When You Know How Its Feel [1/2]

 

Tittle: When You Know How Its Feel [1/2]
Main Cast: Baekhyun EXO-K, Krystal F(x)
Supporting Cast: Please, find them by yourself ;)
Genre: Romance, Teenage
Length: Twoshoot
Author: Mizuky^_^
A/N: All use Krystal POV

*** When You Know How Its Feel ***

Aku hanya memandang malas ke arah siswa-siswi yang tengah berlalu lalang di koridor sekolah.
Lima menit lagi, maka “penyiksaan” akan berlangsung. Kau paham maksudku tentang “penyiksaan” itu bukan?
Apalagi kalau bukan guru-guru masuk ke kelas dengan setumpuk bahan ulangan di tangan mereka.
Menyebalkan bukan?
Apa mereka tidak memikirkan bagaimana tersiksanya kami ketika harus melihat deretan soal-soal yang mampu membuat rambut Einstein rontok semua?
Teng.. teng.. teng.. teng..
Oh, so damn it! Monster -guru- itu lalu memasuki kelas dengan langkah yang sepertinya sanggup membuat seekor macan kelaparan tunduk seketika.
.
.
“Krystal! Silahkan maju kedepan untuk mengerjakan soal nomor 5!”
Damn it! Rupanya guru itu menyadari aku yang sedang menguap tadi.
Sial.. Sial.. Sial..
Dengan langkah malas, aku lalu menuju ke depan kelas untuk mengerjakan soal sialan itu.
.
.
Kringgg…
Oh, akhirnya penderitaanku selesai juga. Rasanya kaki ini pegal sekali harus bediri selama dua jam lamanya.
Apa guru itu tidak bisa memberi hukuman yang lebih kreatif lagi selain berdiri dengan salah satu kaki terangkat dan kedua tangan yang menggenggam telinga?
“Sulli, ayo kita ke kantin! Perutku lapar sekali.” keluhku.
“Ya. Mengerjakan soal-soal itu membuat perutku lapar setengah mati.”
“Ajak Victoria, Amber dan Luna, ya?”
Sulli mengangguk.
“Victoria, Amber, Luna! Kajja kita ke kantin!” seru Sulli.
Lalu, mereka bertiga menghampiri kami. Akhirnya, kami berlima pergi ke kantin bersama-sama.
.
.
“Kau itu kapan mau berubah, Krystal-ah?”
haaa~
Victoria kembali memarahiku lagi. Aku hanya memutar kedua bola mataku malas dan menyeruput lemon tea-ku.
“Apa kau tidak bosan dihukum oleh guru-guru terus?”
Eomma, sudahlah. Yang dihukum itu aku, jadi Eomma tidak perlu pusing-pusing memikirkanku.”
Victoria menghela nafasnya. “Tap..”
“Sudahlah, Vic. Kau menasehatinya sama saja kau berbicara dengan orang tuli.”
Seketika aku langsung melayangkan tatapan membunuhku ke arah Luna.
“Ish. Enak saja kau mengataiku seperti itu!” ujarku kesal kepada Luna.
“Lho, memang benar kan? Kami menasehatimu supaya kau berubah dan menjadi lebih baik dari sekarang. Tapi, mana pernah kau mendengarkan kami?”
Ok, sudah cukup ada satu orang yang menasehatiku, dan ditambah seorang lagi?
Oh, come on! This is my life! Ini adalah hidupku, pilihanku. Jadi, aku yang menentukannya sendiri.
“Aish. Sudahlah. Kita sedang makan. Tidak baik mengatakan hal-hal buruk saat makan.” ujar Sulli.
Ah, menyebalkan sekali. Aku paling tidak suka jika ada orang yang mencoba mengatur hidupku, meski itu orangtua atau sahabatku sendiri.
.
.
Pulang sekolah..
Entah kenapa rasanya kali ini berbeda. Kakiku malas untuk melangkah menuju rumah.
Memangnya di rumahku ada siapa? Pembantu? Cih. Mana pernah kedua orangtuaku mau menyisakan waktunya demi anaknya ini.
Yang mereka perlukan hanya uang, uang, uang dan uang. Apa mereka pikir ketika mereka meninggal, uang mereka juga akan ikut mereka bawa ke akhirat?
Cih. Konyol sekali.
Aku melangkahkan kakiku pelan sekali. Teman-temanku yang mungkin sudah tidur di rumah, sedang aku baru sampai di depan gerbang sekolah.
Malas sekali sungguh.
Bip.. Bip
Sepertinya ada sebuah pesan masuk. Segera aku mengeluarkan ponselku dari saku seragamku.

From: Kim ahjussi
Nona, kau ada dimana sekarang? Sudah pukul 4 sore tapi Nona belum pulang. Apa perlu Ahjussi menjemputmu?

Biar bagaimanapun pria paruh baya itu cukup berjasa untuk keluargaku.
Aku tidak ingin mengecewakannya. Segera saja aku mengirimkan pesan balasan kepadanya agar dia tidak perlu khawatir.

To: Kim Ahjussi..
Sebentar, Ahjussi. Aku masih di kelas. Ada beberapa urusan yang harus kujalani. Tunggu sebentar, ya. Eomma dan Appa belum pulang kan?

Pesan itu terkirim.
Aku tersenyum kecut. Mana mungkin kedua orangtuaku pulang awal seperti ini.
Tidak menunggu lama, balasan pun segera terdengar.

From: Kim Ahjussi..
Oh, yasudah kalau begitu. Belum, Nona.

See? Lihat kan?
Mana mungkin kedua orangtuaku pulang cepat? Aku sangsi, walaupun kiamat sedang terjadi, pasti tidak akan membuat kedua orangtuaku itu untuk pulang cepat ke rumah.
Tanpa sadar, aku menghela nafasku sejenak. Air mata perlahan mengucur dari kedua mataku.
Oh, shit! Kenapa aku harus menangisi mereka yang belum tentu mau menangisiku?
Sebaiknya aku pulang sekarang.
.
.

@Jung’s Family House
20.30 malam..

Tok..tok..
Ada yang mengetuk pintu kamarku.
Malas sekali untuk beranjak dari kasur ini hanya untuk membukakan pintu.
“Masuk!” Aku sibuk mendengarkan alunan lagu dari MP3 playerku.
Cklek..
Pintu terbuka. Terlihat sepasang suami istri -yang tak lain dan tak bukan adalah kedua orangtuaku sendiri- yang memasuki kamarku dengan pakaian kerja lengkap mereka.
Sepertinya mereka sehabis pulang dari kantor.
Aku masih saja cuek. Menurutku, melihat ke layar ponsel lebih penting daripada harus melihat wajah kedua orang tuaku -yang entah sejak kapan- kubenci.
Honey, how’s life?” tanya Eommaku sembari membelai ujung kepalaku.
Karena, merasa risih aku lantas menyentakkan tangannya dari kepalaku.
Nothing special.
How about your school, dude?
Oh, come on! Sejak kapan mereka menjadi cerewet seperti itu?
Fine.” jawabku singkat.
Aku masih mendengarkan musik MP3-ku.
“Bisa turun sebentar sayang? Kita akan makan malam bersama. Kau belum makan kan?”
“Hm..”
“Aku menunggumu, Honey.” lalu, Appaku mencium puncak kepalaku.
Aish. Menyebalkan!
Lalu, kulihat mereka berdua pergi dari kamarku.
Baguslah. Aku malas untuk mendengar suara mereka.
.
.
“Ah, akhirnya kau turun juga sayang.”
Aku memutar bola mataku malas.
“Kemari.” ujar Eomma sambil menunjukkan gesture tubuhnya untuk mengajakku supaya bersedia duduk disampingnya.
Aku tersenyum kecut. Apalagi yang bisa kulakukan selain menuruti permintaan mereka?
“Ada apa?” tanyaku malas. Aku hanya makan beberapa suap nasi. Sama sekali tidak ada nafsu makan untukku sekarang ini.
“Ah, kapan ya terakhir kita makan bersama?”
Saat aku umur 5 tahun. Itulah satu-satunya momentum kami saat makan bersama ketika kami dulu hidup serba kekurangan.
Entahlah. Aku justru ingin hidup seperti dulu, serba kekurangan tetapi kami bahagia, selalu kumpul bersama. Daripada hidupku sekarang ini. Berkecukupan, tetapi tidak bahagia.
“Maafkan kami ya sayang kalau kami jarang berkumpul seperti ini.” Aku hanya terdiam saja menanggapi perkataan Eommaku. Aku hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya menghabiskan makanan yang tersedia di hadapanku ini dengan segera supaya bisa terbebas dari obrolan yang menyebalkan ini.
“Ah, apa kau sedang sakit? Kenapa kau tidak lahap memakan makananmu? Apa makanannya tidak enak?” tanya Appaku. Aku hanya menggumam tak jelas.
Tring..
Akhirnya, makananku habis juga. “Eomma, Appa aku permisi dulu. Mau mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai.”
Mana mungkin aku mengerjakan tugas. Ha, suatu keajaiban yang sepertinya tidak mungkin terjadi.
Tanpa menunggu jawaban, aku langsung saja berjalan cepat menuju kamarku.
.
.
Sekolah lagi.. Sekolah lagi..
Memangnya apa sih keuntungan sekolah, selain membuat beban kepada anak muridnya?
Toh, apa yang kita pelajari di sekolah tidak bisa kita terapkan di dunia kerja bukan?
Coba untuk apa kita mengukur volume air di bak mandi? Mengukur bayangan? Menghitung luas samudra? Memangnya apa gunanya dari itu semua?
Kringgg..
Ya, seperti biasa. Penyiksaan akan segera dimulai.
.
.
“Nah, anak-anak kita kedatangan seorang murid baru.” ucap Sangjung Sonsaengnim yang mendapat sorakan riuh rendah dari beberapa siswa.
“Laki-laki atau perempuan, bu?”
“Semoga laki-laki!”
“Semoga perempuan cantik.”
Aku hanya meniup poniku pelan.
Ya, siapapun itu semoga dia bukan orang yang menyebalkan.
“Nah, silahkan masuk.”
Setelah Sangjung Sonsaeng berkata demikian, terlihat seorang namja yang sedang memasuki pintu.
Satu yang kupikirkan saat melihat wajahnya, dia manja dan menyebalkan.
“Nah, ayo perkenalkan dirimu.”
Suara riuh rendah terdengar kembali seiring namja itu menampakkan wajahnya.
Yang kupikirkan tetap sama, dia manja dan menyebalkan.
“Nama saya..” dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Hanya firasatku saja atau memang benar, dia tersenyum kearahku. “Byun Baekhyun. Itulah nama saya.”
Seketika, terdengar sorak sorai dari para siswa perempuan -termasuk teman-temanku-
“Kau bisa duduk di tempat kosong, sebelah Nona Krystal.”
What?! Sebelahku?! Ish..
Plukk..
Aku merasa ada yang mencolek pundakku.
“Psst.. Krystal-ah!” lalu aku menolehkan kepalaku ke belakang -Sulli-
“Kau beruntung bisa duduk berdua dengan namja tampan itu.”
Aku hanya mendengus kesal. “Kau mau bertukar tempat denganku?” tanyaku.
Pemuda itu yang sudah sampai di samping mejaku, melirikku sekilas lalu menempatkan dirinya di sampingku.
Aku hanya mendengus kesal.
Oh, sepertinya aku tidak bisa lagi melakukan kebiasaan-kebiasaanku yang sering kulakukan.
.
.
“Ssul, kajja ke kantin.”
“Ah, maaf, Krystal-ah. Aku belum menyalin PR fisika. Memangnya kau sudah?”
“Aish. Buat apa?! Victoria-ah, kajja ke kantin.” ajakku kepada Victoria. Kuharap aku bisa mendapat jawaban positif kali ini.
“Ah, maaf, Krys. Aku belum mengerjakan PR fisika.”
Aku mendengus kesal.
“Luna-ya..” tanyaku sembari menatap penuh harap kepadanya.
Luna tersenyum kecut. “Maaf.”
-lagi-lagi- aku tersenyum kecut.
Lalu, mataku beralih ke Amber. Dan jawaban yang harus kuterima tetap sama, penolakan.
Ah, terpaksa aku harus pergi ke kantin sendiri -tanpa ketiga temanku-
Sekilas aku merasa murid baru itu tengah memperhatikanku. Aku bersikap acuh.
Untuk apa aku memikirkannya?
.
.
Entah kenapa, rasa laparku hilang begitu saja.
Aku tidak nafsu makan tanpa kehadiran ketiga temanku.
Ah, mereka benar-benar vitamin untukku.
Aku tidak jadi melangkahkan kakikku ke kantin, sebaliknya aku berjalan menuju Ruang Kesenian.
“Eh, Ice Princess tuh.”
“Ckck.. Lihat lagaknya! Aku tahu dia anak direktur utama perusahaan terkenal Watahisha, tapi dia sombong sekali.”
“Aku tidak suka dengan sikapnya.”
“Aku jadi merasa kasihan kepada Victoria, Amber, Luna dan Sulli. Pasti mereka tertekan berteman dengan patung itu.”
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat ketika mendengar ejekan mereka.
Ugh, menyebalkan sekali.
Tanpa mengiraukan sedikit pun cacian mereka, aku terus melangkahkan kakiku menuju Ruang Kesenian.
.
.
Menggambar..
Entah kenapa, bisa membuatku tenang. Menggambar merupakan penggambaran ekspresi diriku.
Seluruh perasaanku kutuangkan ke dalam sebuah lembaran putih yang bernama kanvas.
Coretan demi coretan kuas kutorehkan di dalam kanvas. Sesekali aku memejamkan mata untuk merasakan perasaanku.
“Kau pintar juga dalam melukis.”
Aku tersentak. Segera saja aku menolehkan kepalaku ke belakang.
Kulihat sesosok namja yang tengah berjalan mendatangiku.
Baekhyun? Untuk apa namja itu kesini?
“Aku tidak tahu kalau gadis patung sepertimu bisa membuat lukisan yang bagus seperti ini.”
Aku tersenyum kecut.
Apa maksudnya? Tsk. Menyebalkan.
Aku mengacuhkannya, kembali menorehkan tinta-tinta ke atas kanvas.
“Kau bisu?”
Cukup! Aku lalu meletakkan kuas dan menatap tajam ke arahnya.
Dia menatapku dengan pandangan heran.
“Kenapa?”
Aku hanya diam saja dan masih menatapnya.
Uh, dia itu sok tampan atau bagaimana?  Dia saja tak lebih tampan dari Thomas Alfa Edison.
“Kenapa kau memandangiku seperti itu, eh? Aku tahu aku tampan, tapi kau tidak perlu memandangiku seperti itu.” Oh, sungguh aku ingin muntah saat itu.
“Tidak apa-apa.” ujarku kemudian. Aku kemudian lebih memilih menyelesaikan lukisanku yang hampir jadi.
“Kau benar-benar patung, ya?”
Aku lalu menghetikkan sebentar kegiatan menggambarku. Lalu, kulanjutkan lagi setelah berhasil meredam emosi yang -sepertinya- mulai bergejolak.
“Bisakah kau menutup mulutmu sebentar?” ujarku. Jujur saja aku tidak betah mendengar hinaan yang keluar dari mulutnya.
“Ehm.. Bagaimana, ya? Aku baru bisa menutup mulutku kalau kau bersedia memberikan lukisan itu kepadaku.” ujarnya sembari menunjuk ke arah lukisanku.
Aku lalu menatapnya tajam. “Sayang sekali tapi lukisan ini tidak akan kuberikan kepada siapapun.”
Dia tersenyum. “Tak apa, tapi pasti suatu hari kau akan memberikan lukisan itu padaku.” Lalu, pemuda menyebalkan itu pergi dari ruangan ini.
“Apa-apaan dia?! Menyebalkan!” gumamku, lalu melanjutkan kembali kegiatanku yang tertunda tadi.
.
.
“Siapa yang tidak mengerjakan PR, maju ke depan!”
Aku mendengus. “Lalu, bagaimana denganmu, Soojung?”
Dengan malasnya aku mengeluarkan buku tugas Fisikaku. Perlahan kubuka buku itu di halaman yang terdapat soal-soal PR.
Paling aku berdiri di depan kelas. Pikirku.
Apa? Bagaimana mungkin soal-soal ini sudah terjawab dengan sendirinya?
“Ehm, Soojung-ssi..” Aku tidak menjawab. Hanya bisa terdiam.
Sekilas, aku memergoki murid baru itu tersenyum -senyuman yang tidak kutahu artinya- kepadaku.
“Bagus! Kau sudah mengerjakan tugas. Ada yang tidak mengerjakan tugas?!” ujarnya setelah melihat ke arah buku tugasku.
Aku tetap cuek saja. Sejujurnya, aku lebih suka kalau dihukum -dan pasti dihukum berdiri di depan kelas-
Guru monster itu lalu mulai menerangkan pelajaran.
.
.
Kringgg..
Aku masih menyelesaikan sketsa gambarku.
“Hei, Krystal-ah! Kau tidak istirahat?” tanya Amber.
“Sebentar, Amber. Aku mau menyelesaikan sketsa ini.”
Kudengar Amber mendengus. “Iya, kalau kau lapar, temui kami di kantin.” seru Luna.
Aku mengangguk, dengan pandangan yang tetap terarah ke sketsa gambarku.
“Kau tidak lapar?” kudengar sebuah suara yang berasal dari sampingku.
Aish, namja sialan itu lagi.
“Menggambar sketsa?”
Tidak kujawab.
“Ternyata benar ya kalau kau gadis patung.”
Aku mengacuhkannya.
“Jadi, apakah kau berniat memberikan lukisan itu padaku? Akan kubayar berapapun yang kau mau.”
“Bisa diam tidak sih?!” seruku. Emosiku benar-benar memuncak sekarang.
“Ah, aku mengganggumu, ya?”
Baguslah kalau namja tak tahu diri itu pergi. Setidaknya, aku tidak akan cepat mengalami keriputan karena tidak marah-marah lagi.
.
.
“Makanlah.” Aku menatap ke arah jajan yang ada di hadapanku, lalu kualihkan pandanganku ke arah orang itu.
“Untukmu. Kau belum makan ‘kan?”
Sejenak aku mendengar suara sorak sorai dari beberapa murid yeoja.
“Tidak butuh.” ujarku dingin.
Ugh, kenapa mereka juga ikut menatapku seperti itu?
Ish! Victoria, Luna, Amber dan Sulli tengah menatap ke arahku dengan pandangan nakal.
“Ah, aku bertaruh pasti kau akan memakan itu.” ujarnya cuek lalu meninggalkanku untuk ikut bergabung ke dalam geng laki-laki.
“Ehem!” Sepertinya, orang-orang sedang kena penyakit batuk.
.
.
“Jadi, bagaimana? Tebakanku benar bukan?”
Ah, sumpah aku malu sekali. Saat itu aku terpaksa sekali memakan jajan pemberiannya. Perutku lapar sekali saat itu, jadi ya mau bagaimana lagi? Dan sialnya dia memergokiku saat memakan jajan pemberiannya.
Aku tetap berjalan untuk menuju halte bus.
“Lukisan itu untukku saja, ya?”
Langkahku terhenti. “Lukisan itu kutinggal di sekolah.” Lalu mulai berjalan kembali.
“Tak apa. Biar aku yang mengambilnya.”
“Memangnya lukisanku sangat berharga sampai-sampai kau merengek-rengek seperti itu?”
Dia hanya memutar bola matanya. “Tidak juga sih.”
Ugh, laki-laki itu!
Bip.. Bip..
Eh, ada panggilan masuk.
“Ya, Ahjussi.”
“………”
“Ehm, naik bus.”
“……….”
“Tidak usah. Aku bisa sendiri.”
Klik.
Sambungan telefon kuputuskan.
“Awas!”
Terang..
Gelap..
Itulah yang kurasakan sesaat ketika ada secercah cahaya yang menusuk mataku.
Apa aku sudah meninggal?
Kenapa semuanya gelap?
Tapi..
Tangan siapa ini? Apakah malaikat?
“Hei, sudah tidak apa-apa.”
Suara ini..
Jangan-jangan..
Lalu kubuka mataku. Alangkah kagetnya aku ketika aku berada di pelukan pemuda itu. Segera saja aku menarik diri dan mendorong pemuda itu sejauh-jauhnya.
“Hei!” protesnya ketika aku mendorong tubuh pemuda itu kuat-kuat hingga hampir terjatuh.
“Aku sudah menolongmu, tapi bahkan kau tidak berterima kasih padaku!”
Aku hanya mendengus kesal.
Ah, untung saja ada subway. Lalu, aku masuk kedalamnya dengan segera.
Kenapa dia juga naik bus ini?
And, what?! Dia duduk di sebelahku! Oh, my! Tempat duduk banyak tapi kenapa dia harus duduk di sebelahku?!
“Maaf ya, kursi masih banyak yang kosong. Bisa tidak duduk disini? Sempit sekali.” usirku.
“Ehm, tapi aku mau disini.” ujarnya keukeuh.
Uh, sudah kuduga kalau dia itu orang yang keras kepala.
Tsk.
“Aku bisa sesak nafas kalau kau disini.”
“Jendelanya bisa dibuka ‘kan?” ujarnya sembari membuka kaca jendela, sehingga udara segar mengalir masuk.
“Sudah tidak sesak nafas bukan?” ujarnya sambil menunjukkan senyum menyebalkannya.
Aku mendengus kesal. Terpaksa, sepanjang perjalanan harus kuhabiskan bersama pemuda menyebalkan itu.
.
.
Stop, pak!” ujarku. Lalu, bus berhenti tepat di depan rumahku.
Kemudian, aku turun dari bus itu lalu masuk kedalam rumah.
Tanpa sepengetahuanku, pemuda itu tersenyum penuh misteri ke arahku.
.
.
19.45
Honey, bersiap-siaplah! Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu penting!” seru Eomma dari arah lantai bawah.
Paling tamu penting untuk mereka.
Aku hanya memakai t-shirt merah muda dengan gambar apel ditengahnya dan celana jins selutut.
Honey, sudah siap?” Eomma lalu berjalan ke arahku. “Aduh, sayang. Kenapa memakai baju itu?”
“Ish, sudahlah Eomma. Masih mending aku pakai baju daripada ngga.” ujarku sambil memainkan Ipad milikku.
“Yasudah, ayo turun! Tamunya sudah ada di bawah.”
Dengan langkah malas, aku terpaksa mengikuti setiap langkah Eommaku.
.
.
“Soo, temui anak Byun Junghyun-ssi di taman.”
“Yes, Eomma.” seperti robot yang senantiasa mendengarkan perintah pemogramnya, aku lalu pergi ke taman sesuai dengan perintah Eommaku.
===
“Hei.” seruku. Pemuda itu masih berdiri membelakangiku.
Tapi, tunggu..
Aku seperti mengenalnya..
Jangan-jangan..
“Baekhyun!” seruku kaget ketika pemuda itu menolehkan kepalanya.
Oh, shit!
Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?!
So damn!
“Kita bertemu lagi.” sepertinya dia senang sekali, tetapi tidak denganku.
“Ah, tamannya indah. Tidak mungkin kalau kau yang merawatnya kan?”
Aku tersenyum kecut.
“Untuk apa kau kesini?” tanyaku.
“Kau tidak tahu?” nada suaranya tenang sekali.
“Sebentar lagi kau akan tahu. Ayo kita masuk kedalam! Udaranya dingin sekali.” dia lalu pergi melangkah mendahuluiku.
Aku mengumpat pelan, sebelum akhirnya mengikuti langkahnya.
===
“Begini, Soo. Kami dan orangtua Baekhyun sepakat untuk menjodohkan kalian berdua”
Apa? Menjodohkan?!

=TBC=
Maaf sekali ini FF jelek -,- tapi, saya tetap berharap readers mau komentar ya ^^

Story created by Mizuky^_^

30 thoughts on “When You Know How Its Feel [1/2]

  1. Wooaahhh…
    Kalau pairingnya f(exo) pasti author yg satu ini… BaekStal mulu lg… Huwaaa saya suka saya suka….
    Aish, krystal kenapa dingin banget sih sama baek.. Emang d sana ujan(?) Dijodohkan…?? Jinjja…?? Huwaaa… Bahagia tingkat dewa nih baekhyun nya….
    Thor, BaekStal shipper ya….???
    Jujur lho thor, aku jd suka sama baek karena baca ff nya author.
    – Oppa! Give Me your Love!
    – A Man For My Girl
    sama ini….
    Masa mau jadi exotic sih… Haha…
    Thor pokonya LOVE deh buat author…. Saranghae….

    • hehe :D Aku baekstal ama hunli shipper chingu, wkwkwk …
      gomawoyo chingu udh suka sma ff aku, tp ff ini bukan ff buatanku, ini punya Mizu ^^ hehe
      Tp mkasih bgt yah chingu yg baik hati, km bner” daebak! ^^ Saranghae …

  2. aku suka karakter Krystal yg acuh keras kepala tapi sbener’a cuma butuh kasih sayang ,, trus Baekhyun juga cowo somplak yg SKSD heheheheheheee ,, nah loh nikah nikah nikah

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s