[Freelance] Oneshot-See You After School

 

Title: See You After School

Author: bluemallows

Main Cast:

  • Choi Minho ‘SHINee’
  • Jung Soojung (Krystal) ‘f(x)’ 

Support Cast: Find by yourself please =]

Disclaimer: 75% isi dari Fanfiction ini adalah pengalaman sahabat author sendiri, sisanya adalah imajinasi author ^^

A/N: Don’t be a silent reader!

Credit Poster: vanflamighty (aquaticshineeworld.wordpress.com)

~

“Siapa yang kau lihat?”

Aku memalingkan kepalaku, terlihat Jinri berdiri disebelahku sambil menyamakan sudut pandangku pada seseorang yang sama sekali tidak kukenal, dari kelas 10.6.

“Eh? Aku tidak melihat siapa-siapa!” Elakku

Sunyoung memandangku lekat-lekat, “Tapi, sepertinya kau sedang melihat seseorang” Berbicara dengan nada serius.

“Aku tidak melihat siapapun!” Ucapku, meyakinkan kedua sahabatku – Jinri dan Sunyoung.

Kriiinngggg!!!

Terdengar dengan nyaring bunyi bel pelajaran pertama dimulai, setelah libur musim panas berakhir.

“Cepat, masuk ke kelas kalian! Sebentar lagi Jinki-seonsaengnim akan masuk!” Kata Sunyoung sambil menutup pintu kelasnya, 10.6

Sedangkan aku dan Jinri berjalan ke arah timur, kelas 10.2 dan 10.3. Jinri melambaikan tangan padaku, dan masuk ke dalam kelasnya – sama sepertiku.

Dengan sedikit bermalas-malasan, aku mengeluarkan buku catatan sejarahku – pelajaran paling membosankan – lalu menyalin apa yang ditulis oleh Amber-seonsaengnim. Beliau adalah guru dari China, dan hari ini mengajar sejarah kemerdekaan Korea Selatan – Cukup konyol bukan?

Akibat kekalahan Jepang pada Perang Dunia II,  Korea dibagi menjadi dua wilayah berdasarkan garis 38 derajat lintang utara, sesuai dengan perjanjian yang diadakan oleh PBB – Tulis Amber-seonsaengnim di papan tulis

Sesekali spidol warna hitam yang ada di tangan Amber-seonsaengnim berdecit saat ia menulis di papan tulis berwarna biru muda itu.  Ingin rasanya aku tidur saja pada jam pelajaran pertama, tapi keadaannya sangat tidak memungkinkan–aku duduk di barisan paling depan.

Aku menengok ke belakang, keadaan kelasku – 10.3 – selalu saja seperti ini, saat ada guru di kelas pasti sebagian besar sibuk dengan kegiatannya sendiri, ada yang menggambar, menggosip, atau bahkan tidur. Aku iri dengan mereka.

Cahaya yang masuk dari luar jendela membuatku tertarik untuk menatapnya keluar dengan tatapan kosong. Tetapi tiba-tiba seseorang muncul, mengisi kekosongan tatapan mataku – namja  yang tadi pagi kulihat di 10.6 – Hanya terlihat postur setengah badannya, sepertinya ia cukup tinggi. Dan ukuran mata yang cukup besar dari orang Korea lain pada umumnya.

Terlintas satu pertanyaan besar di otakku, Siapa namanya?

“Soojung-ah!” Suara khas Amber-seonsaengnim membuyarkan semua lamunanku, aku kembali terfokus pada pelajaran sejarah yang seakan tidak akan ada akhirnya.

“Catat! Ini penting!” Tegasnya 1

~

“Sunyoung-ah!! Ppali!” Panggilku dan Jinri dari luar kelas 10.6

Sunyoung terlihat cepat-cepat memasukkan buku catatan ke dalam tasnya, dan keluar dari kelas dengancat warna putih yang sudah usang warnanya itu.

Saat kami bertiga – Aku, Jinri, dan Sunyoung – menuruni tangga, aku melihat sekelebat bayangan namjayang-kulihat-di-kelas-10.6 tadi pagi. Aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang dirinya, kecuali kelasnya.

Tanpa kusadari, aku melangkah mendahului Sunyoung dan Jinri demi mengikuti langkah kaki panjang namja itu menuju tempat parkir sepeda, di samping sekolah. Ia mengayuh sepeda lipat berwarna merah. Sepeda itu tampak mencolok dibandingkan sepeda lain, karena ada dia di atasnya.

“Soojung-ah! Kau berjalan terlalu cepat! Aku dan Sunyoung masih disini!” Panggil Jinri

Suara nyaring Jinri membuyarkan semuanya, aku menengok ke belakang terlihat Jinri dan Sunyoung sedang berjalan dengan santai menuju parkiran sepeda. Aku tersenyum kecil, dan melambaikan tangan pada mereka berdua.

Aku kembali melihat ke arah tempat parkir sepeda, namja-yang-kulihat-di-kelas-10.6  itu sudah menghilang batang hidungnya. Kepalaku menengok ke kiri, dan ke kanan – nihil – semuanya sudah pergi, hanya ada 3 sepeda milikku, Jinri, dan Sunyoung dan beberapa sepeda lainnya.

Sunyoung menepuk pundakku lembut, “Kaja

Aku tersenyum, dan mengambil sepeda dari ujung halaman parkir yang cukup luas itu.

~

Seperti biasa, setiap jam istirahat aku dan Jinri berada di depan pintu kelas 10.6, menunggu Sunyoung keluar dari kelas.

“Sunyoung-ah!!” Panggil Jinri

“Sebentar!” Sahut Sunyoung

Aku melihat siswa yang ada di dalam kelas itu sepintas, dan aku menemukan sosok namja itu lagi. Kali ini wajahnya tak sesuram biasanya, ia tertawa lepas bersama teman-temannya yang lain – yang sama sekali aku tidak ketahui namanya.

“Soojung-ah? Ayo, cepat kita ke kantin” Ujar Sunyoung sambil menarik tanganku, menghilangkan sosok namjayang-kulihat-di-kelas-10.6 sejak beberapa hari yang lalu

Kami bertiga berjalan menuruni tangga yang berada persis di sebelah kelas Sunyoung – 10.6 – dan melangkahkan kaki menuju kantin sambil bergurau, seperti biasanya. Tetapi ada satu hal, yang tidak biasa memasuki pikiranku, namjayang-kulihat-di-kelas-10.6 mulai mengambil alih setengah dari memori di otakku.

Ia memakai tas berwarna hitam kecokelatan, sepatu berwarna hitam dengan sedikit corak putih, buku matematika dengan sampul plastik transparan, rambut berwarna kecoklatan yang hampir menyentuh kerah baju seragamnya. Semuanya memenuhi otakku.

“Soojung-ah! Ayo, cepat kembali ke kelas. Istirahat sudah selesai.” Ujar Jinri

“Kurasa ada yang salah denganmu, kau jadi sering melamun sendiri” Sahut Sunyoung sambil menarik pelan tangan kananku, mengembalikanku pada jalan pikiran semula

~

Terdengar jelas dari telingaku, Myungsoo – namja yang duduk persis di belakangku – menghitung mundur detik-detik sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Dan tepat saat ia mengatakan ‘satu’ bel sekolah langsung berbunyi.

Aku tidak dapat menyembunyikan senyum di wajahku, aku menyukai bel pulang sekolah. Di belakang Myungsoo sudah ada aku yang mengantri keluar dari kelas 10.3.

Sudut bibirku sedikit terangkat saat melihat Jinri sudah menungguku di depan kelas. Aku segera menarik tangannya menuju kelas 10.6. Bukan untuk mencari Sunyoung, tapi namja-yang-kulihat-di-kelas-10.6.

Entah mengapa, aku ingin melihat wajah namja itu lagi, dan lagi. Bagaikan candu.

~

Siapa namanya?

Pertanyaan itu terus memenuhi otakku semalam, hingga aku tidak dapat berkonsentrasi untuk belajar ulangan Matematika hari ini.

Aku tau, Sunyoung selalu datang lebih awal pada hari Kamis. Karena itu, aku memberanikan diri masuk ke dalam kelas 10.6. Bukan Sunyoung yang pertama kali kulihat, tapi dia – persis berdiri di depanku.

“Su.. Sunyoung-ah!” Panggilku

Ne?”

“Sini, cepat!”

Aku mendekatkan bibirku pada telinganya dan berbisik, “Namja itu.. Siapa namanya?”

Sunyoung tersenyum menahan tawa, “Choi Minho”

“Ssstt!! Jangan keras-keras” Kataku sambil membekap mulut Sunyoung

Sunyoung masih tetap tersenyum, kemudian menyenggol lenganku saat namja-yang-kulihat-di-kelas-10.6 itu Choi Minho – berlalu di hadapanku dan Sunyoung.

~

Mulai hari ini, aku punya daftar kebiasaan baru: Pergi ke kelas 10.6 setiap pulang sekolah bersama Jinri.

“Jinri-ya! Cepat!” Panggilku sambil melambaikan tangan pada Jinri yang masih mengobrol dengan beberapa temannya.

Ia tidak menjawab, tapi berjalan mendekati aku lalu menarik tanganku menuju 10.6. Ia sudah tau dan hafal rutinitas sehari-hari yang entah kapan mulai berjalan itu.

“Jinri-ya, disini saja” Ucapku sambil menghentikan langkah kaki Jinri yang panjang.

Aku berada di radius sekitar 5 meter dari Choi Minho. Meski dari jarak 5 meter sekalipun, aku dapat merasakan karismanya yang menyebar kemana-mana.

“Ck.. Ayolah, nanti kau menyesal seperti kemarin.. Kehilangan dia lagi” Ujar Jinri sambil berpangku tangan

Aigoo~ Aku malu jika dekat dengannya” Ucapku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku sendiri.

“Dan.. Sekarang dia sudah turun” Ujar Jinri datar

Mataku membelalak, “Mwo?! Ayo, cepat kita susul dia!”

Jinri mengikutiku dari belakang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin ia muak melihat tingkahku, tapi dia tetap sahabat terbaikku.
~

Jakku, Hari ini aku melihat namja itu sepulang sekolah – masih tetap dengan jarak 5 meter dari tempat namja  itu  membungkukkan badan untuk mengikat tali sepatunya. Dari samping saja karismanya sudah begitu nampak, bagaimana jika aku bertatapan langsung dengannya?

Kaja,” Satu kata yang membuat lamunanku hilang semuanya

Suara itu terdengar lagi,“Kau masih belum puas melihatnya?”

Aku menengok ke arah suara itu, Sunyoung yang berdiri di samping Jinri – tepat di sebelahku.

Belum sempat aku membalas perkataan Sunyoung, Jinri sudah menyahut sambil terkekeh “Kurasa Soojung tidak akan puas,”

Mataku melotot ke arah Jinri yang masih tersenyum usil ke arahku. Aku tidak bisa menahannya, akhirnya aku tersenyum. Kakiku melangkah mengikuti Minho yang turun menuju tempat parkir. Aku sudah hafal semuanya; pertama, ia keluar dari kelas; kedua, Minho mengikat dan mengencangkan tali sepatunya; ketiga, ia melihat sekeliling, lalu menuruni tangga menuju tempat parkir.

Ia memakai tas yang berbeda dari biasanya, tas warna abu-abu dengan corak warna merah menyala itu terlihat tidak begitu cocok melekat di punggungnya. Tapi bagaimana pun, ia tetap seperti biasanya – tampan.

Tidak hanya tas punggungnya yang berganti, tapi juga sepedanya yang berubah menjadi warna putih. Aku tidak dapat melepaskan pandanganku dari namja kelas 10.6 itu, seperti candu.

Ya, aku kecanduan melihatnya.

~

Salah satu alasan kenapa aku menyukai bel pulang sekolah mungkin adalah dia, Choi Minho. Dia tampan. Ah dia tidak tampan, tapi sangat tampan. Aku hanya bisa bertemu dengannya sepulang sekolah.

Entah sejak kapan, setiap pagi ia datang terlambat, setiap istirahat ia menghilang entah kemana, dan saat pulang sekolah, paling tidak aku dapat bertemu dengannya. Sekalipun itu sebentar.

“Soojung-ah, Apa jawaban nomor 4?” Lagi-lagi, seseorang membuyarkan semua lamunanku – Kim Myungsoo
“Cari saja sendiri di buku” Dengusku

“Ayolah.. Aku lupa membawa buku paket biologi milikku..” Pinta Myungsoo dengan suara memelas

Aku melirik ke arah soal latihan biologi nomor 4, “Demi apa aku harus membantumu? Itu soal yang sangat mudah”

Kriiiinggg!!!

“Baiklah, sisa soal yang belum kalian kerjakan harus sudah dikumpulkan minggu depan” Ucap Sooyoung-seonsaengnim tanpa intonasi yang jelas.

Aku berjalan keluar kelas dengan senang, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Dua sahabatku, Jinri dan Sunyoung sudah berdiri menungguku di depan kelas 10.3.

Annyeong!” Sapaku ramah sambil melambaikan tanganku

“Ayo, cepat,” Lanjutku sambil menarik tangan mereka berdua menuju kelas 10.6

Minho, ia lewat di hadapanku – seperti biasa – Tapi kali ini ia melemparkan senyum, yang sepertinya untukku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum canggung yang pasti terlihat aneh olehnya.

Sunyoung hanya tersenyum ke arahku dan menyenggol lenganku. Aku tidak perlu menjelaskan artinya, Kau pasti tau maksudnya kan?

Kaja! Dia sudah turun” Ucap Jinri sambil mengajakku dan Sunyoung turun

Aku mendahului Jinri dan Sunyoung hingga sampai di tempat parkir lebih dulu. Mungkin jika aku tidak buru-buru, Minho sudah menghilang. Ia bergerak sangat cepat.

Dia mengayuh sepeda lipatnya sambil sesekali menjilat ice cream rasa cokelat. Namja itu terus menjauh, hingga akhirnya menghilang saat berbelok.

~

“Soojung-ah, Bad news..” Kata Sunyoung sambil terengah-engah dan berdiri di depan kelasku sesaat sebelum Kyuhyun-seonsaengnim masuk untuk mengajar jam pelajaran terakhir.

Bad news? Berita buruk apa?” Tanyaku seraya menghampiri Sunyoung.

Sunyoung menggigit bibir bawahnya, Lalu membisikkan sesuatu padaku, “Minho,”

Mendengar satu nama itu, aku langsung memalingkan kepalaku persis berhadapan dengan Sunyoung, “Ada apa? Cepat katakan padaku”

“Ternyata, dia sudah punya yeojachingu” Jawab Sunyoung pelan

Aku mengerutkan dahiku, “Nugu?”

“Im Yoonah, kelas 10.1”

Aku tidak begitu terkejut. Tidak ada perasaan aneh dalam hatiku. Semuanya terasa seperti biasa. Im Yoonah, dia memang sangat cantik, mungkin melebihi aku. Dan wajar saja jika Minho menjadi pacarnya. Sosok Kyuhyun-seonsaengnim yang terlihat dari tangga membuat Sunyoung berjalan perlahan kembali ke kelasnya, dan aku duduk kembali di tempat dudukku.

Kyuhyun-seonsaengnim memasukki ruang kelasku tanpa berbicara sepatah kata apapun, ia segera mengambil spidol warna hitam dan menuliskan materi bahasa Inggris hari ini. Seperti biasanya, aku mencatat apa yang ditulis oleh setiap guru—Hanya karena aku duduk di barisan paling depan—jika tidak, mungkin aku hanya menggosip dengan teman-temanku yang berada dibarisan belakang lainnya.

Otakku mulai mengingat perkataan Sunyoung, Minho, ternyata dia sudah punya yeojachingu – Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku. Tiba-tiba aku teringat rasanya saat disengat lebah sewaktu bermain di bawah pohon saat kelas 1 SD, awalnya tidak berasa, tetapi bengkaknya mulai kelihatan, dan rasa sakitnya mulai tidak dapat ditahan. Aku tersenyum pahit mengingat peristiwa itu, kurasa aku mengulang rasa sakit itu sekarang, danitu terjadi karena seorang namja.

Aku ingin meneteskan air mataku, tapi tidak mungkin aku menangis tanpa alasan yang jelas di saat pelajaran Kyuhyun-seonsaengnim – guru bahasa Inggris yang sangat galak – Aku bisa-bisa digantung olehnya di hadapan semua murid.

“Kyuhyun-seonsaengnim, permisi..” Ucapku dengan suara bergetar dan segera berlari, menuju kursi penonton sebelah pojok belakang gedung olah raga – tempat rahasia yang selalu aku kunjungi setiap kali perasaanku kacau, seperti saat ini.

Air mataku tidak begitu banyak menetes. Aku seharusnya tidak sedih seperti ini. Aku seharusnya tidak menangis. Aku tidak jatuh cinta pada Choi Minho, jadi untuk apa aku menangis?

Bel pulang sekolah terdengar nyaring di telingaku, aku tak yakin Jinri dan Sunyoung dapat menemukanku sendirian di sini. Pasti mereka mencariku di kelas, dan jika tidak menemukanku, ia pasti mencariku di kantin.

Sesekali aku menghapus air mata yang masih perlahan-lahan mengalir di pipiku. Aku bisa merasakan air mataku sendiri yang membasahi pipiku, dan tanganku yang sudah basah karena air mataku sendiri. Ini adalah kebiasaanku sejak kecil – menutup kedua mataku dengan tangan saat menangis.

Uljima,” suara itu pelan, namun terdengar jelas di telingaku

Uljima.” Suara berat itu terdengar sekali lagi. Kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya.

Aku melihat ke arah sumber suara itu, terlihat sesosok namja yang selalu kutemui setiap pulang sekolah – seperti hari ini – Choi Minho. Tangannya mengulurkan sapu tangan warna biru muda yang masih terlipat dengan rapi. Aku meraih sapu tangan itu dan mengusapkannya pada mataku, yang tidak terlalu berair.

Tangisku tidak terlalu pecah, seperti saat aku biasanya menangis. Tapi kali ini, aku menangis karena perasaanku benar-benar hancur, karena seseorang yang-tidak-jelas-bagaimana-perasaanku-padanya itu memiliki hubungan spesial dengan orang lain.

Uljima, satu kata yang sama, kudengar dua kali berturut-turut. Itu adalah pertama kalinya aku mendengar suara Minho. Namja itu duduk di sebelahku, tidak berkata apapun. Dia memberikan selembar kertas, berisi angka-angka.

“Kau bisa mengirim pesan padaku, jika kau sedang sedih atau senang.” Ucapnya dengan nada datar. Lalu pergi berlalu meninggalkanku sendirian.

Aku dapat melihat tas ranselnya yang berwarna hitam kecokelatan itu perlahan-lahan menghilang. Tangan kananku masih menggengam erat kertas berisi nomor handphone milik Minho dengan erat. Dan perlahan, isak tangisku berubah menjadi senyum.

~

Tinggal menekan tombol ‘send’ pesanku pasti sudah akan masuk ke dalam handphone miliknya – Namja yang selalu kulihat setiap pulang sekolah itu – Isinya hanya bertanya memastikan, ‘Ini Choi Minho 10.6, kan?’. Sebelum aku menekan tombol ‘send’ telepon dari Jinri masuk ke dalam handphone milikku.

“Hm? Yeoboseyo?” Ucapku seraya berbaring di tempat tidur serta menatap langit-langit kamarku

“Soojung-ah?” Terdengar suara Jinri dari ujung telepon. Nada suaranya terlihat sedikit khawatir.

Ne?

“Kau sakit? Kau tidak apa-apa kan?”

Anio, Aku tidak sakit. Wae Jinri-ya?”

“Eh? Tadi aku tidak bertemu denganmu setelah jam istirahat kedua, kemana saja?”

Aku terdiam sejenak. Tidak menjawab sepatah kata pun.

“Soojung-ah? Eodigasseo?”

“Aku.. Tidak kemana-mana,” Sangkalku.. Jinri pasti tau hal itu.

Terdengar hembusan nafas Jinri dari telepon, “Baiklah kalau kau tidak ingin memberitahukannya padaku. Kuharap kau baik-baik saja.”

Pik! Sambungan telepon dengan durasi satu menit tiga puluh delapan detik itu putus. Meski nada suara Jinri mirip seperti biasanya, tapi aku tau dia mengkhawatirkanku. Aku menilik layar handphoneku yang masih ada pesan untuk Minho yang masuk di folder draft.

Jemari tanganku menyentuh layar touch screen handphone milikku, dan mengedit pesanku yang akan kukirimkan menjadi ’Ini Choi Minho 10.6 ya? Namjachingu Im Yoonah kan?’

Sent.

Satu menit, dua menit.. Aku kembali tenggelam pada buku catatan fisika yang kuletakkan di atas bantal kesayanganku. Belum sampai aku menyelesaikan satu lembar catatan fisika milikku, getaran handphone milikku sudah membuat konsentrasiku buyar.

“Jung Soojung, Jung Soojung.. Konsentrasi! Besok ulangan fisika!” Perintahku pada diriku sendiri

Aku kembali berusaha fokus pada buku catatan fisika di hadapanku. Tetapi mataku melirik ke arah layar handphone milikku, ‘1 pesan masuk dari Choi Minho’. Begitu ada nama ‘Choi Minho’ yang kubaca, tanganku langsung meraih perangkat elektronik yang pasti sudah dimiliki oleh hampir semua pelajar SMA seusiaku lainnya itu.

‘Aku Choi Minho 10.6, tapi bukan namjachingu Yoonah. Ini siapa?’ Seandainya Minho mengatakannya langsung, mungkin nada bicaranya agak sinis. Tapi, paling tidak dia bukan namjachingu dari Yoonah.

Paboya.. Aku lupa menuliskan namaku pada pesan yang kukirimkan padanya. Pantas saja jika ia berkata seperti itu.

‘Jung Soojung, 10.3. Tau kan?’ Balasku

Dalam satu hembusan nafas, sudah ada balasan dari Minho ‘Jung Soojung yang mana?’

“Tsh.. Dia sudah lupa begitu saja,” Desahku sambil mengerutkan dahi

‘Besok saja jika aku melihatmu di sekolah, aku akan memanggilmu’ Jawabku

Kali ini aku menunggu balasan yang masuk, sedikit lebih lama. Aku berguling-guling di atas tempat tidur paling nyaman di dunia – tempat tidurku sendiri. ‘Besok sepulang sekolah di gedung olah raga. Aku bertanding basket. Teriakkan saja namaku sekeras mungkin’

Aku tersenyum puas usai membaca pesan terakhir dari Minho. Tanganku kembali meraih buku catatan fisika, aku harus cepat-cepat belajar, tidur, bangun keesokan harinya, lalu menjalani hari hingga aku akan bertemu dengannya besok sore.

~

“Sunyoung-ah!” Pekikku ke arah Sunyoung yang berjalan dengan Jinri di sepanjang koridor

Gadis itu menoleh ke belakang, ke arahku “Ne?

Aku berjalan mendekat ke arah mereka berdua, “Choi Minho, bukan namjachingu Yoonah,”

“Memang bukan,” Sahut Jinri datar, lalu melanjutkan, “Yoonah itu mantan pacar Minho saat SMP”

Tatapan tajamku langsung mengarah pada Sunyoung yang sudah meringis padaku – ekspresi rasa bersalah yang khas darinya, “Mianhae Soojung-ah..” Suaranya sedikit memelas.

“Ah.. Gwaenchana,” Jawabku pelan sambil masuk ke dalam kelasku – 10.3 – yang selalu memancarkan aura kelam.

Sebagian besar teman-temanku tidak sibuk dengan buku catatan fisika milik mereka. Tetapi malah disibukkan oleh tumpukan manga baru milik Taeyeon – Otaku yang paling terkenal di sekolah – yang selalu ia bawa setiap bulannya untuk dipinjamkan pada yang lain.

“Soojung-ah! Aku membawa Naruto yang kau tunggu-tunggu!” Seru Taeyeon sambil melambaikan tangannya padaku

Aku tersenyum, dan melangkah menuju meja Taeyeon. Manga lebih menarik dari pada fisika. Itu fakta.

~

Wae andwaeyo?” Tanyaku dengan nada memelas

Jinri memandang wajahku, “Aku dan Sunyoung harus pergi les, Soojung-ah.. Mianhae

Ne, Mian Soojung-ah..” Ujar Sunyoung sambil melambaikan tangan padaku.

Aku menghela nafas panjang, dan berjalan menuju gedung olah raga ditemani dengan cahaya matahari siang yang menyengat menembus jendela-jendela sepanjang koridor tanpa seorang pun di dalamnya kecuali aku sendiri.

Terdengar samar-samar suara hentakan bola basket dan teriakan dari namja yang bermain di gedung itu saat aku berdiri di depan pintunya. Aku segera melesat menuju bangku penonton di barisan paling belakang. Bola mataku terus bergerak mencari sosoknya. Hanya membutuhkan waktu sangat sebentar—dua detik—aku telah menemukan namja itu.

Postur tubuhnya sedikit lebih tinggi dibandingkan yang lain. Keringat bercucuran di keningnya dan kedua lengan tangannya. Ingin rasanya, aku mengelap keringat pada tubuh namja itu—jika aku bisa.

Sedetik setelah ia berhasil memasukkan bola pada keranjang, Aku menghela nafas dan meneriakkan namanya keras-keras,“CHOI MINHO!!!”

Spontan beberapa anggota tim basket yang ada di lapangan, termasuk Minho melihat ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum dengan canggung sambil berharap agar besok aku tidak menjadi bahan pembicaraan di setiap kelas. Tapi namja dengan nomor punggung 9—Choi Minho—melambaikan tangan padaku sambil tersenyum.

Suara peluit dari Hyukjae-seonsaengnim berbunyi nyaring seakan memenuhi gedung olah raga yang dapat menampung ratusan orang tersebut. Pertandingan berakhir seri. Semuanya segera membawa tas sambil berjalan menuju pintu kelaur. Aku segera melangkahkan kaki ke arah pintu keluar, mencegatnya.

Annyeong,” Sapaku. Sedikit canggung.

Ia tersenyum, “Kau.. Jung, Jung..” Ucapnya sambil mengingat-ingat namaku

“Jung Soojung” Ujarku

Minho mengangguk, “Nah! Jadi kau Jung Soojung?”

Ne,” Jawabku sambil menganggukkan kepalaku pelan

Tanganku merogoh saku, dan mengambil sapu tangan miliknya,“Ah, ini sapu tanganmu kemarin, gamshahabnida.”

Cheonmaneyo, baiklah.. Aku duluan” Jawabnya mengakhiri percakapannya denganku.

Ia berjalan pergi, menyusul teman-temannya yang sudah berjalan jauh di depan. Hanya sebatas itu aku berbincang dengannya.

~

Aku tidak pernah bercakap-cakap dengannya lagi. Aku juga tidak pernah mendapatkan short massage service darinya. Mungkin tidak ada hal yang dapat dibicarakan olehnya denganku, tapi bagiku, seakan harus mewawancarainya tentang dirinya.

Hari ini, aku masih juga tidak bosan untuk sekedar melihatnya dari kejauhan sepulang sekolah. Harus kuakui, aku pelupa, dan terkadang aku melupakan wajah namja dengan tinggi 181 cm –aku mengatahuinya dari data biodata siswa miliknya di ruang Tata usaha – itu, sehingga aku harus melihatnya setiap hari, lagi dan lagi.

Sesekali saat malam hari menjelang tidur, aku mengucapkan namanya berkali-kali Choi Minho, Choi Minho, Choi Minho lalu memegang bibirku sendiri dan tertawa tersipu sendiri. Atau aku bermimpi tidak jelas, yang pasti ada Minho di dalamnya.

Sekalipun ia tetap tidak tersenyum saat melihatku, paling tidak aku dapat mengikutinya sampai ia menghilang dari tempat parkir sepeda, mungkin menuju rumahnya.

~

“Sunyoung-ah, Jinri-ya.. Baca ini,” Pintaku pada kedua sahabatku

Tanganku mengulurkan selembar sobekan kertas lusuh dengan tulisan tangan yang sedikit acak-acakan, “Aku menemukannya terselip di buku catatan fisika milikku”

“Jung Soojung… Kutunggu kau.. sepulang sekolah, di gedung, olah raga” Kata Sunyoung dengan terbata-bata karena tulisan yang tidak jelas di kertas itu.

Jinri menatapku dengan tatapan serius, “Siapa yang mengirim?”

Aku mengangkat bahu, “Molla

“Choi Minho ya? Sudah sejauh apa hubunganmu dengannya” Sunyoung tersenyum sambil menyenggol lenganku

“Sunyoung benar! Pasti Minho yang mengirimkannya!” Sahut Jinri, setuju dengan Sunyoung

Dahiku berkerut, “Kalian yakin?”

Mereka berdua mengangguk-anggukkan kepalanya dengan kompak, “Siapa lagi kalau bukan Minho?”

Aku ingin tersenyum, mungkin saja memang benar Minho yang menulis surat itu, lalu menyuruh seseorang untuk menyelipkannya di buku catatan fisika milikku.

“Cepat, kau ke gedung olah raga! Aku dan Sunyoung akan menunggumu di tempat parkir sepeda!” Ucap Jinri sambil tersenyum manis ke arahku

Aku membalas senyuman Jinri dengan lambaian tangan, dan melangkahkan kaki menuju gedung olah raga. Siapa pun yang akan kutemui, semoga Choi Minho.

~

“Jung Soojung? Kau sudah datang?” Suara itu bergema di gedung olah raga milik sekolahku. Suara yang tidak asing bagiku, tapi aku tidak dapat mengingat siapa yang memiliki suara seperti itu.

Aku menoleh ke kiri, ke kanan – mencari siapa orang yang ada dibalik  semua ini – Tapi nihil, tidak ada yang kulihat.

“Jung Soojung.. Orangtuamu tidak salah memberimu nama yang berarti Kristal… Karena kau merupakan Kristal bagi hatiku,” Lanjut suara itu

Tepat di belakangku, namja itu berdiri – Kim Myungsoo – sambil masih menggendong tasnya yang berwarna hitam pekat. Aku menatapnya dengan pandangan curiga. Tapi ia hanya membalasku dengan senyum tulus.

“Soojung-ah,” Ucapnya sambil menahan senyum dibibirnya, “Would you be my girlfriend?

Aku terdiam. Kim Myungsoo, dia adalah berandalan sekolahku. Baru satu bulan ia masuk di sekolah ini, ia sudah masuk ke ruang bimbingan konseling sebanyak 2 kali. Pekerjaan sehari-harinya adalah mencontek saat mengerjakan tugas atau ulangan. Dan kali ini, ia berdiri di hadapanku, menyatakan perasaannya padaku.

Mi..Mianhae, Myungsoo-ya. Aku tidak bisa menerimamu.”

Ia mengerjapkan matanya, “Eng.. Wae?

Bibirku tidak dapat mengatakan apapun. Sebenarnya alasan ‘Karena kau anak berandal’ bukanlah alasan yang pantas, sebelumnya aku pernah menjadi yeojachingu dari Donghae, yang juga merupakan berandal sekolahku saat SMP. Jadi, aku tidak memiliki alasan mutlak untuk menolak Myungsoo.

Wae Soojung-ah? Karena dia?” Tanya Myungsoo, berharap mendapat jawaban dariku

Dia. Myungsoo hanya menyebut kata dia, yang bisa berarti siapapun. Tapi satu orang yang muncul di pikiranku, Choi Minho.

“Choi Minho, 10.6 kan?” Tanya Myungsoo, kali ini lebih spesifik.

Entah ilusi atau bukan, aku menangkap postur tinggi yang dimiliki oleh Minho sambil membawa bola basket. Ia berjalan meninggalkan gedung olah raga itu sesaat setelah menatapku dan Myungsoo berdiri berhadapan.

Anio, Aku.. Tidak menyukainya” Jawabku pelan

Myungsoo tersenyum pahit, “Terserah kau bohong atau tidak, terimakasih.. atas jawabannya” Lalu ia berjalan pergi meninggalkan aku di gedung olah raga itu.

Aku menghela nafas panjang dan berat, lalu berjalan menuju tempat parkir sepeda untuk menemui Jinri dan Sunyoung yang pasti sudah menungguku sejak beberapa menit yang lalu.  Terlihat wajah kedua sahabatku itu dengan wajah harap-harap cemas menungguku.

“Minho menemuimu?” Tanya Sunyoung

“Apa yang ia katakan padamu?” Tanya Jinri

Aku tersenyum kecut dan menggeleng pelan, “Bukan Minho,”

Mereka berdua menatapku, “Lalu?”

“Myungsoo” Jawabku singkat

Tergambar dengan jelas ekspresi kecewa dari wajah Jinri dan Sunyoung saat aku menyebut nama ‘Myungsoo’.

Jinri menatap wajahku tanpa membuat ekspresi, “Apa yang ia katakan?”

“Dia.. menyatakan cinta padaku. Tapi kutolak.” Jawabku sambil tersenyum ke arah mereka berdua

“Karena.. Kau jatuh cinta pada Choi Minho, kan?” Tebak Sunyoung

Seketika aku  menatap Sunyoung tajam, dan membentaknya, “Sejak kapan.. Aku berkata aku jatuh cinta pada Minho?”

“Eh?” Sunyoung menggigit bibir bawahnya, melirik ke arah Jinri, lalu melanjutkan, “Kurasa.. Kau tidak pernah mengatakkannya”

“Tapi, tingkah lakumu menyatakannya, kalau kau jatuh cinta pada Minho” Ujar Jinri

Aku tersenyum kecut, lalu mengayuh sepedaku menuju rumahku. Meninggalkan Jinri dan Sunyoung yang masih berada di tempat parkir sepeda dengan wajah tidak enak. Jarang sekali aku membentak Jinri atau Sunyoung.

~

Sejak tadi pagi, aku tidak melihat batang hidung Jinri dan Sunyoung. Kata anak-anak kelas 10.2 dan 10.3, Jinri sakit dan Sunyoung berpartisipasi dalam lomba debat antar sekolah. Jadi sudah bisa dipastikan, aku akan pulang sekolah sendirian, sama seperti kemarin.

Mataku melirik ke arah jam dinding, jam 13.47, sebentar lagi bel pulang sekolah akan bordering dengan nyaring. Tetapi tetap saja aku harus membersihkan kelasku karena jadwal piketku hari ini. Tidak ada harapan untuk bertemu dengan Minho.

Aku kembali melamun, memikirkan perkataanku kemarin pada Sunyoung. Faktanya, aku tidak pernah mengatakan ‘Aku jatuh cinta pada Choi Minho’ Sama sekali tidak pernah. Jinri menyatakan jika tingkah laku yang kulakukan dapat membuktikan bahwa aku jatuh cinta padanya. Melihatnya setiap pulang sekolah, atau tersenyum saat melihatnya?

“Catat!” Perintah Kyuhyun-seonsaengnim singkat. Agak Sinis. “Ini penting!” tegasnya sambil melanjutkan mencatat di papan tulis agar anak didiknya dapat menyalinnya. Sesekali spidol warna hitam itu berdecit saat mengenai papan tulis warna biru muda itu.

Bel sekolah berbunyi nyaring, suara itu selalu terdengar setiap tepat jam 2 siang. Aku masih meningat-ingat perkataan Jinri yang satu itu, Tapi, tingkah lakumu menyatakannya, kalau kau jatuh cinta pada Minho.

Setelah semua teman-teman sekelasku keluar, hanya tersisa aku dengan sapu yang kupegang erat, kubersihkan setiap sudut ruangan kelasku, sambil masih memikirkannya. Pasti, semuanya sudah pulang, dan tinggal aku sendiri. Aku tidak terlalu peduli dengan siswa lain yang langsung pulang, yang pasti aku sudah mengerjakan tugasku.

Aku meletakkan sapu yang sudah setengah rusak itu di tempatnya, dan berjalan keluar kelas dengan perlahan. Mengamati lapangan yang sudah sepi, dan koridor yang penuh dengan debu yang bertebaran dimana-mana. Dan langkah kakiku berhenti tepat di kelas 10.6.

Aku menyandarkan tubuhku pada pintu kelas 10.6 yang catnya sudah mulai terkelupas dan di beberapa bagian pintu itu ada coretan ‘hasil karya’ murid-murid 10.6. Rasa letih dan lelah, keringat yang membasahi keningku membuatku ingin terus bersandar pada pintu itu.

Untuk beberapa saat, aku memejamkan mataku. Membiarkan imajinasiku melayang bebas ke arah yang tidak kutentukan. Menghirup udara yang masuk ke dalam hidungku dalam-dalam.

“Kita.. bertemu lagi ya?”

Aku cepat-cepat membuka mataku, melihat seseorang yang bersandar di pintu, tepat di sebelahku, Choi Minho. Ia tersenyum ke arahku sambil membawa beberapa buku paket di tangannya. Dengan mulut setengah ternganga, aku menganggukkan kepalaku.

Minho, ia mengalihkan pandangannya, menerobos keluar jendela koridor sekolahku. Melihat ke arah cahaya matahari yang menembus jendela berdebu sekolahku.

“Bagaimana pun ia menolaknya. Perasaan itu akan tetap ada—sampai ia benar-benar mengakui keberadaannya,” Ucap Minho tanpa menoleh sedikit pun ke arahku

Ia siapa? Apa.. atau siapa yang kau bicarakan?” Tanyaku

Namja itu tersenyum ke arahku, lalu kembali menatap ke arah lapangan dengan sepasang gawang sepak bola, “Aku sedang membicarakan seorang gadis,” lalu melanjutkan, “Gadis yang menyangkal perasaannya sendiri terhadap seorang namja yang selalu ia temui hampir setiap pulang sekolah,”

Aku menatap Minho dengan lekat, Ia tetap tidak menoleh ke arahku, lalu melanjutkan lagi, “Gadis itu tidak pernah mengatakan perasaannya, tapi hatinya mengatakannya. Dan seorang namja yang selalu ia tunggu sepulang sekolah juga menaruh perasaan yang sama dengannya,”

Kali ini Minho melihat ke arah wajahku dan tersenyum, “Namja itu bernama Choi Minho, dan yeoja itu..?”

Ia menatap mataku dalam dengan pandangan teduh, menunggu jawaban dariku.

Minho menghela nafas, “Kurasa aku tidak perlu menyebutkan namanya, kau pasti sudah tau.”

Aku menatapnya dengan sedikit mendangakkan kepalaku, agar bisa melihat keseluruhan wajahnya. Suasana menjadi hening selama beberapa saat, tidak ada yang bersuara satu sama lain.

Namja itu melepaskan bahunya dari pintu, dan berdiri persis di depanku. Tangannya membelai rambutku yang tergerai dengan lembut, “Baiklah, sampai jumpa lagi besok.. sepulang sekolah”

Ia berjalan menuruni tangga yang berada persis di samping pintu kelas 10.6. Aku hanya bisa tersenyum senang saat melihatnya melambaikan tangan padaku.

Fin~

22 thoughts on “[Freelance] Oneshot-See You After School

  1. cie cie cieeeeeeeeeeeeeeeeee cinta b’semi d’kelas 10.6 d’parkiran sepeda d’lap basket d’kantin n akhir’a d’tunjukan d’depan pintu kelas 10.6 aih aih aihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ntu kan kerjaan gw pas masih SMP ama SMA bahkan ampe kuliah n’liatin cowo yg d’taksir dari luar kelas aiiiggooooooooooooooooooo jadi malu

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s