[Freelance] PERAHU KERTAS Chapter 2

Title: [Freelance Chapter] (PERAHU KERTAS & Chapter 2)

Length: Chapters

[link] Prolog

[link] Chapter 1

Rating: PG13

Genre: Romantic,Friendship

Author: dkdnfi

CAST/Main Cast:

Kang Hyo Rim (F)

Song Ha Soo (F)

Kim Junsu 2pm (M)

Lee Junho 2pm (M)

And the others 2pm member

[A/N]: OH MY GOD! MAAFKAN AUTHOR YANG BARU BISA UPDATE SEKARANG! Mohon di maklumi saya baru saja menjadi mahasiswa dan dari dulu banyak sekali urusan yang harus saya urus. Jeoseonghamnida~ *BOWDEEP* Semoga part 2 ini bisa menebus kesalahan saya. Jangan lupa di komen yak ;)

Matahari siang ini sepertinya sedang gembira. Awan mendung yang seminggu ini berkuasa di langit akhirnya bisa ia kalahkan sehingga ia bisa dengan leluasa memancarkan sinarnya yang terik itu. Berbeda dengan seorang gadis berambut hitam dan panjang yang sedang duduk di bangku sekolahnya. Wajahnya terlihat murung sejak pagi.

“HyoRim-ssi, apa kau sakit?” guru yeoja yang sedang mengajar menghampiri HyoRim yang sejak tadi tidak fokus pada pelajaran.

“Gwaenchana seonsaengnim…”

Bruk..

Baru saja HyoRim menjawab kalau dia baik-baik saja, tiba-tiba tubuhnya ambruk ke lantai, pingsan.

*,*

“Ya! Song Ha Soo! Kemana coordi yang lain? Kenapa kau sendirian yang bekerja?” Tanya seorang namja berambut Mohawk sedikit berteriak.

Si yeoja yang di panggil Song Ha Soo itu menjawab sambil menutup telinganya.

“Ya! Junho-ya! Kau kira aku tuli?! Jangan berteriak seperti itu dan panggil aku dengan NOONA! Hh… Coordi noona yang lain sedang mengurusi Wonder Girls di Amerika. Karena aku masih baru sebagai coordi jadilah aku ditinggal sendirian ngurusin kalian. Untung saja ada HyoRim si coordi baru.”

“Eh? HyoRim? Jadi dia coordi baru kita?” si namja Mohawk yang ternyata Junho itu langsung duduk di sebelah Song Ha Soo dengan wajah penasaran.

“Loh kalian belum berkenalan? Kemarin HyoRim yang membersihkan dorm kalian dan packing barang-barang kalian. Dia juga yang masakin makan malam buat kalian. Aku kira kalian sudah berkenalan?”

“Belum. Kemarin dia ketiduran di sofa, waktu bangun mukanya shocked banget eh tiba-tiba lari keluar pulang. Padahal udah malem banget.” Junho menampakkan wajah kecewanya yang membuat Song Ha Soo sedikit heran.

“Oh lalu darimana kau tahu kalau namanya HyoRim?”

Junho menoleh ke arah Song Ha Soo kemudian ia berdiri ke depan meja rias.

“Kau tahu tidak? Waktu itu dia tertidur sambil memegang perahu kertas. Dan… waktu Junsu hyung melihatnya ia langsung menyebut ‘HyoRim-ssi’.” Junho melirik Song Ha Soo lewat cermin di hadapannya. Ia bisa melihat perubahan raut wajah Song Ha Soo.

Si yeoja itu terdiam kemudian beranjak dari tempat duduknya, mengambil kotak peralatan make-up, kemudian keluar dari ruangan dengan tatapan kosong sambil bergumam, “Perahu kertas? Junsu?”

Junho yang mengamatinya dari cermin hanya tersenyum kecut saat mendengar gumaman si yeoja.

*,*

Seorang yeoja tampak sedang terburu-buru berjalan menuju gedung JYPEnt. Beberapa kali ia melihat jam tangannya lalu memegang perutnya.

“Ah, Mianhae eonnie aku telat! Hari ini aku ada kelas intensif untuk masuk perguruan tinggi.” Yeoja tadi menghampiri seorang yeoja yang sedang membawa kotak.

“HyoRim-ah! It’s okay. Ayo naik mobil kita akan berangkat ke KBStv!” perintah yeoja yang sedang membawa kotak itu.

* [HyoRim POV]*

Selama di perjalanan menuju gedung KBS aku hanya diam melihat ke luar jendela mobil. Hari ini badanku sedang tidak fit. Mungkin karena dari kemarin aku belum makan. Padahal aku sudah biasa tidak makan dua hari entah kenapa hari ini perutku terasa sangat perih.

“HyoRim-ah, kau pucat! Gwaenchanayo?” Tanya Song Ha Soo eonnie.

“Eh? Gwaenchana. Aku hanya lapar, kok.” Aku menjawab pertanyaannya sambil tersenyum.

Sore ini 2pm sedang ada schedule manggung di sebuah acara music di KBS. Aku yakin pasti aku bakal pulang larut hari ini. Tak lama kemudian mobil yang aku tumpangi sudah sampai di parkiran gedung KBS. Aku segera membantu HaSoo eonnie membawa koper berisi baju yang akan di gunakan anggota 2pm nanti.

“Perlu bantuan, Agasshi?”

Sebuah suara terdengar dari arah sampingku. Aku melihat siapa yang berbicara kemudian tersenyum.

“Junsu-ssi! Tidak terimakasih. Ini pekerjaanku jadi aku harus mengerjakannya sendirian.”

Aku kembali berjalan sambil menggeret koper. Ternyata Junsu mengikutiku sampai ke dalam lift. Hanya ada aku dan Junsu saja yang berada dalam lift. Sesaat sebelum pintu lift benar-benar tertutup, ada sebuah tangan yang menahannya agar tidak tertutup.

“Ya! Junsu hyung! Kau kok ninggalin kita sih. Capek tau lari ngejar lift..” kata Nichkhun yang sedang terengah-engah.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Tiba-tiba member yang lain pun datang langsung nerobos masuk ke lift dan lift menjadi penuh. Aku terdorong ke pojok lift dan koper yang tadi aku taruh di lantai lift ikut terdorong dan menginjak kakiku.

“Aww! Kakiku!” aku menjerit kesakitan.

Semua member menoleh ke arahku kaget.

“Loh ada orang lain toh selain kita. Eung? Kau kan yang kemarin di dorm kami!” Taecyeon yang berada pas di depan pintu lift bertanya padaku.

Sedangkan Junho yang ada di depanku hanya menoleh ke arahku sebentar bukannya membantuku menyingkirkan koper. Untung saja Junsu langsung membantuku menyingkirkan koper yang menginjak kakiku.

Aku merunduk sedikit untuk memijat kakiku yang sakit. Tapi kepalaku malah membentur sesuatu yang empuk. PANTAT JUNHO. Huh malu sekali rasanya begitu tahu kepalaku baru saja mengenai pantatnya.

Dengan rasa canggung aku tersenyum padanya dan meminta maaf lewat gerakan bibir. Junho hanya membalas dengan senyum canggungnya. Tapi senyumannya itu membuatku tidak berhenti menatapnya dari belakang.

*[Author POV]*

Ting

Pintu lift terbuka. 7 orang yang berada di dalamnya pun berhambur keluar satu persatu. Junho memencet tombol open agar pintu lift tetap terbuka sampai semua member keluar.

Setelah semua member dan HyoRim keluar, Junho pun juga segera keluar. Tetapi langkahnya terhenti melihat sebuah handphone yang tak jauh dari depan lift. Ia mengambil handphone tersebut yang sedang berbunyi ada panggilan masuk.

“Yeoboseoyo?” kata Junho

“….”

“Mwo?! Iye..iyee…” Junho segera berbalik menuju lift saat pembicaraannya yang entah sama siapa itu berakhir.

Ting. Lift terbuka. Junho kembali masuk ke dalam lift dengan muka khawatir. HaSoo yang baru saja keluar dari lift merasa heran dengan tingkah Junho tersebut. Saat HaSoo ingin bertanya apa yang terjadi, pintu lift tertutup dan kemudian membawa Junho ke lantai dasar.

[2pm’s waiting room]

“Yeorobun! This is Kang HyoRim-ssi our new coordi. Please be nice okay?” Junsu memperkenalkan HyoRim di depan semua member kecuali Junho yang sedang tidak ada di tempat.

“Annyeonghaseyo! Kang HyoRim imnida. Just call me HyoRim. Bangapseumnida!” HyoRim membungkuk hormat kepada kelima member yang sedang duduk.

“Urineun 2pm imnida” jawab kelima member serempak yang membuat HyoRim bertepuk tangan.

“Waah… kalian group yang benar-benar kompak. Tidak salah aku menjadi Hottest. Haha”

“Huh? Are you a hottest? Then who’s your bias? Tell us!” Tanya Nichkhun

HyoRim menatap satu persatu kelima namja itu. Mulai dari Taecyeon yang duduk di pinggir, lalu Chansung, Wooyoung, Nichkhun, dan terakhir Junsu. Mata mereka beradu pandang. Dari raut wajahnya Junsu sangat berharap dialah yang menjadi member favorit HyoRim.

Dengan malu-malu dan tersenyum, HyoRim menjawab, “Junho-ssi is my bias.”

“Aaaa….” Sekali lagi dengan serempak Taecyeon, Nichkhun, Wooyoung, dan Chansung mendesah kecewa karena bukan mereka bias HyoRim.

HaSoo yang berdiri di pojok terkekeh melihatnya. Namun kemudian ia terdiam melihat Junsu yang hanya tersenyum kecut dan dengan muka jealous.

Brak!

“Ya! HyoRim-ssi! Kau tadi habis pingsan kan? Kenapa kau malah kabur? Setidaknya kau harus istirahat. Gurumu barusan menelepon ke handphonemu tapi terjatuh waktu di lift untung saja aku menemukannya. Ini aku belikan makanan. Kata gurumu kau sakit maag. Cepat makanlah nanti kau pingsan lagi!” Junho tiba-tiba masuk membanting pintu kemudian berbicara panjang lebar kepada HyoRim.

HyoRim yang di ajak bicara hanya diam sambil menatap Junho. Junsu berdiri kemudian mendekati Junho dan mengambil ehm lebih tepatnya merebut kantung keresek yang di tenteng Junho.

“HyoRim-ssi ini kau makan dulu saja biar Soo-ya yang siapin kostum kita. Kajja aku temanin, kita makan di atap.” Tanpa menunggu jawaban HyoRim, Junsu langsung saja menarik tangan HyoRim.

*,*

Junho berdiri bersandar pada kusen pintu dengan tangan berada di dalam saku celananya. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya yang mulus itu. Tatapannya lurus ke depan. Di dalam bola matanya yang kecil itu, terlihat seorang namja dan yeoja yang sedang duduk berhadapan layaknya sepasang kekasih. Telinganya menangkap suara cekikikan seorang yeoja yang kemudian berubah menjadi teriakan seorang namja.

“Ya! Beraninya kau menginjak kakiku! HyoRim-ssi mana kakimu aku mau membalasnya!” teriak namja itu pada HyoRim, si yeoja.

HyoRim dengan sigap berlari menjauhi si namja agar kakinya tidak diinjak balik oleh si namja. Sudah 3 menit mereka berlari kejar-kejaran seperti anak kecil. Sudah 3 menit pula Junho menyaksikan adegan itu dalam diam. Entah apa yang ia pikirkan. Otaknya memanas ketika ia melihat tawa HyoRim yang begitu lepas. Tangannya bergetar melihat keelokan paras HyoRim yang putih mulus tanpa dempul sedikitpun.

Ia tahu. Ia tahu otaknya memanas karena menerima rangsangan saraf yang bertubi-tubi dari nuraninya. Ia tahu tangannya bergetar karena jantungnya berdetak lebih kencang dan membuat aliran darah yang mengalir ke tangannya sangat deras. Tapi ia tidak tahu perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Junho mulai melangkah mendekati dua insan yang sedang berlarian itu.

“Junsu hyung! HyoRim sedang sakit kenapa kau malah mengajaknya berlari-lari? Bagaimana kalau dia pingsan lagi? Orangtuanya pasti jadi sangat khawatir.”

Atmosfir diantara ketiganya tiba-tiba berubah sunyi. HyoRim menggigit bibir bawahnya kemudian berjalan mundur membereskan sisa makanannya.

_

Junsu mendekati Junho lalu menaruh tangan kanannya di bahu Junho. Junho menoleh ke bahunya-yang dipegang Junsu- lalu menatap intens ke Junsu.

“Junho-ya, kau boleh khawatir pada HyoRim. Tapi tahukah kau kalau orangtuanya baru saja meninggal? Maka dari itu dia sangat sensitif tentang orangtua. Mungkin itu yang menyebabkan dia tiba-tiba murung dan pergi seperti tadi. Hyung ingin kau kembalikan tawanya seperti tadi. Arraseo?”

Junho menatap punggung Junsu yang semakin menjauh. Ia menunduk. Kata-kata Junsu-hyung menggema terus dipikirannya.

*,*

“Thanks for your hard work!”

Kalimat itu terus diucapkan oleh seluruh member 2pm kepada crew KBStv sampai mereka masuk ke dressed-room mereka. HyoRim dan HaSoo juga terus mengelap keringat yang membasahi tubuh para member.

Sekarang giliran HyoRim mengeringkan keringat di wajah Junho (?). HyoRim melihat ke arah Junho yang sedang duduk di lantai bersandarkan sofa. Wajahnya terlihat sangat lelah dan banyak pikiran. Diambilnya handuk kecil di meja rias kemudian ia mendekati Junho yang sedang menutup matanya.

Sebenarnya HyoRim masih sedih dan sedikit marah dengan Junho yang tadi sudah memention tentang orangtuanya. Tapi ia sadar ia tak berhak marah pada Junho yang tidak tahu apa-apa tentang orangtuanya.

Ia berjalan mendekati Junho yang sedang menutup matanya lalu berlutut di samping Junho. Perlahan-lahan ia menepuk-nepuk kening Junho dengan handuk kecil mencoba mengeringkan keringat Junho tanpa rasa jijik. Tanpa sengaja ia melihat ada setetes air -yang ia yakin itu bukan keringat- di ujung mata Junho.

‘Apa dia menangis? Setelah kejadian tidak menyenangkan tadi siang dia terus-terusan diam. Apa yang terjadi padanya?’ batin HyoRim.

“Junho-ya, aku dan Taecyeon-hyung akan pergi keluar membeli kopi. Kau mau rasa apa?” tanya Nichkhun.

Dengan tetap memejamkan matanya, Junho menjawab,

“Caramel Cream.”

[HyoRim POV]

“Caramel Cream.”

Singkat padat dan cukup jelas. Hanya dua kata itu yang baru aku dengar sejak kejadian tadi siang.

‘Apa dia marah padaku karena kelakuanku di atap tadi? Buat apa dia marah? Ah sangat membingungkan. Ya babo! Ngapain aku memikirkannya?! Aniyo aku harus fokus pada pekerjaanku!’

Aku kembali fokus dengan handuk yang kupegang. Dengan sangat lembut aku mulai menepuk-nepuk ke daerah dagu Junho. Ku lihat bibirnya yang eksotis itu. Tiba-tiba ia membuka matanya.

[Author POV]

Dengan sangat canggung, HyoRim mengalihkan penglihatannya ke arah Junsu. Junho ikut mengarahkan matanya ke arah di mana HyoRim memandang. Dilihatnya HaSoo sedang tertawa sambil memukul manja ke Junsu.

“Ya HyoRim-ssi! Bekerja yang benar dong. Mataku terkena handuk nih jadi perih.” Junho yang awalnya bersandar tiba-tiba berdiri dan berteriak sambil mengucek matanya.

HaSoo yang mendengar teriakan Junho lalu mendekati Junho dan memegang pipi Junho agar bisa melihat matanya.

“HyoRim tolong ambilkan obat tetes mata di kotak P3K! Ppali nanti mata Junho bisa iritasi.” Perintah HaSoo.

HyoRim memberikan obat tetes mata kepada HaSoo dan terus membungkukkan badan meminta maaf.

“Gwaenchana, HyoRim. Mata Junho sudah aku obatin. Sekarang kau lanjutkan perkerjaanmu. Oh iya Wooyoung-ah dan Chansung-ah kau tadi di panggil PD. Junsu-ya kau ikut aku ke ruangan sebelah.”

“HyoRim-ssi! Apa kau tadi sengaja menekan mataku? Apa kau marah karena kejadian tadi siang, huh? Aigo! Aku ‘kan tidak tahu kalau orangtuamu eung…baru… meninggal.” bentak Junho yang kemudian memelankan suaranya saat menyebut kata ‘meninggal’.

“A..Aniyo. Aku tidak sengaja, mianhae Junho-ssi. Soal tadi siang aku tidak marah kok. Hanya sedih teringat orangtuaku.” HyoRim tersenyum manis.

“Oke sebagai permintaan maafku karena telah membuatmu sedih, bagaimana kalau nanti malam kau kutraktir icecream?” Junho yang sedaritadi duduk di lantai tiba-tiba berdiri mendekati HyoRim.

HyoRim hanya diam menunduk nampak menimang-nimang ajakan Junho.

“Besok kau kan ke Hongkong. Sebaiknya kau istirahat saja. Lagipula icecream akan membuatmu  sakit nantinya.”

“Uu.. So sweet banget coordi dongsaeng kita ini. Perhatian banget sama Junho. Ups.” HaSoo tiba-tiba muncul dan menggoda Hyorim. Junsu yang berjalan di belakangnya pun tertawa mendengarnya.

“Ya! Eonnie, aku berkata demikian karena itu termasuk pekerjaanku. ‘Menjaga kesehatan member 2pm’. Kau sendiri yang mengatakan itu padaku.” Hyorim segera protes yang kemudian membuat tawa Junsu dan HaSoo makin keras.

“Hahahah.. HyoRim-ah, jangan salting gitu dong. Mukamu sudah kayak kepiting rebus tuh.” HaSoo kembali menggoda HyoRim.

“HaSoo noona! Stop teasing her!” Junho membela HyoRim.

“Wah wah.. Di belain nih. Ciee…” Junsu yang daritadi hanya tertawa ikutan menggoda Junho dan HyoRim. Dengan gesitnya ia pun berlari keluar ruangan sebelum terkena lemparan sepatu dari Junho.

*,*

[Junho POV]

Aku masih merasa bersalah karena kejadian tadi siang. Oleh karena itu, aku mengajaknya makan ice cream malam ini. Awalnya dia menolak tapi akhirnya ia mau juga setelah aku bujuk.

Aku turun dari mobilku dan segera masuk ke dalam ice cream café. Ku lihat dia sudah duduk manis di meja yang berada di pojok ruangan.

“Annyeong. Sudah lama menunggu?” aku menyapanya.

“Aniyo. Aku juga baru saja sampai, Junho-ssi.” Dia tersenyum sangat manis. Tanpa sadar aku ikut tersenyum.

“Panggil aku Oppa saja. Junsu-hyung kau panggil Oppa masa aku tidak?” tawarku. Bukannya mengiyakan dia malah membalas dengan juluran lidahnya. Aku menjadi gemas padanya.

“Shireo! Ak…”

“Haish! Kau ini. Aku lebih tua darimu tahu. Kau lahir tahun berapa?”

“Aku 1994. Ema…”

“Tuh kan! Kita berbeda 4 tahun dan kau tidak mau memanggilku Oppa? Aigoo..”

“…”

*,*

“Junho-ya, gomawo traktirannya.” Dia membungkukkan badannya sedikit kemudian tersenyum.

“Nde. Lain kali kau yang mentraktirku, okay?” aku mengacak rambutnya gemas.

“Omo! Sudah jam 9 malam! Aduh. Bus terakhir. Jam 9. Eotteohkae?” tiba-tiba dia panik tak karuan. Aku yang bingung memegang tangannya.

“Rim-ah! Waeyo? Kau seperti ayam kebakaran jenggot! Ada apa?” aku bertanya berusaha menenangkannya.

“Ani. Eung, jadwal bus terakhir menuju rumahku jam 9 malam. Dan sekarang sudah jam 9 lewat lima menit. Kalau berjalan kaki aku takut gelap. Kalau naik taxi aku lupa membawa uang banyak. Ah! Eung, Junho-ya, bisakah aku meminjam uangmu dulu?”

Aigoo lucu sekali dia menjelaskannya penjang lebar tanpa bernafas.

“Wow! Kau berbicara panjang lebar tanpa bernafas. Kkk~ Di mana rumahmu? Biar aku antar saja. Aku membawa mobil kok. Kajja!” ku tarik tangannya lembut dan menggenggamnya hingga  masuk ke mobilku.

Seperti biasa tubuhku sulit dikendalikan. Otot-otot di pipiku tertarik ke atas hingga aku tersenyum terus-menerus. Begitu pula jantungku yang bersiul seperti menggodaku karena detaknya yang begitu cepat. Aku sendiri masih belum bisa mengerti kenapa tubuhku menjadi aneh ketika aku berada di dekat HyoRim.

*,*

[Author POV]

Matahari baru melangkah sedikit ke atas saat HyoRim keluar rumahnya hendak menuju suatu tempat. Gadis itu tetap menerobos dinginnya pagi sisa-sisa musim dingin sangat menusuk kulit.

Setelah 20 menit berjalan, ia mulai memasuki sebuah tempat seperti taman yang teduh. Berbagai macam pohon yang hanya tinggal rantingnya berjejer menyambut. Salju yang tadi malam turun menutupi jalan setapak dan mulai mencair membuat HyoRim agak berhati-hati melangkah.

Tangan kanan HyoRim membawa toples sedang yang berisi banyak perahu kertas kecil. Sedangkan tangan kirinya membawa setangkai bunga lily putih. HyoRim memasuki gerbang yang bertuliskan ‘memorial park’.

Hari ini adalah 100 harinya eonnie HyoRim meninggal. Ia rela bangun pagi, ia rela menahan rasa dingin, dan ia rela berjalan jauh untuk mengunjungi makam eonninya.

Suasana pemakaman pagi itu sangat sunyi dan mencekam. Dari balik pohon, HyoRim melihat  dua namja dengan pakaian tertutup sedang berada di pemakaman eonnienya. Namja yang satu sedang menghadap ke makam dan yang satunya lagi seperti sedang mengawasi keadaan sekitar. HyoRim bergidik ngeri, takut kalau-kalau dua namja itu adalah penjahat.

Dengan senjata toples (?) ditangan, HyoRim mendekati makam eonnie dan kedua namja tersebut dari arah yang berlawanan dengan pengawasan si namja tadi. Saat HyoRim hendak menyapa, kedua namja tersebut berbalik badan dan membuat ketiganya terkejut.

“Aaaa..mphh..” Mulut HyoRim di bekap oleh salah satu namja tersebut.

Toples yang di bawa HyoRim pun jatuh hingga tutupnya terlepas dan membuat perahu-perahu kertas yang di dalamnya keluar.

“HyoRim-ah!?” teriak kedua namja tersebut kaget.

“Junsu Oppa?! Junho-ya?!” HyoRim yang sudah ‘bebas’ dari bekapan si namja ikutan teriak kaget sekaligus bingung.

Angin berhembus kencang membuat salju yang ada di ranting pohon berjatuhan. Perahu-perahu kertas yang berserakan di tanah tadi pun mulai berlayar di udara menabrak pikiran-pikiran tiga pemuda dan pemudi yang melayang-layang.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s