[Chapter 5A] Social Science

Previous Chapter ~ Teaser :: Chapter 1 :: Chapter 2 :: Chapter 3 :: Chapter 4

burninganchovy’s storyline:

“  Social Science — Chapter 5A “

DISCLAIMER :

Casts are belong to God, their families, and their entertainments.

But a whole story in this ff is MINE. So, if you want to take this FF, don’t forget to write credit ^^

AUTHOR’S NOTE(S):

Annyeonghaseyeo! Apa kabar FKI-ers? Hehehe, saya balik lagi woohoo!! Setelah berbulan-bulan sibuk sama dunia kampus, akhirnya saya balik lagi!! Here it is.. Social Science! Adakah yang menunggu FF ini? Nggak apa-apa kok kalo nggak ada juga, hehehe. Ah, iya, cuma mau bilang aja alesan kenapa ada chapter 5A, 5B, atau mungkin sampe 5Z (?). Jadi gini, selama bbrpa bulan hiatus, saya mikir kelanjutan FF ini lamaaa banget. Sempet ngalamin yang namanya writer’s block sampe akhirnya nemu ide lagi dan melanjutkan FF ini. Gak nyangka, rupanya jadi panjaaang banget padahal udh diplotkan itu cerita khusus chapter 5 doang. Jadi, saya buat chapter 5A sampe sekitar 5C-an supaya reader (yang bakal baca FF ini) nggak ngantuk bacanya, hehehe. Dan lagi, miaaan, di chapter ini mungkin saya nambah ancur karena udah lama banget nggak nulis lagi. Tanpa banyak babibu lagi, saya ucapkan… selamat membaca ya, para good reader(s)!

Recommended Songs To Listen :

KARA – Secretly, Secretly

(saya punya ide buat FF ini abis denger lagu di atas ^^)

***

~ preview from previous chapter ~

Tok-tok-tok!

Sudah sepuluh kali suara ketukan pintu itu berbunyi. Semakin lama suaranya semakin keras—temponya pun semakin cepat. Jungshin, yang baru saja hanyut dalam alam ‘bawah-sadar’-nya, seketika tersentak. Ia pun mencoba membuka mata—pandangannya masih samar, dan butuh waktu agak lama baginya untuk benar-benar mengumpulkan jiwa yang masih ‘setengah sadar’ itu.

Tok-tok-tok!!

Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, genap untuk yang kesebelas kalinya. Seakan tidak mau kompromi, kini suara ketukan pintu itu malah terdengar semakin keras dan berisik. “Aigoo~ benar-benar mengganggu ketenangan orang saja!!” protes Jungshin, yang mau-tak-mau harus segera bangun untuk membukakan pintu.

Begitu pintu dibuka, si pengetuk pintu yang tak lain adalah Minhyuk, langsung masuk ke dalam—tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Raut wajah yang tak begitu bersahabat membuat Jungshin memilih untuk tetap diam. Jungshin mengurungkan niat untuk melampiaskan kekesalannya kepada Minhyuk yang telah berhasil mengganggu kenyamanan tidurnya.

            Minhyuk berjalan ke arah dapur. Ia membuka kulkas, lalu mengambil kaleng orange juiceminuman kesukaannya. Ia pun meneguk minuman itu sampai habis, kemudian mempercepat langkah kakinya menuju kamar.

            “Apa kau tahu kalau tadi Kang Jiyoung kesini?” tanya Jungshin, spontan membuat Minhyuk berhenti.

           Minhyuk yang kini terdiam di depan pintu kamarnya, dengan ragu-ragu membalikkan badan. “A-Ara yo” ucapnya dengan suara yang sedikit serak.

        “Dia memberikan ini” lanjut Jungshin, sambil memegangi selembar foto. Minhyuk berjalan menghampiri Jungshin, lalu dengan cepat merebut foto itu—foto dirinya bersama Bang Minah. “Yaa~ apakah tidak keterlaluan kalau kau kesal kepada Jiyoung hanya karena foto itu?”

            Hening.

            “Ara yo… Aku tahu kau masih larut dalam penyesalan karena kau tak bisa membuat Minah tetap berada di sisimu, aku juga tahu kau masih kesal pada dirimu sendiri karena hal itu. Tapi… apa tidak keterlaluan jika kau melampiaskan rasa kesalmu kepada Kang Jiyoung, yang sama sekali tak tahu-menahu tentang semua cerita masa lalumu? Eo’?”

            Ucapan Jungshin berhasil membuat Minhyuk terpaku—seolah ada sesuatu yang menahan seluruh anggota badannya sehingga tak mampu bergerak. Benar. Semua ucapan Jungshin memang benar, tak ada sepatah kata pun yang bisa dibantah oleh Minhyuk. Kau benar, Jungshin. Aku memang masih menyimpan rasa kesal dan juga sesal pada diriku sendiri setiap kali bayangan Minah kembali datang. Dan yah… kau benar. Tak seharusnya aku melampiaskan semuanya kepada Jiyoung. Dia memang tak berhak untuk menerima perlakuan seperti ini.

            “Tapi kau tenang saja, Kang-Goon” bisik Jungshin, sambil tersenyum sumringah, membuat Minhyuk menatapnya kebingungan. Minhyuk mengangkat sebelah alis matanya sambil terus menanti Jungshin melanjutkan ucapannya. “Aku tahu kau akan seperti ini. Jadi, tadi aku sudah menceritakan semua cerita masa lalumu saat masih bersama dengan Minah. Lalu, aku mengatakan kepada Jiyoung kalau dirinya mirip dengan Bang Minah—“

            “MWO?!” ucap Minhyuk, setengah berteriak. Minhyuk benar-benar tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya. “Ke-Kenapa… Kenapa kau menceritakan semuanya? Lalu… Kenapa kau harus mengatakan Jiyoung mirip dengan Minah?!”

            “Memangnya, salah jika aku mengatakan hal itu?”

          “Aish…” keluh Minhyuk, yang sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran Jungshin. Bodoh! Untuk apa menceritakan masa laluku?! Hmm… baiklah, menceritakan masa lalu… mungkin kau bermaksud untuk membuat Jiyoung mengerti dan wajar akan sikapku yang keterlaluan padanya hari ini. Tapi, mengatakan Jiyoung mirip dengan Minah? Untuk apa? Untuk apa, huh, Lee Jungshin?!

            “Sudahlah, lupakan saja. Seharusnya dari awal aku tak usah mendengarkan ucapanmu. Semakin banyak saja beban pikiranku sekarang. Aku harus segera mengistirahatkan badanku…” lanjut Minhyuk, sambil berjalan lemas meninggalkan Jungshin sendirian di ruang televisi.

***

Minhyuk merebahkan badannya di atas tempat tidur. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap langit-langit kamar. Kini pikirannya telah dipenuhi oleh banyak hal; ucapan Jungshin, cerita masa lalunya, dan juga rasa bersalahnya kepada Jiyoung. Minhyuk menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali secara perlahan. Ia membiarkan segala penat yang bersarang di pikirannya itu pergi bersama nafas yang baru saja ia hembuskan. Perlahan, rasa lelah yang telah mendominasi seluruh anggota badannya itu mengantarkannya untuk segera memejamkan mata.

            Bip!—suara singkat yang disertai dengan getaran kecil berasal dari handphone Minhyuk. Ada sebuah pesan masuk. Namun, Minhyuk yang baru saja tertidur tak menyadari kehadiran pesan tersebut.

      Sampai beberapa menit kemudian, barulah Minhyuk membuka matanya kembali. Ia merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, memberi waktu pada setiap otot di badannya untuk mengalami proses relaksasi. Dengan pandangan yang masih sayu, Minhyuk beranjak bangun untuk membersihkan badannya yang telah dipenuhi oleh peluh-peluh keringat. Namun, sebelum memasuki kamar mandi—telah menjadi kebiasaan, Minhyuk akan mengeluarkan semua barang-barang yang ada di saku kemeja dan juga celananya. Dan saat Minhyuk mengeluarkan handphone dari saku celananya…

            “Eo?” Minhyuk heran ketika mendapati layar handphone-nya bercahaya. Ada sebuah pesan untukku? Dari nomor tak dikenal?, tanya Minhyuk dalam benaknya.

Minhyuk-ah, gomawo sudah mengantarkan muridmu ini pulang dengan selamat ^^

Selamat malam ^^

–Kang Jiyoung

“Kang Jiyoung–?”

Tiba-tiba saja pikiran Minhyuk kembali dipenuhi oleh ucapan Jungshin. ‘Aku menceritakan masa lalumu, lalu aku mengatakan pada Jiyoung, dia mirip dengan Bang Minah’. Minhyuk segera menggelengkan kepala, lalu mengacak-acak rambutnya. “Ck! Ini semua karenamu, Lee Jungshin! Sekarang, apa yang harus kuperbuat, huh?”

            Kini Minhyuk berjalan mondar-mandir sambil terus menatap layar handphone-nya. Ia terus berpikir keras—Apa yang harus dilakukannya sekarang? Membalas pesan Jiyoung yang terkesan singkat dan hanya sekedar basa-basi itu-kah? Atau… mengabaikannya?

            “Aku harus segera menjelaskan ucapan konyol Jungshin itu. Ya, benar. Aku harus bertemu dengannya” setelah cukup lama berpikir, akhirnya Minhyuk memutuskan untuk segera mencari alasan—agar dirinya bisa bertemu dengan Jiyoung. Dengan itu, ia bisa menjelaskan ucapan ‘non-sense’ Jungshin yang bisa saja membuat Jiyoung salah paham mendengarnya.

           Setelah menekan tombol dial pada handphone-nya, Minhyuk menunggu cukup lama. Sudah hampir tiga kali Minhyuk menelepon, namun Jiyoung tak kunjung mengangkat teleponnya. Apa dia sudah tidur?

            “Nee~ yoboseyo…

         Kali ini, sebuah suara akhirnya menyapa Minhyuk. Suaranya terdengar parau dan berat, menyiratkan dengan jelas bahwa si pengangkat telepon sedang benar-benar mengantuk.  Ah, benar… kurasa dia sudah tertidur.

       “Kang Jiyoung?” tanya Minhyuk, memastikan bahwa yang mengangkat teleponnya benar-benar Jiyoung.

            “Ya, aku Kang Jiyoung. Kau siapa?”

            “Hm…” balas Minhyuk, dengan gaya bicaranya yang tenang dan dingin. “Karena hari ini kau tidak ‘privat’ denganku, kau harus memahami materi pelajaran Kimia bab Molaritas. Lalu, jawab semua latihan soalnya. Besok akan kita bahas jawabannya sepulang sekolah di perpustakaan sekolah. Arasseo?”

            “Nee~ Arasseo, sonsaengnim~

         Begitu Minhyuk akan mematikan telepon, terdengar suara keras Jiyoung tengah meneriakkan namanya, “AIGOO!! KANG MINHYUUKK!!”. Minhyuk tersenyum kecil, lalu melempar handphone-nya ke tempat tidur. Ia pun berjalan menuju kamar mandi sambil terus memikirkan percakapan singkatnya bersama Jiyoung barusan.

            Gyeowo, gumam Minhyuk.

_______________________________________________________________________________

[CHAPTER 5A]

“Kau terlambat dua menit empat puluh tiga detik”

            Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, Jiyoung menarik sebuah kursi kemudian duduk. Ia meletakkan semua buku yang ada di tangannya ke atas meja. Sambil membenarkan poni yang masih berantakan akibat berlari, Jiyoung menjelaskan alasan mengapa ia datang terlambat, kepada seorang namja yang kini duduk berhadapan dengannya. Kang Minhyuk.

           “Mianhae, jeongmal mianhae, Minhyuk-ah” ucap Jiyoung, yang tak berani menatap Minhyuk. Ia menundukkan kepalanya. “Tadi guru Geografi di kelasku terlambat datang, jadi dia meminta waktu tambahan untuk menyelesaikan proses mengajarnya”

         “Mana tugas yang kuberikan?” tanya Minhyuk dingin, terkesan sama sekali tak peduli dengan alasan yang baru saja dikatakan Jiyoung.

            Jiyoung menyodorkan dua buah buku kepada Minhyuk; sebuah buku tulis dan sebuah buku paket pelajaran Kimia. “Jawaban dari soal-soalnya kutulis di buku ini, dan ini soal-soal yang telah kukerjakan”

        Minhyuk membuka halaman demi halaman pada kedua buah buku tersebut. Kedua bola matanya berpindah dengan cepat untuk menyesuaikan soal serta jawaban dari tugas yang telah dikerjakan Jiyoung. Setelah cukup lama memeriksa hasil pekerjaan ‘murid-privat’-nya itu, Minhyuk pun menghela nafas. “Hm…”

            “A-Ada yang salah?” tanya Jiyoung.

       “Banyak” jawab Minhyuk singkat. “Kau tahu? Ujian pertukaran program studi akan dilaksanakan tiga hari lagi. Kalau kau masih belum menguasai bab dasar seperti ini, apa kau yakin bisa berhasil? Apa kau yakin beberapa hari lagi kau akan resmi menjadi murid Science?”

            Jiyoung tertunduk malu mendengar ucapan Minhyuk yang terdengar seperti meremehkan kemampuannya. Ada apa dengannya? Ucapannya begitu ketus dan menyakitkan. Padahal, baru saja kemarin aku mengubah pemikiranku tentangnya. Apa kau memiliki kepribadian ganda, Kang Minhyuk? Dan… Yaa! Bukankah kau yang tiba-tiba meneleponku, lalu menyuruhku mengerjakan soal sebanyak itu saat aku sedang tertidur pulas, hah? Aisssh…

            “Kurasa kau terlalu menekan dirimu” lanjut Minhyuk.

        Ya, aku tahu. Maksudmu, aku terlalu memaksakan kehendakku untuk menjadi murid Science, kan? Jadi, apa sekarang kau menyuruhku untuk mundur? Yaa, apa kau ingat, siapa yang mengusulkan ide untuk mengikuti ujian seperti ini? Semua ide itu berasal darimu, Kang Minhyuk!, di dalam benaknya Jiyoung terus mengomel.

            “Kau terlalu menekan dirimu untuk terus-menerus belajar—Mm, atau… mungkin aku yang terlalu menekanmu? Apapun itu, sebaiknya…” Minhyuk menggantungkan ucapannya. Tiba-tiba saja ia beranjak dari posisi duduknya. “…Sebaiknya kau harus pergi refreshing untuk membuat pikiranmu lebih segar. Tak baik juga terus-terusan memaksa diri untuk terus berusaha dan bekerja—terutama pikiran. Otak seharusnya memiliki waktu yang cukup untuk istirahat”

            “Eh?” Jiyoung sedikit kaget mendengar ucapan Minhyuk barusan. Ia menengadahkan kepala dan menatap lurus ke arah Minhyuk yang tengah berdiri tegak di hadapannya. A-Apa yang baru saja diucapkannya? Apa dia sedang bercanda?

            “Besok kita akan pergi berkeliling ke beberapa tempat hiburan. Beritahu aku jadwal kosongmu” ucap Minhyuk, dingin. Kemudian, sambil berjalan meninggalkan Jiyoung, ia berpamitan, “Aku duluan”

 ***

Jiyoung melangkahkan kakinya menyusuri sebuah jalan sempit yang biasa ia lalui setiap pulang sekolah. Jiyoung terus berjalan pelan sambil menyenandungkan beberapa lagu kesukaannya secara acak. Sudah lima lagu yang Jiyoung nyanyikan, tapi tak satupun dari lagu itu bisa dinyanyikannya dengan benar. Hati dan pikirannya sedang tidak sinkron. Hati dan pikirannya kembali berkecamuk—membuat Jiyoung teringat akan ajakan yang dilontarkan Minhyuk saat berada di perpustakaan tadi.

            “Aish, jjinja. Lagi-lagi memikirkan hal itu. Tapi… yang tadi itu… benar Kang Minhyuk, kan? Tsk! Aku baru tahu orang seperti dia sempat juga memikirkan waktu untuk refreshing. Dia menyuruhku untuk refresh—Ah, bahkan mengajakku untuk refreshing besok bersamanya! Padahal ujian pertukaran program studi akan dilaksanakan tiga hari lagi, kalau dihitung dari hari ini. Aish, aneh sekali~ Apa yang sebenarnya dia pikirkan, hah?” gumam Jiyoung sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tak gatal.

            Dalam hitungan detik, ekspresi datar Jiyoung perlahan berubah. Mata indahnya kini mulai menjelajah ke segala arah. Bibirnya dikerucutkan. Gerak-gerik tubuhnya memang tak bisa berbohong. Sepertinya ada sesuatu yang tengah ia pikirkan dengan begitu keras. Emm… besok kan hari Sabtu, pasti pulang sekolah akan lebih cepat. Bagaimana kalau jalan-jalannya sore saja? Eh, tapi… bagaimana harus meminta ijin pada Eomma dan juga Appa, terlebih lagi… kalau mereka tahu aku berjalan-jalan bersama seorang namja?

Jiyoung justru sibuk memikirkan kapan waktu yang tepat untuknya dan Minhyuk mengitari beberapa tempat hiburan—yang disebut Minhyuk sebagai kegiatan refreshing—untuk membuat otak lebih rileks sebelum mereka berdua dihadapkan dengan ujian pertukaran program studi.

            “Yah! Kenapa kau malah sibuk memikirkan hal itu, Kang Jiyoung?!” seru Jiyoung yang mengomeli dirinya sendiri, sambil berulang kali menampar pelan kedua belah pipinya. “Aish, dasar kau, Kang Minhyuk! Semalam kau membangunkanku, lalu menyuruhku mengerjakan soal-soal Kimia dalam jumlah yang saaangat banyak… dan kau bilang akan membahas semua soal-soal tersebut hari ini sepulang sekolah di perpustakaan. Tapi… Tapi… kau malah bilang, ‘Besok kita akan pergi berkeliling ke beberapa tempat hiburan. Beritahu aku jadwal kosongmu’ lalu pergi begitu saja! Tahu seperti ini, seharusnya… saat ini aku sudah pulang bersama Sulli dan makan eskrim kesukaan kami berdua—“

            Jiyoung yang tengah mengomel panjang-lebar itu tiba-tiba menutup rapat mulutnya, begitu menyadari kehadiran sebuah motor besar yang tengah berhenti tepat di hadapannya. Si-Siapa orang itu? Apa dia memang sengaja memberhentikan motornya tepat di hadapanku seperti ini? Mengagetkan saja…, pikir Jiyoung sambil berusaha mengenali si pengendara motor yang memakai helm full-face itu. Aigoo! Mungkin… dia preman? Atau… pencuri? Aish, eottokae yo?!

            Seakan tahu Jiyoung takut dengan kehadirannya, si pengendara motor pun membuka kaca helm, kemudian membentuk sebuah lengkungan pada matanya. Sepertinya ia tengah tersenyum padaku, ujar Jiyoung yang kini memberanikan diri untuk menghampiri si pengendara motor besar yang misterius itu. “Nu… Nuguseyo?” tanya Jiyoung, dengan sedikit rasa takut.

        “Eoh? Kau tidak mengenalku?” balas si pengendara motor. Tak lama kemudian si pengendara motor itu membuka helmnya, dan lagi, tersenyum kepada Jiyoung.

            “Ju-Ju-Jung… Jung Jinyoung-ssi?” ujar Jiyoung terbata-bata.

            “Sekarang kau sudah mengenalku, kan? Hahaha, untunglah kau masih ingat denganku” balas Jinyoung, masih dengan senyuman ramah yang melekat pada wajahnya. “Aku baru pulang latihan basket dan melihatmu jalan sendirian. Jadi, aku mengikutimu”

         “MWO?” tanya Jiyoung dengan suara yang sangat keras, namun dengan cepat membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya. “Ja-Jadi… kau mendengar semua yang kuucapkan tadi?”

            Jinyoung menganggukkan kepalanya. “Semuanya. Mulai dari ‘Yang tadi itu benar Kang Minhyuk, kan?’ sampai ‘Seharusnya saat ini aku sudah pulang bersama Sulli dan makan eskrim kesukaan kami berdua’. Hahaha”

            Wajah Jiyoung memerah dan memanas. Kakinya pun mulai lemas. Memalukan! Apa yang harus kulakukan sekarang?

            “Tenang…” lanjut Jinyoung. “Aku tidak akan memberi tahu kalau ada seorang murid perempuan Haknam High School yang suka berbicara sendiri saat pulang sekolah. Hahaha… Ayo, sekarang kuantar kau pulang”

            “A-Ah, tidak usah… Biar naik bus sa—“

            “Sudah hampir malam” potong Jinyoung, yang langsung memakaikan sebuah helm kecil kepada Jiyoung. Jinyoung menggerakkan dagunya—mengisyaratkan Jiyoung untuk segera naik ke atas motornya. Dengan malu-malu, Jiyoung pun kini duduk berboncengan bersama Jung Jinyoung—pangeran tampan yang selama ini menjadi pujaan hatinya.

Karena tak tahu harus berbuat apa ditengah situasi kikuk saat bersama Jinyoung, Jiyoung pun memilih untuk sibuk memainkan jari jemarinya, menyentuh layar handphone—mengetik sebuah pesan untuk Sulli.

Choi Sulli. Aku tak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi. Kau tahu? Kyaaa…!! Sekarang aku duduk berboncengan dengan Jung Jinyoung. Sekarang aku bisa melihat punggungnya dengan jelas. Aku juga bisa melihat rambut pirangnya yang agak panjang, persis mengenai kerah kemeja seragamnya.

“Sepertinya kau bersahabat baik dengan Kang Minhyuk…”

            Setelah beberapa menit diselimuti dengan suasana hening, akhirnya Jinyoung membuka mulutnya untuk mengajak Jiyoung mengobrol. Jiyoung, yang mendengarkan ucapan Jinyoung barusan, langsung terbatuk-batuk—terlebih saat mendengar nama Kang Minhyuk disebut—dan spontan memasukkan handphone-nya ke dalam tas.

     “Gwenchana yo?” tanya Jinyoung, yang panik mendapati Jiyoung terbatuk-batuk di belakangnya.

            “G-Gwenchana yo, hehehe” balas Jiyoung terkekeh.

            “Kau nampak begitu nyaman bersama Minhyuk”

            “Jung Jinyoung-ssi…”

            “Ah, Kang Jiyoung, rumahmu dimana? Sebenarnya, setelah tempat perhentian bus ini, aku tak tahu lagi rute jalan menuju rumahmu, hehehe”

            Jiyoung mengurungkan niatnya untuk menanggapi ucapan Jinyoung yang benar-benar tak terduga barusan. Begitu Jinyoung memintanya untuk menunjukkan rute jalan menuju rumahnya, Jiyoung menurut—ia menjelaskan secara detail setiap jalan yang harus dilalui untuk sampai ke rumahnya. Namun, dengan ragu-ragu, Jiyoung meminta Jinyoung untuk menurunkannya di sebuah belokan yang terletak di samping rumahnya. Jiyoung khawatir kalau seisi rumahnya tahu ia dibonceng oleh seorang namja saat pulang nanti.

            “Go-Gomawo, Jung Jinyoung-ssi…” ujar Jiyoung, begitu turun dari motor Jinyoung, sambil membungkukkan sedikit badannya.

            “Ne…” Jinyoung dengan cepat membalas perkataan Jiyoung. Selang beberapa detik kemudian, Jinyoung membuka kaca helmnya dan menatap Jiyoung dalam-dalam. Jiyoung, yang merasa tidak enak karena tatapan mata Jinyoung yang begitu tajam kepadanya, langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah—yang penting matanya tak bertemu dengan mata Jinyoung. “Kang Jiyoung… Sebenarnya… Aku juga ingin kau merasa nyaman saat di dekat—Ah, tidak, lupakan saja. Ma-Maaf, sepertinya aku kelelahan, jadi berbicara seperti ini…tidak karuan. Hm, kau tak langsung masuk ke rumahmu?” tanya Jinyoung kemudian.

            “A-Ah, baiklah… Aku masuk dulu ke rumah. Terimakasih sudah mengantarkanku, Jung Jinyoung-ssi. Sekali lagi… terimakasih” balas Jiyoung, yang berkali-kali membungkukkan badannya sambil terus berjalan meninggalkan Jinyoung.

            Aku mulai nyaman berada di dekatmu. Bisakah kau merasakan hal yang sama saat di dekatku?, ucap Jinyoung di dalam hatinya sambil terus memperhatikan Jiyoung yang berjalan meninggalkannya.

***

Sesampainya di rumah, tanpa banyak basa-basi, Jiyoung langsung masuk ke kamarnya. Ia berdiri di balik jendela kamarnya, untuk melihat apakah Jinyoung sudah pulang atau belum. Hm, sudah pulang. Seluruh jalan kecil yang ada di sekitar rumahnya terlihat sepi, tak satupun kendaraan melintas di beberapa jalan kecil itu. Sejauh matanya memandang, Jiyoung pun menyimpulkan bahwa Jinyoung telah pulang.

Jiyoung ‘membanting’ badannya ke atas tempat tidur. “Haaaah” ucapnya saat berbaring di atas kasur empuk itu. Tanpa disadari, senyuman tersirat di wajahnya. Ia pun mulai mengingat peristiwa ‘bersejarah’ yang terjadi hari ini—saat-saat dirinya bisa pulang bersama Jung Jinyoung, murid Haknam High School yang terkenal seseantro sekolah karena wajah good looking serta kepribadiannya yang ramah, murid yang selalu menjadi motivasi Jiyoung untuk berusaha dengan keras agar bisa masuk ke kelas Science, dan juga… murid yang telah menjadi pujaan hati Jiyoung sejak ia menginjakkan kakinya di Haknam High School. “Aaaa… A-Apa kata-kata itu benar keluar dari mulutnya? Sikapnya aneh. Kenapa dia menanyakan soal kedekatanku dengan Minhyuk? Omo! Apa mungkin dia cemburu? Hahahaha, yah, Kang Jiyoung!! Kau terlalu banyak berkhayal! Mana mungkin seorang bintang sekolah seperti Jinyoung menyukaimu? Dia bersikap baik kepada semua orang, Kang Jiyoung!”

DRRTT…DRRTT… Gyeonara gyeonara! Five six seven eight!

            “Ah, ada telepon” gumam Jiyoung, yang kini mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk. Ia mengacak isi tasnya dan mengambil benda mungil berwarna pink. Ia menatap layar handphone-nya. Genius Kang Minhyuk, begitulah sebuah nama yang ada pada layar handphone milik Jiyoung. K-Kang Minhyuk? Dia meneleponku?

Yoboseoyo…?” ucap Jiyoung, saat mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Minhyuk.

“Karena kau belum juga mengirimkan pesan, aku meneleponmu untuk memastikan kapan kita akan pergi refreshing. Besok, dua jam sepulang sekolah, di Taman Duryu” balas Minhyuk, tanpa banyak ba-bi-bu. “Bagaimana?”

“A-Ah, ne” ucap Jiyoung yang tanpa sadar mengiyakan perkataan Minhyuk. Eh? Kenapa begitu cepat aku mengiyakan keputusan yang telah dibuatnya secara sepihak? Aissh, pabo!

Tak berapa lama kemudian, sebuah suara kecil berbunyi—menandakan bahwa panggilan aktif dari Minhyuk telah terputus. Ya, Minhyuk telah menutup teleponnya. “Yaaa yaaa~ Lihat namja ini… Benar-benar tak bisa ku mengerti apa yang sedang dipikirkannya” protes Jiyoung, saat tahu Minhyuk telah memutuskan teleponnya tanpa pamitan terlebih dulu. “Setidaknya kau mengucapkan ‘annyeong’ atau ‘sampai jumpa besok’. Seandainya kau bisa bersikap lembut seperti Jinyoung, mungkin kau juga bisa menjadi bintang sekolah. Diidam-idamkan oleh setiap murid perempuan, terkenal, ya… seandainya saja kau begitu, Kang Minhyuk. Aish, sekarang apa lagi yang kau pikirkan, Kang Jiyoung?!”

______________________________________________________________________________

Keesokan harinya

KRIIINGG!! Begitu bel yang menandakan waktu pulang sekolah berbunyi, Jiyoung langsung bangun dari tempat duduknya dan menarik Sulli untuk bergerak mengikutinya. “Yaa Jiyoungie~ Ada apaa?” tanya Sulli, yang bergerak lemas mengikuti sahabatnya itu. Jiyoung tak menjawab—ia tetap membungkam mulutnya sampai melewati gerbang sekolah.

            “Hah, selamat” ucap Jiyoung, sambil melepaskan tangan Sulli. “Hehe, mian, Sulli-ah. Apa aku menarikmu terlalu kuat tadi?” lanjutnya, yang mulai khawatir begitu melihat wajah lemas Sulli.

            Sulli memicingkan matanya dan balik bertanya kepada Jiyoung, “Kau ini… Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku, eo?”

            “Sebenarnya… Hari ini, emm, tepatnya dua jam ke depan ini… Aku akan pergi bersama Minhyuk ke beberapa tempat untu—“

            “Woaah! Kencan?!”

            “Ssst” dengan cepat Jiyoung menaruh telunjuknya di bibir Sulli. “Bukan”

            “Lalu?” tanya Sulli.

            “Minhyuk bilang kalau selama ini sepertinya aku terlalu menekan diriku sendiri untuk bisa masuk ke kelas Science. Dan dia mengajakku untuk refreshing ke beberapa tempat hiburan… Jadi, rasanya aneh saja kalau aku bertemu dengannya di sekolah hari ini sementara beberapa jam lagi kami juga akan bertemu” cerita Jiyoung. “Huh, padahal kau tahu kan, Sulli-ah? Yang mengajakku untuk mengikuti tes pertukaran program studi ini adalah dia—Kang Minhyuk!”

            Sulli mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Mungkin… karena itulah dia mengajakmu pergi jalan-jalan. Dia merasa bersalah karena telah mengajakmu untuk mengikuti tes pertukaran program studi yang sudah terlalu menekanmu untuk terus-terusan belajar. Dia khawatir padamu, Jiyoungie~” ujar Sulli, sambil menggoda Jiyoung yang tengah tersipu malu mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulutnya.

            “Jadi… sekarang kau pilih siapa?” tanya Sulli lagi.

            “Eh?”

            “Antara Jung Jinyoung dan Kang Minhyuk… Kau pilih siapa?”

            Jiyoung terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan sederhana yang diberikan oleh sahabatnya, Sulli. Rasa heran pun datang menghampirinya. Kenapa sekarang aku malah terdiam seperti ini? Bukankah dulu pertanyaan seperti itu akan mudah kujawab ‘Tentu saja Jung Jinyoung’? Tapi… kenapa sekarang aku terdiam?

            “Kau pilih siapa, Jiyoung-ah?” sekali lagi, Sulli mengulang pertanyaannya sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Jiyoung.

            “Molla~” jawab Jiyoung pelan.

            “Yaaa!! Kau sudah menyimpan perasaan untuk Minhyuk, kan?!” seru Sulli, yang kemudian berlari meninggalkan Jiyoung.

            “CHOI SULLIIII!!!”

~ to be continued ~

__________________________________________________________________________________

Gimana ceritanya? Makin jelek ya? TT_TT

Maaf kalo masih terkesan kependekan, masih ada chapter 5B kok hehehe XDD

P.S : Komen, saran, kritik, masih akan (terus) saya terima dengan sangat-sangat lapang dada ^^

25 thoughts on “[Chapter 5A] Social Science

  1. Aku yang pertama!!!makasih ya chingu udah mau lanjutin cerita ini.bener-bener thank you.
    Si jjing bingung nih dengan perasaannya ya??hahaha
    Semangat chingu buat post ff ini sampai tamat ya

    • Gomawo udh baca & komen ^^
      Iya nih, si jjing mulai bingung diantara dua pilihan :D
      Sipp, semoga ga kena writers block lagi yah, jd bs ditamatin ini FF :D

  2. author…
    akhirnya update juga stelah berabad-abad(?) gak update..
    seneng!!! >._<
    semangat terus ya ngelanjutin chapter2 berikutnya moga tambah seru..
    fighting!! ^^

    • hehehe mian chingu~ iya nih udah hiatus berabad-abad~
      sipp, terimakasih selalu membaca dan mengkomen (?) ff social science ini^^

  3. hai .
    Aku new reader disini ^^
    suka deh baca ff yg ini , ceritanya lucu , bikin senyam senyum sendiri kalo lg baca ff ini . Hhe xD .
    apalagi liat tingkahnya jiyoung . Hhe ,
    Cepet2 diupdate yaa , ceritanya . Hhe^^

  4. Eonnie, kok part 5Bny blum dilanjutin???
    Daebak bgt part ini… ah, pengennya sih ma Jinyoung aj, biar Minhyukny sama ak XD
    lanjut ya eon ^^

    • Hehehe mian harus nunggu ya chingu, karena kebetulan udah jadi mahasiswa tingkat akhir nih ^^ jadi agak sibuk hehehe..

      Andwaaeee~ Minhyuk sama aku ajaa XDD

      Gomawo udah baca ya, anyway :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s