[Freelance] Bleeding Heart -End

Bleeding Heart End

Author : Kang Je-Hoon

Cast : Lee Hyuk-Jae, Kim Hyun-Hee

Other Cast : Hyuk-Jae Eomma + Appa , Hyun-Hee Eomma + Appa

Genre : Romantic, Family

Length : 6 Part

Rating : PG-15

 

Annyeonghaseyo.. :)

Ini FF kedua aku, semoga pada suka yaa,, Kamsahamnida… :)

Hyun-Hee POV

Setelah tidak menemukan sosok  Hyuk-Jae sedikitpun, aku menoleh ke arah ibu mertua. Ia hanya diam tanpa bicara sedikitpun. Wajahnya tampak marah. Aku takut. Apa yang harus kulakukan. Mengapa jadi seperti ini? Aku mengacaukan keluarga  Hyuk-Jae. Aku benar-benar mengacaukannya. Aku memejamkan mata. Pertanda aku pasrah atas semua yang akan terjadi nanti.

Mobil ini berhenti di sebuah rumah. Rumah yang berdesain sederhana tapi cukup mewah. Ah, aku tak peduli. Aku sudah sangat gugup dengan ini. Apa aku akan dimarahi? Tidak. Sepertinya mereka akan marah pada  Hyuk-Jae. Tapi ini semua tidak seperti yang mereka pikirkan. Aku sudah memaafkan Hyuk-Jae.

Ibu mertua turun dari mobilnya dan akupun mengikutinya. Kami masuk ke dalam rumah itu. Ibu duduk di sofa ruang tengah. Aku masih dalam keadaan berdiri. Aku membungkukan badan dan berkata

“maafkan aku… maaf.” Lalu ibu berdiri dan berkata padaku

“Hyun-Hee. Untuk sementara kau tinggal di sini. Pakai kamar di ujung kanan sana. Jangan kemana-mana. Mengerti?”

lalu aku menjawab dengan cepat “ya. Aku mengerti”

terdengar dari suaranya sepertinya ia marah. Bagaimana ini? Ibu sudah pergi ke arah atas. Akupun berjalan ke arah kamar yang ibu tunjukan tadi. Aku duduk di dalamnya. Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Aku duduk bersandar di sisi atas ranjang. Aku sedang berpikir. Bukankah dulu aku sangat ingin keluar dari rumah itu. Ya, aku ingat dengan jelas. Aku sama sekali tak ingin tinggal dengan  Hyuk-Jae. Aku membayangkan kejadian yang dahulu. Aku bisa mengingatnya sekarang. Bahkan saat-saat aku sakit. Aku ingat apa saja yang  Hyuk-Jae lakukan. Apa saja yang juga kulakukan. Aku bisa mengingatnya sidikit-sedikit. Terlalu banyak peristiwa. Dan awalnya Hyuk-Jae sangat kejam. Tapi terakhir ia sangat baik. Aku ingat ketika ia mengusap air mataku. Aku ingat, yang bisa kulakukan dahulu hanyalah berdiam diri, menangis dan menangis. Aku bisa melihat perubahan dalam diriku. Aku sudah kembali kepada diriku yang dulu. Diriku yang kuinginkan. Betapa senangnya.  Hyuk-Jae pun berubah. Ia sangat baik. Dan aku sudah tidak khawatir lagi berada di sisinya. Bahkan sekarang aku ingin pulang. Aku nyaman di sana. Sedangkan di sini. Aku merasa takut. Aku tak terbiasa dengan keluarga kaya. Aku bukan orang yang terhormat. Oh, bahkan aku juga ingat betapa kejamnya Hyuk-Jae. Sebenarnya ia kenapa? Aku yakin  Hyuk-Jae sebenarnya tidak kejam, tapi mengapa ia begini. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Aku menangis. Aku ingat betapa jahatnya  Hyuk-Jae. Aku sudah memaafkannya. Sungguh sudah memaafkannya. Aku tak bermaksud untuk mengungkitnya lagi. Aku berhenti membayangkan betapa jahatnya  Hyuk-Jae. Bagaimanapun ia sudah berubah. Pikiranku terus bercampur aduk dan membuatku pusing. Lebih kuat mana antara perasaan jahat dan perasaan baik. Keduanya sulit untuk diputuskan.

Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar ini. Aku melihat ke arah itu dan ternyata ibu mertua. Wajahnya sudah cukup tenang. Akupun merasa tenang. Aku tahu ibu tidak jahat. Aku langsung berdiri dari ranjang dan membungkuk untuk memberi salam. Ibu duduk di ranjang. Aku pun mengikutinya. Aku duduk di sebelahnya. Ia menatap ke arahku. Aku melihat matanya. Matanya berlinang. Apa dia akan menangis. Tapi mengapa? Ia mengelus kepalaku dan berkata dengan lembut. Air matanya juga mengalir. Walaupun tidak deras, tapi sepertinya ia sangat sedih.

“Hyun-Hee, maafkan ibu. Ibu sungguh menyesal. Ibu ingin kau dan Hyuk-Jae bahagia. Tapi tidak di sangka malah seperti ini. Aku benar-benar tidak mengerti. Maafkan aku Hyun-Hee. Sungguh aku minta maaf. Ini semua salahku. Seharusnya kalian berkencan dahulu sebelum menikah. Agar bisa mengerti satu sama lain. Kalau aku tahu kau akan menderita, aku tak akan membiarkan kau menikah dengan anakku. Biar dia mencari pilihannya sendiri. Aku sangat sedih melihatmu seperti ini. Aku sangat sedih. Orang tuamu menitipkanmu denganku agar kau bahagia. Tapi aku malah membuatmu begini. Bagaimana aku bertanggung jawab pada orang tuamu?”

“ibu, tak apa. Sungguh tak apa. Kau tak perlu minta maaf. Kau sama sekali tak bersalah. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Dahulu memang aku sangat menderita. Tapi sekarang tidak. Kau bisa lihat. Wajahku sangat ceria bukan? Sekitar satu minggu lagi sudah tak akan ada perban di tubuhku. Aku akan sembuh total.”

“Tapi, mengapa selama ini kau diam saja. Kau telah lama menderita. Mengapa kau tidak meneleponku?”

“Sebenarnya aku sudah ingin pergi. Aku ingin pergi meninggalkan kalian semua. Tapi aku tak punya siapapun di dunia ini. Aku hanya punya seorang suami, aku hanya punya Hyuk-Jae. Dan aku akan berbakti pada suami. Cuma itu impianku. Memiliki keluarga yang banyak. Jadi aku tidak sendiri di dunia yang sangat luas ini.”

“jangan sebut nama anakku di sini. Aku terlalu marah padanya. Perbuatannya sunnguh tak dapat di ampuni. Aku katakan jangan menyebut namanya dan jangan membahasnya. Mengerti? Tunggu sampai suasana hatiku baik. Baru kau boleh menyebut namanya. Hyun-Hee, kau harus tahu. Kau tidak sendiri di dunia ini. Kau punya aku. aku sangat menyayangimu. Sejak pertama bertemu, aku sudah menyayangimu. Akupun sudah mengatakannya padamu, kalau aku akan menganggapmu sebagai anakku juga. Bukankah begitu?”

Ibu memelukku. Pelukannya sangat hangat. Aku sudah lama tak merasakan pelukan seorang ibu. Sudah lama sekali. Untuk merasakan ketulusan seorang ibu.

“aku juga menyayangimu, ibu. Aku menyayangimu. Terimakasih. Terimakasih karena  kau mau menjadi ibuku. Terimakasih.”

Kami menangis terharu. Aku sangat senang dan juga sedih. Mungkin begitu juga dengan ibu. Ia juga menangis bersamaku. Ia melapaskan pelukkannya dan mengusap air mataku. Aku tersenyum. Ia juga tersenyum.

“ibu sudah mengatur yang terbaik untukmu. Aku sudah memesan tiket ke Amerika untuk keberangkatan 2 minggu lagi. Kau akan hidup di Amerika. Di sana ada adikku yang akan merawatmu. Aku juga telah mengurus agar kau kuliah jurusan sastra di sana. Semuanya sudah ku atur. Aku akan menebus semua kesalahanku selama ini padamu.”

DEG. Kabar yang sangat mengejutkan. Aku akan ke Amerika? Negara impianku? Negara dimana buku-buku yang kubaca di tulis? Negeri dengan segala kehebatannya. Bahkan aku akan kuliah. Ini benar-benar seperti mimpi bagiku. Aku ingin sekali ke sana. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Ia memberikanku jalan yang luar biasa ini.

“Benarkah?” aku Tanya dengan wajah yang sangat senang

“tentu. 2 minggu ini kau akan menyelesaikan berkas berkasmu dan berangkat.”

“Terimakasih Ibu. Aku sangat berterimakasih”

“ne, berjanjilah kau akan bahagia dan akan mengunjungiku jika kau berlibur ke Korea”

“Ne, Yaksok.”

=-=

Aku melewati beberapa hari di rumah ini. Sungguh sangat menyenangkan. Aku merasa seperti mempunyai ibu kandung yang sangat baik. Sungguh sangat baik. Ia melakukan segalanya untukku. Pergi ke pasar bersama. Membeli sesuatu. Membereskan rumah. Memasak bersama. Sungguh sangat indah. Sebelumnya aku tak pernah begini.

Kadang kami mengunjungi nenek. Pergi dengan ayah. Aku benar-benar merasa mempunyai keluarga besar. Sangat nyaman. Aku bersyukur atas apa yang ada di hidupku sekarang.

=-=

Hyuk-Jae POV

Aku sedang mondar –mandir di ruang tamu. Aku sedang berpikir dan sedikit marah. Tapi apa yang bisa kulakukan? Tak ada. ‘Ibu benar-benar keterlaluan. Ia tak tahu kalau aku benar-benar menderita. Bagaimana ini? Aku seperti cacing kepanasan. Berapa lama ibu akan menculik Hyun-Hee. Aku tak sanggup jika begini terus. Sudah berapa hari ini?

Apa yang harus kulakukan. Aku ingin ke sana. Aku sangat merindukan Hyun-Hee. Sendirian di rumah ini membuatku hampir gila. Aku harus bertemu dengannya. Entah apa yang akan ibu lakukan padaku nanti, aku harus bertemu dengan Hyun-Hee. Aku juga harus bisa membawanya pulang. Entah akan ada berapa memar setelah aku pulang dari sana, aku tak peduli.

Aku mengambil kunci mobil dan beranjak ke arah pintu keluar. Aku melajukan mobil dengan kencang dan sedikit menenangkan diri. Agar aku tidak emosi saat sampai di rumah. Aku takut akan memperburuk masalah. Aku harus menjalankannya dengan kepala dingin.

Aku sampai di depan rumah. Sebenarnya sekarang sudah malam. Apa semua sudah tidur. Tapi setidaknya aku berusaha menemui Hyun-Hee. Jika tidak, akupun tidak akan tenang. Aku beranikan diri mengetuk pintu. Aku akan bersikap tenang. Tiba-tiba pintu terbuka. Aku menghembuskan nafas pelan utnuk membuang rasa takutku. Ibu yang membukakan pintu.

“kau?” terdengar suara ibu.

Lalu ia melanjutkan. “Untuk apa malam-malam datang?” suaranya sedikit marah.

Tapi ia terlihat tenang. Aku tahu ibuku. Ia tak akan marah padaku malam ini.

“Ibu, aku ingin bertemu dengan Hyun-Hee. Aku ingin melihatnya”

“Ia sudah tidur. Kalau ingin lihat. Masuk.”

Ibu berbalik arah dan masuk ke dalam. Aku tersenyum kecil. Aku tahu ibu tak akan marah. Ia ibu yang sangat baik. Aku segera menghentikan senyumanku. Aku takut jika ibu melihatnya, ia akan berubah pikiran dan akan memarahiku sekarang. Aku yakin ibu benar-benar marah, tapi ia tidak akan memarahiku sekarang. Apa ia sudah punya rencana?

Apapun itu, aku tak peduli. Yang penting aku segera bertemu Hyun-Hee. Aku sudah sampai di kamar tamu. Selama ini Hyun-Hee tidur di sini. Aku masuk ke dalam. Sedangkan ibu berdiri di sisi pintu. Aku berjalan perlahan ke arah tempat tidur Hyun-Hee. Aku duduk di sisi ranjangnya dengan pelan. Aku tak mau mengganggu tidurnya. Aku sangat suka dengan wajah tidurnya. Aku senang kalau ia bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa waktu yang lalu aku membuatnya selalu tidak bisa tidur nyenyak. Tapi sekarang aku rela. Aku rela lakukan apapun agar ia bisa tidur nyenyak, tertawa dan bahagia bersamaku.

Aku melihat wajahnya. Wajahnya tenang. Ia bahagia. Aku bisa merasakannya. Aku membelai wajahnya. Wajahnya sangat lembut. Betapa aku merindukannya. Aku meneteskan air mata. Aku menangis senang. Aku senang karena bisa melihat wajahnya. Aku benar-benar merindukannya. Aku mencintainya. Aku memandangi wajahnya.

“sudah malam, sebaiknya kau cepat pulang. Dan datanglah besok pagi ke sini” Itu suara ibu.

Aku beranjak berdiri, membungkukan badan dan mencium keningnya. Air mataku terjatuh di keningnya. Aku berjalan meninggalkan kamar Hyun-Hee. Ibu tidak mengantarku ke depan. Tak apalah. Yang penting aku sudah melihat Hyun-Hee. Aku yakin, malam ini aku akan tidur nyenyak. Aku masuk ke dalam mobil dengan santai. Hatiku puas. Aku sudah melihat gadis yang kucintai. Aku menjalankan mobil dengan tenang. Aku tak ingin mengganggu Hyun-Hee yang sedang tidur dengan nyenyak. Aku tersenyum. Tapi mengapa aku merasa sedih? Aku sedih karen tak bisa selalu melihat Hyun-Hee. Aku sangat merindukan dia. Bagaimana ini? Aku tak sanggup kalau begini terus. Aku akan membawa Hyun-Hee pulang. Aku janji itu. Aku akan menjemputnya pulang. Kuharap besok ibu member kabar baik dan membolehkanku membawa Hyun-Hee kembali.

=-=

Hyun-Hee POV

Aku terbangun dengan terkejut. Seperti habis mimpi buruk. Aku dengan spontan menyebutkan nama Hyuk-Jae. Aku menghembuskan nafas dengan kencang. Aku bermimpi  Hyuk-Jae. Aku bermimpi ia datang dan mencium keningku. Tapi mengapa sepertinya nyata sekali? Apa  Hyuk-Jae benar datang? Tapi itu tak mungkin. Ibu pasti akan memarahinya kalau tahu ia berani kemari. Aku bangun dan langsung menuju kamar mandi. Aku segera mandi dan menuju dapur. Aku akan membantu ibu memasak. Saat aku menuju dapur, aku sudah melihat ibu di sana. Aku langsung menghampirinya dan segera membantunya.

Kami sudah selesai sarapan dan membersihkan dapur. Ayah mertua juga sudah pergi bekerja. Hanya tinggal aku dan ibu berdua di ruang tamu.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Dan aku bergegas menuju pintu dan mengecheck siapa yang datang melalui kamera. Ternyata Hyuk-Jae. Aku terkejut dan memandang ke arah ibu.

“Ibu, Hyuk-Jae datang”

“biarkan ia masuk”

Aku membukakan pintu. Hyuk-Jae begitu senang melihatku. Ia langsung memelukku. Aku cukup terkejut dengan pelakuannya.

“Hyun-Hee ya, bogoshipeoyo”

Lalu kami masuk dan duduk di ruang tamu. Situasinya sedikit tegang.

“Kau dan Hyun-Hee akan segera bercerai. Eomma sudah mengurusi surat-suratnya. Juga sudah mengirimkan ke rumahmu, kau hanya tinggal tanda tangan”

“Mwo?? Cerai??” Hyuk-Jae menjawab dengan sangat terkejut.

“Ya, tentu saja. Aku tak akan membiarkan Hyun-Hee menderita lagi.”

“Tapi, Eomma. Apa ini tak terlalu kejam? Aku mencintai Hyun-Hee. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi”

“aku tak bisa mempercayaimu lagi. Hyun-Hee akan pergi ke Amerika minggu depan. Ia akan kuliah dan hidup dengan bahagia. Ada Bibimu yang merawatnya.”

Hyuk-Jae beranjak dan mendekati Ibu. Ia berlutut di hadapan Ibu. Aku terkejut melihat ini. Aku menutupi mulutku dengan tangan.

“Eomma Jhebal”

Hyuk-Jae mengatakannya sambil menangis.

Ibu berdiri dan berkata “Aku tidak akan berubah pikiran kecuali Hyun-Hee sendiri yang menolak pergi”

Hyuk-Jae terduduk lemas. Dan tak berapa lama ia berdiri dan memandangku dengan mata yang sedih. Aku juga bisa merasakan kesedihannya. Seperti menular, akupun ingin menangis. Hyuk-Jae menoleh dan pergi dari rumah.

=-=

5 hari berlalu. Aku dan ibu sibuk menyiapkan data-data yang diperlukan untuk kepergianku ke Amerika. Dan sekarang semuanya sudah beres. Aku hanya perlu mengemasi pakaianku dan berangkat besok lusa.

Dan sudah 5 hari ini tak terdengar kabar mengenai Hyuk-Jae. Ia tak pernah ke rumah dan tak terlihat di acara TV. Aku ingin tahu apa yang dilakukannya akhir-akhir ini.

Aku dan ibu sedang melihat TV dan ternyata ada Super Junior sedang menjadi bintang tamu dalam Running Man. Mereka lengkap kecuali Hyuk-Jae. Dan dikatakan bahwa Hyuk-Jae sakit sehingga tidak bisa mengikuti Running Man.

Aku menjadi khawatir dengan kabar ini. aku memutuskan malam ini aku akan pulang ke rumah dan mengambil pakaianku. Dengan ini aku bisa melihat keadaan Hyuk-Jae yang sebenarnya. Apakah ia benar sakit seperti apa yang dikatakan member lainnya.

=-=

Di rumah Hyuk-Jae.

Aku langsung masuk karena aku tahu passwordnya.

Keadaan rumah berantakan. Terlihat sangat kotor sekali. Aku menaiki tangga dan menuju ke kamar Hyuk-Jae. Aku membuka pintunya dan menemukan Hyuk-Jae sedang tertidur di ranjang. Kamar ini bau alcohol. Sangat menyengat sekali. Aku menghapirinya. Ia masih mengenakan pakaian yang terakhir kulihat. Selama 5 hari ini ia tidak ganti baju?

Dan sekarang ia mabuk berat. Di mejanya ada banyak botol alcohol. Banyak juga yang berjatuhan.

Aku sedih melihat ini. aku merapikan posisi tidur Hyuk-Jae yang berantakan. Aku memakaikan selimut ke tubuhnya. Aku memperhatikan wajahnya. Ia tampak sedih. Matanya seperti panda. Banyak garis hitam mengelilingi matanya. Kumisnya juga tumbuh lebat. Ia seperti namja yang tidak terawat. Aku memegangi keningnya. Suhu tubuhnya normal. Ia tidak sakit. tapi ia terlantar. Tidak ada yang merawatnya dan iapun tidak merawat diri sendiri.

Tiba-tiba matanya terbuka dan menatapku. Untuk beberapa saat ia belum sadar, ia memegangi kepalanya yang mungking sakit akibat banyak minum alcohol.

Setelah menyadari aku ada di depannya ia bertanya

“mengapa kau di sini?”

Pertanyaan yang dingin. Akupun menjawab “aku akan mengemasi barangku dan pergi”

“oh. Geurom, jalgayo”

Setelah mengatakan itu ia kembali memejamkan matanya dan kembali tidur.

Hatiku sakit dengan perlakuannya. Sebenarnya selama ini aku kecewa dengan Hyuk-Jae. Ia selalu bilang kalau ia mencintaiku, tapi kenapa tak sekalipun ia menemuiku dan memohonku untuk tidak pergi. Bahkan sekarang ia mengacuhkanku. Aku kecewa karena cintanya bohong.

Dengan sedih aku keluar dari kamarnya dan menuju gudang untuk mengambil semua barangku.

Saat mengemasi barangku, aku merasa ada yang belum yakin dalam diriku. Aku ingin menanyakan perasaannya lagi sebelum aku pergi.

Aku memutuskan untuk bermalam di sini dan menunggu pagi untuk menanyakan perasaan Hyuk-Jae untuk yang terakhir kalinya.

=-=

Pagi-pagi sekali aku bangun dan memasak bubur untuk Hyuk-Jae. Hyuk-Jae yang habis mabuk akan baik jika makan bubur.

Ketika makanan hamper siap Hyuk-Jae turun dengan badan yang lebih baik. Ia sudah tidak mabuk. Ia menuju dapur dan melihatku

“kenapa kau masih di sini?”

“Ah, aku sebentar lagi pulang. Kemarin terlalu malam untuk pulang”

“oh begitu. Oh iya, surat cerainya sudah ku tandatangani. Kau bisa membawanya”

Ia berkata itu sambil menunjuk ke arah meja yang diatasnya ada map berisi kertas. Lalu ia mengambil air di lemari es. Aku menuju meja itu untuk mengambil surat cerai itu.

Aku mendapati banyak air mata di kertas itu. terlihat beberapa memudar tulisannya karena air mata Hyuk-Jae.

Aku semakin bingung dengan ini. Hyuk-Jae terlihat sedih melepasku, tapi ia juga terlihat mengacuhkanku. aku harus memastikan ini.

“Hyuk-Jae ssi, apa kau benar-benar akan melepaskanku pergi?”

Hyuk-Jae yang sedang minum menoleh ke arahku. ia hanya memandangiku dan tak member jawaban.

“Kau bilang kau mencintaiku. Dan sebelum-sebelumnya kau tak pernah membiarkanku pergi. Tapi kenapa sekarang kau tidak melarangku pergi. Apa ini berarti bahwa yang kau katakana itu bohong?”

“jawabannya : aku mencintaimu” ia berjalan mendekatiku sambil tersenyum. Ia memegangi pundakku dan berkata

“geotjimal eobseoyo. Nan neol saranghae. Neomu neomu saranghae. Aku tak ingin kau pergi. Tapi aku sama sekali tak punya keberanian untuk melarangmu pergi. Setelah mendengar kau akan ke Amerika dan kuliah di sana, aku tak berani menghalangimu. Aku tahu apa yang kau inginkan. Amerika adalah negeri yang kau impikan. Aku melihat semua buku yang kau baca kebanyakan tentang Amerika. Apa hakku melarangmu pergi. Aku yang selama ini menyakitimu dan menghambat masa depanmu. Sekarang kau bisa mulai mengejar cita-citamu. Kau gadis yang pintar dank au masih muda. Kau akan bahagia di sana. Bibiku juga sangat baik. Jika kau di sini mungkin kau tidak akan bahagia. Aku tahu kalau kau tidak mencintaiku. Aku tak mau memaksakanmu lagi. Sekarang aku melepasmu pergi.”

Sungguh. Aku ingin menangis mendengar perkataannya. Ternyata ini alasannya mengapa ia tak melarangku pergi. Hyuk-Jae baik sekali. Tak bisa di tahan lagi aku meneteskan air mata dan menunduk.

Hyuk-Jae menghampiriku dan menghapus air mata yang ada di pipiku dan lalu memelukku. Akupun memeluknya. Ia mengusap usap kepalaku dengan lembut

“Uljima Hyun-Hee ya. Oppa tak bisa melihaymu menangis lagi. Berjanjilah kau akan bahagia di sana.”

Hyuk-Jae melepaskan pelukannya.

“biar kuantar kau ke rumah Eomma”

“Ne, gomawo, tapi sebaiknya kau mandi dulu. Kau belum mandi selama 6 hari ini ya?”

“Aiigoo, aku terlalu mencintaimu sampai aku tak ingat kalau aku Idol tampan yang harus selalu mandi. kekekeke”

Kami berdua tertawa. hehehehehhee

=-=

Hyuk-Jae POV

Di rumah Eomma

Aku mengantar Hyun-Hee dengan hati yang tenang dan rela. Aku sudah banyak merenung mengenai kepergian Hyun-Hee. Aku bisa merelakannya agar ia bahagia. Aku bisa terima semua keadaan ini. inilah buah dari apa yang kuperbuat.

Aku, Hyun-Hee dan Eomma duduk di ruang tamu.

“kau sudah siap Hyun-Hee ?”

“ne”

“dan kau Hyuk-Jae. apa ada kata-kata terakhir untuk Hyun-Hee?”

“Aniyo. Aku sudah mengatakannya tadi”

“kalau begitu kau antar ke bandara ya”

“ne Eomma”

Dan Hyun-Hee pergi ke Amerika.

=-=

Di Amerika

Author  POV

Hyun-Hee sedang duduk di salah satu taman yang ada. Ia menunggu seorang namja membawakan ice cream untuknya

Dan namja itu datang.

“gomawo Hyuk-Jae Oppa”

Ya, readers. Inilah endingnya. Hyun-Hee memang pergi ke Amerika. Tapi mengapa Hyuk-Jae ikut?

Begini ceritanya :

Saat di bandara. Hyuk-Jae dan Hyun-Hee berpelukan dan saling menangis. Eomma Hyuk-Jae juga ikut merasa sedih. Tetapi tanpa di duga Hyun-Hee pergi sendiri secara tiba-tiba. Ketika ia kembali. Ia membawa tiket untuk Hyuk-Jae. ternyata Hyun-Hee sudah menyiapkannya. Bahkan ia mencuri passport Hyuk-Jae untuk membelikannya tiket.

Eomma Hyuk-Jae dan Hyuk-Jae terkejut dengan ini. Hyun-Hee menyatakan bahwa ia tak mau bercerai dengan Hyuk-Jae. ia ingin tetap bersama Hyuk-Jae. Hyun-Hee merobek surat cerai yang sudah ditandatangani.

Eomma Hyuk-Jae sudah tidak bisa apa-apa lagi melihat Hyun-Hee seperti ini.

Lalu mengapa mereka ke Amerika? Apa Hyuk-Jae tidak akan kembali menjadi Eun-Hyuk di Suju?

Mereka ke Amerika untuk bulan madu. Hihihi.

END

 

Neomu gomawo udah baca FFku ya.. :)

16 thoughts on “[Freelance] Bleeding Heart -End

  1. ho oh gantung nih ending’a aiiiggooooooooooooo ,, mana pas Hyukjae mabuk gw parno loh kalo dy bakal gebukin Hyun Hee lagi ckckckckcckckckk

  2. critanya keren bnget thor, yah walaupun endingnya ngegantung… :)

    mnta crita after honeymoon dong htor boleh ya #ngasih puppy eye bareng baekhyun#

  3. Yippie happy ending, akhirnya Hyun Hee memutuskan untuk tdk bercerai dan ingin selalu bersama Hyukjae dan mereka berdua akhirnya sama2 tinggal di amerika

  4. weh daebakk..!! Di part2 awal lngsung capcuz ke konflik dan hebatnya tuh konflik bkin nyesek bnget pake banget,.!! Dan endingnya ckup baik, cuma kurang nggreget gtu thor..
    Tpi bgus ko epepnya, Daebakk deh bwt author..
    mian dipart2 awal ga komen, dan bru bsa komen dipart terakhir..

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s