[Chapter 5B] Social Science

ImageTeaser | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5A

 

” SOCIAL SCIENCE – CHAPTER 5B “

–by Burninganchovy

 

DISCLAIMER

All casts are belong to God, their families, and their entertainments. But the story is 100% MINE. So, if you wanna take this FF, don’t forget to write full-credit. Sankyu ^^

AUTHOR’s NOTE

Annyeonghaseyo FKI-ers semua!! Lama nggak ngepost disini, dan akhirnya kali ini bisa ngepost lagi. Saya membawa FF Social Science Chapter 5B. Di chapter ini, saya fokusin ke dua tokoh utama, Jiyoung sama Minhyuk. Dan alhasil saya senyam-senyum sendiri nggak tau kenapa. Mmm.. berhubung udah lama banget nggak nulis FF, kalo ada typo atau pemilihan kata-kata yang kurang pas atau kalimat yang agak-agak nggak nyambung mohon dimaklumi ya^^ abis saya juga masih amatiran, heheh. Oke deh, entar kebanyakan bacot lagi jadinya. Happy reading ^^ Ah iya, buat saran/kritik akan selalu saya terima kok ^^ Enjoy!! :)

Recommended Song(s) to Listen:

  • IU – Every End of The Day
  • Juniel ft. Yonghwa – Babo
  • KARA – Date (My Boy)

***

[ CHAPTER 5B ]

Sejak tiba di rumah, Jiyoung disibukkan dengan satu hal. Semua pakaian yang ada di lemari telah dikeluarkan olehnya. Bahkan sekarang, tempat tidurnya telah dipenuhi oleh beberapa pakaian yang tengah ia padu-padankan. Ya, kini Jiyoung sedang sibuk memilih baju apa yang harus dipakainya saat bepergian bersama Minhyuk nanti.

Sesekali, Jiyoung melirikkan matanya ke arah jam dinding. Aigooo.. Hei Waktu, kenapa kau harus berjalan dengan begitu cepat? Aku bahkan belum tahu harus memakai baju apa~, protes Jiyoung di dalam benaknya—kepada ‘waktu’ yang (menurutnya) bergulir terlalu cepat sehingga membuatnya semakin panik, juga gelisah.

Di tengah kesibukan Jiyoung memilih baju saat itu, tiba-tiba seseorang menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Dialah kakak pertama Jiyoung, Kang Hyesun. Sambil berdecak heran, Hyesun terus melangkahkan kaki sambil memperhatikan baik-baik keadaan kamar adiknya. “Apa-apaan ini? Sedang ada fashion show-kah di kamarmu sekarang? Eo?” sindir Hyesun, tanpa menghilangkan ekspresi tak percayanya, saat melihat kondisi kamar Jiyoung yang ‘mengenaskan’. Berantakan bukan main. Bahkan lebih berantakan dari kapal pecah!

Jiyoung, yang baru menyadari kehadiran kakaknya, langsung membalikkan badan dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar—mengisyaratkan bahwa Hyesun dilarang keras untuk berada di kamarnya saat ini. “Eonni! Jangan masuk di saat genting seperti ini!” ujar Jiyoung, membuat Hyesun mendelik ke arahnya sinis.

          “Aish, anak kecil ini.. Yaa~! Aku kesini hanya ingin memberi tahu kalau temanmu sudah menunggu di luar! Hampir setengah jam! Ck…” balas Hyesun, sambil mengacak-acak rambut Jiyoung.

            Jiyoung menggigit bagian bawah bibirnya, “Te-Teman? Nugu? Sulli?”

      “Anni~” bantah Hyesun cepat, sambil menggelengkan kepalanya. “Namja. Mungkinkah dia… namjachingu-mu, Nona Kang?” lanjut Hyesun, sambil memberi penekanan khusus saat mengucapkan kata ‘namja’ serta ‘namjachingu’.

            Namja? Siapa? Ju-Jung Jinyoung? Aish, pabo, tidak mungkin! Bukankah dia sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu setelah mengantarku pulang? Mmm… jangan-jangan… Kang Minhyuk?! Tapi… Bukankah dia menyuruhku untuk menemuinya di Taman Duryu?

            “Yaa~ malah melamun! Ayo, cepat temui temanmu dan berikan penjelasan pada Appa”

            “Eeeh?! Appa?”

          “Eo!” ucap Hyesun, dengan kedua bola matanya yang kini membesar. “Appa, Eomma, sekarang semuanya tengah berada di ruang tamu, bersama dengan teman lelakimu itu!”

           Jiyoung langsung menjitak pelan kepalanya sendiri. Aish! Siapa sih namja yang dimaksud Hyesun-eonni? Kenapa dia begitu berani datang ke rumah? Bahkan… sampai bertemu dengan Appa, Eomma, dan… semua anggota keluargaku. Aigoo… apa yang harus kujelaskan pada Appa nanti~

       “Eonni” panggil Jiyoung, saat Hyesun akan meninggalkannya sendirian di kamar. Hyesun menolehkan kepalanya, seolah mengisyaratkan sebuah balasan—‘Apa?’.  “Ba-Bantu aku memilih baju untuk bepergian nanti…”lanjut Jiyoung dengan suara aegyo-nya, membuat Hyesun gemas dan mau-tak-mau menuruti permintaan adiknya itu.

 

Lima belas menit kemudian, Jiyoung keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ruang tamu. Ia berjalan di belakang Hyesun, saking takut dengan seluruh anggota keluarganya—yang nampak sudah begitu siap untuk menginterogasinya terkait dengan kehadiran seorang namja yang sudah satu jam menunggunya di ruang tamu saat ini. Hyesun, yang merasa sangat tidak nyaman karena Jiyoung terus menarik-narik bagian belakang bajunya, dengan cepat duduk di samping Eomma—meninggalkan Jiyoung dengan segala rasa takutnya. Jiyoung terpaku dalam posisi berdiri, lengkap dengan kedua telapak tangan sebagai penutup wajahnya.

            “Kang Jiyoung” panggil Appa, dengan suara yang terdengar begitu tegas.

           Jiyoung memberi celah diantara jari-jari yang kini tengah menutupi wajahnya. Ia mengintip ekspresi wajah Appa melalui celah-celah kecil itu. Namun… tanpa sengaja, mata Jiyoung berhasil menangkap sosok namja yang dimaksud oleh Hyesun—namja yang sudah lama menungguinya. Omo… Kang Minhyuk?!, tanya Jiyoung tak percaya. Refleks, Jiyoung melepaskan kedua telapak tangan yang sempat dijadikannya sebagai ‘alat-penutup-wajah’. “Minhyuk?”

       Sementara Minhyuk, yang masih berada pada posisi duduk, hanya mampu membalas tatapan Jiyoung dengan sebuah senyuman—senyuman terpaksa. Melihat kecanggungan di antara Jiyoung dan Minhyuk, Appa Jiyoung beberapa kali berdeham. “Kenapa masih berdiri disitu? Temanmu sudah menunggu sejak satu jam yang lalu” ucap Appa, yang kini berdiri sambil merangkul pundak Jiyoung.

            “Appa…”

         “Jangan pulang lebih dari jam delapan malam atau kau tidak akan jajan selama setahun” potong Appa, saat Jiyoung baru akan menjelaskan hubungannya dengan Minhyuk.

          Jiyoung tersenyum geli mendengar ultimatum yang baru saja keluar dari mulut Appa-nya. “Ara yo…” balas Jiyoung dengan nada manja kepada Appa.

        Minhyuk beranjak dari posisi duduknya lalu mengikuti Jiyoung yang sudah terlebih dulu berjalan keluar. Dengan sopan, Minhyuk berpamitan kepada seluruh anggota keluarga Jiyoung. Sikap sopan Minhyuk ini jelas memberikan kesan tersendiri kepada Appa, juga Eomma Jiyoung.

 

“Eh?! Kau membawa motor?” tanya Jiyoung, saat melihat sebuah motor besar berdiri tegak di depan rumahnya.

         Minhyuk, masih dengan sikap dinginnya, hanya mengangguk sambil memberikan helm kepada Jiyoung. “Aku meminjamnya dari Jungshin”

            Jiyoung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ah iya, kenapa kau datang ke rumahku? Bukankah kita sepakat untuk bertemu di Taman Duryu?” tanya Jiyoung.

            Minhyuk terdiam sebentar, lalu menatap lurus ke arah Jiyoung.

            “W-Wae yo? Ke-Kenapa kau melihatku seperti itu?”

          “Firasatku memang tak pernah salah. Kalau kita tetap sepakat untuk bertemu di Taman Duryu… aku tak yakin kau akan datang tepat waktu. Terbukti, kan? Aku bahkan menunggumu disini selama satu jam. Apa jadinya kalau kita masih sepakat untuk bertemu di Taman Duryu? Berapa lama lagi waktu yang kubutuhkan untuk menunggumu, huh? Dua jam? Tiga jam?” jelas Minhyuk, straight-forward, langsung kepada topik pembicaraan—menjawab pertanyaan Jiyoung tanpa banyak basa-basi.

            Jiyoung terdiam dan tertunduk malu. “Miaan~” ucapnya pelan.

            “Sudahlah, ayo naik”

________________________________________________________________________________________

Jiyoung dan Minhyuk melewati perjalanan yang cukup panjang untuk pergi ke sebuah taman bermain yang direkomendasikan oleh Jiyoung. Dalam perjalanan, kecanggungan diantara mereka berdua semakin terlihat jelas. Keduanya bahkan masih terdiam—kalaupun harus berbicara, mereka hanya berbicara seperlunya saja.

            Sebenarnya aku ingin mengajaknya bicara. Situasi seperti ini benar-benar tak nyaman. Tapi… bagaimana aku bisa mengajaknya bicara sementara dia sedang memfokuskan perhatiannya kepada jalanan? Dan… yaa~ Lihat namja ini, dia bahkan tak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik! Yaa~ Kang Minhyuk, kau tahu, kau mengendarai motor persis seperti pencuri yang tengah dikejar-kejar oleh polisi! Apa kau tak peduli bagaimana aku sudah ketakutan dibelakangmu, hah?!, ujar Jiyoung di dalam hati, sambil meratuki Minhyuk yang masih mengendarai motornya dengan ugal-ugalan.

         Sebenarnya Minhyuk memiliki pemikiran lain. Ada alasan di balik gaya ugal-ugalannya mengendarai motor saat itu. Ia masih terus teringat pesan Appa Jiyoung yang menyuruh Jiyoung untuk pulang paling lambat jam delapan malam. Ia juga terus memikirkan bagaimana caranya membagi waktu yang masih tersisa ini untuk membuat pikiran Jiyoung lebih segar sehingga Jiyoung bisa lebih bersemangat menempuh ujian pertukaran program studi yang akan dilaksanakan pada esok hari. Dan… yang terakhir, Minhyuk masih terus memikirkan bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Jiyoung mengenai omongan Jungshin yang ngelantur itu.

 

Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Minhyuk mengerem motornya secara mendadak, membuat badan Jiyoung terhempas ke depan dan membentur helm yang dikenakan oleh Minhyuk. “Aigoo!” teriak Jiyoung.

            “Ayo, turun” ucap Minhyuk.

       “Appayo…” rintih Jiyoung sambil memegang kepalanya yang baru saja terbentur dengan helm Minhyuk. Walaupun ia juga mengenakan helm, benturan keras akibat pengereman mendadak itu tetap saja membuat Jiyoung pusing. Jiyoung pun turun dari motor besar itu, lalu mengikuti Minhyuk yang telah berjalan lebih dulu di depannya.

            “Aaaah, sudah lama aku tidak kesini!” seru Jiyoung, menghampiri Minhyuk yang ada di depannya. Raut wajah Jiyoung kini berubah 180 derajat dari beberapa detik yang lalu, saat ia masih merintih kesakitan. Minhyuk menatap heran ekspresi bahagia yang dipamerkan Jiyoung. “Minhyuk-ah, kau juga, kan? Kau juga pasti sudah lama tidak kesini, kan?” Jiyoung menoleh, lalu bertanya kepada Minhyuk.

         Minhyuk menundukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya. “Aku bahkan belum pernah kesini,” ujarnya, sambil melirik ke arah Jiyoung.

        “Jjinja yo? Ah maksudmu… kau belum pernah kesini, tapi kau sudah pernah pergi ke taman bermain lain, kan?” balas Jiyoung, tak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Minhyuk.

            Minhyuk hanya menggeleng pelan.

            “Jadi, sejak kecil kau belum pernah mengunjungi taman bermain?”

            Lagi, Minhyuk hanya menggelengkan kepalanya pelan.

            “Jjinja yo? Sekalipun? Tak pernah?”

            Untuk kali ini Minhyuk tak menjawab. Ia menghela napas, lalu kembali menundukkan kepalanya. Ada sedikit rasa malu bersarang di hatinya saat ini. Hm..yah, bukankah begitu memalukan menjadi aku—yang sejak kecil hanya terus berdiam diri di rumah sementara anak lain sibuk pergi berekreasi bersama kedua orangtuanya ke beberapa tempat hiburan yang menyenangkan?. Tak lama kemudian, Minhyuk pun mengangkat kepala dan mendapati Jiyoung tengah berdiri manis di hadapannya.

         Jiyoung mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Minhyuk mengangkat alis matanya sebelah, seolah memberi isyarat kepada Jiyoung untuk segera menjelaskan apa yang tengah dilakukannya—apa maksud dari uluran tangannya saat ini.

        “Ayo,” ucap Jiyoung, “Akan kutunjukkan betapa menyenangkannya bermain disini, Minhyuk-sonsaengnim” lanjut Jiyoung, dengan nada mengejek.

             Minhyuk terpaku memperhatikan Jiyoung di hadapannya. Kedua telapak tangannya, yang semula masih bersembunyi di dalam saku celana, perlahan keluar dan mencoba meraih tangan lembut Jiyoung.

           “Ayoo, ppallii!!!” tak sabaran, Jiyoung langsung menarik lengan Minhyuk dan membawanya pergi untuk menjelajahi berbagai jenis permainan yang ada di taman bermain ini.

 

Jiyoung dan Minhyuk mencoba berbagai jenis permainan yang ada di taman bermain itu—mulai dari permainan sederhana seperti melempar anak panah tepat pada sasarannya, sampai permainan menantang seperti roaller-coaster. Jiyoung nampak begitu menikmati waktu-waktu seperti ini. Sejak tadi, yang nampak pada wajahnya hanyalah senyuman lebar, tawa-riang, serta mimik ekspresif yang akan membuat orang lain ikut senang melihatnya.

            “Otte, Minhyuk-ah?” tanya Jiyoung. Matanya berbinar-binar. Ia terlalu antusias untuk mendengar tanggapan Minhyuk, orang-yang-baru-pertama-kali- pergi-ke-taman bermain.

            “Otte?” Minhyuk malah balik bertanya.

            “Bagaimana kesanmu setelah mencoba semua permainan disini?”

            Minhyuk tersenyum mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut Jiyoung barusan. “Tidak terlalu buruk…” jawab Minhyuk, sambil mengarahkan lovely gaze miliknya kepada Jiyoung. “Daebak

             “Waah, kau bahkan tersenyum, Kang Minhyuk!” balas Jiyoung, yang puas mendengar jawaban Minhyuk barusan. Tak hanya puas dengan jawaban—senyuman yang baru saja terpancar dari wajah Minhyuk-lah sebenarnya yang membuat Jiyoung kegirangan. Senyuman itu.

            “Memang kenapa?”

        “Suatu keajaiban!” seru Jiyoung, bersemangat. “Aku jarang sekali melihatmu tersenyum, jadi… melihatmu tersenyum adalah suatu keajaiban”

            Minhyuk tertawa singkat saat mendengar ucapan Jiyoung barusan. Kau benar-benar polos, Kang Jiyoung. Sebenarnya, ia bahkan tak tahu apa yang membuatnya bisa terus tersenyum—bahkan tertawa—seperti ini. Sebenarnya, semua wahana permainan yang ada di taman bermain ini bahkan tak lebih seru dari semua game yang ada pada PSP-nya. Yeoja ini… Kurasa dia yang membuatku seperti ini, ujar Minhyuk dalam hati, saat memandang lurus ke arah Jiyoung yang masih terlihat begitu ceria. Ada rasa nyaman tersendiri saat melihat sejuta ekspresi pada wajah Jiyoung. Saat Jiyoung tersenyum ke arahnya, saat Jiyoung mengangguk-anggukkan kepalanya disertai dengan kedua bola matanya yang berbinar-binar… Kyeowo, gumam Minhyuk, yang diam-diam mulai mengagumi sosok gadis lugu dan ceria di sampingnya—Kang Jiyoung.

            “Ah,” tiba-tiba Minhyuk ingin mengucapkan sesuatu. Ia teringat akan tujuan utamanya membawa Jiyoung pergi hari ini: menjelaskan semua ucapan Jungshin yang bisa saja membuat Jiyoung salah paham padanya. “Kau tunggu disini, aku akan membeli minuman sebentar” lanjut Minhyuk.

            Jiyoung mengangguk setuju. Dengan cepat, Minhyuk langsung berlari ke sebuah food court yang tak begitu jauh dari taman bermain itu. Ia memesankan dua cup orange juice, minuman favoritnya, dan juga satu porsi kentang goreng untuk dimakannya nanti bersama Jiyoung.

          “Ini” ucap Minhyuk, sambil menyodorkan orange juice kehadapan Jiyoung. Jiyoung meraih minuman itu dan tersenyum. Minhyuk pun kini duduk tepat di samping Jiyoung, pada sebuah bangku kayu yang ada pada taman bermain itu.

            Jiyoung nampak begitu menikmati orange juice dan kentang goreng yang baru saja dibelikan oleh Minhyuk. Berulang kali ia mengucapkan ‘Mashita!’ sementara Minhyuk masih terus memandanginya—mencoba mencari waktu yang tepat untuk mengajak Jiyoung bicara.

            “Kau… K-Kemarin, saat kau menunggu dirumahku…”

            “Ng… Wae yo?”

            “K-Kemarin… Jungshin mengatakan sesuatu padamu, kan?”

            Jiyoung mengernyitkan dahinya. Ia mengerucutkan bibirnya, sementara mulutnya masih dipenuhi kentang goreng. Bola matanya berputar-putar, mencoba mengingat ucapan Jungshin yang dimaksud Minhyuk. “Ah, itu…” ucap Jiyoung pelan. Seketika, saat itu juga, Jiyoung dapat merasakan debaran jantungnya mulai tak wajar. Jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya. Ucapan itu, ucapan Jungshin yang menyatakan kalau aku benar-benar mirip dengan Bang Minah. Aish, tiap kali teringat akan ucapan itu selalu begini. Aku jadi selalu berpikir akan ada saat dimana Minhyuk mulai menyukaiku, padahal itu sama sekali tak mungkin terjadi. Aish… Apa yang kau pikirkan, Kang Jiyoung?!!

            “Ya, ‘itu’,” balas Minhyuk cepat. “Maaf kalau ucapan Jungshin terdengar aneh dan ngelantur. Mungkin saat itu… dia tak tahu harus berbicara apalagi denganmu. Dan… yah, Jungshin memang seperti itu. Mungkin, dia akan mengatakan hal yang sama pada setiap perempuan yang ia anggap dekat denganku. Padahal kau tahu kita… yaah, kita tak sedekat itu. Hahaha… Jungshin memang seperti itu” jelas Minhyuk panjang-lebar.

            Jiyoung terdiam sebentar. Ia menyeruput orange juice yang tengah dipeganginya. Ah…begitu. Hahah. Benar, kan? Tak mungkin. Lagipula Jungshin hanya bilang kalau aku mirip dengan Bang Minah. Itu jelas-jelas tak berarti Minhyuk menyukaiku. Atau benar, seperti yang dikatakan Minhyuk barusan, Jungshin-bodoh itu hanya tak tahu harus berbicara apa lagi denganku saat itu.

            “Jungshin, mungkin maksudnya baik, dia hanya menginginkanku untuk segera melupakan Minah. Dia memang aneh, dan aku harap kau memaklumi sikapnya yang aneh itu” tambah Minhyuk lagi. “Aku… Aku hanya takut kau tak suka dengan ucapan Jungshin yang seolah-olah menyamakanmu dengan Mi—“

            “Tenang saja, Minhyuk-ah. Mungkin kau berpikir aku akan salah paham dengan ucapan Jungshin. Tapi… tenang saja, a-aku sama sekali tidak salah paham padamu. Dan, aku sama sekali tak peduli sepupumu itu menyamakanku dengan siapapun, hehehe” potong Jiyoung cepat. “Ng… La-Lagipula kau kan tahu, pangeranku hanyalah Jung Jinyoung, hahaha” lanjutnya, berbohong pada Minhyuk dan juga dirinya sendiri.

            Minhyuk terdiam saat Jiyoung mulai menyebut nama Jung Jinyoung. Perasaannya mulai tak nyaman, entah apa yang dirasakannya saat ini. Hanya… benar-benar tak nyaman. Argh, bagaimana bisa aku lupa kalau yeoja ini sangat menyukai Jung Jinyoung?! Lalu… sebenarnya, apa yang harus kau takutkan, Minhyuk? Kau takut dia salah paham untuk apa, Kang Minhyuk? Kau… kalau begini, kau tak ada bedanya dengan Jungshin. Bodoh… Aneh.

            “Hey Minhyuk-ah, disana ada photobox!” seru Jiyoung, seakan mengalihkan topik pembicaraan yang telah berhasil membuat mereka berdua diselimuti kecanggungan lagi.

            “Lalu?” tanya Minhyuk tak mengerti.

            “Aku ingin berfoto” balas Jiyoung, sambil tersenyum. Ia beranjak dari posisi duduknya, lalu berlari kecil menuju tempat photobox itu. “Sudah lama sekali aku dan Sulli tak berfoto disini” serunya, sambil membalikkan badan dan tetap berlari kecil.

            Minhyuk pun beranjak dan mulai menyusul Jiyoung.

          Mungkin aku sudah kehilangan akal sehatku sekarang. Atau mungkin aku sudah tertular Jungshin untuk memiliki kepribadian aneh. Atau bahkan… mungkin aku hanya terbawa suasana. Tapi… yeoja ini… tak ada yang bisa kuucapkan tentangnya selain satu kata ini.

          Nyaman.

 _______________________________________________________________________________________

“Hahahahaha!!! Lucu sekali foto ini!! Lihat ekspresimu Minhyuk!”

          Setelah berfoto bersama, sambil berjalan menuju tempat parkir, Jiyoung terus memandangi foto-foto berukuran kecil di kedua tangannya. Sesekali ia tersenyum geli sambil menyenggol lengan Minhyuk. Ada banyak foto dengan empat gaya berbeda. Foto pertama, saat Jiyoung masih sendiri. Kedua, saat Jiyoung menyadari Minhyuk tengah menungguinya diluar tempat photobox itu. Saat itu Jiyoung langsung memaksa Minhyuk untuk mengambil foto bersamanya. Dan dua gaya lain menampilkan wajah Jiyoung yang ceria bersama Minhyuk yang hanya memamerkan senyum tipisnya.

         Minhyuk melirik sebentar ke arah Jiyoung, “Itu semua karena kau yang memaksaku masuk dan ikut berfoto denganmu”

        “Tak apa. Foto ini terlihat natural. Sangat-Kang Minhyuk-sekali, hahaha” balas Jiyoung, terkekeh. “Ini, untukmu. Kau bisa menyimpannya. Siapa tahu kita akan menjadi semakin sibuk setelah bertukar program studi, lalu ketika kau mulai merindukan aku, kau bisa melihat foto ini. Beruntung, aku selalu tampak cantik dan imut, apalagi di foto ini ^^”

            “Shireo. Simpan saja untukmu semua”

            “Ya, terima saja. Simpan saja”

            “Shireo

            “YAA!! Simpan saja, Tuan Kang!”

            “Harus berapa kali aku bilang, huh? Aku-tidak-mau, Nona Kang!”

            “Yaa~ Simpan saja, jebal~

            “Ayo pulang”

 _______________________________________________________________________________________

Beberapa jam kemudian, baik Jiyoung ataupun Minhyuk, keduanya sudah tiba di rumahnya masing-masing. Begitu sampai rumah, Jiyoung langsung masuk ke dalam kamar. Sebelum mengunci diri di kamar, ia menempelkan sebuah kertas di pintunya. ‘Sedang belajar. Tidak bersedia untuk di-interogasi malam ini ^^’ –Begitulah tulisan yang tertera pada selembar kertas putih yang kini menempel di pintu kamarnya.

            “Johta. Dengan ini, baik Appa, Eomma, atau siapapun akan menyimpan semua pertanyaan tentang Kang Minhyuk yah… paling tidak untuk malam ini saja” gumam Jiyoung, sambil berjalan menuju tempat tidurnya. Dilepaskannya tas slempang yang sudah berjam-jam menempel di badannya. Lalu, ia merogoh tasnya, mencari sesuatu. “Nah, akan lebih baik kalau foto ini dipajang disini” ujarnya kemudian, sambil melengkungkan sebuah senyuman. Jiyoung memajang fotonya bersama Minhyuk tepat di samping fotonya bersama Sulli—di dompetnya. “Baiklah, saatnya untuk membersihkan badan lalu belajar untuk ujian besok. Fighting, Kang Jiyoung! Fighting, Kang Minhyuk!” ujarnya terkekeh, sembari beranjak menuju kamar mandi.

 

Di waktu yang bersamaan, Minhyuk juga tengah mengunci dirinya di kamar. Ia telah bersiap untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa menghadapi ujian pertukaran program studi besok. Saat ini, di meja belajarnya, terdapat setumpuk buku pelajaran Sosial yang sebagian dipinjamnya dari Jungshin. Namun, walaupun tangannya terus menari-nari di atas helaian kertas putih untuk mencatat rangkuman beberapa materi pelajaran Sosial yang tengah dipelajarinya, dan… walaupun bola matanya terus bergerak membaca setiap kata yang ada pada buku-buku Sosial itu, pikirannya terus memutar ulang semua kejadian yang dialaminya bersama Jiyoung beberapa jam yang lalu. Saat mereka bersama-sama menaiki roaller coaster, melihat Jiyoung berteriak lepas sementara dirinya sendiri hanya terdiam kaku, lalu saat mereka mencoba melemparkan anak panah supaya mengenai sasaran namun selalu gagal, dan saat mereka mengambil foto bersama. Foto itu, foto mereka berdua itu kini terpajang manis di meja belajar Minhyuk. Foto itu bersender pada sebuah tempat alat tulis. Minhyuk tak bisa berbohong, foto itu telah mengganggu konsentrasinya belajar.

Imagekira-kira begini foto mereka berdua ^^

Bip! Bunyi singkat yang diiringi oleh getaran keras itu berasal dari ponsel Minhyuk, yang kini berada di atas kasur tempat tidurnya. Minhyuk beranjak dan mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat datang dari sebuah nomor yang belum tersimpan di kontak handphone-nya. Namun, nomor itu nampak tak asing baginya.

 

Terima kasih untuk hari ini ^^

Hwaiting!!

–Kang Jiyoung

 

Minhyuk tertawa pelan, lalu mulai berjalan mondar-mandir sambil memikirkan balasan untuk pesan yang diterimanya itu. Berulang kali Minhyuk mencoba mengetikkan pesan balasan, lalu menghapusnya kembali.

 

Baiklah. Kalau kau masih merasa bingung dengan beberapa materi pelajaran,  tanyakan saja padaku.

–Minhyuk

 

Minhyuk kembali duduk di meja belajarnya setelah mengirimkan pesan balasan kepada Jiyoung. Sebelum kembali berkutat dengan pelajaran-pelajaran Sosial, Minhyuk melirik foto berukuran 4×6 yang masih bersender pada sebuah tempat alat tulis yang ada pada meja belajarnya. Ia tersenyum penuh makna sambil tetap menatap foto itu. “Sepertinya aku sudah mulai menyukai yeoja ini” ucapnya pelan. “Tapi sepertinya, kali ini, yeoja ini tak akan pernah melihatku. Hahah, dia hanya melihat Jung Jinyoung di matanya. Argh…sial, perasaan ini datang lagi. Hm… mungkin aku sudah terkena karma, karena tak berlaku baik pada orang yang benar-benar menyayangiku dulu” desahnya, sambil membalikkan foto yang hanya akan membuatnya kehilangan konsentrasi belajar.

To be continued…

________________________________________________________________________________________

Otte? Semakin jelek-kah, atau semakin gak jelas-kah FF ini? Oh percayalah siapapun-kamu-yang-bakal-baca-FF-ini, sebenarnya saya udah memikirkan kelanjutan cerita ini sampai akhir. *terus kenapa coba wkwkw*. Dan percayalah, nulis ini emang bener-bener pake hati walaupun dipengaruhi oleh banyak adegan yang lumrah kita liat di drama Korea >_< Saking pake hati, malah saya sampe hampir ganti bias jadi Minhyuk (LOL, yep, saya jadi jatuh cinta sama Minhyuk gara2 nulis FF ini). Anyway.. Semoga suka yaaa :) Terimakaseeh!

16 thoughts on “[Chapter 5B] Social Science

  1. yey i’m the first :)

    lama banget sih thor ngepost ceritanya, but so far i think is not bad ff :)

    chap selanjutnya jangan lama” ya ngepost nya :)

    • waa terimakasih udah menjadi first reader plus first comment-er di FF ini^^
      iya nih, miaa~n kelamaan diupdate-nya, soalnya lg sibuk dan koneksi internet lg gak memadai hehe :D tp untuk selanjutnya diusahain cepet deh :)
      sipp, gomawo udh baca & menjadi good reader ya chingu ;)) ~~<3

  2. Sejauh mata memandang tidak ada typo,congrats!
    Kangen deh sama ff ini apalagi moment jiyoung-minhyuk.part ini menjelaskan sedikit tentang pandangan minhyuk ke jiyoung,it’s nice!!
    Semangat ya buat lanjutin ff ini sampe habis! I’m waiting

    • waaa, jinjayo?? hehehe untunglah ga ada typo :))
      sempet takut, panik, gelisah(?), abis udah agak canggung nulis krna udah lama gak nulis hehe :D
      iya aku juga kangen deh sama moment jiyoung-minhyuk di real life, karena itu inspirasi plus semangat tersendiri buat aku ngelanjutin FF ini. tp berhubung krna mreka jarang ada moment, aku buat moment sendiri aja deh mereka di FF, kkkk~ sipp, hwaiting! bakalan dilanjutin sampe tamat kok :)
      gomawo yaaah udah baca & jadi good reader~~ <3 ^^

  3. Eonnie!!! Critanya makin seru… aduh aduh… Ini Minhyuk udh mulai bingung ma perasaan dy sendiri nih, wkwkwkkw

    Eon, mian ak ngga comment di chap 5A, bacanya sekaligus… aih, pokoknya daebak bgt lah critanya…. Bikin sad ending ya eon… *requestngaco XD

    • Aiih, jeongmal yo? Gomawo udah baca & jd good reader ^^
      Iya nih, Minhyuk sama Jiyoung udah mulai bingung-bingungan.. Kekekek sad ending? Mmm, endingnya Minhyuk sama aku aja gitu ya? *eh apa ini* *author aneh* XDD
      Kita liat aja yak bagaimana endingnya~~ ^^

  4. akhirnyaaa bisa baca juga yg chap Bnya . Hhe
    gereget sama adegan yg di motor . Coba jiyoungnya meluk , bkal jadi gmn yaa suasananya ? Hhi
    ayah jiyoung kayanya suka sm minhyuk yaa.hhe
    update soon …

  5. annyeong author
    maaf ya baru bisa komen sekarang padahal baca chapter udah lama hehe
    waaa chap ini full minhyuk-jiyoung yaaaaaaa
    so sweet..
    tapi kalo inget si jiyoung sukanya sama jinyoung jadi kasian sama minhyuk..
    jadi penasaran entar sebenernya jiyoung sama siapa.. penasaran juga entar dia berhasil masuk science apa gak..
    lanjut terus ya nulisnya.. semangat!! ^^

    • annyeong ^^
      maaf juga baru bales komennya skrg hehe :D
      iya abisan aku lagi kangen moment jiyoung sama minhyuk >.< #eh #curhat
      tetep penasaran yaa, kalo ada waktu pasti aku lanjutin #authormales ehehe
      ne, gomawo udh baca & komen yah ^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s