[CHAPTER] My Everything – Part 4

Title : My Everything

Author : Reenesmee Potter

Main Cast : Kim Kibum (SuJu) , Im Yoona

Supporter cast : Lee Donghae, Jiyeon, Choi Minho, Bae Suzy, Choi Siwon, Kim Heechul, Lee Jinki

Genre : Romance, frienships, School Life

Length : Short Story

A/N : Semuanya adalah Author POV ^^

Part 4

Kibum mendesah kecewa. Ia pikir Im Yoona dihadapannya itu adalah Im Yoona yang selama ini ditunggunya. Yoona masa kecilnya. Ternyata yeoja dihadapannya ini tak tahu apa-apa tentang gantungan yang ia tunjukkan.

“Kau benar-benar tak mengenali ini?” tanya Kibum kecewa. Yoona mengangkat pendangannya menatap Kibum, lalu terdiam.

“Gantungannya sudah tak berbentuk, memangnya gantungan ini berbentuk apa?” tanyanya polos.

“Iini bentuknya yeoja, kau tak lihat dress yang ia gunakan?” tunjuk Kibum kesal. Yoona tertegun.

“Benar juga,” ungkapnya. “Warnanya juga sudah pudar ya,”

“Mwo? Apa katamu?” mau tak mau, harapan Kibum muncul dengan sendirinya. “Kau mengenali gantungan inikah?”

“Aku sudah lupa bentunya seperti apa, tapi aku punya pasangannya yang namja—“ Yoona menghentikan kalimatnya ketika ia meronggoh tasnya. “—dimana ya?”

“Apa?” tanya Kibum bingung.

“Gantungan itu lah,” gumam Yoona kesal. Kekesalannya memuncak ketika gantungan kesayangan yang dimaksudkannya lenyap dari tasnya. “Aish, tidak ada,”

__

“Rinnie~,” panggil Sungkyu sayang pada seorang yeoja manis berpotongan rambut bob yang sedang asyik berkutat dengan rumus kimia di bukunya. Yeoja itu mendongak, senyumnya merekah melihat siapa yang memanggilnya.

“Eonni…” sapanya lalu menutup buku yang ada di hadapannya.

“Rinnie-ya~ ini untukmu,” tiba-tiba Sungkyu menyodorkan sebuah gantungan usang berbentuk seorang namja kehadapannya. Yeoja bernama Sung Rin itu mengerutkan keningnya bingung.

“Eonni…  apa seleramu sudah turun? Mengapa memberiku gantungan yang jelek sekali rupanya seperti itu?” protes Sung Rin. Sungkyu tersenyum menenangkan.

“Kau suka Kibum oppa, kan?” tanyanya serius. Sung Rin mengangguk.

“Ne. neomu neomu saranghae,” balasnya sendu. Sungkyu menepuk bahu Sung Rin lembut dan memeberikan gantungan itu ke genggaman Sung Rin.

“Kalau kau ingin memilikinya, kau harus memiliki ini. Ini sangat berharga bagi Kibum oppa, dia memiliki pasangannya,” jelas Sungkyu. Wajah Sung Rin berbinar seketika.

“Jinchayo?”

“Ne, kalau tidak mana mungkin aku memberikan ini padamu,” ungkap Sungkyu. Hatinya mencelos. Maafkan aku Yoona-ya… ini untuk kebahagiaan dongsaengku satu-satunya…

Flashback

Sungkyu terus-terusan melirik kantong bagian depan tas Yoona. Sekarang waktunya istirahat, dan Yoona sudah menghambur ke kantin bersama Sooyoung. Sungkyu menggigit bibirnya keras, apakah ia harus melakukan ini atau tidak.

Tiba-tiba ia membangkitkan tubuhnya, dan melangkah pelan mendekati bangku Yoona. Ia meraba kantong bagian depan tasnya, membuka kancingnya dan mengambil gantungan itu dan menyembunyikannya di saku roknya secepat yang ia bisa. Bagai orang takut ketahuan mencuri, ia menutup kembali kantong tas itu dan bergegas kembali ke kursinya.

“Mianhae Yoona-ah… kau memiliki banyak waktu bersama Kibum dibandingkan dongsaengku…”

Flashback end

__

Suzy mengerutkan keningnya begitu ia baru melangkahkan kakinya ke atas trotoar. Pandangannya lurus ke depan, tepat ke pintu sebuah ruko kecil yang selalu ia datangi tiap menjelang senja. Sesosok namja nampak di depan pintu sambil mengantongi tangannya, dan sesekali mengadah ke langit.

“Nuguni?” Suzy mengangkat salah satu alisnya, dan kembali melangkah cuek menuju ke tempat itu.

Keningnya makin berkerut ketika ia mengenal sosok namja tinggi itu. ia berhenti di depan pintu dan dengan tangan yang sibuk meronggoh kunci di sakunya, matanya terus memandang namja itu lewat pantulan bayangannya di kaca pintu.

“Bae Suzy?” Suzy mengerang ketika namja itu baru menyadari kehadirannya. “Untuk apa kau di sini?” Suzy menghembuskan napasnya lalu berbalik.

“Harusnya aku yang bertanya, untuk apa kau di sini?” tanya Suzy dingin. Namja tinggi bernama Choi Minho itu menatapnya datar.

“Kau tak seharusnya berada di sini,”

“Apa hakmu mengaturku? Ah, sepertinya kau mencari Yuri eonni. Dia tak masuk hari ini, jadi kau pulang saja,” sahutnya sebal. Mata Minho membulat begitu mendengar lontaran kata-kata dari mulut Suzy.

“Yuri?”

“Nde, sejak kemarin kau mencarinya,”

“Dan kau memanggilnya eonni?” tanya Minho lagi. Suzy meliriknya tajam.

“Aku tidak mungkin memanggilnya halmoeni,” Suzy mendesah begitu gembok pintu masuk sudah terbuka. “Kau mau bengong di situ terus? Mau masuk atau pulang?” tawar Suzy. Minho termenung.

“Lebih baik aku… pulang saja,” namja itu langsung berbalik tanpa menghiraukan Suzy yang masih berdiri dengan kening bererut di depan pintu.

“Dasar namja aneh,” gumamnya.

__

“Eonni, apa lagi yang kau ketahui tentang gantungan ini?” tanya Sung Rin pada Sungkyu yang sedang membaca majalah di sampingnya.

“Itu pemberian teman kecil Kibum padanya, katanya sih sekaligus cinta pertamanya,” jelasnya singkat yang membuat Sung Rin sedikit terkejut.

“Nde? Cinta pertama?”

“Setidaknya itulah yang kutahu,” Sungkyu mengangkat bahunya. Sung Rin menatapnya dengan kening berkerut.

“Eonni tahu darimana? Tak banyak yang tahu tentang masa lalu Kibum, oppa,” tanya Sung Rin lagi. Sungkyu mendesah lalu menghempaskan majalahnya ringan ke atas meja.

“Aku… sedikit menyogok Yesung. Dia mudah di ajak bekerja sama,”

“Lalu… apa Kibum oppa masih mengingat yeoja itu?” tanya Sung Rin penasaran. Sungkyu enatap sendu gantungan yang sedang di pegang Sung Rin.

“Nde, dia masih dengan jelas mengingatnya. Nama yeoja itu Im Yoona,”

__

“Aigoo, eotthoke? Kenapa tidak ada?” Yoona mulai stress karena sedari tadi ia mengobrak-abrik isi tasnya, namun tak kunjung ditemukannya gantungan berbentuk namja usang kesayangannya. Ia mendesah frustasi, kaku menyenderkan tubuhnya ke bantal ranjangnya.

“Hanya itu satu-satunya cara aku bisa menemukan Kibum, mengapa hilang sekarang sih?” dumelnya.

“Im Yoona, diamlah barang sejenak! Kau berisik sekali!” suara bass oppanya—Niel—terdengar dari luar pintu kamarnya. Yoona mendelik kesal, dan kembali merebahkan tubuhnya.

“Haaahhh… apa aku harus menghentikan pencarianku ini? Ash, tanggung, di kehidupanku sekarang muncul lagi seorang yang bernama Kim Kibum, astaga, hidup ini rumit sekali…” desahnya keras.

__

Suzy menghentikan langkahnya ketika ia menemukan sesosok tinggi berdiri di depan pagar rumahnya. Ia mengerutkan kening, lalu melangkahkan lagi kakinya walaupun teasa ragu. Matanya perlahan melebar ketika ia mendekati sosok itu.

“Yuri eonni?” panggilnya, yang membuat wanita cantik itu mendongak dan tersenyum manis pada Suzy.

“Suzy-ah,”

“Eonni berdiri di sini sejak kapan?” tanya Suzy bingung, sementara Yuri hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

“Sejak… jam tiga sore, mungkin,” balasnya yang membuat Suzy buru-buru mengecek jam tangannya. Sekarang sudah jam setengah lima.

“Astaga eonni, kau menunggu selama itu?” ungkap Suzy kaget. “Kenapa eonni tidak masuk saja? Setidaknya ada eomma,”

“Suzy-ah, eonni mau minta tolong,” ujar Yuri tiba-tiba, membuat Suzy tercenung.

“Ya?”

“Kau mau menjaga milikku yang berharga?” tanya Yuri parau. Suzy mengerutkan keningnya bingung. “Selamanya?”

“Mwo? Selamanya?” tanya Suzy kaget. “Waeyo eonni? Ada masalah?” Yuri hanya menggeleng pelan.

“Aniya,” ujarnya lalu menyerahkan sebuah gelang rajut dari benang sulam berwarna cokelat dan putih. Suzy menatap benda itu dengan kening berkerut.

“Maksud eonni benda ini?”

“Ani. Ini sebagai tanda kau memilikinya,”

__

“Oppa!” seru seorang yeoja dari arah pintu masuk kantin. Yeoja itu tersenyum cerah, lalu melangkah menuju ke sebuah meja di salah stau sudut kantin. “Kibum oppa,” panggil yeoja beambut bob itu. sedangnyan namja yang dipanggilnya sama sekali tidak menyahut.

“Kibum-ah, tak baik menyueki yeoja seperti itu,” bisik seorang namja yang duduk di samping Kibum. Kibum hanya melirik namja itu keal, lalu mendongak menatap yeoja yang berdiri tepat di hadapannya.

“Ada apa?” tanyanya dingin. Yeoja itu menatap Kibum sambil tersenyum lebar.

“Aku hanya ingin menunjukkan ini,” ujar yeoja itu sambil menunjukkan sebuah gantungan kunci usang berbentuk seorang namja. Kibum menatap yeoja itu melas, lalu mengalihkan tatapannya ke tangan yeoja itu.

Dan matanya membulat seketika.

Greb!

“Darimana kau dapatkan ini?” tanya Kibum kaku sambil mencengkeram tangan yeoja itu. Yeoja itu merenyit heran.

“Ini milikku, oppa,” jawab yeoja itu polos, meski dalam hatinya ia meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Kibum.

“Siapa namamu?”

“Lee Sung Rin,” jawab yeoja itu sambil tersenyum kecil. Ternyata kata-kata Sungkyu eonni benar juga, batinnya.

Perlahan Kibum melepaskan tangannya, membuat Sung Rin mengerutkan keningnya heran. “Waeyo, oppa?”

“A-ani. Aku pergi dulu,” ujar Kibum singkat lalu meninggalkan Sung Rin bersama chingunya.

“YA! KIBUM!” teriak chingunya yang bernama Lee Dong Hae itu.

__

Kibum melangkah cepat menaiki tangga menuju ke kelasnya, tanpa memperhatikkan beberapa haksaeng (murid) yang menatapnya bingung. Pikiran Kibum terfokus dengan gantungan yeoja usang yang dimilikinya, yang selalu ia bawa kemana-mana sebagai harta berharga.

Bruuukkk

“Aigoo, mianhae sunbaenim,” suara seorang yeoja memekik pelan di hadapan Kibum. Perlahan Kibum merasakan kulit dadanya basah dan dingin. Ia memeriksa seragamnya, lalu mendengus. Chocolate milkshake. Kibum mendongakkan kepalanya menatap yeoja yang tak sengaja menubruknya datar. “Akan aku…”

“Tidak perlu,” jawab Kibum singkat lalu berlalu pergi, meninggalkan yeoja manis berambut cokelat lurus panjang yang masih tercengang dengan jawaban Kibum. Yeoja yang memakai name tag bae Suzy. Suzy mengacak poninya bingung, lalu menatap gelas milkshakenya yang sudah ludes.

Dengan geram ia melangkah cepat ke UKS, lalu mengambil sebuah kemeja seragam ganti yang memang disediakan dalam keadaan darurat.

Sementara Kibum mengarahkan kakinya menuju toilet namja yang ada di lantai 3, menatap bayangannya di cermin dengan poerasaan campur aduk. Ingin marah, ia sedang tidak mood marah. Akhirnya ia hanya mendesah lalu membuka kemeja seragamnya dengan mencopot dasinya dahulu, menjadikannya shirtless seketika.

Cklek…

“Sunbae.. omo!” Kibum menoleh polos, lalu melotot begitu menemukan sosok yeoja yang tadi menabraknya membuka pintu toilet namja dengan ekspresi polos lalu menutup matanya kikuk. “Mianhae sunbae..”

“Untuk apa kau kesini?” tanya Kibum dingin. suzy melepas tangannya dari pandangannya, lalu melangkah masuk dan melempar kemeja seragam cadangan sekolah ke pelukan Kibum, dan menyambar kemeja kotor milik Kibum.

“Aku bukan anak telmi yang langsung meninggalkan masalah begitu saja,” sahut Suzy dengan suara sedikit bergetar, “Jadi mungkin kemeja itu berguna untukmu,”

Kibum tertegun sambil menatap yeoja yang tengah meneliti kemejanya dengan teliti, menyadari bahwa yeoja di hadapannya ini lumayan manis. “Siapa namamu?” tanya Kibum tiba-tiba. Suzy mendongak, lalu menunjuk name tagnya.

“Bae Suzy,”

“Oh, Suzy-ssi, gomawo,” balas Kibum pelan. Suzy menatap Kibum sejenak, lalu membuka pintu toilet.

“Ne,” balasnya singkat dan segera berlalu dari hadapan Kibum.

__

Suzy menghempaskan diri di meja kelasnya dengan pandangan kosong. Tangannya masih menggenggam kemeja kotor milik Kibum yang berhiaskan noda chocolate milkshake miliknya, tapi pikirannya masih berkutat hingga pandangannya tak focus.

Suzy meraih dadanya, seketika itu juga pipinya bersemu merah. “Pertama kalinya aku melihat namja shirtless. Dan mungkin aku yeoja pertama yang melihat Kibum sunbae shirtless seperti tadi. Woahh…” dan Suzy baru menyadari jantungnya berdebar keras.

“Ternyata absnya samar terbentuk. Kyah.. keren sekali!” gumamnya sambil tersenyum kecil. Tiba-tiba senyumnya langsung berubah menjadi ekspresi shock. “Dan namaku sudah tercap jelek gara-gara insiden tadi. Huaa… aku malu saat mengembalikan ini nanti! Mana aku tidak menanyakan apa ia bersedia bila bajunya kubersihkan, Suzy paboya!”

“Suzy-ssi,” panggil seorang yeoja yang berdiri di ambang pintu kelasnya. Suzy tersentak, lalu mendongak dan terdiam menapati sosok Jiyeon sedang menatapnya datar. Cepat-cepat Suzy merapikan kemeja kotor Kibum dan memasukkannya ke dalam tas.

“Ne?”

“Ikut aku,” titah Jiyeon dingin. Suzy menaikkan alisnya tinggi-tinggi, menutup tasnya lalu bangkit berdiri.

“Eodi?”

“Ikuti saja apa kataku,” perintah Jiyeon lagi, membuat Suzy bungkam dan hanya bisa menuruti Jiyeon.

Mereka berdua melangkah ke taman belakang sekolah yang memang sepi saat istirahat itu. Suzy mengerutkan keningnya, merasa bahwa ia tak pernah mencari masalah kepada Lady of perfect di hadapannya ini, tapi ia berpikir mungkin lebih baik menuruti permintaannya daripada mencari masalah baru.

“Waeyo?” tanya Suzy ketika posisi mereka sudah agak di tengah taman. Jiyeon yang memosisikan diri di depan Suzy berbalik dan menatap Suzy dan menatapnya dalam.

“Kudengar kau dekat dengan Minho, boleh aku minta bantuanmu?” tanya Jiyeon tiba-tiba, membuat kedua bola mata Suzy hampir loncat dari tempatnya.

“MWO?!”

“Kau tidak mau?” tebak Jiyeon kecewa. Bibir Suzy bergerak-gerak tanpa suara, bingung harus menjelaskan apa.

“Bu-bukan, ta-tapi… Aku sama sekali tidak dekat dengan si Kodok Mesum itu!” seru Suzy tanpa pikir panjang. Suzy langsung menutup mulutnya menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Jiyeon melongo tak percaya.

“Kau tidak akrab dengannya, ya?”

“Tentu saja, apalagi si Ko—maksudku si Minho ss-ssunbae,” ujar Suzy gagap. Jujur, ia tak terbiasa memanggil Minho dengan sebutan ‘sunbae’ apalagi ‘oppa’. Jelas ia akan langsung menolaknya mentah-mentah.

“Tapi… kau nampak sering berdua-an dengan Minho, dan nampak akrab juga,”

“Kau melihat kegiatan kami yang bagai James Bond mengejar mafia itu sebagai salah satu kegiatan keakraban?” tanya Suzy sambil melipat tangannya. “Jika kau mau memintaku menceritakan kebiasaan si Kodok itu, apa yang ia suka ataupun itu, jelas akulah yang paling buta soal itu,” sahut Suzy. Jiyeon memiringkan kepalanya sejenak.

“Tapi Minho sering bercerita tentangmu,”

“NEE?!?!”

__

“Yoona-ya, kau tidak ke kantin? Bukankah kau hanya makan sedikit saat sarapan?” tanya seorang chingu Yoona pada yeoja cantik yang sedang bertopang dagu dan mencorat-coret buku soal kimia dengan malas.

“Ani. Aku sedang tidak mood. Kalian pergilah, aku ingin di sini saja,” ungkap Yoona pelan. Chingunya mengangkat bahu, lalu meninggalkan Yoona sendiri di dalam kelas.

“Kalau hilang, apa berarti aku harus melupakannya? Bukankah waktu itu Kibum pernah bilang seperti itu?”

…:::Flashback:::…

“Yoona-ya, gantungan yang kuserahkan padamu, harus dikembalikan padaku saat kita bertemu lagi,” ujar Kibum serius sambil menatap yeoja cilik yang duduk di sampingnya, dan balas menatapnya penuh antusias.

“Lalu, kau akan mengembalikan milikku yang itu?” tanya Yoona sambil menunjuk gantungan yang tengah di pegang Kibum. Kibum hanya mengangguk.

“Tapi kalau kau sudah melupakanku, jangan pernah menyimpan benda ini. Buang saja, biar aku yang mencarinya,” ujar Kibum tanpa berpikir, yang membuat Yoona cilik mengerutkan keningnya bingung.

“Ne?”

“Ah, kau akan tahu maksudnya saat kau sudah lebih besar,” ujar Kibum sambil tersneyum kecil. “Oh ya, kalau sudah sampai di Amerika, segera telepon aku, ya? Aku ingin tahu keadaan di sana seperti apa,” ujar Kibum lagi. Yoona mengangguk.

“Ne, oppa,”

…:::Flashback end:::…

To Be Continued…

#annyeong yeorobun! Lama banget yak aku ga update FF ini hohoh… Maf soal keterlambatannya *bow* Makasih sudah bersedia mengikuti FF abal gaje ini, kalao makin gaje ditanggung yakk hoho#plakkk

Komen dan kritiknya ditunggu yaaa~

7 thoughts on “[CHAPTER] My Everything – Part 4

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s