[FF] Keep The Story Moving Chapter 2

Author
Nicky

Length
Chapter

Rating
G

Genre
Romance, Sad, Flashback

Main Cast
YooChun JYJ

ParkMinYoung

KimRhie (OC)

Sinopsis

I still believe you’re fine today. Untuk sebagian orang, ingatan yang menyakitkan bisa dihilangkan dengan sugesti dari pikiran sendiri. Dan pada akhirnya orang tersebut akan tenggelam dalam bayangan yang ia buat. YooChun mengalaminya… berangkat dari beberapa kejadian yang merengut ingatan manisnya, ia menciptakan sendiri anggapan-anggapan yang bisa diterima oleh hatinya…

Di sini, di kota ini…. gadis lain berjuang agar kenyataan dapat terlihat dengan jelas.

Disclaimer

Ini murni dari kepala author, semua cast milik dirinya sendiri kecuali Rhie yang lahir dari pemikiran author hehehe. As usual, ff ini pernah muncul di blog pribadi author yaitu http://nickisland.wordpress.com/

Mau bikin Cover baru karena yang lama bikinan orang,tapi gak sempet ==a jadi chapter pertama polos tanpa cover ya….Jangan lupa RCL…gomawo~~

Chapter 2 You Never Let Me Go

Rhie merogoh-rogoh kantung tasnya untuk mengambil sensor lampu apartemen. Sebelah tangannya menekan angka-angka kode pengamannya. Begitu pintu terbuka ia melangkah masuk perlahan. Gelap.. Kosong… Selalu seperti ini.

Ia menghela nafasnya panjang dan menyalakan semua lampu yang ada. Ironis… Ia tidak pernah menyukai suasana seperti ini, tapi ia sendiri bahkan sudah terbiasa di dalamnya.Mungkin itu yang membedakannya dengan unnienya.

Keduanya sama-sama kesepian, tapi ia menyimpannya sendiri di saat MinYoung selalu mencari cara untuk menghilangkannya. Itulah sebabnya ia memilih untuk pindah ke Jepang berusaha mencari terangnya sendiri bukan hanya terkena bias dari cahaya yang dipergunakan unnienya.

Ia membuka kulkas putih di sudut ruangan dan tertawa lirih saat melihatnya. Kosong…. Padahal ia mengisi kulkas YooChun setiap hari tanpa orang itu pernah ingat. Apartemennya sendiri begitu dingin saat ia berusaha mencerahkan apartemen orang lain.

Kenyataannya ia memang sebodoh itu. Entah apa yang ia pikirkan sampai rela kembali ke Korea segera setelah mendapatkan telepon dari unnienya. MinYoung menelponnya pada malam ia putus dengan YooChun. Tanpa rasa bersalah sama sekali.

Ia mengepak hampir seluruh barang-barangnya dan menyewa apartemen di Korea untuk 3 bulan lamanya. 3 bulan… Ya…dan baru 1 bulan ia sudah bingung apa yang sebenarnya ia lakukan.

Ia memang menangkap dari beberapa curhatan MinYoung terdahulu kalau gadis itu memang mulai tertarik pada MinHo lawan mainnya di drama baru. Tapi Rhie sebelumnya tidak menganggap bahwa hal itu serius. Bagaimanapun cinta lokasi memang sering sekali terjadi kan?

Apalagi jenis unnienya yang memang mudah bosan. Selama ini setelah melewati beberapa waktu, gadis itu akan kembali lagi ke YooChun. Rhie sempat berpikir kalau itu yang membuktikan jauh di lubuk hati unnienya, gadis itu memang mencintai YooChun.

Nyatanya bukan.. Ia hanya tidak menyukai kesepian dan YooChun merupakan pelabuhan terbaik. Pria itu tidak pernah protes ataupun curiga… Tanpa banyak pertanyaan, YooChun terus menunggu setiap kedatangan MinYoung.

Dan semua itu ia dapatkan dari buku diary unnienya. Dari buku itu ia tahu kalau MinYoung mengetahui perasaannya terhadap YooChun, tapi masih tetap mengambil pria itu untuknya.

Tapi kenyataannya ia memang tidak pantas mendapatkan rasa kasihan kan? Dari awal ia sudah mengetahui resiko yang akan ia dapatkan kalau nekad kembali ke negeri gingseng ini. Dan ia tetap kembali… Itu kan poinnya.

Ia memang dari awal tidak bisa berharap kedatangannya bisa membuat YooChun kembali menyukainya. Itupun kalau pria itu memang pernah menyukainya… Ia hanya ingin mencoba memperbaiki segalanya.

Dari awal memang kesalahannya karena selalu menuruti keinginan MinYoung

Kesalahannya karena ia melarikan diri ke Jepang…

Kesalahannya karena ia memang menyediakan hatinya sendiri untuk disakiti..

***

YooChun berdiri diam di depan kulkasnya setelah membereskan seluruh bawaan Rhie tadi. Tanpa disadari pikirannya sendiri melayang entah kemana.

Apa benar ia membohongi dirinya sendiri? Jauh di lubuk hatinya… di dalam ingatannya, bukankah ia mengetahui semuanya.

MinYoung memutuskannya… Well, hal itu masih bisa dipahami oleh logikanya. Gadis itu memang beberapa kali mengatakan ingin putus kan? Dan beberapa kali pula ia akhirnya kembali sendiri. Hal itu yang membuatnya tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mungkin saja kali ini benar.. dan mungkin saja tidak..

Tapi kalau meninggal… Tidak.. Logikanya masih belum bisa menerimanya.

Apa benar kata Rhie, ia terus menerus membohongi dirinya sendiri sampai ia sendiri tidak ingat akan kebenaran. Self protect sehingga membuat pikirannya sendiri percaya?

Tapi ini MinYoung… Gadis yang setiap haru terlihat tidak pernah memiliki masalah. Bagaimana mungkin gadis seperti itu bisa meninggal tiba-tiba. Kecelakaan…. Tetap saja hal itu tidak masuk akal. Tidak semudah itu MinYoung seharusnya meninggal.

Ia menutup perlahan pintu kulkasnya dan merogoh kantung celananya.

MinYoung masih belum menghubunginya….

Dan ia terlalu takut untuk menghubungi nomor itu. Bagaimana kalau MinYoung benar-benar tidak menjawabnya lagi?

Ia menekan speed dial nomor 2nya. JaeJoong hyung. Salah satu sahabatnya, pria itu seharusnya juga tahu apa yang terjadi padanya. Kalau ia tidak bisa langsung mempercayai Rhie, ia seharusnya bisa mendapatkan kebenaran dari JaeJoong.

“YAH YOOCHUN AH!”

YooChun menjauhkan handphonenya dari telinganya. Gila hyungnya itu menjerit di tengah malam seperti ini.

“Yah! Jangan bilang kau mematikannya! Yoboseyo… Yoboseyo..”

“Pelan-pelan hyung… apa aku tidak mengganggumu selarut ini?”

“Kau jelas mengangguku, tapi apa kau tahu ini pertama kalinya kau menelponku selama seminggu ini? Aku pikir kau sudah bunuh diri entah dimana! Apartemenmu juga sunyi sekali setiap aku lewat.”

“Aku seperti itu? Mungkin hyung lewat di saat aku sedang di kantor?”

“Kau sudah seminggu tidak masuk kantor, okay? Aku menelpon sekertarismu untuk mengatur ulang semua schedule mu. Apa kau tidak bisa kembali menjadi waras apa? Ada berapa kepala keluarga yang harus tetap kau gaji di sana.”

“Entahlah hyung… Aku seperti tidak mengingat apapun selama seminggu? Mungkin lebih hampir sebulan ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku.”

“Yang terjadi padamu.. Kau seperti mayat hidup. Mungkin itu yang membuatku tidak heran kalau kau tidak mengingat apapun.”Ujar JaeJoong simpel. Ia sendiri pernah mencoba untuk mendatangi YooChun, tapi pria itu seperti mengacuhkannya. JunSu teman mereka yang lain bahkan sudah menyerah duluan. “Apa yang membuatmu tiba-tiba sampai ke stage sadar seperti ini?”

“Aku juga kurang mengerti. Tadi pagi aku menerima surat dari MinYoung kemudian Rhie datang dan mengamuk.”

“Rhie adik MinYoung kan? Tentu saja dia mengamuk. Setelah apa yang ia lakukan selama ini. Berusaha menjagamu tetap hidup.”

“Kenapa dia kembali?”

“Bukankah itu pertanyaan yang harus kau tanyakan sendiri padanya?”

“Tidak ada penjelasan yang logis bagaimanapun aku memikirkannya.”

“Yah…. Kau jelas perlu tahu, kalau ia tidak sebegitu menyukaimu, aku sudah memulai hubungan dengannya. Aku tidak perlu jadi orang yang menjabarkan semua hal yang ia korbankan kan?”

“Kenyataannya kau lebih tahu banyak daripadaku.”

“Aku melihatnya semakin menderita setelah kematian MinYoung.”

“Hyung… kau juga mengatakannya.”

“Kau tidak bisa terus berpura-pura tidak tahu kalau MinYoung sudah meninggal. Ini sudah seminggu. Kalau kau tidak kunjung menjadi gila mungkin Rhie duluan yang akan menjadi gila.”

“Aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Hyung tahu dimana alamat bloknya?”

“Aku tahu, aku pernah menemani Rhie berkunjung ke sana sekali. Aku akan send alamatnya ke nomormu.”

“Kumawo hyung.”

“Aku tidak perlu terimakasihmu, okay. Aku perlu melihatmu kembali menjadi normal.”

“Aku akan berusaha seandainya saja aku masih bisa.”

***

“Rhie, sepertinya surat pribadimu ada yang salah hingga terkirim ke kantor.” Ujar JunSu.

“Benarkah? Mian..” Seru Rhie panik.

“Tidak perlu sepanik itu. Tidak ada yang bisa menghentikan pos yang salah kan? Bisa-bisa MinHee mengomeliku kalau melihatmu sampai seperti ini.”

Rhie memaksakan dirinya tersenyum. JunSu merupakan bosnya di kantor ini. Salah satu pemilik perusahaan besar yang juga bekerja sama dengan perusahaan milik YooChun. Tunangan dari MinHee yang merupakan salah satu sunbaenya dulu waktu sekolah.

Ia memang mendapatkan pekerjaan di perusahaan ini karena MinHee merekomendasikannya. Segera setelah pulang ke Korea, gadis itu yang sibuk mengurus Rhie padahal unnienya sendiri tidak menyiapkan apapun.

“Bagaimana kabar MinHee unnie?”

“Seperti biasa.. Ribut kemana-mana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kami menikah.”

“Kalau kau mampu berpacaran dengannya selama 3 tahun penuh, aku rasa untuk bertahan dalam pernikahan tidak terlalu sulit.”

“Semoga saja.. Kau sendiri… Aku dengar kau masih mengunjungi YooChun. Bagaimana keadaan sahabatku yang bodoh itu?”

“Masih sama seperti kemarin. Aku masih tidak tahu apa yang harus kuperbuat padanya.”

“Kau tidak harus melakukan apa-apa Rhie.”

“Benar.. Seharusnya…”

Rhie tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan JunSu. Untuk hal yang satu ini, pria itu memiliki pendapat yang sama dengan MinHee…

Ia tidak perlu berbuat apa-apa… Bukan kesalahannya hingga YooChun sampai seperti itu. Di luar kemampuannya untuk menyelamatkan YooChun dari kesedihan yang ia buat sendiri. Semua di luar kendalinya..

Dan bodohnya ia masih berusaha..

“Ah, aku akan pergi meeting duluan. Kau baca saja dulu surat apa itu. Setelah itu kau bisa memarahi pengirimnya.” Goda JunSu.

Rhie menjulurkan lidahnya bercanda, tapi sebelah tangannya memang berusaha membuka amplop pink yang dikirim kepadanya itu. Mungkin itu juga yang membuat JunSu mengantarkannya sendiri kepadanya. Mungkin pria itu menganggapnya lucu karena mendapatkan surat beramplop pink pada waktu seperti ini.

Rhie..

Gadis itu tersentak begitu mengenali tulisan di kertas itu. MinYoung! Ia membalik amplop di tangannya dan benar…  Ada cap kucing khas dari unnienya itu. Tanggal pengirimannya sama persis dengan milik YooChun.

Seharusnya ia mendapatkan surat itu kemarin. Hanya saja MinYoung mengirimkannya ke kantor padahal kemarin ia seharian tidak mampir ke bangunan itu.

Happy Valentine! Kau tidak boleh merobek surat dariku sebelum membacanya sampai habis. Aku tahu kau akan merasa kesal karena aku mengirimkan surat ini padahal aku tahu kalau kau tidak merayakan Valentine sama sekali.

Yah.. tapi sebagai unniemu aku kan masih bisa berharap.

Bagaimana hubunganmu dengan YooChun hari ini. Aku sudah putus dengannya selama…hmm. Biar kuhitung.. Sebulan? Bukankah seharusnya kau membuat kemajuan dengannya? Kau jangan mengelak lagi. Aku tahu bagaimana perasaanmu terhadapnya.

Kau pasti sedang memakiku karena kau merasa yang kutuliskan tidak masuk akal, tapi selama ini aku sengaja berpura-pura tidak mengetahuinya untuk memiliki YooChun. Aku memang egois.. Maka itu aku juga memintamu untuk memaafkanku. Bukankah aku sudah mengembalikannya padamu? Lagipula aku juga sudah mendapatkan MinHo.. Win win solution.

Aku tahu itu salah, tapi aku tetap melakukannya dulu. Walaupun aku tidak mau mengakuinya, aku sekarang berani mengatakan kalau aku kalah denganmu. Kau selalu membuatku kesal karena tidak melakukan apapun, tapi selalu memenangkan banyak hal. Sedangkan aku harus berusaha keras untuk mendapatkan semuanya.

Ah… Apapun itu… Kau perlu mengingatnya… Mungkin karena aku iri padamu atau apapun itu. Tapi aku sebenarnya juga menyayangimu. Bagaimanapun kau kan dongshaengku.

Jadi berbahagialah hari inI! Kalau YooChun tidak mengajakmu kencan, kau saja yang mengajaknya!

Nb : Aku cukup senang kau kembali ke Korea walaupun aku terlambat 1 bulan untuk mengatakannya.

ParkMinYoung

Rhie menatap suratnya dalam diam. Rasanya seperti unnienya sendiri yang berbicara kepadanya. Dengan sikap gadis itu yang tidak pernah mengontrol cara bicaranya. Kenyataannya, mereka iri satu sama lain.

Dan unnienya selalu seperti itu..

Sekarang ia yang merasa bersalah…

Kenapa gadis itu tidak membiarkannya memilih untuk merasa benci atau sayang kepadanya?

Karena pada akhirnya mereka bersaudara?

Rhie menghela nafasnya, baginya itu bukan jawaban…

4 thoughts on “[FF] Keep The Story Moving Chapter 2

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s