First Love.. is just like that..

burninganchovy’s storyline

First Love.. is just like that..

Length : Ficlet

Rating   : T

Genre    : Sad, Romance

Cast        :

  1. CNBLUE Lee Jong Hyun
  2. Park Soon Ae (OC)
  3. SNSD Im Yoon Ah

Disclaimer : Semua cast dalam cerita bukan milik saya. Ide ceritanya saya dapetin setelah liat ada dua author di Fanficskpopindo (oleh author 27rinmiumiu) sama FFcnblueindo nge-post FF yang sama-sama terinspirasi dari lagu IU-Raindrop. Penasaran, saya download lagunya dan terciptalah ficlet ini ^^ Ide cerita PURE punya saya karena ficlet ini based on the true story (eaa curcol diaa). Oh iya, FF ini pernah di post sebelumnya ke WP pribadi saya –> burninganchovy.wordpress.com

Author’s Note : Ah, saya kembali! Kali ini nyoba bikin ficlet. Dan mengangkat tema soal first love. Karena buatnya singkat banget, masuk rekor loh.. ini rekor tercepet saya nyelesaiin cerita. Cuma… sekitar tiga jam! Wkwkwkwk. Dan maaf kalo typo sana-sini ataupun bahasanya sulit buat dimengerti. Oh ya, semuanya disini pakai Soon Ae’s POV yaa ^^ Oke deh, happy reading :) Dan… highly recommended loh buat baca sambil denger IU-Raindrop :)

Warning : Sebagian cerita adalah curcolan author dan sebagiannya lagi imajinasi author. Dan peringatan satu lagi, cerita ini mungkin agak-agak nggak jelas atau gimana… tapi kalo bisa sih baca juga ya.. Hehe!! *author ga mau rugi*

***

Cinta pertama. Apa yang bisa kau ceritakan tentang cinta pertamamu? Bagaimana perasaanmu saat itu—saat pertama kali kau menyadari semua tak biasa, semua jauh dari kata normal? Bagaimana ending dari kisah cinta pertamamu? Menyenangkan-kah? Atau… sebaliknya?

Masih teringat jelas di otakku. Kala itu hari Sabtu—hari dimana untuk pertama kalinya aku menyadari kehadiranmu di kehidupanku. Kala itu, sepulang sekolah, aku bersama tiga temanku mengunjungi sebuah supermarket yang mana pada lantai duanya terdapat sebuah toko buku langganan kami. Sebelum naik ke lantai dua—ke toko buku tersebut, kami berniat untuk mencari beberapa snack di lantai dasar. Dan saat itulah… aku melihat kau berjalan dari kejauhan bersama kedua temanmu. Melihat wajah salah seorang temanmu, rasanya tak asing. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku menyadari kalau kau bersekolah di tempat yang sama denganku.

Penampilanmu saat itu… sungguh membuatku ingin tertawa keras. Rambutmu halus, lengkap dengan belahan tengah yang memberi kesan old-fashioned. Lalu, tinggi badanmu yang di atas rata-rata. Bahkan, jika mungkin aku berdiri di sampingmu, aku hanyalah sebatas pundakmu. Dan yah, kau juga memakai seragammu dengan sangaaat rapih, sehingga memberikan image ‘cowok cupu’. Tapi, di balik itu semua, ada satu hal yang telah membuatku terpana. Senyummu—Senyum yang terlihat begitu tulus.

Siapa namamu?

Kau murid di kelas mana?

Dua pertanyaan simpel itu mulai menghantui pikiranku. Dan seakan mengerti dengan aku—yang saat itu benar-benar penasaran denganmu—semua situasi pada dua hari kemudian memberi jawaban untuk dua pertanyaan itu. Tepatnya setelah upacara. Di antara semua murid yang berdesak-desakan dan berebut untuk bisa segera bergerak menuju kelas mereka masing-masing, kau justru datang dari arah berlawanan dan… lagi, kau membuatku terpaku untuk beberapa saat. Aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih cepat saat kau melintas di hadapanku. Lee Jong Hyun. Pada kemeja seragam yang kau kenakan saat itu, akhirnya satu pertanyaanku telah terjawab dengan sendirinya. Namamu Lee Jong Hyun. Perlahan, dan tanpa terduga, kaki ini telah melangkah—mengikutimu secara diam-diam. Dan saat itu aku bisa melihat kau sedang berlari bersama teman-temanmu menuju sebuah ruangan yang terletak berseberangan dengan kelasku. Kelas 2-3.

Semakin lama, pertanyaan-pertanyaan lain tentangmu terus bermunculan. Satu per satu, nyaris membuat diriku sendiri kewalahan bagaimana mengatasi semua rasa penasaran yang telah bersarang di otakku saat itu. Tapi, beruntungnya aku. Selalu ada saja situasi yang membawaku untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaan itu. Dan semakin hari, semakin banyak hal yang kutahu tentangmu.

Semakin hari juga, aku menyadari kehadiranmu yang ‘mendadak’ itu telah membuatku jadi tak biasa.

Ada rasa bahagia tersendiri saat melihatmu berjalan dari arah yang berlawanan, yang pada akhirnya kita berdua berpapasan pada satu titik.

Ada rasa rindu yang diam-diam kusimpan saat sehari saja tak melihatmu di sekolah.

Aku rasa… aku menyukaimu.

***

Banyak sekali hal lucu, dan membuat hatiku selalu berdebar kencang saat aku mengingat tentangmu—namja yang sudah kukagumi selama dua tahun terakhir ini. Mungkin kau tak akan mengingat semua hal itu. Tapi aku? Sekecil apapun hal itu, akan kuingat sampai se-detail mungkin. Semuanya telah kurekam dan kusimpan baik-baik pada beberapa tempat di memori otakku.

Apa kau ingat, bagaimana kau selalu tersenyum, saat teman-temanku memanggil namamu setiap kau lewat di depan kelasku? Haha, mungkin kau tak mengerti kenapa mereka melakukan hal bodoh itu. Mereka bertingkah seperti itu karena… saat itu, rahasiaku—yang telah lama menyukaimu—terbongkar begitu saja. Dan mereka—teman-temanku—senang sekali membuatku tersipu malu serta salah tingkah dengan cara (konyol) itu.

Lalu… Apa kau ingat bagaimana kita terjebak dalam hujan di sebuah Gedung Tua? Ah, memang, saat itu bukan hanya kau dan aku yang terjebak dalam hujan besar di Gedung Tua itu. Ada banyak murid lain yang mengalami hal sama. Tapi, walau hanya hal sekecil ini—sekali lagi kukatakan—aku tak akan melupakannya.

Ah, apa kau ingat saat kau bermain dengan teman-temanmu di taman? Saat itu, kau dipukul oleh seorang temanmu sehingga perutmu terasa sakit… Kau terus memegang perutmu. Dan di sampingmu, ada temanku—dan baru kutahu, bahwa temanku, telah bersahabat lama dengan semua temanmu, Lee Jong Hyun. Temanku menirukan gerak-gerikmu sampai-sampai aku berpikir bahwa temanku-lah yang tengah kesakitan. Lalu, dengan konyolnya, aku berlari sambil berteriak, “Tenaga medis datang… Tenaga medis datang!”. Sontak, semua temanmu tertawa terbahak-bahak mendengar teriakanku. Begitu juga denganmu. Aku bisa melihat raut wajahmu yang kesakitan berubah menjadi sedikit lebih cerah. Apakah itu karena aku? Ah, kuharap iya…

Pada hari itu juga, untuk pertama kalinya aku duduk pada jarak yang cukup dekat denganmu. Melihatmu dari jarak yang sangat dekat, melihat lagi senyuman itu—senyuman yang berhasil membuatku terpana itu.

Lalu… Apa kau ingat saat kau tengah mempertunjukkan aksi taekwondo-mu di depan semua murid di sekolah kita? Saat itu kau benar-benar membuat semua orang terpukau! Dan seperti biasa, teman-temanku yang jahil, menyorakkan namaku dengan keras saat kau memperlihatkan kebolehanmu di depan banyak orang. Mereka bahkan sukses membuat wajahku merah dan langsung salah tingkah. Aish, benar-benar memalukan!

Benar, kan? Aku tak melupakan semuanya tentangmu, sekecil apapun itu.

Terlebih saat ini… detik-detik terakhirku untuk bertemu denganmu. Karena beberapa minggu lagi, mungkin kita akan melanjutkan sekolah ke tempat yang berbeda. Dan yang kudengar, kabarnya kau akan mengikuti tes pada sebuah sekolah atletik di luar kota. Sedih, tapi aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan itu. Yang terpenting sekarang, aku akan terus menyimpan semua kenangan manis tentangmu itu di memori otakku untuk jangka waktu yang lama.

***

Hey, ternyata aku salah.

Semakin banyak kenangan manis tentangmu yang tersimpan di dalam otakku, aku malah semakin hanyut dalam kesedihan. Mungkin aku saja yang belum terbiasa dengan suasana seperti ini. Dimana…

Setiap pagi aku tak dapat bertemu denganmu pada sebuah gang kecil yang akan membawa kita ke sekolah. Aku hanya bisa mengikutimu dari belakang—hanya bisa melihat punggungmu.

Aku juga tak dapat lagi melihat kau berlari kesana-kemari bersama teman-temanmu.

Tak ada lagi waktu khusus yang akan kusediakan hanya untuk menontonimu yang tengah berlatih taekwondo.

Sepertinya, aku benar-benar mulai merasa kehilangan. Kehilanganmu, Lee Jong Hyun. Mungkinkah kita bertemu lagi?

***

Aku tak tahu kalau akan seperti ini jadinya. Aku tak tahu kalau aku akan segera pindah ke Seoul dan meninggalkan semua hal indah yang ada di Busan—tempat yang sudah kutempati sejak lahir. Dan yang lebih menyedihkannya lagi, kemungkinan untuk bisa kembali bertemu denganmu semakin menipis. Nyaris tak mungkin. Ya, nyaris.

Karena ternyata, aku bisa bertemu kembali denganmu.

Saat itu. Pada saat-saat terakhirku berada di Busan. Teman-temanku mengadakan sebuah acara perpisahan sederhana. Semua benar-benar tak kusangka. Diawali dengan insiden temanku yang ‘katanya’ jatuh dari sepeda motor dan terluka cukup parah. Lalu, aku disuruh menjemputnya. Aku berjalan dengan penuh rasa khawatir. Lama-kelamaan, semakin cepat langkah kakiku, semakin jelas sosok yang ada di hadapanku saat itu. Itu… Bukankah… Lee Jong Hyun?! Aku benar-benar tak tahu harus bersikap apa. Semua perasaan ter-campur-aduk begitu saja bagaikan adonan kue; senang, terharu, sedih, kaget, ah… bahkan aku sendiri tak dapat menjelaskannya apa saja yang kurasakan saat itu. Perlahan aku mundur, berbalik badan, dan kemudian berlari, kembali ke rumah. Aku ingin menangis—ingin sekali menangis saat itu juga. Menangis karena terlalu bahagia.

Dan saat itu juga, aku tahu: Teman-temanku lah yang merencanakan ini semua. Mereka bahkan menyuruh kau untuk menghampiriku, sekedar meluangkan waktumu… untuk aku, yang mungkin tak akan bisa lagi melihatmu. Semua hal yang terjadi di hari itu serba tak terduga, terlebih saat kau mengajakku jalan-jalan. Berdua—hanya berdua. Hanya aku dan kau, kau dan aku. Tapi entah karena apa, aku menolak ajakan itu. Mungkin… Aku terlalu malu jika hanya berdua denganmu. Lantas, kau tak begitu saja meninggalkanku. Kau justru menungguku di teras rumah. Cukup lama kau menunggu… dan karena terlalu lama, teman-temanku mulai gemas. Salah satu diantara mereka pun berinisiatif untuk mengambil tiga helai kertas putih polos dari buku harianku. Itu surat yang sudah sejak lama kutulis untukmu. Dan sekarang, tiga helai kertas yang menceritakan tentang semua perasaanku itu telah mendarat tepat pada kedua telapak tanganmu. Dari kejauhan, aku bisa melihat kau sedang  membaca suratku sambil tersenyum. Apa kau menertawakanku, Jong Hyun-ah? Apa kau menertawakan aku, secret admirer-mu yang konyol ini?

Setelah membaca surat itu, kau kembali menghampiriku. Kau kembali mengajakku untuk pergi denganmu. Aku tetap bersikeras tidak mau. Namun… tiba-tiba kau menarik tanganku, lalu membawaku pergi bersamamu. Kita berdua, dengan sepeda motor, menyusuri jalan-jalan yang ada di sekitar rumahku.

“Apa kabar?” kau bertanya, mengawali pembicaraan.

“Baik” jawabku singkat, karena terlalu gugup.

Setelah itu, kita kembali terdiam. Benar-benar awkward. Tak lama kemudian, sebelum kau mengantarkanku kembali pulang ke rumah, kau meminta untuk bertukaran nomor telepon. Kau bilang, kau ingin bisa berteman baik denganku. Ah, hari itu…tak akan kulupakan!

***

Aku menjalani kehidupan di Seoul seperti biasanya. Mungkin karena sebelumnya aku sudah terbiasa tanpamu. Atau mungkin… karena sekarang aku sudah lebih sering berkomunikasi denganmu, walau hanya melalui beberapa pesan singkat? Kau tahu, aku tak bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya aku bisa berkomunikasi denganmu! Benar-benar seperti sebuah keajaiban! Kau bahkan tak hanya sekedar mengirimkan pesan singkat, kau juga sering mengirimkan rangkaian kata-kata indah yang tergabung dalam sebuah puisi. Bahkan, kau juga pernah membuatku kaget hanya dengan pesan singkatmu yang berbunyi: ‘Aku merindukanmu, Soon Ae. Rasanya menyesal kita baru bisa dekat sekarang’

Benarkah?

Tentu saja. Kau berbohong. Kau membohongiku.

Selang beberapa hari setelah kau mengirimkan pesan yang telah berhasil membuatku terpaku sesaat, lalu lompat-lompat kegirangan seperti orang gila itu, kau kembali membuatku kaget dengan sebuah pengakuan.

Pertama, kau tak mengirimi puisi-puisi indah itu hanya untukku. Kau mengirimkannya kepada semua kontak yang ada di handphone-mu. Kedua, kau hanya menganggapku sahabat. Tak lebih, tak kurang. Dan yang ketiga, kau bilang bahwa kau telah berpacaran dengan seseorang yang juga kukenal. Dia adalah gadis cantik dan pintar yang dulu—beberapa tahun lalu—juga bersekolah di tempat yang sama seperti kau… dan aku.

Bodoh.

Seperti orang bodoh saja, haha.

Atau memang aku yang bodoh? Memendam perasaan yang terlalu dalam untukmu, sehingga kau bisa memanfaatkanku begitu saja?

Tunggu. Kapan dia memanfaatkanku? Ah, entahlah.

Yang jelas, saat itu juga, aku benar-benar kehilangan arah. Sakit. Padahal, bukankah kau selalu mengatakan kau merindukanku? Bukankah kau mengatakan itu karena… paling tidak, kau juga mempunyai rasa yang sama denganku, Jong Hyun-ssi? Kau telah membuatku terlanjur bahagia. Tapi semua yang kurasakan selama ini ternyata salah. Salah. Lantas, kuhapus namamu dari kontak phonebook.  Kuhapus semua pesan manis yang bisa membuatku berpikir bahwa kau juga akan menyukaiku. Kuhapus semua kenangan yang pernah kujaga baik-baik dalam memori otakku. Aku menghapus semua hal tentangmu. Semua.

***

“Kau terlambat lagi, Soon Ae-ah!” omel salah seorang temanku, begitu aku datang terlambat ke sebuah café yang sudah menjadi tempat kerjaku sejak setahun yang lalu.

Miaan~” balasku pelan, dengan memasang jurus andalanku: wajah memelas.

“Hmm” temanku yang bernama Soo Youkyoung itu menghela napas. “Baiklah baiklah, aku benar-benar tak bisa melihat wajah memelasmu itu. Sekarang, cepat jaga kasir! Aku ada ujian dan harus segera ke kampus. Doakan aku berhasil, Soon Ae-ah!”

Nee~ Hwaiting, Youkyoungiee!”

Aku tersenyum evil. Fiuuh, untung saja aku terbebas dari omelan panjang Youkyoung, lagi, hahahah! Youkyoung-ah, mianhae, aku sepertinya memang bukan teman yang baik. Tapi kau tahu, aku menyayangimu kok, hahahah! Good luck untuk ujianmu, nae-chingu!

Kulangkahkan kaki menuju tempat kasir sambil mengancingkan celemek yang menjadi seragam utama para pelayan café ini. Setelah selesai, sambil memamerkan senyuman, kuangkat kepala dan… “Annyeonghase…yeo?” perlahan suaraku semakin mengecil, ketika melihat seorang pelanggan di hadapanku. Dia. Ya, dia. Ya Tuhan…

“Kau? Park Soon Ae?” tanya pelanggan itu, dengan ramah.

Wajah itu. Senyuman itu. Dia… Lee Jong Hyun. Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?

“Ng… I-Itu… Ah, maaf, kau mau memesan apa?” balasku gugup.

“Hahaha” ia tertawa pelan. Mungkinkah ia menertawaiku yang tengah kikuk? Apakah aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh di hadapanmu Lee Jong Hyun-ssi? “Tak usah terlalu formal dan kaku, Soon Ae-ah…” lanjutnya.

Aku tak merespon ucapannya. Suaraku tertahan begitu saja. Mataku mulai berair. Wajahku memanas, dan sekujur badanku mulai lemas. Ya, selalu seperti ini saat bertemu dengan Jong Hyun.

“Aku pesan dua cup cappuccino” ujarnya, yang sepertinya tahu kalau saat ini, aku sama sekali tak ingin berbasa-basi dengannya. Dengan cepat, aku langsung membuatkan pesanannya, membungkusnya, lalu memberikannya kepada Jong Hyun. “Terima kasih, Soon Ae”

Lagi, aku tak merespon ucapannya. Jong Hyun pun berlalu dari hadapanku. Sekujur badanku, yang sudah lemas karena baru saja dipertemukan kembali dengannya, tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuh. Aku terduduk lemas. Untung saja pagi ini masih sepi pelanggan. Jadi, tak akan ada yang complain jika aku seperti ini sekarang.

Lee Jong Hyun… kau berubah banyak. Semakin tampan. Tapi senyumanmu itu, tetap sama. Tetap bisa membuatku merasa seperti ini, persis seperti sembilan tahun yang lalu. Kau tahu, Lee Jong Hyun, sekarang aku sudah berhasil melupakanmu. Tentangmu, tentang semua kenangan indah yang pernah kulalui bersamamu, semuanya. Tapi, kenapa kau harus datang kembali… membuatku luluh lagi?

***

“Park Soon Ae”

Sepertinya seseorang baru saja menyebutkan namaku. Aku, yang baru saja siap mengunci café, langsung berbalik badan dan mencari dari mana sumber suara itu berasal. “Kau…”

“Aku menunggumu”

Ya, kau. Lee Jong Hyun.

“Sudah lama sekali kita tak bertemu. Apa tak lebih baik jika kita berbicara sebentar?” tanyanya, dengan senyuman itu.

Aku menundukkan kepala. “M-Maaf, tapi aku harus segera pulang… Karena… Aku… Aku memiliki segudang tugas di rumah”

“Sebentar saja, Soon Ae-ah” ucap Jong Hyun, kini tangannya telah memegang erat tangan kananku. Aku sempat terdiam, namun pada akhirnya dengan mudah, aku mengiyakan permintaan Jong Hyun barusan.

Kami memilih untuk duduk di sebuah bangku taman. Bangku kayu itu cukup luas, namun aku memilih untuk duduk berjauhan dengan Jong Hyun. Untuk beberapa saat, kami pun hanya diselimuti dengan keheningan.

“Apa kabarmu?” tanyanya, sambil melirik ke arahku yang masih menundukkan kepala.

“B-Baik. Seperti yang kau lihat” jawabku singkat, dan terdengar sedikit ketus.

Kami kembali terdiam.

“Ng… tak kusangka bisa bertemu lagi denganmu di Seoul, Soon Ae-ah”

“A-ah, nee~

Benar-benar awkward.

Jong Hyun mulai nampak gelisah. Ia mulai melirik jam tangannya. “Maaf, Soon Ae-ah, sepertinya aku harus segera pergi” pamitnya, yang mulai beranjak dari posisi duduknya. “Ng… seminggu lagi… aku dan Im Yoon Ah akan melangsungkan pernikahan di Hotel Seoul. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini, jadi aku tak sempat membawakan undangan pernikahanku untukmu. Tapi… kuharap, kau bisa datang, Soon Ae-ah”

DEG! Sakit sekali rasanya mendengar ucapan Jong Hyun barusan. Jong Hyun pun kini telah berlalu meninggalkan aku—yang masih duduk terdiam di bangku taman. Perlahan, bulir-bulir air mata yang semula menggenangi kelopak mataku, turun dan mulai membasahi kedua belah pipiku. Seakan mengerti aku tak mau menangis sendirian, hujan deras pun turun saat itu. Aku menangis keras. Tak peduli dengan apapun dan siapapun. Tak peduli bagaimana dinginnya saat itu. Tak peduli bagaimana air-air yang berasal dari awan itu telah membuatku basah kuyup. Tak peduli bagaimana kepalaku mulai pusing, hidungku mulai memerah, dan mataku sudah membengkak besar. Tak peduli bagaimana orang-orang akan menatapku dengan heran. Aku terus diam, sambil terus menangis—membiarkan semua luka ini hilang bersama hujan yang akan menghapusnya.

***

Sampai sekarang… aku masih belum bisa menjelaskan bagaimana rasa cinta pertama itu. Menyenangkan, atau… justru menyedihkan? Aku tak tahu. Tapi, satu hal yang aku tahu betul… Sampai sekarang, aku belum bisa melupakannya—cinta pertamaku, Lee Jong Hyun.

_____________________________________________________________________________________________

Anyway, thankyou good reader(s) for reading and be a good reader(s). ^^

15 thoughts on “First Love.. is just like that..

  1. One shoot ya ==” Ficlet mah seukuran flash fic sayangg mwohoho..
    Aku mau komen ini juga revieww…a hahhahah..
    sedih sih bacanya tapi di beberapa bagian kayaknya butuh penekanan kalian sedang dimana dan ngapain masa, aku sedikit jangal disini..

    ” Semua perasaan ter-campur-aduk begitu saja bagaikan adonan kue; senang, terharu, sedih, kaget, ah… bahkan aku sendiri tak dapat menjelaskannya apa saja yang kurasakan saat itu. Perlahan aku mundur, berbalik badan, dan kemudian berlari, kembali ke rumah. Aku ingin menangis—ingin sekali menangis saat itu juga. Menangis karena terlalu bahagia.”
    << son ae pulang kan?? tapi kog gak di jelasin tanpa kusadari jonghyun mengejarku kerumah atau jonghyun apa gitu tapi langsung..

    " Semua hal yang terjadi di hari itu serba tak terduga, terlebih saat kau mengajakku jalan-jalan. Berdua—hanya berdua. Hanya aku dan kau, kau dan aku. " << ini kapan jonghyun ngajaknya??

    "Tapi entah karena apa, aku menolak ajakan itu. Mungkin… Aku terlalu malu jika hanya berdua denganmu. Lantas, kau tak begitu saja meninggalkanku. Kau justru menungguku di teras rumah. Cukup lama kau menunggu…" << nah kamu dimana?? kamu ketemu dia trus masuk kerumah gitu??

    "dan karena terlalu lama, teman-temanku mulai gemas. Salah satu diantara mereka pun berinisiatif untuk mengambil tiga helai kertas putih polos dari buku harianku." << Wah kalian rame rame toh?? :O kenapa kamu bilang berdua??

    "Itu surat yang sudah sejak lama kutulis untukmu. Dan sekarang, tiga helai kertas yang menceritakan tentang semua perasaanku itu telah mendarat tepat pada kedua telapak tanganmu. Dari kejauhan, aku bisa melihat kau sedang membaca suratku sambil tersenyum. Apa kau menertawakanku, Jong Hyun-ah? Apa kau menertawakan aku, secret admirer-mu yang konyol ini?" << dari kejauhan?? nah kamu bisa bawa diary, ketemu temanmu, dan lain sebagainya ini gimana?? mohon di jelasin aku agak janggal ini U,u hahahaha.. ini komen terpanjang yag?? sudahlah yang penting aku udah review, untuk yang lainnya masih banyak sih.. tapi aku takut ntar malah aku jadi nulis FF ini wkkwkwkwk

  2. ah suamiku T-T *abaikan
    wah, ceritanya daebak!gaya penulisannya aku suka,udah kaya di novel profesionl^^
    daebak daebak…sering2 bikin ff suami saya ya, gomawo :3

  3. ah suamiku T-T *abaikan
    wah, ceritanya daebak!gaya penulisannya aku suka,udah kaya di novel profesional^^
    daebak daebak…sering2 bikin ff suami saya ya, gomawo :3

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s