bilang ia akan melupakanku, lalu dia menyanyikan lagu sedih dan sebulan setelah itu Jinri bersikap seolah ia tidak mengenalku” kata Woohyun, terpaksa menceritakan kisah yang sebenarnya, walau sebenarnya ia tidak mau. “kenapa tidak bilang dari tadi. Ya tentu saja itu wajar, eh tapi kau dan Jinri…sejak kapan?” kata Gikwang sambil menatap Woohyun dengan tatapan menyelidik (?). “ah tapi menurutku itu tidak wajar” protes Woohyun. “kalau kau punya jawaban sendiri, kenapa harus bertanya. Yang dilakukan Jinri itu wajar, justru kau sekarang yang bersikap tidak wajar” kata Donghae, sukses membuat Woohyun semakin stress dengan dirinya sendiri. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Apa ini tandanya ia menyukai Choi Jinri? Sebentar lagi ia akan mendapatkan jawabannya…

****************************************************************************************************************

(singkat cerita) two days later…
[Nami Island]

“ok semuanya, ingat jam 6 nanti kita berkumpul lagi di sini. Jangan lupa makan siangnya. Baiklah, have a nice day!!”.
Setelah Taeyeon selesai memberikan pengarahan singkatnya, semua anak langsung kabur (?) seperti biasanya.

“Jinri-ya, aku dan Sunyoung mau kesana dulu ya” kata Hwayoung sambil menggandeng tangan Sunyoung, Jinri hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, dan kedua temannya pun pergi meninggalkannya. Sekarang ia duduk sendirian di sebuah bangku kayu panjang.
Tiba-tiba seseorang menghampirinya, meraih tangannya dan menariknya. Siapa lagi yang punya hobi menarik-narik tangannya selain Nam Woohyun. “yah, apa yang kau lakukan? lepaskan…” kata-kata Jinri terhenti begitu ia melihat syal biru pemberiannya waktu itu, dipakai oleh Woohyun. “eh? kupikir ia akan membuangnya” batin Jinri. “yah, kenapa kau pakai baju seperti itu?” tanya Woohyun, ia menghentikan langkahnya dan menunjuk sweater yang dipakai Jinri. Sweater itu bergambar beruang sedang memeluk hati yang retak dengan tulisan “One Sided Crush”
“memangnya tidak boleh? lagipula memang ini yang terjadi padaku, aku…aku menyukaimu dan kau tidak menyukaiku, itu namanya one sided crush kan??” kata Jinri. “aku tidak suka melihatnya, apa kau tidak punya sweater lain?” kata Woohyun kesal. Jinri jadi bingung, ada apa dengan orang ini? Buat apa Woohyun protes cuma gara-gara tulisan “one sided crush” di sweaternya? Benar-benar aneh. “kalau kau tidak suka, jangan dilihat!! Aku kan tidak menyuruhmu memandangi tulisan di sweaterku sepanjang hari!” kata Jinri, “buat apa juga kau protes?” lanjutnya sambil memainkan rambutnya yang dikuncir dua. “betul juga, buat apa aku protes?” pikir Woohyun, bingung pada dirinya sendiri. “aish sudahlah lupakan saja” katanya, ia kembali menarik Jinri, berjalan bersamanya, menyusuri jalan setapak di Pulau Nami yang indah.

image

Nami Island

~***~

[Another story]

Stasiun itu cukup ramai hari ini, banyak orang membawa tas besar dan kecil berjalan kesana kemari sibuk dengan urusan sendiri. Sementara itu di sebuah kursi, duduk seorang gadis berambut panjang. Ia memakai mantel putih dan syal putih. Ia juga membawa sebuah tas yang agak besar. Gadis itu adalah Im Yoona, disaat semua murid yang lain pergi ke pulau Nami, ia malah harus pulang ke Busan. “oh, apa yang harus kulakukan? keretanya masih dua jam lagi” batin Yoona sambil melihat jam tangannya. Ia menghela napas lalu bersandar ke kursi, lumayan bosan juga berada di sini sejak jam lima pagi. “sekarang ia sedang apa di Namiseom?” kata Yoona dalam hati, ia membayangkan kalau ia bisa ikut ke pulau Nami pasti menyenangkan sekali, sayangnya ia tidak bisa ikut. Di sela-sela hayalannya itu, tiba-tiba ponselnya bunyi. Yoona segera tersadar, dan cepat-cepat mengambil ponselnya dari saku mantel.
“eoh oppa, ada apa?” kata Yoona.

“Yoona-ya, kau pergi kemana? Kata Jiyeon, pagi-pagi sekali kau sudah tidak ada di kamar, memangnya kau tidak mau ikut ke Namiseom?” kata Donghae dari seberang sana (?). Yoona terdiam sejenak, perutnya terasa mual karena gugup. Ia tidak tahu harus bilang apa. “oppa, aku…aku pergi ke…mianhae tapi aku harus pulang ke Busan, aku bukan bermaksud melanggar janjiku tapi…”

“Yoona-ya, jangan kemana-mana! pokoknya jangan bergerak, aku ke sana sekarang”. Setelah mengatakan itu, Donghae memutuskan teleponnya. “oppa…yah Lee Donghae!! aish sekarang aku harus bagaimana?” kata Yoona sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Ia menatap selembar tiket di tangannya lalu mendapat ide “apa aku kabur saja sekarang? bukannya aku tidak ingin bertemu dengannya tapi…”, Ia terus menatap tiket itu selama beberapa menit, sampai akhirnya seseorang menarik tiket itu dari tangannya. Yoona langsung berdiri saking kagetnya. Sekarang di hadapannya berdiri Donghae, sedang memegang tiket keretanya, dan mulai menyobek tiket itu menjadi potongan-potongan kecil. “yah!! apa yang kau lakukan??? itu tiketku!” seru Yoona kaget. “kau sudah janji tidak akan pergi, kenapa masih pergi juga?” tanya Donghae, ia kelihatan agak (?) marah. “appa-ku sakit, aku harus ke Busan sekarang, lagipula aku tidak pergi selamanya, aku cuma pergi tiga hari!” kata Yoona sedikit berseru. “tetap saja aku tidak mau kau pulang ke Busan!”. Sekarang keduanya saling membentak, untung tidak ada yang memperhatikan mereka. “kenapa?!!” “karena aku…aku takut kau tidak akan kembali lagi ke Seoul” ujar Donghae, mulai menurunkan nada bicaranya. “mwo? kan sudah kubilang, aku hanya pergi tiga hari, setelah itu aku pasti pulang” kata Yoona. Donghae mengambil tas Yoona, lalu menggandeng tangan gadis itu “Im Yoona-sshi, tidak ada kereta ke Busan hari ini” katanya lalu menarik Yoona keluar dari stasiun.

***

“oppa, oppa, lepaskan tanganku!” kata Yoona begitu mereka sudah agak jauh dari stasiun. “shireo. Nanti kamu kabur” kata Donghae sambil terus berjalan, diikuti Yoona yang melangkah terseok-seok. “oppa, tanganku sakit. lepaskan tanganku” kata Yoona. Donghae pun berhenti berjalan dan melepaskan tangan Yoona. “mianhae” katanya singkat. Yoona mengangguk pelan lalu bertanya “sekarang apa yang akan kita lakukan? oh bukannya oppa sedang ada di pulau Nami?”
“aku sebenarnya tidak ke sana, aku mencarimu dulu. Sekarang kita jalan-jalan saja” kata Donghae. Yoona tidak merespon, ia hanya manyun sambil menatap tanah. “Yoona-ya” panggil Donghae, ketika gadis itu melihat ke arahnya, ia tersenyum. “kaja, ayolah jangan manyun terus! kita jalan-jalan di Insadong saja, eottae?”. Yoona tersenyum kecil lalu mengangguk, Donghae kembali menggandeng tangannya dan mereka pun berjalan berdua. Sementara di Namiseom teman-teman mereka sedang jalan-jalan, mereka membuat acara sendiri.

~***~

(singkat cerita) sorenya…
[Back To Nami]

Jinri melamun menatap langit, sementara Woohyun sibuk melempar-lempar kerikil (?) ke sungai. Keduanya duduk di bangku yang sama, tapi sibuk sendiri. “yah, aku ingin mengatakan sesuatu” kata Woohyun, Jinri menghentikan (?) lamunannya dan menyahut “katakan saja” “Jinri-ya, ….aduh ini sesuatu yang serius, kau harus dengar baik-baik” kata Woohyun sambil menepuk bahu Jinri, gadis itu barusan sudah kembali menatap langit. “iya aku dengar! eoseo malhaebwa” kata Jinri sedikit kesal. “Jinri-ya, apa tidak bisa kalau….kalau kau menyukaiku lagi?” ujar Woohyun, ia menggenggam kerikil di tangannya erat-erat, sambil menunggu reaksi Jinri. “mwo? otakmu pasti sudah terganggu” kata Jinri, gadis itu berdiri dan segera melangkah pergi. “Jinri-ya” panggil Woohyun sambil menyusul Jinri. Jinri menghentikan langkahnya dan menatap Woohyun dengan mata berkaca-kaca (?) “yah Nam Woohyun, kau pikir aku ini apa? waktu itu kau menolakku, lalu sekarang kau memintaku untuk menyukaimu lagi. Woohyun-a, hati manusia bukan mainan, kau tidak bisa seenaknya padaku seperti ini” kata Jinri, karena Woohyun diam saja, ia membalikan badannya dan melanjutkan berjalan.

“aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan? buat apa dia berkata begitu? dasar babo! jelas-jelas aku masih menyukainya” batin Jinri sambil terus berjalan dan menunduk menatap tanah. “Jinri-ya!!”. Tiba-tiba terdengar suara Sunyoung memanggilnya. Gadis itu menghampirinya dan merangkulnya “wae geurae? gwaenchana?” tanya Sunyoung, Jinri mengangguk “gwaenchana, mana Hwayoung?” kata Jinri. “Hwayoung sudah menunggu di tempat kita datang tadi, sekarang kan kita harus kembali ke sekolah. Oh ya ngomong-ngomong, kau kemana saja? berjam-jam kami mencarimu” kata Sunyoung, ia memperhatikan wajah Jinri, sepertinya sesuatu telah terjadi. “aku pergi bersama…seseorang” kata Jinri, melihat sahabatnya kebingungan, ia segera tersenyum “kaja, nanti kita ditinggal” katanya lagi. Sunyoung mengangguk “kaja!”

****************************************************************************************************************

[Sesampai di sekolah]

“hmm ok sepertinya sudah ada semua” kata Taeyeon, ia sedang menghitung murid-muridnya. “Sonsaengnim, setelah ini acaranya apa?” tanya Hyuna, selaku head dorm perempuan. “sekarang semuanya berkumpul di kantin, lalu kau dan Joon pilih beberapa orang untuk masak makan malam” kata Taeyeon sambil tersenyum. Hyuna mengangguk dan memberi isyarat pada semuanya untuk mengikutinya ke kantin.

“ok, satu jam lagi waktu makan malam, sekarang aku akan meminta tiga orang untuk masak makan malam” kata Hyuna, lalu ia mengedarkan pandangan ke seluruh kantin dan menjatuhkan pilihan pada Jinri “Jinri-ya, kau dan…Hwayoung yang masak, dan kau siapa namamu?? oh Jang Jinyoung, kamu yang rebus telurnya” kata Hyuna sambil menunjuk Jinyoung. “kenapa harus aku? shireo!” kata Jinyoung ketus. “yah Jang Jinyoung!!!” seru Hyuna sambil memelototi gadis itu, akhirnya ia menurut juga. “eh Hyuna-ya, kita harus masak apa?” tanya Hwayoung. “masak apa saja terserah kalian, ehm ramyeon juga boleh” kata Hyuna. Hwayoung dan Jinri saling pandang lalu mengangguk dan pergi ke dapur sekolah, diikuti oleh Jinyoung yang harus merebus telur.

———»

*di dapur*

Jinyoung menatap telur-telur di hadapannya sambil manyun. Seumur hidup ia tidak pernah masuk ke dapur. “bagaimana cara merebus telur?” pikirnya.
“ah sudahlah lakukan saja sebisaku!!” omel Jinyoung sambil memasukan telur-telur itu ke dalam panci besar (?) berisi air, lalu ia menyalakan kompor dan menunggu. “Nuna neomu yeppeo~”. Tiba-tiba seseorang menyanyi di sebelahnya. Jinyoung segera menoleh dan mendapati Sehun sedang berdiri di sebelahnya sambil memandanginya. “what are you doing?!!” kata Jinyoung jutek. “aku di suruh Joon sonbae mengambil telurnya, sudah matang belum??” kata Sehun sambil tersenyum, “aku tidak tahu!!” kata Jinyoung lalu mematikan kompor dan mengangkat panci berisi telur yang belum matang itu ke kantin. “eh sonbae, itu bukannya masih mentah? oh eotteohkhae?” kata Sehun kebingungan (?)

Sementara itu di sisi lain dapur, Jinri menatap sayur-sayuran di meja tanpa suara, ia benar-benar merasa tidak nyaman berada di dapur itu. Karena selain dia dan Hwayoung, Woohyun dan Hoya juga disuruh ikut membantu. “Jinri-ya, cepat cuci sayurannya” kata Hwayoung sambil menyikut sahabatnya. “ah..ne” jawab Jinri singkat, lalu memasukan sayuran itu ke dalam ember berisi air dan membawanya ke belakang. “eh aku ikut!” kata Hoya sambil menyusul Jinri. Woohyun yang tidak tahu mau berbuat apa juga ikut-ikutan. “yah! kalian mau kemana?!!” seru Hwayoung kesal, sekarang ia terpaksa menyiapkan ikannya sendirian.

***

Jinri berjongkok, mencuci sayuran itu satu persatu sambil melamun. Tiba-tiba Woohyun dan Hoya datang, keduanya berjongkok di kanan kirinya, dan ikut mencuci sayuran. “yah kalian sedang apa di sini??” tanya Jinri bingung. “aku sedang membantumu, entahlah si babo itu sedang apa” kata Hoya sambil menunjuk Woohyun dengan setangkai bawang daun. “yah, apa kau bilang? babo? kau itu lebih parah dari babo!!” balas Woohyun sambil mengacungkan lobak ke arah Hoya. “ah eotteohkhae?? jangan-jangan mereka akan berkelahi gara-gara aku” batin Jinri, ia pun merentangkan tangannya dan berseru “STOP!!!!!!!!”.
Hoya dan Woohyun menatapnya dengan tatapan bingung. “aku ingin mencuci sayuran dengan tenang (?), jadi…jangan bertengkar di sini!” ujar Jinri, lalu kembali sibuk dengan sayurannya. “Lee Howon babo” kata Woohyun pelan sambil mencuci lobak di tangannya. “Nam Woohyun lebih babo” balas Hoya.

“yah!! kalian benar-benar jahat!! masa tidak ada yang membantuku?? Hoya, ayo bantu aku!!”. Hwayoung menyusul ke belakang dan menculik (?) Hoya untuk membantunya. Sekarang Jinri cuma berdua bersama Woohyun. “ah selesai juga” kata Jinri, lalu berdiri dan mengangkat ember tadi. “Jinri-ya” panggil Woohyun, tapi gadis itu pura-pura tidak dengar dan langsung pergi ke dapur.

***

#satu jam kemudian…

Sekarang semua makanannya sudah jadi, Hwayoung dan Hoya (yang dipaksa oleh Hwayoung) yang membawa makanan-makanan itu ke kantin. Sementara Jinri tetap diam di dapur, entah kenapa ia tidak ingin makan. Ia bersandar pada tembok dan memulai kebiasaan buruknya. melamun. “yah Choi Jinri!!”
Merasa ada yang memanggilnya, ia berhenti (?) melamun dan celingak-celinguk mencari sumber suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Woohyun yang sekarang berdiri di depannya. “kau sedang apa di sini?” kata Jinri pelan. “Jinri-ya, ada yang harus kukatakan padamu” kata Woohyun, “apa itu?” tanya Jinri, entah kenapa sekarang ia jadi gugup. “cuma satu kata sebenarnya, tapi ini benar-benar mengganjal. jadi…” Woohyun menarik napas lalu melanjutkan “johahae”
“ne??!! johahae?? aku tidak salah dengar?? joha bagaimana maksudmu??” tanya Jinri kaget. “aish jinjja babo…. joha seperti laki-laki pada perempuan, apa kau sebodoh itu??” kata Woohyun kesal, ia sudah mempertaruhkan gengsi (?) untuk mengatakan itu, tapi yang bersangkutan malah minta penjelasan, entah saking bodohnya atau pura-pura bodoh. “oh tapi kenapa kau bisa menyukaiku? bukannya waktu itu kau bilang kau sudah bersumpah tidak akan menyukaiku?” tanya Jinri lagi, “sudahlah lupakan saja kata-kataku yang waktu itu. oh ya, kau masih…”. Jinri cepat-cepat memotong kata-kata Woohyun, karena ia tahu kelanjutannya. “ne, aku masih menyukaimu” ujar Jinri, lalu menundukan kepalanya karena malu. “Jinri-ya”
“oh haranim (tuhan), eotteohkhaji??? ige do mwoya??(apalagi ini?)” kata Jinri dalam hati, sambil mengangkat kepalanya. Woohyun tidak mengatakan apa-apa, laki-laki itu cuma menatapnya, membuatnya berpikiran macam-macam(?). Jadi ia segera memejamkan matanya, entah kenapa. “yah! kenapa kau menutup mata? kau pasti mengharapkan sesuatu yang bukan-bukan” kata Woohyun sambil menyentil kening Jinri. Gadis itu segera membuka matanya dan mengusap keningnya yang sakit sambil manyun. “aku tidak mengharapkan apa-apa kok” katanya. Jujur saja, sebenarnya ia mengharapkan ‘sesuatu’
“jinjjara?” tanya Woohyun, “jinjja!!!” kata Jinri berusaha meyakinkan. “kau benar-benar tidak mengharapkan ‘sesuatu’ seperti ini?” kata Woohyun. ia maju selangkah dan memeluk Jinri yang wajahnya sudah merah semerah merahnya (?). “yah!! apa yang kau lakukan?!” kata Jinri, “ih bisa-bisanya ia melakukan sesuatu seperti ini di dapur”
“harusnya kau berterima kasih, aku masih mau mengabulkan sedikit dari ‘sesuatu’ yang kau harapkan itu” kata Woohyun. “tapi kenapa harus di dapur???!!” omel Jinri. “sudah terlanjur, tidak ada tempat lain”
“dasar menyebalkan!”
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________

[di kantin]

Krystal memakan ramyeon-nya sambil melihat ke sekeliling. Ia tidak melihat satu orang sejak di Namiseom tadi, Choi Minho. “hey ini telurnya” kata Jinyoung sambil menyodorkan sebutir telur (yang sudah jelas masih mentah) pada Krystal. Krystal mengambil telur itu dan tidak mengucapkan terima kasih, karena menurutnya orang seperti Jinyoung tidak pantas mendapatkannya. “huh tumben dia baik padaku, biasanya kan dia menyebalkan. Awas saja kalau dia macam-macam aku akan…”
Sementara Krystal sibuk mengomel, Jiyeon yang duduk di sebelahnya sedang terkaget-kaget karena menemukan surat di bawah mangkuk ramyeon-nya.

to: Park Jiyeon
from: The person who gave you the chocolate
Jiyeon-a, ramyeon ini memang bukan aku yang masak, tapi aku sudah menyuruh yang memasak untuk membuat yang berbeda untukmu. Semoga kau menyukainya, selamat makan!
p.s: mianhae, waktu itu kita tidak jadi bertemu^^
*J*

“siapa sih orang ini?? aku benar-benar penasaran!!!” kata Jiyeon. Waktu itu ia hampir bertemu dengan si ‘J’ ini. Tapi gagal. Ia sebenarnya sudah menduga satu orang, tapi ia tidak tahu apa dugaannya ini masuk akal. “apa iya orang ini Joon sonbae?? ah keunde…maldo andwae!” pikir Jiyeon sambil mengaduk-aduk ramyeon-nya. Selain ia rasa tidak mungkin, ia juga masih menyukai Minho.
Tiba-tiba….

Prak!!

terdengar suara telur pecah dari sebelahnya. Jiyeon segera melihat ke arah Krystal dan memekik kaget. Kepala sahabatnya itu sudah penuh telur. Krystal yang tidak tahu kalau telur itu masih mentah, bermaksud meretakan kulit telur itu dengan mengetukannya ke kepalanya. Dan yang terjadi malah telur itu pecah dan mengotori rambutnya. “sialan. yah, siapa yang merebus telurnya!!!” kata Krystal dengan lebih keras pada kalimat terakhir. “Jang Jinyoung” jawab Hara. Begitu mendengar nama itu, Krystal cuma bisa menggigit bibirnya, menahan emosi. Sampai-sampai air matanya keluar, alias menangis. Semua orang langsung menatapnya dengan tatapan kaget. tidak ada yang pernah melihatnya menangis. “Jang Jinyoung, kalau kau bukan anak sajangnim, aku sudah membunuhmu dari dulu” gumam Krystal. “omo Soojung-a, gwaenchana? yah uljima” kata Jiyeon sambil mengusap air mata Krystal. “aniyo Jiyeon-a, angwaenchana (tidak baik-baik saja)” kata Krystal pelan. Jiyeon pun memegang lengan Krystal dan membantunya berdiri. “kaja Soojung-a, kita ke toilet” kata Jiyeon, Krystal mengangguk dan pergi ke toilet bersama Jiyeon.

****************************************************************************************************************

[Besoknya]

Hari ini pelatihan khusus yang dimaksud itu dimulai. Dan pembimbingnya adalah kepala sekolah mereka sendiri, Park Jungsoo. Hari ini semua murid disuruh lari sepuluh keliling mengelilingi sekolah. Bukan di dalam sekolah tapi di luar sekolah.

Dan hal ini, benar-benar membuat Yoona lelah setengah mati. Padahal sebenarnya sewaktu training dulu ia juga pernah di suruh seperti ini. “aku harus duduk” gumamnya sambil duduk di bawah pohon dan mengatur napasnya yang terengah-engah. “eonni, kenapa duduk disana??” tanya Jiyeon yang kebetulan (?) lewat. “aku lelah, oh ya Soojung mana? ia tidak lari bersamamu?” kata Yoona, Jiyeon menghampirinya dan berkata “Soojung ada di rumah sakit, tadi pagi ia tiba-tiba mimisan dan wajahnya pucat sekali. Jadi aku dan Gikwang oppa langsung mengantarnya ke rumah sakit. Sekarang Gikwang oppa masih ada di sana menemani Soojung”. Yoona mengangguk mengerti, “nanti siang aku akan menjenguknya. Oh ya Jiyeon-a, kau melihat Donghae oppa?” kata Yoona. Jiyeon menunjuk ke kerumunan siswa yang berlari sambil tersenyum “itu Donghae oppa. ia pasti akan ke sini sebentar lagi, aku lari lagi ya eonni!!” kata Jiyeon lalu kembali berlari. “oh Jiyeon-a!!” panggil Yoona, tapi Jiyeon tidak menyahut.

“Yoona-ya, kau sedang apa disini?”. Sekarang Donghae sudah ada di sebelahnya, Yoona benar-benar kaget seolah melihat hantu (?). “eomma!! ya ampun kupikir siapa” pekiknya. “kau pikir siapa?” tanya Donghae, “bukan siapa-siapa” kata Yoona pelan. “kau haus?” tanya Donghae lagi, Yoona terdiam sejenak lalu mengangguk. Donghae menyodorkan botol minum yang sejak tadi ia pegang sambil tersenyum. “tapi kan ini… ini punya oppa?” tanya Yoona antara kaget dan bingung (?). “iya ini punyaku, kenapa memangnya?” kata Donghae balas bertanya. Yoona mengambil botol itu dan meminum air di dalamnya. Kalau ia membahasnya lebih lanjut, akan semakin membingungkan.

“oppa, besok hari apa?” tanya Yoona sambil menutup botol itu. “besok hari…” Donghae menghentikan kata-katanya, lalu sesuatu (?) muncul di otaknya “besok bukan hari ulang tahun Yoona, lalu hari apa?” pikirnya. Setelah menggali (?) otaknya lebih dalam, akhirnya ia menemukan memori masa lalunya bersama Yoona.

#flashback#

Oppa, apa tidak bisa makan pelan-pelan?” tanya Yoona sambil memperhatikan Donghae yang sedang makan. “Yoona-ya, kita cuma punya waktu istirahat lima menit, jadi harus cepat” kata Donghae lalu melanjutkan makannya. Beginilah yang namanya masa training, istirahat cuma sebentar, setelah itu harus langsung berlatih lagi. “yah ayo semuanya berkumpul di luar!!” seru tuan Park, trainer mereka. Mereka berdua pun cepat-cepat berlari keluar menyusul Krystal dan yang lainnya.

“sekarang kalian buatlah satu kelompok dua orang, lalu diamlah di suatu tempat di sini. Boleh di ayunan itu, di bawah pohon, dimana saja boleh. Nanti seseorang akan datang memberi kalian petunjuk” kata tuan Park.

“kaja Yoona-ya” kata Donghae sambil tersenyum dan meraih tangan Yoona. Ia mengajak Yoona ke ayunan. Mereka berdua duduk di ayunan itu dalam diam. Sampai akhirnya Donghae buka suara “Yoona-ya, aku mau tanya sesuatu” kata Donghae “kau mau tidak jadi yeojachingu-ku?” lanjutnya. Kata-kata Donghae itu berhasil membuat Yoona terkejut “oh oppa serius?” tanya Yoona, Donghae mengangguk, lalu menggenggam tangan Yoona. “Yoona-ya, aku ingin kita selalu bersama, tidak peduli walau kita sudah debut nanti. kau mau kan berjanji padaku?” kata Donghae sambil kembali tersenyum pada gadis itu. “ne oppa, aku janji”

#flashback end#

“ah maksudmu besok itu hari, saat aku menyatakan cinta padamu, saat kita membuat janji itu kan?” kata Donghae, Yoona mengangguk. “oppa, mianhae aku sempat melanggar janji itu, tapi aku ingin melanjutkan janji itu, kalau bisa” ujar Yoona sambil memainkan rambutnya. Sebenarnya ia agak takut Donghae menolaknya. “ehmm tentu saja, kan waktu itu aku sudah bilang, ayo kita mulai dari awal lagi. Tapi kau belum menjawab mau atau tidak” kata Donghae. “aku boleh jawab sekarang? kalau boleh, jawabannya, aku mau”

____________________________________________________________________________________________________________________________________________________

[di rumah sakit]

Krystal mengelap hidungnya dengan sapu tangan lalu menghela napas. Ini kedua kalinya ia mimisan hari ini. “Soojung-a, kau benar-benar tidak apa-apa kalau kutinggal? sepertinya kondisimu buruk” kata Gikwang sambil menghindari pemandangan mengerikan dari sapu tangan Soojung. Ia tidak bisa melihat darah.
“tidak apa-apa, kata dokter aku cuma terlalu lelah, padahal aku merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang melelahkan. ah pokoknya oppa pulang saja, aku bisa sendirian” kata Krystal. Gikwang berdiri lalu menyerahkan sapu tangannya pada Krystal. “ini ganti sapu tangannya, yang itu sudah…kotor” kata Gikwang. Krystal menerima sapu tangan itu lalu tersenyum kecil “gomawo” katanya. “aku ke sekolah ya, annyeong!” kata Gikwang lagi, lalu membalikan badannya dan pergi meninggalkan kamar rawat Krystal.

***

Saat melewati koridor rumah sakit, Gikwang melihat Song Ahnmi. Anak kelas satu yang waktu itu memakai kaus ‘I’m Krystal Haters’, baru saja keluar dari ruangan dokter. “kenapa dia ada di sini? apa dia sakit?” tanya Gikwang dalam hati, ia sempat berniat untuk menghampiri gadis itu dan bertanya. Tapi ia mengurungkan niatnya itu dan lanjut berjalan.
Beberapa saat kemudian, ia melihat Choi Minho. Laki-laki itu masuk ke dalam rumah sakit dan berlarian (?) di koridor, ia kelihatan sangat panik. “wah kenapa banyak yang ke rumah sakit hari ini?” Lagi-lagi Gikwang bertanya-tanya dalam hati.

***

[back to Krystal’s room]

“huh aku bosan” batin Krystal sambil melamun, lalu ia merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Ia cepat-cepat mengambil sapu tangan dan mengelap hidungnya.

Brakk!!

Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan panik oleh Minho. Laki-laki itu langsung menghampirinya dan duduk di sebelah ranjangnya. “yah!! kau tidak punya sopan santun ya? harusnya kan mengetuk pintu dulu! kenapa masuk begitu saja?!” seru Krystal, antara kaget dan lain-lain (?). “Soojung-a, gwaenchana? tadi aku ke sekolah, trio gosip sedang membicarakanmu, mereka bilang pagi tadi kau mimisan dan langsung dibawa kesini” kata Minho sambil berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah karena habis berlari. “nan gwaenchana, kau habis lari-lari?” kata Krystal sambil memperhatikan Minho. “ya, karena aku panik” ujar Minho. “kenapa harus panik?” tanya Krystal bingung. “karena…ah sudahlah tidak usah dibahas” kata Minho lagi. “kemarin kau pergi kemana? Seharian aku tidak melihatmu” kata Krystal, lalu kembali mengelap hidungnya. “aku harus jaga rumah, kemarin Seungho hyung pulang ke rumah eomma-nya” kata Minho, lalu ia teringat kata-katanya yang belum selesai waktu itu. Sekarang ia berniat melanjutkannya. “Soojung-a, kau masih ingat kata-kataku yang belum selesai waktu itu?” tanya Minho, Krystal terdiam dan berusaha mengingat. “eoh, kenapa memangnya? kau mau melanjutkannya?” kata Krystal sambil menggenggam sapu tangannya erat-erat. “itu lanjutannya adalah…” Belum selesai Minho bicara, seseorang mengetuk pintu lalu masuk ke dalam. “sialan” umpat Minho dalam hati.

‘Seseorang’ itu adalah seorang pria berkaca mata, memakai jas hitam, dan sepatu kulit. Sepertinya orang penting. Ia menghampiri Krystal dan tersenyum. “Jung Soojung-sshi?” tanya orang itu. Krystal mengangguk dan bertanya, “ne, ada apa?”
“saya punya sebuah penawaran yang sangat bagus untuk karir anda kedepannya” kata pria itu, lalu mengeluarkan sebuah map. “saya ingin menawari anda untuk sekolah akting di Amerika” kata pria itu lagi.
“mwo??!!”…

#to be continued….

****************************************************************************************************************

waduh ini chapter kayaknya kepanjangan + gaje abis yaa, ngaret pula!! -___- mianhaeeee #dibunuh readers
Author itu osis, jadi sibuk capek gak sempet nulis, mian yaa lama ^^
kalo ada typo juga mian ^^

Oh ya sedikit pengumuman nih, author punya rencana untuk bikin sekuelnya Beyond The Dream *ada yang pengen gak??* xD
Castnya udah pasti beberapa anak kelas satu, *lirik Sehun ama Baekhyun* dan OCs *buat couple mereka berdua*, karena itu author butuh cast lagi^^
jadi readers boleh kok minta ke author pengen siapa castnya untuk Beyond The Dream 2 (butuh 3 main cast lagi nih xDD)
bantuin yaa, ntar dari pilihan readers, author saring lagi^^
Gomawo *bow*
RCL ne^^ *i’m waiting*

29 thoughts on “Beyond The Dream [CHAPTER 5]

  1. Haha ngakak ngliat hoya ditarik” ama hwa di dapur… Wkwkwk woohyun-jinri ada” aja, msak pelukan di dapur? Gkgkgk

    lha? Season 2? Saran member apink yg msh ank”, trus tau calon member T-ARA yg namany dani gk?
    Eh tp yg ini jd 10 chapter kn?

  2. Kyaaaaaaa…..
    Dah lama bgt nunggu ni chapter, bolak balik mulu ke sini belum ada juga.. Skarang dah ada..
    Sneng bgt… Keren…
    D tunggu lanjutannya…

  3. Unni itu si xia tuh yah bener-bener dah XD itu si sehun juga XD

    itu si minho kasian T-T unni cepetan chapter lanjutannya ya :D

  4. chua eonni…^^ uda nggu lama nihh….blak blik buka msi stuck d.angka 4
    oh ya..kluarnya jg lama dong eonni,,smpe lupa sama crta yg kmrennn
    ppalli>.<

    bwad sequel.x…mau eonni,,tp yg ini jg trlupkan yahh
    gmna klo ada taemin ma kai..ato key?? U.U
    bwad tkoh cew.x…..ikut ajja dehh

    ps:crta.x lbih pnjang ya eonni klo bisa,,klo baca tauk* uda to be continued

    • waa gomawo ^^
      aduh iya mian yaa ngaret akunya sibuk+capek kemarin, tapi janji kok next nya gak akan ngaret kayak gini ^^

      siip deh, ya pasti dong, kalo mau bikin sequel kan yang pertama harus beres dulu^^
      oke, nanti aku diskusiin dulu sama Park Jihyun *nunjuk2 ke atasxD*

      waa perasaan ini panjang lho kkkk~ xD
      siip deh ntar coba aku panjangin ^^
      Gomawo ne :D

  5. Eonni, mian nih komen ..
    Itu bawang daun atau daun bawang, hayooo ….. *plakk
    kalo sekuel nya, aku pasti nunggu terus kok *selalu .. :D* aku ikutin eonni aja, siapapun tokoh baru ny *hhe
    oh iya, klo ini dijadiin drakor ny, pasti keren deh,, aku pasti nnton terus ky dreamhigh..
    Asalkan klo tayang ny di indosiar, trus jam 2siang/5sore *eeaaakk curcol*

    mian eonni, kebanyakan *digetok*
    wkwk ..
    jeongmal mianhae ..
    u.u

  6. Pelukan di dapur? Wkwkwk..
    Minho kasian… Nanggung bgt!
    Kyuhyun atw Tiffany deh! :D
    Lalala… *bersenandung nunggu lanjutannya*

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s