[Freelance] Bleeding Heart Part 5

Bleeding Heart Part 5

Author : Kang Je-Hoon

Cast : Lee Hyuk-Jae, Kim Hyun-Hee

Other Cast : Hyuk-Jae Eomma + Appa , Hyun-Hee Eomma + Appa

Genre : Romantic, Family

Length : 6 Part

Rating : PG-15

 

Annyeonghaseyo.. :)

Ini FF kedua aku, semoga pada suka yaa,, Kamsahamnida… :)

Hyun-Hee  POV

“apa yang kau lakukan? Apa pernah aku mengajarkan seperti itu? Mengecewakan! Kau benar tak punya hati. Ingat, kau punya adik perempuan dan seorang ibu. Sedikitpun aku tak pernah mencelakai mereka. Sekarang apa yang kau lakukan?  Kau bahkan memukuli istrimu sendiri. Apa maumu? Istrimu ingin bahagia. Ia tak pantas kau perlakukan begitu. Jika Ayahnya tidak menolong ibumu. Kau tak akan bisa lahir. Bodoh!

Apa kau benar-benar telah berubah? Kau ingin keluar dari keluarga? Ingin tidak dianggap oleh kami? Kami mempunyai hati, sedangkan kau tidak. Ibumu sedang sakit di rumah. Sekarang kau malah menyiksa istrimu? Dimana otakmu? Dari kecil kaupun tak pernah kupukul. Tapi kali ini kau harus merasakannya. Kau harus merasakan lebih menderita dari Hyun-Hee.”

Ayahnya memukulinya dengan sangat keras.

Aku menutupi mulutnya dengan tangan. Aku terlalu kaget melihat semua ini.

Aku harus menghentikan ini. Jika di biarkan, Hyuk-Jae akan parah. Bahkan sekarang wajahnya sudah penuh darah. Ini akan lebih parah dari sakitku. Aku beranikan turun ke bawah. Aku berlari menghampiri mereka. Aku memegangi tangan Ayahnya

“Ayah mertua, sudah, jangan pukul lagi. Kumohon sudah” Ayahnya memandang ke arahku. Matanya berlinang tapi terlihat sangat marah.

Aku berlutut di hadapannya sambil menghalangi mendekat ke arah Hyuk-Jae. Tubuhku melindungi Hyuk-Jae

“kumohon” aku berkata sambil memegangi kakinya.

lalu ia berhenti memukul Hyuk-Jae. Ia memegang pundakku. Ia bertanya

“Hyun-Hee, bagaimana keadaanmu sekarang?” aku menjawab

“aku sudah tak apa-apa. Sungguh aku sudah sembuh.  Hyuk-Jae yang sudah menyembuhkanku. Jangan memukulinya lagi”

“sungguh kau sudah sembuh”. Mataku berlinang-linang.

Ayahnya berdiri. “baiklah, Ayah harus segera pulang, Ibu sedang sakit. Kumohon kau jangan menceritakan hal ini dahulu padanya. Tunggu ia sembuh. Aku yang akan bicara padanya. Mengerti?”

“Ya. Aku mengerti”

“kalau begitu Ayah pulang, kalau terjadi sesuatu lagi denganmu, segera hubungi Ayah.”

“Ya Ayah. Terimakasih. Sungguh terimakasih.”

Aku mengantar Ayahnya sampai ke luar rumah. Lalu aku bergegas masuk rumah. Aku mendapati Hyuk-Jae masih berbaring terkapar. Aku menghampirinya, mengangkat kepalanya dan melihat wajahnya yang penuh darah. Aku memapahnya duduk di sofa. Aku segera ke dapur. Aku mengambil air, es dan handuk untuk membersihkan darahnya.

Aku membasuh wajahnya. Banyak sekali darahnya. Setelah bersih, aku mengambil es dan handuk untuk mengkompres memarnya. Aku duduk di hadapannya. Aku memandangi lukanya. Aku menempelkan handuk yang berisi es itu di pipinya. Ia sedikit bergerak. Aku yakin ini pasti sakit.

Tangannya bergerak memegang tanganku. Aku terheran. Mengapa tiba-tiba seperti ini? Dengan wajah heran aku memandang Hyuk-Jae. Ia menggengam tanganku. wajahnya tersenyum, tapi matanya terpejam. Aku heran melihat ini. Ia sedang terluka, mengapa ia masih bisa tersenyum? Pasti sakit sekali tersenyum saat bibirnya terluka. Dan mengapa ia menggenggam tanganku? aku merasa tidak nyaman. Aneh sekali. Aku langsung mengubah topik.

“aku akan ambilkan baju ganti untukmu” aku bangkit dari tempat duduk dan menuju kamar Hyuk-Jae. Saat di kamar. Aku berpikir. Ia memang aneh. Apa benar kalau ia menyukaiku? Bulu kudukku merinding. Aku mengerjapkan mata dan kembali turun.  Aku memberikan baju itu padanya. Ia bangkit dari sofa dan menuju ke kamar mandi.

Aku duduk si sofa seberangnya. Ia kembali dari kamar mandi. Lalu ia membaringkan tubuhnya di sofa. Ia seperti akan tidur. Dia akan tidur di sini? Aku sedikit mengkhawatirkannya. Apa tidak sebaiknya ia tidur di kamar. Biar aku yang sudah sembuh tidur di sofa.

“Hyun-Hee, berjanjilah untuk tidur di kamarku?” ia mengatakannya dengan tersenyum.  Seolah ia bisa membaca pikiranku.

“tapi, kalau aku tidur di kamarmu, kau tidur dimana?”

“aku akan tidur di sini. Aku berjanji tidak akan menggangumu. Kau bisa mengunci kamarnya”

“Bukan itu masalahnya, sekarang kau sedang sakit. Apa tak apa jika tidur di sini. Aku tidur di gudang saja. Aku sudah biasa.”

Hyuk-Jae tersenyum. Ia benar-benar tersenyum. Ramah sekali senyumannya.

“ini tidak seberapa. Rasa sakit di tubuhmu jauh lebih dari ini.”

“sepertinya kau lebih sakit”

“sakitku akan bertambah jika kau sakit. Maka dari itu aku ingin kau tidur dengan nyenyak. Dengan begitu, aku pun akan merasa nyenyak walaupun aku tidur di sini.”

Eeeiisshhh. Gombal sekali perkataannya. Ini terlihat seperti EunHyuk yang di TV.

Tapi, mengapa ia berkata seperti itu. Seolah-olah nyawanya adalah aku. ini sungguh aneh. Tapi kurasa aku sedikit bisa merasakan cintanya.

Ah, aku tidak peduli. Memikirkannya membuatku gila. Aku berjalan ke arah tangga. Tiba-tiba terdengar suara Hyuk-Jae. Akupun menoleh ke arahnya.

“Hyun-Hee, terimakasih karena telah membelaku. Terimakasih karena telah mengobatiku. Terimakasih karena telah peduli padaku. aku mencintaimu.” Ia tersenyum.

DEG. Ada sesuatu yang kurasakan. Seperti sengatan listrik. Ini bukan yang pertama kalinya ia bilang kalau ia mencintaiku. Tapi kali ini berbeda. Apa yang beda ya?

Senyum yang sangat indah, ramah dan tulus. Aku hanya terpaku. Aku tak tahu harus menjawab apa.

Aku melanjutkan langkahku ke kamarnya. Setelah berbaring, aku berpikir. Hatiku. Hatiku merasakan cintanya. Aku mengerti sekarang. Ia benar mencintaiku. Kata cinta dari mulutnya tidaklah mengerikan. Aku bisa merasakan ketulusannya. Apa arti semua ini? Ia mencintaiku? Kalau begitu aku harus bagaimana? Aku sudah tak sanggup berfikir. Lagi-lagi memikirkannya bisa membuatku gila. Sebaiknya aku segera tidur. Aku memejamkan mata.

Satu jam berlalu, aku tidak bisa tidur. Aku ingin minum air. Aku turun ke bawah. Saat menuju dapur, aku melihat Hyuk-Jae. Hyuk-Jae sudah tidur. Ia tidur tanpa selimut. Sepertinya ia kedinginan. Aku berlari ke kamar dan mengambil selimutku. Aku kembali ke bawah. Aku memakaikan selimut itu di tubuh  Hyuk-Jae. Aku merasa tenang sekarang. Aku kembali ke kamar.

Saat berbaring, aku ingat sesuatu. Bukankah tadi aku turun ingin minum air. Mengapa aku bisa lupa? Tapi sekarang sudah tidak haus lagi. Aku mengantuk. Dalam sekitar 10 menit aku sudah tidur.

=-=

Hyuk-Jae POV

Pagi ini aku bangun. Tidurku cukup nyenyak. Walaupun banyak memar di wajahku. Ada selimut di tubuhku. Mengapa ada selimut ini? Apa Hyun-Hee yang memakaikannya ketika aku tidur. Aku tersenyum lebar. Aku menciumi selimut itu. Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Hatiku sangat senang. Hyun-Hee sangat baik hati. Walaupun ia membenciku. Hatinya benar-benar tulus. Aku semakin mencintainya. Beruntung sekali aku memilikinya.

Kalau begini aku rela dipukuli Ayah setiap hari.

Oh God, mimpi apa aku semalam. Mengapa aku sesenang ini? Aku menepuk-nepuk pipiku. Jangan terlihat seperti orang gila. Yang sedari tadi hanya tersenyum. Aku pergi mandi. Di kamar mandipun aku selalu tersenyum. Apakah begini rasanya mendapat balasan dari orang yang dicintai? Aku sayang Hyun-Hee. Aku akan selalu menucapkannya. Aku sayang istriku.

Setelah mandi aku pergi ke dapur untuk memasak. Saat memasakpun juga begitu. Aku terus tersenyum dan mengucapkan “aku sayang Hyun-Hee,, aku sayang istriku” terlihat seperti orang bodoh, tapi aku senang melakukannya. Dan aku akan melanjutkan perkataan itu. Kecuali jika ada Hyun-Hee, aku malu. Aku tersenyum malu. Saat berbalik arah menuju meja makan, aku melihat Hyun-Hee sedang berdiri memandangku.

“ah,, Hyun-Hee” dan akupun tersenyum. Aku sadar sesuatu. Jangan-jangan ia melihat dan mendengar kebodohanku tadi. Dengan malu aku bertanya

“apa kau sudah di sini sejak tadi?” Hyun-Hee mengangguk.

“kalau begitu kau mendengarnya?” lalu ia mengangguk lagi.

“aaaaa..aa.. ya.. aku menyayangi Hyun-Hee. Aku menyayangi Istriku” dengan yakin kuucapkan kembali kata-kata itu. Aku tersenyum lebar. Hyun-Hee hanya diam di tempat tanpa ekspresi.

Krikkk. Krikkk. Garing sekali. Hahahaha.

Aku mulai bisa mengaktivkan evil playboyku untuk Hyun-Hee. Semoga ini manjur. Hihihihi

Lalu aku menghampirinya dan memegang pundaknya untuk membawanya duduk di kursi makan. Aku membawakan piring, menuangkan nasi dan lauk. Menuangkan susu dan air. Aku benar-benar ingin merawatnya. Lalu aku duduk di depannya. Aku juga makan. Aku memulai pembicaraan

“Hyun-Hee, terimakasih untuk selimutnya” aku tersenyum lagi. Benar-benar, hari ini aku tak berhenti untuk tersenyum. Aku benar-benar bahagia. Aku melihat makan Hyun-Hee yang sudah habis. Ia bangkit dari kursi dan akan menaruh piring. Ia sudah berada di depan wastafel. Aku menghampirinya dan aku berada di belakangnya. Aku memeluknya dari belakang dengan alasan akan menaruh piring kotor. Aku tahu, pasti Hyun-Hee terkejut. Aku takut ia marah. Aku segera melepaskan diri.

Setelah selesai aku menggandeng tangan Hyun-Hee. Aku berkata

“Ayo ikut aku. Kita jalan-jalan” wajah Hyun-Hee bingung. Aku suka melihat wajahnya begitu. Aku tersenyum padanya. Dan membawanya keluar rumah. Aku sudah menyiapkan sepeda di luar. Aku menunggangi sepeda dan memandang ke belakang. Hyun-Hee hanya diam berdiri. Aku menepuk tempat duduk boncengan di belakangku.

“ayo naik” dengan ragu Hyun-Hee naik. Aku tersenyum dan mulai menjalankan sepedanya. Hyun-Hee tidak berpegangan padaku. Di depanku ada polisi tidur. Dengan sengaja aku menjalankan sepeda dengan kencang sehingga sepedanya bergoyang. Hyun-Hee terkejut dan tangannya memeluk perutku. Lalu ia berniat untuk melepaskannya kembali. Tangan kiriku langsung menggenggam tangannya. Aku berbisik ke belakang.

“Makanya, kalau sedang naik sepeda, kau harus pegangan. Kalau tidak kau bisa jatuh.”

Aku tersenyum lebar. Aku bisa membayangkan wajahnya yang bingung. Pasti lucu sekali. Istriku,, istriku… aku benar-benar sedang bahagia sekarang.

Sekarang sudah sampai. Kita berada di taman yang dekat dengan rumahku. Di sini ada sebuah bangku di bawah sebuah pohon. Jarang ada orang yang mendudukinya. Karena lokasinya sedikit terpencil. Tapi aku sangat suka tempat ini. Aku memarkir sepedanya di dekat bangku itu. Aku duduk dan Hyun-Hee mengikutinya. Aku duduk mendekat dengan Hyun-Hee. Hyun-hee merasa heran dan lalu memandang ke arahku. Aku hanya tersenyum.

“hari ini sangat menyenangkan bukan?”

“bukankah kau masih sakit”

“sudah kubilang Hyun-Hee sayang, aku tidak akan sakit jika kau tidak sakit, dan jika kau sakit, aku baru  akan sakit” wajah Hyun-Hee sangat lucu. Mungkin ia merasa aneh. Aku sangat suka menggodanya. Ekspresinya unik, dan berbeda dengan gadis-gadis yang pernah kugombali.

“entah mengapa hari ini aku tidak bisa berhenti tersenyum. Oh iya Hyun-Hee. Aku boleh meminta sesuatu?”

“apa?”

Aku menatap Hyun-Hee. Dengan wajah yang menunggu jawaban, ia juga memandangku.

“aku ingin melihat senyummu. Aku benar-benar tidak pernah melihat kau senyum untukku. Waktu itu aku pernah melihat kau tersenyum. Tapi bukan untukku, untuk Namja lain yang kau temui di. Kumohon senyumlah padaku. Boleh?” lalu bibirnya mulai bergerak.

Membentuk sebuah senyuman. Aku melihatnya. Aku melihatnya tersenyum. Senyumnya. Jantungku bagai ombak yang beriak. Aku hanya bisa terpaku melihat senyumannya. Dia benar-benar cantik. Apa mataku buta selama ini, tidak bisa melihat kecantikan alaminya.

Selama ini Hyun-Hee hanya menangis. Aku tak bisa melihat kecantikkannya. Tapi sekarang aku melihatnya. Aku melihat kecantikan wajahnya, tapi, dari dulu aku sudah melihat kecantikan hatinya. Oh, jantungku berhenti berdetak. Aku memegangi dadaku.

“Hyuk-Jae ssi , kau kenapa?” suara Hyun-Hee menyadarkan lamunanku. Sungguh dahsyat. Baru kali ini aku terpesona pada seorang gadis. Ia tidak memakai make up apapun wajahnya alami. Bahkan di kepalanya masih ada banyak perban. Ia benar-benar cantik.

“Hyuk-Jae ssi??” suara Hyun-Hee benar-benar membuyarkan lamunanku saat ini.

“ya? Aku tidak  apa-apa. Kau, cantik sekali.” Aku tersenyum lebar. Aku benar. Hyun-Hee memang sangat cantik. Kening Hyun-Hee berkerut. Aku tahu ia merasa aneh. Tapi ekspresinya sangat lucu. Ia sangat polos. Aku mengulurkan tanganku ke kepala Hyun-Hee. Aku merapikan rambutnya. Aku memandangnya dengan tulus. Ia sungguh cantik. Entah sudah berapa kali aku mengucapkan ini, tapi ia sungguh cantik. Percayalah padaku.

=-=

Hari sudah malam, aku mengantuk dan aku yakin malam ini aku akan tidur dengan nyenyak. Sangat nyenyak. Aku melihat Hyun-Hee sedang di dapur untuk minum. Aku menghampirinya. Aku memegang pundaknya. Aku bicara lembut padanya

“berjanjilah untuk tidur nyenyak hari ini. Kau akan tidur di ranjang kan? Jangan pernah tidur di gudang lagi. Ya? Janji?”

“ya”

Aku mendekat dan mencium keningnya dengan lembut. Cukup lama, aku melepaskannya tersenyum dan berkata

“selamat malam.” Lalu berjalan ke arah sofa. Lalu membaringkan diri dan memandang ke arah dapur. Hyun-Hee hanya diam terpaku. Aku yakin ini cukup mengejutkan baginya. Aku memejamkan mata dan tidur dengan tersenyum.

Hyun-Hee POV

Apa? Barusan  Hyuk-Jae menciumku? Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa aku membiarkannya menciumku. Aku tidak mencintainya. Aku hanya memaafkannya. Tapi mengapa aku membiarkannya menciumku? Ciumannya sangat lembut tidak ada emosi sama sekalu. Aku bisa merasakan ketulusannya. Bahkan suaranya sangat lembut. Aku merasakan ada ksih saying darinya.

Aku mengerjapkan mata. Aku baru sadar aku sudah berdiri terpaku untuk waktu yang lama. Bahkan  Hyuk-Jae sudah tidur. Aku berjalan ke arah kamar Hyuk-Jae dengan memegangi kening. Aku masih heran sampai saat ini. Aku langsung berjalan ke atas untuk tidur.

=-=

Pagi ini aku bangun dengan nyaman. Tidurku nyenyak sekali. Aku bergegas mandi. Setelah mandi, aku berganti pakaian. Lalu aku duduk di sisi ranjang untuk memikirkan beberapa hal. Akhir-akhir ini  Hyuk-Jae yang memasak. Aku ingin memasak untuknya. Bukankah itu tugasku? Apa kata orang kalau di dalam rumah tangga lelaki yang selalu memasak. Bukankah aneh.

Oh iya. Aku baru sadar sekarang. Aku dan  Hyuk-Jae sudah menikah. Selama ini situasi tidak menunjukan bahwa aku sudah menikah. Benar-benar situasi yang buruk dan sulit untuk menyadari kenyataan yang sebenarnya.

Sekarang aku istrinya? Aku mengerutkan kening. Mengapa aku baru sadar sekarang. Sudah lama berlalu. Aku sudah menikah? Bukankah aku masih muda. Kim Hyuk-Jae adalah suamiku? Aku isterinya? Aku sudah menjadi seorang isteri?

“ya. Kau adalah isteriku. Dan aku suamimu. Hyun-Hee dan Hyuk-Jae adalah sepasang suami isteri.”

Aku terkejut. Aku menoleh ke arah suara.  Hyuk-Jae berdiri dan bicara di sana. Sepertinya tanpa sadar aku telah menyuarakan isi pikiranku.  Hyuk-Jae tersenyum dan berjalan ke arahku. Aku masih diam terpaku. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan maupun apa yang harus kulakukan. Ia menggandeng tanganku dan berkata

“Ayo, kita memasak bersama”

Hyuk-Jae masih menggenggam tanganku. kami sedang menuruni tangga hendak ke arah dapur. Tiba-tiba langkah  Hyuk-Jae terhenti. Ia berbalik arah menghadapku. Aku menatapnya heran

“oh iya Hyun-Hee, maaf. Tadi aku masuk ke kamarmu secara tiba-tiba tanpa ijin. Itu karena aku sudah terbiasa dengan kamar itu.”

“tak apa. Itu kamarmu. Bukan kamarku. Kau bebas masuk kamarmu kapanpun kau mau.”

Jawabku. “ya. Aku mengerti. Terimakasih Hyun-Hee.”

Ia kembali berbalik arah dan menggandeng tanganku dengan erat. Entah mengapa aku ingin tersenyum. Aku ingin melakukannya. Tapi aku merasa aneh untuk itu. benar-benar perasaan yang aneh dan tak dapat kumengerti. Perasaan seperti ingin menolak, tapi tidak bisa. Dan pada akhirnya hanya membiarkan diri mengikuti apa yang diajaknya. Aneh bukan?

Saat di dapur.  Hyuk-Jae langsung menuju lemari es. Ia mengambil bahan-bahan yang ada. Cukup banyak. Dari bahannya, sepertinya kita akan memasak sup kimchi. Aku sangat bahagia. Karena itu makanan kesukaanku.

Aku bisa tersenyum dengan lebar sekarang. Hyuk-Jae baik sekali padaku. kami memasak dengan sangat menyenangkan.  Hyuk-Jae cukup jahil. Kami sedikit bermain lempar-lemparan sayuran.  Hyuk-Jae benar-benar menyasikan. Aku juga melihat senyum lebarnya. Ia tampan.  Hyuk-Jae tampan. Aku tersenyum malu.

Tiba-tiba ada yang mencubit pipiku. Oww… itu  Hyuk-Jae.  Hyuk-Jae nakal sekali. Aku sedang memotong wortel, tiba-tiba  Hyuk-Jae merangkulku dari belakang. Ia memegang tanganku. dia pasti mencari kesempatan. Aku ingin menghindar. Tapi tubuhnya terlalu besar untukku. Aku merasa kalau tubuhku kecil. Ya sudahlah, bisa apa lagi aku. aku hanya diam. Tapi jujur, aku nyaman. Aku nyaman dengan  Hyuk-Jae. Nyaman dengan pelukannya. J

Aku merasakan perubahan dalam diriku. Dulu aku sangat takut dengan Hyuk-Jae. Tapi sekarang aku nyaman. Aku tak merasa takut sedikitpun. Aku benar-benar merasakan sisi Hyuk-Jae yang sangat berbeda. Sangat berbeda dari yang dulu. Aku suka  Hyuk-Jae yang sekarang. Tiba-tiba ada yang mencium pipiku. Aku terkejut.  Hyuk-Jae mencium pipiku. Aku menoleh ke arahnya dengan kening berkerut

“Hyuk-Jae ssi?” dengan nada marah.

“makanya, jangan melamun. Kiita ini sedang romantis. Eh, kau malah melamun. Memangnya apa yang kau lamunkan?”

aku menjawab dengan gugup

“aahh,, tidak.. tidak ada. Tapi  Hyuk-Jae, kau benar-benar mengejutkanku. Tolong jangan menciumku lagi”

Hyuk-Jae tersenyum santai “maafkan aku. Tapi kau serius aku tak boleh menciummu lagi? Kau kan istriku?”

Aku tak menjawab. Aku sedikit kesal dengan Hyuk-Jae yang mulai seenaknya denganku.

“oke aku mengerti. Aku tak akan menciummu lagi. Maafkan aku ya?”

Hyuk-Jae mengatakannya dengan senyum. Aku yang tak tega pun memaafkannya.

“ne”

“apa sebelumnya kau pernah seperti ini dengan Namja?” Tanya Hyuk-Jae selanjutnya.

“seperti ini? Seperti apa?”

“Maksudku di rangkul dari belakang, di pegang tangannya dan di cium pipinya. Bagaimana? Pernah?”

“hhmmm… kurasa aku belum pernah seperti itu sebelumnya.”

“Benar?? Sunnguh??”

“Ya… memangnya kenapa? Mengapa kau begitu senang?”

“Tentu saja. Itu berarti bahwa aku yang pertama kali begini padamu. Terimakasih Hyun-Hee. Terimakasih.”

Apa itu membuatnya senang. Sungguh aneh. Beginikah sikap seorang Namja? Akan senang kalau mendapat sesuatu yang pertama? Hyuk-Jae memegang pundaku dan berkata padaku dengan serius

“Hyun-Hee, berjanjilah padaku, kau tidak akan membiarkan Namja lain begini padamu. Jika aku tak boleh lagi, maka namja lain juga tak boleh. Bagaimana?”

“Mengapa harus begitu?” tanyaku dengan wajah polos.

“sudah, jawab saja iya.”

“tapi, kurasa masakan kita bermasalah” Hyuk-Jae terkejut dan  melihat ke arah kompor. Lalu dengan cepat ia memutar tombol control kompor. Lalu membuka tutup panci dan mengamatinya.

“ah, selamat Hyun-Hee. Belum gosong. Mari kita makan.”

Saat sedang duduk dan bersiap untuk makan, bel berbunyi. Kami semua menoleh ke arah pintu.

“biar aku saja yang buka”  kata  Hyuk-Jae. Ia beranjak dari kursinya menuju pintu depan. Tiba-tiba terdengar suara  Hyuk-Jae

“Eomma??”

Aku yang sedang duduk langsung beranjak berdiri. Apa?  Hyuk-Jae memanggil Eommanya? Bagaimana ini? Apa ibu mertua sudah mengetahui segalanya? Aku langsung beranjak ke arah pintu depan. Aku menghampiri mereka. Aku melihat ekspresi ibu mertua. Seperti yang sedang marah. Bagaimana ini. Sepertinya ia sudah mengetahuinya. Apa yang akan dilakukannya?

“Hyun-Hee, ikut ibu pulang” tiba-tiba ibu mertua menarik tanganku dan membawaku keluar. Aku hanya tercengang dan menatap  Hyuk-Jae dengan binggung.

Hyuk-Jae segera mengejar kami. Tapi kami sudah masuk di dalam mobil dan segera berangkat. Aku tahu Hyuk-Jae memanggil namaku. Aku juga melihat ke arah  Hyuk-Jae. Aku melihatnya dari kaca mobil. Aku juga memanggilnya pelan.

“ Hyuk-Jae” mobilnya terus berjalan dengan cepat. Aku melihat Hyuk-Jae mengejar mobil ini dengan berlari dan memanggil namaku.  Hyuk-Jae terjatuh. Ia terjatuh karena terus berlari. Aku menyebut namanya. Aku sudah tidak melihat  Hyuk-Jae lagi. Mobil ini sudah terlalu jauh.

To be continued

15 thoughts on “[Freelance] Bleeding Heart Part 5

  1. Akhirnya hyukjae berubah juga n dy sangat mencintai Hyun hee. Hyun hee akhirnya mulai mau nerima hyukjae tp knp oemma hyukjae nyuruh hyun hee ikut, mudah2 mrka bersama lg..hayoo lanjut ya

  2. wkwkwkwkkwkwkwkwkwk nih pasangan kaia kompak aja pada babak belur abis d’gebukin #d’geplakauthor
    hohohohohohohohohoohohohohoo dari menaniaya jadi cinta wah topik yg cukup ajaib tapi masuk akal hohohohohohohooo ayo Hyukjae Oppa bawa plng tuh istrimu k’rumah sebelom d’crai paksa ama Umma kamu

  3. yaaaaaa eomma y hyuk dateng n kyk y dah tau deh klo hyun hee y disiksa n sekarang d bawa pulang k rmh eomma y hyuk…..
    br sama appa y selesai n sekarang eomma y,,,,,, pa nyelesaiin y segampang sama kyk ma appa y hyuk jae????

  4. Yah pas sedang romantis2nya Oemma nya Hyukjae oppa lsg membawa Hyun Hee, padahal beliau belum tahu bahwa Hyukjae oppa sdh memperlakukan Hyun Hee dgn baik.. Jangan pisahkan mereka oemma..

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s