[Freelance] Bleeding Heart Part 4

Bleeding Heart Part 4

Author : Kang Je-Hoon

Cast : Lee Hyuk-Jae, Kim Hyun-Hee

Other Cast : Hyuk-Jae Eomma + Appa , Hyun-Hee Eomma + Appa

Genre : Romantic, Family

Length : 6 Part

Rating : PG-15

 

Annyeonghaseyo.. :)

Ini FF kedua aku, semoga pada suka yaa,, Kamsahamnida… :)

 

 

 

Hyuk-Jae POV

Tubuh Hyun-Hee sudah lemas. Ia tidak mempunyai tenaga untuk teriak ataupun bergerak melawan. Aku membawanya masuk ke kamarku. Aku tak akan membiarkannya tidur di gudang. Aku menidurkannya di ranjang dan memakaikannya selimut. Lalu aku keluar kamar untuk tidur di sofa. Hari ini hari yang sangat melelahkan bagiku. Tapi tak apa. Menjaga Hyun-Hee membuatku merasa tenang. Selain karena rasa bersalahku yang sangat dalam, aku juga menyayanginya. Aku akan menjaganya. Selamanya. Aku memejamkan mataku. Dan tidur dengan cepat.

 

Sekitar pukul 06.00 aku sudah bangun. Aku takut sekali kalau Hyun-Hee lari lagi. Aku langsung beranjak ke kamarku untuk memastikan Hyun-Hee masih ada di kamar. Aku melihatnya. Ia masih tertidur. Aku menghembuskan nafas lega. Ia tertidur lelap wajahnya terlihat lesu. Ia masih sakit. Dan seharian kemarin, ia menangis terus. Kasihan sekali dia. Hari ini aku akan berusaha lebih keras untuk merawatnya dengan baik.

Aku berjalan ke arah lemari, mengambil pakaian dan menuju kamar mandi. Setelah mandi, aku memasak bubur untuk Hyun-Hee. Kali ini akan kutambahkan sedikit daging yang enak. Agar Hyun-Hee mau memakannya. Aku akan membuatnya dengan penuh cinta. Baru kali ini aku memasak untuk gadis yang kucintai. Rasanya sangat mengasyikan.

Bubur telah matang. Aku bergegas ke kamar. Saat masuk kamar. Hyun-Hee sudah bangun. Ia sedang duduk di tepi ranjang. Ia melihat ke arahku. Pandangan yang lemah. Menggambarkan betapa lemah tubuhnya. Aku tersenyum ramah dan berkata

“Hyun-Hee, kau makan ya? Aku buatkan bubur yang enak untukmu” Hyun-Hee menunduk dan menggeleng.

“tapi Hyun-Hee, kau belum makan dari beberapa hari yang lalu. Kumohon, makanlah. Kau ingin cepat sembuh kan?” Hyun-Hee menggeleng.

Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar. Aku meraih lengannya dan berkata

“jangan pergi, jangan pergi Hyun-Hee” ia tidak menjawab.

Ia melepaskan diri dari genggaman tanganku. Akupun membiarkannya. Aku tahu ia tak akan pergi. Dari sikapnya yang tenang, sepertinya ia tak akan pergi. Lagipula ia tak punya tenaga untuk pergi.

Aku membereskan tempat tidur. Agar nanti kalau Hyun-Hee ingin tidur, ia bisa tidur dengan nyaman. Setelah beres, aku turun ke bawah. Aku akan bujuk Hyun-Hee untuk makan. Bagaimanapun juga ia harus makan. Aku berjalan menuju dapur. Tapi apa yang kulihat.

Hyun-Hee sedang memegang pisau. Sepertinya ia mencoba bunuh diri. Oh God. Dengan cepat aku meraih tangannya hingga pisau itu jatuh. Hyun-Hee kaget melihatku. Matanya melebar dan lalu menangis. Ia menunduk dan tangan kirinya memegangi dadanya. Meremas bajunya. Ia merasa hatinya sakit. Menyedihkan sekali. Aku menarik tubuhnya ke pelukanku.

Hyun-Hee, mengapa kau ingin mati? Aku tak bisa hidup tanpamu. Mengapa begini? Tapi aku yakin, sebenarnya ia ingin hidup, hanya saja tadi ia melihat pisau. Maka terbesit ide untuk bunuh diri. Tenang Hyun-Hee, aku akan membuatmu bahagia. Sekuat tenagaku aku akan menjagamu. Melihatmu begini aku seperti hancur. Hancur sekali. Apa begini rasanya melihat orang yang dicintai menderita? Mengapa seolah-olah aku yang mengalaminya. Bahkan aku merasa kalau aku lebih menderita darinya. Tapi aku harus kuat. Aku akan tegakkan kembali Hyun-Hee. Aku janji.

Kembali ke awal. Aku memeluknya lembut. Cukup lama sampai ia berhenti terisak. Aku melepaskan pelukanku, aku mengusap air matanya.

“Gwaenchana. Menangislah kalau kau ingin menangis. Aku akan selalu ada untukmu. Untuk menjagamu”

 Hyun-Hee menangis lagi. Cukup kencang. Aku kembali memeluknya.

Setelah beberapa waktu, Hyun-Hee sudah tenang. Aku melepaskan pelukanku dan mengusap air matanya.

“sudah?” tanyaku.

Hyun-Hee mengangguk. Aku senang ia sudah bisa dekat denganku. Ini jauh lebih baik dari pertama kali ia kembali ke rumah ini. Aku membawanya ke kamarku. Aku mendudukannya di tempat tidur, lalu aku mengangkat kakinya untuk meluruskannya di ranjang. Aku duduk di sisi ranjang. Aku bicara lembut padanya

“Hyun-Hee, kau makan ya?” lagi-lagi Hyun-Hee menggeleng.

“aku akan mainkan sulap untukmu, kalau kau suka, setelah itu kau makan ya?”

Hyun-Hee tidak menjawab. Ia hanya diam saja. Aku mulai melakukan sulap. Aku belajar ini dari KyuHyun. Hehehehe. Semoga Hyun-Hee suka. Tidak sedikit sulap yang kutampilkan pada Hyun-Hee. Cukup banyak. Dan menurutku sulapku menarik.

Setelah selesai, aku membawakan bubur yang telah kumasak pada Hyun-Hee. Aku berkata.

“kali ini kau harus makan. Oke” aku menyuapi Hyun-Hee.

Oh God, ia mau memakannya. Mulutnya terbuka. Walaupun terlihat sangat lemas. Tapi ia mau makan. Setengah mangkuk telah habis. Lumayan. Ia sudah beberapa hari tidak makan. Hanya ada bantuan sedikit dari infus. Banyak kemajuan bagi Hyun-Hee.

Aku merawatnya dengan baik. Untuk dua hari ini, Hyun-Hee makan dengan teratur, walaupun aku harus melakukan berbagai cara yang konyol untuk membuatnya makan. Tapi tak apa, apapun yang harus kulakukan, asalkan ia mau makan aku akan lakukan itu. Selama dua hari inipun sama sekali tidak terlihat senyumnya. Wajahnya selalu tanpa ekspresi. Terkadang menangis. Tapi sudah tidak seperti dulu. Ia sedikit mengurangi menangisnya. Selama dua hari ini pun ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya diam. Entah karena rahangnya masih sakit atau ia memang tidak mau bicara denganku. Ketika kutanyai, ia menjawab hanya dengan menggeleng dan mengangguk. Ia juga tidak pernah menatapku. Tapi aku senang, sekarang ia sudah tidak gemetaran takut padaku. Saat aku di sisinya, ia tenang. Entah apa yang dirasakannya, tapi ini kemajuan yang sangat besar. Terimakasih Hyun-Hee, kau mengijinkanku menyembuhkanmu.

Sudah dua hari ini juga aku tidak bekerja. Aku tak tahu bagaimana perkembangan SuJu. Apakah mereka sudah baikan? Entahlah. Aku tak bisa meninggalkan Hyun-Hee dalam kondisi ini. Aku takut ia pergi. Sangat takut. Aku takut tak bisa menemukannya. Aku takut tak bisa melihatnya lagi. Apalagi setelah kejadian lalu, saat Hyun-Hee mencoba bunuh diri. Perasaanku mulai kacau. Aku tak bisa begini. Aku diliputi ketakutan. Aku berlajan ke arah kamarku. Aku harus melihat Hyun-Hee. Aku melihatmya terbaring di tempat tidur. Aku duduk di sisi tempat tidur, mengelus lembut kepalanya danmencium keningnya. Dengan begini hatiku tenang.

Setelah melihatnya, aku merasa jauh lebih baik. Aku kembali keluar kamar untuk tidur di sofa. Aku tahu Hyun-Hee belum mencintaiku. Dan ia gadis yang baik. Dari awal ia masuk ke rumah ini, ia tak mau satu ranjang denganku. Karena aku mencintainya, aku tak akan memaksanya.

                       

                                                                        =-=

 

Aku terbangun. Aku tidur dengan nyenyak. Aku yakin ini pasti karena aku melihat Hyun-Hee tadi malam. Aku bahagia sekali. Ia akan segera sembuh. Aku melirik ke arah jam. Aku terkaget. Sekarang pukul 09.00. Hyun-Hee pasti sudah bangun. Aku belum menyiapkan makanan. Bagaimana ini? Aku langsung bergegas ke dapur. Aku melihat Hyun-Hee. Ia sedang minum. Aku menghampirinya dan bertanya.

“Hyun-Hee, sedang apa kau di sini?”

“biar aku yang mengambilkan. Maafkan aku. aku terlambat bangun hari ini. Sekarang kau kembali ke kamar ya. Aku akan menyiapkan makanan untukmu.” Lalu Hyun-Hee menjawab dengan santai.

“aku sudah sembuh”

 mataku melebar, lalu aku memegang kening Hyun-Hee untuk memastikan suhu tubuhnya telah normal. Ternyata benar. Ia sudah sembuh dari demamnya. Aku memegang bahunya. Hyun-Hee mernyenyit. Lalu aku langsung melepaskan tanganku. Aku lupa kalau luka-lukanya masih sakit.

Lalu aku berkata padanya “ benar kau sudah sembuh? Oh God, thank you” lalu aku memeluknya lembut.

Aku benar-benar bahagia ia telah sembuh.

Hyun-Hee merasa tidak nyaman denganku lalu ia melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Ia berjalan menjauh dariku. Perasaan senangku berubah menjadi perasaan paling takut yang pernah kurasakan. Apa artinya Hyun-Hee akan pergi? Setelah sembuh ia akan pergi?

Aku benar-benar takut. Aku memeluk tubuhnya dari belakang  dengan lembut. Aku berkata dengan lembut.

“jangan pergi, kumohon jangan pergi Hyun-Hee. Kau tak boleh pergi”

 tiba-tiba tubuh Hyun-Hee bergerak melepaskan pelukanku. Ia berbalik menghadapku dan mundur beberapa langkah. Terdengar suaranya

“kenapa? Kenapa aku tak boleh pergi? Setelah sembuh total aku akan pergi. Aku sudah tak mau di sini. Aku sudah tak kuat. Kau tahu mengapa selama ini aku tak ingin bicara? Karena setiap  perkataan yang keluar dari mulutku, bagimu itu adalah salah. Hanya kau seorang yang benar. Apapun yang kulakukan, di matamu selalu salah. Dan ketika aku melakukan sesuatu ataupun bicara sesuatu, kau akan menyiksaku. Kau akan memukulku. Tanpa alasan. Sungguh tanpa alasan. Wae? Mengapa kau tak adil padaku? Apa aku pernah memukulmu sebelumnya? Pernah mencelakaimu? Jawabannya tidak!! Bahkan aku merawatmu, walaupun kau menyakitiku.“

“Sekarang aku berani bicara seperti ini. Aku tak takut lagi. Terserah kau mau apa. Kau mau membunuhkupun aku sudah tak peduli. Aku sudah benar-benar menjadi bonekamu. Boneka untuk pelampiasan amarahmu. Aku tidak akan menunduk lagi. Aku tak akan takut lagi. Aku akan selalu melawanmu. Hingga kau membunuhku!! “

“Sebenarnya apa salahku? Coba katakan dengan jelas. Apa salahku padamu? Dan kenapa kau tidak membiarkan aku pergi? Kita saling membenci, sebaiknya berpisah.

Kenapa? Kenapa aku tak boleh pergi? Jawab!!!” suaranya terdengar keras.

Ia benar-benar mengeluarkan semua emosinya. Aku menjawab dengan takut. Apa ekspresinya nanti? Dengan jelas kukatakan

“karena aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu” mataku memandangnya. Kulihat matanya melebar. Ia tampak kaget. Entah kaget atau marah. Aku tak tahu itu. Aku hanya harus memandangnya. Agar ia percaya, bahwa aku benar-benar mencintainya. Mulai terdengar suara Hyun-Hee

“apa? Apa kau bilang? Kau mencintai siapa? Mana yang kau sebut cinta? Memukul orang yang kau cintai. Menyiksanya? Membiarkannya menderita? Apa yang kau sebut cinta? Bagian yang mana? Kau bilang mencintaiku? Tidak! Yang benar itu kau membenciku. Huh, begitu mengerikannya mendengar kata cinta dari orang sepertimu.”

JLEEBBB. Kata-kata Hyun-Hee membekas sekali di hatiku. Aku mati kutu dengan semua perkataannya. Aku tak tahu harus berbicara apa. Hanya sakit di hatiku yang bisa kurasakan.

Lalu Hyun-Hee beranjak pergi. Ia menuju gudang lagi. Aku hanya bisa memandanginya seperti ini. Dia sangat membenciku. Dia tidak percaya kalau aku mencintaiku. Andaikan waktu dapat di ulang, aku ingin kembali.

Tapi itu tak mungkin. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya harus terus mencintainya. Sampai ia mengerti dan mau mengijinkanku mencintainya. Hatiku sakit. Kata-katanya begitu dalam. Aku yakin Hyun-Hee yang dulu pertama kali dating ke rumah ini tidak seperti ini. Aku sendiri yang telah merubahnya. Pasti ia berubah karena aku. sekarang aku sedang menuai apa yang kulakukan dulu. Tak apa. Aku akan terus mencintai Hyun-Hee sampai ia mau menerimaku.

Kali ini aku rasakan cintaku bukan cinta biasa. Bukan seperti mantan kekasihku yang lain. Aku benar-benar mencintainya. Aku tak akan melepasnya pergi. Bahkan kalau ia ingin mati, aku akan ikut bersamanya. Aku mencintai Hyun-Hee. Air mata jatuh dari mataku. Mataku masih memandangi gudang dengan linang air mata.

                                               

                                                                        =-=

 

Hari sudah malam, aku hanya duduk di halaman rumah. Hari ini cukup buruk bagiku karena mendapatkan penolakan dari istriku. Yah, aku baru sadar kalau sebenarnya Hyun-Hee adalah istriku. Ia sudah menjadi milikku. Tapi hatinya jauh dariku. Ia tidak memberikan hatinya untukku.

Aku ingin melihatnya. Aku rindu padanya. Aku berjalan ke arah gudang. Aku mendapati Hyun-Hee sedang memeluk lutut di sudut gudang. Kepalanya terlunduk. Apakah ia sudah tidur? Badannya akan sakit jika tidur seperti ini. Aku menghampirinya dan menggendongnya. Aku membawanya ke kamarku, aku menidurkannya di ranjang. Aku memakaikan selimut untuknya. Aku memperhatikan wajahnya. Wajahnya sekarang berubah. Mungkin itu karena ia telah mengungkapkan semua yang ada di benaknya.

Aku bahagia. Aku senang Hyun-Hee sudah mau bicara, walaupun ia bicara untuk memakiku. Tapi itu jauh lebih baik dari pada ia hanya diam. Aku tersenyum. Sebaiknya aku segera pergi. Aku takut kalau saja Hyun-Hee tiba-tiba bangun dan kaget melihatku di sini. Aku pergi keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan.  Aku tidur di sofa dengan tersenyum. Rasanya nyaman sekali melihat Hyun-Hee sebelum tidur. Sama seperti di cium Eomma saat kecil sebelum tidur.

 

 

Hyun-Hee POV

 

Aku terbangun. Badanku terasa baik sekali. Aku tidak merasa pegal sama sekali aku tidur dengan sangat nyenyak. Biasanya aku terbangun dengan badan yang sakit. Aku membuka mata dengan pelan dan nyaman. Aku terkaget. Aku sedang berbaring. Aku berada di kamar Hyuk-Jae. Tubuhku terselimuti. Pantas saja aku merasa sangat nyaman. Aku ingat bagaimana posisi tidur terakhirku. Aku sedang di sudut gudang dan memeluk lutut. Lalu mengapa aku berpindah disini? Tidak mungkin aku sendiri yang berjalan di sini. Lalu kalau begitu, apakah Hyuk-Jae yang membawaku? Bagaimana ia membawaku? Apakah ia menggendongku? Aku merasa ini sudah tidak asing. Mengapa ya? Apa Hyuk-Jae sering menggendongku dan meletakkanku di kasurnya?

 

Apa saat aku sakit ia juga sering melakukan ini. Tapi, jangan-jangan ia melakukan sesuatu yang buruk. Aku membuka selimut dan melihat tubuhku. Aku curiga sesuatu. Aku melihatku dengan pakaian lengkap.

Huufftt… aku aman. Aku juga melihat sisi kananku masih rapi. Sepertinya tidak ada yang tidur di situ. Semalam aku tidur sendirian. Kukira Hyuk-Jae melakukan yang buruk padaku. Karena kemarin ia baru mengatakan bahwa ia mencintaiku. Aku harus waspada dengan cinta busuknya.

 Aku segera bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar. Aku menuju dapur. Aku sangat haus. Saat melewati ruangan tengah, aku melihat Hyuk-Jae sedang tidur memeluk lutut di sofa. Ternyata ia tidur di sini semalam. Mengapa kali inipun aku merasa tidak asing. Apa ia sering melakukan ini saat aku sakit. Kesadaranku kurang saat sedang sakit kemarin. Apa sebenarnya tujuannya. Mengapa sekarang ia berbeda. Ia tak marah lagi padaku. Bahkan ia menunjukan bahwa ia baik. Harus di akui bahwa ia baik sekarang.

 

Tapi Mengapa? Mengapa ia berubah drastis? Apa ia benar mencintaiku? Aku tak bisa percaya ini. Aku takut suatu saat nanti ia akan kembali seperti dulu. Sangat mengerikan. Aku takut. Aku menggelengkan kepala dan segera pergi ke dapur. Aku mengambil botol air minum di lemari es. Aku meminumnya dan berpikir sejenak.

Sekarang aku juga sudah berubah. Sekarang aku gadis yang kasar. Kata-kataku menyakitkan. Aku sekarang tidak lembut lagi.

 

Aku rindu pada Hyun-Hee yang dulu. Aku tak mau seperti ini terus. Tapi sebenarnya keadaanlah yang membuatku seperti ini. Ini akibat dari kasarnya Hyuk-Jae. Tapi, apa ia benar berubah? Tiba-tiba terdengar suaranya yang membuyarkan lamunanku.

 

“Hyun-Hee, kau sudah bangun?” Aku yang kaget hanya menyautkan

“ya?” dengan wajah yang heran.

 

Tentu saja aku heran. Aku sedang memikirkan Hyuk-Jae. Tiba-tiba ia muncul dengan suara lembutnya dan dengan wajah tersenyum. Aku yakin aku baru beberapa kali melihatnya tersenyum seperti ini. Dan baru beberapa kali mendengar suara lembutnya, tapi mengapa sepertinya ini juga sudah tidak asing. Apa ia juga selalu seperti ini saat aku sakit? Aku mengerjapkan mata berusaha menangkap apakah ini kenyataan atau bukan.

 

Hyuk-Jae bicara lagi “apa kau lapar? Aku akan segera memasak untukmu. Tunggulah sebentar. Sebaiknya kau mandi dulu untuk menunggu masakannya matang. Bagaimana?”

 

Aku hanya menjawab “Ya” dan aku berjalan ke gudang untuk mengambil pakaian, lalu mandi.

 

Aku mandi dengan begitu banyak pikiran. Aku memikirkan bagaimana keadaan ketika aku sakit dahulu. Aku mencoba mengingat bagaimana perlakuan Hyuk-Jae padaku. Sejak kapan ia berubah menjadi baik. Tapi, sampai aku selesai mandi, tak ada satupun yang bisa kuingat.

 

Begitu membuka pintu kamar mandi, aku terkejut dengan Hyuk-Jae yang sudah di depanku. Aku mundur satu langkah dengan panic. Lantai kamar mandi sangat licin, aku merasa keseimbanganku lemah. Sepertinya aku akan jatuh ke belakang. Aku hanya sedikit teriak dan memejamkan mata. Tiba-tiba tubuhku terhenti. Sesuatu telah menahan pinggangku. Aku membuka mata, ternyata Hyuk-Jae yang menahanku. Kedua tangannya mengelilingi tubuhku di bagian pinggang. Tangannya masih menahan tubuhku. Aku menatap matanya lebar. Wajahnya tenang. Matanya juga. Ia juga memandangku. Lalu aku mengerjapkan mata dan segera berdiri tegap. Ia melepaskan tangannya dari pinggangku. Ia bergerak mundur dan akupun keluar daru lantai kamar mandi.

 

“maaf mengejutkanmu. Aku hanya ingin memberihtahumu kalau makanannya sudah siap”

 

Aku tak bisa berkata apapun. Aku memang terkejut dengan itu. Aku berjalan ke arah dapur. Aku merasa sangat lapar. Aku duduk di kursi meja makan. Begitu juga dengan Hyuk-Jae. Ia duduk di depanku. Tangannya langsung bergerak mengambilkan piring. Menuangkan nasi dan lauk untukku. Cukup banyak untuk porsi wanita. Aku hanya melongo melihanya.

 

“Kau harus banyak makan. Jika kau ingin segera sembuh total.” Ia tersenyum lebar.

 

Rasanya damai sekali melihat senyumnya. Hal yang langka sekali melihatnya senyum live darinya. Aku hanya sering menemukannya di TV. Sebenarnya senyumnya itu membuat ia terlihat terang. Apakah wajah aslinya seperti ini. Ia benar-benar berbeda. Wajahnya sama sakali tidak menyeramkan.

 

“mengapa melamun? Makanlah”

 

Aku kembali mengerjapkan mata dan menunduk untuk makan. Saat sedang makan Hyuk-Jae bicara

 

“bagaimana tidur semalam? Nyenyak? Mulai sekarang kau tidur di kamarku ya? Aku akan tidur di luar. Aku tidak akan mengganggumu. Percaya padaku. Aku tak akan menyentuhmu sediktpun. Bagaimana?”

 

Aku tdak menjawab. Aku tak ingin tidur di situ. Sebaiknya aku diam. Aku menunduk dan melanjutkan makanku. Hyuk-Jae juga tampak tak memaksa untukku menjawab. Setelah selesai makan, aku membawa piringku ke tempat mencuci piring. Tapi sebelumnya aku juga mengambil piring kotor milik Hyuk-Jae. Aku akan membawanya ke tempat mencuci piring. Tapi tangan Hyuk-Jae memegang tanganku. Ia berkata

 

“biar aku saja, kau bisa istirahat” lagi-lagi ia menyunggingkan senyumnya. Aku berbalik arah dan menuju ke gudang untuk membaca. Sudah lama aku tidak membaca. Mungkin dengan membaca aku bisa menjernihkan pikiranku. Dan mungkin aku bisa memutuskan akan bagaimana selanjutnya. Aku ingin kembali seperti Hyun-Hee yang dulu.

 

Aku memegang buku. Aku rasa aku menyukai buku ini, tapi apa yang kubaca sama sekali tak dapat masuk ke pikiranku. Aku sedang tidak konsentrasi. Aku bingung. Aku benar-benar berniat kembali ke sifat awalku. Tapi, aku juga sangat takut ia kembali menjadi jahat. Tapi akhir-akhir ini ia sangat berbeda. Aku tahu sekarang aku sudah keterlaluan. Aku sering bicara kasar. Aku sudah menyakiti orang. Sepertinya Hyuk-Jae benar tersakiti. Tapi walaupun begitu ia hanya sakit hati. Sedangkan aku, selain sakit hati, akupun sakit secara fisik. Tubuhku benar-benar sakit. Bukankah ia tidak merasakannya? Tubuhnya baik-baik saja. Tak ada yang memukulnya. Ia tidak akan bisa merasakan menjadi diriku.

 

Sayang sekali jika seorang Namja seperti itu. Padahal aku selalu menghayal memiliki keluarga yang bahagia, setelah aku kehilangan kedua orang tuaku. Sekarang aku hidup sebatang kara. Betapa menyedihkannya diriku. Aku baru sadar kalau aku sendirian di dunia ini. Kalaupun aku lari dari rumah ini. Kemana aku akan pergi?

 

‘Tuhan, mengapa Kau tinggalkan aku sendiri di dunia. Mengapa Kau ambil semua orang yang ku sayangi? Mengapa Kau tidak membawaku bersama mereka. Aku tak sanggup hidup sendiri.’

 

 Sebenarnya sekarang aku sudahh mempunyai suami. Tapi ini jauh dari pikiranku yang akan hidup bahagia.

 

‘ ibu, mengapa kau titipkan aku pada nyonya itu. Kau salah karena telah menitipkanku di sini. Aku sama sekali tidak bahagia. Aku menderita. Aku ingin sepertimu. Mempunyai suami yang menyayangi dan melindungimu.’

 

 Tak terasa air mataku jatuh. Aku menangis.

 

“ah, Ayah. Mengapa tidak memberitahu kalau akan datang berkunjung?” terdengar suara itu dari bawah. Itu suara Hyuk-Jae.

 

Kalau begitu mertuaku sedang ada di sini. Aku harus bagaimana? Sebaiknya bagaimana sikapku? Aku keluar dari gudang. Aku bersembunyi di atas tangga. Aku berjongkok. Aku harus tahu dulu untuk apa Ayah Hyuk-Jae datang. Bisa di bilang sekarang aku sedang menguping. Aku sedikit canggung dengan Ayahnya. Beliau terlihat dingin. Kalau ia bertemu denganku bagaimana? Apa aku harus berpura-pura keadaan di rumah ini baik-baik saja? Tapi masih banyak bekas luka di tubuhku. Bagaimana jika ia mengetahui apa yang selama ini di lakukan anaknya? Aku takut. Kumohon ia jangan tahu. Aku melihat mereka. Mereka sedang duduk. Terdengar suara Ayahnya

 

“Bagaimana keadaan rumah tanggamu? Apakah baik-baik saja?”

Dengan suara yang riang dan yakin Hyuk-Jae menjawab “ya. Baik-baik saja”

 

lalu Ayahnya mengeluarkan setumpuk kertas. Itu sperti catatan medis. Karena ada logo kesehatannya.  

Hyuk-Jae membacanya dan ia pun terlihat terkejut dengan surat itu.

Aku semakin penasaran kertas apa itu

 

“bisa kau jelaskan ini? Ini yang kau bilang baik-baik saja?” Tanya Hyuk-Jae Appa dengan suara keras. Nyaris membentak.

Hyuk-Jae terlihat sangat terkejut. Aku bisa melihat ekspresinya sekarang. Ia tidak menjawab.

 

“Jawab!! Ini benar atau tidak?” suara Ayahnya terdengar sangat keras.

 

“Ya. Benar” Hyuk-Jae akhirnya menjawab.

 

Mata Ayahnya terlihat marah. Ayahnya berdiri dari kursi. Hyuk-Jae masih duduk dengan menunduk. Ayahnya menghampiri Hyuk-Jae mengangkat kerah bajunya dan memukulnya.

Oh God. Ia memukul Hyuk-Jae. Pukulannya sangat keras. Ia memukulnya berkali-kali sampai Hyuk-Jae terkapar di lantai. Darah bercucuran. Aku menutupi mulutku dengan tangan. Aku tahu bagaimana rasanya. Seperti ada ledakan di rahang. Terdengar suara marah Ayahnya

 

To be continued

10 thoughts on “[Freelance] Bleeding Heart Part 4

  1. appa y hyuk tau lg klo hyun hee diperlakuin ngak baik ma hyuk n tu catetan medis y hyun hee kan?????
    semua y jd mala oetaka setelah hyuk sadar susah bgt buat dia dapet jalan pengampunan,,,,,, hyun hee dah agak tenang giliran appa y yg bertindak….
    kena akibat y gara2 kelakuan y….

  2. Ommo Hyukjae oppa ketahuan, koc papa nya Hyukjae bs mendapatkan catatan medis tsb dan langsung marah2 begitu kepada Hyukjae oppa, bukannya ia bersikap cukup dingin dgn Hyun Hee saat di altar pernikahan.. Penasaran.. Saatnya baca part 5

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s