Slow But Sure [Chapter 5]

Author : @HareTa_mi (www.haretami.wordpress.com) a.k.a Lee Jung Hee

Casts : Donghae, Sooyeon (Jessica), Jung Il Woo (ocs),Junghee and others.

Genre: romance, conflict, friendship, tragedy, AU, Family

Rate : PG

Length : chapter

previous : chapter 1 chapter 2  chapter 3 chapter 4

Disclaimer:STORY AND COVER PURE MINE. DO NOT PLAGIARISM AND COPY PASTE. 

Warning :

~~**~~

Donghae Pov

“hanya perkiraanku. Hm, sebentar lagi sooyeon dan aku akan menghadapi persidangan dan biarkan hakim yang menyelesaikan masalah kami!”

“apa sooyeon sudah tau dengan persidangan itu?”

“belum! Mungkin beberapa hari lagi baru ku beri tahu!”

“owh, ya semoga sooyeon cepat sadar!”

“jadi, apa yeoja keras kepala itu membuatmu tertarik ?” tanya presdir memandangiku yang ternyata aku langsung salah tingkah. Aku tidak tau. Semua ini terjadi begitu saja. Entah kenapa aku langsung grogi untuk menjawabnya. Aku masih belum bisa menebak apa maksud presdir sebenarnya. Tapi, semoga semua berjalan sesuai harapanku.

“jika kau mau, nanti aku akan membiarkanmu menjaganya selamanya!”

“MWO?” aku terkejut bukan main berharap ini benar- benar nyata. Berharap ucapan presdir barusan sesuai dengan maksudku. ‘menjaganya selamanya’ ya tidak salah lagi, ku pikir presdir menyukaiku dan pasti dia ingin menjodohkanku dengan sooyeon?! Benarkan….
“tapi, ku pikir kau yang sangat tampan, pintar dan sempurna ini mustahil sekali mau dengan anakku. Liat saja sikapnya sekarang? Kau tentunya sudah tau. ”

“ahni… terserah kepada presdir nantinya. Jika itu memang keputusan yang terbaik untuk aku dan sooyeon!”

“jadi, kau mau? Maksudku kalau sooyeon sudah siap nanti?”

“mmmm….”aku butuh kata- kata untuk menjawabnya tapi karena terlalu senang, mulutku ikut salting.

“baiklah… aku hanya sekedar mengatakannya. Ku pikir hal ini masih sangat lama akan terjadi. Persiapkanlah dirimu kalau memang mau menerima sooyeon apa adanya. Dan ingat, dia lebih muda 3 tahun! Pikirkanlah.. aku dan eommamu sering membicarakan hal ini! ^_^”

***

Semenjak keluar dari ruangan presdir tadi, sampai sekarang aku masih belum kembali berfikir normal. Pikiranku masih melayang- laying tentang presdir yang sudah merencanakan perjodohanku dengan eomma. Siapa yang tidak senang kalau di jodohkan dengan yeoja yang selama ini dengan susah payah ku incar?

Yah, tapi sekarang masalahnya SOOYEON itu sendiri! Aku ragu kalau dia akan menerima perjodohan ini begitu saja! Apalagi sejak kejadian tadi pagi! Aku sudah menyatakan tidak ingin membantunya lagi? Otomatis aku tidak ingin menemuinya lagi? Lalu sekarang apa? Perjodohan itu tidak mungkin akan terlaksana kalau diantara kedua belah pihak masih ada yang belum setuju?
ah, kenapa aku harus salah bicara lagi tadi pagi?

Aku terus menyesal akan kalimat- kalimat yang telah ku lontarkan kepada sooyeon tadi pagi. Sampai sekarang sudah hampir sore aku masih duduk di depan layar computer di ruanganku. Menatap pekerjaan dengan pikiran khawatir akan kelangsungan perjodohan itu. Meskipun itu masih lama!
lagian, sooyeon sampai sekarang pun juga belum kembali ke rumahnya? Jadi, untuk apa presdir memberi tahu hal itu secepat ini?
***

Author pov

“hai, bukankah kau yang waktu?” tanya sooyeon ketika melihat junghee tampak menunggu seseorang di depan gerbang.

“owh, kkkau….” junghee tampak terkejut dan tidak percaya akan bertemu lagi dengan yeoja yang beberapa hari yang lalu dilihatnya bermain gitar di pemakaman.

“yap, aku sekolah di sini! Jadi kau dikirim ke sini ya, satu bulan ini?” tanya sooyeon.

“ne…”

“ayo kita ke cafe di sebelah sana!” ajak sooyeon ketika hari itu ia tidak bekerja karena ada kelas sampai sore.

“mm,ne” junghee langsung menyetujui ajakan sooyeon dan lupa kalau ia tengah menunggu donghae.

Merekapun masuk ke dalam cafe, dan setelah berkenalan satu sama lain, junghee tampak senang berbicara dengan sooyeon. Mereka bisa akrab dalam waktu yang singkat.

“kau sangat cantik!” puji junghee ketika baru menyadari ada hal yang berbeda dari sosok di depannya. Dan ternyata itu karena kecantikannya.

“ahhh, kau juga sangat cantik. Pintar dan berbakat!” tambah sooyeon.

“ngomong- ngomong, apa pacarmu tidak marah kalau kita terlalu lama berbicara di sini?”

“mwo? pacar? Hahaha, aku sama sekali tidak punya!” sooyeon sedikit tertawa mendengarnya.

“ah, jadi gadis secantik dirimu tidak mau berpacaran ya? Atau kau punya selera yang tinggi!” komentar junghee merasa sudah sangat akrab dengan sooyeon.

“ahni. Belum ada satu pun yang menyatakan perasaannya padaku. Ku pikir tidak ada yang menyukai gadi sepertiku!”

“ah, tidak mungkin. Kau itu sangat baik, dan ramah seperti saat ini. mentraktir teman baru makan di cafe!” puji junghee. Kemudian ia melanjutkan. “tapi kalau ada yang menyukaimu kau tidak menolak tentunya?”

“haha, memangnya ada?!”

“entahlah. Aku punya oppa yang wajahnya sangat tampan tapi aku sangat malas mengakui hal itu di depannya. *takut dia ke-ge-er-an. Dan dia juga belum punya kekasih, meskipun sekarang sudah bekerja. Ku pikir kalau kau ku kenalkan dengannya, mungkin saja dia tertarik padamu!”

Tawar junghee yang langsung membuat sooyeon bertanya- tanya siapa kakak junghee tersebut.

“hm, aku bisa membayangkan bagaimana ketampakan kakakmu. Pasti keluarga kalian memang sudah keturunannya memiliki wajah dan sifat yang baik. Tapi, junghee ya… aku hanya gadis biasa yang bekerja sehabis pulang sekolah. tidak mungkin oppamu akan langsung tertarik padaku! Lupakan saja…” komentar sooyeon.

“ya sudah. Aku pun juga kurang yakin kalau kau akan tertarik juga dengannya. Karena dia sangat jahat dan suka menjailiku! ^^”

***

“oppa, kenapa tidak menjemputku? Untung saja aku ditunjukkan cara agar kembali ke sini oleh teman baruku!” junghee langsung melabrak donghae dengan kicauannya ketika donghae yang baru pulang karena harus lembur.

“ah, junghee…” donghae langsung terkesiap memandangi sosok di depannya lekat- lekat.

“tidak ada hal buruk yang terjadikan?” donghae meraba kedua pipi junghee dan kembali mengungkapkan nada khawatir.

“ahni. Tapi, bukankah kau janji menjemputku?”

“ah jeongmal, aku benar- benar lupa! Banyak pekerjaan…”

“ya aku tau!” junghee langsung menyela karena ia sudah tau alasannya donghae yang itu itu terus.

“lalu, bagaimana kau bisa selamat sampai di sini?”

“hm, bukankah sudah ku bilang teman baruku menunjukkan cara untuk kembali!”

“oh begitu. sudah makan?” tanya donghae.

“belum!”

“hm, berhubung persediaan di kulkas habis dan aku juga tidak sempat membelinya, Ayo kita makan di luar sambil berbelanja!” tawar donghae yang padahal baru saja pulang.

“ahni. Aku saja yang keluar, bukankah oppa baru saja pulang? Pasti sangat lelahkan!”

“memang  lelah, tapi biarlah, dari pada aku harus membiarkanmu keluar sendirian! Ini sudah malam!”

“ah, kenapa aku selalu dianggap anak kecil? Aku kan juga pernah tinggal di seoul, jadi aku tidak akan tersesat.”

“ah, menurut saja!” donghae langsung menarik tangan junghee agar mau mengikuti aturannya.

“kusarankan kalau besar nanti kau jadi komentator saja!” sindir donghae ketika mobilnya sudah melaju di jalanan malam.

Plaaaakkk…

“AW,”

***

Sooyeon pov

“sooyeonie, kami berdua pamit pulang. Sepertinya sudah malam!” yoona dan taeyeon pun keluar dari apartemenku ketika kami sudah selesai mengerjakan tugas kelompok. Aku menutup pintu dan kemudian ada sesuatu atau mungkin seseorang yang menahan dari luar.

“aku datang ingin menyerahkan surat ini!” aku mengerinyitkan dahi.

“apa ini? kau ingin aku menandatangani sebuah perjanjian?”

“ahni. Kau baca saja sendiri.” Kemudian ajusshi yang ternyata itu adalah appa kembali pergi tanpa memaksaku pulang seperti biasanya.

Aku membuka surat itu karena sangat penasaran. Aku membaca dan berusaha mencermati setiap kalimat itu. dan hasilnya, sangat membuatku galau tentang apa keputusan yang harus ku buat. Bayangkan saja, aku dan dia (appa) harus mengikuti persidangan untuk menentukan hak waris perushaan sekaligus kekayaan eomma?

Dan parahnya lagi kalau aku tidak hadir dalam persidangan itu maka sepersenpun aku tidak dapat keuntungan dari statusku yang sebenarnya masih anaknya. dan kalau memang aku ingin, yah aku harus kembali pulang. Dan untuk kembali pulang tidaklah sulit, tinggal melangkahkan kaki ke penjara itu dan malam harinya tidur di sana. Tidak perlu lagi bekerja dan semua yang ku butuhkan sudah tersedia di sana!

Tapi apa? Kenapa dari dulu aku selalu menolak hal- hal mudah seperti itu?

Aku tidak bisa tidur sedikitpun gara- gara surat itu. waktuku hanya satu malam untuk memutuskannya. dan kalau aku menerima keputusan itu, aku harus mengikuti persidangan jam 12 siang besok!

***

Siang ini, aku tidak tau kenapa tiba- tiba waktu berjalan cepat sehingga tidak memberiku kesempatan untuk berfikir lagi. kakiku ternyata membawaku ke gedung pengadilan negeri di seoul. Meskipun aku tidak sepenuhnya yakin akan keputusan ini. tapi sudahlah… aku tidak bisa menolak hal itu lagi. Ikatan darah antara aku dan appa sepertinya kembali meyakinkan hatiku.

“saudara Jung Soo Yeon, silahkan duduk di sebelah saudara Jung Il Woo!” seorang hakim berbicara di depan microphone ketika aku baru saja membuka pintu gedung.

Aku dengan langkah pelan menuju kursi yang diperintahkan hakim tadi. Aku melirik appa, dan dia tampak senang akan keputusanku yang sama sekali belum matang itu. ku lirik orang- orang lain yang hadir, dan umumnya mereka memakai pakaian perkantoran. Yap, semua pegawai tampak hadir menyaksikan hal yang paling di tunggu- tunggu oleh presdir mereka. Kemudian, mataku langsung menatap tajam ke arah namja yang kemarin pagi sudah membuatku kesal. Dia seperti biasa, tampan tapi kali ini tidak memancarkan senyumnya kepadaku. Ia mengalihkan tatapannya dariku. Jelas saja, dia tidak lagi seperti yang dulu. Seperti yang ku harapkan sebenarnya. Dia tidak peduli lagi dengan diriku yang jahat ini! entah aku bingung, kenapa baru sekarang aku mengharapkannya.

“baiklah karena semuanya sudah hadir. Persidangan ini secara resmi saya mulai! Tok,tok,tok” ujar seorang hakim yang duduk paling tengah di depanku sambil mengetuk sebuah palu kayu yang biasa di pakai orang dalam hal ini.

Aku mulai berkeringat dan masih bingung dengan apa yang akan ku katakan tadi.

Kemudian hakim kembali berbicara.

“menurut laporannya, saudara sooyeon adalah putri dari saudara jung il woo, tetapi saudara sooyeon sudah lama tidak tinggal dengan ayah anda! Terutama setelah kematian seseorang bernama Hye Ri. Silahkan berikan keterangan yang lebih jelas saudara Jung Soo Yeon!” jantungku langsung berdebar ketika hakim memintaku untuk berbicara.

“ne. Aku tidak lagi tinggal dengannya setelah perceraian ia dan ibuku. Dan berdasarkan hasil persidangan saat mereka bercerai waktu itu, hak asuh jatuh kepada ibuku. Dan otomatis aku akan tinggal dengan di rumah ibuku. Tapi ibuku meninggal maka aku sekarang tetap menetap di apartemen ibuku!”

“baiklah. Cukup sekian kejelasannya. Selanjutnya saudara Jung Il Woo!”

“karena hak asuh jatuh kepada Hye Ri, makanya aku membiarkan anakku tinggal dengan ibunya. Tapi sekalipun aku tidak pernah melarangnya untuk kembali ke rumahku, terlebih semenjak hye ri meninggal. Tapi, dia tetap bersikeras untuk tinggal di apartemen ibunya dan tidak tau kalau aku tetap berhak mengasuhnya karena aku ayahnya!” jelas ilwoo dengan sikap yang tenang.

Kemudian hakim terus melontarkan berbagai pertanyaan yang membuatku berkeringat dingin. Tapi, aku tidak sadar kalau mulutku malah menjawabnya dengan tenang dan sesuai dengan kennyataan. Akhirnya sampai pada pertanyaan inti yang sebenarnya aku tidak yakin bisa menjawab hal itu sesuai dengan kata hatiku. Sekarang ku serahkan pada alibi yang akan menegendalikan mulutku untuk menjawabnya.

“karena saudara sooyeon sudah berusia 18 tahun, jadi dalam aturannya itu sudah termasuk kategori dewasa dan tidak wajib di tanggung orang tua dalam hidupmu. Tapi, kalau saudara masih di bawah 17 tahun, maka sekalipun tidak tinggal dengan ayah anda, maka tetap akan mendapat pembagian warisan dan hak perusahaan Super Dream Star karena masih tergolong remaja dan masih dalam tanggung jawab orang tua. Jadi, bila saudara sooyeon bersedia kembali ke rumah saudara jung il woo, maka anda akan diberi hak sebagai pewaris perusahaan sekaligus harta kekanyaan ibu anda. Tapi jika tidak…”

Hakim belum selesai menjelaskan tapi mulutku langsung menjawab. “aku akan kembali ke rumah!” jawabku singkat dan sedetik kemudian terdengar suara tepuk tangan dari belakang.

Aku sama sekali tidak sadar kalau itu yang ku katakan tadi, tapi semua orang tampak senang dengan kelunakan hatiku. Entahlah, apa ini keputusan buruk yang akan membawaku kembali terperangkap dalam penjara atau sebaliknya?!!

***

Tidak lama setela itu persidangan selesai. Appa langsung memelukku karena aku anaknya.  aku tau dia sangat bahagia. Tapi, aku masih belum sadarkan diri. Bahkan ku pikir aku tidak mendengar kata- kata terakhir dari hakim tadi.

“gomawo” ucap appa melepaskan pelukannya. Aku hanya diam.

“presdir, sekarang sudah pukul 2 siang! Kita sebaiknya kembali ke kantor!” ujar sekretaris appa yang mengingatkannya.

“sooyeon, kamarmu tetap di tempat biasa. Kemasi barang- barang di apartemenmu. Ku harap kau senang kembali lagi ke rumah!” appa menepuk- nepuk pundakku merasa sangat lega karena setelah sekian lama ia memperjuangkan segala cara, dan akhirnya semuanya tuntas sudah di depan meja hijau.

“ne appa!” jawabku sedikit canggung. Karena akhir- akhir ini aku selalu berbicara kasar kepadanya.

“donghae, tolong antarkan sooyeon ke apartemennya, nanti akan ku kirim juga mobil box untuk mengangkut barang- barangnya. Kau bisa kan?” tanya presdir memanggil namja itu yang tampak akan pergi!

“mmm, mianhe presdir. Aku harus menjemput adikku di sekolah. dia baru tinggal lagi disini, jadi mungkin belum terlalu biasa!” bantah donghae dan sedikitpun ia tidak memandang ke arahku. Aku tau, dia pasti jauh lebih sakit dariku.

“baiklah. Tidak apa- apa! Eunhyuk, tolong antarkan anakku ke apartemennya mengambil barang. Aku harus segera kembali ke kantor. Kau bisa kan?” tanya appa kepada namja di sebelah donghae.

“ne. Presdir. Dengan senang hati!” jawabnya tampak senang dan aku hanya bersikap cuek tidak peduli dengan reaksinya yang terlalu bersemangat.

“tapi, kyuhyun dan sungmin juga ikut mobilku tadi. Jadi tidak masalahkan presdir kalau mereka juga ikut? Lagian dua bocak itu nanti juga bisa membantu mengangkat barang!”

“tidak masalah, yang penting sooyeon bisa sampai ke rumahku nanti.”

Namja bernama eunhyuk itu pun menghampiri dua orang pegawai yang sepertinya itu yang bernama khyuhyun dan sungmin. Kemudian donghae cepat- cepat pergi seperti sudah bosan melihatku. Sekali lagi, hatiku sangat sulit menerima reaksinya yang jauh berbeda itu.

**

“eunhyuk imnida!” ujar namja yang tengah mengantarkanku ini. aku duduk di sampingnya yang sedang menyetir, jadi mungkin saja ia sekalian mencari kesempatn agar bisa menjabat tanganku untuk bersalaman.

“kyuhyun imnida” ujar seorang namja yang duduk di bagian belakang. Dan di susul dengan namja bernama sungmin.

“oh, iya… apa kau tidak ke sekolah dulu?” tanya eunhyuk ketika melihatku masih berseragam.

“tadi aku sudah meminta izin!” jawabku singkat tanpa memalingkan muka ke arahnya.

“sooyeon…. mmm..” ujar kyuhyun dari belakang yang sepertinya ragu ingin bertanya kepadaku.

“mmm, apa kau sudah lama kenal dengan donghae?” tanyanya dengan sedikit keraguan dan mungkin ia khawatir kalau aku  tiba- tiba saja marah. Dan benar saja, aku marah. Karena ia kembali mengingatkanku akan namja yang sampai sekarang membuat hatiku teriris- iris itu. meskipun aku tidak tau apa perasaanku kepadanya, tapi tetap saja aku masih merasa kalau dia sudah mengecewakanku.

“apa urusanmu?” tanyaku ketus tanpa ku sadari.

“ah, sooyeon ya, mianhe.. kyuhyun memang sering berbicara ceplos. Mohon maafkan dia!” namja bernama sungmin memohon.

“biasa saja. Aku tidak akan meminta presdir memecat kalian. Kalian terlalu berlebihan dan alay!” cercahku dan mereka langsung menelan ludah. Aku tau, mereka pasti kecewa dengan sikap putri presdir sepertiku. Yah tapi, kalau aku baik tidak mungkin kan aku akan kabur?

***

Author pov

“aku kan tidak memintamu menjemputku?” tanya junghee ketika ia sudah memasuki mobil donghae.

“aku lagi berbaik hati dan menebus kesalahan kemarin!” jawab donghae singkat.

Kemudian hening. Junghee tidak tau lagi apa yang harus dikatakannya, padahal biasanya selalu saja ada kata- kata yang akan membuat donghae kesal.

Kemudian terdengar deringan handphone donghae, dan ia langsung mengangkatnya dengan memasang earphone di telinganya.

“yeoboseyo…”

“donghae ya, eomma ingin memberi tahumu kalau 2 tahun lagi kau harus sudah siap menjadi presdir. Karena aku sudah menandatangi perjanjian tentang kepemilikan saham disini. Dan kau harus bersiap- siap mulai dari sekarang!”

“mwo? eomma? Kenapa secepat itu?” tanya donghae dengan keterkejutan yang tidak bisa di duga- duga.

“ne. Tadi aku dan petinggi perusahaan mengadakan rapat dan mendiskusikan hal ini. dan kami sepakat kalau dua tahun lagi kau harus pindah ke sini. Tapi, ku pikir tidak langsung menjadi presdir, yang jelas kau akan menjadi bagian terpenting di perusahaan ini. kau harus bersiap- siap. Dua tahun lagi semua kelangsungan HeearPhy tergantung padamu!” donghae masih tercengang- cengang mendengarnya. Masih banyak hal yang akan di lakukannya, tapi ia sudah harus memenuhi tuntutan keluarga. Meskipun dia belum langsung menjadi presdir, tapi tetap saja kata- kata eomma tadi membuat bebannya bertambah berat sekarang ini. Kenapa secepat itu?

“tapi eomma, aku masih harus belajar lagi di sini. Aku tidak siap kalau 2 tahun lagi kelangsungan HeearPhy harus diserahkan padaku. Aku tau eomma masih menjabat menjadi presdir nantinya, tapi tentu saja aku butuh waktu untuk memperdalam ilmu. Aku masih 21 tahun eomma!” bantah donghae dengan penuh permohonan. Dan Junghee yang mendengar hal itu pun menyadari apa yang mereka bicarakan.

**

Junghee Pov

Yeah, eomma sepertinya sudah menetapkan donghae yang akan menjadi pewaris tunggal HeearPhy. Tidak mungkin aku. mustahil sekali kalau nantinya Donghae oppa berhenti menjadi presdir karena aku juga mau menempati jabatan itu. tapi, bagaimana dengan cita- citaku? Mimpi masa kecilku? harus terhanyut begitu saja karena kakakku sendiri? Karena dia laki- laki? Karena dia lebih besar dariku?

Aku terus berpikir keras tentang hal itu. setinggi apapun ilmuku, tapi ku rasa eomma tidak akan pernah mengizinkanku menguasai HeearPhy yang sudah kuidamkan sejak dulu. Sekali pun jadi pejabat penting di sana, tapi menurutku itu sama saja tidak sesuai harapanku. Kekuasaan akan tetap di tangan donghae oppa nantinya dan itu tentu tidak akan pernah berubah selama ia masih hidup!

Ku pikir, setelah aku kuliah menyelesaikan S2 nanti, mendepat gelar M.Sc. tetap saja, aku tidak mungkin bekerja dan menemukan hal baru sesuai harapanku. 80% aku yakin kalau eomma akan menikahkanku dengan namja pilihannya dan menyuruhku tinggal di rumah. Tidak usah melakukan apa- apa. Hanya menunggu suamiku pulang nantinya, dan semua prestasiku akan hanyut begitu saja. Setinggi apapun ilmuku, aku yakin eomma tidak akan membiarkanku bekerja kalau sudah menikah.

“kau kenapa?” tanya donghae oppa ketika aku sadar kalau pikiranku sudah menerawang jauh sedari tadi. Aku sama sekali tidak mendengar kapan ia dan eomma mengakhiri ucapan mereka.

“…” aku hanya diam dan menggelengkan kepala. Aku masih melayangkan pikiran tentang apa yang akan terjadi beberapa tahun nanti. Aku membayangkan donghae oppa akan menguasai HeearPhy dengan senangnya dan hidup dengan yeoja yang dicintainya.

Sedangkan aku, pasti dipaksa menikah oleh eomma, mengubur kemauanku untuk memperbarui HeearPhy, dan tinggal di rumah setiap hari menunggu namja yang mungkin tidak kucintai saat ia pulang bekerja. Begitu setiap harinya beberapa tahun lagi. Aku tahu itu, kalaupun aku bekerja di perusahaan lain, tapi aku yakin cepat atau lambat nantinya eomma tetap akan menjodohkanku entah dengan siapa.

Dan , seperti di drama- drama, pasti di jodohkan juga dengan anak temannya dari perusahaan lain. Tujuan, yah pastinya seluruh orang juga sudah tau.

***

Hari- hariku di seoul tidak seperti yang kuharapkan. Semuanya malah bertambah buruk. Beberapa hari ini aku memilih mendiami donghae oppa. Karena, yang benar saja aku pasti memiliki rasa kesal karena eomma selalu mementingkannya. Perlahan aku mulai tidak menyukai sikapnya yang serba perhatian dan khawatir itu. aku benci itu. bahkan saat ini bisa ku tafsirkan kalau dia yang mengubur impianku hidup- hidup.

“kau kenapa?”

“…” aku tidak menjawabnya pagi ini. pagi- pagi sebelumnya saat dia akan mengantarkanku ke sekolah aku juga tidak menjawab setiap ucapannya lagi.

“ada masalah? Ceritakanlah? Bukankah aku selalu mencarikan solusinya?” tanyanya dan lagi- lagi memasang tampang khawatir. Entah kenapa aku benci melihat donghae oppa sekarang.

“ahni…” jawabku singkat dengan rasa malas.

“lalu ada apa denganmu? Kemarin- kemarin ini kau sangat ceria di sini? Tapi, kenapa tiba- tiba berubah seperti ini?” tanyanya menyadari perubahanku.

“tidak ada apa- apa!  Tidak usah khawatir!” dustaku menyembunyikan semua yang tengah beradu pandang dalam benakku. Ingin sekali aku mengatakan kalau dia adalah faktor utama penghancur hidupku, tapi entahlah. Dia selalu memasang muka ‘seperti itu’ membuatku tidak tega mengatakannya. Lagian aku juga bingung dengan diriku sendiri, kenapa bisa menyalahkannya yang sudah sangat baik padaku. Ku pikir ada yang salah dengan diriku…

“besok, besok satunya lagi… dan seterusnya.. oppa tidak usah menjemputku. Aku tidak mau merepotkanmu!”

Ku lihat wajahnya dan jelas sekali ia langsung tertegun.

“aku yakin, ada yang salah denganku? Ayo, kata- kataku bagian mana dari ucapanku yang menyakitkanmu?” tanyanya membaca pikiranku.

“ahni. Aku setiap pulang sekolah akan mampir ke toko buku dan mungkin pulangnya juga malam. Jadi tidak mungkin kan aku bawa oppa ke toko buku seharian?” ujarku mencari alasan yang paling masuk akan agar ia bisa berhenti untuk menanyaiku.

“oh… baiklah. Tapi, kalau ada masalah, ku mohon ceritakanlah! aku janji setiap masalah yang akan kau ceritakan pasti ku carikan solusinya!” pintanya tapi tidak ku hiraukan.

“hm, lebih baik sekarang aku juga berangkat sendirian. Oppa, jemputlah yeoja yang katanya sedang oppa incar itu!”

“ahhh… jangan bicarakan lagi soal yeojachingu. Aku tidak ingin mendengar kata- kata itu!” ujarnya kemudian menarik tanganku keluar. Aku terkesiap dengan perkataanya barusan. Aku yakin, ada hal yang terjadi antara dirinya dengan yeoja itu. meskipun yeo ituja sedikitpun aku tidak tau deskribsinya. Bahkan namanya pun aku juga tidak tau.

Sudahlah, ku pikir dia sedang patah hati karena harus fokus lagi pada pekerjaannya.

***

Sooyeon pov

Pagi pertamaku bangun di tempat yang ku rindukan ini. dari kemarin aku sudah kembali tinggal di rumah appa. dan rasanya aku kembali hidup karena tidak perlu lagi bekerja, kembali membawa mobil ke sekolah, sarapan pagi sudah tertata rapi di ruang makan, semua yang kuinginkan kembali ku dapatkan, tapi satu hal yang hilang adalah rasa rinduku pada appa-ku sendiri. Aku hanya bersikap biasa kepadanya. Tidak meminta maaf dan juga tidak merasa sangat senang kembali ke rumah. Dan ku pikir appa juga mengerti kalau aku perlu adaptasi kembali.

Kemarin, aku sudah berbicara dengan presdir leeteuk di WS dan akhirnya dia menerima alasanku. Aku terpaksa mengundurkan diri karena sekarang semua yang akan ku lakukan kembali dikuasai appa. aku tidak boleh lagi bekerja, dan presdir leeteuk sangat menyayangkan hal itu. tapi, mungkin dia dapat menerima surat pengunduran diriku karena aku pasti lebih baik tidak bekerja dulu dan memfokuskan diri untuk sekolah.

Setelah menjemput yoona dan taeyeon, kami akhirnya sampai di gerbang sekolah. aku terus mengklakson karena banyak siswa- siswa yang berjalan menutupi gerbang. Kemudian aku melihat, seorang yeoja yang baru kemarin- kemarin ini menjadi temanku. Ya,Lee junghee. Dia tampak turun dari sebuah mobil sport dan kemudian junghee berjalan menuju gerbang.

Aku sama sekali tidak menyapa junghee dari mobil tapi malah memerhatikan mobil sport yang mengantarnya tadi. Otak ku terus berpikir, kenapa bisa aku merasa aneh dengan mobil itu. padahal mobil seperti itu tidak satu buah di sini, tapi ribuan banyaknya orang- orang seoul mengendarainya. Entahlah tetap saja ada yang aneh.

TBC__

25 thoughts on “Slow But Sure [Chapter 5]

  1. Aish akhir.nya sica mau kembali juga sma appa.nya tp syang hbungan.nya sma donghae jd kurang bagus huft nex chingu

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s