Once Upon A Time

Once Upon A Time

(REMIX from Painfully Loving You)

Author : Gita Oetary as Goetary

Cast : Kim Jong-In [Kai EXOK], Lee Taemin [Shinee], Kristal Jung [FX], Choi Sulli [FX]

Length : One Shoot

Genre : Shonen-Ai/Straight, Friendship, Family, Angst!

Rating : PG+13

Length : One Shoot

Inspirational Song : Danny Gokey – Will Not Say Goodbye, Sarah Bareilles – Breathe Again

WARNING : Pergantian setting tanpa pemberitahuan. Flash back dalam flash back dan ada flash back lagi #Plakk. Jadi tolong diperhatikan tandanya. Jangan sampai kalian kebingungan bacanya :) . Dan fanfic ini akan sangat panjang tapi gak akan dijadiin two shoot, jadi jangan lupa siapin camilan yah kekeke~ Ini fanfic Shonen-Ai (Cowok x Cowok) bukan Yaoi jadi gak akan ada adegan xxx-nya.

Untuk orang-orang yang tidak berbakat, silahkan menjadi PLAGIAT dan akan saya serahkan seluruhnya kepada ALLAH SWT semoga amal baik kalian dipindahkan kepada saya dan amal buruk saya diserahkan kepada anda. Yang mau jadi SILENT READERS itu pun hak kalian sepenuhnya. Tapi saya masih berharap ada orang-orang baik diluar sana yang bisa menghargai karya saya dengan mengomentari, me-like (kalo suka). Happy reading :)

-Ketika satu-satunya yang kau inginkan adalah hal yang paling menyakitimu-

***

Krystal memandangi sosok lelaki yang kini tengah meliuk-liukan tubuhnya sesuai irama musik yang bergema di dalam studio tari tempat mereka biasa latihan dari sudut ruangan.

Ia senang sekali melihat lelaki itu yang menari dengan begitu baik. Wajahnya yang tampan, kulitnya yang gelap, napasnya yang tersengal selalu mampu membuat dadanya berdesir. Padahal ia tak tahu alasannya.

Alunan musik mencapai klimaks. Lelaki itu menyelesaikan tariannya dengan akhir yang mengagumkan. Tubuh tingginya pertama berputar seratus delapan puluh derajat sebanyak tiga kali, tangannya yang panjang terbentang ke samping tubuhnya sementara ia menunduk dengan kaki yang di silangkan. Persis seperti orang yang baru saja menyelesaikan pertunjukan Opera.

Plok… Plok… Plok…

Tepukan tangan terdengar lantang di ruangan yang sepi itu. Suaranya bergema. Krystal disana berdiri dengan kedua tangan saling beradu dengan senyum yang tersungging indah. “Brilliant!” serunya seakan takjub.

“Kau berlebihan,” sergah Kai tak acuh.

Krystal menyodorkan sebotol air mineral kepada Kai yang langsung diteguk habis lelaki itu. “Thanks,” ujar Kai seraya mengembalikan botol kosong kepada Krystal.

Krystal membuka penutup botol di tangannya dan meneguk udara. Ia meringis melihat Kai yang terkikik geli kepadanya.

“Kau berharap kusisakan?” goda Kai.

“Ish… aku juga haus!”

“Kemarilah…” Kai mendekati Krystal, menarik bahu gadis itu. Menyandarkan tubuh mereka satu sama lain, hingga napas mulai tak beraturan.

Dengan susah payah Krystal menelan ludah ketika Kai perlahan menurunkan kepalanya hingga sejajar dengannya dan bergerak mendekat.

“Krys…” bisik Kai samar. Dengan nada suara yang ia buat-buat. Yang terdengar begitu seksi di telinga Krystal. Sehingga melumpuhkan seluruh respon di dirinya. “Kau dehidrasi!” sambil berkata begitu Kai melepas tubuh Krystal, membuat gadis itu tanpa sadar terjengkang ke belakang.

Krystal memandangi Kai frustasi namun tetap membisu.

Suara tawanya membahana. “Jangan berpikir terlalu jauh deh, Krys. Aku ini masih normal tak mungkin menyukai wanita berdada rata sepertimu!” ujar Kai.

Tapi Krystal tak merespon. Secercah rasa sakit timbul di sudut hatinya.

*

Dari jendela, Krystal menyaksikan tetes demi tetes air turun deras dari langit. Membuat segala hal, sejauh mata memandang nampak basah dan layu. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok.

“Hei! Ngapain disini?”

Krystal terlonjak. Ia memandang Kai tanpa ekspresi. “Memangnya kenapa?” ketusnya.

“Ayo pulang.”

“Sebentar lagi, aku masih mau disini.”

“Krys…”

Krystal kembali menatap Kai, “kenapa?”

“Kutemani yah? Lagipula payungku juga hilang.” Kai berjalan mendekat. Krystal hanya mengangguk sekilas yang lalu disambut senyuman tersungging di wajah tampan Kai.

Mereka duduk berdampingan, duduk bersandar di tembok dekat jendela.

“Dingin tidak?” tanya Krystal tiba-tiba. Kai mengangguk sekilas. “Mau pulang saja?”

“Masih hujan.”

“Kau bisa pakai payungku.”

Kai secara tiba-tiba memandang Krystal. Ia mendengus. “Kenapa gak bilang dari tadi sih?”

Krystal terkikik geli. “Kau tidak menanyakannya.”

“Huh.”

Hening…

Krystal menoleh keluar jendela lagi. Hujan mulai reda.

“Sudah berhenti,” ujarnya. “Ayo pulang.”

Krystal baru saja bangun berdiri ketika Kai tiba-tiba sudah menggenggam ujung sweeternya.

Jongin-a? Ada apa?”

“Sebentar lagi, Krys. Sebentar saja lagi. Aku ingin disini dulu. Boleh temani aku kan?”

***

Malam datang lagi.

Dilangit New York yang gelap setelah sesore tadi diguyur hujan, bintang bahkan bisa dihitung dengan jari. Kai menatap langit dari jendela kamarnya yang terbuka lebar. Suara dengkuran teman sekamarnya terdengar lembut dan beraturan. Satu-satunya suara di malam yang senyap selain bunyi detak jam.

Tak ada lagi yang ia lakukan selain menerawang jauh diantara udara yang saling berdesakan. Padahal dulu, saat Taemin masih ada. Ketika mereka masih berteman. Malam selalu terasa berlalu terlalu cepat, membuat mereka tak rela menyudahi kebersamaan. Dulu, Kai hampir tak pernah melewati sehari saja tanpa Taemin.

Dulu…

Sudah berapa lamakah waktu berlalu?

Sampai ia tak sadar. Dulu itu kapan? Kapan terakhir kali ia bertemu Taemin? Melihat wajahnya yang berseri, senyumnya yang mengembang. Melihat matanya yang seolah selalu mengajaknya bicara. Gerakan tubuhnya, tawanya, aromanya. Kapan terakhir kali ia berbicara dengan Taemin? Mengobrol sepanjang malam atau membaca buku bersama dalam diam.

Kapan terakhir kali semua itu terjadi? Mengingat hal itu membuat dada Kai berdesir pilu. Kembali menguak luka yang seharusnya masih tersembunyi rapat di hatinya. Kembali membuatnya rindu lelaki itu… Ia rindu Taemin.

 

-Flash Back-

Diluar hujan turun deras.

Dibawah payung berwarna hitam.

Di depan sebuah gedung bertingkat.

Kai termenung.

Ia tak tahu mengapa ia datang kemari. Tadi seseorang menelponnya dan menyuruhnya kesini. Kata orang itu…

In the shadows of this haunted place

I will laugh, I will cry

Shake my fist at the sky

Kai sebenarnya tak tahu mengapa ia kemari. Ke rumah sakit ini.

Semuanya terasa begitu menyesatkan. Bahkan perasaannya terasa seperti tempat asing yang tak pernah ia singgahi.

Kai melangkah maju. Meski tak tahu untuk apa, ia berjalan kedepan. Melipat payungnya dan masuk melewati pintu geser otomatis. Udara di dalam ruangan itu langsung membuatnya menggigil.

Meskipun begitu, ia kembali berjalan. Tak perduli dengan baju dan celananya yang basah. Ia ingin tahu apa alasan sebenarnya ia datang kemari. Untuk apa ia kesini?

Di depan sebuah pintu sebagai akses masuk ruangan lain, seseorang yang ia kenali berdiri disana. Teman-teman dekatnya berkumpul di situ.

“Hyung?” panggil Kai heran melihat Suho yang beranjak menghampirinya. “Kau juga kemari?” tanya Kai.

Suho mengulum senyumannya. Ia meraih bahu Kai dan memeluk lelaki bertubuh tinggi itu. Kai masih bingung dengan apa yang terjadi. Tapi ia membiarkan Suho memeluknya. Yang entah mengapa membuat hatinya terasa sedikit hangat.

Dari sudut matanya ia melihat sosok Krystal yang duduk di dekat Sulli. Ia menatap Kai seperti menyesali kehadirannya.

Sometimes the road just ends

It changes everything you’ve been

And all that’s left to be

Is empty, broken, lonely, hopin’

-End Of Flash Back-

 

Jong.

Bisik suara itu tiba-tiba menarik Kai dari lamunannya. Membuat ia gelagapan mencari tahu siapa yang memanggilnya barusan.

Jongin…”

Kai memutar kepalanya saat menyadari suara teman sekamarnya.

“Mengapa belum tidur?” tanya Greg sambil mengucak matanya yang berat.

“Apa kau kedinginan? Maaf aku lupa menutup jendela.” Kai berdiri, meraih gagang jendela ketika Greg kembali buka suara.

“Aku tak apa. Tapi kenapa kau belum tidur Jongin?”

“Aku akan tidur sekarang,” ujar Kai seraya beranjak menuju tempat tidurnya. Kai menarik selimut sampai batas dada lalu mematikan lampu kecil di dekatnya. Seketika gelap menyelimuti.

“Tidurlah Kai…”

Kai tersenyum mendengar suara itu. Hanya Taemin yang memanggilnya Kai. Terkadang ia dipanggil dengan nama aslinya, tapi sejak Kai mendapat nama itu sebelum debutnya beberapa tahun yang lalu sebagai penyanyi di Korea, Taemin langsung suka. Sampai sekarang, sampai terakhir kali ia bertemu Taemin, lelaki itu memanggilnya seperti itu. Dengan suaranya yang manis. Dan senyumannya yang menyenangkan.

***

 

November, 2011

Dengan langkah gontai Kai menerobos masuk kedalam sebuah ruangan. Disana. Ia melihat Taemin yang tengah terduduk lesu di samping ranjang kosong tempat ibunya berbaring sebelumnya.

Kai mendekat. Ingin tahu apakah Taemin menangis.

Tapi ia terkejut ketika mendapati raut wajah Taemin yang penuh kebencian saat menatapnya. Dengan bibir bergetar Taemin berusaha tersenyum saat menyadari Kai sedang mendekatinya.

“Taeminnie, kau baik-baik saja?”

Taemin menggeleng. “Bagaimana mungkin Kai…”

“Apa yang sebenarnya terjadi? Mana jasad ibumu?”

Tanpa memerdulikan pertanyaan Kai, Taemin berkata “Aku akan menikah. Dengan orang yang kucintai.”

“Kau senang?” tanya Kai.

Taemin tak bergeming, “apa aku harus senang?” Ia mendongak, dan disana, di dalam matanya yang biasanya berbinar saat ia menatap Kai, kini tersimpan seluruh kesedihan yang juga dirasakan Kai.

“Kalau kau mencintainya, Taemin. Maka kau harus senang.”

“Kata Omma, lebih baik menikah dengannya ketimbang terus bersamamu Kai. Karena ayahmu telah membunuh ayahku.”

Kai termangu. Taemin kembali mengungkit luka lama. Mengapa selalu ayahnya yang disalahkan? Mengapa ia yang harus menanggung dosa ayahnya? “Memang lebih baik, Taeminnie.”

Matanya yang berkaca-kaca berkilat ketika kembali menatap Kai. Kai yang sudah ia lukai. “Maafkan aku Kai. Aku tahu aku sudah berjanji tak akan mengungkit masalah ini lagi. Aku hanya…”

“Tak apa,” potong Kai cepat-cepat. “Memang lebih baik begini.”

Sama seperti ketika ia datang. Tanpa tahu alasannya. Kai beranjak pergi, sekali lagi tanpa tahu untuk apa. Padahal, bukankah Taemin membutuhkannya? Tapi, disana sudah ada Sulli. Jadi ia tak punya alasan apa-apa lagi untuk tinggal lebih lama.

Namun belum sempat ia meraih pintu kamar rawat yang tertutup langkahnya berhenti seketika. Ketika ia menoleh Taemin segera menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Kai.

Taemin memeluknya erat-erat. “Aku tak ingin kau pergi, Kai.”

***

 

January, 2012

Satu demi satu petikan dawai gitar mulai melantunkan nada yang terdengar utuh. Saling sahut menyahut. Sesuai gerakannya yang menggetarkan lelaki itu perlahan mulai menyanyikan lirik lagu dikepalanya. Rangkaian kata yang selama ini membekap hatinya dalam gelap yang menyiksa mengalir keluar.

 

Car is parked, bags are packed, but what kind of heart doesn’t look back?

At the comfortable glowth from the porch, the one I will still call yours

All those words came undone and now I’m not the only one

Facing the ghosts that decide if the fire inside still burns

 

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Holds my love in his hands, still I’m searching for something

Out of breath I am left hoping someday I’ll breathe again

I’ll breathe again

 

Taemin nampak tercengang. Bukan karena permainan gitar Kai yang begitu apik. Bukan karena petikan gitarnya begitu merdu. Bukan juga karena suara berat Kai yang terdengar begitu cocok dengan tiap nada. Tapi karena ia tahu, Kai sedang menyampaikan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang selama ini tak pernah bisa ia utarakan.

 

Open up next to you and my secrets become your truth

And the distance between that was sheltering me comes in full view

Hang my head, break my heart, built from all I have torn apart

And my burden to bear is a love I can’t carry anymore

 

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Hold my love in his hands, still I’m searching for something

Out of breath, I am left hoping someday I’ll breathe again

 

Mata Taemin berkaca-kaca. Hatinya tercabik-cabik. Ia ingin sekali bisa berlari kearah Kai. Dan memeluknya. Membisikkan kata-kata cinta di telinga Kai. Mencium pipinya, bibirnya, lehernya.

Tapi ia tak pernah bisa berbuat apa-apa.

Meskipun ia tahu, di dalam sana. Di dasar hati Kai, lelaki itu pasti menangis, seperti hari itu. Ketika dengan terpaksa ia membohonginya dengan berkata ia mencintai orang lain.

 

It hurts to be here

I only wanted love from you

It hurts to be here

What am I gonna do?

 

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Holds my love in his hands, still I’m searching

All I have, all I need, is the air I would kill to breathe

Holds my love in his hands, still I’m searching for something

Out of breath, I am left hoping someday I’ll breathe again

I’ll breathe again

 

Tiba-tiba saja tepukan tangan membahana diseluruh ruangan. Para tamu undangan yang datang dengan baju dan tatanan indah berbisik dengan nada memuji, mengira Kai memainkan lagu itu dengan senang hati sehingga mereka ikut bahagia. Karena pada kenyataannya tak ada seorang pun yang benar-benar mengerti maksud lagi tersebut.

Taemin mengerjapkan matanya yang basah berkali-kali sebelum akhirnya ia dan Kai saling bertatapan. Waktu yang hanya sedetik itu. Diantara detak jam yang saling berdesakan mereka berdua seakan terhisap pada satu titik masa yang tak bergerak.

Kai menatapnya tanpa ekspresi. Tapi toh Taemin tak membutuhkan apa-apa untuk mengetahui isi hati Kai. Mereka berdua tak perlu saling berucap satu sama lain untuk mengerti apa yang sedang mereka rasakan. Hanya perlu seperti ini.

Taemin tersentak ketika seseorang menggenggam erat tangannya. Ia menoleh kesamping dan melihat senyum yang terukir indah di wajah cantik Sulli sedang ditujukan padanya. Saat itu, Taemin sadar dimana posisinya. Ia balas tersenyum tapi lalu kembali menoleh ditempat Kai tadi berdiri. Dan lelaki itu telah lenyap.

Oppa,” bisik Sulli ceria. Taemin menatapnya dan Sulli kembali melemparkan senyuman paling indah yang ia punya. “Aku cinta padamu.”

Deg.

Taemin terpaku untuk beberapa saat. Mengapa hatinya pilu ketika mendengar ucapan gadis itu? Apa yang salah?

“Apa yang salah?”

“Eh?”

Oppa… kau dari tadi diam saja, apa ada sesuatu yang salah?” tanya Sulli penuh perhatian.

Taemin menggeleng. “Tak ada, Sulli…”

“Panggil aku yobo.”

“Apa?”

“Aku kan sudah resmi menjadi istrimu, kau seharusnya memanggilku dengan sebutan itu, yobo…”

Tak ada satu kata pun yang bisa terujar dari bibir Taemin. Ia merenung dalam diam. Bukan untuk ucapan Sulli barusan. Bukan juga karena ia tak suka mendengar kenyataan yang selalu ingin ia ingkari. Tapi karena sekarang ia sadar. Tak akan ada lagi jalan untuk dirinya kembali ke masa silam. Semuanya sudah berakhir disini. Dan ia tak bisa berbuat apa-apa.

 

-Flash Back-

“Aku mencintai orang lain, Omma…” bisik Taemin terluka.

Wanita setengah baya yang kini tengah berbaring di atas ranjang berwarna putih tersebut tersenyum lembut, “bukankah kau dulu sangat menyukai Sulli, Taemina? Bahkan kau bilang ingin menikah dengannya suatu saat nanti. Sekarang Omma mengabulkan permintaanmu…”

“Itu dulu, Omma. Sekarang tidak lagi.” Taemin memandang wajah ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin sekali menolak. Tapi bagaimana caranya supaya tak menyakiti hati ibunya?

“Kalau begitu kau bisa belajar mencintainya lagi. Sulli adalah gadis yang sangat cantik dan ceria. Saat kau bersamanya dulu kau juga seperti itu kan? Apa dia yang membuatmu berubah, Taemina?”

“Tidak!” Taemin menggeleng tegas. “Kai tidak membuatku berubah sama sekali!”

“Jadi Kim Jong-In yang kau sukai? Anak dari orang yang telah membunuh Ayahmu?”

Mendengar itu. Taemin mendesis pilu. “Kai tidak bersalah, Omma!”

“Tapi ayahnya telah membunuh suamiku, Taemin. Ayahnya telah membunuh ayahmu!”

Kini, bukankah tak ada lagi hal yang bisa ia kendalikan? Selama ini ibunya menganggap Ayah Kai, yang tidak mau membantu hutang keluarga Taemin, meskipun mereka bersahabat, sebagai pembunuh ayahnya. Karena hal itulah yang membuat ayahnya bunuh diri. Dulu, dia juga sangat membenci Kai. Tapi, tak ada satu hal pun yang  bisa membuat ia dan Kai bermusuhan. Ia selalu membutuhkan lelaki itu lebih dari apapun.

“Mengapa kalian melakukan hal ini kepadaku, Omma?”

“Karena, Omma tak ingin kau sendirian saat Omma tak ada.”

Air mata jatuh di pipinya. “Apa maksudmu, Omma?”

Wanita itu mengangkat tangannya, membentangkannya lebar-lebar. Taemin bergegas menghampirinya dan memeluk wanita itu. “Maafkan Omma. Omma tahu kau sangat menyukai Jong-In. Tapi, hanya kepada mereka kami mempercayakanmu Taemina. Lagipula ini adalah keinginan ayahmu sebelum ia meninggal. Lakukanlah untuk kami nak.”

Taemin tak menjawab. Tapi perlahan air mata jatuh lagi di pipinya.

-End Of Flash Back-

 

Kai membiarkan rambutnya dipermainkan angin yang berhembus di atas atap gedung resepsi. Sekarang memang sudah musim panas, tapi pada malam seperti ini, udara masih terasa dingin.

Kai menoleh ketika suara pintu besi di belakangnya terdorong kebagian luar. Seseorang muncul dari sana. Kai hanya tersenyum sekilas saat melihat bayangan itu perlahan menghampirinya.

“Apa kabar?” tanya orang itu.

Kai bersikap acuh seraya berusaha menyembunyikan tangannya dibalik saku celana.

“Kai.”

Hanya dia yang memanggilnya begitu. Hanya dirinya. Tapi mengapa tiap kali ia mendengar nama itu disebut, hatinya seketika merasa perih?

“Maafkan aku.”

Kai diam tak menjawab.

“Kau pasti marah padaku.”

Masih tak ada jawaban.

“Kai…”

“Jangan panggil aku seperti itu lagi,” ujar Kai tiba-tiba.

Tapi Taemin tampak tak terganggu. Ada sesuatu di dalam hatinya yang lebih mengganggu ketimbang apapun.

“Kau tetap Kai-ku.”

Kai menerawang. Ia ingin sekali bisa mengucapkan sesuatu. Membentak Taemin atau memukulnya. Apa saja. Asal ia tak terlihat seperti orang bodoh yang hanya bisa diam ketika Taemin melakukan apa saja yang ia suka.

“Aku cinta padamu, Kai…” seperti ditampar Kai menatap Taemin yang sedang tidak melihatnya. “Tapi kau harus berhenti mencintaiku.”

“Cih!”

Taemin memandangnya. Sambil tersenyum. Senyuman yang biasa. Yang hanya untuknya.

“Jangan memandangku seperti itu, Taeminnie… Aku tahu kau punya rencana jahat.”

Taemin tertawa lepas mendengar lelucon Kai seperti biasa. Membuat Kai ikut-ikutan terkikik geli.

“Ahhh…” Taemin tiba-tiba mendesah. “Aku rindu sekali tertawa seperti ini. Kau tahu tidak Kai?” Taemin menatap Kai lekat-lekat. “Tanpamu, aku… Sebenarnya, aku hanya tertawa seperti ini saat bersamamu saja. Yah, hanya saat kau ada saja.”

Kai tersenyum lembut. Perlahan ia beringsut. Membelai rambut Taemin. Gerakan itu mau tak mau membuat jantung mereka berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya.

“Aku ingin kau tetap tertawa seperti itu, walau aku tak ada,” bisik Kai dengan suara serak. “Aku tak mau merebut kebahagiaanmu, Taeminnie. Aku ingin kau bahagia. Walau tidak bersamaku lagi.”

Air mata perlahan jatuh di pipi Taemin. Sakit di dadanya kembali muncul.

“Jangan menangis.” Kai menyeka satu-persatu air mata Taemin dan mengabaikan air matanya sendiri.

Tak butuh waktu lama buat Taemin untuk terisak. “Aku membutuhkanmu, Kai…”

“Aku tahu.”

“Mengapa kita tak boleh bersama?”

“Kau sudah tahu jawabannya Taeminnie.”

“Bawa aku pergi, Kai. Kemana saja. Asal bersamamu. Kumohon…”

Mendengar ucapan Taemin membuat dada Kai semakin perih. Sebenarnya, ia juga ingin melakukan hal itu. Ia juga ingin membawa Taemin pergi bersamanya. Meninggalkan semua orang yang mencintai mereka. Tapi, ia tak ingin bersikap seenaknya dan menghancurkan masa depan Taemin.

Lagipula, bukankah Taemin selalu bilang mencintai itu bukan berarti harus saling memiliki? Bukankah, cinta sejati akan tetap abadi meski jarak dan waktu memisahkan?

Kai segera merengkuh Taemin kedalam dekapannya. Memeluknya seerat mungkin. Sekuat mungkin. Seolah dengan begitu perasaan mereka berdua bisa hancur berkeping-keping. Hingga tak akan tersisa sedikit pun. Hingga tak akan ada lagi hal-hal yang bisa menyakiti mereka dimasa depan.

Jika saat itu Sulli tidak tiba-tiba muncul, mungkin mereka berdua akan benar-benar lari dari sana. Meninggalkan pesta pernikahan Taemin dan Sulli lalu memulai dari awal. Tapi saat Sulli datang, Kai sadar kalau ia belum tentu bisa membahagiakan Taemin.

Sulli tertegun. Ini bukan pemandangan yang sering dilihatnya. Kai sedang memeluk suaminya erat sekali. Sementara tangisan Taemin terdengar jelas meskipun ia berdiri jauh dari mereka.

Oppa…

“Sulli…”

“Sedang apa kalian?” tanya gadis itu heran.

Taemin segera melepaskan pelukannya dan menyeka air mata di pipinya. Ia memandang Sulli was-was.

Sulli menoleh kearah Kai yang sama dinginnya dengan saat ia bermain gitar untuk mereka tadi. “Kenapa kalian menangis?” tanya Sulli lagi.

“Aku akan pergi, Sulli. Tadi Hyung langsung menangis membuat aku ikut-ikutan terharu…”

Sulli tersenyum, ia tahu benar kalau dua pria itu sudah seperti saudara kandung sejak kecil. “Kau mau kemana, Jongin?”

“Aku akan ke New York. Bersama seorang teman.”

Sulli memandang suaminya iba. Taemin memang sudah tidak menangis lagi, tapi wajahnya masih nampak begitu sedih. “Oppa…” ia meraih tangan Taemin dan menggenggamnya, “kau pasti sedih.”

“Kapan perginya?”

“Dua hari lagi.”

“Secepat itu? Tapi kan minggu depan kita semua mau pergi ke Hawaii. Kau tak mau ikut?”

Kai menggeleng. “Tiketku sudah dipesan. Kapan-kapan saja.”

Sulli mengangguk. Ia tersenyum lagi tapi masih menyimpan sedikit rasa tak enak untuk suaminya. Sulli memandang Taemin namun lelaki itu masih belum bisa mengangkat kepalanya.

“Kita masuk yuk, Oppa. Disini dingin sekali, nanti kau masuk angin.”

Sebelum berjalan ke pintu, Taemin sempat menengok kearah Kai yang  masih mematung.

 

Gadis itu bersembunyi di balik tembok. Membiarkan Taemin dan Sulli menghilang di balik anak-anak tangga menuju ruang resepsi. Sementara ia bergegas naik ke atap.

Kai memunggunginya. Lelaki itu, entah mengapa, bahkan punggungnya saja selalu terlihat sedih. Krystal mendekatinya.

“Kenapa gak ikut turun?”

“Sebentar lagi.”

Angin masih berhembus. Ikut mempermainkan rambut panjang Krystal yang indah.

“Krys…”

“Hmm?”

“Aku mau pergi. Tawaran Ayahmu sebelumnya, apakah masih berlaku?”

Krystal menatap Kai tak percaya. Ia begitu senang mendengar Kai mau mengambil beasiswa di luar negri. Krystal sendiri tahu, cintanya pada Kai bertepuk sebelah tangan. Jangankan dirinya, Sulli saja sudah tahu semuanya.

Tapi bukankah Sulli tidak menyerah untuk mendapatkan Taemin? Tidak bisakah ia juga mengambil jalan yang sama yang dilalui sahabatnya itu?

“Kau akan pergi bersamaku, apa tak masalah?”

Kai mendesah. “Aku justru lega kalau pergi denganmu. Setidaknya kau bisa menjadi body guard kan?”

“Ya!!” Krystal memukul bahu Kai main-main dan mendelik tak suka.

Kai tertawa renyah melihat reaksi gadis itu. Dan menyadari kalau sedang tertawa, Krystal cantik sekali.

***

 

 February, 2012

Dari jendela Krystal menyaksikan tetes-tetes air turun deras dari langit. Membuat segala hal, sejauh mata memandang nampak basah dan layu. Ia menyandarkan kepalanya ke tembok.

“Hei! Ngapain disini?”

Krystal terlonjak. Ia memandang Kai tanpa ekspresi. “Memangnya kenapa?”

“Ayo pulang.”

“Sebentar lagi, aku masih mau disini.”

“Krys…”

Krystal kembali menatap Kai, “kenapa?”

“Kutemani yah? Lagipula payungku juga hilang.” Kai berjalan mendekat. Krystal hanya mengangguk sekilas yang lalu disambut senyuman tersungging di wajah tampan Kai.

Mereka duduk berdampingan, duduk bersandar di tembok dekat jendela.

“Dingin tidak?” tanya Krystal tiba-tiba. Kai mengangguk sekilas. “Mau pulang saja?”

“Masih hujan.”

“Kau bisa pakai payungku.”

Kai secara tiba-tiba memandang Krystal. Ia mendengus. “Kenapa gak bilang dari tadi sih?”

Krystal terkikik geli. “Kau tidak menanyakannya.”

“Huh.”

Hening…

Krystal memandang keluar jendela. Hujan mulai reda.

“Sudah berhenti,” ujarnya. “Ayo pulang.”

Krystal baru saja bangun berdiri ketika Kai tiba-tiba sudah menggenggam ujung sweeternya.

Jongin-a? Ada apa?”

“Sebentar lagi, Krys. Sebentar saja lagi. Aku ingin disini dulu. Boleh temani aku kan?”

*

Di Seoul sedang hujan. Padahal bukan musim dingin. Sejak beberapa hari sepulang mereka dari Hawaii, Taemin hampir tidak pernah keluar kamar.

Dadanya sesak sekali. Bahkan tiap tarikan napasnya entah mengapa membuat hatinya semakin terluka. Taemin beranjak ke dekat jendela. Air hujan sudah membasahi seluruh balkon kamarnya. Tapi ia tak perduli.

Taemin membuka pintu geser dan seketika angin bertiup kearahnya. Membuat rambutnya yang panjang berayun dan matanya terpejam. Lalu tampias air hujan mengenainya.

Ia terus melangkah maju. Membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Sekali ini saja. Ia ingin melakukan sesuatu yang ia sukai. Sekali saja. Ia ingin mengenang keberadaan Kai yang menjadi penyebab lumpuhnya seluruh gairah di hidupnya. Sekali saja. Sekali saja. Boleh?

Tiba-tiba Sulli sudah berada di dalam kamar sambil menjerit. “Oppa, apa yang kau lakukan? Nanti kau sakit.”

Tapi Taemin tidak mendengarkannya.

“Oppa, cepat kembali kemari!”

Ketika ia berbalik. Ada air mata yang merembes dari sudut matanya yang lelah. Ia menatap Sulli dengan tatapan sendu. Seakan sudah terlalu banyak derita yang ia kecam.

Sulli mendekatinya. Tahu kalau Taemin tak mungkin kembali kalau hanya diteriaki seperti itu. “Oppa, kemarilah…”

Taemin menatap tangan istrinya. Memandang wajah istrinya yang cantik. Yang seharusnya ia cintai. Yang seharusnya ia sayangi. Dan sadar kalau satu-satunya yang ia butuhkan bukanlah kenyamanan hidup seperti yang ibunya janjikan. Bukanlah karir yang cemerlang di masa depan. Ia tak butuh semua itu. Sama sekali.

*

Air mata jatuh di pipi Kai.

“Kenapa kau menangis, Jongin-a?”

“Tak apa…”

“Rindu Taemin?” tanya Krystal. Kai tak menjawab. “Itu wajar kok,” ujarnya.

Kai membuang muka.

“Karena kau masih mencintainya. Jadi wajar jika sesekali merasa rindu.”

Kai mendesah, “entahlah.”

“Katakan saja kalau kau memang merindukan Taemin. Kalau ingin menangis, menangis saja. Karena…”

“Krys!!” Kai tiba-tiba membentak. Membuat Krystal memandangnya tak mengerti. “Bisa diam ngga sih!?”

“Maaf…”

“Ah tidak, akulah yang minta maaf. Maaf sudah membentakmu, Krys.”

“Tak apa, Jongin-a…”

“Entahlah, aku hanya merasa aneh saja ada orang yang sama cerewetnya dengan Taemin.”

Krystal tertawa renyah mendengar ucapan Kai. Disampingnya Kai juga ikut-ikutan tertawa.

Padahal tak ada yang lucu. Tapi mereka tertawa. Hanya untuk mengisi kekosongan diantara mereka. Hanya untuk mencairkan suasana yang membeku diantara rinai hujan.

Karena tanpa seorang pun dari mereka sadari, di dalam sana. Jauh di lubuk hati masing-masing akan selalu ada kekosongan yang tak kentara.

 

-Flash Back-

 “Kenapa kau selalu bisa melakukan apa saja dan aku tidak?” tanpa sengaja, perkataan itu terlontar. Begitu saja dan langsung menyakiti hatinya. Bukan karena ekspresi Taemin yang berubah sendu, bukan karena mimik bingung di wajah Taemin yang membuat keningnya bertaut. Tapi karena kesadaran dirinya yang mulai lumpuh. Karena perasaannya yang memaksa keluar.

Taemin seakan tak memerdulikan ucapan Kai selanjutnya dan perlahan meraih pinggang lelaki itu, melingkarkan lengannya disana. Berlama-lama menghirup aroma keringat dari tubuh Kai, yang entah mengapa, terasa bagai aroma cologne yang wangi.

Mereka memejamkan mata. Taemin mendekatkan kepalanya, meraih bibir Kai yang gemetar akibat hasrat yang tertahan.

“Kita tak boleh begini lagi, Kai.” Tiba-tiba kata-kata itu meluncur dari bibir yang barusan melumat bibir tebal Kai. Yang rasanya lebih menyakitkan ketimbang perkataannya sendiri. Yang telah meremas hatinya kuat-kuat.

“Kenapa?”

Taemin menggeleng, seolah-olah dirinya tak mengerti juga. Seolah-olah ia tak perduli. Tubuhnya beranjak menjauh. Membentang jarak yang tadi tak ada. Menghapus hasrat yang tadi bergelora.

“Kenapa?” tanya Kai lagi, suaranya dalam memilukan. “Mengapa kau selalu saja merusak suasana?”

Taemin terkikik geli.

“Kau sedang bercanda yah?” geram Kai tak suka.

Taemin menjawabnya dengan gelengan tegas. “Aku mencintai orang lain.”

Kai dengan susah payah menelan ludah. Sesuatu mendesak dadanya. Tapi ia hanya bisa menatap Taemin, keningnya berkerut, mencari jawaban sebenarnya. “Kenapa kau jahat padaku Taemin?”

-End Of Flash Back-

 

“Aku ingin pulang, Krys…” ujar Kai tiba-tiba.

Krystal menoleh kearah Kai yang mematung “ke Seoul?”

Tiba-tiba Kai menatapnya. Membalas pandangan Krystal.

“Kau kenapa?”

“Hatiku sakit, Krys. Sakit sekali.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kau tak tahu.”

Krystal menatap Kai lekat-lekat. “Aku tahu, Jong-In. Aku tahu bagaimana rasanya. Sesakit itu juga yang kurasakan sekarang.”

*

Oppa, kumohon kembalilah.”

Taemin kembali mundur selangkah.

“Bahaya Oppa!”

“Sulli…”

Sulli mengangkat kepalanya dan saat itu ia langsung bisa melihat air mata di pipi Taemin. “Oppa, apa aku sudah menyakitimu?”

Taemin menggeleng. “Tidak, Sulli. Akulah yang sudah menyakitimu.”

Hujan semakin deras. Sulli dan Taemin sekarang sudah sama-sama basah kuyup. Lantai balkon juga licin. Sekali lagi Taemin mundur, ia bisa jatuh kebawah. Hanya ada pot-pot bunga disana dan itu sama sekali tak bisa menahan tubuh lelaki itu.

Oppa… maafkan aku. Kumohon kembalilah…”

“Bagaimana caranya?”

Sulli melangkah maju. Ia ingin mencoba menggapai tubuh Taemin tapi lelaki itu mengelak.

“Jangan mendekat, kumohon.”

“Kau bisa jatuh, Oppa.”

“Aku sudah lama mati, Sulli. Sudah lama sekali.”

“Kau ingin aku berbuat apa?”

Taemin menggeleng dan tersenyum. “Bahagialah, Sulli. Kau pantas merasakannya.”

“Aku tak bisa tanpamu, Oppa.”

“Dan aku tak akan bahagia bersamamu Sulli.”

Sulli termenung. Bukankah memang sejak awal pernikahannya dengan Taemin ia sudah tahu bakal begini jadinya? Salah satu dari mereka pasti akan terluka. Tapi ia tidak pernah berharap Taemin melakukan hal bodoh seperti ini.

Ia menangis tersedu-sedu. Adakah keajaiban yang bisa memutar balikkan waktu? Jika waktu bisa kembali ke masa lalu. Ia akan menjadi orang pertama yang mendukung hubungan Taemin dan Kai. Bahkan jika dibutuhkan, ia yang akan melindungi kedua orang itu. Ia yang akan melakukannya. Asal Taemin tetap hidup.

*

“Apa maksudmu, Krys?”

Krystal diam sesaat. Berusaha menyusun kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Memangnya siapa yang menyakitimu?” tanya Kai lugu.

Gadis itu menarik napas dalam. “Aku tahu aku tak berhak, Jongin-a. Tapi aku tak bisa mengendalikan perasaanku ketika ia hanya tertuju kepadamu.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku bisa menjadi pengganti Taemin. Aku bisa melakukan apa saja untukmu.”

Kai membuang muka. “Tak ada seorangpun yang bisa menggantikannya. Kau sekalipun!”

Kai beranjak berdiri dan berjalan menjauh saat Krystal kembali mengutarakan sesuatu.

“Kai…”

*

“Sulli, maafkan aku. Tolong sampaikan kepada kedua orang tuamu juga. Terima kasih untuk semuanya. Selamat tinggal…”

*

“Hanya Taemin yang boleh memanggilku seperti itu.”

*

Oppaaaaaa…..

*

“Aku cinta padamu Jong-In. Tak bisakah memberiku kesempatan sekali ini saja?”

*

Kai. Maaf!

Kau pasti marah padaku karena melakukan hal bodoh begini. Kai, sahabatku, cintaku. Temanku yang  terbaik di dunia ini. Sahabat macam apa aku ini Kai? Hari itu, aku tahu kau menangis. Kuat sekali, suaramu sampai bisa kudengar. Tangisanmu, membuat hatiku sedih.

Kai, aku cinta padamu. Maafkan aku karena pergi dengan cara seperti ini. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Kau tak pantas di persalahkan. Karena dirimu juga berharga. Sama seperti orang lain, kau pun pantas bahagia.

Kai… setelah aku pergi, jangan menangis lagi. Jangan terluka lagi. Karena air matamu membuat hatiku pilu, karena tiap kau bersedih aku juga ikut-ikutan sedih.

Aku cinta padamu. Bukan karena wajah kita mirip. Bukan karena orang-orang mengira kita bersaudara. Bukan juga karena kau sahabatku. Aku cinta padamu, karena aku mencintaimu. Kurasa, aku tak butuh alasan lain. Kuharap kau mengerti maksudku.

Aku cinta padamu. Kim Jongin-ku tersayang. Selamat tinggal…

*

“Maafkan aku, Krys. Tapi aku tak akan bisa membalas perasaanmu.”

“Tak masalah. Aku tak perduli. Kau tak perlu membalas perasaanku. Kau tak perlu balik mencintaiku.”

Kai memutar badannya. “Jadi apa yang kau inginkan dariku Krys?”

“Hanya mengijinkanku untuk tinggal disisimu. Itu saja. Semua itu sudah cukup bagiku.”

*

Rasanya tak ada udara lagi yang tersisa untuknya. Semuanya telah lenyap dibasahi hujan. Membuat paru-parunya berkerut. Sulli menangis.

Apakah masih ada yang bisa ia lakukan selain itu?

Bahkan langit pun bersedia menjadi saksi hancurnya kehidupan mereka.

*

“Kau bisa menemukan lelaki lain yang jauh lebih baik dariku, Krys.”

Krystal menggeleng kuat-kuat. “Cuma kamu yang kuinginkan, Jongin-a. Cuma kamu.”

“Aku akan selalu mencintai Taemin, Krys.”

“Aku tak keberatan.”

“Terkadang, aku mungkin akan sangat merindukannya sehingga melupakan dirimu.”

“Itu juga aku tak keberatan.”

“Taemin akan selalu menjadi nomor satu bagiku.”

“Aku tahu, aku tahu….” Krystal mengangguk berkali-kali. “Aku tahu, Jongin-a. Dan itu pun tak apa.”

“Kau pasti akan bosan padaku.”

Krystal tersenyum lembut, “tak akan, Jongin-a.”

“Bagaimana jika aku yang merasa bosan?”

Ia menarik napas. “Maka aku bersedia untuk menghilang dari hidupmu, selama apapun yang kau inginkan. Sejauh apapun yang kau minta. Tapi kau harus ingat, aku tak akan pernah melakukannya jika kau tak memintanya.”

“Taeminnie… jika aku bersedia berada disisi Krystal, apa kau juga bahagia untukku? Taeminnie, tolong katakan kepadaku jika keputusan yang kuambil salah.”

Melihat Kai yang tak bergeming, senyum Krystal merekah. Ia berlari menuju Kai. Memeluk tubuh pria itu erat-erat. Membiarkan Kai merasakan degup jantungnya yang tak pernah bisa normal saat lelaki itu ada di sekitarnya. Membiarkan Kai memahami isi hatinya tanpa perlu langsung ia utarakan.

Perlahan, Krystal merasakan lengan Kai terangkat. Awalnya ia mengira lelaki itu akan melepaskan pelukannya. Tapi salah satu tangannya yang besar mendarat di rambutnya, sementara yang lain melingkar di pinggang Krystal. Kai balas memeluk gadis itu. Dan air mata mengalir seketika, karena Krystal tahu, Kai sudah siap membuka hatinya.

Aku cinta padamu, Taeminnie…

Walau kita tak boleh bersama. Ijinkan aku tetap mencintaimu. Aku senang wajahku mirip denganmu. Aku senang aku bertemu denganmu sejak masih kecil. Dan, aku senang karena kau membalas perasaanku.

Taemin… aku cinta padamu dengan sepenuh hatiku. Kau percaya kan? Meskipun sekarang, aku juga memiliki kewajiban lain, yaitu membahagiakan gadis ini. Tapi aku akan tetap mencintaimu, selalu, selamanya…

*The End*

9 thoughts on “Once Upon A Time

  1. Oke, saya mau peluk authornya!>o https://fanficskpopindo.wordpress.com/about/how-to-review-fanfiction/

    Saya juga mau kasih sedikiiiit saran:
    – Tentang ayah Kai yang membunuh ayah Taemin, konflik yang agak dipaksakan menurut saya. Ganti aja konfliknya jadi ibu Taemin gak terima anaknya seorang Gay. Ini saran doang.
    – Adegan flash back ditulis huruf miring, dan itu sudah tepat sekali. Cuman, untuk istilah asingnya, itu harus di tulis huruf tegak. Untuk membedakan istilah asing dan Bahasa Indonesia yang baku.

    Itu aja sih, ada sedikit typo tapi itu wajar aja. Saya juga sering bikin typo begituan. Hahaha. Dan sepanjang yang saya baca di blog ini, cuman tulisan Kakak yang menurut saya sangaaaaat rapi. Kalau berkenan, mampir balik ke blog saya ya. Saya mohon kritikkan dan saran juga. ^^ Terima kasih.

    http://www.katakatadicta.wordpress.com

  2. Oke, saya mau peluk authornya!>o< Mana authornya? Mana?! Saya benar-benar tersentuh dengan tulisan, Kakak. Terutama di bagian ini:
    “Maafkan aku, Krys. Tapi aku tak akan bisa membalas perasaanmu.”
    “Tak masalah. Aku tak perduli. Kau tak perlu membalas perasaanku. Kau tak perlu balik mencintaiku.”
    Kai memutar badannya. “Jadi apa yang kau inginkan dariku Krys?”
    “Hanya mengijinkanku untuk tinggal disisimu. Itu saja. Semua itu sudah cukup bagiku.”

    Penuh penyerahan sekali! Cinta memang seperti itu, cukup seperti itu. Hanya memberi, tak mengharapkan balasan. Memang kedengaran munafik, tapi memang seperti itu adanya cinta. :)

    And, oke, untuk tema utama shounen ai. Kebetulan saya Fujoshi dan sangat menikmati cerita ini. Great job! Saya menanti-nanti cerita yaoi/shounen ai yang seperti ini. Gak mengumbar aurat. Hahaha.

    Saya juga mau kasih sedikiiiit saran:
    – Tentang ayah Kai yang membunuh ayah Taemin, konflik yang agak dipaksakan menurut saya. Ganti aja konfliknya jadi ibu Taemin gak terima anaknya seorang Gay. Ini saran doang.
    – Adegan flash back ditulis huruf miring, dan itu sudah tepat sekali. Cuman, untuk istilah asingnya, itu harus di tulis huruf tegak. Untuk membedakan istilah asing dan Bahasa Indonesia yang baku.

    Itu aja sih, ada sedikit typo tapi itu wajar aja. Saya juga sering bikin typo begituan. Hahaha. Dan sepanjang yang saya baca di blog ini, cuman tulisan Kakak yang menurut saya sangaaaaat rapi. Kalau berkenan, mampir balik ke blog saya ya. Saya mohon kritikkan dan saran juga. ^^ Terima kasih.

    http://www.katakatadicta.wordpress.com

    • Aku juga nulisnya terenyuh dibagian situ wkwkwk~
      Cinta memang begitu kan? Terkadang, meskipun tahu cinta kita tak terbalas, diijinkan berada disisi orang itu aja udah cukup. Bahkan sangat cukup ^^
      Sarannya diterima dan udah dimasukin ke kantong :P kapan2 aku liat lagi pas butuh konflik untuk tema seperti ini ;)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s