Noona, Saranghae

-Noona, Saranghae-

Author by Icha / Lee Hyeo Rin

Genre Romantic

Rating G

Lee Donghae [Super Junior]

Yesung [Super Junior]

Lee Hyeo Rin [OC]

Lizzy [After School]

sadarkah kau noona? Selama ini aku mencintaimu?”

~          ~          ~

Annyeonghaseyo…masih pada ingat saya kah? #plak [siapa anda] saya adalah istri sah dari park jungsoo #dibakar Angels

author minta maap karna baru bisa posting sekarang lagi..sehubungan dengan..dengan..dengan apa sodara sodara????? LAPTOP RUSAK!!!! dan itu cukup membuat saya frustasi tingkat super junior!!! untungnya saya masih nyimpan FF lama saya ini di email TT oke deh, seperti biasa, saya mendisclaim FF ini milik saya seorang, tapi seluruh castnya adalah milik Tuhan YME.

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendirihttp://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

Kayaknya judul ma isi nggak nyambung deh, tapi nggak papa deh XD happy reading!! ^^

~          ~          ~

 

Hyeo Rin merapikan buku – bukunya yang berserakan di atas mejanya, hari telah menunjukkan pukul 17.00 KST, ruang asisten dosen telah sepi, teman – teman sesama asisten dosen yang lainnya telah pamit pulang sekitar setengah jam yang lalu. Namun keadaan berbalik dengan ruang dosen yang terdapat di sebrang ruang asisten dosen yang telah sepi ini. Ruangan dosen itu masih ramai dengan dosen – dosen muda yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk weekend hari ini.

Weekend? Ucap Hyeo dalam hati. Ya, yeoja yang sekarang tengah mengenyam tingkat akhir di Seoul University itu baru menyadari kalau hari ini adalah hari sabtu malam minggu, malam yang seharusnya di lalui oleh kebanyakan orang bersama pasangannya masing – masing. Hyeo terduduk dengan lemas di kursinya menyandarkan badannya pada sandaran kursi yang di dudukinya. Ia mengambil hpnya yang terletak di meja kerjanya itu, memencet angka nomer 1, angka yang merupakan panggilan cepat yang langsung tersambung oleh nomer hp seseorang yang selalu di kasihinya dalam kurun waktu 1 tahun ini.

Selama beberapa menit ia menunggu panggilan itu terjawab, namun sia – sia. Ia mencoba lagi hingga akhirnya pada telpon ke empat,

“yeboseyo?” suara berat nan merdu milik seorang namja yang sedari tadi di tunggu – tunggu oleh Hyeo pun akhirnya terdengar.

“YA!!!!OPPA!!!” hentak Hyeo setengah kesal. “kenapa telfonnya baru di angkat?”

“ah, Hyeo-ah.. mianhae oppa lagi banyak kerjaan tadi, hp juga di silent supaya nggak ganggu kerjaanku. Waeyo chagi?” jawabnya dengan suara yang lembut, Hyeo pun mengurungkan niatnya untuk memarahi kekasihnya ini.

Yeoja itu mendengus kesal, “ini kan weekend oppa, apa oppa nggak bisa tinggalin kerjaan oppa sebentar aja?” protes Hyeo Rin. Ia menggembungkan pipinya sesuai kebiasaannya kalau dia sedang kesal, walaupun ia tau kekasihnya nggak akan mungkin bisa melihat aksi protesnya itu.

Terdengar namja itu menghela nafas. “kamu udah mahasiswi tingkat akhir Hyeo Rin-ah, sebentar lagi kamu lulus kuliah, jangan bertingkah kayak anak kecil gini lah.” Ucap namja itu dengan sedikit penekanan.

Hyeo tertegun, terdiam mendengar ucapan dari namjachingu nya barusan. Sebelumnya bahkan ia tidak pernah berbicara dengan nada yang tinggi sekalipun, namun sekarang Hyeo merasa kalau namjachingu nya menyepelekan dirinya, menganggap dirinya masih seperti anak kecil? Bibir Hyeo bergetar, ia berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh Yesung, namjachingu nya itu.

“a-arraseo..” katanya sedikit terbata – bata, ia menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya.

“aku tau pasti kamu mau ajak aku jalan – jalan di malam minggu ini kan Hyeo-ah? Astaga, fikiranmu masih sama seperti anak SMA Hyeo-ah.. di saat seperti ini sudah seharusnya kita kerja keras. Aku juga kayak gini untuk siapa? Untuk kamu juga Hyeo-ah.”

“n-ne.. a-arraseo..”

“sekarang kamu dimana? Masih di kampus?”

“iya oppa..”

“cepat pulang, hari udah hampir malam. Jangan lupa makan, saranghae Hyeo-ah..”

‘KLIK’ ia langsung memutuskan hubungan telfon tanpa sempat Hyeo membalas ungkapan cinta dari Yesung.

= Noona, Saranghae =

Hyeo Rin merapihkan jaketnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang berbagai macam buku kuliahnya, langit sudah mulai gelap ketika Hyeo melangkahkan kakinya menuju luar kampus. Ia mengecek jam tangannya, ternyata sudah pukul 18.30 KST. Ia memandang langit yang kelam, dulu, beberapa bulan sebelum Yesung oppa sibuk seperti sekarang, ia pasti selalu menjemputku saat aku pulang malam seperti ini.

Yeoja itu memutuskan untuk jalan kaki menuju ke apartement nya yang letaknya lumayan jauh dari kampus. Tapi ia memang sengaja melakukannya untuk menikmati malam minggu yang hampa ini. Setidaknya ia bisa menghibur diri sendiri dengan melihat – lihat keadaan sekitar yang selalu ramai setiap malam minggunya.

Beberapa langkah sebelum sampai di gerbang depan kampus ia tercengang melihat gerbang kampus yang sudah di gembok. Hyeo menepuk pelan dahinya sendiri. “astaga, paboya!!! Gerbang kan tutup jam 6 sore. Aish!!!” gerutu Hyeo sambil berbalik arah menuju gerbang belakang kampus. Walaupun hari sudah malam, tapi penerangan di sekitar Seoul University memang maha dahsyat, bahkan taman belakang kampus pun terlihat terang walau hari sudah malam seperti ini.

Tapi biar bagaimanapun terangnya, kalau keadaan sepi seperti ini kan takut juga. Hyeo mempercepat langkahnya menuju gerbang kampus.

“uhukk..uhukk..hoshh..hossshh…”

Hyeo menghentikan langkahnya, menyipitkan matanya dan berusaha menangkap lebih jelas suara yang terdengar olehnya barusan. Ia mendekapkan bukunya di dadanya dengan erat, tidak lupa ia juga mendekap tasnya, supaya ia bisa langsung lari kalau ada hal – hal aneh yang tidak di inginkan.

“nngghh… uhukk..ngghh..hossshh..”

Suara nafas tertahan itu terdengar lagi. ‘masa iya ada mahasiswa lagi yadongan?’ pikir Hyeo sambil melangkah sepelan mungkin, ia berusaha mencari sumber suara tersebut. Di edarkan pandangannya kemana – mana dan akhirnya ia pun melihat tubuh seseorang yang tergeletak tak berdaya di balik semak – semak. Dari hidung dan dahinya mengalir darah yang cukup banyak. Sepertinya namja itu habis di pukuli atau semacamnyalah.

Hyeo panik, ia meletakkan bukunya di rumput kemudian jongkok di samping namja itu. Ia memperjelas pandangannya dan barulah ia menyadari kalau namja ini adalah Lee Donghae, adik kelasnya yang masih satu jurusan di kampus sekaligus mahasiswa  bimbingannya.

“omo!! Donghae-ah!!” jerit Hyeo seraya menepuk – nepuk pelan pipi kanan Donghae.

“nghhh..” erang Donghae, ia mencengkram perutnya. Sepertinya perutnya terlihat sakit sekali. Mungkin ia tadi di tendang di bagian perutnya itu.

“ya! Donghae-ah, kamu bisa dengar aku? Ini aku Hyeo Rin.” Kata Hyeo Rin lalu mengangkat kepala Donghae dan meletakkannya perlahan di pangkuannya. “Donghae-ah, jawab aku.”

“su…sunbae..nim..eerrgghh..”

= Noona, Saranghae =

Entah apa yang ada di pikiran Hyeo Rin saat itu hingga ia membawa Donghae pulang ke apartementanya dengan taxi. Di bantu dengan seorang petugas keamanan apartement, ia merebahkan tubuh donghae di kasur yang terdapat di  kamar kosong. Setelah Hyeo mengucapkan terima kasih, petugas keamanan itu pun pergi kembali ke tempatnya.

Hyeo melepaskan sepatu yang di kenakan Donghae, membenarkan posisi tangannya yang terjuntai ke bawah, dan menyelimuti Donghae sampai ke dadanya. Ia bergegas ke dapur dan membuat kompresan serta mengambil kotak P3K. Setengah kerepotan ia membawa baskom kecil yang berisi air dingin dan juga kotak P3K berukuran sedang, ia meletakkan peralatan itu di meja kecil di samping tempat tidur sementara itu ia sendiri duduk di pinggir kasur dan mulai mengobati luka – luka di wajah Donghae.

Sesekali namja itu meringis dengan mata yang terpejam. Mungkin karna terlalu perih hingga rasa sakit itu terbawa ke alam bawah sadarnya. Tapi nafasnya yang tadi naik turun cepat kini sudah mulai teratur.

Ia menatap wajah Donghae lekat dan dalam, Hyeo berfikir kalau Donghae bukanlah mahasiswa yang tergolong nakal, atau berandal. Ia malah lebih terkenal dengan si cupu. Malah Donghae ini anak yang pintar dan selalu mendapat beasiswa tiap tahunnya. Tapi kenapa ia jadi babak belur gini?

Hyeo menggeleng frustasi, ‘mungkin aku harus bertanya secara langsung, aku ini kan asdos nya. Aku wajib tau kenapa dia babak belur gini.’ Pikir Hyeo Rin, lalu ia keluar kamar.

Di lorong menuju kamarnya sendiri tiba – tiba perutnya berbunyi, memprotes si empunya untuk memberikan masukan makanan ke dalam perutnya. Hyeo baru ingat kalau terakhir ia makan jam 1siang, dan sekarang sudah hampir jam 9 malam. Dengan terpaksa ia menyeret kakinya yang terasa berat itu menuju dapur dan mulai membuat sesuatu, sepiring jajangmyeon sepertinya cukup untuk mengganjal perutnya ini, toh acara selanjutnya adalah nonton DVD sambil ngemil, jadi ia memilih untuk tidak makan banyak.

Tapi kemudian Hyeo teringat kalau ia memiliki seorang pasien yang tengah terbaring di kamar tamunya, akhirnya ia pun membuat bubur untuk Donghae. Setelah semuanya selesai, Hyeo membawa makan malamnya beserta cemilan untuk teman ia nonton nanti ke ruang santainya. Hyeo mencoba duduk dengan santai tanpa beban, walaupun akhirnya Hyeo mengakui dalam hati kalau ia sangat rindu dengan Yesung.

Berkali – kali Hyeo menatap layar hp nya dengan gusar yang membuatnya jadi tidak focus nonton. Biasanya jam segini Yesung oppa udah pulang dan udah sampai di apartement. Biasanya dia langsung menelponku atau bahkan datang ke sini.

‘oppa..sebegitu pentingnyakah pekerjaanmu sampai nggak ada waktu sedikit aja untukku..’ Hyeo mengadahkan kepalanya ke atas dan menatap langit – langit apartement yang sengaja ia design bergambar  langit di siang hari. tanpa terasa airmata mulai mengalir lagi di pipinya.

Namun sebuah tangan hangat menyeka air mata Hyeo yang jatuh itu. Hyeo tersentak dan mendapati Donghae berdiri di belakang sofanya.

“Donghae-ah? Sejak kapan kamu  ada di situ?” tanya Hyeo yang masih sibuk mengatur detak jantungnya.

“kira – kira 5 menit yang lalu sunbae” jawabnya sambil tersenyum. Senyum pertama yang ku dapati dari seorang Lee Donghae. Ternyata kalau dia tidak memakai kacamatanya itu, dia terlihat cukup..tampan. “sunbae, gomawo karna telah merawatku. Aku pasti sangat merepotkanmu.”

“ya! Tunggu!! Donghae-ah, kamu itu mau kemana?”

“aku harus kerja sunbae, aku udah terlambat banget. Bos ku pasti marah.” Katanya sambil mengenakan sepatunya di depan pintu apartement.

“ya!!!” Hyeo buru – buru menghampiri Donghae dan menarik tangannya. “kamu harus istirahat Donghae-ah!” ujar Hyeo yang masih berusaha menarik tangan Donghae.

“gwenchanayo sunbae, aku udah merasa baikan kok. Sekarang aku harus kerja.” Donghae tak mau kalah, ia menarik balik lengannya dengan sekali hentakan hingga membuat badan Hyeo menjadi oleng dan…

“a..” Hyeo tergagap saat tubuhnya yang mungil jatuh menimpa tubuh Donghae yang ternyata besar dan berdada bidang itu. Selama ini Hyeo tidak pernah memperhatikan Donghae dengan cermat sampai ia tidak mengetahui hal tersebut. Wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa inci. Deru nafas hangat Donghae pun menyapu sebagian wajahnya.

“aku..harus berangkat sekarang sunbae.” Kata Donghae seraya mendorong pelan tubuh Hyeo hingga Hyeo terduduk.di lantai. “annyeong” ucapnya lalu menghilang di balik pintu.

= Noona, Saranghae =

Donghae POV

Suara dentuman music terus menyala nonstop dan aku pun makin menaikkan volume alat DJ ku. Ya, di sinilah aku bekerja, di sebuah club malam sebagai DJ. Tidak akan ada yang menyangka kan? Seorang Lee Donghae yang terkenal cupu di kampus adalah seorang DJ di sebuah club malam yang terkenal di seoul.

Aku mengangguk – anggukan kepalaku mengikuti irama music yang ku mainkan, tangan kiriku memegang sebuah hedset yang menyantel di telingaku sementara tangan kananku sibuk memutar piringan hitam. Mataku terpejam meresapi alunan lagu yang ku ciptakan dari hasil kreasiku sendiri.

Tiba – tiba bayangan saat Hyeo Rin sunbae menangis terlintas di benakku, apa yang membuat ia menangis? Ternyata kalau di perhatikan lebih teliti, sunbae itu cantik juga. Biasanya di kampus aku hanya melihatnya dengan rambut terkepang dua, kemeja dan blazer yang menempel dengan indah sesuai lekuk tubuhnya. Memang sih yeoja itu tidak jelek – jelek amat. Tck… apa yang kau pikirkan Lee Donghae. Aku tersenyum kecil sambil menjilat bibir bawahku. Hp yang berada di saku belakang celanaku bergetar, aku segera menyalakan pemutar music otomatis hingga piringan hitam berjalan dengan sendirinya tanpa harus di pandu. Aku turun dari singgasana kebangsaanku menuju lobi bawah club yang tidak terlalu berisik.

“ya?” gumamku setelah aku mengetahui siapa yang menelfon, hyungku.

“Donghae-ah, kamu masih di club?”

“ne,wae?”

“aniyo.. aku hanya ingin bersenang – senang malam ini.”

“cih, malam ini hyung? Malam ini? Tidak kau hitung malam – malam sebelumnya?” aku tersenyum sinis menanggapi ucapan hyungku.

“hah! Kau ini makin lama makin cerewet. Apa urusanmu? Toh aku tidak menggunakan uangmu untuk membayar bill di club.”

“ya! Hyung, kau bilang kau akan melamar yeojachingu mu itu, tapi kenapa kau tidak berubah huh?”

“jangan ikut campur urusanku Lee Donghae!” katanya lalu memutuskan sambungan telfon.

“sssshhh..” aku mendesis kesal, ingin rasanya aku buang jauh hp itu. Aku mengusap wajahku lalu kembali masuk ke dalam. Dan akupun kembali larut dalam alunan music  yang membuatku merasa bebas dari apapun juga. Ku lupakan semua masalahku di kampus dan masalah dengan hyungku saat aku di singgasana kerajaanku ini. Aku Lee Donghae yang berbeda saat aku di meja DJ ku.

Sekitar sejam setelah hyungku menelfon, aku melihatnya sampai dan duduk di meja yang sama setiap kali ia datang ke club ini, seorang waitress mengantarkan minuman pesanannya dan beberapa wanita penghibur pun menghampirinya.

Aku hanya dapat menggeleng – gelengkan kepalaku melihat tingkah hyungku. Kasihan sekali yeojachingunya, ia pasti sama sekali tidak tau tingkah pacarnya yang negative ini. Aku melirik arloji ku dan aku rasa jam kerjaku telah habis, teman penggantiku telah berdiri di sampingku menanti gilirannya bekerja. Aku tersenyum padanya dan menyerahkan hedset ku padanya, aku menepuk bahunya tanda berpamitan padanya. Aku menghampiri hyungku di mejanya.

“aku mau pulang” kataku padanya yang sudah setengah mabuk.

“ya! Aku tidak pulang malam ini.”

 

Hyeo Rin POV

Aku meremas bungkus terakhir keripik kentangku, “yah, udah abis, padahal filmnya masih lama.” Jam 2 pagi? Benar – benar malam minggu yang menyedihkan.

Aku meregangkan ototku yang kaku karna terlalu lama duduk.

‘ting..tong..’ bel pintu kamar apartement ku berbunyi. Siapa yang datang pagi – pagi buta gini?

“Donghae???” aku terkejut setelah aku membuka pintu.

“annyeong noona” sapanya manis, ia tersenyum. “boleh aku tidur di sini? Hyungku nggak pulang ke rumah, aku sendirian.” Katanya.

“ta-tapi…”

“aku nggak macam – macam kok”

“umh.. ma-masuk dulu deh” aku mempersilahkan ia masuk. Ku lihat ia membawa sebuah bungkusan plastic. “kamu bawa apa Hae-ah?”

“oh, ini aku bawa cemilan.” Jawabnya singkat, tanpa basa – basi ia merebahkan dirinya di sofa, matanya terpejam. Sedangkan aku masih terpaku di tempatku tadi.

“errh,,tadi aku masak bubur buat kamu Hae-ah..” kataku lirih yang mungkin tidak akan terdengar olehnya. Namun dugaanku salah, ia membuka sebelah matanya.

“ah, noona..kebetulan aku lapar banget. Tadi di tempat kerja aku nggak sempat makan.” Katanya polos.

Beberapa menit berikutnya pun aku sibuk menyuapinya makan. Dia bilang dia capek banget sampai nggak sanggup buat ngangkat sendok sekalipun. Aku hanya tertawa lalu mengusap – usap rambutnya pelan. Ternyata punya adik cowok menyenangkan juga.

= Noona, Saranghae =

“akhir – akhir ini kamu lagi dekat ya sama junior kita?” tanya Lizzy, teman dekat Hyeo Rin saat mereka lagi istirahat di ruangan asisten dosen.

“junior kita? Yang mana?” Hyeo malah bertanya balik.

“itu.. si cupu Lee Donghae..” Lizzy merapikan poninya.

“oh..iya, kenapa? Udah aku anggap kayak adikku sendiri.”

“adik? Yang bener? Kok aku liatnya beda yaaa…” Lizzy mulai menggoda Hyeo Rin. Yang di goda hanya bisa senyam senyum nggak jelas.

“ya! Mau aku kemanakan Yesung oppa ku?”

“loh, kamu masih sama Yesung oppa? Aku nggak pernah liat kalian jalan berdua lagi deh.” Kata Lizzy sambil membulatkan matanya, ia kaget dengan pernyataan sahabatnya barusan.

“dia lagi sibuk kerja, tapi ntar malam kami mau dinner bareng kok.”

“wuuaahh,, senangnya… asyik banget ya yang udah punya pacar.” Lizzy bersungut – sungut, memaki dirinya yang masih jomblo sampai sekarang.

“kamu sih, terlalu pemilih. Mana ada sih cowok yang perfect di dunia ini? Coba deh terima tuh si Hyukjae, yang nggak pernah bosan ngejar – ngejar kamu itu.” Hyeo balik menggoda sahabatnya itu sambil tertawa riang.

“ya!!ya!! jangan mulai lagi deh Hyeo-ah!!!” kata Lizzy lalu menggelitiki sahabat karibnya, mereka pun larut dalam canda dan tawa kebahagiaan yang selalu hadir di antara mereka.

Hyeo Rin POV

Aku mematut diriku di sebuah cermin besar yang terdapat di kamarku, hari ini sesuai janji yang telah di buat oleh Yesung oppa, kami akan makan malam bersama. Aku girang bukan main karna setelah hampir 3 bulan kami tidak bertemu, akhirnya ia pun menyempatkan sedikit waktunya untuk menghabiskan waktu bersama.

Aku mengenakan dress hitam selutut favorit Yesung oppa dulu, ia selalu memujiku saat aku mengenakan dress ini. Rambut yang biasa ku kepang pun kini aku biarkan terurai. Sedikit polesan make up yang tipis dan beberapa aksesoris, lengkaplah sudah.

Aku keluar dari kamar dan mendapati Donghae sedang siap – siap berangkat kerja.

“noona, kamu mau kemana?” tanya nya penuh selidik. Ia menghentikan aktivitasnya yang tadinya sedang merapikan rambutnya. Dia selalu terlihat tampan tiap kali hendak berangkat kerja, kacamata yang selalu ia pakai di kampus entah di kemanakan, di ganti dengan sebuah hedset besar yang di kalungkan di lehernya.

“ah.. namjachingu ku mengajakku makan malam Hae-ah” jawabku sambil merapikan kerah kemejanya yang ia gunakan sebagai luaran dari t-shirt abu – abunya, aku pun merapihkan poninya yang sedikit amburadul itu.

“aku temani noona sampai dia datang ya?” pintanya sambil menurunkan tanganku dari dahinya.

“nggak usah Hae-ah, lagian kamu juga harus kerja kan?” tolakku halus, sebenarnya aku hanya tidak ingin kalau sampai Yesung oppa tau keberadaan Donghae yang sudah sebulan ini terus ada di apartementku.

“arraseo, tapi aku yang antar noona ya?” pintanya lagi kali ini dengan nada yang memaksa.

“aniyo.. nggak usah Hae-ah, lagian kan kamu naik motor sport mu itu. Gimana bisa aku naik motor itu dengan dress gini?”

Namja itu memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kakiku. “noona bisa duduk nyamping kok. Aku Cuma mau pastiin noona aman sampai di tempat yang di janjikan.”

Aku menyerah, dan mengangguk menuruti keinginannya. Ia tersenyum puas, ia pun memakaikan jaket hitamnya padaku dan juga helm nya.

“noona janjian dimana?”

“di babtol café”

“ya udah, pegangan ya noona.”

Detik berikutnya angin kencang menyapu kakiku yang tidak tertutup itu, aku pun melingkarkan tanganku di pinggang Donghae dan memeluknya erat. Entah kenapa detak jantungku berdegup dengan kencang saat aku menyandarkan kepalaku di punggungnya yang lebar itu. Rasanya hangat dan nyaman.

Donghae POV

Setelah mengantarkan Hyeo Rin noona di babtol café, aku pun melesatkan motorku menuju club. Tapi perasaanku nggak enak sepanjang perjalanan. Rasanya seperti nggak rela harus meninggalkan Hyeo Rin noona sendirian seperti itu. Saat kami tiba di sana, namjachingunya masih belum ada, mungkin ia terlambat, karna noona pernah bercerita kalau namjachingunya itu sangat sibuk.

Aku lewat pintu belakang club, seseorang menarik tanganku.

“hyung? Wae?” tanyaku santai.

“kau nggak pernah pulang.” Katanya dingin.

“apa urusanmu hyung?” aku membalasnya dengan nada  yang melecehkannya. “bukannya kau juga nggak pernah pulang? Untuk apa aku di rumah sendirian?”

“dimana kau selama ini?” ia tak menggubris pernyataanku.

“di rumah seseorang yang selalu merawatku. Kau? Paling kau di rumah pacarmu yang kedua? Ketiga? Atau bahkan ada pacar – pacar yang lainnya hyung?” aku menarik sudut bibirku lalu pergi meninggalkan hyungku.

Aku mencoba berkonsentrasi memainkan piringan hitam yang ada di tanganku ini. Sudah lewat 3jam dari waktu aku mengantar Hyeo Rin noona tadi namun perasaan aneh itu masih belum hilang. Sementara di luar hujan deras turun, perasaanku makin nggak enak. Astaga, sebenarnya ada apa ini?

Hyeo Rin POV

“permisi, apakah sudah siap pesan makanannya?” tanya seorang pelayan yang untuk kesekian kalinya menghampiri diriku dan bertanya mengenai makanan yang akan ku pesan.

“ani, aku pesan milk shake strawberry lagi.”

“tapi ini sudah gelas yang ke 5 agassi, apa perut anda tidak akan sakit?”

“gwenchana, tolong di siapkan saja, aku masih menunggu teman.” Aku berusaha tersenyum di depan pelayan itu walau sebenarnya dalam hati aku ingin sekali menangis. Sudah hampir 3jam aku menunggu kedatangan Yesung oppa namun namja itu tak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.

Sekali lagi aku berusaha menghubungi hp Yesung oppa namun jawabannya selalu sama, nomernya tidak aktif. Pelayan pun mengantarkan pesanan milk shake ku yang ke 6. Aku menghela nafas, sabar Hyeo..mungkin Yesung oppa masih ada kerjaan.

Waktu telah menunjukkan jam setengah 12 malam, pelayan – pelayan di babtol café pun telah sibuk membereskan meja dan kusri kosong, sudah waktunya untuk café tutup.

“mianhamnida agasshi, tapi café sudah harus tutup.” Tegur seorang pelayan padaku.

“ah, ne.. sepertinya temanku tidak datang. Gomawo.”  Aku menuju meja kasir dan membayar semua milkshake yang kuminum. Aku menuju luar dan menerobos derasnya hujan, tidak peduli sekalipun angin menerpa diriku yang hanya mengenakan dress tipis ini. Aku menghapus air mataku yang sudah bercampur dengan tetesan air hujan.

Entah datang darimana, sebuah jaket kulit menutupi kepalaku, aku menoleh ke samping dan..

“Donghae?”

= Noona, Saranghae =

“noona kenapa nggak telfon aku kalau mau pulang?!” omel Donghae sambil mengompres dahi Hyeo yang panas, badannya menggigil dan bibirnya hampir berwarna ungu, Donghae kalut. Ia buru – buru membuat segelas coklat hangat dan membantu Hyeo Rin meminumnya.

“mianhae Hae-ah..aku nggak ma-u ganggu ka-kamu ker..jjaaa..” jawab Hyeo yang sedang mengigil, Donghae menatap dalam – dalam noona nya itu. Ia meletkakkan tangannya yang hangat di kepala Hyeo dan mengusap dahi yeoja mungil itu dengan ibu jarinya.

“tidurlah..” katanya lembut sambil tetap mengusap dahi Hyeo.

Selama beberapa menit, keheningan pun terjadi, yang terdengar hanyalah suara detik jarum jam.

“Donghae-ah, boleh aku bertanya sesuatu?”

“ne?”

“kamu itu sebenarnya kerja apa sih? Terus hyung mu itu apa nggak pernah cariin kamu yang nggak pernah pulang?”

Dongahe tersenyum menanggapi pertanyaan yang di ajukan oleh Hyeo, pertanyaan yang wajar bagi Donghae yang udah hampir 2bulan lebih tinggal bersama Hyeo dan melewati hari – hari yang indah yang sebelumnya tidak pernah Donghae rasakan sama sekali.

“kalau noona mau tau kerjaanku, aku akan ajak noona besok, setelah kondisi noona membaik. Untuk masalah hyungku…” Donghae mengerutkan keningnya, ia berfikir apakah harus menceritakan masalah antara dia dan hyungnya. “jujur aja dia bukan hyung kandungku. Hubungan kami tidak harmonis semenjak orang tua kami meninggal, ia berubah, dari namja baik – baik menjadi sedikit liar. Dia sendiri pun nggak pernah pulang ke rumah noona, ia selalu tidur di rumah pacar – pacarnya yang entah ada berapa itu.”

“jadi maksudmu hyungmu itu punya pacar banyak?”

“ne, aku kasihan dengan pacarnya yang pertama. Ia selalu mengatakan padaku akan menikahi pacarnya yang pertama itu, tapi kelakuannya tidak pernah berubah. Sekarang noona tidur ya.” Donghae membenarkan letak selimut di tubuh Hyeo Rin.

‘kasihan sekali gadis yang menjadi pacar hyungnya Donghae itu, ia pasti tidak tau kelakuan namjachingunya di luar sana. Beruntungnya aku Yesung oppa tidak seperti itu..’ Hyeo memejamkan matanya dan kemudian ia tertidur dengan pulasnya.

Donghae POV

“jadi seperti ini dandananmu kalau di kampus?” sebuah suara terdengar dari belakangku, aku memutar tubuhku dan melihat hyungku berdiri tepat di belakangku, mengenakan stelan jasnya yang high class. Membuat yeoja – yeoja kampus yang lewat terbengong menatap hyungku yang kelewat tampan ini.

“wow, ada urusan apa rupanya si tuan muda sampai harus mencariku ke kampus?” tanyaku, aku menatapnya tajam dari balik kacamataku.

“lepaslah kedokmu itu, untuk apa kau terus bersembunyi di balik kacamata tebalmu itu. Matamu masih normal.”

“bukan urusanmu. Urus saja kelakuanmu hyung.”

Ia mencengkram kerah kemejaku dan menarikku mendekatinya, mendadak nafasku sesak karna cengkramannya yang kuat, aku meringis dan berusaha mengambil nafas. Kejadian ini pun menarik perhatian dari mahasiswa dan mahasiswi yang kebetulan lewat di antara kami.

“aku tau apa yang harus aku lakukan.” Bisiknya di telingaku.

“sampai..kap..pan kau akk..khaan terrruusshh mm..bohongi.. ke-kasihmu itu hyung?” aku mencengkram balik pergelangan tangan hyung ku dan berusaha melepaskan tangannya dari kemejaku, nafasku hampir habis di buatnya.

Ia menyentakkan badanku hingga aku terjatuh. “kau pulang malam ini ke rumah. Rumah perlu di bersihkan.” Ucapnya dingin lalu pergi meninggalkanku.

Aku bangun dari posisi jatuhku, merapihkan kemeja ku dan membersihkan celanaku. Aku mengambil hp dan mengirimkan sebuah pesan singkat pada Hyeo Rin noona yang masih beristirahat di apartementnya. Aku memberitahukan kalau malam ini aku akan pulang ke rumahku, hingga ia tidak perlu menungguku seperti biasanya.

“annyeong Donghae-ah” Lizzy sunbae datang menghampiriku dan menepuk bahuku pelan.

“ah, annyeong sunbae” aku membungkukkan badanku.

“tadi itu siapa?”

“oh itu hyungku, wae sunbae?”

“ani..dia kok agak mirip dengan…ah, sudahlah, hari ini aku yang menggantikan Hyeo Rin untuk mengajar di kelasmu, ayo masuk. Kelas sudah mulai 5menit yang lalu.”

= Noona, Saranghae =

Hyeo Rin POV           

Aku membaca sms yang Donghae kirim padaku, malam ini akan terasa sepi sekali tanpanya. Entah sejak kapan kehadirannya di apartement ku ini mengubah suasana yang tadinya sepi menjadi ceria, aku mulai menyukai kehadirannya di sini. Dan entah sejak kapan aku selalu menunggu kepulangannya dari tempat ia bekerja walau harus menunggunya sampai jam 3 pagi sekalipun.

Tiba – tiba hp ku berbunyi, ada telpon masuk. Ku lihat nama Yesung oppa tertera di layar hp ku. Dengan agak malas aku mengangkat telfon itu.

“ne?” jawabku dengan suara yang sengau.

“mianhae….” Ucapnya lirih.

Aku terdiam, entah apa yang harus ku katakan. “gwenchana oppa.. aku tau kamu sibuk.” Aku sedikit merajuk, tidak, bukan sedikit. Tapi aku memang benar- benar marah padanya.

“jeongmal mianhae chagiya…”

“aku udah maafin kamu kok oppa, jauh dari sebelum kamu minta maaf..”

“kamu ganti password kamar apartement mu chagi?”

“darimana oppa tau?”

“karna aku di depan pintu mu sekarang dan aku nggak bisa masuk chagi..”

Mwo?? Yesung oppa ada di depan pintu? Aku langsung lari menuju pintu depan, aku mengambil nafas sejenak sebelum membuka pintu.

Ia tersenyum parau saat aku berada di depan mukanya, aku berusaha menahan diriku untuk tidak memeluknya, aku harap ia menyadari kesalahannya yang sampai membuatku sakit seperti ini. Namja maha sempurna itu mengeluarkan sebuket bunga mawar merah dari balik punggungnya.

“maafin oppa ne chagiya?”

Ya! Bagus Yesung oppa, baru saja aku akan memaki dirimu karna kesalahan fatalmu, namun kini semua itu lenyap melihat senyummu dan mawar yang kamu sodorkan padaku saat ini. Aku mengambil buket maar itu dari tangannya dan mengangguk.

“gomawo oppa, harusnya oppa nggak perlu repot bawain bunga kayak gini..” kataku.

“sebagai tanda maafku chagi.. ini bukan apa – apa..mianhae kalau akhir – akhir ini aku kurang memperhatikanmu..” ia menunduk.

“gwenchana oppa, aku bisa ngertiin kok.. masuk dulu oppa.” Ajakku, namun ku lihat ia menggeleng.

“aku nggak bisa mampir chagi, maaf.. kerjaanku banyak banget di kantor.lagipula kamu kayaknya lagi sakit kan? Jangan lupa minum obat ya chagi? Saranghae” ia mengecup keningku lembut.

“nado saranghae oppa-ya..” balasku, ia tersenyum lagi kemudian membalikkan badannya dan pergi menuju lift. Aku hanya dapat memandang punggungya dengan tatapan nanar.

Author POV

“bunga dari siapa noona?” tanya Donghae yang saat pulang kuliah ia kembali datang ke apartement Hyeo.

“dari pacarku laahh..” jawab Hyeo sambil nyengir.

“kelihatannya seneng banget noona. Bagus deh, aku juga ikut seneng..” Donghae tersenyum melihat noona nya yang begitu riang, ah.. andai saja Hyeo noona tau..

“oh iya, Hae-ah.. kamu kan janji sama noona mau ajak noona ke tempat kerjaanmu itu.” Hyeo menagih janji yang Donghae berikan padanya. Makin lama yeoja itu makin penasaran dengan kerjaan junior nya itu.

“hm.. arraseo.. kalau gitu malam ini noona siap – siap ya. Pakai baju yang biasa aja, jangan yang sexy.”

“ya!!” Hyeo menjitak kepala Donghae. “sejak kapan aku suka berpakaian sexy?”

Sambil meringis, Donghae mengusap – usap kepalanya “nggak pernah sih noona, tapi ini Cuma peringatan.” Katanya sambil berbaring di sofa. “noona bangunin aku ya kalau udah jam ku mau kerja.”

“aish..kamu emang selalu minta di bangunin kok, aku udah hafal kebiasaanmu.” Balas Hyeo sambil berlalu ke dapur, ia membuatkan makan malam untuk Donghae sebelum berangkat kerja. Mereka memang selalu seperti ini, bahkan mereka selalu bersama – sama membersihkan apartement berdua saat weekend tiba. Sedikit demi sedikit Hyeo dapat melupakan kesedihan yang melandanya saat weekend tiba karna Yesung tidak dapat menemaninya.

Setelah selesai memasak, Hyeo menuju ruang tengah dimana Donghae tertidur. Yeoja itu duduk di samping Donghae, ia menatap wajah Donghae yang sedang tidur dengan lelapnya. Wajah yang terlihat begitu lelah, namun gurat ketampanannya masih terlihat jelas. Entah kenapa kadang Hyeo merasa Donghae mirip sekali dengan kekasihnya. Ia mengecup mata Donghae dengan lembut.

= Noona, Saranghae =

Author POV

Donghae menggenggam erat tangan Hyeo Rin, mereka pun mulai memasuki club dimana Donghae bekerja. Hyeo sempat tercengang beberapa saat sebelum turun dari motor. Ia tidak percaya sama sekali dengan bangunan yang saat ini berdiri dengan megahnya di hadapannya.

“club?” tanya Hyeo sambil membulatkan matanya.

Donghae hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Hyeo, “noona jangan pernah jauh – jauh dari aku ya, arra?”

“arraseo Hae-ah..” jawab Hyeo yang masih sambil mengamati keadaan club itu. Sebenarnya apa pekerjaan Donghae di club ini?

Terlihat oleh Hyeo, Donghae menepuk pundak beberapa pelayan di sana, sesekali ia juga berbincang dengan mereka, sedangkan genggaman tangannya tak pernah mengendur sedikitpun. Setelah itu Donghae mengajak Hyeo menuju meja kebanggannya, apalagi kalau bukan meja tempat ia bisa mengekspresikan dirinya secara bebas. Meja DJ.

Hyeo Rin POV

Lee Donghae, namja ini benar – benar namja yang tidak terduga sama sekali. Di kampus ia tekenal dengan julukan si cupu, si kacamata tebal, atau apalah. Tapi lihatlah dimana ia berdiri sekarang? Ia sudah cukup membuatku terkejut dengan tempat kerjanya, sebuah club. Dan sekarang, lagi – lagi ia membuatku kaget, bukan kaget lagi tapi shock.

Lee Donghae si cupu itu seorang DJ? Bukan DJ main – main, ini club yang terkenal dan besar di seoul. Ia sangat berubah 180 derajat dari penampilannya di kampus. Bahkan aku merasa sangat tidak pantas berada di sisinya saat ini, saat dimana ia tengah memainkan music dengan tangannya yang lincah, lihatlah semua orang sangat menikmati permainan musiknya. Astaga Lee Donghae, kamu ini benar – benar namja yang ajaib.

“noona capek?” tanya nya seolah mengerti apa yang ku rasakan, memang cukup melelahkan dan memalukan setelah hampir setengah jam berdiri di samping Donghae yang sedang melakukan pekerjaannya.

“ne Hae-ah..aku juga haus..” jawabku jujur.

“arraseo, kita open table aja ya,” ia memanggil temannya untuk menggantikannya sementara, ia kembali menggenggam tanganku dan mengajakku turun ke deretan meja yang kosong. Ia menyuruhku duduk di salah satu kursi yang kosong, memanggil seorang pelayan lalu entah apa yang mereka bicarakan. Tak lama ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.

Ia menatapku dengan tatapannya yang polos, “apa yang noona pikirkan sekarang?”

Aku mengerutkan kening, “gimana bisa?” aku menggantungkan kalimat pertanyaanku.

“bisa apanya noona? Maksudmu gimana bisa seorang Lee Donghae yang cupu menjadi seorang DJ di club ini?” tanya nya lagi sambil tertawa lepas.

“ya..kira – kira seperti itulah.”

“ya! Aku kenal dunia seperti ini dari hyung ku. Waktu aku senior high school, ia yang memasukkan ku ke sekolah DJ, ya jadilah aku seperti ini.”

“kelihatannya dulu kalian akur ya? Nggak kayak yang kamu ceritakan ke aku.”

“ya.. entah sejak kapan ia berubah. Dulu dia namja baik – baik, punya pacar yang baik pula.. sejak beberapa bulan yang lalu ia berubah. Aku rasa ia salah pergaulan. Noona mau kenalan dengan hyung ku?”

“boleh, aku juga ingin tau hyung mu kayak apa sih. Aku penasaran Hae-ah”

“bisanya sih dia selalu di sini, noona tunggu di sini sebentar ya. Aku cari dia dulu. Tapi kalau ketemu dia jangan kaget, biasanya dia lagi sama yeoja – yeoja nakal itu…” ucapnya terputus.

“aku ngerti Hae-ah” kataku sambil memberikan senyumanku padanya, ia pun meninggalkanku dalam kerumunan tamu – tamu yang ada di dalam club ini.

Dongahe POV

Aku menerobos kerumunan orang yang sedang berlenggak lenggok mengikuti alunan music yang di mainkan oleh rekan penggantiku. Menuju meja tempat hyungku biasa duduk. Ya! Di situlah ia berada bersama dengan beberapa yeoja yang haus akan uang hyungku.

Tanpa basa – basi aku langsung duduk di hadapannya, ia sedikit tercengang melihat kedatanganku.

“oh, bukan kau yang bermain. Pantas saja musicnya tidak seperti biasanya.” Katanya acuh, kemudian ia meminum bir nya.

“aku ingin memperkenalkan kau dengan seseorang.”

“nugu?”

“noona ku yang sekarang aku tinggal bersamanya.”

“oh, bagus kalau gitu. Aku harus mengucapkan terima kasih padanya karna telah mengurus adikku yang tidak berguna ini.” Ujarnya sinis.

“cih, terus saja kau berkata seperti itu hyung, biar bagaimanapun kau yang membuatku terjun ke dunia ini.” Aku menahan emosiku.

“cepat saja bawa yeoja itu ke sini. Aku tidak punya banyak waktu untuk melihat yeoja yang di bawah rata – rata.”

Aku meninggalkan hyung ku yang makin lama kelakuannya makin menggila itu. Saat ku tinggalkan ku lihat ia mencumbui seorang yeoja. Cih! Apa pantas ia di sebut hyungku? Tidak tau aturan, maki ku dalam hati, aku jadi ragu apakah aku harus mengenalkan Hyeo noona pada hyungku itu. Aku merasa tidak enak harus mengenalkan hyungku yang kelakuannya minus itu.

Aku melihat ia tengah meminum juice strawberry yang aku pesankan khusus untuknya pada teman bartender ku. Aku sama sekali tidak mengizinkan ia untuk meminum minuman beralkohol. Ia pun tersenyum saat aku menghampirinya.

“udah ketemu hyung mu?” tanya Hyeo noona, aku hanya mengangguk.

“aku udah bilang aku mau kenalin noona sama dia, tapi maaf kalau kelakuan hyungku tidak menyenangkan.” Aku berkata jujur, lagi – lagi ia tersenyum dan kali ini ia merapihkan poni ku yang memang agak berantakan.

“gwenchana Hae-ah, biar gimanapun dia itu hyungmu kan?” ucapnya menenangkan hatiku. Hyeo noona memang seperti itu, ia selalu dapat menenangkan hatiku saat aku merasa gusar seperti ini.

“ne, noona..kajja” aku menggandeng tangannya dan mengajaknya menerobos kerumunan dancefloor. Ia pun mengeratkan genggaman tangannya padaku, mungkin ia takut tersesat di kerumunan orang yang makin memadat karna malam kian larut.

Hyeo Rin POV

Aku bersama Donghae terus menerobos kerumunan orang, sesekali aku menabrak orang – orang yang tengah menari. Donghae bilang ia akan mengenalkan hyung nya padaku, namun tiba – tiba perasaan aneh menyelimuti diriku. Aku merasa adasesuatu yang tidak enak hinggap di pikiranku, dan entah kenapa bayangan Yesung oppa muncul di otakku. Aku memejamkan mata sesaat untuk menghilangkan perasaan yang tidak enak itu, namun sia – sia. Perasaan itu terus menyelubungiku, apakah terjadi sesuatu dengan Yesung oppa?

“kita hampir sampai noona” bisiknya di telingaku. Jantungku mulai berdebar tidak karuan, makin cepat dan makin cepat, entah apa yang membuatku seperti ini. Mungkin aku terlalu grogi.

“Hae-ah, tunggu sebentar” kataku sambil menghentikan langkah, Donghae pun ikut menghentikan langkahnya.

“wae noona?”

“ani..aku sedikit gugup”

“astaga noona..” ia pun tertawa, “hyungku nggak seseram itu kok, kajja.. hyung bilang dia nggak punya banyak waktu. Dia pasti nggak ingin waktunya bercumbu di ganggu.” Katanya lagi sambil menarik pelan tanganku.

Tidak lama kemudian Donghae menghentikan langkahnya di sebuah meja, di sisi itu cahaya lampu tidak begitu terang, sedikit gelap malah, yang ku lihat hanyalah pemandangan beberapa orang wanita yang memakai baju yang sexy dan seorang pria tanpa aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Aku bersembunyi di balik punggung Donghae.

“hyung” tegur Donghae, karna aku bersembunyi, maka aku hanya dapat mendengarkan percakapan mereka.

“mana noona kesayanganmu itu, kau bilang ingin membawanya” balas namja itu dengan suara yang parau, mungkin ia sudah mabuk.

Donghae membalikkan badannya ke arahku, ia meletakkan kedua tangannya di pundakku. “kenapa bersembunyi noona?”

“ani…”

Donghae pun mendorongku pelan keluar dari balik badannya, lalu memajukan sedikit posisi kami berdua sehingga aku dapat melihat dengan jelas namja yang Donghae sebut sebagai hyung nya itu. Ia sedang mencium seorang yeoja, tanpa menghiraukan kami.

Namja itu mencium yeoja itu…

Aku mulai merasakan pandanganku buram, mataku memanas, bahuku bergetar,  hingga akhirnya air mata mengalir di pipiku.

“Yesung oppa…” ucapku lirih.

= Noona, Saranghae =

Author POV

Hyeo berlari menerobos kerumunan orang di club itu, hatinya hancur, sangat hancur. Tidak ia perdulikan orang – orang yang berteriak marah padanya karna ia menabrak mereka. Ia juga tidak memperdulikan suara dua orang namja yang berteriak memanggil namanya. Yang ia perlukan hanyalah keluar dari tempat ini, ia terus – terusan menyeka air matanya yang sedari tadi tidak berhenti mngalir.

Sibuk? Jadi ini kesibukannya sampai ia sama sekali tidak memiliki waktu?

Cerita – cerita Donghae tentang hyung nya itu pun sedikit demi sedikit terputar kembali dalam memori Hyeo.

“jadi ia memiliki pacar lagi? Dan ia juga bercumbu dengan yeoja – yeoja penghibur di club malam?” pikir Hyeo dalam hati sambil mempercepat larinya menuju pintu keluar, ia langsung masuk ke sebuah taxi kosong dan meminta si pengemudi membawanya kembali ke apartementnya.

Hyeo Rin POV

“Agassi, anda baik – baik saja?” tanya si pengemudi taxi.

“ne, nan gwenchanayo ahjussi, gomawo..” kataku sambil terisak. Ingatanku kembali memutar moment dimana saat Yesung oppa tengah mencium yeoja penghibur itu, hatiku makin sakit, dadaku serasa sesak seolah di sekitarku tidak ada oksigen yang bisa ku hirup. Tangisku makin menjadi, selama ini aku selalu percaya padanya, selama ini aku selalu khawatir dengan kondisinya, selama ini… aku telah di bohongi olehnya?

Begitu sampai di apartement, aku segera merubah password pintu masuk. Aku melempar task u ke sembarang arah dan mulai menangis lagi. Ku rasakan mataku mulai memberat, kepalaku mulai pusing.

“AAAAARRRGGHHH!!!!!!!!!!” teriakku frustasi sambil melempar vas bunga yang terdapat di meja makan. Aku menjatuhkan semua barang yang ada di sana, piring – piring pecah sendok dan garpu pun berjatuhan ke lantai.

Belum puas, aku mengambil pisau dan mencabik – cabik bantal sofa hingga isinya berhamburan, aku mengerang frustasi. Aku benci kamu Yesung oppa!!! Aku benci kamu!!!!

“noona buka pintunya!!” terdengar suara Donghae dari luar apartementku, aku tidak menggubrisnya, aku tetap mencabik – cabik bantal sofaku sambil menangis. Donghae mulai menggedor – gedor pintu.

“Hyeo buka pintunya, oppa mohon…” kali ini terdengar suara Yesung oppa, aku terdiam begitu mendengar suaranya.

“PERGIIII!!!!!” teriakku histeris. “PERGI DARI RUMAHKUUUUU!!!!” aku melempar vas yang terletak di meja ruang tamuku ke pintu.

“Hyeo…”

“jangan memanggilku lagi!!!! Aku bilang pergi!!!” jeritku sambil menjambak rambutku sendiri. Suara Donghae masih terdengar, ia tetap memintaku membukakan pintu. Aku berlari kedalam kamar untuk menghindari suara – suara mereka.

Aku mendekap bantal dan menumpahkan air mataku yang tersisa di sana, kepalaku makin terasa sakit hingga akhirnya aku tertidur.

Donghae POV

Sial! Ternyata selama ini namjachingu Hyeo noona adalah hyung ku sendiri, dan hari ini ia melihat secara langsung bagaimana kelakuan hyungku. Aku selama ini memang tidak pernah tau nama dari namjachingu Hyeo noona, begitupun dengan Yesung hyung, aku tidak pernah mengetahui nama yeojachingunya.

“aku akan buat perhitungan dengan kau hyung!” ancamku sambil berusaha memanggil Hyeo noona agar ia mau membukakan pintunya. Aku mendengar suara barang – barang yang di lempar dan yang pecah. Aku takut Hyeo noona berbuat sesuatu yang nekat.

“mianhae Donghae-ah..aku …”ucapnya terputus.

“wae? Kau tidak bisa menjelaskannya?” aku menggedor pintu apartementnya setelah sebelumnya ia berteriak mengusir kami.

Yesung hyung hanya terdiam tanpa berkata sedikitpun. Aku menerjang badannya dan menonjok wajahnya yang menurut yeoja – yeoja itu sangat tampan.

“kau?!!” hentaknya sambil memegang sudut bibirnya yang berdarah.

“lebih baik kau angkat kaki hyung!” kataku sambil menatap tajam ke arahnya, ia balik menatapku, namun kemudian ia pergi.

“tolong jaga dia.” Ucapnya pelan saat ia membalikkan tubuhnya dari hadapanku.

“noona tolong buka pintnya, ini aku Donghae..” aku kembali menggedor pintunya, namun suara bising dari dalam kamar tidak terdengar lagi, terganti oleh suara yang sunyi, senyap. Rasa takut menjalar di tubuhku, aku takut Hyeo noona bunuh dir dengan pecahan – pecahan kaca yang berserakan di dalam. Aku panic!

“noona!!!noona tolong buka pintunya!! Noona dengar aku? Ini aku Donghae!!! Noona jebal!!” aku makin menggedor pintu itu.

“maaf tuan, saya dengar ada suara – suara berisik dari sini. Tapi anda sangat mengganggu ketenangan apartement ini.” Tegur seorang petugas keamanan padaku.

“ah, ya! Aku khawatir dengan noona ku. Ia sakit di dalam tapi dari tadi dia tidak menjawabku. Aku takut dia pingsan di dalam pak.” Kataku sedikit berbohong.

“anda bisa membuka pintu dengan passwordnya tuan”

“kalau passwordnya tidak di ganti olehnya, aku sudah melakukannya dari tadi pak.”

“jinjja? Baik tuan kalau seperti itu keadaannya, kita dobrak saja pintu ini.” Usulnya.

Aku mengangguk, menyetujui usul petugas keamanan ini. Lebih baik pintu yang rusak daripada Hyeo noona kenapa – kenapa. Kami pun mengambil ancang – ancang, dan muai mendobrak pintu. Percobaan pertama gagal, kami bersiap – siap lagi dan..

‘brak!’ pintu terbuka lebar, aku dan petugas keamanan itu tercengang melihat keadaan kamar yang seperti kapal pecah ini, tapi sosok Hyeo noona tidak ada di sini.

“gamsahamnida atas bantuannya pak, aku akan mencari noonaku.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

“anda yakin tidakbutuh bantuan tuan?”

“saya akan memanggil anda jika membutuhkan bantuan.” Kataku, ia pun pamit undur diri.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar Hyeo noona, membuka pintunya perlahan dan mendapati dirinya tengah tertidur karna kelelahan. Aku mendekatinya dan duduk di sisi kasurnya, mengusap rambutnya dan melihat matanya yang bengkak karna terlalu banyak menangis. Bahkan sisa – sisa airmatanya pun masih ada di pipinya.

Aku mengusap air mata itu, menggenggam tanganya dan tertidur sambil duduk.

Author POV

Donghae terbangun dari tidurnya karna mendengar isak tangis seorang yeoja, ia mengerjapkan dan mengusap matanya yang masih setengah terpejam.

“noona..” panggil Donghae lirih, namun Hyeo tidak menjawab, ia masih terus menangis. “noona uljima…“ Donghae menarik yeoja itu dan memeluknya, Hyeo menyandarkan kepalanya di dada Donghae yang bidang dan menangis makin kencang. Donghae mengusap rambut Hyeo dengan lembut.

Selama beberapa menit keadaan diam dan sunyi itu berlangsung, yang terdengar hanyalah suara tangisan Hyeo Rin, Donghae sengaja membungkam mulutnya, yang noona nya butuhkan saat ini ialah tempat untuk ia bersandar dari kerapuhannya. Tangis Hyeo makin melemah.

“noona gwenchana?” bisiknya di telinga Hyeo Rin.

Rasa nyaman saat di pelukan Donghae lah yang dapat menghentikan tangis Hyeo Rin, yeoja itu hanya dapat menganggukkan kepalanya dengan lemah.

“jangan di lepas…” ucap Hyeo lirih.

“m-mwo noona?”

“tetaplah seperti ini..” pinta Hyeo.

Deru nafas Donghae terdengar di telinga Hyeo, Donghae makin mengeratkan pelukannya.

“noona, saranghaeyo…” bisiknya lembut.

“eh?”

“lupakanlah hyungku, terimalah cintaku noona, aku akan menjagamu… sudah sejak lama aku mencintaimu noona, sadarkah itu?”

Hyeo melepaskan dirinya dari pelukan Donghae, ia menatap mata Donghae jauh ke dalam manic matanya yang hitam itu. Ia mencari apa yang ia cari, dan ia menemukannya.

Ketulusan..

Hyeo dapat melihat ketulusan dari mata Donghae yang teduh dan dari bola matanya yang indah berwarna hitam pekat itu. Di saat Hyeo menatap mata itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

“aku…saat ini aku belum bisa mencintai Hae-ah.. tapi aku akan belajar untuk mencintaimu.” Ucap Hyeo Rin yakin dan memberikan senyumannya pada seseorang yang akan singgah di hatinya itu.

END ~

 

23 thoughts on “Noona, Saranghae

  1. waaaaaaaaa!! bagus banget….. ><
    aku hampir nangis yang bagian night clubnya…
    uuhh… hae opppa…. tulus bgt ya kayaknya… :D

  2. Baguss nih critanya thor.. tapi sayangnya kependekan,, gak kebayang ecung kaya’ gitu.. hhehehe .. thor saya boleh minta almt fbnya gk? ato twitter deeh.. hhehe,, buat tanya-tanya kalo authornya nulis ff yg lae,, hhehe

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s