Twins [Chap.6 – Miracle]

Twins

[Chap.6 – Miracle]

Author by Icha

Genre Siblings, Friendship, Romance

Rating G

Cho Kyuhyun [Super Junior]

Gui Xian Cho [Kyuhyun’s mandarin name]

Cho Ahra [Kyuhyun’s noona]

Lee Sungmin [Super Junior]

Kim Cheonsa [OC]

Park Jung Soo [Super Junior]

And the other cast at the other chapter.

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendiri http://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

Chap.1 // Chap.2 // Chap.3 // Chap.4 // Chap.5

Duo Cho duduk bersebelahan didalam ruangan kepala sekolah. Beberapa saat yang lalu, nama mereka terdengar seantero sekolah di karenakan pengeras suara yang berulang kali mengumumkan bahwa duo Cho ini diminta untuk menghadap kepala sekolah.

Kasak – kusuk juga terdengar hampir di setiap sudut sekolah. Semua siswa dan siswi begitu penasaran tentang pemanggilan duo Cho yang terkenal itu. Dan setelah melewati berbagai macam cara pandang, akhirnya disinilah mereka, ruang kepala sekolah.

“Oh ayolah Kyuhyun-ssi, Gui Xian-ssi, kalian berdua jangan terlalu tegang seperti ini.” Kata Lee seongsaengnim selaku kepala sekolah dari Savior senior high school. Pria paruh baya itu tersenyum hangat, menatap anak didik kebanggaannya satu per satu.

Bagaikan sebuah mantra, ucapan Lee seongsaengnim cukup berpengaruh bagi duo Cho. Tubuh mereka yang tadinya sedikit kaku kini berangsur seperti biasanya. Bahkan Kyuhyun sampai menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ini adalah pertama kalinya bagi duo Cho untuk bertatap muka dengan kepala sekolah baru yang menerapkan system rangking 1A dan 1B.

“Ini untuk kalian.” Ucap Lee seongsaengnim berwibawa, ia meletakkan dua buah amplop putih diatas meja kerjanya lalu mendorongtnya sampai ke hadapan duo Cho yang kini tengah menatap amplop itu dengan bingung.

“Jeosonghamnida Lee seongsaeng, apa ini?” Tanya Gui Xian. Ia memberanikan diri walau sebenarnya rasa takut melanda. Ia takut di anggap siswa yang tidak sopan oleh kepala sekolahnya sendiri.

Lee seongsaengnim kembali tersenyum. “Bukalah.” Perintahnya dengan nada yang tegas namun tetap lembut.

Dengan hati – hati, duo Cho membuka amplop yang masing – masing mereka dapatkan dari kepala sekolah, didalam amplop terdapat selembar kertas. Dan secara seksama, kedua namja yang memiliki tingkat jumlahg IQ di atas  rata – rata itu mulai membaca apa yang tertulis di kertas tersebut.

Mata yang membulat dan mulut yang terbuka lebar. Itulah reaksi duo Cho ketika mereka selesai membaca isi kertas tersebut.

“Be-benarkah ini seongsaengnim?” Tanya Kyuhyun terbata – bata, ia masih tidak percaya hingga membuatnya lagi – lagi membaca selembar kertas itu.

“Tentu saja, dan jangan lupa beritahu pada noona kalian .” Ucap Lee seongsaengnim. Bukan rahasia lagi bahwa duo Cho sudah tidak memiliki orang tua dan hanya tinggal dengan noona mereka yang rela berhenti kuliah dan mengambil pekerjaan demi menghidupi kedua namdongsaengnya.

“Algaseumnida seongsaeng.” Sahut Gui Xian seraya melipat kembali kertas itu lantas dimasukkannya kembali kedalam amplop seperti semula. “Kamsahamnida untuk semuanya seongsaeng.” Lanjutnya tenang setelah ia dapat mengendalikan rasa terkejutnya.

“Aku tidak melakukan apapun, ini adalah hasil jerih payah kalian sendiri selama ini. Berusahalah lebih keras lagi nantinya. Perjuangan kalian masih sangat panjang.”

Duo Cho tersenyum dan mengangguk bersamaan, membuat sang kepala sekolah tertawa kecil melihat kekompakan mereka. “Kalian memang benar – benar anak kembar. Bahkan aku sampai sekarang masih belum bisa membedakan mana Cho Kyuhyun dan mana Gui Xian Cho jika saja kalian tidak menyebut nama kalian terlebih dahulu tadi.”

Tawa sang kepala sekolah membahana di ruangannya yang besar itu. Duo Cho mengerutkan kening mereka lalu ikut tertawa untuk menghormati kepala sekolah walau hal itu tidaklah lucu menurut mereka.

Kyuhyun dan Gui Xian membungkukkan badan mereka pada kepala sekolah dan keluar dari ruangan setelah mereka di persilahkan untuk kembali ke kelas masing – masing. Begitu Kyuhyun selesai menutup pintu, mereka berpelukan. Kebahagiaan yang tiada tara terpancar di wajah mereka.

“Chukkhae hyung..” Ucap Gui Xian sambil menepuk – nepuk punggung Kyuhyun. Kyuhyun pun melakukan hal yang sama, senyuman tipis terkembang.

“Naddo chukkhae Gui Xian-ah, kau memang namdongsaeng yang hebat, aku bangga padamu.” Ucapnya tulus.

Yang membuat Gui Xian seakan membeku dalam pelukan hyungnya. Pelukan yang rasanya sudah lama sekali tidak ia rasakan. Pelukan yang hangat dan penuh kasih sayang dari satu – satunya hyung yang ia miliki. Dan itu, pujian itu terdengar seperti suara angin musim gugur yang berhembus, begitu nyaman di telinga Gui Xian. Entah kapan terakhir kali hyungnya memujinya seperti ini, apakah ia menyadarinya?

Biarlah, kalau boleh Gui Xian meminta, biarlah waktu berhenti berputar sekarang juga. Ia sangat merindukan pelukan ini.

“Kyuhyun oppa, Gui Xian oppa, apa yang terjadi?” Cheonsa tiba – tiba hadir diantara mereka bersama Sungmin yang entah datang darimana menginterupsi moment yang sudah langka antara hyung dan dongsaeng yang sedang di landa kebahagiaan itu. Kyuhyun merangkul bahu Gui Xian lalu menepuk – nepuk lengan adiknya dengan penuh kasih.

“Kalian terlihat sangat senang, ada apa ini?” Tanya Sungmin penasaran. Ia melirik moment duo Cho dengan pandangan dingin walau wajahnya dibuat sedemikian  aegyo-nya.

Hal kecil yang tidak bisa luput dari perhatian Gui Xian.

“Chankamman, kalian semua tunggulah disini. Aku mau menelfon noona sebentar.” Ujar Kyuhyun, ia melangkahkan kakinya menjauh beberapa meter dari gerombolannya, merogoh saku celana sekolahnya dan mendapati ponselnya.

“Yoboseyo noona-ya, bisakah nanti malam memasak banyak? Ajak Jungsoo hyung juga, Sungmin dan Cheonsa juga akan datang.” Matanya menerawang menatap hamparan pohon pinus berukuran sedang yang tertanam di halaman belakang sekolahnya. Seulas senyuman kembali terlukis dibibirnya. “Nanti akan kujelaskan di rumah. Jangan lupa noona. Sampai bertemu di rumah, annyeong.”

“Keundae..ada apa sih oppa?” Cheonsa memburu Kyuhyun dengan pertanyaan lagi ketika Kyuhyun kembali bergabung setelah memutus percakapan dengan noonanya.

Kyuhyun tersenyum, ia mencubit pelan hidung Cheonsa. “Nanti datang saja kerumah, juga kau Minnie hyung.” Kyuhyun mengalihkan wajahnya dari Cheonsa.

Di perlakukan  seperti itu, membuat wajah Cheonsa memerah.

Wajah polos milik Kyuhyun.

Wajah sendu hinggap pada Gui Xian saat melihat adegan yang Kyuhyun lakukan pada Cheonsa.

Dan tatapan mematikan milik Sungmin.

“Wah, hari ini ramai lagi ya?” Jungsoo tersenyum ketika ia baru tiba  dan melihat ruang makan yang sudah di penuhi oleh Kyuhyun, Gui Xian, Sungmin dan Cheonsa. Ia menduduki bangku yang biasanya. Hajiman, dimana calon istrinya?

“Entahlah chagi, tiba – tiba Kyuhyun memintanya. Padahal hari ini aku sednag banyak kerjaan.” Keluh Ahra yang baru datang dari dapur membawa dua piring yang berisikan jjangmyeun untuk kedua namdongsaengnya.

Oh, ternyata calon istri tercinta dari tadi berada di dapur. Kekekeke. Jungsoo mulai senyum – senyum tidak jelas, membuat Sungmin yang tidak sengaja melihatnya menjadi berpikir dua kali apa benar Ahra noona akan menikah dengan orang yang bisa cengengesan sendiri secara tiba – tiba.

Ahra duduk tepat di sebelah Jungsoo. “Geureom, mumpung kalian semua ada disini, aku ingin menyampaikan sesuatu.” Kata Jungsoo.

“Chankamman hyung.” Potong Kyuhyun. “Biarkan kami menyampaikan sesuatu milikku dan Gui Xian lebih dulu.”

Jungsoo mengalah, ia menganggukkan kepalanya. Kemudian Kyuhyun  menyodorkan dua amplop putih pada Ahra yang daritadi ia sembunyikan di saku celana kantong belakangnya.

“Ige mwoya?” Tanya Ahra, ia menaikkan kedua alisnya, dalam hatinya ia sangat cemas kalau saja amplop itu berisi surat pemanggilan dari sekolah namdongsaengnya dikarenakan berbuat semacam masalah.

“Buka saja noona, dan bacakan untuk kami semua.” Jawab Gui Xian sambil mengunyah jjangmyeunnya.

Ahra mengambil satu amlop, membukanya lalu mengeluarkan selembar kertas.  “Kepada yang terhormat saudara Cho Kyuhyun, seiring dengan keberhasilan anda pada tes yang kami berikan, maka kami selaku pihak pengelola SEOUL NATIONAL UNIVERSITY OF ARTS menerima anda sebagai mahasiswa di universitas kami. Dan dengan melihat prestasi yang telah anda raih, anda mendapatkan beasiswa bebas biaya kuliah, praktikum, dan biaya lain sebagainya mulai dari  awal perkuliahan hingga tingkat akhir masa perkuliahan.” Ahra membaca isi surat itu  dengan suara yang makin lama makin bergetar, matanya berkaca – kaca hingga akhirnya butiran bening itu jatuh mengalir di pipinya. Ia tak sanggup menahan rasa haru dan sekaligus bangga yang bercampur menjadi satu.

“Jinjjayo? Jinjjayo Kyunnie-ah?” Seru Sungmin. Ia sampai menghentikan sendok yang hampir memasuki mulutnya.

“Seperti yang hyung dengar.” Jawab Kyuhyun dengan cengiran di wajahnya. Ia sangat berbahagia. Bagaimana tidak? Ia mendapatkan beasiswa di universitas yang ia inginkan serta di jurusan yang ia inginkan juga.

“Oppa benar – benar hebat.” Puji Cheonsa. Matanya ikut berkaca – kaca melihat kebahagiaan Ahra. Ia seolah bisa merasakan apa yang Ahra rasakan.  Sebuah tangan yang hangat hinggap di puncak kepalanya lantas mengusap rambut yeoja mungil itu dengan lembut.

“Gomawo.” Kata si pemilik tangan hangat itu, Cho Kyuhyun.

“Noona-ya, jangan lupakan amplop yang satunya.” Tuntut Gui Xian, ia merengek manja seolah tidak perduli dengan image cool yang selama ini ia bangun. Toh di hadapannya hanya ada noonanya, hyungdeulnya, dan Cheonsa yang sepertinya sudah terbiasa menanggapi kepribadian ganda yang dimiliki oleh kakak beradik itu.

“Ah..arraseo nae little prince.” Kata Ahra menatap Gui Xian sekilas, ia menyeka air matanya yang tersisa lalu mulai membuka amplop yang ternyata milik Gui Xian.

Kepada yang terhormat saudara Gui Xian Cho. Selamat atas keberhasilan anda pada tes ujian masuk INHA UNIVERSITY dengan nilai diatas rata – rata. Untuk itu anda berhasil menempati sebuah bangku perkuliahan yang di siapkan khusus bagi mahasiswa baru yang berprestasi. Dan juga anda mendapatkan beasiswa serta di beri pembebasan dari uang praktikum, ujian, dan lain sebagainya mulai dari awal perkuliahan hingga tingkat akhir pendidikan di jurusan yang anda pilih yaitu kedokteran. Selamat datang mahasiswa baru sekaligus calon dokter ternama di INHA UNIVERSITY.”

Lagi, Ahra tak kuasa menahan tangisnya, ia pun menenggelamkan dirinya dalam dekapan hangat sang calon suami.

“Ya Tuhan oppadeul, kalian benar – benar seperti sebuah miracle.” Kata Cheonsa yang juga di kejutkan oleh dua berita bagus itu sekaligus. Tapi, dengan begitu, Kyuhyun akan pindah ke Seoul? Lalu apakah yang dapat ia lakukan untuk mengejar Kyuhyun?

“Ketahuilah Cheonsa, nae little evil dan nae little prince adalah miracle bagiku. Itu sebabnya aku sangat menyayangi mereka.” Sahut Ahra sambil terisak.

Kyuhyun dan Gui Xian tersipu, little evil dan little prince adalah panggilan kesayangan dari Ahra untuk mereka berdua yang hanya mereka bertiga yang tahu, namun kini Jungsoo, Sungmin bahkan Cheonsa juga telah mengetahuinya.

Miracle? Ya, bagi Kyuhyun, dulu Gui Xian adalah sebuah miracle dimalam natal. Ketika ia dilanda rasa kesepian karena ingin memiliki namdongsaeng, sang appa tiba – tiba menghadirkan Gui Xian sebagai pelengkap hidupnya, sebagai hadiah natalnya.  Ia amat sangat menyayangi Gui Xian, dulu, sampai entah apa sebabnya rasa sayangnya pada Gui Xian semakin memudar. Ia sendiri bahkan tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

Kemana hilangnya semua perasaan sayangnya pada Gui Xian? Pada namdongsaeng kecilnya yang pada pertemuan pertama sudah mendapatkan tempat dalam hatinya? Kemana rasa sayangnya yang dulu bisa membuat Gui Xian tertawa dengan lepas? Ia sejujurnya rindu akan tawa canda Gui Xian, ia rindu dimana mereka menjerit bersama dan di akhiri dengan perkelahian kecil main – main ketika salah satu dari mereka tidak bisa menerima kekalahan hingga akhirnya membuat sang noona mengetuk kepala mereka menggunakan sendok sup. Ia rindu ketika dimana Gui Xian yang menjaganya saat ia tidur, bukan ia yang menjaga Gui Xian namdongsaengnya karena beberapa bulan setelah kepergian appa dan eomma, Kyuhyun tetap tidak bisa menahan tangisnya ketika hendak pergi tidur.

Pikirannya melayang, kadang ia tidak mengerti kenapa ia mengusir Gui Xian dari kamarnya? Padahal dirinya justru membutuhkan Gui Xian yang hangat disampingnya. Ia tahu Gui Xian selalu membagi selimutnya saat musim dingin datang, bahkan kadang ia tidak mendapatkan selimut hanya karena ia menyelimuti Kyuhyun yang nampak sangat kedinginan. Membuat Gui Xian tidak tega dan akhirnya menyelimuti tubuh Kyuhyun yang sudah terbungkus balutan selimut miliknya sendiri.

Gui Xian tahu hyungnya memang lemah badannya.

#FLASHBACK

Musim salju memasuki Korea Selatan, menjadikan seluruh daerah di Korea Selatan nampak indah karena warna putih mendominasi segalanya. Namun salju – salju tersebut tidak menghentikan aktivitas warga Korea Selatan, mereka tetap sebagaimana kesehariannya, bekerja, sekolah dan lain sebagainya.

“Hyung, ayo kita pulang.” Ajak Gui Xian sambil memasukkan buku – buku pelajaran milik Kyuhyun kedalam tasnya. Kepulan asap keluar dari mulutnya seiring kalimat yang juga meluncur dari mulutnya. Namja kecil berusia 10 tahun itu menarik – narik lengan hyungnya.

“Andwae…” Tolak Kyuhyun. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia nampak menggigil.

“Hyung wae? Sakit???” Gui Xian mulai cemas. Ia melepas sabelah sarung tangan yang ia kenakan lalu meletakkan punggung tangannya di kening Kyuhyun. “Hyung demam!!! Eotteokhae??? Eotteokhae???” Gui Xian bergumam panik.

“Dingin…” Keluh Kyuhyun, memeluk dirinya sendiri.

Serasa ingin menangis Gui Xian melihat penderitaan yang di alami hyungnya. Apapun itu, meskipun Kyuhyun telah memakai jaket tebal tapi kalau Kyuhyun masih kedinginan seperti ini tentulah akan menjadi hal yang besar. Maka ia melepas jaket yang ia kenakan, angin dingin begitu menusuk kulitnya, menembus lapisan kulit pucatnya hingga kedalam tulangnya, membuat ia meringis karena rasa ngilu.

Tentu saja, hanya jaket tebal itulah yang melindunginya dari terpaan angin dingin yang tak hentinya berhembus. Kini jaket itu telah di lepasnya, menyisakan selembar seragam sekolah tipis yang melekat di tubuhnya. Dengan hati – hati ia memakaikan jaket itu pada hyungnya. “Hyung tidak boleh sakit..” ucapnya dengan mata yang berkaca – kaca. “Gui Xian saja yang sakit, hyung tidak boleh.”

“Tapi..tapi..”

Gui Xian tak banyak bicara lagi, ia berjongkok memberikan punggungnya di hadapan Kyuhyun. “Naiklah hyung, ku gendong sampai rumah.” Gui Xian sangat tidak tega membiarkan hyungnya yang mulai pucat itu harus berjalan kaki.

“Tapi, Gui Xian-ah..”

“Ku bilang naik hyung. Ppali, aku takut kalau satpam telah mengunci gerbang sekolah.” Dan kalimat yang menurut Kyuhyun adalah sebuah ancaman itu membuat Kyuhyun bergelayut di punggung Gui Xian dengan sisa tenaganya. Dengan susah payah Gui Xian membangunkan tubuh kecilnya yang kini bertambah beban. Kyuhyun, dan dua tas sekolah yang isinya luar biasa banyaknya.

Berkali – kali Gui Xian bersin dalam perjalanan dari sekolah menuju rumah. Angin dingin makin menusuk tulang Gui Xian, namja kecil itu sangat sangat sangat kedinginan mengingat ia hanya mengenakan seragam sekolahnya. Sementara itu sang hyung telah tertidur pulas dalam gendongannya. Gui Xian tersenyum kecil, setidaknya hyungnya selamat.

Dan akibatnya Gui Xian mengalami demam berat, suhu tubuh yang sangat tinggi hingga membuatnya sempat tidak sadarkan diri di rumah sakit selama seminggu.

#FLASHBACK OFF

Tanpa di sadari, Kyuhyun mengamati Gui Xian yang sedang menikmati makan malamnya dalam diam. Ia menatap sendu namdongsaengnya. Setitik rasa bersalah merayapi hatinya, ia lantas menggeleng – gelengkan kepalanya untuk menghapus rasa – rasa yang berkecamuk yang dapat menyebabkan perang batin bagi dirinya sendiri.

“Kyunnie-ah, kau kenapa?” bisik Sungmin, ia menyenggol lengan Kyuhyun menggunakan sikunya sedikit heran dengan tingkah aneh Kyuhyun.

“Anniya, gwenchana.” Balas Kyuhyun yang kembali focus pada piring di hadapannya.

Miracle? Bagi Gui Xian, keluarga Cho adalah sebuah miracle terindah yang ia miliki dalam hidupnya. Di saat panti asuhan tempat dimana ia tinggal semasa kecilnya habis terbakar, appa dan eomma Cho mengadopsinya menjadi anak mereka, menjadi dongsaeng untuk Ahra dan Kyuhyun tepat pada malam natal.

Tapi kini Gui Xian berfikir, mungkinkah Tuhan sudah tidak menyayanginya lagi? Tuhan mengambil semua miracle yang ia miliki, appa, eomma, kasih sayang Kyuhyun padanya, dan kini ia yakini Cheonsa pun akan pergi dari sisinya.

Gui Xian mendesah, mengaduk – aduk jjangmyeunnya tanpa nafsu. Kini ia hanya memiliki sang noona yang masih sangat menyayanginya tanpa berkurang sedikitpun seperti janjinya pada Gui Xian dulu. ‘Semoga Tuhan tidak mengambil satu – satunya miracle yang kumiliki.’ Doa Gui Xian dalam hati.

“Kau juga miracle bagiku chagiya.” Jungsoo mulai menggombali Ahra, membuat Ahra terkekeh sambil tetap menangis.

“Aigoo..noona dan hyun g membuat kami iri..pikirkanlah perasaan kami yang masih single hingga sekarang. Jangan bermesraan di depan kami.” Cibir Sungmin, mempoutkan bibirnya.

Jungsoo hanya melemparkan sebuah senyuman pada Sungmin. “Calon adik – adik iparku memang sangat hebat. Rupanya aku tak salah memilih kekasih.” Ia menggerling pada Ahra.

“Oppa, berhentilah menggoda Ahra eonni, lihat wajahnya seperti kepiting rebus sekarang.” Celutuk Cheonsa riang.

“Ohya, ada satu hal lagi yang ingin ku sampaikan pada kalian.” Kata Kyuhyun, menggantungkan ucapannya sengaja ingin membuat seluruh orang yang berada di ruangan itu penasaran.

Dan Kyuhyun berhasil, kini semua mata tertuju padanya, menatapnya dengan tingkat penasaran yang luar biasa, Kyuhyun tersenyum lebar mengetahui bahwa ia berhasil mendapatkan perhatian. “Mulai hari ini, Kim Cheonsa resmi menjadi milikku.” Katanya, merangkul bahu Cheonsa yang duduk di sebelah kirinya lalu merapatkan tubuh Cheonsa pada dadanya.

“Jinjja???” seru Jungsoo dan Ahra. Sungmin dan Gui Xian tersedak.

Kyuhyun tersenyum, sepertinya ia banyak sekali tersenyum kali ini. Dan ia semakin mengeratkan rangkulannya.

“Be-benarkah oppa? Aku milikmu?” Tanya Cheonsa lirih, ia mendongak menatap wajah Kyuhyun yang lebih tinggi darinya. Tak percaya, hatinya berdebar takut jikalau ini semua hanyalah sebuah mimpi belaka.

Cheonsa hanya mendapatkan sebuah usapan yang halus nan lembut di kepalanya dari tangan Kyuhyun sebagai jawaban. Tak perlu kata – kata, Cheonsa sudah cukup sangat menegrti. Senyuman kebahagiaan terkembang di bibirnya. Ini adalah miracle yang ia dapatkan diantara beberapa miracle yang terjadi di sini. Bolehkah ia berteriak pada dunia? Seorang Cho Kyuhyun menerima cintanya?

“Aku tak pernah menyangka ternyata ada yang sedang saling jatuh cinta selama ini.” Goda Jungsoo pada pasangan baru itu. “Hari ini benar – benar sangat luar biasa, sepertinya Tuhan memberkati kita semua di sini.”

Sungmin menatap adegan mesra itu, ia lantas memalingkan wajahnya lalu memejamkan matanya sesaat. Tangannya mengepal kemudian ia menggigit bibir bawahnya, ia berusaha keras menahan sesuatu yang bergejolak didalam dirinya. Setelah merasa tenang, perlahan ia membuka matanya kembali. “Chukkhae Kyunnie-ah, Cheonsa-ya, kalian amat sangat serasi.” Ucapnya dingin dan tajam yang hanya bisa di rasakan oleh Kyuhyun. “Bukankah begitu Gui Xian-ah?” nada suara Sungmin berubah 180derajat, nada suara yang manis namun terkesan mengejek.

‘Sial!!!!!’ geram Gui Xian dalam hati. “Tentu saja hyung,” sahut Gui Xian, ia tersenyum licik. “Orang yang baik memang sudah seharusnya bersama dengan orang yang baik juga. Sedangkan yang jahat seharusnya tidak akan mendapat apapun.”

“Keundae, Jungsoo hyung, apa yang ingin kau sampaikan? Kelihatannya sangat penting sekali? Mianhae aku terus membuatmu menundanya.” Kyuhyun buru – buru memotong perhelatan sinis antara Sungmin dengan Gui Xian, ia tidak ingin hal kecil itu merusak kebahagiaan yang sedang berlangsung.

“Ah, nde, aku hampir saja lupa.” Kilah Jungsoo seraya menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia merogoh sesuatu dari saku celana kerjanya. Gui xian yang memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi sampai berdiri dari kursinya demi mengintip apa yang di lakukan oleh Jungsoo.

Jungsoo mengeluarkan kotak kecil beludru berwarna putih, ia lalu membuka tutupnya di hadapan Ahra. “Would you marry me, chagiya?” Ucapnya mantap.

Benda berbentuk lingkaran kecil yang berada di hadapan mata Ahra sangatlah indah. Sebuah cincin yang sederhana bentuknya namun bermahkotakan sebuah permata berukuran sedang berwarna biru sapphire. Menghipnotis Ahra untuk terus memandangnya tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

“Jika kau menerima lamaranku chagiya, maka aku akan mengatur waktu secepatnya untuk kita menikah sebelum kedua adikmu pindah ke Seoul.” Lanjut Jungsoo dengan mimic wajah yang penuh pengharapan.

Semuanya menahan nafas, menanti jawaban yang akan Ahra berikan.

Ahra hanya dapat mengangguk, dan butiran bening air matanya kembali menetes manakala Jungsoo menyematkan cincin indah tersebut di jari manis tangan kiri Ahra. Sebuah tanda kepemilikan dari seorang Park Jungsoo untuk Cho Ahra.

Kyuhyun berkali – kali mematut dirinya di depan cermin, namja itu sudah rapih dengan tuxedo hitam dan kemeja putih di dalamnya. Ia sangat gugup jika ia ingat bahwa ialah yang akan menjadi pengiring Ahra noonanya, pengganti sang appa yang telah tiada. Berkali – kali ia merapihkan jasnya walau jas itu telah tertata dengan sempurna di tubuhnya.

“Kau sudah siap hyung?” suara Gui Xian terdengar dari belakangnya, adiknya itupun tak kalah tampan dari dirinya. Hanya saja Gui Xian mengenakan tuxedo berwarna abu – abu gelap. “Mau berapa kali lagi kau bercermin? Rasanya cermin itu hampir bosan kau pandangi terus.” Sindir Gui Xian, ia menyamakan posisinya disamping Kyuhyun, lalu menyematkan sebuah hiasan berbentuk bunga pada saku jasnya dengan bantuan pantulan wajahnya di cermin.

“Aku sangat gugup Gui Xian-ah, mengapa harus aku? Mengapa bukan kau?” Tanyanya panik.

Gui Xian menepuk – nepuk pelan punggung Kyuhyun. “Kau adalah namja yang tertua di antara kita. Dan tugasmu hanyalah mengiringi langkah noona, menjadi penopang sementara bagi lengannya dari depan gereja menuju altar lalu menyerahkannya pada Jungsoo hyung. Setelah itu selesai, eoh?” jelas Gui Xian panjang lebar. Namja itu terkekeh geli menanggapi kegugupan berlebihan hyungnya.

“Lalu setelah itu noona akan pergi dari kita?” suara Kyuhyun tercekat, pandangannya muram.

Gui Xian menghela nafas panjang. “Kau dengar sendiri dari Jungsoo hyung, setelah menikah, Jungsoo hyung di tugaskan untuk memegang perusahaan itu yang berada di Jepang. Dan lagi pula sebentar lagi kita akan pindah ke Seoul kan?”

“Jepang dan Seoul terlalu jauh Gui Xian-ah.” Sambar Kyuhyun cepat. Ia menatap pantulan dirinya dan Gui Xian di cermin dengan tatapan mata yang kosong. “Aku masih belum bisa berpisah dengan noona.”

“Sudahlah, jangan memasang wajah murung itu di hari bahagianya noona, kau tidak ingin melihat noona bersedih kan? Cepatlah, 20 menit lagi acara akan di mulai.” Gui Xian pun berlalu. Dan Kyuhyun masih tetap pada tempatnya, ia mulai melangkah pelan dan berhenti di sofa, menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk itu.

Mata Cheonsa berkeliling mencari Kyuhyun. Tapi ia hanya dapat melihat Gui Xian yang duduk di barisan paling depan. “Oppa, dimana Kyuhyun oppa?” Tanya Cheonsa.

“Eoh, dia masih ada di ruangannya, panggillah dia Cheonsa-ya.” Jawab Gui Xian, ia lama memperhatikan Cheonsa yang nampak anggun dalam balutan dress berwarna jingga selutut.

“Arraseo oppa, gomawo.”

Setelah itu Cheonsa menuju ruangan tempat Kyuhyun dirias, ia memang sempat melihatnya. Cheonsa membuka pintu besar yang menjadi penghubung antara dirinya dengan ruang rias itu. Matanya menangkap sosok Kyuhyun yang terduduk di sofa dengan kedua tangan menumpu dagunya.

“Oppa mengapa masih di sini?”

Kyuhyun memalingkan wajahnya, ia tersenyum pada Cheonsa, “Kemarilah.” Ajaknya. Dan setelah Cheonsa duduk di sebelahnya, tanpa di duga Kyuhyun langsung memeluk erat Cheonsa. “Aku gugup…tolong biarkan seperti ini dulu.” Pinta Kyuhyun lirih, ia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Cheonsa , aroma tubuh vanilla khas Cheonsa merasuki indra penciuman Kyuhyun yang membuat dirinya dapat mengurangi rasa gugupnya sedikit demi sedikit.

Cheonsa yang awalnya kaget mulai dapat mengontrol dirinya. Meskipun tubuhnya sedikit menegang, namun ia berusaha untuk membantu Kyuhyun mengurangi rasa gugupnya, di usapnya punggung Kyuhyun dengan lembut.

“Ahra eonni yang menikah, mengapa oppa yang gugup?” Canda Cheonsa.

Kyuhyun mendengus kecil, dilepaskannya pelukannya lalu mendorong tubuh Cheonsa perlahan hingga mereka bertatap muka. Ia menilik manik mata Cheonsa dalam – dalam dan menyadari suatu keanehan pada dirinya.

“Kau sangat cantik.” Puji Kyuhyun yang lantas membuat yeojanya merona. Kyuhyun sedikit menggeser letak poni Cheonsa, lalu mengecup dahi Cheonsa perlahan.

Sadar tak sadar, jantung Kyuhyun berdetak lebih cepat. Sesungguhnya, apa yang ia rasakan?

Dan tanpa sepengetahuan mereka, seorang Lee Sungmin menangkap basah ketika dimana Kyuhyun mulai memeluk Cheonsa. Sungmin mengepalkan tangannya erat- erat, matanya menyipit, memandangi adegan itu dengan pandangan mematikan.

“Kau yang memulai ini semua dan aku pun akan memulai semuanya.”

[TBC]

 

 

 

20 thoughts on “Twins [Chap.6 – Miracle]

  1. uuwaaaaaaaaaa… ming oppa! jangan macam2 ya sama kyu-oppa! ><
    hehehe.. lanjut ya author…^^
    makin kesini makin bikin orang geregetan dan penasaran.. pokoknya ddaebakk!! :D

  2. lagi-lagi gui xian oppa harus cemburu, sungmin oppa kenapa ya???
    waktu baca flashbacknya sedih banget, gak tega orang sebaik gui xian harus patah hati….
    Gui Xian oppa sama aku aja gimana…^^

  3. Sungmin oppa sinis bgt kayaknya, kyu oppa and Gui Xian oppa pasti akan sgt kangen sama noona nya yg manis dan hebat bgt mrk diterima di universitas terbaik dgn jurusan yg mrk inginkan

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s