(Oneshoot) Because I’m A Girl

Title
Because I’m A Girl

Author
Park Yoo An

Length
Oneshoot

Rating
T

Genre
Romance, Angst, Sad

Main Cast
Taeyeon
Baekhyun

Supporting Cast

Chanyeol

FF ini terinspirasi dari video klip Kiss – Because I’m A Girl

***
Baekhyun PoV

Aku menapakkan kakiku di Seoul. Akhirnya, setelah tinggal 4 tahun di Jepang, aku bisa menghirup udara di kota kelahiranku ini.

Namaku, Byun Baekhyun. Aku adalah orang Seoul yang sebelumnya pindah ke Jepang. Namun, karena kematian kedua orangtuaku, aku memutuskan untuk pindah ke Seoul, kampung halamanku.

Aku memegang kameraku yang biasa kugunakan untuk memotret pemandangan-pemandangan indah, yang biasanya akan terpasang di gallery album milikku. Namun, kali ini lain lagi rencananya. Hasil photoku ini nanti akan menjadi sampul majalah.

Ya, setelah kepindahanku ini, aku memutuskan untuk menjadi seorang photograper untuk majalah. Itu semua atas saran sahabatku, Chanyeol.

KCAK
Aku memotret seorang ayah dan anak.

KCAK
Aku memotret kendaraan yang lalu lalang. Hmmm, mungkin saja ini bisa dijadikan objek untuk majalah.

KCAK
Aku memotret sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan.

KCAK
Aku terdiam.

”Mianhaeyo…” ujar seorang yeoja meminta maaf kepadaku. Aku tertegun melihatnya. Wajahnya sangat cantik.

Yeoja berperawakan kecil itu. Manis sekali.

”Mianhae, aku tidak tahu kau sedang memoto.” ucap yeoja itu sekali lagi.

”Ah, gwenchana.” kataku. Aku masih terpesona dengan kecantikan yeoja itu.

Yeoja itu tersenyum kepadaku. Dan akhirnya, dia berlalu dari hadapanku.

Baekhyun PoV END

Taeyeon PoV

Aku berlalu pergi dari namja itu. Aku merasakan sesuatu yang sedang melandaku sekarang. Apa aku…….mulai jatuh cinta?

Entahlah aku tidak begitu yakin dengan perasaanku ini. Karena aku belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Tapi, jujur saja, aku merasa bahagia. Jika benar yang kurasakan ini, apa mungkin, dia cinta pertamaku?

2 Days Later…

Aku memulai pekerjaanku seperi biasa. Sebagai pekerja di salon.

KRING… Bel berbunyi. Tanda seorang pelanggan sedang masuk. Aku segera berbalik dan menghentikkan aktifitasku menyapu sisa-sisa rambut pelanggan yang telah dipotong tadi.

”Annyeong haseyo.” sapaku. Dan saat pelanggan itu bertatapan denganku. Aku kembali beku…

”Kau yang waktu itu kan?” tanya namja itu.

”Ah ne… Ada yang bisa saya bantu?” aku mendapati diriku bertanya padanya. Jujur, aku sangat gugup sekarang. Namun, sebisa mungkin aku memendam kegugupan ini.

”Ne. Aku ingin memotong rambutku yang sudah sedikit panjang ini.” ujarnya.

”Silahkan.” kataku. Lalu mempersilahkannya duduk di kursi, tempat bagi pelanggan yang ingin dipotong rambutnya.

***

Aku bahagia saat ini. Aku membasuh rambutnya dengan air selembut dan sepelan mungkin. Lalu kusampokan rambutnya yang halus itu perlahan pula. Kuusap-usap hingga kupastikan semua rata. Namun, tanpa kusadari, tanganku yang berlumuran busa-busa shampoo itu mengenai matanya yang tengah terpejam.

”Argg..” erangnya pelan.

”Ooo… Mianhae. Jeongmal mianhae…” kataku meminta maaf. Aku panik mencari handuk. Setelah aku menemukannya, aku menyerahkannya kepada namja itu.

”KIM TAEYEON! KENAPA KAU TIDAK HATI-HATI? LIHAT! PASTI DIA SEDANG KESAKITAN SEKARANG!” pekik Sunye. Bossku disini.

Habislah aku dimarahi bossku. Sementara itu, namja tadi sibuk mengelap matanya.

Taeyeon PoV END

Baekhyun PoV

Aku mendengar yeoja itu dibentaki oleh bossnya. Aku sendiri tidak tega. Walau hanya dengan mendengarnya saja. Akhirnya, aku bicara.

”Gwenchana agassi. Saya tidak apa-apa. Dan ini bukan salah nona itu sebenarnya.” ujarku. Berusaha menghentikkan bentakkan boss yeoja itu yang terus dihujankan padanya.

Boss itu berhenti membentakki karyawannya. Yeoja itu menatapku heran.

***
Aku keluar dari salon itu. Sebenarnya, tujuanku tadi memang hanya untuk bertemu yeoja yang kutemui 2 hari yang lalu.

”Tuan!” panggil seseorang. Kedengarannya seperti seorang yeoja yang memanggilku.

Aku membalikkan badanku. Dan, Bingo! Yeoja itu memanggilku.

Yeoja itu lari terbirit-birit ke arahku. Dan tangannya seperti sedang membawa sesuatu.

”Tuan, kau meninggalkan kameramu.” kata yeoja itu seraya mengulurkan kameraku.

”Oh, kamsahamnidah.” ucapku lalu mengambil kameraku.

”Ne. Cheomaseumnida.” balasnya. Lalu membalikkan badannya.

Tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit ke otakku.

”Nona!” panggilanku membuat yeoja itu membalikkan badannya.

”Ada apa?” tanyanya.

”Siapa namamu?” tanyaku.

”Taeyeon. Kim Taeyeon-imnida.” balasnya. Taeyeon, nama yang cantik, bahkan pemiliknya juga sangat cantik, batinku.

”Naneun Baekhyun. Byun Baekhyun-imnida.” kataku memperkenalkan diri.

Baekhyun PoV END

Keduanya sudah sangat jelas sedang jatuh cinta. Mulai dari cara mereka saling bicara, melihat, dan bersikap.

Dan sejak perkenalan itu, Baekhyun sering datang ke salon tempat Taeyeon bekerja. Kadang dia membeli shampoo yang sebenarnya, tidak terlalu dibutuhkannya. Atau sekedar mengajaknya berbincang-bincang disela-sela istirahat Taeyeon.

Keduanya juga sering sekali menghabiskan waktu bersama.

Hari ini, tepat 3 bulan setelah perkenalan mereka, Baekhyun mengikuti balap motor. Itulah yang biasa dilakukannya sejak masih di Jepang. Dan, kebiasaan itu masih tetap saja dibawanya (?) di Korea.

Sudah berkali-kali Taeyeon mengingatkannya agar tidak mengikuti balapan konyol itu. See, sikap yeoja itu sudah menunjukkan sekali kalau ia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan menimpa Baekhyun. Artinya, yeoja itu mencintai Baekhyun.

”Tenanglah, aku sudah terbiasa dengan ini. Bahkan ketika di Jepang aku selalu pulang dari balapan dengan selamat.” ujar Baekhyun membanggakan diri.

”Oppa, kumohon. Aku……….” Taeyeon menghentikan ucapannya. ”Aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk menimpamu.” akhirnya Taeyeon melanjutkan ucapannya.

”Tenanglah Taeng. Oppa yakin, Oppa akan baik-baik saja.”

***
Taeyeon menutup telinganya ditengah-tengah penonton yang berteriak histeris. Apalagi teriakan para penonton sangatlah tidak terdengar merdu di telinganya.

Kadang yeoja itu juga memejamkan matanya rapat-rapat sambil meletakkan kedua tangannya di dada, ketika Baekhyun mengendarai motornya melewati tikungan tajam. Kemudian membuka matanya lebar-lebar dan menutup telinganya dengan jari-jari kecilnya guna menghindari gendang telinganya yang mungkin saja akan pecah ketika mendengar teriakan para penonton, saat Baekhyun sedang melewati jalanan yang lurus (?).

Sudah hampir 10 menit jantung Taeyeon yang terus berdebar kencang dan serasa ingin copot. Dan mungkin, sebentar lagi, jantung Taeyeon sudah tidak akan ada pada tempatnya (?) lagi.

”YE!!!” pekik sebagian penonton yang juga supporter dari Baekhyun.

”Omo, Baekkie Oppa menang?” tanya Taeyeon pada dirinya sendiri.

Taeyeon melompat-lompat layaknya anak kecil saat ini. Karena begitu banyak penonton yang menghalangi pandangannya. Yang dilakukan yeoja itu saat ini adalah guna melihat Baekhyun. Apa benar namja itu menang.

Namun, saat yeoja itu melompat-lompat, tali sepatunya ternyata lepas dan yeoja itu terjatuh. Parahnya, kakinya tak sengaja terinjak oleh para supporter yang berlari menuju arah Baekhyun.

”Ahh ah ah…” erang Taeyeon. Yeoja itu mengerang kesakitan di pasir tempatnya jatuh itu. Sementara itu semua supporter sedang mengangkat-angkat tubuh Baekhyun.

Saat Baekhyun melihat Taeyeon yang tengah tersungkur di jauh sana, Baekhyun berusaha turun dari umbulan (?) para supporter.

”Taeng, kau tak apa?” tanya Baekhyun panik. Namja itu berjongkok di hadapannya dan membersihkan pasir-pasir yang menempel di sekitar lukanya.

”Aniyo Oppa.. Sh, hanya sa..shh…ja, aku susah menggerakan kakiku.” desis Taeyeon.

”Ayo!” Baekhyun mengangkat tubuh kecil Taeyeon. Sementara itu Taeyeon terkejut.

***
Sesampainya di apartment Baekhyun, namja itu mengobati kaki Taeyeon yang luka akibat injakan para supporter.

”Ashhh sakit babo!” desis Taeyeon saat obat merah memoles (?) dagingnya yang terbuka (?).

”Mianhae.” kata Baekhyun sambil terus meneteskan obat merah itu di luka Taeyeon.

”Oppa…” panggil Taeyeon.

”Hnnn…”

”Apa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?” tanya Taeyeon. Sebetulnya, yeoja itu malu dengan pertanyaannya.

”Eum,” Baekhyun membalut luka Taeyeon dengan perban. Namja itu menatap dalam mata Taeyeon. ”Tentu saja.” lanjut Baekhyun.

”Oohhh…” Taeyeon memilih berkata demikian daripada dia terus bertanya tentang cinta pada pandangan pertama. Karena yeoja itu takut kalau-kalau nanti Baekhyun menyadari perasaannya.

Taeyeon mengedarkan pandangannya. Begitu banyak foto hasil jepretan Baekhyun yang dipasang disana.

”Bagaimana dengan pekerjaanmu Oppa?” tanya Taeyeon, masih terus melihat-lihat hasil foto Baekhyun.

”Bagaimana apanya?” tanya Baekhyun heran.

Taeyeon mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. Wajahnya langsung merona saat ditemukannya Baekhyun duduk dekat disampingnya.

”Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti tomat sekarang?” tanya Baekhyun bercanda.

”Mwo? Apa maksudmu?” tanya Taeyeon meminta penjelasan.

”Hahaha maksudku. Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Kau seperti tomat tau!” Baekhyun tertawa.

”Aish! Apa maksudmu!” yeoja itu memukul perut Baekhyun.

”Ahhh! Sakit tau!” ujar Baekhyun.

”Biarin!” Taeyeon menjulurkan lidahnya kearah Baekhyun.

”Ya! Dasar kau ini!” Baekhyun menggelitik tubuh Taeyeon.

”Ahhh geli Oppa!”

”Hahaha rasakan!”

Karena Baekhyun terus menggelitik Taeyeon, tangan Taeyeon berusaha untuk membalas gelitikan Baekhyun. Hingga akhirnya, Baekhyun yang terlalu geli melepaskan gelitikkannya pada Taeyeon…

BRUK…

Tanpa disengaja dan tanpa direncana, tubuh Baekhyun menindih tubuh kecil Taeyeon. Untung saja mereka sedang ada di ranjang sekarang. O.o

”Oppa, badanmu berat.” komentar Taeyeon.

”Ah mianhae…” kata Baekhyun lalu cepat-cepat berdiri di samping ranjangnya. Taeyeon menarik nafasnya dan mendudukkan dirinya di ranjang Baekhyun.

”Nado. Nado mianhae Oppa.” ucap Taeyeon. Taeyeon berusaha berdiri walau kakinya masih sakit.

”Ya! Taeyeon-ah,” Baekhyun memegang tangan Taeyeon. Membantunya berdiri.

”Tak apa Oppa.”

Dengan terseok-seok, Taeyeon melangkahkan kakinya mendekati foto-foto pemandangan yang berhasil diabadikan Baekhyun.

Baekhyun mengikutinya dari belakang.

”Hasil fotomu bagus sekali Oppa.” puji Taeyeon.

”Kelihatannya kau sangat berbakat dalam bidang ini.”

Taeyeon membalikkan badannya setelah sesuatu ide terlintas di benaknya.

”Oppa, bolehkah aku mencoba memoto?” tanya Taeyeon. Berharap Baekhyun mau menurutinya.

”Buat apa?” tanya Baekhyun.

”Ayolah. Jebal!” pinta Taeyeon.

”Baiklah.” Baekhyun melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati mejanya. Disitu terletak kamera Kodak yang biasa ia  gunakan untuk memotret objek indah.

Taeyeon tersenyum. Dengan langkah terseok-seok, yeoja itu mendekati Baekhyun. Walau yang dirasakannya tiap langkah adalah rasa sakit di kakinya.

Sementara itu Baekhyun mulai mencoba-coba kameranya.

KCAK
KCAK

Baekhyun memotret Taeyeon yang sedang berjalan terseok ke arahnya. Beruntung Taeyeon sedang melihat kebawah.

Kurasa foto ini akan bagus jika dijadikan cover untuk majalah, batin Baekhyun. Seraya melihat 2 foto hasil jepretan diam-diamnya itu. Di foto itu tampak Taeyeon sedang berjalan kearahnya sambil memandang ke bawah. Tubuhnya tampak manis dibalutkan dengan sweeter besar warna abu-abu. Serta celana warna cokelat dan sepatu. Juga perban yang membalut luka di kaki kirinya.

”Mana Oppa!” Taeyeon meminta kamera  yang dipegang Baekhyun.

”Ini.” kata Baekhyun sambil mengulurkan kameranya kepada Taeyeon.

”Gomawo!” kata Taeyeon. Hanya 4 detik saat Taeyeon memegang kamera itu, yeoja itu cemberut.

”Oppa, kenapa kacanya buram?” tanya Taeyeon.

”Mwo? Benarkah?” tanya Baekhyun. Baekhyun meraih kamera itu dan mengeceknya. Benar, kacanya agak buram.

”Kau sih! Kau salah memegangnya. Harusnya hati-hati.” ucap Baekhyun.

”Ah mianhae Oppa.”

”Gwenchana. Sebentar ya, aku akan mengambil pembersihnya dulu.” sebelum Baekhyun hendak pergi untuk mencari pembersih kacanya, Taeyeon menahannya.

”Biar aku saja yang mengambilkannya.” kata Taeyeon.

”Tidak usah. Aku saja. Lagipula kakimu masih sakit.”

Taeyeon cemberut. ”Ayolah.” bujuk Taeyeon.

”Lagipula kuletakkan pembersih itu di tempat yang tinggi. Kau pasti akan kesulitan mengambilnya.”

”Ya! Jadi kau pikir seberapa pendeknya aku?” tanya Taeyeon.

”Bukan begitu.”

”Lalu apa? Kalau kau seperti itu berarti kau menganggapku pendek. Yaya aku tahu. Aku memang pendek.” cibir Taeyeon.

”Aish! Baiklah!” akhirnya Baekhyun menyetujui bujukan Taeyeon.

Taeyeon tersenyum dan berkata, ”Terimakasih Oppa!”

***
Taeyeon mencari pembersihnya di ruang kerja Baekhyun.

”Dimana ya? Kata Baekhyun di dekat meja komputer.” gumam Taeyeon. ”Dan katanya dia meletakkannya di tempat yang tinggi?”

Taeyeon mendongakkan kepalanya. Matanya menangkap sebuah botol putih bertuliskan Lens Cleaner.

”Ah pasti yang itu!” gumam Taeyeon.

”Tinggi sekali! Kalau aku menaiki meja komputer, itu tidak mungkin. Jaraknya lumayan jauh walau aku menaiki meja komputernya. Bisa-bisa nanti aku jatuh.” gumam Taeyeon. Yeoja itu memikirkan cara agar bisa mengambil pembersih itu.

Akhirnya, Taeyeon memutuskan mengambil pembersih itu dengan berjinjit. Tapi tetap saja sia-sia, walau yeoja itu berjinjit, pasti yeoja itu tidak akan bisa mengambilnya.

”Aish! Susah sekali.” gerutu Taeyeon.

Taeyeon berusaha sekali lagi. Kali ini, yeoja itu berjinjit dengan berdiri di tumpukan beberapa buku paket.

”Ya sebentar lagi! Sebentar lagi!”

Hampir. Dan Taeyeon sudah bisa menyentuh botol itu. Dengan jari-jarinya, Taeyeon berusaha meraihnya namun….

Botol pembersih itu terjatuh. Celakanya, botol pembersih itu tidak tertutup. Hingga isinya tumpah. Lebih celaka lagi, isi pembersih itu tumpah. Mengenai wajah Taeyeon.

Oh tidak! Itu bahan keras!

Taeyeon memegang matanya yang sakit. Ya itulah yang dirasakan Taeyeon. Sakit pada matanya. Yeoja itu terpeleset.

”OPPA!!” teriak Taeyeon.

Baekhyun yang mendengarnya langsung berlari ke ruang kerjanya. Betapa terkejutnya namja itu mendapati Taeyeon saat ini.

***

Dengan beberapa suster, Baekhyun ikut mendorong ranjang dorong yang sedang ditempati Taeyeon saat ini.

”Taeyeon! Kumohon. Bertahanlah.” kata Baekhyun. Namja itu, sudah menitihkan matanya sedari tadi.

***

”BODOH! KAU BODOH BYUN BAEKHYUN! KENAPA KAU TETAP MEMBIARKAN TAEYEON MENGAMBIL PEMBERSIH KACAMU! KENAPA? KAU BABO  BAEKHYUN! KAU BABO!” Baekhyun merutuki dirinya di apartmentnya saat ini.

Namja itu sangat terpukul. Lebih terpukul lagi saat namja itu mengetahui… Bahwa saat ini, Taeyeon tidak bisa menggunakan matanya.

BUTA.

***
Sudah 1 minggu sejak kejadian yang membuat Taeyeon harus segera membutuhkan donor mata.

Baekhyun takut mengunjungi Taeyeon.

Baekhyun merasa bersalah akan Taeyeon saat ini.

”Siwon Uisa…” Baekhyun berbicara dengan seseorang di telepon. Dia Siwon. Dokter yang menangani Taeyeon.

”Apakah Taeyeon sudah mendapatkan pendonor?”

Baekhyun menitihkan air matanya.

”Baiklah. Saya akan segera kesana.”

***

Baekhyun melangkahkan kakinya ke taman. Dimana sekarang dia menemukan Taeyeon. Dengan tongkatnya sedang memandang kosong ke arah depan. Pandangannya tidak jelas karena matanya sudah tidak  bisa berfungsi lagi.

Baekhyun ingin menangis.

”Maafkan aku Kim Taeyeon.” gumam Baekhyun.

***

Dokter itu, Siwon Uisa memasuki kamar inap Taeyeon.

”Nona Taeyeon.” panggil Siwon Uisa.

”Ne. Uisa.”

”Kau sudah mendapatkan pendonor mata.”

”Ne? Jeongmal?”

”Ne aku bersungguh-sungguh.”

”Kamsahamnidah Tuhan. Eum, kalau boleh saya tahu, siapa yang mendonorkan matanya untukku?” pertanyaan Taeyeon dijawab lama oleh Siwon.

Siwon sendiri beku di dekatnya. Namja itu teringat dengan perkataan namja yang mendonorkan matanya untuk pasiennya itu.

”Kumohon Siwon Uisa. Jangan katakan pada Taeyeon kalau saya yang mendonorkan matanya.”

”Eum, hanya seorang namja yang dengan berbaik hati mendonorkan matanya untukmu.” jawab Siwon Uisa.

***

”Chanyeol-ah…” panggil Baekhyun kepada Chanyeol, sahabatnya.

”Kau yakin dengan keputusanmu Baekki?” tanya Chanyeol.

”Ne. Aku yakin.”

”berarti, kau sudah tidak bekerja sebagai photograper lagi?”

”Ne.”

”Oiya, Yeol-ah, ini.” Baekhyun menyodorkan satu berkas. Dimana disana terdapat dua foto seorang yeoja. Yeoja yang membuat hati namja itu berdebar. Kim Taeyeon.

”Jadikan salah satu foto ini sebagai sampul untuk majalah edisi selanjutnya. Dan ini.” Baekhyun menyodorkan sejilid hvs kepada Chanyeol.

”Ini artikelku. Kumohon, muatlah artikel ini di majalah. Setelah itu, berikan majalah ini kepada Kim Taeyeon.”

***

Kedua insan itu berbaring di ranjang yang bersampingan.

Efek bius Taeyeon sudah bekerja. Yeoja itu sudah kehilangan kesadarannya. Sementara itu, Baekhyun masih sadar. Namja itu memegang tangan Taeyeon sebelum akhirnya para suster menarik ranjangnya menjauh dari ranjang Taeyeon.

Baekhyun menitihkan air matanya. Ia yakin keputusannya benar. Ia yakin inilah yang akan membuat Taeyeon bahagia. Ia yakin inilah yang bisa menebus kesalahannya. Ia hanya ingin, Taeyeon bisa melihat kembali.

***

Keduanya berpapasan di lorong rumah sakit. Sayangnya, keduanya tidak menyadarinya. Mereka hanya lewat dalam mata yang diperban.

***

Siwon Uisa melepas perban yang menutupi mata Taeyeon itu. Perlahan sekali. Hingga akhirnya perban itu terlepas dari mata Taeyeon. Taeyeon mengikuti instruksi Siwon Uisa : membuka matanya dengan perlahan.

***

”Baekhyun Oppa!” berkali-kali, Taeyeon memanggil Baekhyun dan mengetuk pintu apartmentnya. Namun nihil tak ada jawaban sama sekali.

”Taeyeon-ssi!” panggil suara berat.

Taeyeon menolehkan kepalanya untuk mencari siapa yang memanggilnya. Pencariannya berhenti saat yeoja itu melihat namja tinggi berjalan kearahnya. Park Chanyeol, dia sahabat Baekhyun, setahu Taeyeon.

”Chanyeol-ssi.”

”Ini…” Chanyeol menyodorkan sebuah majalah kepada Taeyeon.

”Baekhyun yang menyuruhku memberikannya padamu.” ujar Chanyeol.

Taeyeon terkejut mendapati sampul majalah itu adalah foto dirinya. Tapi, sejak kapan ini diambil?

***

Taeyeon melangkahkan kakinya gontai di taman. Bulan ini sudah memasuki awal musim salju.

Taeyeon duduk di salah satu kursi di taman. Yeoja itu merapatkan jaketnya. Guna, menahan hawa dingin yang menerpanya.

Taeyeon membuka lembar demi lembar majalah bersampul dirinya itu. Tangannya berhenti membuka lembaran berikutnya saat yeoja itu menemukan artikel berjudul ”Apakah kau percaya cinta pada pandangan pertama?”

Disampingnya, terdapat foto Baekhyun dan Taeyeon yang menjadi background halaman itu.

Taeyeon membacanya.

Cinta pada pandangan pertama? Awalnya aku menganggapnya hanya sebuah cerita di televisi. Namun, suatu hari saat aku mengalami cinta itu. Aku percaya bahwa peristiwa yang hanya kuanggap cerita bohong itu menjadi kenyataan. Aku bertemu dengan seorang yeoja. Dia adalah karyawam di salon. Aku jatuh cinta dengannya sejak pandangan pertama. Sejak perkenalan kami, kami menjadi semakin dekat. Aku menyadari sikapnya yang selalu mengkhawatirkanku. Dia melarangku mengikuti balap motor. Tapi aku berjanji akan pulang dengan selamat. Dan saat aku menang, aku mendapati yeoja itu mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya yang sakit. Aku langsung membawanya ke apartementku. Dan saat itulah, dia bertanya padaku ”Apa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama?” Ya aku percaya. Karena aku sendiri sudah mengalaminya. Mulai saat itu, aku ingin melindunginya. Tidak akan kubiarkan apapun menyakitinya. Bahkan tidak akan kubiarkan sebutir debu memasuki matanya dan membuatnya kelilipan. Namun, janjiku itu sirna saat kudapati yeoja itu mengalami kecelakaan kedua pada hari itu. Kecelakaan yang membuatnya harus segera mendapatkan donor mata. Tak ada yang mendonorkan mata untuknya. Hingga kuputuskan, untuk mendonorkan mataku untuknya…” Taeyeon berhenti membaca. Yeoja itu sudah berhujankan air mata.

Taeyeon menutup kembali halaman itu. Yeoja itu menangis sejadi-jadinya disana.

”Agassi. Kenapa kau menangis?” tanya seorang namja.

Taeyeon menengadahkan kepalanya. Melihat siapa yang sedang bertanya kepadanya.

Baekhyun? Namja itu menggunakan tongkat?

”Agassi?” tanya Baekhyun sekali lagi.

”Siapa yang membuatmu menangis?” tanya Baekhyun.

”Kau.” jawab Taeyeon.

”Maksud Agassi?” tanya Baekhyun.

Sungguh, mungkin Baekhyun tidak menyadari yang didepannya saat ini adalah Taeyeon.

”Oppa!” Taeyeon menghambur langsung memeluk Baekhyun.

”Taeyeon-ah?” tanya Baekhyun.

END

Bagaimana chingu? Aneh? Memang. Alurnya kecepetan? Mungkin. Jelek? Nggak tau. Endingnya gantung + Aneh? BANGET! T___T

 

Jangan lupa RCL ya. Yang penting R sama C. :D

36 thoughts on “(Oneshoot) Because I’m A Girl

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s