[One Shot] This Is Life Project- I am Who I am But Need Courage

Title: This Is Life Project- I am Who I am But Need Courage

Length: series-one shot

Genre: daily life

Author:

Nicky [ @reginanicolecky ]

Main casts:

Choi SiWon

Kim Rhie (OC)

Disclaimer :

SiWon punya Tuhan dan orangtuanya, tapi resmi suami saya *plak*   , sedangkan Rhie asli karakter asli pemikiran author hehe. FF ini udah pernah publish di blog author sendiri http://nickisland.wordpress.com/

Mohon RCL nya^^

Dunia bagiku adalah tempat yang indah

Saat menatap kilaunya, aku mengulurkan tangan dan hendak meraihnya

Tapi nyatanya warna adalah hal yang kulihat dalam sangkar

Begitu aku mencoba untuk terbang

Sayap-sayap patah berusaha menentang arusku dan menjadikanku serupa

Dan satu-satunya yang menjagaku tetap seimbang

Kau… yang menjelma menjadi angin untuk menopangku

“Rhie kau kenapa?”

Yeoja yang mendengar namanya dipanggil segera menutupi wajahnya dengan selimut tipis yang ada di atas tubuhnya, “ Jangan masuk… seriously.” Ancamnya buru-buru ketika melihat seorang namja yang dikenalnya tahunan.

“Aku sudah melihat semuanya jadi apa yang kausembunyikan sebenarnya?”

“Aish oppa jinjja…” gerutu Rhie, gadis itu membiarkan selimutnya ditarik oleh SiWon yang begitu saja sudah duduk di sisi pinggir tempat tidurnya. Eommanya… ah.. ia hampir lupa atau tepatnya mengabaikan… Ini sudah tahun kelimanya tinggal sendirian di apartemen.

“Kau kenapa?” ujar SiWon mengulangi pertanyaannya.

“Aku sakit. Pertanyaannya adalah bagaimana kau tahu dan bisa ada di sini?”

Namja itu tersenyum simpul dan menggoyangkan tablet tipis di depan wajah Rhie, “Twitter dan semua telepon dari unnie dan chingumu. Mereka tahu siapa yang harus dicari di saat kau seperti ini.”

“Kau membuatku terlihat seperti sangat parah.”

Rhie menegakkan punggungnya untuk bersandar di kepala tempat tidurnya. Ia mendesah panjang dan melemparkan tatapan keras kepalanya. “ Ini bukan pertama kalinya aku sakit. Setiap kali aku stress aku akan sakit seperti ini.”

“Tapi tetap saja setiap kali kau sakit, kau membuat banyak orang khawatir. Akui saja itu.” Sergah SiWon santai. Namja itu mengarahkan tangannya agar Rhie bergeser dari posisinya sekarang.

“Aku memang suka diperhatikan,” gerutu Rhie, “Dan aku sakit jadi jangan suruh aku pindah-pindah.”

Tawa SiWon pecah saat mendengar gerutuan gadis di depannya. Gadis itu… siapa yang menyangka dari seorang yang polos dan mungil. Ah tidak… Rhie tidak pernah mendapat pengakuan polos. Kata naïf lebih tepat untuk gadis itu. Tapi dia menghadapi dunia dengan jujur dan melandasinya dengan logikanya. Mungkin itu yang membuatnya kuat, tapi mungkin itu juga yang membuatnya lemah.

Get stress over then struck adalah ungkapan yang akhir-akhir ini sering ia gunakan.  Rhie akan memikirkan sesuatu yang mengganggunya, mencari di mana letak kesalahan yang ia buat detil demi detil dan mengabaikan fakta bahwa masalah bisa terjadi di luar kendalinya.

Yang jadi masalah sekarang adalah masalah yang dihadapi oleh gadis itu sudah menumpuk. Ini hanya berasal dari pandangannya, tapi kalau Rhie sudah terbaring di tempat tidur selama 2 hari. Masalah itu berat dan dirinya entah kenapa tidak bisa mengabaikan Rhie terbaring begitu saja.

“Kau membuat orang sibuk sepertiku harus datang ke sini. Jadi buang jauh-jauh tempermu dan ceritakan apa yang terjadi.”

“Aku stress…”

“Aku tidak perlu bertanya Rhie kalau hanya itu jawabannya,” ujar SiWon sabar. Namja itu mengulurkan tangannya lagi dan membaringkan kepala Rhie ke pangkuannya, “Apa masalahnya?”

Rhie mengerucutkan bibirnya, kalau mengikuti logikanya, bercerita dengan namja ini tidak akan membantu banyak. Mereka berdiri di dua dunia yang berbeda dan menghadapi orang-orang yang berbeda juga.

Tapi perasaannya mendorongnya untuk bercerita, mengeluarkan semua rasa penat yang mengganjal dan mencurahkan semua hal yang mengganggunya. Ia perlu didengarkan setelah semua hal yang ia lakukan ditentang.

“Apa aku menyebalkan oppa?”

“Kalau mau jawaban jujur. Ne, kau menyebalkan kalau sedang memperhatikan sesuatu dengan detil. Aku tahu kau sudah melewati banyak hal dan menemukan cara-cara yang tepat, tapi terlalu kau selalu menuntut kesempurnaan.”

“Gadis itu mencubit tangan SiWon yang berada di dekatnya, “Apa kau menunggu moment ini untuk mengataiku ya?”

“Kau kan bertanya Rhie, dan aku menjawab. Tapi secara keseluruhan kau menyenangkan. Kalau tidak bagaimana kau punya teman-teman yang mencemaskanmu. Itukah masalahnya?”

Gadis itu mengangguk kecil mengingat kejadian yang menimpanya sehingga ia merasakan stress parah, “Aku… bertengkar dengan orang lain, mungkin bisa dibilang sekelompok orang. Terlalu rumit kalau aku menceritakan dari awal. Yang pasti, mereka mengataiku habis-habisan.”

“Jadi itu yag kaupikirkan? Karena dikatai atau karena mungkin ada kesalahan yang kaubuat?”

Rhie menatap kedua mata yang balas menatapnya. Seperti biasa, SiWon bisa langsung menangkap akar dari permasalahan yang ia pikirkan, “Karena aku pernah melakukan hal yang sama dan setelah aku berhenti aku malah diperlakukan seperti ini.”

“Kau kesal karena bukan bagian dari hal itu atau kesal pada dirimu sendiri karena membiarkan hal itu terjadi?”

“Bisa dibilang keduanya? Yang pasti aku kesal. Mungkin salahku juga. Tidak menyukai orang itu karena sifatnya yang lemah, tapi aku tidak langsung mengatakannya dengan frontal. Masalahnya kenapa yang lainnya ikut campur dan membuat masalah menjadi besar?”

“Karena itu dunia, pabbo…. ORang-orang akan mengikuti orang yang mereka anggap hebat. Sama seperti yang kau lakukan sebelumnya sampai terjadi suatu masalah. Kau mengerti sistemnya, dan kau juga dulu melakukan itu. Anggap saja impas?”

“Yah oppa, apa kau sedang memarahiku?”

“Bisa kau bilang seperti itu. Kau itu aneh, kau selalu tahu jawaban atas pertanyaanmu, tapi kau mengabaikannya dan ingin mendengarnya dari orang lain.”

“Ani… aku mempertanyakan juga kenapa ada orang-orang semacam itu di dunia ini. Apa gunanya psikolog kalau banyak orang stress berkeliaran? Aah appooo, ” protes Rhie saat merasakan pukulan di keningnya.

“Kalau orang-orang itu tahu tentang diri mereka dan datang ke psikolog, Tuhan tidak dibutuhkan, Rhie. Mereka tinggal mencari manusia lain untuk menyembuhkan mereka.”

“Ah.. aku mencium tanda-tanda kau akan melanjutkan ceramah.”

“Memang benar Rhie… Perbedaan status, latar belakang dan lingkungan kita hidup sekarang membedakan semuanya. Bagiku, bertemu dengan yeoja sepertimu saja sudah cukup aneh. Banyak hal yang tidak kumengerti tentangmu tapi dalam hal yang menarik.”

“Jadi itu yang kulihat dari mereka? Kenapa aku tidak mengerti apa yang menyenangkan untuk mereka dan apa yang membuat mereka puas.”

SiWon mengangkat bahunya kecil, untuknya itu semua juga masih misteri. Hanya saja jelas, umurnya yang beberapa tahun lebih tua daripada Rhie memberikannya kesempatan lebih luas untuk  mengenal dunia. Jauh lebih dulu agar bisa menuntun gadis yang satu ini.

“Jadi apa yang seharusnya kulakukan?”

“Sembuhkan dirimu, ayo mandi dan ikut aku ke gereja.”

“AKU SAKIT CHOI SIWON!!!!!”

“Aku tahu… tapi itu yang kau butuhkan. Jangan terlalu memikirkan orang lain yang menjatuhkanmu, tapi pikirkan dirimu dan orang-orang yang menyayangimu.”

Gadis itu tersenyum, pikirannya masih memproses semua perkataan namja itu. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu banyak kebenaran dari kalimat-kalimat yang dikeluarkan SiWon.

Dan ia menyadari seberapa beruntungnya dirinya. Dalam keadaan seperti ini, berantakan dan tidak layak dilihat siapapun, masih ada saja orang yang peduli akan kewarasannya.

Untuk pelajaran hidup kali ini, ia mencoba mengerti dirinya… yang tidak akan berubah karena orang-orang yang tidak menyukainya, tapi tetap bertahan untuk siapapun yang memutuskan tinggal di dalamnya.

10 thoughts on “[One Shot] This Is Life Project- I am Who I am But Need Courage

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s