[FF] Keep The Story Moving Chapter 4

Author
Nicky

Length
Chapter

Rating
G

Genre
Romance, Sad, Flashback

Main Cast
YooChun JYJ

ParkMinYoung

KimRhie (OC)

Sinopsis

I still believe you’re fine today. Untuk sebagian orang, ingatan yang menyakitkan bisa dihilangkan dengan sugesti dari pikiran sendiri. Dan pada akhirnya orang tersebut akan tenggelam dalam bayangan yang ia buat. YooChun mengalaminya… berangkat dari beberapa kejadian yang merengut ingatan manisnya, ia menciptakan sendiri anggapan-anggapan yang bisa diterima oleh hatinya…

Di sini, di kota ini…. gadis lain berjuang agar kenyataan dapat terlihat dengan jelas.

Disclaimer

Ini murni dari kepala author, semua cast milik dirinya sendiri kecuali Rhie yang lahir dari pemikiran author hehehe. As usual, ff ini pernah muncul di blog pribadi author yaitu http://nickisland.wordpress.com/

Mau bikin Cover baru karena yang lama bikinan orang,tapi gak sempet ==a jadi chapter pertama polos tanpa cover ya….Jangan lupa RCL…gomawo~~

Chapter 4

Past, Present, Future


“Yah unnie… Besok yang menikah adalah kau bukan aku! Kenapa aku harus ikut mempersiapkan detil terakhirnya juga?”Omel Rhie.

“Aish.. Kau ini benar-benar tukang protes. Seharusnya kau merasa bahagia menjadi orang yang mendapat kesempatan menghabiskan waktu lajang terakhirku.”

“Itu sama sekali bukan alasan yang memadai. Rasanya kau memanfaatkan fakta aku bekerja di kantor tunanganmu makanya kau bisa menculikku kapan saja.”

“Tentu saja..Itu salah satu kegunaan aku bertunangan dengan JunSu oppa. Sudahlah jangan mengomel terus, kan jelas lebih enak kalau kau menemaniku jalan daripada di kantor.”

Rhie mengerucutkan bibirnya. Sejujurnya untuk hari ini ia jauh lebih baik berada di pelosok kantornya mengerjakan laporan entah apa. Karena hal itu membuat otaknya tetap sibuk dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya.

“Ah, apa sebaiknya nanti malam kau menginap di rumahku? Kau kan memang harus berada bersamaku dari pagi.”

“Semua barang-barangku ada di apartemen, unnie. Kau mau aku memakai gaun pernikahanmu besok?”

“Kan kita dapat mengambil semua keperluanmu nanti. Semua bisa diatur asal kau mengatakan kata iya.”

“Aniya.. Shiroyo. Aku mau pulang ke rumah. Aku tahu kau mengkhawatirkanku, tapi semua ini harus dihentikan okay. Kau sudah mau menikah besok. Kau tidak bisa mengambil tanggung jawab sebagai unniku terus-menerus.”

“Makanya kau sendiri jangan membuatku cemas. Carilah pasangan Rhie. Kau pantas untuk memiliki seseorang yang mencintaimu.”

“Aku bukan seseorang yang bisa menentukan apakah orang lain mencintaiku atau tidak unnie. Lagipula sekarang aku cukup puas dengan kehidupanku.”

“Tapi kau menangis setiap malam Rhie. Jangan bilang aku salah.”

“Tunggu sebentar unnie. Handphoneku berbunyi.” Ujar Rhie sambil merogoh tasnya untuk mencari handphone putihnya. Siapapun yang menghubunginya jelas menyelamatkannya dari serangan panik MinHee kepadanya. “Yoboseyo.”

“Yoboseyo Rhie-ah.”

“YooChun oppa.”Desis Rhie saat mengenali siapa yang menghubunginya. “Dimana kau sekarang? Apa kau baru bisa bahagia kalau aku mencemaskanmu sampai mati?”

“Jangan menyebut kata itu Rhie. Aku sudah berusaha menghindarinya beberapa hari ini. Kau tidak perlu menjadi orang yang membuatku melakukannya.”

“Apa karena kau menghubungiku itu berarti kau sudah menerima kenyataan oppa?”Tanya Rhie kecil.

“Aku tidak bisa melakukan apapun selain menerimanya kan? Aku sudah mencoba berlari darinya dan malah menyakitimu.”

“Kau dimana sekarang? Aku mau melihat keadaanmu. Hanya sebentar setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku berjanji oppa. Tapi biarkan aku menemuimu sebentar.”

“Aku ada di depan apartemenmu Rhie. Tapi tampaknya kau yang tidak ada di sini.”

“Setengah jam lagi aku akan sampai di sana. Password apartemenku adalah tanggal ulangtahunku. Kau bisa menunggu di dalam. Aku tidak menerima jawaban lain oppa. Kau harus ada di sana saat aku datang.” Tutup Rhie.

“Jangan bilang itu YooChun yang menghubungimu.” Sergah MinHee.

“Kau mendengarnya unnie. Jadi aku tidak perlu menceritakannya ulang. Mian.. Aku harus kembali ke apartemenku.”

“Rhie… Aku tidak menyukai ini. Aku merasa kalau ini bukan ide yang baik.”

“Aku yang memintanya untuk menemuiku unnie. Apapun yang terjadi aku yang akan menanggung akibatnya. Aku harus memastikan keadaannya.”

“Untuk apa? Apa karena kau masih menyukainya Rhie?”

“Kau tahu bagaimana perasaanku. Aku tidak mengharapkan apapun unnie. Tapi melihatnya tetap hidup dengan baik jelas akan sangat menolongku. Sekali lagi mian unnie.”

***

YooChun melangkah mengitari apartemen Rhie. Isi di dalamnya sangat sederhana. Kelihatannya Rhie sendiri jarang tinggal di dalamnya. Gadis itu tidak terlalu meletakkan banyak perabotan pribadi seperti kebiasaannya dulu waktu di rumah kedua orangtuanya.

Atau mungkin itu untuk memudahkannya kembali ke Jepang kapanpun ia butuhkan?Apa gadis itu memang dari awal tidak pernah berpikir untuk menetap di Korea sebelumnya? Lalu apa yang menahan gadis itu?

Dirinya?

YooChun tertawa getir… Lagi-lagi ia hanya menyakiti Rhie. Kenapa ia harus membuat kehidupan seseorang begitu sulit? Kenapa ia harus mempengaruhi keputusan orang lain?

Ia menghela nafasnya panjang. Pria itu sudah memutuskan dan ia bersumpah tidak akan mundur lagi atau membuat keadaan bertambah rumit. Pada saat itu ia mendengar suara bel di depan apartemen. YooChun tersenyum kecil. Entah apa yang dipikirkan Rhie sambil menekan bel di depan apartemennya sendiri.

Tepat ketika ia membuka pintu, bertubi-tubi pukulan mengenai tubuhnya. Rhie dengan mengerahkan seluruh tenanganya berusaha memukul seluruh bagian tubuh YooChun yang bisa dijangkaunya.

“Kalau.. kau..berani menghilang lagi. Aku sendiri yang akan membunuhmu.” Geram Rhie.

“Kau tidak tahu betapa aku berharap kau melakukannya.”

Gerakan Rhie terhenti. Gadis itu mencari sepasang mata YooChun. Menatapnya lekat.. Kenapa harus hal itu yang ia dengar saat ini?

“Jangan cerita padaku kalau kau berusaha menyusul unnie selama beberapa hari ini.”

“Aku memang sempat memikirkannya.”

“Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang di sekitarmu? Anggap saja kau tidak menghitung diriku. Aku sudah tahu konsekuensinya dari awal. Tapi bagaimana dengan ahjumma? Dengan dongshaengmu. Apa kau harus seegois itu?”

YooChun menarik sebelah tangan Rhie perlahan… Ia menggenggam jemari gadis itu. Tidak ada kalimat apapun yang bisa ia katakan bahkan untuk membela dirinya sendiri. Karena semua itu memang benar..

Semua hal ini terjadi karena dirinya yang tidak peka..

“Apapun itu kau ada di sini sekarang oppa. Aku ada di sini… Kalau kau keberatan aku akan pergi asal kau berjanji untuk hidup dengan normal.”

“Kau tidak perlu mengorbankan segalanya untukku. Bukankah kau sendiri juga harus memulai hidupmu? Hidup kita harus tetap kembali ke keadaan semula walaupun MinYoung sudah meninggal kan.”

“Ne… Kembali ke kehidupan kita semula.” Jawab Rhie yakin. Kalau semua hal bisa kembali seperti semula lagi. Ia tidak akan berharap apapun lagi. “Ah nee.. Kau datang besok kan ke acara pernikahan JunSu oppa?”

“Aku tidak mendapat undangan. Mungkin ia masih marah karena tingkah lakuku.”

“Tapi kau diharapkan ada di sana. Bagaimanapun JunSu oppa kan teman baikmu. Pokoknya sudah ditetapkan kau harus datang.”

“Apapun yang kukatakan aku tidak bisa menolakmu kan? Yang dapat kulakukan tampaknya hanya menghilang diam-diam.”
Rhie mengerutkan keningnya. “Kau berencana menghilang. Yah! Ini kan pernikahan teman baikmu. Kalau begitu malam ini kau harus menginap di sini!”

“Rhie-ah. Aku pria dan kau wanita okay.”

“Aku tahu.. Tentu saja.Lalu? Kau terlalu sopan untuk berbuat mesum. Lagipula seperti kita tidak pernah menginap bersama saja. Dulu waktu ada MinYoung unnie kan kita sering melakukannya.”

YooChun tersenyum kecil. “Baiklah.. Aku akan menurutimu selama 24 jam ini. Jadi sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Bagus… Kita jelas harus mencari jas untukmu.”Jawab Rhie ceria.

***

“Apa kau tidak lelah Rhie?” Tanya YooChun sambil mencoba membaca laporan yang sedang Rhie kerjakan. Jam di dinding Rhie sudah menunjukkan pukul 11 lebih dan mereka sudah menghabiskan seharian untuk mencari jas, berjalan-jalan dan banyak hal lainnya.

Jujur saja, ia sendiri merasa lelah dan yakin bisa tertidur kapan saja. Bagaimana mungkin gadis di sampingnya itu masih bisa mengerjakan laporan dengan serius padahal besok mereka harus bangun pagi untuk persiapan pemberkatan nikah JunSu dan MinHee di gereja.

“JunSu oppa dan MinHee menikah kan bukan berarti perusahaan tidak beroperasi seperti biasa. Aku sebagai karyawan mereka tentu saja harus bekerja seperti biasa.”

“Tapi kau jelas tidak perlu melakukannya sekarang. Bagaimanapun besok kau akan repot seharian?”

“Aku tidak mau tertidur.”

“Ini bukan masalah mau atau tidak, tapi kau benar-benar harus tidur.”

“Aku takut kau menghilang saat aku tertidur.”

“Aku tidak akan melakukannya jadi tidurlah Rhie. Aku juga tidak bisa tidur kalau kau tidak.”

“Rhie melangkah ke kamar tidurnya dan keluar mengambil 2 buah selimut yang cukup tebal. Ia memberikan salah satunya ke YooChun.

“Oppa, apa dudukmu sudah nyaman?”

“Maksudmu?”

“Kau bisa tidur dalam keadaan duduk kan?”

“Kalau maksudmu aku harus tidur di sofa. Tentu saja aku bisa kalau hanya harus tidur di sofa.”

“Bagus… “ Setelah berkata demikian Rhie menaruh kepalanya di atas paha YooChun dan mencoba bergelung dengan posisi yang nyaman. “Dengan begini kau tidak bisa pergi kemanapun. Kau harus memindahkanku kalau mau pergi.”

YooChun tertawa mendengar alasan tindakan Rhie. “Kau punya tempat tidur, tapi memilih tidur di sini. Aku berjanji tidak akan pergi malam ini,okay. Masa kau tidak percaya padaku.”

“Ne.. Aku tidak percaya padamu.”

“Baiklah… Kalau begitu sekarang cobalah tidur.”Bujuk YooChun lembut sambil memainkan rambut Rhie dengan sebelah tangannya.

“Oppa, boleh aku menanyakan 1 hal?”

“Kau juga akan menanyakannya meskipun aku mengatakan tidak.”

“Apa aku dapat mengartikan ini sebagai kau mencintaiku? Atau seperti biasa aku hanya berpikir berlebihan?”

YooChun menggenggam sebelah tangan Rhie dengan tangannya yang lain. “Kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Aku tidak mau dikatakan merebutmu dari MinYoung unnie.”Jawab Rhie kecil,”dan aku sendiri lelah berasumsi.”

“Tidurlah Rhie…”Ujar YooChun sambil terus membelai rambut Rhie.

“Aku belum mendapatkan jawabannya.”

“Aku akan menjawabnya besok. Sekarang tidurlah”

“Baiklah… Bersiap-siaplah merasakan keram di kakimu.”Canda Rhie walaupun ia sendiri menutup matanya. Mungkin pertanyaannya terlalu cepat… Mungkin nanti akan ada saatnya sendiri pria itu mengatakannya.

***

“Kau benar-benar tampak bahagia unnie.” Ujar Rhie.

“Tentu saja aku harus bahagia… Ini hari pernikahanku. Kau juga akan merasakannya nanti.”

“Kalau aku menikah.”Jawab Rhie asal.”Bagaimana dengan bulan madumu unnie?”

“Akhirnya aku bisa memaksa JunSu meninggalkan pekerjaannya! Memang diundur seminggu, tapi aku akan ke Maldiva… Jadi tentusaja semua itu sesuai.”

Rhie memeluk unnienya itu. Jelas ia sangat beruntung dengan hidupnya. JunSu sangat mencintainya sampai selalu menuruti apa yang MinHee inginkan. Dan Maldiva.. Astaga, entah apa yang dikerjakan oleh pria itu sampai bisa meninggalkan kantor selama seminggu minggu depan.

“Kau makan dulu sana Rhie… Seharian ini aku belum melihatmu menyentuh makanan apapun.”

“Kalau sampai aku bertambah gendut jelas semua itu akan menjadi salahmu.”

Gadis itu segera keluar dari ruang pengantin MinHee sebelum unnienya itu mengomel atas jawabannya. Ia segera mengedarkan pandangannya untuk mencari YooChun.

“Yah oppa.. Kau sudah makan kan?”Tanya Rhie langsung sambil menghampiri YooChun. Pria itu sedang berdiri di salah satu pojok ruangan. “Kenapa kau tidak bergabung dengan JaeJoong oppa?”

“Nanti saja.” Jawab YooChun pelan.”Kau sudah selesai?”

“Bisa dibilang aku kabur sebentar.

“Kau terlihat cantik.”

“Eh… Kau sudah mengatakan itu lebih dari 10 x hari ini oppa. Rasanya ada yang salah.”

“Aniya… Tidak ada yang salah. Mungkin aku hanya perlu mengucapkannya lebih sering. Dulu aku tidak pernah berani mengatakannya.”

“MinYoung unnie akan memukulmu kalau kau berani mengatakan ini. Jadi jangan mengatakannya lagi. Aku merasa seperti ia bisa muncul kapan saja kemudian mengomel.”

“Kau jauh lebih kuat daripada yang kubayangkan.”

“Mungkin lebih tepatnya adalah aku sudah kehilangan segalanya oppa. Jadi tidak ada yang perlu kutakuti lagi.”Jawab Rhie.

“Rhie bantu aku sebentar. “Panggil MinHee. “Sudah hampir waktunya pelemparan buket bunga.”

“Yah unnie.. Kau masih mau melemparnya?Bukannya kau berjanji mau memberikannya kepadaku?” Canda Rhie.

“Aku akan melemparkannya ke arahmu.”

“Kalau begitu sia-sia saja.. Aku tidak akan mendapatkannya. Ya sudahlah. Lagipula rangkaian bungamu itu mawar. Aku juga tidak bisa menyimpannya.”

YooChun tersenyum mendengar perkataan Rhie. Walaupun gadis itu menyembunyikannya, ia tahu kalau Rhie menginginkan bunga itu. Walaupun ia tidak pernah mengerti kenapa para wanita berebut benda tersebut.

“Kalau begitu biarkan aku yang ikut menangkap bunga.”

“Yah tidak ada yang melarang sih.” Ujar MinHee geli.

Rhie mengangkat kedua tangannya tanda ia tidak bisa memberikan pendapat apapun. Kalau YooChun memang mau berdiri di antara para gadis yang berebut menangkap bunga apa yang bisa ia lakukan?

Gadis itu sendiri berjalan di belakang MinHee dan membantu unnienya itu berdiri berdampingan dengan JunSu oppa yang sudah menunggunya.

“Kau kan tidak perlu merepotkannya untuk hal ini.”Ujar JunSu. MinHee hanya menjulurkan lidahnya.

“Lihat saja kalau sampai aku terlambat menikah aku akan mengganggu kalian berdua.”Ancam Rhie.

Kali ini JunSu tertawa mendengar perkataan Rhie. Gadis itu sendiri berjalan mundur sambil MinHee menghitung mundur dari 3. Ia mendengar banyak suara terkesiap dan tersenyum melihat siapa yang menangkap buket yang dilemparkan MinHee.

Dengan bangga YooChun mengibas-ngibaskan hasil tangkapannya. Pria itu melangkah mantap ke arah Rhie yang berada tepat di belakang MinHee. YooChun menaruh buket bunga mawar di tangannya ke tangan gadis itu.

“Berbahagialah Rhie… Aku mau melihatmu bahagia.”Ujar YooChun. Kemudian ia menunduk dan mencium bibir Rhie lembut.

***

Rhie menanggalkan perhiasan yang ada di seluruh tubuhnya. Akhirnya acara pernikahan MinHee selesai juga. Rasanya kalau bisa ia juga mau melepas heelsnya dan berjalan tanpa mengenakan alas kaki.

Ia menekan barisan nomor di handphonenya untuk menghubungi YooChun. Rasanya sudah 15 menit lebih pria itu ijin untuk pergi ke parkiran mengambil mobil. Harusnya kan cepat karena semua tamu sudah pulang, parkiran kan kosong.

Tidak diangkat…. Panggilan keduanya malah masuk ke voice mail. Apa handphone pria itu mati?

“Apa kau yang bernama Rhie ssi?”Tanya seorang pria yang Rhie kenali sebagai resepsionis hotel dari pakaiannya.

Rhie mengangguk ragu. “Ne, ada apa?”

“Tadi ada pria yang memberikan kertas ini untuk diberikan kepada Rhie ssi.”

Gadis itu mengambil kertas yang disodorkan kepadanya.

Rhie.. Jangan mencariku lagi. Kau harus memulai hidupmu..
Aku sudah terlalu lama menjadi sebuah batu dalam jalanmu.
Jawabanku atas pertanyaanmu semalam.
Ya aku mencintaimu Rhie. Dulu.. Sekarang dan mungkin selamanya, tapi aku haru mendapat hukuman atas kesalahanku karena menyakitimu dan juga MinYoung.
Membuat kalian lebih kesepian entah saat sedang bersamaku atau pada saat aku tiada.
Jadi kupikir ini yang terbaik.
Berbahagialah Rhie… Untuk selamanya. Hiduplah dengan dirimu sendiri menjadi pusatnya.
Cukup ingat kalau aku mencintaimu di saat kau merasa lelah. Ada satu orang yang akan selalu mencintaimu walaupun dengan cara yang salah.

YooChun

“Kalau kau mencintaiku kenapa kau harus selalu melakukan ini? Kau meninggalkanku lagi.”

Rhie tidak dapat menahan air matanya.

Ia duduk tanpa memikirkan apapun dan memeluk kedua lututnya.

Ia tidak mempedulikan MinHee yang panik mencoba menenangkannya. Ia bahkan tidak sempat berpikir kalau di saat seperti ini seharusnya unnienya itu sedang berbahagia dengan pernikahannya bukan memeluknya seperti ini.

Ia mau mengeluarkan segalanya. Semua air mata yang memang tidak seharusnya ia simpan semenjak dahulu..

Jadi ini akhir dari segalanya?

Kalau seperti itu kenapa YooChun masih menyempatkan diri untuk membuat kenangan?

Kenapa pria itu masih tega menyakitinya?

***

2 tahun kemudian….

Rhie mengemasi semua barangnya. Kalau ia tidak bergegas sekarang ia jelas akan tertinggal bus dan mungkin terpaksa kembali ke kantornya sendiri untuk menginap. Tokyo bukan kota yang ramah jadi jelas kalau besok rekan kerjanya melihatnya dengan pakaian yang sama entah apa yang akan mereka katakan.

Tokyo… Jepang….

2 tahun yang lalu ia memutuskan untuk kembali ke kota ini untuk meninggalkan semua kenangannya di Seoul. Ia sudah lelah menangis sendirian. Sudah saatnya ia memulai segala sesuatunya untuk dirinya sendiri.

Walaupun rasanya sayang meninggalkan teman-teman yang sudah dianggapnya lebih dekat daripada keluarganya sendiri.

Meninggalkan pekerjaannya yang sudah berada di posisi baik. Meninggalkan semuanya…

Tapi semua itu harusnya membuatnya merasa lebih baik. Di kota ini.. Sekali lagi ia memulai kehidupannya dari nol. Berada di tempat yang asing untuk memulihkan dirinya sendiri.

Kalau dipikir-pikir setelah perceraian kedua orangtuanya saja ia merasa sulit kembali ke Korea apalagi sekarang. Ia tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. Mungkin rasanya seperti ini kalau hidupnya tidak pernah berpusat pada dirinya sendiri.

Apalagi kalau mengingat kejadian di pernikahan MinHee itu. Walaupun ia sudah menegaskan dirinya sendiri untuk melupakan semuanya, tapi tetap saja kenangan itu akan terus terulang. Yang bisa ia lakukan adalah menerimanya sebagai masa lalunya.

Dan kenyataannya hal itu lebih mudah… Sekarang ia hanya perlu belajar untuk tidak menyukai orang semudah itu.

Setelah puas menangis, ia sama sekali tidak ingat bagaimana caranya ia pulang ke rumah malam itu. Entah JunSu oppa yang mengantarkannya atas permintaan MinHee unnie atau malah JaeJoong oppa yang menawarkan diri untuk menyelamatkan malam pernikahan unnienya itu.

Satu hal yang ia ketahui, malam itu jelas ia tidak mungkin bisa mencapai apartemennya sendirian. Karena hingga esok harinya ia bahkan tidak turun dari tempat tidurnya. Rhie baru kembali menghadapi kenyataan pada hari berikutnya.

Ia mencoba menghubungi semua kontak YooChun dan tidak ada satupun yang memberikan jawaban. Pria itu tidak ada di rumahnya, tidak ada di kantornya. Bahkan tidak ada di Virginia tempat omma pria itu tinggal. Menghilang tanpa jejak….

Dan saat itulah Rhie memutuskan untuk kembali ke Jepang. Kali ini MinHee tidak bisa menghentikannya karena memang itu yang terbaik atau ia akan terus mencari di mana keberadaan pria itu.

Langkah Rhie terhenti saat menyadari ada seseorang yang duduk di depan pintu apartemennya. Ia meneliti sejenak dari jauh. Sepertinya bukan figur yang sering ia temui di sini. Dan ia tidak bisa mengenali wajahnya karena pria itu menelungkupkan wajahnya.

Pikiran pertama Rhie mengira mungkin saja itu orang aneh atau stalker, tapi sepertinya tidak mungkin. Pengamanan di bawah sangat ketat. Ia memilih tinggal di apartemen ini karena alasan tersebut. Selama ini belum pernah ada kasus apapun yang terjadi di apartemen ini.

Lalu siapa? Apa sampai sepenting itu urusannya sampai menunggunya pulang dan tertidur di depan pintunya.

Perlahan, Rhie mendekati sosok itu. Ia berjongkok agar dapat sejajar dengan pria di depannya itu. Dengan sebelah tangannya ia mengguncang pelan pundak pria itu.

“Rhie.”

Rhie tersentak saat mendengar suara yang memanggilnya. Ia tahu suara itu… Benar saja, saat orang di depannya itu menegakkan diri, wajah yang terlihat adalah wajah YooChun oppa yang langsung menatapnya kemudian memeluknya erat.

Rhie tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Ia tidak bisa melepaskan dirinya baik secara harafiah maupun menemukan keinginannya sendiri. Rasanya di dalam pelukan YooChun memang merupakan tempatnya.

“Oppa..”

YooChun merenggangkan pelukannya dan kembali menundukkan kepalanya untuk memandang wajah Rhie lebih seksama. Sebelah tangannya terangkat untuk membelai lembut garis rahang gadis itu. Tanpa aba-aba,ia menurunkan wajahnya lebih dekat… Mencari…

Rhie merasakan bibir YooChun sudah berada di bibirnya sendiri. Tubuhnya mengejang kecil. 2 tahun yang lalu ia merasakan hal yang sama. Ia masih mengingat rasanya sama persis. Entah dulu sekali berapa kali ia membayangkan hal ini akan terjadi.

Tiba-tiba Rhie tersentak dan segera memalingkan wajahnya. YooChun menatapnya dengan pandangan bingung.

“Kalau kau akan meninggalkanku lagi. Ini hanya akan membuatku semakin hancur, oppa. Sudah tidak ada bagian dari diriku yang bisa diselamatkan.”

“Apa kau tidak mau mengajakku untuk masuk? Aku tidak memesan hotel apapun di Tokyo.”

“Aku bisa mereversasi hotel untukmu.”

“Berapa passwordnya? Aku sudah mencoba tanggal ulangtahunmu, tapi tidak bisa.”

“Aku tidak akan membiarkanmu tidur di apartemenku. Kau yang memutuskan untuk meninggalkanku 2 tahun yang lalu. Aku tidak bisa merasakan hal yang sama 2x.”

Tiba-tiba Rhie mendengar suara pengaman apartemennya terbuka. YooChun mengangkat jarinya yang sedari tadi mencoba.

“Ulangtahunku dan kau mengatakan kalau kau sudah melupakanku. Kalau begitu aku mengundang diriku sendiri untuk masuk.”

Rhie menghela nafasnya. Rasanya seperti menghadapi tingkah laku anak remaja. YooChun pada saat remaja. Ia hampir lupa bagaimana pria itu dulunya.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Sama seperti yang kaulihat.”

“Kenapa kau baru menemuiku sekarang? Darimana kau mendapatkan alamat baruku di sini?”

“Aku mendapatkannya dari MinHee.”

“Aku tidak akan mengejar-ngejarmu lagi,oppa.”

“Memang tidak… Karena akulah yang akan melakukannya.”

Rhie bangkit berdiri dari kursinya, merapikan seluruh barang bawaannya dan melangkah keluar dari ruang tamunya sendiri dengan cepat. YooChun menarik sebelah tangannya dari belakang.

“Lepaskan.”Desis Rhie.

“Aku sudah melakukannya 2x Rhie. Pertama karena aku tidak memiliki keberanian untuk bersamamu dan kedua karena aku terlalu berani menganggap kau lebih baik hidup tanpaku. Aku tidak bisa melakukannya untuk yang ketiga.”

“Tapi kau sudah terlanjur menghancurkanku oppa. Apapun alasannya kau sudah membuat kerusakan terlalu besar. Aku tidak akan pernah menjadi normal lagi kalau kau melakukan hal yang sama lagi. Aku sudah belajar untuk melupakanmu. Aku sudah belajar mengerti kalau yang kau sukai adalah MinYoung unnie.”

“Kau belum melakukannya. Kalau kau sudah melakukannya, aku sudah melihatmu bersama pria lain sekarang. 2 tahun ternyata bukan waktu yang cukup untuk kita saling melupakan.”

“Kau kurang memberikanku waktu.”

“Lebih dari ini, aku yang akan kembali gila Rhie…”

“Kau tidur di sofa dan aku akan tidur di tempat tidurku. Tunggu di sana dan aku akan mengambilkanmu selimut.”

***

“Kenapa unnie memberikan alamatku?”

“Akuilah kalau kau mau menemuinya Rhie.”

“Dan kau yang menyuruhku memulai hidup baru dengan melupakannya.”

“Tenang saja, untuk itu aku sudah menendangnya sebagai balas dendam.”

“Unnie..”

“Kalau kau sudah melupakannya, kau akan memulai hubungan yang baru. Dan ini sudah 2 tahun berlalu. Anakku MinJu sudah berumur 1 tahun dan kau tidak juga menemuinya karena kau belum siap kembali ke Korea.”

“Kau bisa membawa MinJu ke sini.”

“Bukan itu pointnya. Intinya kalau kau tidak bisa melupakannya, itu artinya kau memang harus bersamanya.”

“Bukan kau yang bisa memutuskan itu unnie.”

“Kalau kau tidak bisa memutuskannya maka kau memerlukan orang lain yang selama ini melihat segalanya. Sudah ya aku matikan… Gara-gara teleponmu MinJu jadi bangun.”

“Apa yang kau lakukan sampai membuat MinHee unnie menurut padamu?”Omel Rhie kepada pria yang sedang duduk santai di atas sofa panjangnya.

“Apa kau tidak akan duduk dan menemaniku?”

“Kenapa aku harus melakukannya?”

Yoochun tidak menjawab dan menarik Rhie untuk duduk kemudian dengan sekali gerakan ia sudah menaruh kepalanya di pangkuan Rhie. “Aku akan tidur seperti ini. Karena aku tidak yakin kalau aku akan melihatmu besok pagi kalau kau tidak selalu bersamaku.”

“Kita berbeda,oppa. Aku tidak akan meninggalkan orang lain tanpa pamit sepertimu. Lagipula ini apartemenku. Kenapa aku harus meninggalkan apartemenku sendiri?”

“Apapun itu aku tidak akan melepaskanmu Rhie.”

“Aku sudah menjalani masa lalu tanpamu Rhie… Aku sudah mencobanya 2 kali. Karena keadaan yang memutuskannya demikian dan karena pilihanku sendiri. Aku tidak mau mengalaminya lagi. ”

“Rasanya agak aneh karena kau bahkan tidak menanyakan kemana aku pergi selama 2 tahun ini kan? Aku bersembunyi Rhie.. Aku mencoba hidup sepertimu, aku mencoba meninggalkan semuanya dan memulai kehidupan baru seperti yang kusarankan kepadamu dan aku tidak bisa melakukannya. Karena hari terakhir kita bersama ternyata merupakan hariku yang paling jujur dan bahagia.”

“Aku menyusun masa depanku Rhie dan aku akan membuatnya menjadi sebuah hal yang pasti. Apa kau mau bergabung di dalamnya?”

“Dan bagaimana kalau kau meninggalkanku lagi? Apa aku bisa kembali hidup normal?”Tanya Rhie lirih. “Aku tidak bisa membuang kesempatan sekarang… Pada akhirnya aku sedang mencoba hidup untuk diriku sendiri.”

“Berapa lama lagi kita akan saling mengingkari kalau kita saling membutuhkan?”

YooChun mengangkat tubuhnya dan menatap tepat di mata Rhie. Air mata sudah menetes dari sudut mata gadis itu. YooChun mengangkat jemarinya untuk menghapusnya. Ia menangkup wajah Rhie ke dalam kedua tangannya dan dengan perlahan mengecup bibir Rhie.

“Aku mencintaimu Rhie. Dari awal untuk selamanya.”

***

YooChun membuka matanya perlahan.Cahaya matahari menembus kaca-kaca apartemen Rhie yang tidak seluruhnya ditutupi oleh gorden. Ia tersenyum lembut saat menyadari Rhie masih ada di pelukannya, tertidur dengan senyuman serupa.

Pria itu menundukkan kepalanya dan mengecup lembut bibir Rhie.

Ini merupakan awal dari cerita mereka…

Dan sampai kapanpun, ia tidak akan membiarkan cerita ini terputus lagi…

Selamanya.

5 thoughts on “[FF] Keep The Story Moving Chapter 4

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s