[Freelance] Bleeding Heart Part 2

Bleeding Heart Part 2

 

 

Tittle : Bleeding Heart Part 2

Author : Kang Je-Hoon

Cast : Lee Hyuk-Jae, Kim Hyun-Hee

Other Cast : Hyuk-Jae Eomma + Appa , Hyun-Hee Eomma + Appa

Genre : Romantic, Family

Length : 6 Part

Rating : PG-15

 

Annyeonghaseyo.. :)

Ini FF kedua aku, semoga pada suka yaa,, Kamsahamnida… :)

 

Author  POV

 

=-=

Esok harinya Hyun-Hee memesan jjajangmyeong. Tapi ia tidak ikut makan. Ia tidak berselera makan. Nafsu makannya memang sangat buruk. Sangat sulit baginya untuk makan teratur. Terdengar seperti anak kecil. Tapi memang begitulah Hyun-Hee. Apalagi sekarang suasana hatinya sedang buruk. Dijamin 100% ia tidak akan makan.

Malamnya Hyun-Hee memesan pizza untuk Hyuk-Jae. Ia bingung akan memasak apa, jadi ia memutuskan untuk memesan pizza.

Hyuk-Jae pulang dan kembali mabuk. Ia langsung menuju meja makan.

Ia menyadari bahwa Pizza yang ada di meja makan itu paket untuk 1 orang. Hyuk-Jae menjadi tambah curiga kalau Hyun-Hee tidak makan hari ini.

Pagi harinya Hyuk-Jae menemukan nota jjajangmyeong untuk 1 porsi dan telah dimakannya. Ia juga tidak menemukan ada piring kotor atau sesuatu yang dibuang di tempat sampah. Dan kali ini Hyuk-Jae benar-benar yakin kalau Hyun-Hee tidak makan.

Hal ini bukan membuat Hyuk-Jae khawatir dengan Hyun-Hee, tapi ia malah marah karena Hyun-Hee yang bersikap merepotkan.

“Hey! Kesini kau” panggil Hyuk-Jae tanpa menyebut nama Hyun-Hee.

Hyun-Hee yang mendengar itupun langsung bergegas ke dapur.

“Ada apa Hyuk-Jae ssi?”

“Hari ini kau makan apa?” Tanya Hyuk-Jae dengan nada datar.

Hyun-Hee terkejut dengan pertanyaan itu. Ia terlihat gelagapan menemukan jawaban

Tiba-tiba mata Hyuk-Jae menatap Hyun-Hee dengan tajam dan Hyun-Hee tambah gugup. Sangat gugup sama seperti kemarin saat kena marah oleh Hyuk-Jae.

“emmm,, aku .. aku tentu saja makan jjajangmyeong dan pizza sama sepertimu”

Lalu dengan cepat tangan Hyuk-Jae mencengkeram pundak Hyun-Hee. Hyun-hee sangat kaget dan matanya pun melebar. Hyuk-Jae tambah memelototinya, membuat Hyun-Hee takut dan memejamkan matanya.

“Geotjimal? Wae? Wae Ameogeo??” suara Hyuk-Jae yang kencang membuat Hyun-hee merasakan kaget dan takut yang luar biasa. Ia menunduk dan tidak tahu harus bicara apa. Ia merasa ingin ditelan bumi sekarang juga.

Lalu Hyuk-Jae melepaskan cengkeramannya dan berpindah ke rahang Hyun-hee.

“ hey, kalau kau ingin mati, aku takkan peduli. Tapi jangan di sini..!! mati saja di luar sana. Jangan menyusahkanku!! Bodoh!! Apa kau ingin sakit dan mendapat perhatian? Dasar pengemis!”

Mendengar perkataan itu Hyun-Hee membuka matanya dan sedikit melototi Hyuk-Jae harena tidak percaya Hyuk-Jae bisa mengatakan hal seburuk itu.

“Kenapa kau sekasar itu? Kau membuatku..”

Belum selesai berkata-kata. Hyuk-Jae langsung menampar pipi kanan Hyun-Hee dengan punggung telapak tangannya. Tamparan yang sangat keras. Hyun-Hee pun sampai terjatuh. Dahinya mengenai sudut meja dapur dan sobek.

Namun Hyuk-Jae hanya lewat tanpa menghiraukan Hyun-Hee. Hyuk-Jae tidak berfikir bahwa Hyun-Hee dahinya sobek. Yang ia kira dahinya terantuk saja. Maka dari itu ia tidak menghiraukannya, ditambah dengan suasana hatinya yang sedang marah pada Hyun-Hee.

 

Ketika Hyuk-Jae menaiki tangga, Hyun-Hee baru sadar bahwa dahinya mengeluarkan banyak sekali darah. Dahinya sangat sakit. Apalagi sudut bibir kananya berdarah akibat tamparan keras itu. Tanpa berpikir panjang ia langsung keluar rumah dan berjalan kearah klinik. Untungnya di sekitar rumah itu ada sebuah klinik kecil.

 

=-=

Hyun-Hee sudah sampai di rumah dengan dahi yang di perban dan bibir yang memar. Setelah menutup pintu ia menyandarkan tubuhnya di belakang pintu dan terduduk lemas di lantai. Lalu air matanya yang sedari tadi tertahan pun teurai. Ia menangis tersedu-sedu. Sambil memegangi pipinya yang sangat sakit. Dan sesekali memegangi dadanya. Karena sakit hati dengan apa yang terjadi. Tidak pernah rasanya menjadi manusia yang dianggap sehina ini. Pikiran-pikiran mengenai orang tuanya semakin terbayang. Ia semakin rindu dan inginkan orang tuanya kembali. Ia jauh lebih bahagia hidup dengan rumah yang sangat kecil dari pada rumah yang sangat mewah ini.

Ia terus bertanya kepada Tuhan mengapa Ia mengambil kedua orangtuanya. Ia berfikir dan menangis terus. Ia bertanya tanpa ada yang menjawab. Ia terus bertanya. Sampai ia merasakan sakit dan sesak di dadanya jauh lebih sakit dibandingkan luka fisiknya.

=-=

Hyun-Hee menangis semalaman dan tertidur di belakang pintu. Lalu bangun pagi-pagi untuk memasak.

Setelah memasak, Hyun-Hee menuju kamar gudangnya dan sedikit mengintip ke dapur melihat apa yang Hyuk-Jae lakukan.

Hyuk-Jae tampak seperti orang biasa, tapi Hyun-Hee tetap takut. Selesa sarapan, Hyuk-Jae langsung pergi. Matanya sama sekali tidak melirik mencari keberadaan Hyun-Hee. Sepertinya ia memang tidak menganggap adanya Hyun-Hee di rumahnya. Lagipula Hyun-Hee tidak mau Hyuk-Jae tahu kalau dirinya terluka akibat semalam. Bagi Hyun-Hee cukup rasa sakit itu. Ia tidak mau memperpanjang masalahnya dengan  Hyuk-Jae.

“fiuuhhh” desah panjang Hyun-Hee yang lega melihat Hyuk-Jae meninggalkan rumah.

 

Kali ini Hyun-Hee makan. Ia kapok dengan apa yang dilakukannya. Karena tidak makan maka ia harus kesakitan. Ia sudah dewasa. Walaupun baru 19 tahun. Tapi statusnya sekarang adalah sebagai isteri. Ia harus dewasa dan bisa mengurus diri sendiri.

Setelah makan Hyun-Hee mengerjakan pekerjaan rumah. Sekitar pukul 15.00 pekerjaannya selesai. Karena suasana hatinya sedang sangat buruk, maka ia memutuskan untuk pergi keluar rumah sebentar. Hyun-Hee sangat suka jalan-jalan. Biasanya kalau ia sedang sedih, lalu berjalan-jalan sebentar, maka suasana hatinya akan membaik.

Hyun-Hee hanya jalan-jalan sekitar rumah. Tapi tiba-tiba ada bus yang lewat. Hyun-hee tersenyum dan memutuskan untuk naik bus itu. Ia tahu bahwa bus itu akan menuju jalanan yang ramai dengan orang berjualan. Banyak barang bagus yang murah. Hyun-Hee selalu membeli baju di situ. Hyun-Hee  tidak suka dengan baju yang mewah. Terlalu mencolok. Ia akan merasa aneh bila berada di toko mewah. Sebaliknya Hyun-Hee sangat nyaman berbelanja di sini.

“hay Hyun-Hee.” Suara seorang Namja yang tidak asing di telinganya itu tiba-tiba terdengar.

Suara itu adalah suara mantan pacarnya. Namja itu selalu mengejar Hyun-Hee. Kalau Hyun-Hee belum menerimanya, maka ia tidak akan berhenti berusaha. Karena Hyun-Hee kasihan dan merasa tidak nyaman dengan sikap Namja itu. Maka Hyun-Hee mau menjadi pacarnya. Lambat laun, Namja itu merasa kalau Hyun-Hee benar-benar tidak mencintainya. Karena rasa sayang yang mendalam, maka Namja itu melepaskan Hyun-Hee.

Dan sekarang tiba-tiba Hyun-hee mendengar suara itu sejak sekian lama tidak didengarnya. Hyun-Hee menoleh ke belakang dan melihat mantannya itu. Mantanya tersenyum kepadanya.

“lama tak berjumpa, aku sangat merindukanmu. Kabarnya kau telah menikah? Bagaimana kabarmu?” Tanya Namja itu bertubi-tubi.

“ohh,, iya, aku sangat baik. Betul, aku sudah menikah. Bagaimana kau tahu? Bagaimana kabarmu sekarang?” jawab Hyun-Hee sambil membalas senyum mantannya itu.

Rasanya sudah lama sekali ia tidak tersenyum seperti itu. Jelasnya setelah menikah.

“tentu saja aku tidak baik. Aku telah kehilanganmu.” Kata mantannya itu. Ia tersenyum dengan gampangnya. Berbeda dengan isi hatinya yang tercabik-cabik. Ia masih sangat mencintai Hyun-Hee. Sampai saat ini. Ia memang sudah memutuskan untuk melepaskan wanita yang sangat dicintainya itu. Agar ia bisa bahagia. Tapi sebenarnya ia ingin Hyun-Hee bahagia bersamanya. Bukan dengan Namja manapun. Tapi tak apa. Namja itu tak ingin merusak suasanya hati Hyun-Hee. Ia sangat bahagia melihat senyum Hyun-Hee.

‘Sebentar, ada apa di bibir Hyun-Hee? Mengapa bibirnya memar? ‘ batin Namja itu yang melihat ada yang aneh di wajah Hyun-Hee.

Hyun-Hee senang mendengar kalau mantannya itu bahagia sekarang. Awalnya ia takut kalau mantannya itu akan sulit menjalani hidup. Karena dulu selalu mengejar Hyun-Hee. Tiba-tiba tangan mantannya itu menyentuh pipinya. Dan berkata

“Hyun-Hee, mengapa bibirmu memar?”  ‘Astaga, Namja ini tak boleh tahu apa yeng terjadi denganku. Aku harus menghindar. Aku tak mau membuat masalah ataupun menyulitkan  Hyuk-Jae.’ Batin Hyun-Hee dengan panik di dalam hatinya.

“ Oppa , maaf, aku harus pulang. Hyuk-Jae Oppa sedang menungguku.” Lalu Hyun-Hee pun pergi. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menghindar dari mantan kekasihnya itu.

 

Ketika di jalan saat akan pulang, Hyun-Hee kembali teringat dengan kata-katanya yang mengatakan bahwa  Hyuk-Jae sedang menunggunya. Ia tertawa sedih. ‘Sejak kapan  Hyuk-Jae menungguku pulang? Yang ada hanya kebencian yang mendalam padanya. Entah sampai kapan perasaan benci itu akan ada. Mungkin sampai aku pergi. Sampai aku tak lagi menjadi istrinya. Ataukah sampai aku mati nanti. Begini malangkah nasibku?’ pikir Hyun-Hee dalam hati yang cukup mengorek luka hatinya.

=-=

Hyuk-Jae sedang mengemudi di jalanan yang lumayan ramai. Tiba-tiba ia melihat sosok wanita yang dikenalnya. Sepertinya itu Hyun-Hee. Sebenarnya ia ingin mengabaikannya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia melihat Hyun-Hee senyum pada seorang Namja di depannya. Senyum yang tulus dan hangat.

‘Tapi, semenjak aku mengenal Hyun-Hee, aku tidak pernah melihatnya senyum begitu? Apa artinya ini? Apa ia sedang berselingkuh? Berani sekali dia. Aku melihat lagi. Sekarang Namja itu memegangi pipi Hyun-Hee. Seolah-olah berhak melakukanya. Brengsek! Beraninya ia berselingkuh dibelakangku. Kalau ada wartawan yang lewat bagaimana? Ini akan menjadi masalah yang besar buatku. Dasar gadis bodoh. Maunya di pegang-pegang oleh Namja tak tahu malu. Seharusnya ia mengikuti berita terbaru. Bahwa Hyun-Hee adalah milik Hyuk-Jae. Bodoh. Kalian berdua bodoh. ‘ batin Hyuk-Jae.

Karena emosi, maka Hyuk-Jae pulang. Ia bersiap untuk memarahi Hyun-Hee.

=-=

Hyun-Hee POV

Hari sudah sore menjelang petang. Sudah tidak ada kendaraan yang menuju ke rumah. Aku juga tak mau naik taksi. Karena akan menghabiskan uang belanjaku. Maka kuputuskan untuk jalan kaki. Cukup jauh untuk sampai di rumah. Sekitar 1 jam, mungkin aku akan sampai. Sudah setengah perjalanan tapi matahari sudah tenggelam. Bagaimana ini?  Hyuk-Jae pasti marah kalau aku pulang terlambat. Aku mempercepat langkah. Kasihan  Hyuk-Jae. Di rumah belum ada makan malam.  Hyuk-Jae ssi,, maafkan aku.

Akhirnya sampai juga. Kakiku lumayan pegal. Aku membuka pintu dan menempatkan sepatuku dan mengenakan sandal rumah. Saat masuk ke pintu dalam rumah, aku melihat  Hyuk-Jae. Tatapan matanya menakutkan.

Sepertinya  Hyuk-Jae benar marah terhadapku. Oh God. Apa yang harus aku lakukan.

Aku tahu. Aku harus diam. Apa yang dilakukannya, aku hanya harus diam. Aku akan terima semua itu. Aku tidak akan melawan. Aku hanya harus diam. Aku berusaha memasang tampak tenang dan tidak takut.

“Dari mana kau? Mengapa baru pulang?” suara keras  Hyuk-Jae terdengar.

Oh God, mendengar suara itu membuatku merinding. Seolah-olah tak dapat berfikir. Aku takut. Sangat takut. Bagaimana ini? Aku tak dapat berfikir. Apa yang harus kukatakan?

“Jawab!!!!! Bukankah kau punya ponsel? Mengapa tidak menghubungiku? Hah? Jawab!!!!” bentak  Hyuk-Jae.

Aku terlalu kaget untuk berfikir apa yang sebaiknya kukatakan. Maka dengan reflek dan memejamkan mata aku menjawab. “ aku punya, Dan jika bisa aku ingin menhubungimu  Hyuk-Jae. Tapi masalahnya sekarang aku tidak mempunyainya lagi. Ponselku sudah jatuh saat di Bali. Hyuk-Jae ssi sendiri yang menjatuhkannya.”

Kening Hyuk-Jae berkerut. Sepertinya ia berfikir dan mengingat apa yang terjadi dulu.

Tiba-tiba raut wajahnya berubah seolah ingat, lalu mententeng kerah bajuku seolah-olah aku adalah Namja yang akan berkelahi dengannya. Aku memejamkan mataku dan menunduk.

“ apa maksudmu? Kau menyalahkanku? Sudah berani denganku? Kau pikir siapa dirimu?”

Deg. Lagi-lagi kata-katanya itu menyakitkan hati. Aku takut, binggung, ingin nangis, sakit. semua bercampur jadi satu. Aku menyesal telah berkata seperti itu. Mengapa tadi aku tidak berkata yang lebih baik atau tidak mengatakan apapun. Aku menyesal. Bagaimana ini? ‘Eomma, Appa, Salyeojuseyo… L’

“tidak, tidak  Hyuk-Jae ssi . Aku tidak menyalahkanmu. Aku sama sekali tidak…” belum selesai bicara, Hyuk-Jae sudah membentak

“Diam kau!!!!” Hyuk-Jae menampar pipiku dengan keras. Karena tangan Hyuk-Jae masih menenteng kerahku, maka aku tidak jatuh dan masih berada di genggaman tangannya. Aku berani bertaruh kalau saja kerahku tidak di tenteng oleh Hyuk-Jae, aku pasti jatuh terkapar. Tamparan yang sangat keras. Lalu Hyuk-Jae menampar pipi sebelahnya dengan keras juga. Lalu berkata “ini karena kau terlambat” tiap kata yang diucapkannya didahului dengan tamparan yang keras.

PLAKK “ini karena kau pulang terlambat”

PLAKK “ini karena kau menemui Namja lain”

PLAKK “ini karena kau senyum padanya”

PLAKK “ini karena kau membiarkan pipimu disentuh olehnya”

Setelah begitu banyak tamparan, Hyuk-Jae pergi meninggalkanku yang beku kesakitan. Sepertinya ia sudah puas menyiksaku.

 

Author  POV

Hyun-Hee sangat kesakitan. Ia seperti habis dirampok dan dipukuli sampai babak belur. Tidak jauh dari itu. Sekarang ia memang sudah babak belur. Entah seperti apa rupa bibir Hyun-Hee. Apakah sobek atau tidak Hyun-Hee pun tak tahu. Yang ia tahu hanyalah rasa sakit yang luar biasa. Badannya pun lemas. Ia terjatuh dan terpapar di lantai. Ia benar-benar tak sanggup bergerak. Rasa sakit di pipinya itu seperti bom yang meledak di mulutnya. Rasa itu menyebar. Air mata Hyun-Hee terjatuh. Ia menangis dengan sangat menderita. Tanpa mengeluarkan suara. Tak ada yang bisa ia pikirkan selain ia harus kuat.

Setelah menangis cukup lama. Lalu bangkit dan duduk di lantai. Sambil menangis ia mengusap darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia benar-benar tak tahan. Ia tak tahan kalau seperti ini terus. Sakit. Sangat sakit. Hyun-Hee memegangi dadanya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih dalam dari sakit fisiknya. Ia merasa diperlakukan bukan sebagai manusia. ‘Mengapa Hyuk-Jae sangat jahat. Apa kesalahanku sebenarnya? Jika bisa aku ingin menebusnya. Tapi apakah hanya dengan ini kesalahanku di ampuni? Dengan cara menyiksaku? Sampai kapan kesalahanku di ampuni? Sampai kapan aku harus begini? Apakah sampai aku mati? Itu yang  Hyuk-Jae inginkan? AAARRRGGGGGHHHH…………. Aku benar-benar ingin gila. Karena dengan begitu aku tidak akan merasa sakit. Hanya dengan begitu.’ Batin Hyun-Hee dengan sedih.

 

=-=

Esok paginya. Bibir Hyun-Hee semakin memar dan menjadi banyak bercak biru di wajahnya. Hari ini ia memasak. Ia tidak mau mengambil resiko. Ia akan menurut pada  Hyuk-Jae. Ia sudah tidak peduli dengan segalanya. Ia hanya perlu selamat. Ia tidak berharap akan disayang, di ajak mengobrol, atau apapun itu. Ia sudah tak berani berharap seperti itu. Yang ia tahu, ia hanya harus mengikuti apa yang terjadi. Kalau memang harus begitu ya sudah, ia sudah tak punya daya lagi.

Hyun-Hee sedang menyiapkan makan. Hari ini Hyun-Hee menjadi sangat diam. Karena bibirnya sangat sakit tidak memungkinkan untuk berbicara banyak dan ia perasaannya sedang kacau sekali.

Hyuk-Jae yang baru bangun turun dari tangga. Ia menuju kearah dapur. Hati Hyun-Hee berdebar. Melihat sosok Hyuk-Jae yang datang auranya seperti di dekat setan. Rasa takut langsung menyelimuti diri Hyun-Hee. Hyun-Hee hanya akan pasrah dengan apa yang terjadi. Ia sungguh merasa tak berdaya. Mau ia bersikap menurut dengan  Hyuk-Jae yang menyiksanya, atau ia melawan, itu tak akan ada gunanya. ‘Hyuk-Jae akan lakukan apa yang sesuai dengan hatinya. Tak akan mempedulikan orang lain. Atau mungkin hanya aku yang tidak dipedulikannya? Aku tak peduli itu. Aku bahkan tak berani membayangkan hidup yang aku inginkan.’

Hyun-Hee melihat  Hyuk-Jae. Sikapnya biasa saja hari ini. Hyun-Hee langsung menyelesaikan pekerjaannya. Lalu ia beranjak untuk pergi ‘kamarnya’.

 

Hyun-Hee POV

Aku tak mau karena melihat wajahku, Hyuk-Jae menjadi emosi. Aku berjalan menunduk menuju arah yang berlawanan dengan Hyuk-Jae. Aku berjalan dengan tenang. Tapi, tiba-tiba tangan  Hyuk-Jae menggengam lenganku. Lalu menarikku ke arahnya dengan kasar. Aku hanya pasrah sesuai dengan perjanjian dengan diriku sendiri tadi. Apa yang akan dilakukan Hyuk-Jae. Aku akan terima. Aku tetap menunduk. Lalu tangan  Hyuk-Jae menggengam rahangku. Sakit sekali, karena bibirku masih memar dan di pipiku juga masih banyak memar. Rasa itu sangat menyakitkan. Dalam hati aku berteriak kesakitan. Mohon lepaskan. Sakit sekali.

Lalu  Hyuk-Jae berbicara “hanya segini lukanya. Bagaimana? Sudah sadar? Sudak kapok?” lalu ia melepaskan cengceramannya.

Aku menjawabnya dengan anggukan kepala. Lalu aku beranjak pergi dari situ. Aku menuju ke kamarku. Aku ingin sekali meneriakkan rasa sakit ini. Rasanya di rahangku sepertinya sudah tak terasa lagi. Itu semua karena seluruh rasa sakitku berkumpul di dalam hati. Hatiku sakit sekali. Apa yang  Hyuk-Jae bilang? Ia bilang kalau pukulannya tadi malam hanya hal yang biasa. Mungkin itu biasa baginya. Mungkin ia biasa menyakiti wanita. Tapi aku sama sekali belum pernah diperlakukan seperti ini. Aku bahkan tak menyangka bisa diperlakukan seperti ini. Aku menyayangi semua orang. Jadi selayaknya semua orang juga menyayangiku. Tapi kenapa  Hyuk-Jae tidak? Aku tak mau membenci  Hyuk-Jae. Tapi aku tak tahan.

Sepertinya hati baik dalam diriku mulai luntur.

AKU BENCI KAU,, HYUK-JAE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! rasa sakit di hatiku dan di tubuhku sudah lebih dari cukup bagi seseorang untuk membencimu. Kau pantas dibenci. Aku tak akan peduli lagi padamu. Sama sekali tidak. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah keselamanku. Aku hanya ingin selamat. Aku ingin menjadi orang normal pada umumnya.

=-=

Seharian ini aku hanya melamun. Terkadang aku menangis. Aku benar-benar ingin mencurahkan semua yang ada di hatiku. Aku berusaha tetap menangis. Karena setelah menangis, aku akan merasa lelah, dan aku bisa melupakan Hyuk-Jae dan perbuatan kejinya. Sebenarnya bagiku untu membenci seseorang itu cukup sulit. Tapi Hyuk-Jae sangat keterlaluan. Aku benci dia.

Sekarang pukul 23.00. Aku belum bisa tidur. Terdengar bunyi yang cukup berisik. Aku penasaran ada apa di bawah sana. Saat aku lihat. Ternyata Hyuk-Jae baru pulang. Tapi tubuhnya sempoyongan. Ia pasti mabuk. Sepertinya mabuk berat. Ia terlihat tidak kuat untuk berdiri. Ia terjatuh. Aku melangkahkan kaki hendak menolongnya. Tapi langkahku berhenti. Aku ingat. Aku membencinya. Ia jahat. Sangat jahat.

Tapi, aku tak bisa membiarkannya begitu. ‘Jangan jadi Hyun-Hee yang jahat. Mana belas kasihanmu?’ hari kecilku berbicara. Aku harus menolong  Hyuk-Jae.

Aku menuruni tangga. Aku menghampiri  Hyuk-Jae. Lalu memapahnya ke sofa. Setelah ia duduk. Tiba-tiba ia bersuara keras. Entah bicara apa ia, aku ke dapur untuk mengambilkan air minum untuknya. Setelah kembali dari dapur, aku kembali ke sofa. Aku menaruh minum itu di meja. Lalu Hyuk-Jae berbicara dengan nada orang mabuk.

“ aku membenci wanita yang ada di rumahku. Ia menghancurkan hidupku. Bagaimana aku bisa hidup seperti ini?” ia berkata itu dan ada butiran air mengalir melewati pipinya. Ia menangis.

Apa yang ia maksud adalah aku? Bodohnya aku. Tentu saja itu aku. Siapa lagi yang sangat dibencinya selain aku? Tapi kenapa ia berkata seperti itu? Kapan aku menghancurkan hidupnya? Apa yang sebenarnya yang aku lakukan sampai menghancurkan hidupnya?

Aku harus tenang. Mungkin besok  Hyuk-Jae akan membicarakannya denganku. Aku mengambil gelas yang ada di meja. Aku mendekati  Hyuk-Jae. Aku mendekatkannya dengan gelas itu. Agar Hyuk-Jae bisa minum dan sedikit tenang. Ketika Hyuk-Jae melihat wajahku di dekatnya, ia mengambil gelas itu dan

BRAKKK!!

Hyuk-Jae menghantamkannya gelas itu ke kepalaku. Aku terjatu ke lantai. Darahku bercucuran. Gelas yang terbuat dari kaca itu melukai kepalaku. Aku memegangi kepalaku. Sakit sekati. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam tangan kiriku yang sedang memegangi kepala. Ternyata itu pukulan dari Hyuk-Jae. Ia memukul tanganku dengan sangat keras. Aku belum pernah merasakan ini. Jauh lebih sakit dari yang sebelumnya. Apa tanganku patah? Jangan. Aku mohon jangan. Pikiranku sungguh kacau. Aku terus khawatir dengan kondisi kepala dan tanganku. Apa aku akan mati? Pikiranku terus melantur.

Terdengar bentakkan  Hyuk-Jae “ aku tak butuh bantuanmu!! Jangan sekali-kali menyentuhku! Aku benci padamu!! Sangat benci. Dan selamanya akan membencimu!!!! blablablabla”

aku tak menghiraukan kata-kata Hyuk-Jae. Yang aku dengar hanyalah itu. Aku berlari keluar rumah dengan cucuran darah. Aku menuju ke klinik sebelah rumah. Untung saja jaraknya tak terlalu jauh. Jadi aku bisa mencapainya dengan sebentar. Aku tak bisa bayangkan kalau jaraknya jauh. Aku tak akan sanggup mencapainya dengan kondisi seperti ini.

 

Ada sobek di kepalaku akibat pecahan gelas, Dokter menjaitnya dan memberikan perban. Dan tanganku yang patah harus di gips. Dokter memujiku karena aku tidak pingsan. Aku diberi obat penahan rasa sakit.

Selesai di tangani oleh dokter setempat, aku pulang. Sampai di rumah. Aku melihat  Hyuk-Jae tergeletak di lantai. Aku tak akan menolongnya lagi. Sekarang kepalaku sudah dibalut perban. Bahkan tanganku sudah di gips. Badanku benar-benar hancur. Sepertinya aku akan segera mati rasa. Itulah yang ingin aku dapatkan sekarang. Aku ingin mati rasa. Apa yang Hyuk-Jae lakukan padaku itu tak akan terasa. Itu yang aku inginkan. Mulai sekarang aku harus menyayangi dan melindungi tubuhku sendiri. Aku melewati Hyuk-Jae dan berjalan menuju kamar.

 

=-=

Saat bangun di pagi hari aku merasa seluruh bagian tubuhku sakit. Semuanya sakit. Kepalaku pusing. Tanganku sakit sekali. Dan lagi bibirku yang memar. Aku tidak kuat. Sakit sekali. Aku akan tidur setelah selesai memasak.

Aku sengaja untuk bangun lebih awal. Aku akan memasak sebelum Hyuk-Jae bangun. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk tidak bertemu dengan Hyuk-Jae. Aku takut kejadian kemarin pagi terulang lagi. Aku bergegas menuju dapur. Aku memasak. Setelah selesai aku menuju kamarku.

Aku hanya duduk menunggu bunyi mesin mobil yang mengartikan bahwa Hyuk-Jae sudah pergi. Tapi tiba-tiba aku haus. Aku ingin minum.

Tapi sekarang aku takut untuk turun ke bawah. Setelah beberapa lama, aku memutuskan untuk turun. Sudah tidak ada bunyi piring, sepertinya  Hyuk-Jae sudah selesai makan. Ternyata benar. Hyuk-Jae sudah tak ada di dapur. Ketika aku sedang minum,  Hyuk-Jae lewat berjalan lewat dapur menuju pintu keluar. Karena kaget aku menegang di tempat. Tanpa sengaja tanganku terbentur meja dapur. Sakit sekali. Untuk digerakan saja sakit apalagi jika terbentur. Aku gemetaran menahan rasa sakit ini. Aku tak mau memperpanjang masalah jika Hyuk-Jae tahu. Setelah ada bunyi pintu tertutup baru aku berlutut. Aku menangis. Tanganku sakit sekali. Bagaimana ini? Bagaimana caranya agar tak sakit lagi? Aku menangis. Menangis sambil memegangi tangan kiriku. Dan sedikit mengeluarkan suara kesakitan yang sedari tadi kutahan.

 

Author  POV

Hyuk-Jae sudah keluar dari pintu. Tapi ia melihat ada yang janggal dari sikap Hyun-Hee. Entah apa yang ia rasakan. Tadi malam terjadi apa? Megapa Hyun-Hee  tertidur di sofa. Dan mengapa ada banyak pecahan kaca. Sepertinya itu dari gelas. Apa yang terjadi sebenarnya?. Dan mengapa Hyun-Hee terasa aneh. Mengapa di kepalanya ada perban? Pikir Hyuk-Jae.

Karena penasaran, ia kembali ke dalam rumah. Dengan langkah pelan, ia menuju dapur. Ia melihat gadis itu sedang berjongkok. Tangan kirinya di pegang erat. Dan ia menangis. Suaranya sedikit terdengar. Lalu ia menghampirinya dan…

Hyun-Hee terkejut karna ada yang memegang tangannya. Hyun-Hee mernyenyit kesakitan sambil bersuara “aaahhh” ‘ternyata itu  Hyuk-Jae.’ Pikir Hyun-Hee.

‘Kenapa ia kembali lagi. Dan akan berbuat apa lagi terhadapku? Aku kesakitan. Tanganku benar-benar tidak kuat. Sebenarnya genggaman  Hyuk-Jae tidak terlalu keras. Tapi memang tanganku  yang sedang bermasalah.’

“Kenapa dengan tanganmu ?” lalu melepaskan genggamannya.

Hyun-Hee menarik nafas lega. Dan memegangi tangannya.

‘Eotteoke..? apa yang harus kukatakan? Aku benar-benar takut untuk bicara. Apapun yang kukatakan pasti salah. Aku gemetaran. Aku tak bisa bicara. Aku tak akan bicara.’ Batin Hyun-Hee .

Hyuk-Jae memegang lengan atasku dekat bahu. Dengan kedua tangannya ia meneggakan tubuh Hyun-Hee. Ia bertanya lagi dengan jelas

“ini kenapa? Apa yang terjadi?” Hyun-Hee tak bisa menjawab.

Ia hanya diam dan kebingungan, ia tidak mengerti bagaimana bisa Hyuk-Jae lupa dengan apa yang terjadi semalam. Hyun-Hee member respon hanya dengan menggelengkan kepala.

Hyuk-Jae merasakan tubuh Hyun-Hee gemetar kencang. Hyun-Hee menangis dan menunduk. Hyuk-Jae mengguncangkan tubuh Hyun-Hee.

Hyun-Hee semakin menangis tersedu-sedu. Ia tak bisa bicara.

 

Hyuk-Jae POV

Aku melepaskan genggamanku pada Hyun-Hee. Mengapa ia menangis? Apa yang terjadi sebenarnya. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Tubuhnya gemetaran. Ia ketakutan. Apa yang ditakutkannya. Mengapa ia tak mau bicara? Mengapa hatiku aneh melihatnya menangis. Sepertinya tanganku ingin menghapusnya. Tapi tidak. Aku membenci wanita ini. Seharusnya aku membentaknya, karena tidak menjawab pertanyaanku.

Tapi mengapa aku tak melakukannya. Aku benar-benar tak ingin melakukannya. Dan satu yang aku tahu. Ia kesakitan.

Aku tak bisa terus di sini. Aku akan emosi jika begini terus. Aku pergi meninggalkannya. Aku tak peduli. Aku tidak menyukai gadis ini sama sekali.

 

Hyun-Hee POV

Untuk waktu yang lama, aku diam di tempat. Yang ia bisa lakukan sekarang hanya menangis. Sekitar 20 menit berlalu. Aku sudah lumayan tenang. Aku membuka mataku dan tidak mendapati Hyuk-Jae di depanku. Aku menghembuskan nafas lega. Aku merasa sangat lemas setelah merasakan tegang yang luar biasa dan menangis untuk waktu yang lama.

Seharian aku hanya berbaring di lantai kamarnya. Hingga malam tiba dan aku masih belum bisa tidur. Aku berusaha mencari kembali keceriaanku. Lalu aku memutuskan untuk membaca. Aku sedikit terhibur. Aku bisa tersenyum.

Setelah berapa lama membaca, aku merasa haus. Lalu aku turun ke bawah untuk minum. Dan ketika di bawah tiba-tiba ada yang menggengam pergelangan tanganku. Tubuhnya terasa sempoyongan. Tubuhnya berbau alcohol. Ia pasti mabuk seperti biasanya.

TINGG

Tiba-tiba ada sesuatu yang muncul di otakku. Kemarin malam Hyuk-Jae pulang dalam keadaan mabuk. Inilah yang menyebabkan Hyuk-Jae lupa dengan kejadian malam itu. Ketika ia mabuk, mungkin ia tidak bisa mengingat apapun yang terjadi.

“ ikut aku” suara  Hyuk-Jae terdengar sambil menggiringku entah kemana.

 

Author  POV

Hari ini Hyuk-Jae sangat emosi. Pagi-pagi sudah di hadapkan dengan masalah Hyun-Hee yang menangis entah mengapa. Lalu saat masuk kantor ia hanya di marah-marahi manajernya. Saat ke rumah dorm, Kangin Hyung dan Heechul Hyung  sedang rebut. Dan yang terakhir ia mendapat undangan pernikahan mantan pacarnya yang masih dicintainya. Padalhal baru beberapa minggu putus. Belum lagi Appanya yang marah-marah karena Hyuk-Jae tidak menghadiri acara yang diadakan teman Appanya itu. Hari ini benar-benar hari terburuk Hyuk-Jae. Ia pun kembali minum alcohol dengan dosis tinggi.

Saat masuk rumah ia melihat Hyun–Hee sedang minum di depan kulkas. Sepertinya Hyun-Hee adalah pelampiasan yang bagus. Pikir Hyuk-Jae. Hyuk-Jae menghampirinya dan mambawanya ke kamar.

 

Hyun-Hee POV

Hyuk-Jae membawaku ke kamarnya. Apa yang akan ia lakukan lagi? Akan memukulku di bagian mana? Tubuhku sudah penuh dengan pukulannya.

Sampai di dalam kamar. Ia menggenggam pundakku. Lalu ia mendekat dan berusaha menciumku. Oh God. Aku benar-benar tak ingin di cium olehnya. Aku tak mencintainya. Aku tak mau. Tapi Hyuk-Jae tetap memaksa. Aku menghindar sekuat tenaga. Hyuk-Jae menjadi lebih emosi dan semakin berusaha keras. Aku terus menghindar dan sampai akhirnya Hyuk-Jae tak bisa melakukan apapun. Ia lemas karena sedang mabuk. Tapi ia terlihat sangat marah, ia melemparkanku ke kanan dan ke kiri. Seolah aku ini adalah barang pelampiasan yang pada saat seseorang marah, barang itu akan di banting-banting. Bolak-balik Hyuk-Jae melemparku. Tubuhku sakit sekali serasa seluruh tubuh patah tulang.

Setelah puas membuat tubuhku lemas karena benturan di seluruh tubuhku, Hyuk-Jae menenteng kerah bajuku dan lalu menonjok rahang kananku dengan sangat keras. Aku yakin ini akan dilakukannya pada seorang Namja, bukan wanita. Ini adalah pukulan bagi seorang Namja. Sesuatu seperti ledakan terasa di rahang kiriku. Tak ada yang bisa kurasakan selain itu. Aku terjatuh terkapar di lantai. Darah yang keluar dari mulutku menyerupai semburan yang kencang. Darah bercucuran. Sakit sekali. Apa rasa ini? Tak pernah aku merasakannya. Apa selanjutnya? Apa aku akan mati? Aku mencoba untuk mengangkat tubuh dengan tanganku. Untuk memastikan aku masih bisa hidup. Tapi tanganku tak kuat rasa sakit di rahangku mengalahkan segalanya. Lalu semuanya menjadi gelap.

To be continued-

 

9 thoughts on “[Freelance] Bleeding Heart Part 2

  1. waaahhhhhhhhhhhhhhhh parah nih kalo gw anak SuJu udah gw gebukin s’hyukjae ampe bonyok trus gw seret k’kantor polisi ckckckckckckkckckckk TEKANAN JIWA SAIA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! btw next part

  2. Kasihan banget Hyun Hee nya, benar benar menyedihkan.. Hyukjae oppa tambah seram saja di part 2 ini.. Mudah2an kelakukan Hyukjae oppa segera diketahui orang tua nya terutama oemma nya, soalnya kalau lama2 nanti Hyun Hee akan jadi seperti apa sungguh tak terbayangkan… Saatnya baca part 3.. Daebak ff

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s