[FF] Keep The Story Moving Chapter 3

Author
Nicky

Length
Chapter

Rating
G

Genre
Romance, Sad, Flashback

Main Cast
YooChun JYJ

ParkMinYoung

KimRhie (OC)

Sinopsis

I still believe you’re fine today. Untuk sebagian orang, ingatan yang menyakitkan bisa dihilangkan dengan sugesti dari pikiran sendiri. Dan pada akhirnya orang tersebut akan tenggelam dalam bayangan yang ia buat. YooChun mengalaminya… berangkat dari beberapa kejadian yang merengut ingatan manisnya, ia menciptakan sendiri anggapan-anggapan yang bisa diterima oleh hatinya…

Di sini, di kota ini…. gadis lain berjuang agar kenyataan dapat terlihat dengan jelas.

Disclaimer

Ini murni dari kepala author, semua cast milik dirinya sendiri kecuali Rhie yang lahir dari pemikiran author hehehe. As usual, ff ini pernah muncul di blog pribadi author yaitu http://nickisland.wordpress.com/

Mau bikin Cover baru karena yang lama bikinan orang,tapi gak sempet ==a jadi chapter pertama polos tanpa cover ya….Jangan lupa RCL…gomawo~~

Chapter 3

We shouldn’t meet from the start

Rhie menghela nafasnya panjang. Ini hari kelimanya tidak mendengar kabar apapun dari YooChun. Rhie sendiri memang tidak menghubungi pria itu karena ia ingin memberikan waktu untuk YooChun berpikir sendiri.

Kalau pria itu sama sekali tidak ingin merubah hidupnya sekarang, ia tidak bisa memaksanya lagi. Ia sudah cukup lelah… Mungkin, entah kapan… Rhie menyadari kalau ia akan merubah pikirannya lagi. Tapi tidak sekarang. Pikirannya sendiri sudah dipenuhi oleh berbagai hal yang cukup membuatnya menahan rasa kesepiannya.

Sayangnya, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.. Ia khawatir… Apa YooChun menjalani hidupnya dengan normal? Apa pria itu makan dan beristirahat dengan benar? Apa ia menghubungi orang lain entah siapa untuk berbicara? Untuk bertukar pikiran.

Rhie tidak peduli YooChun akan tertawa terbahak-bahak atau menangis meraung-raung. Semua itu lebih baik daripada menjadi mayat hidup yang tidak mengeluarkan ekspresi apapun.

Ia lebih baik melihat pria itu dengan wanita lain dan melupakan unnienya daripada ia sendiri berusaha menggapainya, tetapi keduanya tetap merasakan luka yang sama… Minimal dengan cara itu salah satu dari mereka akan bahagia.

Rhie tersentak kecil saat merasakan handphone di saku one piecenya bergetar. Akhir-akhir ini ia begitu tenggelam dalam kesunyian hingga bunyi sekecil apapun bisa mengagetkannya.

“Yoboseyo unnie.” Ujarnya setelah mengenali kalau itu adalah nomor handphone MinHee.

“Yah.. Kau kemana saja? Apa kau lupa kalau kau berjanji akan menemaniku untuk memilih gaun pernikahan?”

“Ah matta.. Mian.. Aku tidak mengecek buku schedule ku, tapi sepertinya aku tidak bisa menemanimu unnie.”

“Waeyo? Memangnya kau mau kemana?”

“Aku mau mengunjungi MinYoung unnie. Aku sudah terlanjur memesan karangan bunga di flourist kemarin.”

“Rhie… Kau bisa berkata jujur denganku. Apa kau sudah sanggup pergi ke sana sendiri? Apa kau akhirnya memaafkannya?”

“Lebih tepatnya aku belum pernah benar-benar membencinya. Lagipula bagaimana mungkin aku meminta YooChun oppa untuk bergerak maju kalau aku sendiri tidak bisa melakukannya?”

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu.”

“Unnie..”

“Ah.. Apapun itu, pokoknya aku tidak setuju kau pergi ke sana sendirian. Bagaimana kalau kau menemaniku dulu kemudian aku akan mengantarkanmu ke sana?”

“Kan ada JunSu oppa. Bukankah memilih gaun pengantin lebih menyenangkan kalau kalian melakukannya berdua?”

“Kau kan tahu bagaimana tunanganku itu. Ia hanya akan memilih satu buah model kemudian membuatku memakainya sama persis dengan manequin tanpa tambahan apapun. Ayolaah… Aku benar-benar membutuhkanmu.”

Rhie menghela nafasnya… Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah pikiran MinHee. Dan walaupun ia bersikeras dengan rencana awalnya, MinHee akan menemukan cara untuk membuatnya menyesali pilihan itu.

“Baiklah unnie… Tapi kau harus menjemputku di apartemen.”

“Tentu saja… Sekarang sana kau bersiap-siap. Bagaimanapun, kau kan juga bride’s maid ku!”

Setelah sambungan telepon itu terputus, Rhie tersenyum getir sendiri. Bagaimana mungkin ia sampai lupa kalau ia adalah bride’s maidnya MinHee… Well, dan ia agak speechless sekarang. Entah ekspresi apa yang harus ia tampilkan.

Karena kenyataannya, pikirannya melayang entah kemana

Hatinya sendiri masih berduka

Dan tubuhnya hanya ada di dunia tanpa tahu ada tujuan yang harus ia perjuangkan.

***

YooChun memesan bimbimbap ukuran besar. Kalau dipikir-pikir ia memang merasa sangat lapar sekarang. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari walaupun MinYoung dan Rhie sama-sama mengurusnya, keduanya meninggalkan gaya yang agak berbeda. MinYoung dengan segala bentuk yang akan mengingatkan dirinya dan Rhie yang tidak meninggalkan jejak apapun.

Sekarang ia menyadari kalau selama ini ia hidup tanpa memperhatikan apapun.

Apa itu berarti ia sangat mencintai MinYoung?

Atau malah itu menjelaskan bahwa ia hanya menganggap MinYoung sebagai sebuah kebiasaan?

Apa itu yang membuat MinYoung memintanya untuk putus?

Karena ia tidak pernah benar-benar mencintai gadis itu?

Setelah tersadar, pikirannya malah dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Selama ini ia hidup hanya dari berlari dari semua pertanyaan tersebut. Dab setelah kematian MinYoung, ia memiliki alasan untuk melupakan semuanya. Walaupun tujuan awalnya adalah untuk menyakiti dirinya sendiri, tapi tanpa ia ketahui, ia uga menyeret orang lain ke dalamnya.

Sahabat-sahabatnya yang frustasi memikirkan dirinya…

Perusahaan studionya yang hanya dijadikan tempat pelarian

Dan Rhie yang hidupnya tampak sia-sia karena tidak bisa menjaga perasaannya sendiri.

Keputusannya hari ini untuk datang ke blok pemakaman MinYoung adalah berusaha untuk menjawab semua pertanyaannya sendiri. Bagaimana perasaannya nanti saat melihat tempat abu MinYoung yang sebenarnya? Bagaimana perasaannya nanti seharusnya menjelaskan semua tindakan masa lalunya dan juga apa yang harus ia lakukan nantinya kan?

YooChun menyempatkan diri untuk membeli seikat mawar. Menurut ingatannya, itu adalah bunga kesukaan MinYoung. Hal yang paling membedakannya dari Rhie karena dongshaeng gadis itu hanya menyukai bunga lily.

Pria itu melemparkan pandangannya jauh. Hanya ada 2 orang gadis dalam kehidupannya.

Ia terbiasa membandingkan keduanya…

Sampai sekarang ia menyadari letak masalahnya adalah siapa yang benar-benar memiliki hatinya?

***

“Bagaimana dengan yang ini?” Tanya MinHee sambil memamerkan gaun dengan potongan duyung di bawahnya. Praise the Lord…. Gadis itu tahu apa yang menjadi keunggulannya. Rhie selalu memuji tinggi badan unnienya itu. Tinggi badan gadis itu benar-benar sebuah anugrah untuk memakai pakaian model seperti itu.

“Bukan aku yang menikah unnie… Menurutku dari tadi pilihanmu semuanya bagus…”

“Yah… Kau biasanya menjadi stylish pribadiku. Tolong kembalilah ke dirimu yang lama Rhie.”

“MinHee ah…”Tegur JunSu. Ia memandang Rhie kasihan. Sedari tadi ia mendengar rengekan MinHee dan ia sendiri tidak bisa membantu karena sense of fashionnya benar-benar terbatas oleh manequin.

“Dia juga harus memulai hidupnya sendiri. Dan aku pikir pernikahan kita seharusnya menjadi moment yang tepat. Ia kan bisa bertemu pria baru di sana.” Protes MinHee.

“Semua itu butuh proses, MinHee…” Jawab JunSu sabar.”Buktinya ia sudah memilih dress untuk dirinya sendiri kan?”

“Lebih tepatnya ia hanya asal mengambil dress pertama yang menarik perhatiannya tanpa mencoba membandingkannya dengan yang lain. Her typical.”

“Tapi dress itu kan memang sesuai denganku.” Sambar Rhie berusaha membela dirinya sendiri.

Walaupun kenyataannya memang demikian. Begitu melihat dress putih stipless dengan potongan mini, ia tidak berpikir 2x untuk memilih. Gaun itu cukup sederhana dan karena mini, jelas cukup membantu menutupi kekurangan tinggi pada tubuhnya. Jadi apa yang harus diributkan? Dalam keadaan biasa saja ia paling malas shopping.

Dan hey..namanya saja cukup sulit okay…Short-Length Strapless Light Purple Chiffon A-Line. Dress dengan bahan Chiffon. Kalau membaca keterangannya, itu didesain dengan glamour look dari tahun 1950 dengan model simpel yang diembros oleh ivory dan pearl. Ada ruffels di bagian bawahnya dengan model couture cuts dan beaded silk model vintage.

Karena semua ini MinHee yang membayar, bukankah unnienya itu harusnya bersyukur karena ia bukan  jenis dongshaeng yang macam-macam?

“Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari butik kalau kau tidak memberikanku komentar yang berkualitas.”

“Unnie…”

“Ayo pilihlah gaun untukku yang menurutmu paling cantik di sini.” Perintah MinHee sementara ia mengepas jas yang digunakan oleh JunSu.

Rhie menghela nafasnya panjang. Rasanya seperti ia yang mau menikah. MinHee membagi kepanikannya secara sempurna. Mau tidak mau ia mulai memilah-milah wedding dress yang ada. Mungkin hari ini ia harus menyerah atas schedulenya sendiri.

Mungkin ia memang harus menelpon flourist langganannya untuk menyimpan bunga pesanannya. Besok.. pagi-pagi sekali, ia akan pergi ke makam MinYoung sebelum bisa ditangkap oleh MinHee.

“Kau sudah memilih belum?”Teriak MinHee dari ruang utama.

“Chakamannyo unnie.. Aku bekerja sebagai marketing directur di perusahaan tunanganmu. Bukannya seorang desaener.”Gerutu Rhie. “Pokoknya ini yang aku pilih ya unnie.. Kau tidak bisa memaksa selera orang.”

“Ara…Araaa. Kalau kau tidak menyukai yang satu ini, aku tidak tahu apa yang akan kau sukai.”

Rhie membawa gaun yang paling menarik perhatiannya. Harusnya itu cukup untuk membuat MinHee senang karena potongannya jelas lebih dari kata elegan dan kalau ia memakainya pada saat pernikahannya yang memang dirancang sangat mewah (sangat mewah dalam kamus MinHee berarti pesta yang tidak akan dilupakan sampai 10 tahun ke depan). Seharusnya gaun ini sangat memadai impiannya.

Chapel Train Sweetheart White Chiffon Mermaid Trumpet Wedding Dress(Rhie sampai menahan nafasnya untuk menyelesaikan nama gaun itu dalam 1 tarikan nafas).Gaun yang satu ini memiliki banyak siluet yang sebagian besar berbentuk column dan a-line. Ini jelas membuat pundak unnienya akan terlihat ekstra feminim dan membuatnya terlihat slim.

Apalagi dengan banyaknya taburan leather,chiffon yang dirangkai dengan kristal swarovski. Well, Rhie jelas silau melihatnya… Kalau untuk dompetnya yang normal mungkin ia harus menabung entah berapa lama. Untungnya JunSu yang memiliki perusahaan. Jadi ini sama sekali bukan masalah.

“Pokoknya bagiku unnie memang harus memakai model mermaid begini. Lain-lainnya hanya masalah model tambahan saja.”

MinHee memandang gaun di tangan Rhie tanpa berkedip.”Jangan sampai membuat gaunku kusut karena tanganmu, Rhie.”

“Jadi itu berarti..”

“Tentu saja aku menyukainya bodoh…”Pekik MinHee… “Sekarang bantu aku mencobanya jadi kita tahu bagian mana saja yang harus disesuaikan dengan tubuhku.”

“Dan setelah itu kita mencari set jewelry yang harus kau gunakan, heelsnya… bunga-bunganya. Aku bingung kenapa setelah memakai EO kalian berdua masih repot juga.”

“Namanya juga pernikahan Rhie. Makanya kau cepat sana menikah.”

Rhie mengabaikan gurauan unnienya yang satu ini. Cepat menikah… Yang benar saja… Di saat ia baru saja merelakan perasaannya… merasakan sekali lagi yang namanya patah hati dan belajar untuk melupakan.

Menikah…

Mungkin untuk berpacaran saja ia akan berpikir berulang kali..

Dan sebenarnya setelah kontrak apartemennya habis, mungkin ia akan mempertimbangkan untuk kembali ke Jepang..

Entah untuk memulai hidup barunya

Atau

Tetap dalam posisi melarikan dirinya…

***

YooChun meletakkan mawar di tangannya ke dalam blok milik MinYoung. Ia menatap foto MinYoung lembut. Entah siapa yang memilih foto itu pasti sangat mengerti MinYoung karena itu salah satu foto close up terbaiknya.

“Aku baru berani menemuimu.” Gumam YooChun kecil. Ia merasa aneh berbicara dengan sebuah foto sekarang.

Okay kalau ia merasa aneh sekarang bagaimana dengan sikapnya sebelum ini?
Dan sekarang ia malah berbicara dengan dirinya sendiri. YooChun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Mungkin benar… Aku hampir gila karenamu, MinYoung ah.”

“Kenapa kau bisa melakukan ini padaku? Apa karena kegigihanmu selama ini hingga pada akhirnya aku jadi terbiasa dengan keberadaanmu?”

“Sebelum ini aku tidak benar-benar hidup… Aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan apalagi untuk mengakuinya dengan datang ke sini. Kau tau… Aku pikir mungkin aku akan bertindak bodoh seperti berteriak –teriak atau apapun itu.”

“Tapi lihat aku di sini sekarang,MinYoung ah. Aku di sini dan memang aku merasakan kesedihan yang besar, tapi hanya itu… Apa itu berarti aku benar-benar seperti katamu waktu kau memutuskanku? Apa itu juga berarti kau sangat mengenalku?”

YooChun mendudukkan dirinya sendiri di lantai. Untung hari ini tidak ada orang lain selain dirinya yang berkunjung ke tempat ini. Walaupun ia juga tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain kalau melihat tindakannya. Apa bedanya… Ia sudah dianggap kurang waras juga kok.. Tapi di masa itulah baru terlihat siapa yang masih bisa berada di sampingnya.

Dan betapa bodohnya ia sampai kehilangan kesempatan sampai 2 kali…

“Katakan padaku MinYoung apa yang harus kulakukan sekarang? Bukankah aku mengikuti keinginanmu selama ini? Bukankah kau yang dulu pernah berjanji kalau kau bisa membuat hatiku lebih baik?”

“Sekarang aku malah merasa jauh lebih buruk daripada sebelum kau menyarankan pikiranmu dulu. Bukankah kau harus bertanggung jawab atas semua ini?”

Pria itu menertawakan dirinya sendiri. Sekarang ia minta pertanggungjawaban pada orang yang sudah meninggal… Mungkin ini yang membuatnya dari awal tidak memiliki harapan. Ia tidak pernah jujur pada perasaannya sendiri dan tidak pernah bertindak berdasarkan perasaannya.

“Mungkin kau benar… Semua ini awalnya adalah kesalahanku. “ Ujar YooChun sambil bertumpu pada tumitnya sendiri untuk bangkit berdiri. “Seharusnya aku menghilang dari awal.. Jadi bukan Rhie yang pergi ke Jepang waktu itu dan bukan kau yang meninggal sekarang.”

“Aku sudah tahu apa yang seharusnya kulakukan.”

***

4 thoughts on “[FF] Keep The Story Moving Chapter 3

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s