A Letter From Heaven

A Letter From Heaven

 

Author  : Park Minhyun

Cast       :

Song  Luna

 Victoria Song

Cho Kyuhyun

Genre   : Sad,Family,Angst,MIX,AU

Length  : Twoshoot

Rating   : G

NB          : This is all my own plot plus posternya

Setelah bertapa nyari wangsit,saya kembali…mendekati ultah Key,entah kenapa author malah bikin ff nya si Kyuhyun,lalu kenapa sekarang pas ultah Chen pula…hmm…besok SMTown pula –“ ini dibuat dengan berbagai kegalauan yang ada di hati,mudah-mudahan pada suka.

Oh ya lupa,

Minal Aidzin Wal Faidzin readersku

beserta author2 FKI tercintaaaaa~ *tebar paku (?)*

FF yang laen….-________- bentaran yak .___.

Udah lanjut RCL mak! ^^

***
Setiap pagi hari Selasa. Wanita itu di duduk di teras yang kuyakini rumahnya,membawa sebuah kotak berhias gantungan ballerina merah jambu. Kotak dari bambu.
Rumah itu tampak sepi,kufikir hanya hari kerja.
Tapi tidak,rumah itu sepi bahkan sejak sebelum aku menyadari bahwa aku menyukainya.
***
~A Letter From Heaven~

“Kirimkan ini ke alamat yang ini…”hari tampak lenggang,hanya beberapa orang yang lalu lalang ataupun sekedar mengantarkan temannya. Namja topi biru itu menghela nafas. Sejenak memejamkan mata namun sebuah tangan mengagetkannya.

“Kau malas sekali!”namja tag name ‘Cho Kyuhyun’ menguap selebar-lebarnya sambil meregangkan kedua lengan,”Kantor sepi…”gumam namja itu pelan.ditatapnya lagi yeoja di depannya,”Kau sendiri kenapa tidak bekerja?”

“Waktunya makan siang.”yeoja bernama Park Sungrin melenggang pergi. Kyuhyun memejamkan matanya,akhir-akhir ini kantor pos dimana ia bekerja makin sepi hari demi hari. Tingginya perkembangan teknologi membuat beberapa orang enggan mengirimkan pesannya melalui pos. Padahal 5 tahun lalu ia selalu kebanjiran surat untuk dikirimkannya. Bukan karena tidak bisa memiliki pekerjaan lain,

Ia menantikan jawaban penerima surat. Penantian surat yang ditunggu-tunggu. Surat yang ia kirimkan adalah harapan orang banyak,itulah alasan kenapa Kyuhyun mempertahankan pekerjaannya.

Tak lama Sungrin datang membawa dua gelas plastik,”Kopi?”
Kyuhyun mengangguk,disesapnya kopi panas itu. “Tunggu!”
“Wae?”
“Kau sudah makan?”

Kyuhyun menggeleng,”Ya!! Appo!”sebuah jitakan kecil mendarat di dahinya,
“Makan dulu baru minum kopi!”
“Tidak boleh?”
“Andwae!”
***

“Semuanya ayo tunjukan gambar kalian…”seorang yeoja dengan celemek matahari menepuk tangan ketika salah satu dari muridnya maju,”Nana,kasih tahu teman-temanmu apa itu.”
Yeoja kecil itu dengan malu-malu,”Ini gambar bunga. Ada pink,merah dan hijau! Warna warni seperti bunga-bunga di toko umma”

“Kalau Jinki,apa yang kau gambar?”

“Aku gambar pesawat,biar seperti appa!”

“Ini gambar rumah. Rumahku!”

Kelas mungil mulai gaduh. Mereka saling memamerkan hasil karyanya yang seperti ceker ayam yang menurut mereka hebat layaknya lukisan Monalisa.

“Luna,apa yang kau gambar?”salah seorang namja kecil menghampiri seorang yeoja manis di sampingnya,”Kau gambar apa?”yeoja yang dipanggil Luna hanya diam. Kertas di depannya masih kosong.

“Kau tak bisa menggambar?”salah seorang yeoja lainnya menyeletuk,”Haha! Tak bisa menggambar!”ejek lainnya. Luna menatap datar teman-temannya,”Luna tak bisa menggambar! Luna tak bisa menggambar!”hingga akhirnya Jung Seongsanim menenangkan murid-muridnya,ejekan itu terus menggema. Luna menatap jengkel sekelilingnya.

‘brak!’

Hening. Gebrakan dari tangan mungil Luna menjadi sumber keheranan,dalam diam. Ia berjalan ke salah satu rak peralatan di pojok kelas,mengambil sebuah gunting.

“Luna! Jangan! Itu benda tajam!”Luna tak menghiraukan. Bagaimana tidak perasaan seorang guru TK yang was-was dengan salah satu muridnya yang menggenggam benda tajam,”Andwae!”Luna menghentakan tangannya ketika Jung seongsanim hendak mengambil gunting itu.

Luna memotong kertas polos di depannya menjadi dua bagian dan langsung mengguntingnya. Memberi beberapa coretan sehingga beberapa temannya tercengang,bukan beberapa tapi semuanya termasuk Jung Seongsanim.

“Luna~kau…”

Sepasang sayap kertas dengan sketsa bulu-bulu di pinggir-pinggirnya,”Untuk bertemu appa.”ujarnya singkat.
***
“Ne,gamshahamida.”Kyuhyun menundukan badannya sesaat setelah seorang laki-laki membubuhi tanda tangan di salah satu dokumen. Raut senyum Kyuhyun berangsur pudar.
“Hhh…”Kyuhyun menghela nafas. Diteguknya orange juice kotak dan dibuang entah kemana. Tugasnya hari ini selesai.

Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju halte bus. Ia tidak pulang kerumah karena enggan akan suatu hal. Hal yang membuat Kyuhyun harus menguras otak dan tenaga,
Hal yang menurutnya tidak penting namun berarti.

Muak akan semuanya,Kyuhyun tersenyum kecut mengingat betapa buruk ayahnya sehingga ibu kandung Kyuhyun meninggal dunia. Tepat 6 tahun sebelumnya. Sebelum ia harus membiayai semua hutang-hutang ayahnya karena judi. Pulang mabuk dan mengamuk. Banyak pria-pria berjas hitam yang sering menghampirinya untuk menagih hutang.

Kyuhyun masuk ke dalam bus. Ia duduk di pojok belakang bus. Menatap luar jendela,desakan mobil-mobil dan klakson. Hiruk pikuk hari kerja.
‘Bip!’

Ia membuka layar handpone,

From : Hyesoo Ahjussi
Pulang belikan soju 2 botol.

Hyesoo Ahjussi. Itulah yang ia gunakan untuk memanggil sebutan ‘appa’nya. Dengan malas ia menutup kasar handpone flipnya. Helaan terus berlanjut. Hingga ia tertidur lelah.
***
Namja itu berjalan pelan menaiki jalan tangga setapak di atas bukit. Digenggam eratnya sebuket lili putih. Masih sama. Hingga plat tembaga bertuliskan huruf cina kuno sebelum jembatan tua masih bertengger diantara pohon ek besar.

Di bawah sana lumayan curam. Bebatuan sungai siap menghantam siapapun yang bosan hidup atau sekedar berlarian di jembatan dan jatuh. Pernah berfikir untuk menyapa dinginya air di bawah sana,namun namja itu tidak sebodoh manusia-manusia lemah yang dengan mudahnya menggantungkan leher karena putus cinta.

“Umma,annyeong…”

Kini ia berada di pinggir sungai itu. Setelah mencapai kurang lebih 1 km dengan berjalan kaki dari jalan utama Pyeongchang,hingga turun ke anak Sungai. Hanya ingin menyapa,seseorang.
“Aku sekarang sudah tampan kan?”

“Umma dengar Kyuhyun tidak?”

Ya. Namja itu Kyuhyun. Menenggelamkan wajahnya diantara kaki-kaki yang duduk diantara bebatuan besar. Tidak ada yang bicara selain Kyuhyun dan gemericik sungai terhempas batu,
“Akhir-akhir ini udaranya dingin,umma tidak kedinginan?”tetap tak ada jawaban,Kyuhyun tersenyum miris.

“Aku kedinginan.”Kyuhyun membekap buket bunga lili itu. Jari-jarinya memilin tangkai lalu melepaskan satu persatu kelopak bunga ke sungai.

“Aku kedinginan.”gumamnya lagi,ia begitu malu jika harus menunjukan sisi sensitifnya,”Aku tak pernah diajarkan untuk menangis. Tapi…”tentu saja aktifitas menabur bunganya terhenti. Tangannya bergetar hebat begitu pula bahunya.
“Ahra noona,Umma…dia…”matanya memanas hingga fikirannya berputar pada kejadian yang ingin ia pendam hingga nafas terakhir.

3rd March 2006

“Noona,kita mau kemana?”

“Gunung Pyeongchang!”

“Umma,Jinjja?”

“Ne,ini kan hari kelulusan putraku,jadi harus dirayakan!”

“Memangnya apa hebatnya Pyeongchang?”

“Aish~Anak nakal! Sudah diajak masih mengomel saja!”

“Lalu kenapa Appa tidak ikut?”

“Appa masih ada urusan di kantor,ada tamu dari Jepang.”

“Bukannya Umma yang mengurus?”

“Umma kan mau pergi bersama Ahra dan Kyuhyun!”

“Lalu kenapa bocah ini yang menyetir!”

“Ya! Nappeun Dongsaeng! Kau bilang aku ‘bocah’?!”

“Memang. Bawa skuter saja tidak kuat mana mau bawa mobil!”

“Umma! Anak nakal ini lo!!”

“Sudahlah~ini kan hari yang bahagia untuk Kyuhyun,harusnya kau Ahra jadi noona yang baik!”

“wee~”

“Ya! Aish~”

Mobil itu melaju cukup kencang. Kyuhyun,Ummanya dan Ahra noona terus terusan tertawa dan bercanda. Hingga mereka hampir mencapai tempat tujuan,Pyeongchang.
“Noona,aku mau buang air kecil…”

“Ngompol saja sana!”

“Ahra-ya,berhentikan mobilnya dulu. Biar Kyuhyun ke kamar kecil dulu.”

“Ne Noona!”

Ahra sang kakak hanya menurut saja. Mereka berhenti di pinggir jembatan besar. Kyuhyun langsung berlari menuju kamar kecil umum tak jauh dari sana. Sedangkan Ahra dan Ummanya menunggu di dalam mobil. Sekilas biasa saja sebelum akhirnya Kyuhyun keluar dari kamar kecil dengan tergesa,

“Umma,aku tak bawa uang! Jadi…”

Sebuah mobil kecepatan tinggi melaju tanpa kendali dari lawan arah. Mata Kyuhyun membulat namun tubuhnya mematung begitu saja.Mobil itu menabrak mobil yang dibawa Ahra dan Ummanya berada hingga terseret ke jurang sungai di bawah jembatan.

“UMMA!!! NOONA!!!”Kyuhyun langsung berlari dan berteriak histeris. Sontak beberapa orang disekitar berlarian menuju jembatan.Dua orang pria menahan Kyuhyun yang memaksa turun ke jurang. Kyuhyun terus terusan meronta dan berteriak-teriak.

“LEPASKAN AKU!! ITU NOONA!! UMMA!!!”

Tak berselang lama,terjadi letupan disusul ledakan besar dari bawah. Kyuhyun makin panik hingga mencakar orang-orang yang menahannya paksa.

“Umma…umma….Noona!”

“Lepaskan aku bodoh!! YA!!!”

Kyuhyun tak bisa memikirkan apa-apa lagi selainkan menyari Umma dan Noonanya. Meskipun telah dilarang pihak SAR,Kyuhyun tetap bersikeras menemukan Umma dan Noonanya. Ia sempat melihat jasad pengemudi mobil yang menabrak mobilnya yang terbakar hangus menjadikan Kyuhyun semakin panik karena hingga 1 jam Umma dan Noonanya tidak ditemukan.

“Nak,pulanglah dulu biar serahkan pada kami.”

“Andwae! Umma dan Noona masih hidup! Aku bisa mencarinya!”

Kyuhyun meskipun dengan luka-luka akibat memaksa turun ke jurang hingga terperosok membongkar-bongkar bongkahan bangkai mobil. Kyuhyun jatuh terduduk ketika menemukan gelang kayu milik Noonanya di bawah bongkahan kursi penumpang.

“NOONA!!”

Beberapa tim SAR langsung membantu Kyuhyun yang mengangkat beberapa bongkahan. Ya,tak lama mereka mendapatkan Ahra Noona yang bersimbah darah dengan luka bakar di lengan dan kakinya. Namun tidak dengan Umma Kyuhyun. Arus sungai yang deras menghentikan evakuasi.

“Appa…”
Kyuhyun hendak berbicara pada ayahnya,”Chankaman,nanti dulu appa sedang rapat.”

Kyuhyun meringkuk di depan ruang ICU. Sendiri. Ia menunggu bagaimana nasib Noona dan Ummanya yang baru ditemukan 8 jam kemudian.

-flashback end-

Kyuhyun kembali pada dirinya saat ini. Kini tak ada lagi jurang di bawah jembatan Pyeongchang. Pihak pengelola membuat tanggul dan memberi tangga susun menuju sungai di bawahnya.

“Umma,Noona betah sekali tidur,padahal sudah 6 tahun…”Ia menatap nanar langit diatasnya. Mereka berkelompok membentuk gumpalan-gumpalan seperti kapuk lembut dan cerah. Tak sedikit burung-burung yang bermain kesana kemari.

“Bahkan saat umma pergi appa tidak ada disisi kita.”Kyuhyun meremat buket lili putih itu. Isakannya menjadi.
***

Hujan lagi-lagi mengguyur Seoul. Orang-orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Cipratan genangan air seakan menjadi hal yang wajar 2 minggu ini. Tak sedikit yang melakukan aktifitas berlangitkan payung.

“Aish~Sungrin lama sekali.”Seorang namja dengan hoodie hijau menggosok-gosokan lengan sambil sesekali meniup-niup telapak tangan. Bukan tak bisa ataupun tak mau pulang. Hanya saja payung miliknya tertinggal di kantor sehingga ia meminta rekannya untuk mengantarkan payung. Ia bisa saja berlari langsung ke rumahnya,namun ia harus berfikir dua kali untuk meninggalkan payung spesial. Ya,payung terakhir milik Ibunya.
Semua hal berkaitan ibu dan kakaknya sangat dilindungi bahkan dijaga betul agar tak tergores maupun rusak sedikitpun.

“Aish~kenapa mengingat lagi…”Kyuhyun menggeleng,
Ia menatap etalase kaca sebuah boutique di belakangnya. Tampak sebuah manekin dengan sackdress tosca yang menawan. Dengan ragu,ia memasuki boutique dengan aksen eropa itu,

“Annyeonghaseyo…”
Kyuhyun ikut mengangguk.

“Bisa kami bantu?”
“Ah,itu…”Kyuhyun berbalik menunjuk manekin tadi,”Harganya berapa?”
Pelayan tadi tampak tak percaya,”Sungguh anda mau membelinya?”
“Ne.”

“Harganya sekitar $200 lebih…”
“Hei! Mahal sekali..”

“Memang mahal untuk seukuran dress brand terkenal …”
“Aish~maksudku yang ditangan manekin itu,gelang…”

“Jwoseonghamnida,itu tidak dijual.”
***

Tuhan.

Apa salahku kalau bertemu ayah?
Ibu pernah bilang kalau ayah itu tampan.
Tapi kenapa aku tidak tahu?

Tuhan,

Tuhan,
apa ibu terlalu sedih?
Kenapa sedih?
Bukankah Tuhan tau kalau ibu jadi jelek kalau menangis?

Kata ibu ayah ada di surga.
Bisa kau tunjukkan padaku?
Dimana surga itu? Ada tangga nya tidak?
Tunjukkan ayahku biar ibu tidak menangis lagi.

Tuhan,
aku sudah buat sayap.
Kapan-kapan aku menjenguk ayah
Aku bawakan kimchi buatan bibi tetangga.
Enak. Aku kemarin makan kimchi habis dua mangkok.
Habis aku belum makan satu hari! ^^

Tuhan,
Aku mohon sampaikan pada ayah.
Surat ini penuh cinta.
Oh ya! Ayah dapat salam dari Ibu,
Kami selalu mencintai ayah.
Jaga kesehatan ya!

 

-TBC-

HUEEEEE~ *keburuditimpukmendinganlari*

Udahlah,ini ngebut nih nih…wakak,langsung komen ya! gak komen saya hadir di mimpi anda nanti malem lho!

^^

8 thoughts on “A Letter From Heaven

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s