[FF] Keep The Story Moving- Chapter 1

Title
Keep The Story Moving

Author
Nicky

Length
Chapter

Rating
G

Genre
Romance, Sad, Flashback

Main Cast
YooChun JYJ

ParkMinYoung

KimRhie (OC)

Sinopsis

I still believe you’re fine today. Untuk sebagian orang, ingatan yang menyakitkan bisa dihilangkan dengan sugesti dari pikiran sendiri. Dan pada akhirnya orang tersebut akan tenggelam dalam bayangan yang ia buat. YooChun mengalaminya… berangkat dari beberapa kejadian yang merengut ingatan manisnya, ia menciptakan sendiri anggapan-anggapan yang bisa diterima oleh hatinya…

Di sini, di kota ini…. gadis lain berjuang agar kenyataan dapat terlihat dengan jelas.

Disclaimer

Ini murni dari kepala author, semua cast milik dirinya sendiri kecuali Rhie yang lahir dari pemikiran author hehehe. As usual, ff ini pernah muncul di blog pribadi author yaitu http://nickisland.wordpress.com/

Mau bikin Cover baru karena yang lama bikinan orang,tapi gak sempet ==a jadi chapter pertama polos tanpa cover ya….Jangan lupa RCL…gomawo~~

Chapter 1

 

YooChun menarik bantal gulingnya dan menutup kedua telinganya dengan benda empuk tersebut. Astaga..Kenyataan bahwa sebuah alarm baru saja menghancurkan tidur singkatnya benar-benar menyebalkan.

Benda kecil itu berdering tanpa ampun… Well, terlalu berisik bahkan untuk ukuran alarm. Ia tidak bisa mengingat berapa lama ia tidur semalam. Yang jelas, ia yakin kalau itu tidak cukup sama sekali.

MinYoung.. ParkMinYoung. Gadis itu yang bertanggung jawab atas semua keributan ini. Gadis itu selalu menganggap kalau bangun pagi adalah sebuah kewajiban dalam hidup. Seharusnya… Kalau ia mendapatkan tidur yang cukup.. Tapi crap.. Ia sendiri memang tidak pernah menyukai cahaya matahari pagi..Belum lagi bekunya udara.

Matanya menyapu sekilas kalender vintage besar di dinding. Coretan demi coretan menandakan bahwa hari ini tepat hari Valentine. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gata. Kerjaan MinYoung… Gadis itu selalu rajin menandai kalendernya. Setiap kali datang gadis itu mencoreti tanggal-tanggal yang sudah lewat.

YooChun menghela nafasnya panjang dan memutuskan untuk bangun kemudian perlahan beringsut ke dapurnya. Tenggorokannya kering.. Untunglah baik sekertarisnya maupun MinYoung berhantian mengisi isi kulkasnya. Kalau ia sendiri, dijamin benda besar itu Cuma jadi hiasan dan laci-lacinya hanya berisi ramen.

Setekah meneguk setengah botol air mineral, pria itu menghampiri kotak suratnya. Tagihan-tagihan bulanan. Ada beberapa yang tinggal ia serahkan ke sekertarisnya untuk diurus dan beberapa lainnya memang akan langsung dipotong dari rekeningnya. Dan sebuah surat dengan amplop pink.

Sebuah cap kucing di ujung amplopnya membuat YooChun langsung mengenali siapa yang mengirim surat itu. Park MinYoung, pacarnya itu benar-benar menyukai hewan kecil tersebut. Salah satu hal yang ia coba untuk toleranis karena ia sendiri lebih menyukai anjing daripada kucing.

Yah.. YooChun oppa.. Kau sudah bangun tentunya kan? Pos pagi merupakan hal yang tidak pernah terlambat. Apa kau membaca surat ini pada saat pulang kerja jangan-jangan?

YooChun menggerutu kecil,”Yang benar saja.. Kau selalu memasang alarmku tepat pukul 7. Bagaimana mungkin aku bisa bangun lebih siang daripada itu?”

Happy Valentine’s Day oppa! Apa yang kau lakukan hari ini? Apa kau akan menghabiskan satu hari untuk meeting? Aah.. atau mungkin kau sudah mereservasi restoran? Apapun itu, kau tidak boleh melewati makan pagi. Berapa banyak orang yang akan kau temui hari ini? Berapa banyak kegiatan yang akan kau jalani? Bagaimana kalau kau pingsan dan tidak ada yang bisa menolongmu?

“Yang benar saja… Memangnya aku selemah dirimu?”Jawab YooChun kecil. Walaupun merasa geli, tapi ia tetap menyambar sandwich dingin di kulkas dan menaruhnya di microwave.

Sejujurnya ia agak bingung dengan beberapa hal yang selalu ia temui di rumahnya ini. MinYoung dan sekertarisnya masuk bergantian untuk merapikan atau memasukkan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Walaupun sebenarnya ada masa pula dimana MinYoung juga tidak melakukan banyak hal.

Sambil menggigit sandwichnya, pria itu membawa surat di tangannya ke jaring-jaring hiasan di ruang tamunya. Jala besar itu ditempeli oleh post ad yang berisi jadwal-jadwal pentingnya. Tumben ia tidak melihat jadwal yang berisikan tanggal hari ini. Apa itu berarti seharian ini ia bisa menghabiskan waktu bersama MinYoung?

Kapan kita terakhir kali bertemu ya? Kau dan aku sama-sama sangat sibuk. Jadwalku yang tidak beraturan dan jadwalmu yang kelewat padat. Dan dari sana aku belajar untuk tidak merindukanmu.

YooChun mengangguk-angguk sendiri. Bagaimanapun pekerjaan MinYoung memang lebih berantakan daripada dirinya. Seorang artis yang menerima banyak tawaran besar. Waktu senggang MinYoung ada di jam-jam yang tidak lazim. Dan ia sendiri semenjak mengurus perusahaan rekamannya tentu saja jauh lebih teratur. Walaupun tetap saja ia sering bekerja lembur daripada menghabiskan waktu sendirian.

Maka dari itu aku tidak pernah mengerti mengapa kau tetap mempertahankan hubunganku denganmu.

“Hubungan bukan sesutu yang bisa semudah itu dihapus, MinYoung.”Gerutu YooChun. Ia memang berulang kali mendengar kalimat ini dan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

Dan aku juga tidak pernah mengetahui apa yang membuatmu bisa begitu lunak dan baik padaku. Padahal aku jelas orang yang egois dan keras kepala.

“Itu hanya karena kau selalu mengejar mimpimu.”

Kau selalu membuat jawaban dan kesimpulan sendiri yang membela semua tindakan burukku.

YooChun menghela nafasnya.. Mungkin benar.. Ia tidak pernah benar-benar mendengar argumen dari MinYoung. Tapi bukankah hal itu jauh lebih mudah dan damai? Mereka tidak perlu berdebat dan keadaan akan kembali seperti yang diinginkan.

Lagipula kunci di dalam hubungan kan memang saling mempercayai dan toleransi. Kalau ia tidak bisa melakukan keduanya, hubungannya tidak akan bertahan lama.

Bagaimanapun maafkan semua hal menyakitkan yang pernah kuperbuat kepadamu ya…

Pria itu tersenyum kecil walaupun jauh di dalam pikirannya, ia mulai mencium hal yang aneh. MinYoung tidak pernah meminta maaf. Apapun yang terjadi gadis itu selalu tegas pada pendiriannya.

Semoga kita akan bertemu di saat semua keadaan dalam posisi terbaik

YooChun mencoba mengecek recent update di handphonenya. Tidak ada kontak sama sekali dari MinYoung. Kenapa ia merasa cemas? Kenapa dari sebuah surat ini tiba-tiba seperti ada yang berusaha keluar dari memorinya?

Dan kau tahu Rhie… Walaupun dia dongshaengku, dia berbeda denganku. Jangan membuatnya menunggu lagi.

Ia jelas ingat Rhie. Dongshaeng MinYoung yang lebih memilih tinggal di Jepang setelah perceraian kedua orangtua mereka. Dulu sebelum gadis itu pindah ke Jepang, mereka bertiga memang sering jalan bersama dan setelah ia dengan MinYoung berpacaran Rhie mendeklarasikan dirinya untuk tidak menjadi nyamuk dalam setiap kencan.

Tapi apa maksudnya membuatnya tidak menunggu lagi? Ia memang tahu kalau dulu Rhie sempat menyukainya begitu pula dengan dirinya, tapi keduanya sama-sama tidak berani mengungkapkannya sampai MinYoung mengubah perasaannya.

Keceriaan MinYoung membuatnya berhasil mendorong rasa sukanya terhadap Rhie ke sudut-sudut hatinya yang paling gelap. Apalagi setelah Rhie pindah ke Jepang tentu saja ia bahkan tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Dan mungkin saja gadis itu juga sudah memiliki pacar di sana.

Aku yang pernah mencintaimu, ParkMinYoung

“MinYoung-ah. Apa maksud dari suratmu?” Ujar YooChun cepat begitu membuka pintu apartemennya, “Rhie?”

“Kau memanggil nama unnie lagi.”

“Ah… Apa kau mencari unniemu? Ia tidak ada di sini. Aku baru saja mau keluar mencarinya. Lihat dia.. Mengirimkan pesan ini di hari Valentine.”

“Oppa… Apa kita harus mengulangnya setiap hari?” Ujar Rhie lemah. Gadis itu meletakkan barang-barang bawaannya di meja makan YooChun.

“Apa maksudmu?”

“Kau mulai berpura-pura lagi.”

“Rhie.. Ini mulai tidak lucu. Aku tahu kalau kau baru kembali dari Jepang dan mungkin saja selera humor kita berbeda, tapi aku mau keluar sekarang dan mencari MinYoung.”

“Unnie sudah meninggal selama seminggu di saat aku sudah kembali selama sebulan oppa.”

“Aku sudah bilang kalau ini sama sekali tidak lucu, Rhie.”

“Ia bahkan sudah berpacaran dengan LeeMinHo oppa pada waktu aku pulang! Jangan membohongi dirimu sendiri!”

“TUTUP MULUTMU RHIE!” Bentak YooChun sambil mencengkram kedua bahu di depannya itu. Ia menekan tubuh mungil itu ke tembok di belakangnya dan menatap tajam kedua mata di bawahnya. Kalau gadis itu sedang membuat lelucon. Ini jelas keterlaluan.

“Kau tau kenyataannya, tapi kau selalu membohongi dirimu sendiri, oppa.” Ujar Rhie lemah. Ia mengalami hal ini hampir setiap hari selama seminggu ini.

“Kalau kau mengatakan hal ini hanya agar aku kembali menyukaimu.”

Rhie memandang YooChun tidak percaya. Well, ini serangan baru baginya. Ia tidak tahu lagi harus memuji unnienya seperti apa sampai membuat seorang pria dapat bersikap seperti ini. Gadis itu segera mengelap tetesan air mata pertama yang berhasil keluar dari matanya.

“Aku tidak tahu kalau kau melihatku serendah itu oppa. Aku tidak pernah tahu.”

“Kau yang membuatmu berpikir seperti itu. Apa yang kau lakukan sampai MinYoung menulis hal seperti ini di surat.”

Rhie menyambar surat yang berada di tangan YooChun dan membacanya cepat. Gadis itu tertawa lirih setelah mengetahui apa yang unnienya perbuat. Ia memang tidak pernah bisa menandingi unnienya. Gadis itu sudah terbiasa menarik semua perhatian ke arahnya.

“Ne.. Apa lagi yang bisa kukatakan. Aku benar-benar memprihatinkan… Kau bahkan menyalahkanku hanya karena sebuah surat dari orang yang sudah meninggal.”

“Sudah kukatakan hentikan leluconmu. Kalau ia meninggal, ia tidak bisa mengirim surat ini.”

“Apa kau tidak bisa melihat cap pos di amplopnya? Itu tepat seminggu yang lalu tanggal sebelum kecelakaan terjadi. “

YooChun menyambar kembali kertas yang berada di tangan Rhie dan membacanya. Benar…  Tanggal 7.. Seminggu sebelum Valentine. “Aku tidak mungkin lupa kalau hal seperti itu sampai terjadi.”

“Kenyataannya kau selalu seperti itu setiap hari kau bangun.” Ujar Rhie lirih.

“MinYoung tidak mungkin meninggal.”

“Kenyataannya begitu!”Seru Rhie. “Ia meninggal di kecelakaan mobil minggu lalu setelah putus dari MinHo ssi. Kau sudah putus dengannya selama sebulan. Kalau kau tidak memikirkan perasaanku melihatmu seperti ini setiap hari minimal pikirkan dirimu sendiri!”

“Rhie…”

“Kau memperlakukanku seperti ini di saat unnie memandang remeh diriku. Dan nee.. aku memang yang paling bodoh di sini. Untuk apa aku mengurus orang yang dibuang oleh unnieku dan sekarang malah menyia-nyiakan dirinya?”

YooChun memandang Rhie yang bahunya mulai bergetar. Ia tidak pernah melihat gadis itu seemosional ini. Sedari dulu Rhie memang dipanggil sebagai boneka kaca. Tidak ada yang bisa menebak apa yang benar-benar ia rasakan karena semua ekspresinya terlihat natural.

Dan sekarang ia menyadari… Betapa banyaknya goresan di kenangan gadis itu…

Dan semua itu karena dirinya…

“Aku akan pergi sekarang,oppa. Kali ini bereskanlah sendiri semua kebutuhan harianmu itu.” Ujar Rhie sebelum YooChun sempat melakukan gerakan apapun.”Aku tidak mau mengulang hal yang sama lagi besok.”

***

8 thoughts on “[FF] Keep The Story Moving- Chapter 1

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s