Slow But Sure [chapter 4]

Slow But Sure (4th story)

Author : @HareTa_mi (www.haretami.wordpress.com) a.k.a Lee Jung Hee

Casts : Donghae, Sooyeon (Jessica), Jung Il Woo (ocs),Junghee and others.

Genre: romance, conflict, friendship, tragedy, AU, Family

Rate : PG

Length : chapter

Disclaimer:STORY AND COVER PURE MINE. DO NOT PLAGIARISM AND COPY PASTE. 

previous : chapter 1  chapter 2  chapter 3

warning : 

(: Enjoy reading :)

Junghee pov

Aku terdiam memandangi rerumputan hijau yang tumbuh lebat di tempat ini. entah sudah berapa tahun aku tidak datang berkunjung aku tidak ingat. Jangankan berkunjung dan memberikan seikat bunga, mengingatnya saja aku sudah tidak pernah lagi ketika sudah tinggal di jepang. Ku pikir aku terlalu egois selama ini. perlahan perasaan bersalah memenuhi seluruh hatiku, dan benar saja, aku benci hal itu.

Aku bukanlah tipe gadis yang suka terharu akan sesuatu hal dan menangis. Tidak. Aku terkesan sangat cuek dan menganggap semua itu biasa saja. Aku hanya diam berusaha menghilangkan perasaan bersalahku. Akhirnya aku meletakkan seikat bunga di tempat pemakaman appa. tidak lama setelahnya aku langsung berdiri untuk pergi. Yang benar saja, aku sama sekali tidak suka menatap kuburan dan menyesali diri berlama- lama. Lagian, tidak ada gunanya untuk menyesal.

Dengan jiwa yang masih sangat layu, aku berdiri dan sontak mataku langsung berbalik melihat sesuatu yang benar- benar memiliki daya tarik tertentu. Otakku menerjemahkan tentang bagaimana kondisi cahaya yang diantarkan ke mataku. Aku tidak paham dengan apa yang tengah kulihat. Ku pikir aku sedang di alam lain, tapi yang benar saja. Sekali lagi aku bukan tipe orang yang suka lupa waktu dan keadaan.

Ku lirik lagi dia, dan itu benar. Tepat di depan mataku yeoja itu bernyanyi dengan sebuah gitar. Segala jenis keanehan langsung bercokol di benakku. Tapi, aku yakin sekali tidak ada yang salah dengan penglihatanku. Mungkin yeoja itu yang bermasalah, bukan diriku!Dan seketika aku bisa mendengar nyanyiannya yang sangat merdu diikuti alunan gitarnya.

Sekarang aku baru tau, ada yeoja tipe seperti itu. tidak merasa canggung sama sekali bernyanyi di tengah kuburan. meskipun tengah diliputi rasa takut dan tetap was- was aku menguatkan diriku untuk melangkah mendekatinya.

Detik berikutnya, aku sudah berdiri menatapnya. Ia langsung berhenti dan sama halnya dengan reaksiku tadi, terkejut.

“hai…” sapaku pelan mencoba mendengar jawabannya. Aku yakin, kalau dia menjawab maka dia benar- benar nyata di depanku sekarang.

“annyeong…” ia membungkukkan sedikit kepalanya lalu meletakkan gitarnnya di sisi sebelahnya.

“kau tertarik kepadaku!” ujarnya dan aku langsung mengangguk.

“kau belum pulang ke rumah sejak tadi?” tanyaku karena dia masih berseragam sekolah dan hari juga sudah sangat sore.

“aku bekerja sehabis pulang sekolah!” jawabnya santai.

“owh…”

“kau sendiri, siapa yang kau datangi di makan ini?” tanyanya seolah- olah dialah penghuni makan dan berhak menanyai siapa saja yang datang.

“makam ayahku!”

“em, khir- akhir ini aku menjadwalkan setiap hari menemui makam ibuku. Setelah sebelumnya aku benar- benar marah akan sikapnya ketika hidup. Tapi, ku pikir ini yang bisa ku lakukan untuk ibuku selagi aku masih hidup!” aku hanya terdiam ketika ia tidak merasa canggung mengatakan hal itu padaku. Meskipun aku baru beberapa menit melihatnya.

“kau yeoja yang baik!” hanya itu yang bisa kuungkapkan.

“apa kau sudah SMA?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“ne. Sebenarnya aku sekolah di jepang. Tapi, satu bulan aku menetap di korea untuk menambah- nambah ilmu sekaligus study tour di sekolah lain.”

“kau pasti sangat pintar!” ujarnya seakan sudah tau bagaimana keadaanku selama ini.

Kemudian aku dan dia saling diam. tidak ada lagi yang bisa kukeluarkan meskipun sedari tadi segudang pertanyaan telah kusiapkan. Kemudian handphone-ku bergetar.

“yeoboseyo, oppa?” ujarku mengingat donghae oppa yang pastinya sudah menungguku sedari tadi di apartemennya.

“junghee ya, kau kemana belum pulang? Ini sudah hampir sore? Bukankah kau belum mulai masuk sekolah hari ini? cepat pulang!” ujarnya dengan nada khawatir.

“aku sedang mengunjungi makam appa.”

“ah, bukannya sudah sedari tadi kau disana? Ayo cepat pulang, tidak baik berlama- lama di sana!” perintahnya lagi.

“ne. Aku akan langsung pulang!”

Tittt…

“mmm, mianhe aku ditelefon dan harus segera pulang. Senang bertemu denganmu!” ujarku singkat dan langsung berdiri.

“lain kali semoga kita bisa bertemu lagi dan bercerita banyak, tapi di tempat lain yang lebih baik maksudku!” sambungku dan berjalan menjauhinya.

Kemudian terdengar ia bersahut dari belakang. “ini tempat terbaik, dan sangat tenang!”

Aku hanya tersenyum aneh mendengarnya. Mungkin saja ia memang diilhami untuk menjadikan tempat sunyi senyap ini sebagai tempat paling nyaman. Meskipun bagi orang- orang umumnya tempat ini sangat mengerikan!

***

Author pov

Karena junghee tidak kunjung datang, akhirnya donghae memilih menjemput yeosaeng itu ke pemakaman umum. Namun junghee sudah naik taxi sedari tadi dan sialnya terjebak macet di depan universitas swasta yang sedang ada kerusuhan di sana. Donghae yang sudah tau jalan lain menuju pemakaman sengaja memilih jalan yang cepat sehingga tidak harus melewati tempat kerusuhan di universitas swasta itu. kemudian, donghae memarkirkan mobilnya dan dari pagar luar iamelihat tidak ada satupun orang di makam itu. dilihat sedetailpun tetap saja, pemakaman sudah kosong. Langit pun juga sudah memulai kegelapannya.

“ahh, kemana dia?” pikir donghae. Kemudian namja itu masuk lagi ke mobilnya dan berjalan mengitari jalanan lain menuju apartemennya. Karena siapa tahu mereka bisa bertemu di jalan.

~~**

“mwo? bukankah itu sooyeon?” batin donghae melihat yeoja yang masih berseragam sekolah sambil memegang sebuah gitar.

Titt, tittt, tittt donghae mengklakson dan memberhentikan mobilnya tepat di samping sooyeon. Sooyeon otomatis berhenti.

“hei, sudah malam begini kau masih berkeliaran di jalan raya!” teriak donghae dari dalam mobil.

“apa urusanmu?”

“ini jelas saja urusanku. Ayo masuk, kuantar kau lagi!!!” tawar donghae membukakan pintu.

“tidak, terima kasih!” kemudian sooyeon pun melanjutkan perjalanannya menuju apartemennya yang lumayan jauh. Donghae terus mengklakson tapi sooyeon malah mempercepat langkahnya.

“ayo masuk!” donghae meraih lengan sooyeon ketika ia sudah keluar dari mobilnya.

“ku tanya sekali lagi? Kau siapa?? Kau baik hanya karena aku putri presdir?”

“sudah ku bilang. Aku diajarkan untuk berbuat baik pada orang lain oleh ayahku!” tegas donghae. Sooyeon hanya mengerucutkan bibirnya.

“urus saja urusanmu sendiri. Aku tidak mau merepotkanmu!” sooyeon mulai memanas. Padahal tadi dia sudah sangat tenang menghirup udara pemakaman, tapi gara- gara donghae ia merasa risau lagi.

“sama sekali tidak merepotkanku!”

“aku tidak suka diantar olehmu! Aku benci duduk di sampingmu!” sooyeon pun berlari dengan cepat dan donghae tidak bisa berbuat apa- apa lagi.

“hah, jangankan ingin ku pacari? Ku dekati sedikit saja benar- benar sulit baginya? Ahhh…” protes donghae dalam hatinya.

***

Donghae berkacak pinggang di di depan pintu apartemennya ketika ia melirik jam tangannya dan ternyata sudah pukul 11.30 malam. Junghee masuk dan bersikap seperti biasa. Cuek, tidak memikirkan kenapa oppanya bertampang garang menantinya.

“kau tahu sudah jam berapa ini?” tanya donghae menarik lengan junghee yang masih tidak tau diri.

“setengah dua belas malam!”

“jadi, di jepang eomma membiarkanmu berkeliaran hampir tengah malam seperti ini!? ckckck” sindir donghae.

“sepertinya dugaanmu kurang tepat!” jawab junghee santai.

“kau tau, banyak orang jahat di luar sana. Sehebat apapun dirimu, orang jahat tetap akan berminat jika tau kalau kau sendirian di luar sana!”

“aku tahu. Aku selalu menjaga diriku dan tidak akan merepotkan orang lain!”

“tidak merepotkan orang lain katamu? Kau tau sedari tadi aku terus mengitari kota ini sampai bensin mobilku sudah habis setelah 2 kali diisi penuh? Sampai mataku lelah memandang jalanan? Tanganku lelah terus memutar setir? Dan masih bisa kau bilang TIDAK MEREPOTKANKU? ” teriak donghae yang akhirnya mengutarakan emosinya yang sedari tadi ingin keluar.

“mianhe…”

“kenapa kau tidak mengangkat telefonku? Sudah 170 kali aku telefon, tapi satupun tidak kau respon!” tambah donghae dengan emosi yang semakin meluap- luap.

“kau tau, semakin lama kau tidak pulang tadi, maka perasaan khawatirku semakin bertambah. Kau tidak tahu berapa beban yang sedang kutanggung sedari tadi. kalau saja ada apa- apa denganmu, apa yang akan dikatakan eomma padaku? Apa yang akan dibalasnya untukku? Pasti dia akan membalas kelalaianku menjagamu!” lanjut donghae memandang geram ke arah junghee yang tampak sangat cuek.

“mianhe, aku terjebak macet lalu mampir ke toko buku karena kebetulan aku diberi brosur dari supir taxi tentang toko buku itu. dan apalagi buku- buku best seller tengah bertebaran di toko itu. makanya aku mampir dan aku sama sekali lupa waktu. Dan baterai handphoneku habis. Aku terlarut memilih buku, makanya baru sadar kalau hari sudah hampir tengah malam saat toko buku itu akan tutup!” jelas junghee berharap ekspresi donghae segera berubah.

“APA KATAMU? GARA- GARA BUKU LAGI?” teriak donghae.

“oke, mungkin tadi kau benar- benar khawatir. Tapi, bukankah sekarang aku sudah sampai dan tidak ada hal buruk yang terjadi?”

“junghee… ini rumahku dan di sini kau harus menaati aturanku. Kau tidak boleh pulang lewat dari jam 9 malam untuk kedepannya! Kuharap ini peringatan terakhir. Terserah apa yang kau lakukan di luar sana, yang jelas lewat jam 9 malam kau tidak boleh masuk!”

“ahhh…oke kalau itu aturanmu. Aku tadinya tidak tau. Lain kali akan ku coba pulang lewat dari tengah malam ;P !” junghee mengedipkan sebelah matanya dan donghae tampak ingin mencakar muka adiknya.

“AWWWW…” belum jadi donghae mencakar muka junghee, tapi tiba- tiba junghee terduduk di lantai. Ia memegangi perutnya yang tampak sangat mulas.

“gwenchanayo?” tanya donghae kembali khawatir dan seketika perasaan marahnya tadi sudah hilang diterbang angin.

“kau ini, jelas- jelas aku kesakitan. Mana mungkin aku baik- baik saja!” junghee masih memegangi perutnya.

“jadi ada apa dengan perutmu? Apa kau belum makan sedari tadi ?”

“ahhhh…” junghee kembali menggeram kesakitan.

“oke, ayo tidur dulu ke kamar. Nanti akan kubawakan obat dan makanan!” tawar donghae yang sudah berjongkok di depan junghee.

“aww, kenapa seperti ada cacing yang tengah melilit perutku. Sakit sekali…” ungkap junghee yang dengan kuat juga memegangi perutnya.

“aku tahu, pasti karena sibuk di toko buku kau belum makan. Itu akibatnya karena kau tidak pernah mau mendengarkanku!!” donghaepun memapah junghee menuju kamarnya.

~~**~~

“ini sarapan paginya hanya ada roti panggang dan segelas susu. Tidak masalahkan?” ujar donghae ketika paginya ia melihat junghee menghampiri meja makan dan ia sudah berpakaian seragam performing art seoul.

“ghwenchana. Aku mengerti, oppa sangat payah dalam memasak dan begitu juga denganku!”

“ahh, jangan banyak komentar. Makan saja. Aku memang tidak bisa memasak!” donghaepun meletakkan roti selai nanas ke piring adiknya.

“oppa, kau tau sendirikan aku tidak tau dimana itu performing art seoul itu!” junghee mengawali pembicaraannya.

“nanti kuantar. Sekolah itu juga satu arah dengan kantorku! Mungkin setiap hari aku bisa mengantarkanmu!”

“baiklah, kalau aku memang tidak merepotkan seperti biasanya!” aku junghee.

“hah, ternyata__ biarpun sikap-mu sangat cuek, tapi sadar diri juga!” sindir donghae tersenyum memandangi adiknya.

“oh,ya.. kau yakin tidak merepotkan? Karena ku pikir kau akan mengantarkan pacarmu juga?” tanya junghee dan donghae kembali teringat akan sooyeon.

“ah, bukankah sudah ku bilang aku belum punya yeoja. Aku ini masih masa pendekatan. Jadi ku pikir, aku bisa mengantarkanmu karena dia juga selalu menolak jika kutumpangi!”

“jelas saja dia menolak, aku saja merasa aneh jika satu mobil denganmu. Sekarang aku terpaksa diantar olehmu karena aku memang tidak tau. Tapi, besok- besok ku pikir aku bisa pergi sendiri!” cerocos junghee dan donghae langsung menjitak kepala adiknya.

“kalau memang begitu lebih baik aku hari ini menjemput yeoja itu dari pada harus menghantarkanmu!” donghae mengakhiri makannya dan langsung berdiri untuk segera pergi.

“ehhh, oppa aku hanya bercanda. Kau itu terlalu sensitif….” donghae menghentikan langkahnya

“…itu sebabnya tidak ada yeoja yang mau dengamu!” lanjutnya junghee menarik lengan oppanya.

“dasar, semua yeoja selalu seperti ini!” donghae memandang kesal kepada adiknya yang manis itu.

***

Setelah mengantarkan junghee donghae melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Tapi, tiba- tiba ia melihat sosok yeoja yang terseok- seok menuju ke sekolah. dan donghae langsung turun menemuinya.

“gwenchanayo?” tanya donghae melihat bagian kaki yeoja itu di balut dengan perban.

“kau lagi! Kenapa setiap aku kesulitan selalu ada kau! Mengaku saja kalau kau itu jelmaan makhluk ghaib atau semacamnya?” ujar sooyeon yang sama sekali tidak suka jika donghae membantunya.

“kebetulan aku lewat sini dan melihatmu berjalan tidak normal, yah jelas saja menarik perhatian!” ungkap donghae.

“mianhe, aku tidak butuh bantuanmu. Sekolahku juga sudah dekat!” sooyeon pun melanjutkan perjalanan dan berusaha mengelakkan donghae.

“ahhh, ternyata kau memang yeoja yang tidak berkarakter dan keras kepala. Pantas saja kau itu menjadi anak durhaka kepada appamu. Dasar kau tidak tau terima kasih!” cercah donghae yang lama- lama kehabisan cara setiap ingin mendekati sooyeon.

“apa katamu anak durhaka?” sooyeon berbalik.

“ne. Itu benar kan?”

“kau tidak tau apa masalahku. Tidak usah ikut campur. Dan ku harap tolak saja tawaran presdir untuk menjagaku melalui dirimu itu. aku tidak butuh orang baik- baik sepertimu!”

“kau benar- benar tidak mau diajarkan sedikitpun oleh orang dewasa. Kau pikir aku berbuat baik ini hanya  untuk melindungimu? Maaf saja, kau jangan ke-ge-er-an. Aku hanya diilhami sifat membantu sesama. Ku pikir aku tidak akan tertarik lagi membantu orang sepertimu. Tidak tau terima kasih dan benar- benar tidak beretiket!” cetus donghae kemudian kembali masuk ke mobilnya.

Sooyeon hanya terdiam mendengar cercaan donghae yang perlahan- lahan menyakiti hatinya. Sooyeon merasakan perasaan bersalah terhadap namja yang baik itu. mungkin, satu dari beribu serpihan hati sooyeon menyesali akan hal itu. mungkin, tidak banyak namja baik di dunia ini. tapi, bodohnya ia malah menyia-nyiakan hal itu. ia merasa menyesal, telah melepaskan orang yang baik itu begitu saja.

***

Donghae pov

seperti biasa, setibanya di kantor aku langsung menandatangani daftar hadir tapi dengan raut muka yang berbeda dari biasanya. Ku pikir rencanaku tidak akan berjalan dan aku tidak akan sampai di tujuan akhir. Benar. Sangat sulit mendekati sooyeon apalagi memacarinya bahkan menikahinya. Aku tidak tau bagaimana karakter sooyeon sebenarnya dan yang jelas ia selalu mempersulit keadaanku. Ku pikir aku akan menyerah karena dia tidak setara denganku. Dia masih SMA sedangkan aku sudah 21 tahun. Pasti sangat sulit baginya untuk menerimaku!

“ada yang ingin ku bicarakan denganmu!” ujar seseorang yang sudah ku ketahui siapa itu.

“tentang apa presdir ssi?”

“hal penting! Di ruanganku saja, mumpung masih pagi!”

“ne presdir ssi!”

Aku berjalan mengikuti presdir sedangkan pikiranku sibuk memprediksikan tentang apa yang akan ditanyakan presdir. Ku pikir dia tidak akan menyuruhku lagi menjaga sooyeon atau malah sebaliknya? Dia ingin aku menjaga anaknya selamanya? Ah ah, tidak mungkin.

“duduklah”

“….” aku duduk tanpa mengucapkan sepatah kata.

“mianhamnida, aku merepotkanmu karena kau ku suruh menjaga sooyeon.” Ujarnya mengawali percakapan kemudian ia kembali melanjutkan,” Tapi, ku pikir gadis keras kepala seperti dia akan menyulitkanmu. Jadi, ku pikirkan lagi mulai hari ini kau tidak perlu lagi repot- repot menjaganya. Lihat saja, sebentar lagi sooyeon akan balik ke rumah!”

“mwo? jeongmalneyo?”

TBC—

18 thoughts on “Slow But Sure [chapter 4]

  1. wew…. i’m the first? setu sih…. tpi aku blum bca dri,part,1 jdi rada bngung sma alur ceritanya,but, its daebak ff!!! keep writing thor

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s