[Freelance] Bleeding Heart Part 3

Bleeding Heart Part 3

Author : Kang Je-Hoon

Cast :

  • Lee Hyuk-Jae,
  • Kim Hyun-Hee

Other Cast :

  • Hyuk-Jae Eomma + Appa ,
  • Hyun-Hee Eomma + Appa

Genre : Romantic, Family

Length : 6 Part

Rating : PG-15

 

Annyeonghaseyo.. :)

Ini FF kedua aku, semoga pada suka yaa,, Kamsahamnida… :)

 

 

 

 

Hyuk-Jae  POV

Aku bangun dari tidurku yang lelap. Kepalaku terasa berat. Aku yakin tadi malam aku mabuk berat. Berbagai masalah yang terjadi kemarin terus terngiang di kepalaku. Aku ingin melupakannya. Hari ini aku ingin menyibukkan diri. Untuk meringankan beban di kepalaku. Mungkin aku akan pergi berlibur untuk beberapa hari.

Saat bangun dari ranjang aku melihat ada banyak darah di lantainya. Lalu aku melihat gadis itu terkapar di lantai. Aku panic melihat semua ini.

Mengapa ini? Aku menghampirinya. Mengangkat kepalanya. Kulihat wajahnya. Oh God. Wajahnya penuh dengan darah. Apa yang terjadi padanya?

Aku menjulurkan jariku ke depan lubang hidungnya. Ada. Nafasnya masih ada. Ia masih hidup. Aku menggendongnya dan membawanya ke dokter sebelah rumah. Aku mengenal dokter itu sedari aku kecil. Dia kerabat dekat Appaku. Aku bisa mempercayainya.

Di perjalanan aku sedikit memandang ke arahnya. Apa yang terjadi? Mengapa ia seperti itu di kamarku? Sudah, yang harus kupikirkan adalah keselamatannya. Ia harus selamat. Hatikku sakit melihatnya seperti ini. Tapi menngapa? Bukankah aku membencinya.

Darah yang kulihat tadi sudah mengering. Ia sudah terluka dari lama. Aku sudah sampai di klinik sebelah. Aku menggendong Hyun-Hee. Membawanya masuk. Saat masuk langsung ada orang yang menanganinya. Aku menunggu di depan UGD.

Aku menunggu dengan perasaan yang campur aduk karena memikirkan apa yang terjadi semalam. Sebenarnya aku dari tadi sudah ingat apa yang terjadi semalam. Hanya saja aku belum bisa mencernanya dengan baik. Semalam aku memukul Hyun-Hee dengan keras. Aku sadar yang kulakukan. Dan aku salah. Aku merasa diriku benar-benar gila karena memukulnya sampai seperti ini. Bagaimana kalau ia tak terselamatkan? Itu artinya aku membunuh orang? Bahkan aku membunuh anak dari orang yang menyelamatkanku dari kematian? Arrrggghhh. Semua pikiran ini membuatku gila.

Setelah beberapa waktu, dokter keluar. Aku langsung bertanya :

“bagaimana dok? Apa yang terjadi?” dokter menjawab dengan tenang.

“ tenanglah Hyuk-Jae. Tapi sebelumnya siapa gadis itu?”

aku menjawab “ dia isteriku. Namanya Hyun-Hee. Bagaimana keadaannya sekarang? Ia baik-baik saja bukan?”

“Tenanglah. Ia tidak mengalami hal yang serius. Hanya saja rahang kirinya retak. Ia mendapat pukulan yang sangat keras. Dan tubuhnya sangat lemah. Apa ia mengalami kesulitan dalam makan? Dan akhir-akhir ini ia mengalami tekanan?”

lalu Hyuk-Jae menjawab :”emm,, iya dok. Ia memang kesulitan makan”

“ kalau begitu usahakan ia makan dengan teratur. Dan jangan sampai terluka lagi. Yang paling penting adalah menjaga perasaannya. Sebernarnya gadis ini sudah beberapa kali mengunjungi klinikku. Yang menjahit sobek di dahinya adalah aku. Yang member gips pada tangannya juga aku. Setiap ia datang ke klinikku ia selalu terlihat tertekan. Walaupun aku bukan seorang dokter psikolog, tapi aku tahu kalau Ia cukup tertekan, dan itu bahaya bagi kejiwaannya. Dan maaf, jika ini berlangsung terus ia bisa gila.”

Aku kaget “ apa? Gila?”

“ betul. Maka dari itu jagalah istrimu dengan baik” jawab dokter.

Aku hanya terpaku mendengar ucapan dokter. Hyun-Hee bisa gila? Karena aku? Ia sangat menderita? Apa ia merasa tertekan? Yah, dokter yang mengatakkannya. Hyun-Hee sangat tertekan. Dan gilanya aku baru sadar aku berbuat terlalu jauh pada gadis malang ini.

Dokter Hyun-Hee bisa pulang saat ini juga. Ia memang belum sadarkan diri. Tapi kondisinya baik. Klinik akan segera buka dan banyak tamu. Untung saja rumahku dekat dan aku bisa membawa Hyun-Hee pulang.

Aku membawa Hyun-Hee pulang. Menidurkannya di ranjangku. Membetulkan rambutnya yang berantakan. Memakaikannya selimut. Aku duduk di sisi ranjangnya. Memandangi wajahnya. Lalu ku ulurkan tanganku ke wajahnya. Aku menyentuh pipinya. Pipinya di penuhi dengan memar. Apa lagi pipi kirinya. Sangat biru. Kepalanya dipenuhi dengan perban. Di kening kanannya ada perban juga. Bisa dipastikan semua itu adalah ulahku.

Kepalaku benar-benar berat saat ini. Aku tak mau memikirkan apapun. Kenapa aku? Mengapa banyak sekali masalah datang padaku? Akupun tak ingin bertemu dengan member Super Junior yang lain. Hanya akan ada keributan di sana. Kalau aku ke kantorpun hanya akan mendapat omelan. Sebaiknya aku berdiam diri di rumah dan merenungkan semua kesalahanku. Biarkan kondisi di luar lebih tenang dan membaik. Baru aku akan memulai aktivitas lagi.

 

=-=

Aku sedang duduk di sisi ranjangku. Selama Hyun-Hee belum sadar, aku tetap tidur di ranjang ini. Aku tahu gadis itu tak akan mau kalau seranjang denganku. Tapi, aku tak terbiasa tidur di kursi. Karena Hyun-Hee belum sadar, maka tak apalah.

Aku memandangi wajah gadis itu. Kalau dihitung-hitung, sejak malam saat Hyun-Hee kupukul, berarti ia sudah 2 hari tidak sadarkan diri. Apakah ia akan baik-baik saja? Tapi dokter bilang dia baik-baik saja. Ia mungkin tidak sadarkan diri karena tubuhnya yang sangat lemah.

Aku tak ingin begini terus. Aku tak ingin merasa bersalah. Tapi mengapa ia harus ada di hidupku? Kalau ia tidak masuk dalam hidupku, pasti ia pun tak akan begini. Sudahlah, aku pusing. Aku tak tahu siapa yang bersalah dalam masalah ini. Aku keluar kamar sebentar untuk minum.

 

Author  POV

Hyun-Hee mulai sadar dari tidur panjangnya. Ia mulai membuka matanya. Ia merasa sangat lemas. Rahangnya sakit sekali. Ia memegang rahangnya dengan pelan. Terasa sakit sekali. ‘Apa yang terjadi dengan rahangku.’ Tanya Hyun-Hee dalam hati. Hyun-Hee mencoba untuk membuka mulut. Menggerakkan sedikit rahangnya. Mungkin akan lebih baik. Yah, sekarang sudah tak terlalu sakit tapi tetap kesulitan untuk membuka mulut dan berbicara.

‘Tapi, ngomong-ngomong sekarang aku ada dimana? Bukankah ini kamar Hyuk-Jae?’

Hyun-Hee kaget setengah mati. Dan langsung menegakkan tubuh sehingga posisinya sekarang sedang duduk di ranjang. Hyun-Hee mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Yang terakhir dia ingat adalah ketika ia merasa kesakitan karena  Hyuk-Jae memukulnya dengan keras.

‘Ya,  Hyuk-Jae memukul rahangku. Tapi mengapa aku di sini? Apa aku sudah diobati? Mengapa tak ada darah? Apa sudah dibersihkan? Aku harus segera pindah.  Hyuk-Jae bisa marah kalau aku sembarangan tidur di tempat tidurnya. Aku tak sanggup lagi disiksa olehnya. Aku ingin keluar dari rumah ini. Ya. Aku harus keluar.’

Hyun-Hee POV

Aku segera bangun dari tempat tidur, lalu aku berjalan dengan cepat ke arah pintu keluar kamar. Saat hampir mendekati pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan  Hyuk-Jae masuk. Aku kaget dan membelalakan mataku. Aku tak ingin melihat wajahnya. Aku tak ingin melihat ekspresinya yang mungkin marah. Aku menunduk. Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi? Kenapa aku begitu bodoh bisa tidur di kasurnya.

Lalu terdengar suara  Hyuk-Jae bertanya “kau sudah bangun?” suaranya datar.

Aku tahu itu adalah pertanyaan yang tak harus kujawab. Aku sama sekali tak berani untuk berbicara. Aku tetap menunduk. Aku melangkah keluar melewati Hyuk-Jae. Tiba-tiba tangan  Hyuk-Jae memegang pundak kananku. Hanya memegang. Tapi mengapa aku merasa sakit sekali. Aku meringis kesakitan. Aku berharap Hyuk-Jae tidak melihat ringisanku itu.

Pegangannya semakin kuat. Aku rasa  Hyuk-Jae melihat aku kesakitan tadi dan ingin memastikan apakah benar aku kesakitan. Aku sedikit membungkukan bahu ke kanan agar pegangannya sedikit longgar. Itu semua refleks karena sakit.

Hyuk-Jae semakin keras memegang pundakku. Sakit sekali. Lagi-lagi aku refleks. Dan sekarang aku jatuh terduduk karena tak tahan menahan sakit.

Akupun tak tahu ada apa dengan pundakku. Mengapa begitu sakit. Tangan Hyuk-Jae berhenti memegang pundakku. Dengan segera aku memegang pundakku yang sakit itu. q berjongkok untuk melihatku. Sekarang posisiku menghadap tubuh Hyuk-Jae. Aku tetap tertunduk dengan memegangi pundakku. Aku sedikit melirik ke atas. Aku ingin tahu ekspresi  Hyuk-Jae. Kalau ia marah, aku bisa langsung lari dari sini. Aku takut sekali. Aku sedikit melihat wajah  Hyuk-Jae. Keningnya berkerut. Alisnya terangkat. Hyuk-Jae terlihat heran. Ia menatapku. Tapi aku tak berani menatapnya lagi. Aku tetap menunduk. Kedua tangan  Hyuk-Jae masih memegang lengan atasku dengan pelan. Ia membuka sedikit bajuku untuk melihat ada ada di pundakku.

Terdengar suaranya “Hyun-Hee, ini kenapa?” suaranya terdengar baik-baik.

Tapi aku takut. Aku ingin menjawab, tapi aku sendiri juga tak tahu mengapa pundakku sakit. Aku menggeleng pelan. Masih dalam posisi menunduk. Hyuk-Jae melepaskan pegangan tangannya. Aku memejamkan mata dengan takut. Aku tahu ekspresi wajahku saat ini. Pasti seperti orang yang tahu akan di pukul, lalu memejamkan matanya dengan kencang karena takut sakit. Aku takut.

Aku diam. Tapi tak ada yang terjadi. Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, aku membuka mataku. Saat menatap kedepan, aku melihat  Hyuk-Jae melangkah dan membuka daun pintu. Aku lelah. Sangat lelah harus begini. Harus seperti kucing ketakutan yang tak tahu ujung cerita hidupnya. Harus selalu waspada dan ketakutan dengan apa yang akan  terjadi sebelumnya. Apa kesalahanku? Apa aku pantas begini? Tapi aku tak tahan. Aku adalah manusia. Bukan kucing atau sebagainya. Aku mau tenang. Kalau dalam kehidupan aku tak bisa tenang, mungkin kalau mati aku bisa tenang. Aku akan ungkapkan semuanya sekarang. Aku berani. Akan kulepaskan semua. Tanpa ragu, tanpa takut.

“ Bunuh aku!!!” dengan suara yang lumayan keras aku berkata.

Tanpa menghiraukan rahangku yang sakit. Karena dalam kondisi ini, rasa itu tak bisa kurasakan. Yang kurasakan hanyalah emosi yang membara. Hyuk-Jae menghentikan gerakannya lalu membalikan tubuh dan menatapku heran. Aku tidak menunduk. Aku menatap matanya tajam. Aku merasa sangat berani saat ini. Aku tak takut Hyuk-Jae. Akan kutunjukan bahwa Hyun-Hee bisa marah dan mengamuk.

“aku sudah tak tahan lagi. Aku tidak kuat seperti ini. Sakit. Sangat sakit. Apa kau tahu apa yang kurasakan selama ini? Hah? Kau tak akan pernah tahu!! Yang kau tahu hanya memukul orang. Orang yang tak bersalah padamu. Kenapa kau tidak menjadi pembunuh bayaran saja? Coba katakan. Apa salahku padamu? Apa aku pernah memukulmu? Tidak kan!! Tapi mengapa kau memukulku? Laki-laki macam apa kau? Bisanya hanya memukul wanita. “

“Hey,,sadar!! Aku ini manusia. Bukan boneka ataupun hewan peliharaanmu. Kalau boleh memilih aku juga ingin menjadi boneka. Yang jika kau pukul, kau banting, maka tak akan merasakan sakit. Tapi aku manusia. Sama sepertimu!! Apa kau merasa seorang manusia? Kalau kau manusia, maka tak akan begini!! Sesama manusia akan saling menghargai. Kau bukan manusia!! Kau keji!!! Kau bilang kalau kau membenciku. Aku juga membencimu!! Sangat membencimu!!! Aku benci Hyuk-Jae!!!!”

aku menangis keras saat mengatakan itu. Tapi dalam tangisan itu aku sama sekali tidak takut. Dengan sadar 100% aku mengatakkannya. Dan kata terakhir itu aku ucapkan dengan keras. Aku membentak Hyuk-Jae. Lalu kuakhiri dengan kata

“bunuh aku sekarang” aku menatap tajam Hyuk-Jae.

Aku lihat jelas ekspresinya. Ekspresi marahnya sangat jelas. Ia sangat mengerikan saat ini. Tapi tak apa. Justru aku butuh itu. Aku memang ingin mati. Semakin menyeramkan dia, semakin bagus.

Aku gemetaran, tapi aku menikmatinya. Aku akan segera tenang sekarang.

Tapi,, aku akan mati?? Mati?? Menyusul ibu dan ayah angkatku?? Aku ingin hidup, tapi aku tak bisa hidup karena ada biadab ini. Seumur hidupku, baru kali ini aku berkata kasar. Aku selalu tahu tempatku. Aku adalah wanita. Ini beda denganku yang dulu. Tapi biadab ini yang membuatku berubah.

Hyuk-Jae sangat marah. Ia melangkah maju, matanya tajam menatapku, aku balas menatapnya tanpa takut. Kedua tangannya menggengam lengan atasku yang di dekat bahu. Genggamannya sangat kencang. Sakit sekali. Aku merasa sakit, tapi aku tak peduli. Dia menghentakkanku ke tembok. Keras sekali. Punggungku sakit. Dia melepaskan tangannya. Lalu tangan kananya mencekikku. Matanya tajam sekali menatapku. Aku memejamkan mata. Ya,, aku siap. Lebih baik mati daripada di siksa oleh biadab ini. Aku benar-benar tak bisa nafas. Cekikkannya benar-benar kuat. Ia benar-benar biadab. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahku yang sedang tak bisa nafas. Selamat tinggal semua. Aku meneteskan air mata.

 

Hyuk-Jae POV

Gila, berani sekali wanita ini. Selama hidupku belum pernah ada wanita yang berani bicara seperti ini. Dia kira siapa dia. Keterlaluan. Aku tahu selama ini aku salah. Tapi aku sudah sadar dan menyesalinya. Aku akan perbaiki semua. Eh, sekarang aku di caci maki begini. Dia bilang ingin mati. Baiklah, aku akan membantu mewujudkannya. Aku tak mau mempertahankan nyawa wanita yang tak bisa menghargai hidupnya sendiri. Aku yang sudah mengkhawatirkannya dan menjaganya ketika tidak sadarkan diri malah di caci maki. Aku akan membuktikan kalau apa yang dikatakannya sendiri itu benar. Aku bukan manusia. Aku keji. Otakku dipenuhi oleh setan. Hatiku juga. Aku tak bisa berfikir jernih saat ini. Setan menguasai diriku.

Aku mendorongnya ke tembok dengan keras. Lalu aku mencekiknya. Mencekiknya dengan keras. Bukankah itu yang dia inginkan? Ia memejamkan matanya.

Apa itu? Dari matanya ada air. Ia menangis? Ya, ia menangis. Apa sebenarnya ia ingin hidup? Mengapa aku tak mau melihatnya menangis? aku benar-benar tidak ingin melihat air keluar dari matanya. Apa ini? Perasaan apa ini? Mengapa mendadak seperti ini? Mendadak mengusir setan di diriku dan aku bisa berfikir jernih.

Aku tahu sekarang, ia ingin mati karena tak sanggup hidup denganku. Aku yang keterlaluan. Apa yang kulakukan? Membunuhnya? Aku benar-benar gila. Aku melepaskan cekikanku. Gadis itu kesakitan. Ia kehabisan banyak udara. Ia berjongkok, memegangi lehernya. Ia terbatuk-batuk dengan keras. Sedikit lagi gadis itu akan mati. Apa yang kulakukan? Aku berjongkok hendak memeluknya. Aku ingin memeluknya. Ia menangis kesakitan. Saat kuulurkan tanganku untuk memeluknya, ia menghindar dan dengan cepat ia berdiri lalu keluar kamar. Ia berlari. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi pintu yang tertutup keras. Itu adalah pintu keluar rumah ini. Ia pergi dari rumah. Bisa dipastikan ia tak akan kembali. Bagaimana ini? Ia berhasil kabur.

Aku hanya diam terpaku di tempat. Apa yang barusan terjadi sangat gila. Mengapa jadi begini? Aku berteriak

“aarrrggghhh” sambil memukul tembok dengan kepalan tanganku. Tanganku berdarah, kupandangi tanganku. Dengan tangan ini aku hampir membunuh seorang gadis. Bukan, maksudku isteriku. Aku barusan mencoba membunuh isteriku. Aku rasa menyukainya. Sungguh sekarang aku sadar kalau aku menyukainya. Aku tak mau melihatnya menangis. Ada yang sakit dalam tubuhku ketika melihatnya menangis. Mengapa aku baru sadar sekarang?. Tapi sekarang ia membenciku. Ia telah pergi dan mungkin tak akan kembali. Mustahil bagi dirinya untuk kembali ke rumah ini. Orang yang kusukai sekarang membenciku. Dan ini semua karena sikapku. Hyun-Hee tidak salah. Ia sangat berhak membenciku.

Tak terasa aku mengeluarkan air mata. Apa saat aku mengeluarkan air mata Hyun-Hee merasa sakit? Huh.. bodohnya aku. Tentu saja ia tak akan sedih. Ia sangat membenciku.

 

=-=

Dengan lemas aku berjalan ke gudang dimana Hyun-Hee menjadikannya kamar. Aku tak melihat apapun, hanya ada barang tak terpakai di pojok kanan. Di pojok kiri ada setumpuk buku. Pasti  itu milik Hyun-Hee. Aku dengar ia sangat suka membaca. Mungkin itu buku yang sedang dibacanya. Tak ada ranjang disini. Tak ada lemari. Aku heran bagaimana selama ini ia bertahan tidur di gudang. Akupun baru pernah melihat keadaan kamar yang Hyun-Hee pakai.

Dia gadis yang baik, sangat baik. Ia tidak seperti wanita yang lain. Dulu aku kira ia menikah denganku karena uang. Tapi ternyata ia tak pernah minta uang. Bahkan pada awal aku tinggal dengannya, makanan yang kumakan itu di beli dengan uangnya. Sampai ia sendiri tak makan. Apa yang kulakukan selama ini. Aku menyiksanya. Aku menyianyiakan kebaikkannya. Pantas saja kalau tadi ia marah padaku. Setelah sekian lama ia tak pernah ungkapkan kejahatanku.

Mengapa aku begini? Aku seperti bukan diriku sendiri? Aku merasa ada setan di dalam hatiku. Semenjak banyak masalah dalam hidupku, aku menjadi gila.

‘Hyun-Hee, mengapa kau datang tak tepat waktu. Kau menjadi korban dari semua ini.’

“Yeoboseyo?” tiba-tiba ada telepon masuk

“Hyung, YoonAh nuna,, tolong YoonAh nuna”

“Ada apa dengan YoonAh”

“nuna di rumah sakit, suaminya meninggalkan rumah dan memukuli nuna sampai seperti ini”

“lalu dimana Eommamu”

“Eomma dan Appa di London. Kumohon, datanglah kemari segera Hyung.”

“Baiklah, di rumah sakit mana?”

“Rumah Sakit ******”

“Araseo”

 

Aku segera menuju rumah sakit itu dengan perasaan panic. Aku masih menyukai mantanku itu. aku ditinggalkannya, bukan aku yang meninggalkannya. Maka dari itu aku masih menyayanginya.

Sampai di sana aku bertanya kepada resepsionis. Dan langsung membayar biaya pengobatan yang dibutuhkan. Lalu aku bergegas menuju ke kamar YoonAh.

Aku melihat JunHo adik YoonAh sedang duduk di samping ranjang YoonAh, aku menghampirinya, dan JunHo menangis.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi JunHo”

“nuna di pukul oleh suaminya yang selingkuh. Nuna marah pada suaminya karena terpergok selingkuh di rumah, tapi suaminya malah balik marah dan memukuli nuna seperti memukul Namja lain. Wajah nuna banyak yang sobek dan rahangnya retak. Bagaimana ini Hyung ?”

 

DEG.. hatiku sakit. sakit sekali melihat peristiwa ini. Ini sama persis dengan yang dialami oleh Hyun-Hee. Bahkan lebih parah Hyun-Hee. Karena Hyun-Hee lebih banyak terluka.

Aku menenangkan JunHo dan menghubungi orang tua YoonAh, mereka bilang akan sampai ke Korea segera.

tak lama ada sahabatku dan sahabat YoonAh datang. Ia terlihat sangat khawatir dan kami bercerita tentang kejadian yang dialami oleh YoonAh.

Lama-lama perasaanku tak tenang. Rasanya aku ingin menangis. bayangan Hyun-Hee terus melintas di pikiranku. Aku ingin segera pulang. Aku tak tahan di sini dan mendengar cerita mengenai suami yang jahat. Karena tokoh suami itu sama dengan posisiku. Aku tak kuat lagi.

“Mianhae JunHo ya, Hyung tak bisa lama-lama di sini. Aku harus segera pulang. Istriku menunggu di rumah”

DEG. Mengapa aku berkata begitu? Ini pertama kalinya aku mengakui aku punya istri setelah menikah.

“Hyung sudah tidak mencintai nuna lagi ya?”

“bukan begitu. Tapi Hyung sudah punya tanggung jawab lain. Hyung sudah punya istri”

Sahabatku mengantarkanku sampai ke depan pintu. Ia berkata

“kau sudah berubah? Kau mulai mencintainya? Hatimu luluh?”

“kurasa iya. Gomawo sudah mengantarku. Jaga YoonAh dan JunHo. Aku pergi dulu”

“Ne, hati-hati”

 

Di mobil aku terus terbayang dengan sosok Hyun-Hee. Dimana ia sekarang. Apa dia baik-baik saja? Ia belum sembuh total. Lukanya masih banyak. Apa ia membawa uang saat keluar rumah? Apa yang sedang gilakukannya sekarang?

 

Sampai di rumah aku menuju ke gudang untuk menemukan petunjuk kemana Hyun-Hee pergi. Aku melihat banyak uang di pojok tembok. Hal ini semakin membuatku terpukul. Hyun-Hee pergi dengan tidak membawa uang. Uang yang kuberikan ia tinggal di sini.

Aku menemukan sesuatu. Itu adalah buku. Seperti buku diary. Apakah itu buku diarynya Hyun-Hee? Sebentar, tapi ada bercak darah di atas buku itu. Apa itu darah Hyun-Hee? Dengan cepat aku mengambil buku itu. Kubuka buku itu. Aku membacanya.

Sesak. Dadaku sesak membacanya. Lembar pertama mengisahkan tentang takutnya ia padaku. Aku jadi tahu apa yang kulakukan padanya. Tahu dengan jelas. Semuanya ia ceritakan di sini. Buku ini menjelaskan perasaannya padaku. Lebih dari yang ia katakan padaku tadi. Dalam buku ini sangat jelas betapa menderitanya Hyun-Hee. Ia benar, selama ini ia diperlakukan seperti boneka, bukan manusia. Mambaca ini semakin membuatku terluka. Lembar demi lembar kubaca, hingga pada pertengahan, ada banyak sekali darah di kertas ini. Hyun-Hee terluka? Bodoh! Tentu saja terluka, dari ceritanya saja kau harusnya tahu kalau Hyun-Hee sangat banyak mengeluarkan darah. Oh God, banyak sekali darahnya. Apa ia menulis saat sedang sakit? Mengapa aku tak pernah tahu? Aku tinggal 1 atap dengannya, tapi mengapa aku bisa tidak tahu? Aku benar-benar buta selama ini. Aku benar-benar jijik mengetahui sifatku ini. Aku malu. Mengapa aku begini? Siapa aku? ini bukan Hyuk-Jae. Ini setan. Lebih dari setan. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada Hyun-Hee. Aku benar-benar ingin membunuh diriku sendiri.

Aku berteriak “aaarrrggghhhh”

 

=-=

Semalam aku tak bisa tidur sama sekali. Aku terbayang bagaimana Hyun-Hee selama ini. Rasanya seperti memutar film di otakku. Dan aku ingat dengan jelas semuanya.

Setelah beberapa saat aku tenang, aku sudah bisa berfikir apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku harus mencari Hyun-Hee. Aku harus menemukannya. Aku berlari ke lantai bawah. Meraih kunci mobilku dan menuju garasi. Tanpa sadar aku masih membawa buku Hyun-Hee. Aku meletakkannya di mobil. Aku focus mencari Hyun-Hee. Aku harus menemukannya. Aku harus membawanya pulang. Satu-satunya jalan agar aku layak di sebut sebagai manusia adalah dengan menebus kesalahanku. Jika aku membiarkan Hyun-Hee pergi, aku akan merasa jauh lebih malu. Aku akan menebusnya. Aku akan menjaga dan mencintainya selamanya. Hanya aku yang Hyun-Hee punya. Ia sudah sebatang kara di dunia ini. Akupun tak mau kehilangan Hyun-Hee, aku menyukainya, bahkan mungkin mencintainya. “Hyun-Hee, saranghaeyo” ucapku pelan dengan sungguh yang berbuah air mata yang tulus.

=-=

Sudah dua hari Hyun-Hee pergi. Aku mencarinya sampai ke sudut-sudut kota. Member Suju yang lain sering menghubungiku, tapi aku tak menjawab. Aku akan fokus mencari Hyun-Hee. Aku harus menemukannya segera. Ia tak punya siapapun di dunia ini. Ia tak punya uang. Makan apa dia? Parahnya ia tidak suka makan. Bagaimana kalau sakit? Apalagi sekarang sedang musim dingin. Hyun-Hee tidak memakai jaket. Ia hanya memakai kaos biasa. Mustahil kalau ia tidak sakit. Tidur dimana dia? Pikiranku semakin kacau.

Aku harus menemukannya segera. Sudah dua hari ini aku mencari Hyun-Hee di Seoul. Tidak mungkin ia pergi ke luar kota. Ia tidak punya uang. Aku memutuskan untuk mencari ke dalam gang-gang kecil. Aku meninggalkan mobilku di pinggir jalan. Aku berjalan menyusuri gang-gang yang ada. Mungkin saja Hyun-Hee ada. Aku tak bisa menyuruh orang untuk mencari Hyun-Hee. Itu bisa tersebar ke berbagai media. Dan itu bisa membahayakannya. Hyun-Hee pasti takut jika ada orang asing yang mencarinya. Biar aku saja yang menemukannya.

Sudah sekitar empat jam aku mencari Hyun-Hee. Tapi belum menemukannya. Saat memasuki salah satu gang, aku melihat sosok wanita sedang berjalan sendiri. Sepertinya itu Hyun-Hee, wanita itu memakai kaos putih biasa. Ia memakai rok yang sederhana. Di kepalanya ada perban. Tangan kirinya di gips. Benar. Itu pasti Hyun-Hee.

Oh God, hatiku melonjak menemukannya. Aku senang sekali. Dia masih bisa berjalan. Setidaknya Hyun-Hee masih bertahan hidup. Masih ada jarak sekitar 15 meter antara aku dan Hyun-Hee. Aku ingin sekali berlari memeluknya. Tapi aku sadar. Aku harus hati-hati. Bisa-bisa Hyun-Hee lari lagi. Ia pasti tidak ingin pulang. Aku harus bicara dengan pelan. Aku menghampirinya. Saat berjalan, ia terus menunduk. Jadi ia tak tahu kalau aku sudah di dekatnya. Aku berkata pelan

“Hyun-Hee ya” dengan spontan Hyun-Hee menengadahkan wajahnya menatapku, sumber suara. Kulihat wajahnya yang tenang, agak pucat. Sepertinya ia sakit. Tiba-tiba ekspresinya berubah. Matanya melebar, ia membuka mulutnya tapi tak bicara. Ia sangat kaget. Aku tahu itu. Bahkan sepertinya ia sangat ketakutan. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan lari. Aku mengejarnya. Aku tak boleh kehilangannya lagi. Ia berlari sangat cepat. Karena kakiku panjang, aku bisa lari menyusulnya. Aku meraih lengannya sehingga langkahnya terhenti. Ia tetap menunduk. Selalu menunduk kalau berhadapan denganku. Hanya kemarin saat mengungkapkan segalanya, ia tidak menunduk. Ia berusaha melepaskan diri dari genggamanku

“lepas!! Lepaskan aku!!!”

“Hyun-Hee, tenang dulu. Dengarkan aku dulu” ia terus menggerakan tangannya.

Ia berusaha melepaskan diri. Aku tak akan melepaskannya. Sungguh tak akan. Tiba-tiba Hyun-Hee berhenti meronta. Ia pingsan. Tubuhnya terkulai lemas. Aku menahan tubuhnya di pelukanku. Aku menyentuh pipinya. Menggerak-gerakannya.

“Hyun-Hee…Hyun-Hee… ireonna!”

tapi Hyun-Hee tak sadar juga. Aku menggendongnya keluar dari gang menuju mobilku. Di jalan aku memegang keningnya. Keningnya sangat panas. Ia pasti demam. Sebaiknya aku membawanya pulang saja. Biar dokter sebelah rumah yang menanganinya. Aku melajukan mobil dengan kencang. Aku khawatir sekali, tapi di sisi lain aku juga senang bisa melihat wajahnya lagi.

“Tenang Hyun-Hee, kau akan baik-baik saja”

Sampai di rumah. Aku menggendong Hyun-Hee ke kamar. Aku menidurkannya di ranjangku. Aku menelepon dokter sebelah untuk memeriksa hyun-Hee.

 

Hyun-Hee sudah diperiksa oleh dokter. Kata dokter, tak ada yang serius. Hanya saja dia demam. Aku lega mengetahui bahwa Hyun-Hee hanya demam.

Aku memasak bubur untuknya. Saat ia bangun, apa reaksinya? Apakah akan lari lagi? Sudahlah, yang penting sekarang Hyun-Hee sudah di rumah. Dan keadaannya tidak parah. Aku tersenyum. Aku senang bisa melihat Hyun-Hee lagi, setelah beberapa hari mencarinya. Hidupku semakin kacau kalau tak ada Hyun-Hee. Dan entah mengapa aku merasakan jatuh cinta lagi. Senyum mengembang di pipiku.

Aku menunggu Hyun-Hee bangun. Aku duduk di kursi yang kubawa dari luar. Aku memandangi wajahnya. Betapa kumerindukannya. Dia tampak kasihan sekali. Seperti telah mengalami kecelakaan hebat. Dimana-mana ada perban. Tubuhnya sudah hancur. Dan akulah yang menghancurkannya.

Aku melihat matanya membuka. Ia tampak lemah. Aku memasang senyum manis. Agar ia tidak takut padaku. Saat wajahnya menoleh ke arahku, matanya melebar. Ia langsung bergerak beranjak duduk di tempat tidur. Ia mundur menuju pojok tempat tidur. Ia turun dari ranjang dan duduk di sudut tembok. Ia memeluk lututnya. Gerak-geriknya sangat menunjukan bahwa ia sangat takut padaku. Semua gerak geriknya itu membuatku kaku. Aku bingung apa yang harus kulakukan.

Bagaimana ini? Bagaimana aku merawatnya kalau ia takut padaku?

“Hyun-Hee” aku memanggilnya lembut. Dia tidak merespon.

“Hyun-Hee” aku memanggilnya lagi.

Aku mulai mendekati Hyun-Hee. Sebernya akupun takut. Aku takut kalau Hyun-Hee semakin takut padaku.

Aku sudah di dekat Hyun-Hee. Aku yakin Hyun-Hee tahu aku di dekatnya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Hyun-Hee

“aaaaaaa….jangan…jangan…” lalu tubuh Hyun-Hee terkulai lemas.

Dia pingsan lagi. Aku mendekatinya. Menepuk-nepuk pipinya sambil memanggil namanya. Ia tidak menjawab. Aku menggendongnya dan menidurkannya di ranjang.

Oh God. Mengapa ia pingsan lagi? Apa karena terlalu takut denganku? Aku menghembuskan nafas dengan kencang. Aku benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. ‘jangan menyerah. Hyuk-Jae, Aja Aja Fighting!!’ kataku dalam hati.

 

Dua jam berlalu. Hyun-Hee membuka matanya. Saat melihat ke arahku, lagi-lagi ia kaget. Tapi tidak seperti tadi. Sekarang ia lebih tenang.

Ia membalikkan kepala ke kiri. Ia tak ingin melihatku. Aku menggengam tangannya. Aku bisa merasakan tangannya gemetaran. Sangat kencang. Aku mendengar isakkannya. Ia menangis. Oh God, sesuatu dalam tubuhku terasa sakit. Jangan menangis. Jangan menangis Hyun-Hee.

Aku memanggilnya dengan lembut “Hyun-Hee” ia tidak menjawab. Tapi tiba-tiba ia bangkit dari ranjang dan berdiri di lantai dengan tenang. Akupun merasa tenang karena ia tidak terlihat akan ketakutan. Ia berjalan dengan tenang keluar dari kamar. Aku mengikutinya. Aku takut ia akan jatuh, karena terlihat dari tubuhnya sepertinya masih lemah. Suhu tubuhnya juga masih tinggi. Aku mengikutinya terus, sampai ternyata ia menuju gudang. Ia langsung menuju sudut tembok gudang. Ia menangis. Aku tak berani mendekatinya. Bahkan menyentuhnya. Aku kembali ke kamarku untuk mengambil buburnya Hyun-Hee. Lalu aku kembali ke gudang.  Aku mendekati Hyun-Hee, aku berkata

“Hyun-Hee, kau makan ya? Aku buatkan bubur untukmu.”

Aku mengatakannya dengan lembut. Hyun-Hee hanya menggelengkan kepala. Ia tetap menangis. Membuatku tak tega memaksanya. Tapi kalau tidak makan, ia tidak akan sembuh.

“Kalau begitu kau tidur di kamarku ya? Aku janji aku akan tidur di luar. Yang penting kau jangan tidur di sini.” Hyun–Hee tetap menggeleng.

Aku melanjutkan “tapi kau masih sakit Hyun-Hee.”

Hyun-Hee menggeleng lagi, dan sekarang ia semakin menangis. Aku benar-benar bingung harus bagaimana. Ya sudahlah, yang terpenting sekarang ia tenang. Aku akan membujuknya lagi besok.

Aku kembali ke kamarku untuk mengambil selimut. Saat di kamar, aku melirik jam. Sekarang sudah pukul 23.00. Hyun-hee harus segera tidur. Aku kembali ke kamar Hyun-Hee. Memakaikan selimut untuknya. Lalu aku kembali ke kamar untuk tidur. Hari ini sangat melelahkan untukku.

Saat akan menutup jendela. Aku melihat keluar untuk menghela nafas segar. Cukup lama. Saat akan menutup jendela, aku melihat sosok wanita memakai kaos putih dan rok sedang berlari menjauhi arah rumah. Oh God, itu Hyun-Hee. Apa yang ia lakukan? Akan kabur? Aku berlari secepat mungkin.

Sesampainya aku di luar. Aku langsung menyusul Hyun-Hee. Ia sedang sakit. Ia tak akan bisa lari dengan kencang. Aku berhasil meraih lengan kanannya. Langkahnya terhenti. Kutarik tangannya hingga ia berhadapan denganku. Ternyata benar, sangat sulit bagi dia untuk tinggal bersamaku. Aku menatap matanya. Matanya sedang menangis. Aku menggenggam lengannya dengan erat. Aku tak akan membiarkannya pergi.

“Hyun-Hee, kau mau kemana?” tanyaku dengan kencang. Hyun-Hee menggerak-gerakan tangannya. Ia sedang berusaha melepaskan diri. Terus ia lakukan itu. Sampai ia kehabisan tenaga.

Ia memohon “lepaskan aku” suaranya terdengar lemah.

Aku jawab “tidak, Hyun-Hee.”

Ia mencoba melepas diri lagi, lalu memohon lagi dengan sangat lemah

“aku mohon, biarkan aku pergi”

aku menjawab dengan lembut “tidak Hyun-Hee, kau tidak boleh pergi. Aku tak bisa kalau tak ada kau”

lalu Hyun-Hee bicara dengan menangis tesedu-sedu “untuk apa? Untuk kau pukul? Untuk kau tampar? Untuk kau lempari gelas? Untuk kau jadikan boneka?”

aku menggelengkan kepala. Rasanya ingin menangis mendengar kata-kata itu dari mulut Hyun-Hee.

“Sungguh aku tak akan berbuat seperti itu lagi. Percayalah padaku Hyun-Hee. “

“aku tak mau. Aku tidak kuat lagi. Sakit. Sakit sekali.” Lanjut Hyun-Hee dengan tangan kiri memegangi dada.

Aku tahu ia kesakitan.

“Maafkan aku Hyun-Hee.”

Lalu ia mulai berteriak dan tidak mau dipegang olehku. Aku berusaha memegang lengan atasnya agar ia tidak lari lagi. Tapi Hyun-Hee selalu menghindar.

“kau jahat, kau orang jahat!!! Hyuk-Jae jahat!!!” teriaknya.

Aku berhasil meraih pinggangnya. Aku memeluknya dari belakang. Aku memeluk erat pinggang dan perutnya. Tangan Hyun-Hee memukuli tanganku sambil terus berteriak. Ia ingin aku melepaskan pelukanku. Hatiku hancur melihatnya begini. Hatiku hancur karena ia begitu terluka karenaku. Hatiku hancur karena wanita yang kucintai membenciku, takut padaku. Aku tak bisa menahan lagi. Aku menangis. Hyun-Hee pun menangis kencang.

Ia berteriak lagi “aku benci kau… aku benci Hyuk-Jae!!! Aku sangat membencimu Hyuk-Jae!!!”

tangan kiriku memeluk bahu kanan dan kiri Hyun-Hee dari belakang. Aku memeluknya erat. Aku tahu dengan jelas ia sangat membenciku. Tapi aku mencintainya. Aku ingin menjaga dan merawatnya. aku tak akan membiarkannya pergi dari hidupku.

 

To be continued

 

 

11 thoughts on “[Freelance] Bleeding Heart Part 3

  1. nyeselkan sekarang hyuk jae setelah pa yg dilakuin y k hyun hee,,,, org dikeja kyk samsak pukul sana sini n ancur sana sini….
    sekarang susah kan buat dapetin maaf dr hyun hee…..
    to seneng hyuk ae dah sadar,,, lanjutan y gmn ya….

  2. Waw seru akhirnya Hyukjae oppa nya sadar akan kelakukannya selama ini kepada Hyun Hee.. Walaupun begitu karena efek traumatis berulang2 disakiti maka Hyun Hee belum bs mempercayai apapun kata2 Hyukjae oppa.. Smg nantinya Hyukjae oppa bs meyakinkan Hyun Hee bahwa ia telah berubah

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s