Whether I Hate You or Not (Chapter 7A)

Title                       : Whether I hate you or not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/Life

Cast                       :

Main Cast            : Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Kim Saena a.k.a Choi Saena

Kim Yoonhee

Other cast           : SHINee – Choi Minho

SS501 – Kim Hyun joong

Super junior – Cho Kyuhyun

Disclaimer           : Super junior are belong to God,SM Entertaiment,and their parents

SS501 Kim Hyun joong is belong to God,DSP Entertaiment,and his parents.

SHINee Choi Minho is belong to God.SM Entertaiment,and his parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.

Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic.

Please take with full credit.

Warning               : Lolicon,a little bit violence and NC

If you don’t like this fanfic. Please No Bash.

Don’t like. Don’t read.

Prev chap :

Prolog   Chapter 1   Chapter 2    Chapter 3   Chapter 4    Chapter 5  Chapter 6

 

Chapter 7 – To Love You More

#NP

Wonder girls – A sorry heart
Lyn ft. Hae Geum – Teddy Bear

Whether I Hate You or Not │©2011-2012 by Ksaena

Chapter 7a – To Love You More

ALL RIGHT RESERVED

Saena Pov           

Kepalaku terasa berat saat aku mencoba membuka mataku dan menyesuaikan pandanganku terhadap lampu kamarku yang menyala terang. Aku berusaha bangun dan duduk di tempat tidurku,aku menoleh ke arah jendela kamar yang tertutupi gorden berwarna pink tipis. Dilihat dari keadaan sinar matahari yang belum menembus gorden kamarku,aku yakin saat ini masih belum pagi.

Aku mengambil ponselku yang terketak di meja di sebelah tempat tidurku,di displaynya aku melihat jam yang baru menunjukkan pukul 11 malam. Aku mengingat-ingat kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu,mengapa rasanya kepalaku seperti dibebani sebuah benda berat?

Aku berhasil merangkai potongan-potongan kejadian yang kualami di sekolah tadi siang.Perlahan-lahan aku menyadari apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku. Mereka menyerangku.. Menyeramkan… semuanya..

Kepalaku berdenyut hebat saat aku berusaha mengingat semuanya. Aku segera berusaha menghapus semua bayangan itu dari pikiranku,semuanya terlalu menyakitkan untuk diingat,perlakuan mereka terhadapku. Menderaku dengan pertarungan batin yang hebat,sesuatu yang tidak bisa kujangkau dengan kekuatanku.

Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan perlahan menuju pintu kamarku,membukanya perlahan dan mendapati lampu kamar Minho sudah padam. Mungkin saja ia sudah tidur,aku melangkah dengan hati-hati menuruni tangga,sekilas dapat kulihat lampu ruang tengah sudah berganti dengan lampu lain yang lebih redup,lampu yang biasa dipakai jika malam hari.

“ Noona,kau sudah bangun?”

“ Minho? Kau belum tidur?” Aku melangkah mendekati Minho yang sedang duduk dengan kepala yang ditundukkan.

Minho hanya menggeleng dan masih menundukkan wajahnya. Aku tahu ada yang terjadi padanya belakangan ini,dan ia menyembunyikan semuanya dariku. Sebenarnya apa arti kata persaudaraan diantara kami berdua,kalau kami saling menipu dan menyembunyikan perasaan masing-masing?

“ Aku tahu kau butuh waktu untuk menyendiri sama seperti aku waktu itu. Tapi yang ingin aku tanyakan adalah apa arti kata saudara diantara kita?”

Minho menoleh,melihat ke arahku yang sedang memandang lurus pada layar televisi berwarna hitam. Aku menoleh dan tersenyum pada Minho,Minho membalas senyumanku dengan senyuman khasnya.

“ Saudara,sudah sepantasnya kita saling berbagi,apapun yang kau rasakan,semuanya..jangan ada kata dusta.. yang ada hanyalah rasa saling percaya.”

“ Kau benar,noona,sudah sewajarnya aku menceritakan semua masalahku padamu,sama seperti aku memaksamu waktu itu.”

“ Lalu ada apa?”

“Bisakah kita membongkar semua ini,noona?”

“ Membongkar apa?” aku sudah tahu ke arah mana pembicaraan kami akan berlanjut. Namun aku hanya diam dan mengikuti alur perkataannya,aku ingin tahu apa yang ada di dalam hatinya.

“ Aku ingin semua orang tahu kalau kau adalah noonaku..”

“ Min..”

“ Aku tahu noona,keputusanku terdengar egois bagimu,tapi aku tidak bisa melihat kau terus-menerus disiksa oleh mereka,orang-orang yang tidak tahu bagaimana berharganya kau di mataku.”

Aku hanya terdiam mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulutnya. Aku memang menderita karena semua orang membenciku sekarang,tapi akan jauh lebih aneh jika semua orang tahu aku adalah kakak dari seseorang yang dipuja-puja oleh mereka. Akan semakin banyak kemunafikan dan kebohongan yang terjadi.

“ Aku rasa aku tidak bisa..” Aku menunduk menatap pola karpet yang menutupi lantai ruang tengah. Berusaha menghindari tatapan Minho yang seolah mengintimidasiku.

“ APANYA YANG TIDAK BISA,NOONA?” Minho bangkit dari sofa yang didudukinya. Ia berteriak tepat di sebelahku,belum pernah aku melihatnya seperti ini.

“ Kau egois! Kau hanya mementingkan dirimu sendiri,noona.. Kenapa kau bisa begitu tenang menghadapi semua orang yang berusaha mencelakaimu? Kau mungkin bisa tenang dan bersikap tidak terjadi apapun! Tapi aku? Kau pernah memikirkan perasaanku? Aku merasa bersalah,noona..Aku merasa aku yang menyebabkan semuanya ini! AKU!” Minho berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal karena emosi yang ditahannya.

Aku hanya diam dan menunduk,sama sekali tidak berniat membalas perkataan Minho. Aku tahu saat ini pikirannya sedang kacau,dan membalas perkataannya dengan emosi,hanya akan menimbulkan peperangan. Ia sama sekali tidak menceritakan masalahnya padaku,ia dan aku sama-sama saling menutupi masalah kami,lalu apa bedanya aku dengan dia. Dia selalu berkata seolah-olah aku yang bersalah.

Minho meninggalkanku yang masih diam dan tidak berani melihat ke arahnya. Ia pergi dengan emosi yang masih naik turun,menutupi akal sehatnya,mengaburkan nuraninya. Aku baru berani mengangkat wajahku setelah terdengar bantingan pintu yang cukup keras dari arah kamarnya. Untuk kesekian kalinya aku meragukan adanya ikatan persaudaraan di antara kami.

Aku hanyalah anak angkat di keluarga ini,aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Aku memang egois karena perlahan aku mulai membencinya,ia sudah mendapatkan banyak kebahagiaan selama ini. Sejak kecil kami memang sering dibeda-bedakan,dan hal itu yang menyakitiku. Sekarang ia mencoba mengatur hidupku,apakah ia mempunyai hak untuk itu?

“ Anda kau tahu,Minho,aku bukan noona kandungmu,apa kau masih peduli padaku?”

End of the Pov

Author Pov                                   

          Yoonmi mengetuk pintu kamar Yoonhee dengan ragu,sejak kejadian kemarin malam,Yoonhee mengurung dirinya di kamar dan sama sekali tidak mau keluar untuk makan,bahkan hari ini ia terpaksa tidak masuk  sekolah. Yoonmi sudah berulang kali mengetuk pintunya dan menyuruh putri semata wayangnya itu untuk keluar kamar,sekedar menunjukkan kalau anak itu baik-baik saja.

“ Yoonhee..” Yoonmi berusaha memanggil Yoonhee untuk yang kesekian kalinya,walaupun ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Ia sangat khawatir dengan keadaan anak itu,Yoonmi sampai rela tidak masuk kerja,pikirannya hanya tertuju pada satu arah. Tidak mungkin ia bisa konsentrasi dengan keadaan seperti itu.

Yoonhee mamandang pintu kamarnya dengan pandangan kosong,masih dengan tatapan yang sama yang ditunjukannya kemarin. Ia sama sekali tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan benar karena ia merasa tidak lagi hidup dengan kenyataan paling mengejutkan dalam hidupnya. Tiba-tiba ia merasa dipermainkan dan dibohongi oleh semua orang.

Selama ini ia menganggap keluarganya baik-baik saja,walaupun appanya selalu bersikap dingin padanya. Ia sama sekali tidak mengetahui ada rahasia yang disembunyikan semua orang darinya. Alasan mengapa selama ini appanya bersikap terlalu dingin padanya. Alasan yang bisa menjelaskan kenapa Yoonmi bahkan lebih perhatian padanya daripada eomma dan appanya sendiri,padahal Yoonmi dan ia baru saja bertemu beberapa tahun yang lalu.

“ Yoonhee..” Yoonhee tidak berniat menjawab sedikitpun panggilan itu,hatinya masih tidak bisa menerima apapun tentang kenyataan yang terhampar di depannya.

Air mata mengalir begitu saja dari kedua pipinya. Sebuah aliran kecil yang sejak kemarin ditahannya,ia tidak ingin kelihatan lemah. Tetapi siapa yang tidak akan menjadi syok ketika mengetahui dia adalah anak kandung dari seseorang yang selama ini dianggapnya kakak? Apalagi umur Yoonmi dan dirinya hanya terpaut 13 tahun,berarti Yoonmi mempunyai anak pada usia belia,suatu kenyataan yang lucu dan menyeramkan.

Yoonhee terlalu takut untuk menghadapi apa yang akan berada di depannya nanti,siapa ayah kandungnya? Mengapa semuanya seolah-olah ingin membohonginya? Perlahan Yoonhee mulai mengerti cerita yang berada dibalik semua kobohongan ini. Tidak mungkin Yoonmi sengaja hamil pada usia semuda itu,pasti terjadi sesuatu. Sesuatu yang membuat dirinya hadir di dunia ini,dirinya yang sama sekali tidak diinginkan dan mungkin karena dialah Yoonmi harus pergi ke Paris selama 14 tahun.

“ Yoonhee,buka pintunya,biarkan eonni menjelaskan semuanya.” Yoonmi terlalu takut untuk menggunakan kata ‘eomma’,mungkin saja Yoonhe tidak bisa menerima semuanya dan akhirnya malah membencinya.

“ Yoonmi,apakah dia masih mengurung dirinya?” Yoonmi menoleh dan melihat eommanya menatapnya dengan pandangan khawatir.

“ Eomma,dia.. dia akan membenciku.” Yoonmi menangis dalam pelukan eommanya. Ia merasa semua yang dilakukannya untuk Yoonhee selama ini sia-sia jika anak itu akan membencinya.

“ Eomma..” sebuah suara lain yang terdengar lirih memuat Yoonmi dan eommanya menoleh.

“ Eomma..” Yoonhee berpegangan pada pintu kamarnya.

Yoonmi ingin berlari dan memeluk anaknya,tetapi sesuatu menahannya karena ia belum yakin Yoonhee akan menerimanya. Tetapi Yoonhee terlebih dulu berjalan mendekatinya dan memeluknya,Yoonmi tertegun sesaat sebelum dia membalas pelukan Yoonhee.

“ Eomma di sini,kau jangan takut..” Yoonmi membisikkan kata-kata itu seolah kata-kata itu adalah mantra yang bisa membuat Yoonhee menjadi lebih baik.

***

Yoonhee Pov  

Berbagai rangkaian kata-kata dan informasi masuk ke dalam pikiranku. Aku sudah mengerti sekarang keadaan Yoonmi eonni waktu itu. Ya memang sulit untuk dipercaya,mempunyai anak pada umur seperti itu,aku bisa mengerti jika aku telah merusak masa depannya. Sehingga ia harus pergi ke luar negeri dengan harapan bisa melupakan masa lalunya yang terlalu kelam.

Pantas saja orang yang selama ini aku panggil ‘appa’ yang ternyata adalah harabojieku. Dia memang tidak menyukaiku,aku sudah menyadarinya sejak awal,dari semua sikapnya yang ditunjukkan padaku. Aku sudah memikirkan untuk tetap menanggil Yoonmi dengan sebutan ‘eonni’ dan bukan ‘eomma’,ini semua demi kebaikan mungkin.

Walaupun Yoonmi eonni bersikeras menyuruhku memanggilnya ‘eomma’,mungkin aku tidak akan melakukannya. Aku akan menganggap semua yang terjadi tidak ada,cukup aku mengetahui kenyataannya dan tidak akan ada yang berubah. Aku akan tetap sama seperti dulu dengan kenyataan seperti itu.

“ Yoonhee…”

“ Ada apa?” lamunanku buyar dengan panggilan Heejin.

“ Ada Minho…” aku melihat ke arah yang ditunjuk Heejin,memang benar Minho sedang berdiri di depan pintu kelas.

“ Lalu?”

Belum sempat Heejin membalas perkataanku Minho sudha lebih dulu mencapai mejaku,bisa kulihat ada kilatan marah di matanya. Ada apa dengannya?

“ Noona,bisakah kita bicara?”

“ Baiklah..” harusnya aku merasa senang karena Minho menghampiriku,tetapi kali ini berbeda,ada aura lain yang menguap dari tubuhnya,aura dingin dan aura kebencian,itu semua membuatku sedikit takut.

Setelah kami sampai di tempat yang cukup sepi dan aku yakin tidak banyak orang yang akan melihat dan mendengarkan apa yang kami bicarakan.Sepertinya apa yang akan Minho boacarakan denganku adalah sesuatu yang sangat serius. Ekspresinya yang datar dan dingin,sesuatu yang biasanya menjadi topeng untuk menutupi bagaimana sifat aslinya. Setidaknya itu yang kuketahui,karena saat bersamaku ia bisa menjadi pribadi yang berbeda.

“ Apa maksudmu dengan menyebarkan semua brosur dan poster itu?”

End of the Pov

Author Pov

Minho bisa melihat dengan jelas ekspresi Yoonhee yang berubah menjadi kaget,dan wajah gadis itu yang tiba-tiba memucat. Berarti kemungkinan besar apa yang dikatakan laki-laki yang datang ke rumahnya semalam adalah benar.

“ A..apa mak..maksudmu,Minho?”

“ Jangan berpura-pura tidak tahu,Yoonhee-ssi.”

“ Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataanmu.”

“ Lalu bagaimana dengan ini?” Minho menyerahkan selembar kertas yang dilipat menjadi empat bagian kepada Yoonhee.

Yoonhee membuka lipatan kertas itu dnegan gemetar dan melihat brosur yang beberapa hari lalu telah disebarnya. Dalam sekejab rasa gugupnya berubah menjadi rasa takut. Ia menunduk dan tidak berani menatap Minho secara langsung. Pandangan pria itu berhasil menghujamnya.

“ Itu bukan hasil karyaku..”

Minho menyunggingkan sebuah senyuman. Ia tahu persis kalau brosur dan poster itu memang bukan dikerjakan oleh Yoonhee melainkan oleh seorang pria bernama Kim Jonghyun,yang baru diketahui Minho,adalah seseorang yang merupakan penggemar berat Yoonhee,setidaknya itu yang bisa ditangkap oleh Minho dari cerita pria itu.

Flashback

        “ Yoonhee? Kau pikir aku percaya semudah itu padamu?” Minho berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia tidak semudah itu percaya pada pria yang tiba-tiba datang dan menyuruhnya menjauhi Yoonhee serta menuduh gadis itu adalah penyebab semua yang menimpa kakaknya.

        “ Aku tahu kau tidak semudah itu percaya.” Pria itu megambil ponselnya dan memutar suatu rekaman suara.

        Tubuh Minho menegang mendengar sebuah suara yang tidak asing baginya. Mengatakan sesuatu yang sulit dipercayainya tetapi kenyataannya itulah yang terjadi. Minho yakin suara itu direkam saat gadis itu menghubungi Jonghyun,meminta bantuan padanya untuk membuat poster dan brosur itu.

        “Bagaimana? Kau percaya sekarang?”

        Minho tidak langsung menjawab,semua itu membuat pikirannya bertambah kusut. Hari itu seolah-olah semua orang berusaha membuatnya marah.Keringat dingin mengalir dari pelipisnya,ia ingin sekali mengahjar seseorang yang berada di depannya saat ini. Karena secara tidak langsung orang itu memberikan pilihan sulit dalam hidupnya.

        “ Baiklah,jika kau masih tidak percaya kau bisa menemuiku, Namaku Kim Jonghhyun,kelas X-5,kau bisa mencariku besok.” Setelah mengatakan itu,Jonghyun meninggalkan Minho yang masih mematung di tempatnya.

        Saat paling sulit dalam hidup adalah ketika harus memilih dan pilihan yang diberikan sulit karena kita tidak bisa memilih keduanya atau melepas keduanya,kita harus memilih salah satu. Diantara cinta dan saudara? Siapa yang akan dipilih?

        “ Kenapa kau mau melakukannya? Minho membuka mulutnya tepat ketika Jonghyun sudah hampir keluar dari gerbang rumahnya.

        Jonghyun berbalik dan menatap Minho sambil tersenyum. Seolah pertanyaan yang dilontarkan Minho terlalu lucu baginya.

        “ Cinta.. aku sudah lama menyukai Yoonhee sejak kami masih di bangku SMP,walaupun dia kakak kelasku,aku tetap menyukainya,bukankah kau dan aku sama? Dia juga lebih tua darimu,tapi kau menyukainya,tapi harunya kau sadar bahwa aku lebih pantas mendapatkannya.”

Flashback End

“ Memang bukan tapi kau yang menyuruh Jonghyun membuat semua itu.”Minho berkata dengan nada tenang. Ia telah berhasil menahan emosinya mati-matian. Padahal ia terlalu hancur,karena dua orang yang disayanginya saling menghancurkan satu sama lain.

“ Jo..Jonghyun?” Yoonhee tidak berhasil menyembunyikan kegugupannya,Minho bisa menangkap itu dengan jelas.

“ Kau mengenalnya kan? Dia adalah hoobaemu saat SMP dan menyukaimu,tapi kau tidak menyukainya dan malah dengan kejam memanfaatkan rasa sukanya padamu.”

Plak!

Sebuah tamparan melayang ke wajah Minho. Yoonhee memandangnya penuh amarah. Rasa takut yang menghinggapinya hilang,berganti dengan rasa kecewa dan marah. Tidak seorang pun bisa mengatakan hal yang sekejam itu padanya dan Yoonhee sama sekali tidak menerima perkataan Minho tentang dirinya yang hanya memanfaatkan rasa suka Jonghyun padanya.

“ Kau dengarkan aku Choi Minho.. Aku memang melakukan ini semua,tapi aku punya alasan kuat dibaliknya.”

Minho hanya berdia memegangi pipinya,bekas tamparan Yoonhee memang tidak terlihat jelas. Tetapi hatinya lebih hancur jika dibandingkan dengan rasa sakit itu.

“ Aku mencintaimu..” akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Yoonhee,tanpa gadis itu sadari. Entah kekuatan darimana akhirnya Yoonhee bisa mengakui hal itu,satu kata yang selama ini tersembunyi dalam sifat angkuhnya. Cinta.. sesuatu yang tidak didapatkannya dalam keluarga,membuatnya menjadi pribadi yang dingin dan angkuh,egonya menutupi akal sehatnya.

“ Aku tidak suka ada gadis lain yang mendekatimu,aku memang egois dan itulah aku!”

Tanpa berkata apa-apa lagi Yoonhee meninggalkan Minho. Minho hanya terdiam,berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Yoonhee. Cinta.. gadis itu mencintainya.. itukah alasannya? Karena Yoonhee tidak mau kehilangannya..

***

        Donghae lagi-lagi hanya termenung di ruangan kerjanya. Semua pekerjaannya tidak ada yang benar sejak kejadian itu. Apalagi kemarin Donghae tidak bisa melihat Yoonmi,gadis itu tanpa alasan yang jelas,tidak masuk kerja. Apa karena dirinya? Tetapi itu tidak mungkin kalau memang benar Yoonmi tidak masuk karena kejadian malam itu,harusnya dari dua hari yang lalu Yoonmi tidak menampakkan dirinya di kantor.

Tok Tok Tok

“ Masuk..” Donghae berkata sambil berusaha fokus pada pekerjaannya. Belakangan ini semua pekerjaannya terbengkalai,sosok ‘workaholic’ dalam dirinya seolah hilang karena kehadiran Yoonmi,kehadiran sesosok gadis yang berhasil membuat hidupnya menjadi seperti ini. Membuat sosok Lee Donghae tidak lagi sama.

“ Aku hanya ingin menyerahkan ini,sajangnim.” Donghae menoleh saat mendengar suara yang dikenalnya.

Yoonmi persis berdiri di depannya sambil mengulurkan sebuah map.Tidak ada senyuman di wajah gadis itu,ini semua seperti saat pertama kali mereka bertemu,rasa canggung yang menguasai atmosfer di sekitar mereka.

“ Ah ne..” Yoonmi bersiap keluar dari ruangan Donghae setelah mengantarkan berkas itu.

“ Yoonmi,chamkanman..”

“ Ada apa?” Yoonmi berbalik dan melihat Donghae sudah berdiri dari kursinya dan berjalan ke arahnya.

“ Bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk bicara?”

“ Soal apa? Aku rasa aku tidak mau mendengar apa-apa darimu. Soal kejadian kemarin,bisakah kita lupakan saja?” Yoonmi tidak mau Donghae mengungkit hal yang bisa membuatnya berantakan. Hari ini moodnya sedang dalam keadaan baik,ia tidak ingin Donghae menghancurkan semuanya.

“ Ne,aku hanya merasa perlu meminta maaf padamu,Yoonmi,soal kemarin aku benar-benar tidak sengaja.”

“ Ya,aku rasa hal itu sudah tidak bisa dipermasalahkan lagi.” Yoonmi bisa dnegan mudah memaafkan Donghae,satu hal yang sama sekali tidak bisa dimengertinya,Donghae sudah melanggar wilayah pribadinya tetapi ia sama sekali tidak berniat marah,mungkin trauma masa lalunya yang membuatnya merasa takut.

“ Euhm.. bisakah hubungan kita kembali seperti dulu?”

“ Kita tidak pernah mempunyai hubungan sebelumnya,bukankah begitu Donghae-ssi? Jadi aku rasa akan lebih baik hubungan kita seperti ini saja. Hubungan profesionalisme kerja.”

“ Yoonmi kau..kau tidak mengerti.”

“ Apa? Memang dari awal hubungan kita hanya seperti itu saja,kan?”

“ Aku..aku tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya tapi aku rasa aku menganggapmu lebih dari sekadar rekan kerja. Aku..” Donghae tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia tersiksa dengan perasaannya sendiri tapi ia masih belum yakin dengan semua itu.

Yoonmi menunggu kelanjutan kata-kata Donghae.Ia penasaran apa yang dimaksud Donghae menganggapnya melebihi rekan kerja. Suatu kata-kata kiasan untuk menutupi maksud sebenarnya dari sang pemilik kata. Yoonmi sudah bisa menangkap ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut.

“ Hentikan Donghae!!Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi darimu.” Yoonmi bergegas keluar sebelum Donghae mengucapkan kata-kata yang dianggapnya terkutuk. Kata-kata magis yang bisa membuatnya terjerat dan kemungkinan besar mengalami hal yang sama seperti dulu. Ketakutannya melebihi perasaannya sendiri. Yoonmi menepis semua kenyataan bahwa perasaan itu,perasaan yang dianggapnya terlarang itu sudah mencuat muncul dan mulai mengakari hatinya.

“ Sekuat apapun kau menghindar,aku akan tetap mengatakan hal yang sama,aku mencintaimu..”

Kata-kata itu.. lagi-lagi kata itu didengarnya,ia sudah muak dengan kata bermakna ambigu,kata cinta,apa sebenarnya makna perasaan dibalik kata-kata itu,mengapa orang mudah sekali mengungkapkannya,sama seperti mengatakan hal yang dianggap main-main. Padahal kata itu mempunyai makna lebih dalam dari hanya sekedar pengucapannya yang sederhana.

“ Kau tidak mengenalku,Donghae-ssi,jangan mengucapkan kata-kata terkutuk itu lagi di depanku,karena aku tidak menerima kata itu dalam kamusku.”

***

        “ Padahal kau baru saja bertemu dengan pangeranmu,kenapa dengan wajahmu itu Yoonhee,apa dia baru saja menolakmu?” kata-kata penuh makna hinaan itu mengucur dari orang yang paling dibencinya saat ini.

Yoonhee ingin sekali mencakar wajah yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya,seolah-olah orang itu sudah merasa menang atas permainan yang dibuatnya.

“ Aku tidak ingin berbasa-basi denganmu atau menanggapi omongan bodohmu itu.”

“ Lalu apa yang membawamu ke sini?”

“ Apa maksudmu dengan memberitahu Minho soal permintaanku? Ternyata selama ini aku telah salah menilaimu,aku pikir aku bisa mempercayaimu.”

Jonghyun hanya tertawa mendengar punuturan Yoonhee. Yoonhee hanya bisa memandang orang yang berada di depannya saat ini tanpa berbicara sepatah katapun. Ia menunggu Jonghyun mengeluarkan pembelaan,atau sekedar menjelaskan apa maksud dari pria itu sebenarnya.

“ Kau pikir aku akan membantumu  begitu saja? Aku tidak lagi bodoh,Yoonhee,selama ini aku pikir dengan membantumu kau akan berpaling padaku. Aku tenang-tenang saja karena aku pikir kau tidak akan tertarik dengan namja manapun,tapi ternyata aku salah. Setelah aku masuk ke sekolah ini,kau malah tertarik dengan Minho.”

“ Lalu apa urusannya denganmu?”

“ Tentu saja ada,Yoonhee,bukankah sudah kukatakan berulang kali padamu bahwa aku mencintaimu dan aku ingin memilikimu.”

“ Apa kau tidak pernah mendengarkan jawabanku? Aku sudah mengatakannya kalau aku hanya menganggapmu sebagai teman.”

“ Teman? Aku rasa kau seharusnya bilang kalau kau menganggapku sebagai pesuruhmu.”

Lagi-lagi kata-kata itu yang dapat didengar Yoonhee. Beberapa saat lalu Minho mengucapkan kata yang bermakna serupa padanya. Sebuah penghinaan dan sindiran yang tajam.

“ Aku tidak pernah menganggapmu begitu.”

“ Lalu apa namanya kalau kau selalu menyuruhku melakukan ini dan itu,tanpa kau tahu apakah tujuanku melakukan semuanya?”

“ Kau tidak perlu lagi mengucapkan kata-kata itu,aku tidak ingin mendengarnya berulang kali,seharusnya aku tahu dari awal apa tujuanmu.”

“ Tujuanku adalah memisahkanmu sejauh mungkin dari Minho!”

***

        “ Kau tidak mengenalku,Donghae-ssi,jangan mengucapkan kata-kata terkutuk itu lagi di depanku,karena aku tidak menerima kata itu dalam kamusku.”

Kata-kata itu terus terngiang dalam benak Donghae sama seperti kaset yang diputar berulang-ulang dan menampilkan lagu yang sama. Sejak kepergian Yoonmi beberapa jam yang lalu,Donghae berusaha melupakan semuanya dengan berusaha konsentrasi pada pekerjaannya.

Tetapi sepertinya kali ini hati adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam kontrol dirinya.Ia bukan saja sudah membentak-bentak beberapa karyawannya karena melakukan kesalahan yang cukup sepele,melakukan kesalahan fatal dalam presentasi,sampai puncaknya adalah sekarang,ia malah melamun di tengah banyaknya pekerjaan yang harus ia lakukan.

Ternyata kemampuan seseorang dalam bekerja dengan baik ada hubungannya dengan hati dan perasaannya bukannya hanya dengan otak dan akal sehat. Masalah pribadi harusnya tidak dicampur dengan masalah pekerjaannya,hanya saja saat ini semua pekerjaan yang dilakukannya tidak bisa berjalan dengan baik hanya karena ia baru saja mengucapkan kata-kata terlarang dalam kamus seorang Yoonmi.

Hanya seorang gadis biasa yang secara tidak sengaja masuk dalam hidupnya namun sudah berhasil mengambil porsi besar dalam kehidupannya. Sesuatu yang harusnya tidak dipermasalahkannya,tetapi itulah justru akar dari semuanya. Hatinya dan perasaannya sendiri,inikah yang sebenarnya dinamakan cinta? Di saat bersamaan bisa memberikan rasa manis yang berbeda dan juga bisa menghancurkan.

Dua hati yang terlalu egois itu mengakui rasa itu satu sama lain. Di tengah trauma yang melanda,diantara hati yang terlalu dingin dan menolak semuanya. Di saat semuanya menjadi tidak sama lagi,di saat pintu kesempatan itu maish terbuka lebar tetapi mereka sama-sama tidak mau mengakuinya. Sesuatu yang tadinya muncul ke permukaan perlahan akan pudar dengan sendirinya atau malah berusaha bertahan dengan caranya sendiri?

Yoonmi juga sama menderitanya dnegan Donghae. Ia tidak mengerti dengan rasa takut dan trauma yang menyiksanya. Lebih dari itu,ia tidak menyadari apa nama perasaanyang menderanya saat ini. Ia ingin mengakui kalau ia juga mencintai Donghae sama seperti pria itu mengatakan hal yang menurutnya adalah kata-kata terlarang. Tetapi di satu sisi lain,ia masih mengharapkan sosok pria yang pernah masuk dalam hidupnya.

Sosok pria istimewa yang sebenarnya masih mempunyai tempat khusus di hatinya.Walaupun pria itu sudah membuat hidupnya dan masa depannya menjadi hancur karena memberikannya seorang anak dalam usia muda. Yoonmi tidak bisa sepenuhnya membenci pria itu. Ada satu sisi di mana dia merindukan pria itu,pria yang sudah memberikannya kenangan.

Yoonmi sama sekali tidak tega menyebut Yoonhee,putri semata wayangnya sebagai sebuah ‘aib’,sebagai seseorang yang telah menghancurkan semuanya. Ia menganggap Yoonhee berharga,seperti sebuah Kristal yang akan dijaganya mati-matian,dan sayangnya orang yang memberikan Kristal berharga itu adalah seseorang yang kemudian meninggalkannya seperti ini.

“ Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama,hae,mianhae,aku masih belum bisa menerimamu,bagaimana kalau kau tahu aku sudah..”

“ Apapun yang kau lakukan di masa lalu,aku akan menerimanya,setidaknya inilah yang bisa kau pegang.”

Yoonmi menoleh dan menatap Donghae yang sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Yoonmi menoleh cepat ke arah kiri dan kanannya,untunglah semua rekan kerjanya sedang sibuk dengan design mereka masing-masing dan tidak memperhatikan Donghae yang sudah berada di ruangannya,entah sejak kapan.

“ Ada apa?” Yoonmi berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar terlalu kaget dengan kehadiran Donghae yang tiba-tiba.

“ Tidak perlu menjadi paranormal atau ahli pembaca ekspresi wajah untuk tahu kalau kau mencintaiku.”

“ Sayangnya kau terlalu percaya diri,Donghae-ssi.”

“ Aku mendengar dengan jelas kata-katamu tadi. Kalau kau melakukan sebuah kesalahan di masa lalu. Aku akan menerima semuanya,Yoonmi.”

“ Hae,kau tidak tahu apa yang sudah aku lakukan dan jika kau tahu semua tentangku,kau akan..” Yoonmi tidak tahu mengapa rasanya berat sekali untuk melanjutkan kata-katanya. Perasaanya menjadi aneh,ada rasa sakit yang sulit diungkapkan ketika ia ingin mengucapkan kata-kata itu.

“ Aku akan?” Donghae penasaran dengan kelanjutan kata-kata Yoonmi.

“ Kau akan.. kau akan membenciku,Donghae..” teriakan Yoonmi sukses membuat beberapa rekan kerjanya menoleh karena terpancing oleh keributan yang dibuat Yoonmi dan Donghae.

Suatu pemandangan menarik apalagi bisa disaksikan secara langsung di ruangan sendiri karena Donghae dan Yoonmi yang jelas-jelas bertengkar di ruangan Yoonmi yang dindingnya transparan.

“ Membencimu?”

“ Mungkin sekarang kau bisa berjanji padaku kalau kau tidak akan membenciku tapi kalau kau tahu apa yang terjadi padaku,aku tidak yakin kau masih bisa memegang kata-katamu.”

***

        Seorang pria paruh baya sedang mengamati sebuah foto dalam pigura sederhana. Sebuah foto yang menampilkan kebahagiaan di dalamnya. Di dalam foto itu terdapat tiga orang yang sedang tersenyum menatap kamera. Dua orang di dalam foto itu sedang sama-sama memegang pundak seorang gadis kecil yang sedang tersenyum lebar dan memegang sebuah boneka.

Wajah gadis itu terlihat bahagia,kepolosannya tercetak jelas dalam wajahnya. Umur gadis itu mungkin masih sekitar 7 tahun. Kerinduan sebagai sosok seorang ayah muncul ke permukaan. Sudah 17 tahun ia bersikap seolah-olah ia tidak lagi mengenal sosok gadis kecil itu. Kejadian yang menurutnya tidak termaafkan itu membuat rasa egonya naik dan menganggap putrinya itu adalah seseorang yang sudah membuat malu keluarganya.

Menurutnya kesalahan Yoonmi tidak bisa dimaafkan. Sebenarnya jika ia mengabaikan rasa egonya dan mau membuka hatinya untuk menerima putrinya kembali,menganggap kejadian itu tidak ada dan membuat semuanya normal kembali seperti kebahagiaan keluarganya dulu.

“ Apakah sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya?” Pria itu menatap kosong jendela yang menampilkan keadaan di luar kantornya.

Tok Tok Tok

Sebuah ketukan di pintu menyadarkannya dari lamunan. Ia kembali ke posisi serius membaca sesuatu di layar laptopnya setelah menyuruh seseorang,yang ternyata adalah sekretarisnya,masuk.

“ Choesonghamnida,sajagnim,ada seseorang yang mau bertemu dengan anda.”

“ Baiklah,suruh dia masuk.”

Setelah sekretaris itu keluar,masuklah seseorang yang membuat pria itu menampilkan ekspresi dingin.

“ Ada apa kau kemari?”

“ Begitukah sambutanmu terhadap sahabat lamamu?”

“ Sahabat? Aku pikir kau sudah melupakanku.”

“ Tentu saja tidak..”

“ Katakan saja apa maumu..”

“ Aku masih hafal dengan sifatmu yang tidak suka basa-basi.Baiklah aku akan langsung mengatakan tujuanku ke sini.”

Pria itu hanya diam menunggu kelanjutan kata-kata wanita yang berada di hadapannya saat ini.

“ Aku ingin..”

***

Saena Pov

Bagaimanakah wujud cinta sebenarnya

mengapa ia bisa hadir ke dalam hati setiap insan

tanpa diketahui penyebabnya

memberikan kejutan rasa dalam kalbu

memberikan warna pada hati yang keruh

Suatu sensasi rasa indah

yang mempengaruhi setiap manusia

untuk mendalami pikiran mereka

membiarkan cinta menduduki singgasana hati yang tertinggi

Entah sejak kapan kehadirannya mulai memenuhi pikiranku,mengacaukan imanjinasiku yang buruk tentang cinta,kehadirannya sudah seperti candu bagiku,membuatku mabuk dan tidak bisa lepas dari pesonanya.

Donghae..

Secara tidak sengaja ia masuk ke dalam hidupku membuat aku tidak mengerti dengan rasa yang menderaku saat ini. Semudah itukah aku menyatakan cinta? Atau ini hanyalah refleksi dari kekahuman semata ataukah hanyalah sebuah kerinduan akan kasih sayang yang selama ini tidak bisa aku dapatkan?

Memang sejak kecil aku kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku yang belakangan baru aku tahu kalau mereka bukan orang tua kandungku. Tetapi selama ini aku bahagia karena mempunyai dongsaeng seperti Minho,ia bisa menggantukan tempat kekurangan kasih sayang itu,tetapi tetap saja rasanya ada yang berbeda ketika kau mengetahui dia bukanlah bagian dari keluargamu.

Aku tidak tahu orang tua seperti apa yang sudah melahirkanku dan aku juga tidak tahu apa alasan mereka menelantarkanku seperti ini. Aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka karena kenyataannya mereka juga tidak peduli padaku,aku menyayangi eomma dan appaku sekarang,appa sangat menyayangiku walaupun dia tahu aku bukan anak kandungnya dan itu membuatku bersyukur. Aku juga menyayangi eomma,karena setidaknya dia mau merawatku sampai seperti ini walaupun ia tidak menyukaiku.

Sekarang lagi-lagi aku bertengkar dengan Minho karena masalah yang sama,jujur saja aku juga lelah menyembunyikan semua ini,tetapi aku lebih lelah lagi jika harus memakai topeng dan melayani mereka yang akan berpura-pura baik padaku agar bisa dekat dengan Minho.

Aku mungkin tidak cukup baik untuk menjadi noonanya,aku tidak mengerti apa yang ia rasakan belakangan ini. Aku tidak memberikan padanya perhatian yang cukup,aku juga tidak ingin berlaku seperti itu,tetapi kami berdua sama-sama keras kepala dan sama-sama suka menyembunyikan masalah,jadi sulit untuk mengetahui apa yang terjadi.

Hari ini untungnya tidak seburuk kemarin,mungkin masih ada yang membicarakan dan menjelekkanku di belakang tetapi mereka tidak lagi berani secara terang-terangan padaku. Seharian ini aku tidak bertemu dengan Minho di sekolah,bahkan saat tadi pagi kami saling mendiamkan satu sama lain seperti yang terjadi beberapa waktu lalu,untungnya lagi appa sedang berada di luar kota sehingga ia tidak tahu apapun yang menimpaku dan tentunya eomma tidak akan repot-repot menghubungi appa hanya demi aku.

Aku sudah tidak tahu apakah hubungan seperti ini akan bertahan lama. Secara realistis aku bukan siapa-siapa bagi Minho,walaupun kenyataan itu tidak diketahui olehnya.

“ Bukankah sekarang harusnya masih jam sekolah? Apakah kau membolos?” Aku tersentak dan melihat ke sebelahku. Donghae oppa? Sejak kapan dia ada di sana?

“ Jangan menuduhku sembarangan..” hanya dengan melihatnya saja aku mampu seperti ini,membuatku seakan kehilangan jati diriku.

“ Ada apa?”

“ Aku tidak mengerti,untuk apa oppa ke sini,lalu dengan santainya bertanya ‘ada apa’ seolah kau ingin tahu apa yang membawaku ke sini.”

“ Tentu saja aku ingin tahu,kau itu sudah seperti adikku sendiri.” Donghae tersenyum sebelum mengambil tempat di sebelahku.

Aku hanya terdiam saat melihat orang yang tadinya sedang berkeliaran di pikiranku mendadak berada di depanku. Berada dalam jarak yang sangat dekat denganku,mengacaukan semua jaringan sistem tubuhku. Membuatku merasakan sensasi berbeda saat berdekatan dengan seseorang yang sekarang menempati posisi tertinggi dalam ruang pikiranku.

“ Jadi mendiamkanku seperti ini adalah keputusan finalmu?”

Aku akhirnya menoleh dan mau melihat Donghae oppa setelah beberapa menit kami lalui dengan keheningan,tidak ada satu orang pun yang berniat memulai percakapan. Sungguh suasana seperti ini adalah sesuatu yang kubenci,berjuta kata-kata sudah siap kulontarkan padanya tetapi semuanya mendadak hilang dan menjadi buntu.

“ Memangnya apa yang harus aku katakan?”

“ Ada berapa banyak stok masalah yang kau punyai?”

“ Ne?” Aku tidak tahu darimana ia bisa menduga atau memang itu semua terlihat jelas di wajahku,kalau aku mempunyai masalah yang bisa dibilang cukup rumit.

“ Kau sedang ada masalah dan itu terlihat jelas di wajahmu. Katkan saja apa alasanmu berada di sini pada jam sekolah dan masih memakai seragam?”

Aku memang tidak bisa berbohong,Donghae oppa bisa membaca semua raut kekhawatiran di wajahku. Aku memang tadi izin dari sekolah dengan alasan sakit dan ingin pulang lebih cepat dan guru pengawas percaya pada alasanku mungkin karena wajahku yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

“ Aku memang ada masalah,tapi aku rasa aku tidak perlu menceritakannya padamu,oppa,ini masalah pribadiku,jeongmal mianhaeyo.Aku izin dari sekolah karena merasa tidak enak badan.”

“ Ah,ne gwechana,aku bisa mengerti,lalu kenapa kau tidak pulang?”

Aku bingung harus menjawab apa para pertanyaan Donghae oppa,sejujurnya aku takut untuk pulang ke rumah karena eomma pasti curiga kenapa aku sudah pulang apdahal seharusnya aku masih berada di sekolah dan lagipula kalau di rumah aku pasti akan bertemu dengan Minho,aku masih tidak bisa bertemu dengannya,aku tidak mau dia membahas soal masalah pembongkaran identitasku lagi,aku sudah cukup muak dengan semua itu.

“ Sepertinya kau enggan menjawab dan sepertinya aku terlalu banyak bertanya,mianhaeyo,Saena-ah.”

“ Gwechana,oppa..”

“ Baiklah jika kau malas pulang,bagaimana kalau kau kuajak ke suatu tempat?”

“ Mianhae,oppa,saat ini aku sedang ingin sendirian.” Aku mengambil tasku dan berdiri,bisa kurasakan aura keheranan muncul dalam dirinya.

“ Ah ne,baiklah kalau itu maumu.”

“ Aku pergi dulu,oppa,annyeong.”

“ Saena..” aku menoleh saat Donghae oppa memanggil namaku.

“ Ne,ada apa,oppa?”

Donghae oppa merogoh saku jasnya dan mengeluarkan benda putih berbentuk segipanjang tipis yang biasa digunakan orang untuk saling menukarkannya ketika mereka bertemu.Kartu nama..

“ Hubungi aku jika kau butuh seseorang.”

“ Ne,ghamsahamnida oppa.”

End of the pov

***

Author Pov

Jam pulang sekolah sudah lama lewat,tetapi Minho masih menunggu di area sekolah. Bukan untuk menunggu kakaknya,karena mereka tidak pernah saling menunggu satu sama lain,biasanya mereka langsung bertemu di tempat supir pribadi mereka menunggu,lagipula Minho sudah tahu dari Minra kalau Saena sudah meminta izin pulang lebih cepat.

Minho menunggu seseorang yang masih mempunyai urusan dengannya,seseornag yang telah menambahkan satu lagi tanda tanya besar dalam hidupnya. Yoonhee,gadis itu harus berhadapan dengannya.

Menunggu untuk jarak waktu yang cukup lama sampai akhirnya Minho bisa melihat bayangan gadis itu. Dengan langkah cepat disusurinya jalan yang masih dipenuhi siswa dan siswi itu,ia menarik lengan Yoonhee yang masih asyok bersenda gurau dengan teman-temannya,membuat gadis itu tersentak kaget dan menoleh,melukiskan ekspresi tak terbaca saat melihat Minho yang sudah menariknya.

“ Urusan kita masih belum selesai,Kim Yoonhee..” Minho mendesiskan kalimat itu tepat di telinga Yoonhee dan membuat Yoonhee segera paham untuk memisahkan dirinya dari teman-temannya dan mengikuti langkah pria itu.

“ Apalagi yang ingin kau tahu dariku,Choi Minho?” Yoonhee mengarahkan tatapannya pada kedua mata Minho yang memancarkan tatapan dingin.

“ Aku sudah cukup tahu apa yang kau lakukan,Kim Yoonhee,aku hanya ingin kau tidak lagi mengganggu Saena noona.”

Yoonhee cukup terkejut dengan perkataan Minho,bukan hanya karena Minho tidak lagi menyebutnya dengan embel-embel ‘noona’ tapi juga karena nada suara Miho yang terdengar tegas dan penuh amarah dengan emosi yang tersirat samar dalam setiap kata-katanya.

“ Minho,tadi aku sudah mengatakan padamu kalau aku adalah seseorang yang egois yang tidak menginginkan seseorangpun mendekatimu termasuk Saena.”

“ Kau tidak tahu siapa sebenarnya dia!” Minho berteriak penuh emosi saat Yoonhee berkata seperti itu padanya. Minho mengerti apa yang sebenarnya dimaksud gadis itu,tetapi ia tahu ada yang membuat gadis itu salah paham. Menyakiti seseorang yang disayanginya.

“ Aku sudah tahu,dia adalah seseorang yang mencoba merebutmu dariku.”

“ Kau pikir aku adalah milikmu?”

Kata-kata Minho sukses membuat Yoonhee terdiam. Emosi yang tadi meluap-luap ingin ditumpahkan pada Minho,mendadak hilang.

“ Apa ini yang dibilang mencintai?” Minho melanjutkan lagi kata-katanya.

“ Mencintai siapa?”

“ Bukankah baru beberapa saat lalu kau bilang kau mencintaiku?”

Yoonhee masih tidak bisa menjawab pertanyaan Minho. Ia menyesali dirinya yang begitu ceroboh mengucapkan kata-kata itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“ Noona..”

“ Aku..aku.. hanya main-main tadi,aku tidak benar-benar mencintaimu,Choi Minho.”

_To Be Continued_

9 thoughts on “Whether I Hate You or Not (Chapter 7A)

    • Iya chingu emang awalannya masalah mereka ribet tapi nanti bakalan ada penyelesaiannya kok ^^
      Oke deh pasti aku lanjutkan
      makasih udah baca + komen chingu ^___^

    • Annyeong chingu :D
      Reader baru ya? selamat membaca :)
      iya mungkin maksud chingu cerita yang digantung tuh kyk konflik Yoonmi sama anaknya dkk dll ya?
      itu semua murni kesalahan aku yang terlalu ribet bikin konflik T.T
      mohon maaf chingu
      nanti ke depannya bakal keungkap 1 1 kok jadi ga akan ada yang gantung
      trus kalo maksud chingu yang gantung itu ceritanya per scene
      itu disengaja chingu biar memberika efek dramatis dan penasaran wkwkwkwkwk

      makasih udah baca + komen ^___^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s