Mr. D E S T I N Y – [Part1]

Author: Gita Oetary as Goetary

Cast: Han Soo Eun, Shim Ji Ho, Shim Changmin, Lee Yeon Hee, Jung Yunho [Only Mention]

Genre: Romance, Friendship

Rating: PG+15

Teaser

2012© Special Present & CrossPosting

Mr. D E S T I N Y

By Gita Oetary

Prolog

Jalanan sepi…

Lampu-lampu mulai di nyalakan. Namun demikian, ia tak bisa melihat apapun.

Butuh tenaga besar untuk menyeret kakinya yang gemetar. Ia mencengkram kerah jaketnya kuat-kuat. Tubuhnya menggigil hebat. Tapi bukan karena angin yang bertiup kencang.

Karena pada kenyataannya seluruh saraf di dalam tubuhnya telah kehilangan fungsi mereka. Pasti. Buktinya ia tak bisa melihat, tak bisa mendengar, tak bisa bersuara, dan tak bisa merasakan apa-apa selain nyeri yang menusuk dadanya.

Yang rasanya sakit sekali.

Ia ingin menangis. Ingin menjerit. Namun tak ada suara yang bisa keluar dari tenggorokannya walau mulutnya sudah megap-megap kehabisan napas. Sebelah tangannya terjulur ke depan dan mencengkram pagar besi yang melingkari taman sampai jemarinya memutih.

Dengan tatapan kosong. Dengan hati teriris. Ia terseok-seok menapaki jalanan yang terasa begitu panjang dan tak ada habis-habisnya.

___________________________________________________________________________________________

Destiny is no matter of chance.

It is a matter of choice.

It is not a thing to be waited for, it is a thing to be achieved

-William Jennings Bryan-

*

1st Part

Tanpa terasa hari beranjak malam.

Sooeun baru sadar ketika seseorang memanggil namanya dan mendongak menatap lelaki itu, yang kini sedang tersenyum sumringah kepadanya.

“Sudah berapa lama kau di sini?” tanya Shim Changmin, sahabat yang sudah di kenalnya sejak ia masuk kuliah yang sama dengannya sambil mencomot sandwich milik Sooeun.

“Entahlah,” jawab Sooeun jujur.

“Sendirian atau datang dengan Yunho Hyeong?” goda Changmin.

Sooeun mendelik ke arah lelaki itu. Dan di saat itulah ia melihat sosok pria jangkung di belakang Changmin yang sedang menatapnya lekat-lekat. Saat menyadari tatapan Sooeun, Changmin cepat-cepat buka mulut untuk memperkenalkan keduanya.

“Sooeun, ini Shim Ji Ho. Kakak sepupuku,” Changmin melanjutkan sambil menatap Jiho. “Hyeong, ini Han Sooeun, cewek galak yang kuceritakan padamu.”

Sooeun melotot kearah Changmin namun perhatiannya kembali teralih pada Jiho. Ia memerhatikan lelaki itu dengan cermat saat menyambut uluran tangannya. Jika di perhatikan dengan seksama, umur Jiho sepertinya tidak semuda kelihatannya, mungkin lima tahun di atas Changmin atau lebih. Namun yang jelas penampilannya membuatnya terlihat seumuran dengan Changmin yang hanya dua tahun lebih tua dari Sooeun.

Tubuhnya jangkung dan berotot, Sooeun bisa melihat otot-otot di lengan dan dadanya tercetak di balik sweater khasmir bermodel V-Neck yang di kenakannya, tubuhnya setinggi Changmin. Rambutnya yang hitam di gunting cepak. Tidak seperti Changmin, wajah Jiho benar-benar terlihat oriental. Matanya sipit, hidungnya mancung, dengan bentuk bibir sensual.

Secara keseluruhan, Jiho adalah lelaki yang menarik. Tidak hanya berwajah tampan dan berpenampilan keren, lelaki itu juga sangat baik dan humoris. Sooeun langsung menyukainya dalam sekejap, apalagi senyumannya.

Karena kehadiran Jiho, Sooeun jadi masih ingin berlama-lama duduk di sana dan mengobrol dengan mereka. Namun alarm di telepon genggamnya tiba-tiba berdering yang bertugas untuk mengingatkan dirinya supaya ia tidak lupa diri sudah berapa lama duduk di café tersebut. Sooeun hanya melirik layar ponselnya sekilas lalu beringsut dari kursinya seraya mengulum senyum memandang Changmin yang memelototinya.

Sooeun segera membereskan laptop dan buku catatannya, memasukkan semuanya sekaligus ke dalam tas dan kembali memandang Changmin dengan wajah bersalah. “Aku harus pergi.”

“Pergi saja. Tapi kau yang bayar tagihannya,” respon Changmin tegas.

“Kau bahkan belum memesan apapun.”

“Aku akan pesan sekarang. Suruh saja mereka memasukkan dua porsi sandwich, pizza dan minuman ke dalam nota tagihanmu.”

Ya! Itu namanya pemerasan.”

“Siapa suruh kau ingin pergi duluan,” ketus Changmin tak acuh.

“Siapa yang datang terlambat?” balas Sooeun sama ketusnya.

“Sudahlah, biar aku yang traktir.”

Changmin dan Sooeun sama-sama menatap Jiho yang memandang mereka bergantian. Dan seakan mencapai kesepakatan, Changmin segera mengambil buku menu lalu melambai pada pelayan yang sedang berjalan ke arahnya.

“Kalau begitu aku pergi dulu, Oppa. Annyeong.” Sooeun menepuk pundak Changmin cepat dan melambai pada Jiho sambil tersenyum.

“Siapa yang dia panggil Oppa?” tanya Changmin heran. “Dia tidak pernah panggil aku begitu kalau tidak ada maunya. Cih!

Ya! Mengapa kau segalak itu padanya?”

“Siapa yang galak?” Changmin balik bertanya dengan nada yang sama ketus, membuat Jiho seketika bungkam, terkejut sekaligus heran.

Kalau sedetik yang lalu Changmin masih uring-uringan karena kepergian Sooeun, saat ini dia justru tampak asyik memilih-milih makanan dalam menu. Melihat tingkah lelaki itu, Jiho hanya bisa tersenyum lalu memandang keluar jendela. Berharap masih bisa menatap kepergian Sooeun.

 

 

Mr. D E S T I N Y

Karena buku yang di carinya tak ada di perpustakaan kampus, Sooeun memilih untuk pergi ke toko buku sekaligus membeli novel yang mungkin menarik untuk di baca.

Ia sedang tidak memperhatikan sekitar, seperti biasanya. Setelah mendapatkan buku yang di perlukannya, Sooeun melihat-lihat di rak-rak novel saat tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang.

“Maaf,” kata Sooeun terburu-buru setelah orang yang di tabraknya tadi mundur selangkah.

Lelaki itu mengangguk sopan dan pergi. Sooeun mengerjapkan mata saat mengenali siapa lelaki itu dan mengejarnya.

“Permisi,” katanya ragu-ragu.

Laki-laki itu mengangkat wajah dan menatapnya dengan bingung. “Ya?”

Sooeun tersenyum kikuk. Sepertinya lelaki itu tidak mengenalinya. Ia sedikit menyesal sudah mengejar lelaki bertubuh tinggi itu saat wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Shim Ji Ho Oppa, bukan?”

“Benar, saya sendiri,” jawab Jiho.

“Masih ingat padaku?” tanya Sooeun hati-hati. Mengejar lelaki itu saja sudah cukup memalukan baginya apalagi jika sampai Jiho tidak mengingatnya sama sekali. “Aku Han Sooeun, teman Changmin. Kita bertemu seminggu yang lalu.”

Jiho terlihat bingung sesaat, lalu wajahnya berubah cerah. “Oh, benar. Maaf, Sooeun kan?” serunya sambil tersenyum lebar. “Apa kabar? Maaf aku tak mengenalimu.”

Sooeun bernapas lega saat akhirnya Jiho mengingatnya. Ia membalas senyuman Jiho dengan tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. “Aku baik-baik saja. Oppa apa kabar?”

“Aku juga baik. Sendirian?”

Sooeun mengangguk.

“Changmin mana?”

“Aku belum bertemu dengannya hari ini, mungkin sedang rekaman.”

Jiho kembali mengagguk. Saat lelaki itu melirik jam tangan di pergelangannya, Sooeun mulai merasa canggung. Mungkin ia mengganggu, batinnya.

“Sudah jam satu. Apa kau sudah makan siang?” tanya Jiho.

Sooeun menggeleng.

“Mau pergi denganku?” Jiho menawarkan yang di jawab dengan senang oleh Sooeun.

*

Jiho mengajak Sooeun makan iga panggang di area Hongdae.

Iga panggang di restoran tersebut memang sama dengan yang di katakan Jiho. Rasanya lezat sekali. Seandainya perutnya masih sanggup dimasuki makanan, Sooeun pasti akan dengan senang hati memesan menu lainnya.

Sepanjang makan siang mereka mengobrol macam-macam. Sooeun sangat senang bersama Jiho. Lelaki itu benar-benar menyenangkan. Mengobrol dengannya, mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Sooeun menceritakan tentang dirinya, bagaimana ia pertama kali bertemu dengan Changmin sampai hal-hal yang paling ia benci dari Changmin pada Jiho sementara lelaki itu menjadi pendengar yang baik.

Mereka seperti teman lama. Sooeun merasa akrab dengan Jiho seperti saat ia bersama Changmin. Sehingga ketika tiba waktunya berpisah entah mengapa ia sedikit enggan.

Jiho mengantar Sooeun sampai di depan rumahnya. Lalu berpisah di sana setelah berjanji untuk bertemu lagi keesokan harinya.

Mr. D E S T I N Y

Jiho melirik jam tangannya, lalu memandang ke sekeliling.

Hari ini hari minggu, dan Jiho berjanji untuk menonton film di bioskop bersama Sooeun. Tapi sampai sekarang gadis itu belum juga kelihatan dan ia sudah terlambat beberapa menit dari waktu janjian.

Karena kemarin ia lupa meminta nomor telepon Sooeun, ia jadi tak bisa menghubunginya untuk menanyakan apakah gadis itu bisa datang atau tidak. Walaupun sebenarnya Jiho bisa saja meminta nomor ponsel Sooeun pada Changmin, lelaki itu pasti tak akan memberikannya kecuali ia menceritakan semuanya.

“Maaf, aku terlambat.”

Jiho mengangkat wajah dan melihat Sooeun berdiri di depannya dengan wajah memerah dan napas terengah-engah.

Oppa sudah lama menunggu?” tanya gadis itu sambil tersenyum kikuk.

Jiho balas tersenyum. “Lumayan,” sahutnya.

“Maafkan aku, gara-gara bangun kesiangan aku ketinggalan bus, jadi aku harus berlari sampai ke halte selanjutnya.”

“Tak apa,” jawab Jiho menenangkan. “Yang penting kau sudah datang.”

Saat itu. Entah mengapa. Mendengar Jiho berkata seperti itu Sooeun jadi serasa ingin menangis. Seakan baru kali ini mendengar suara selembut itu, yang berbicara dengan penuh pengertian kepadanya.

“Sooeuna, kau tak apa?” tanya Jiho prihatin melihat air mata mengenang di pelupuk mata Sooeun.

Gadis itu buru-buru menggeleng dan berkata, “tak apa.” Lalu tersenyum.

*

Jiho mengajak Sooeun makan malam sehabis menonton lalu berjalan-jalan sebentar di sepanjang sungai Han sebelum lelaki itu kembali mengantarnya pulang ke rumah.

“Terima kasih, Oppa,” ujar Sooeun saat mereka telah tiba di depan rumah gadis itu.

“Masuklah,” kata Jiho.

Sooeun mengangguk. “Kalau begitu, selamat malam.”

“Selamat malam.”

Mr. D E S T I N Y

Sooeun berlari-lari kecil menaiki tangga menuju perpustakaan. Saat melihat sosok Changmin yang sedang bersandar di tiang perpustakaan dengan buku di tangan, senyum Sooeun langsung melebar.

“Changmina!” panggilnya.

Changmin mendongak dan balas tersenyum. “Kenapa lama sekali?”

“Tadi aku pergi ke ruang Rektor.”

“Untuk apa?”

“Minyeong Kangsangnim menyuruhku mengantarkan buku kesana.”

“Aku lapar. Ayo pergi.”

“Kemana?”

“Kau tidak lapar?” tanya Changmin dengan ekspresi berlebihan. “Ini sudah hampir jam dua.”

“Tapi aku harus membuat tugas.”

Changmin tiba-tiba melotot kearahnya. Dan Sooeun mengerti apa arti tatapan itu. Ia tak boleh menolak. Lagipula Changmin bisa uring-uringan seharian jika tidak mengisi perutnya dengan makanan terlebih dahulu sebelum membuat tugas di perpustakaan. Jadi Sooeun menggamit lengan lelaki itu dan berjalan bersamanya menuju café yang letaknya tak begitu jauh.

*

“Kau sudah bertemu Yunho Hyeong belum?” tanya Changmin sementara mereka menunggu pesanan mereka di antar.

Sooeun menggeleng.

“Aneh,” bisik Changmin heran. “Dia kan sudah pulang dari Jepang dua hari yang lalu. Kemarin kami sempat bertemu di studio.”

Sooeun hanya mengangkat bahu tak acuh. Saat Changmin tak lagi mengungkit masalah Yunho, pikirannya mulai tak tenang.

Setahun yang lalu, Sooeun dan Yunho mulai berpacaran. Tapi tak ada yang tahu kalau sebenarnya hubungan mereka tidak bertahan lama. Baru beberapa bulan bersama, hubungan mereka kandas. Dan tak lama setelahnya Yunho berpacaran dengan teman seangkatannya.

Tapi Changmin belum tahu masalah ini. Itu sebabnya dia masih sering menggoda Sooeun tentang Yunho.

Mr. D E S T I N Y

Hari ini seharusnya Sooeun makan siang bersama Changmin. Tapi lagi-lagi lelaki itu membatalkannya karena harus pergi ke Jepang untuk menyelesaikan syuting yang tertunda. Sebagai penyanyi dan aktor Sooeun tahu Changmin memang sering kali harus bepergian keluar kota. Tapi ia selalu sebal tiap kali Changmin membatalkan janji di saat-saat seperti ini.

Seharusnya lelaki itu mengatakannya terlebih dahulu sebelum Sooeun sampai ke restoran tempat mereka janjian. Karena hari ini Sooeun benar-benar tak ingin makan sendirian.

“Maaf aku terlambat.”

Sooeun tiba-tiba mendongak. Ia masih ingat suara itu. Dan ketika melihat Jiho berdiri di hadapannya dengan senyumannya yang Sooeun sukai, gadis itu nampak kebingungan.

Oppa?

“Kau sudah menunggu lama?” tanya Jiho seraya duduk di kursi di depan Sooeun.

“Iya, tapi kenapa Oppa yang datang kesini?” Sooeun bertanya heran.

Jiho mengulum senyumnya dan bertanya dengan suara berat, “apa kau tak suka?”

Sooeun gelagapan. Dan Jiho segera tertawa renyah melihat reaksi gadis itu.

“Changmin takut membuatmu makan sendirian, jadi dia menyuruhku datang menemuimu. Karena tadi masih ada sedikit urusan di kantor jadi aku terlambat kemari. Tidak apa-apa kan kalau makan siang denganku?”

“Tentu saja tidak,” jawab Sooeun ikhlas. Meskipun masih marah pada Changmin karena membatalkan janji dengannya, ia senang lelaki itu menyuruh Jiho datang menemaninya.

“Sooeuna,” panggil Jiho. Saat itu Sooeun sedang membolak-balik buku menu dan tampak tidak berselera sama sekali. “Mau makan di tempat lain saja?” tanya Jiho antusias.

“Dimana?”

“Mau tidak?”

Sooeun memandang Jiho tak percaya dan meringis. “Tapi kita sudah di sini, tak enak jika harus pergi.”

“Tidak apa-apa, aku akan bicara dengan mereka.” Di saat itu juga Jiho memanggil seorang pelayan. Ia memberikan pelayan itu tip sambil beralasan kalau saat ini ia sedang di kejar waktu dan meminta maaf karena terpaksa tidak bisa memesan makanan. Si pelayan wanita itu mengangguk dengan patuh dan Jiho segera menarik Sooeun keluar dari restoran tersebut.

“Kita mau kemana?” tanya Sooeun tak sabaran ketika roda mobil perlahan bergulir maju.

“Ke rumahku,” jawab Jiho singkat.

“Untuk apa?”

“Makan siang.”

“Eh?”

Jiho terkikik geli melihat keterkejutan di wajah Sooeun. “Tenang saja, aku yang masak.”

“Memangnya Oppa bisa masak?”

“Tentu saja.”

Sooeun bergidik. “Yakin?”

“Yakin.”

“Maksudku, yakin bisa di makan?”

Jiho tertawa. “Changmin suka sekali makan masakanku.”

“Kalau Changmin sih makan apa saja.” Sooeun ikut-ikutan tertawa.

*

Sooeun terkejut saat menyaksikan Jiho menyajikan beberapa jenis makanan sekaligus di atas meja.

“Kelihatannya enak,” celetuk Sooeun semangat tapi tiba-tiba menatap Jiho tajam. “Oppa yakin kan aku tidak akan keracunan?” bisik Sooeun bercanda. Gadis itu mengambil sumpit dan mencicipi daging panggang di depannya dan berseru senang, “enak sekali!!”

“Terima kasih.”

“Wah, aku tak menyangka Oppa benar-benar bisa masak.”

Jiho hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang membuat senyumannya semakin manis dan segera bergabung dengan Sooeun di meja makan.

*

“Kenyang sekali,” keluh Sooeun senang.

Jiho terkikik. “Kau tahu sudah berapa kali mengucapkan kata itu dalam sejam?”

Sooeun tak tergugah untuk menjawab. Ia hanya membalas tatapan Jiho dengan senyum sumringah yang di pelajarinya dari Changmin.

Mereka baru selesai makan dan sedang duduk di sofa panjang di depan televisi.

Sooeun menepuk-nepuk perutnya dengan pelan dan puas. “Terima kasih sudah mentraktirku lagi, Oppa. Lain kali giliranku,” ujar Sooeun sambil bangkit dan berkeliling ruangan.

Jiho mengangguk sambil tersenyum. “Kalau begitu, kau harus mentraktirku besok.”

“Secepat itu?” tanya Sooeun terkejut lalu mengagguk dan terkikik. “Ini foto siapa?”

Jiho menoleh dan melihat Sooeun berdiri di depan meja pajangan dan memerhatikan foto seorang wanita berambut panjang yang ada di atas meja. Jiho buru-buru mendekati gadis itu dan merebut foto tersebut sebelum Sooeun sempat mengambilnya.

“Maaf…” bisik Sooeun tak enak. Walau tak tahu mengapa Jiho bereaksi seperti itu, ia tahu ada hal yang Jiho tak ingin diketahui Sooeun. Termasuk wanita di dalam foto tersebut.

“Ah, maaf. Kurasa kau pasti terkejut.”

Sooeun berjalan kembali ke sofa dan mengambil tas dan buku-bukunya.

“Sebaiknya aku pulang saja, Oppa. Terima kasih makanannya.” Sooeun cepat-cepat berjalan ke pintu sebelum Jiho sempat mengatakan sesuatu. Karena lelaki itu tidak juga berkata apa-apa, Sooeun segera keluar dari apartemen Jiho tanpa kembali menoleh ke belakang.

Ada sesuatu yang mengusiknya. Entah apa. Yang jelas, Sooeun tak suka dengan sikap Jiho barusan. Ia bukannya menyentuh hal-hal terlarang. Foto itu memang sudah ada di sana. Mungkin Jiho marah karena ia tak sopan ingin mencari tahu, tapi bukan berarti Jiho bisa bersikap seperti itu.

Sementara itu. Jiho menaruh foto yang tadi di lihat Sooeun ke dalam laci. Ia tak yakin kapan foto itu ada di atas meja. Hal itu membuatnya merasa terganggu. Terlebih saat melihat mata Sooeun berkaca-kaca ketika ia menarik paksa foto tersebut.

Jiho berjalan ragu ke pintu yang tertutup. Tangannya terulur meraih pegangan pintu. Namun sesaat kemudian di urungkan niatnya. Sebenarnya ia ingin meminta maaf pada Sooeun, tapi sepertinya hal itu tak pantas. Lagipula, Sooeun tak mungkin salah paham.

Jiho tersenyum kecut saat menyadari pikirannya lagi-lagi di penuhi ekspresi wajah Sooeun tadi yang tampak ingin menangis.

Mr. D E S T I N Y

Seperti biasa, jika tak ada Changmin, Sooeun selalu keluar dari kampus setelah sore dan langsung disambut angin yang bertiup. Saat ia melihat Jiho mondar-mandir di trotoar, langkahnya langsung terhenti. Pria itu nampak menekuri kakinya sambil mondar-mandir dengan langkah-langkah berat.

Jiho mendongak dan melihatnya saat Sooeun berdiri sambil memeluk buku di dada. Langkah Jiho pun langsung berhenti.

“Jiho Oppa?” tanya Sooeun tak yakin.

Jiho tersenyum dan langsung berjalan mendekati Sooeun. “Hai.”

Sooeun menoleh ke arah kampus yang baru saja ditinggalkannya untuk meyakinkan bahwa ia tidak bermimpi. “Sedang apa di sini? Changmin kan belum pulang.”

“Aku datang untuk bertemu denganmu. Aku sudah menunggu lebih dari dua jam.”

“Aku?” Sooeun menatap Jiho heran. “Mengapa?”

Jiho diam sesaat. Ia menyisir rambutnya sekilas. Gerakan yang menurut Sooeun sangat seksi. Lalu kembali menatap gadis itu. “Sudah tiga hari aku tidak melihatmu,” bisik Jiho lembut. “Aku rindu padamu.”

“Benarkah?” Sooeun merasakan tubuhnya bergidik. Ia membeku di tempatnya. Angin membuat rambut panjangnya berantakan.

“Setelah apa yang terjadi waktu itu, aku merasa harus menjelaskan sesuatu kepadamu sebelum kau salah paham.”

Saking senangnya, dada Sooeun tiba-tiba terasa nyeri. Ia senang sekali mendengar ucapan Jiho sebelumnya. Yang berkata rindu padanya. Sebenarnya, sejak ia pergi meninggalkan rumah Jiho hari itu, pikirannya terus-menerus di penuhi pikiran tentang lelaki itu. Sampai-sampai ia hampir tidak menyadari ketidak-hadiran Changmin di sisinya. Tapi saat lelaki itu menyinggung masalah foto wanita yang ia lihat di apartemen Jiho, Sooeun kembali dirundung perasaan tak enak.

*

Jiho mengemudikan mobilnya sampai ke sungai Han. Beberapa saat mereka berdiam diri. Hingga akhirnya Jiho mulai buka suara dan mengatakan sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh Sooeun sebelumnya.

“Aku pernah menikah.”

Sooeun mengangkat alisnya, namun tidak berkomentar karena ia melihat Jiho masih ingin melanjutkan kata-katanya.

“Tapi hubungan kami tak berhasil. Setelah lima tahun, kami sama-sama yakin kalau sebenarnya tak ada cinta lagi yang tersisa. Dua bulan yang lalu aku pindah ke apartemen, saat ini surat perceraian sudah masuk ke pengadilan. Kami hanya sedang menunggu hasil putusan tiba.”

Sooeun menahan napas. Ia tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.

“Beberapa saat yang lalu, aku mengira kalau aku masih membutuhkan Yoonhae. Tapi tidak lagi sejak aku mengenalmu.”

Sooeun menoleh tiba-tiba. Bias kemerahan dari langit membuat suasana di luar sana mendung. Tapi berada sedekat ini dengan Jiho membuat perasaannya berbunga-bunga. Sooeun sempat mendengar sesuatu, hanya sekilas. Dan ia masih tak yakin dengan apa yang di ucapkan Jiho.

Tak mungkin…

“Kurasa, aku jatuh cinta padamu.”

Jiho memandang wajah Sooeun lekat-lekat. Sementara Sooeun tampak ingin menangis.

Gadis itu ingin menangis. Sangat ingin menangis. Sejak ia pulang dari tempat Jiho hari itu, ia sudah merasakan sesak menghimpit di dada. Air mata hampir tak bisa di bendungnya lagi. Seketika ia merasa nyeri di hatinya seakan terangkat semua. Hilang. Lenyap tak bersisa di bawa angin.

Lega rasanya. Padahal ia yakin ia tak menaruh perasaan apapun pada Jiho. Cintanya masih untuk Yunho meskipun waktu telah bergulir pergi semenjak perpisahan mereka. Tapi saat mendengar Jiho berkata mencintainya, Sooeun seakan di bawa terbang ke surga. Ia bukan hanya senang mendengarnya. Ada hal lain yang meliputi perasaannya saat itu. Yang ia tak tahu apa jawabannya.

Jiho meraih wajah Sooeun yang tertunduk dan mencium bibir Sooeun lembut. Perlahan air mata bergulir di pipi gadis itu.

Jiho membisikkan namanya. Berkali-kali. Sesering mungkin. Tapi tak melepaskan bibir mereka. Membuat Sooeun merasa begitu di hargai. Begitu di cintai. Ia lalu membalas ciuman Jiho. Dan sedikit terkejut mendapati kenyataan betapa ia merasa bibir mereka begitu padan satu sama lain.

Mr. D E S T I N Y

Wanita itu menyesap kopi yang di pesannya. Di hadapannya Jiho sedang menerawang ke luar jendela. Saat ini mereka berada di café Baek Eok. Salah satu café yang terkenal di Gangnam.

“Jiho Oppa.”

Jiho menoleh saat mendengar namanya di sebut, dan tersenyum manis sekali pada wanita di hadapannya.

“Ada yang ingin kukatakan kepadamu,” ujar wanita itu ragu-ragu.

Jiho mengangguk dan memerhatikan wajah cantik wanita berambut panjang di hadapannya. Lee Yeon Hee. Hari ini, setelah Jiho mengantar Sooeun ke rumahnya sehabis makan siang, Yeonhee tiba-tiba meneleponnya dan mengajak bertemu. “Katakan saja.”

“Aku…”

Jiho menyesap minumannya sambil terus menatap wajah Yeonhee. Wanita itu semakin cantik dari hari-kehari. Dan ia tersenyum di balik gelasnya.

“Hamil.”

Jiho segera meletakkan kembali cangkir di pegangannya sebelum cangkir itu tergelincir jatuh. Ia baru saja akan bertanya ketika Yeonhee sudah terlebih dulu menjawab pertanyaan yang tidak di utarakannya.

“Sudah hampir tiga bulan.”

“Itu berarti sebelum kita memutuskan untuk bercerai,” kata Jiho.

Yeonhee menatap lelaki di hadapannya dengan getir. Sedikit rasa sakit menusuk hatinya. Ia berharap Jiho akan senang mendengar berita kehamilannya. Lima tahun mereka menikah dan baru kali ini Yeonhee bisa hamil. Memang bukan waktu yang tepat. Karena mereka sudah memutuskan untuk bercerai. Namun melihat reaksi Jiho membuat dadanya nyeri.

Ia ingin lelaki itu merasa bahagia seperti yang ia rasakan. Dan perlahan-lahan Yeonhee mulai menyadari, kalau entah bagaimana posisinya di hati Jiho mungkin sudah tergantikan.

***

Sooeun berlari tergesa-gesa. Dengan jaket seadanya ia datang ke taman dekat rumahnya.

Saat melihat sosok Jiho yang sedang duduk merenung di bangku taman yang sepi itu sendirian. Langsung saja wajah Sooeun berseri-seri dan senyum senang tersungging di bibirnya.

Oppa…”

Jiho menoleh dan segera berdiri menghampiri Sooeun yang berlari-lari kecil ke arahnya.

“Ada apa mencariku lagi?” tanya Sooeun. Sebersit pikiran nakal berkelebat di pikirannya. Mungkin Jiho rindu padanya, batinnya.

Jiho tidak mengindahkan pertanyaan Sooeun. Bahkan tidak menyadari ekspresi senang di wajah gadis itu.

Jiho meraih kedua tangan Sooeun dan menggenggamnya untuk sesaat. Wajah Sooeun seketika memerah ketika Jiho menariknya kedalam pelukan lelaki itu.

Oppa…”

“Hmm?”

“Kau baik-baik saja? Kau tampak aneh.”

“Aku hanya merindukanmu saja. Kau tidak suka kupeluk?” tanya Jiho dengan nada bercanda.

Sooeun cepat-cepat menggeleng. Pipinya terasa panas. “Bukan… maksudku…,” ia berusaha menjelaskan dengan tergagap-gagap. Tapi tiba-tiba saja tubuh Jiho bergetar karena tertawa.

“Tadi aku pulang ke rumah. Dan tiba-tiba kembali merindukanmu jadi datang kesini setelah tak berhasil mencoba untuk tertidur.” Jiho mempererat pelukannya. “Sepertinya aku harus membawamu pulang.”

“Benarkah?” suara Sooeun tiba-tiba berubah sangat ceria. Ia merasakan Jiho mengangguk dan membayangkan lelaki itu sedang tersenyum, lalu berkata lagi, “aku juga rindu padamu.”

Untuk beberapa saat mereka berdiri berpelukan seperti itu. Di bawah pohon-pohon yang menjadi saksi bisu.

Mr. D E S T I N Y

“Apa kau sedang menemui wanita lain?”

Jiho menoleh tiba-tiba.

“Kata Changmin, kau mungkin sedang berkencan akhir-akhir ini.”

Jiho mendesah berat.

“Apa tak ada lagi tempat untukku di hatimu, Oppa? Bahkan untuk anak ini?”

Mereka kembali bertemu di café kemarin yang terletak di daerah Gangnam, wilayah metropolitan di Seoul. Saat Jiho menatap Yeonhee, tiba-tiba saja wanita itu merasa kehamilannya adalah sebuah bencana.

“Tidak. Bukan begitu. Aku hanya…”

“Kau mencintainya, Oppa?”

“Siapa?”

“Gadis itu.”

“Kurasa Changmin sudah bercerita banyak padamu,” cetus Jiho dingin.

*

Sooeun sedang mengetik tugas-tugasnya di laptop kesayangannya ketika Changmin datang.

“Jiho Oppa mana?”

Hyeong?” tanya Changmin heran.

“Kupikir kau akan datang dengannya,” jawab Sooeun santai.

“Memangnya kapan aku bilang begitu?”

Sooeun menatap wajah Changmin dan melihat ekspresi ingin tahu lelaki itu kepadanya. Sooeun tahu Changmin pasti menginginkan sebuah penjelasan. Tapi ia sedang tak ingin di goda olehnya.

“Aku tahu kau sedang berhubungan dengan Hyeong.” Changmin berceletuk tiba-tiba. “Jadi mau kau kemanakan Yunho Hyeong?” goda Changmin lagi.

Sooeun memandang lelaki itu tegas. “Kami sudah putus.”

“O ya?” Changmin berpura-pura kaget. “Kupikir kau tak mau mengatakannya padaku.”

“Apa?”

“Kau sudah putus dengan Yunho Hyeong lama kenapa baru beritahu aku?”

Sooeun mengangkat bahu tak acuh kemudian berpura-pura mengetik lagi. Sementara Changmin, karena tidak mendapatkan jawaban yang di inginkannya segera memanggil pelayan lalu menyebutkan pesanannya.

*

“Kalau kau tak menginginkannya, tak apa.”

Lelaki itu menoleh sekilas keluar jendela lalu kembali menatap Yeonhee. Wanita yang dulu pernah sangat di cintainya. Yang sekarang seharusnya sedang menunggu masa perceraian mereka disahkan oleh Pengadilan. Namun justru sedang mengandung anaknya.

Jiho tahu kalau kehadiran anak itu sebenarnya menjadi salah satu pemicu kehancuran rumah tangga mereka. Jiho juga tahu kalau masih ada cinta yang tersisa untuk Yeonhee. Tapi bagaimana caranya ia memberitahu Sooeun kalau ia dan Yeonhee tidak jadi bercerai? Bagaimana mungkin ia menyakiti hati gadis itu?

“Hari senin aku akan ke Pengadilan dan meminta surat cerai itu di tarik. Semoga saja belum sampai ke tangan Hakim.”

Dan tiba-tiba saja tangis Yeonhee pecah.

Mr. D E S T I N Y

Oppa, kenapa kau diam saja?”

Mereka berdua baru selesai mengelilingi sebagian area Namsan Park ketika Sooeun menarik Jiho duduk di bangku taman yang terletak tak jauh dari sana.

Oppa, kau dengar aku?” tanya Sooeun lagi.

Jiho nampak gelagapan sebelum menjawab pertanyaan Sooeun.

“Sooeuna.”

Sooeun memandangi wajah Jiho sambil tetap mempertahankan senyuman di wajah cantiknya.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu,” ujar Jiho tercekat.

“Apa?”

Jiho tak sanggup menatap mata Sooeun. Ia segera mengalihkan pandangan.

“Aku akan segera menjadi ayah.”

Senyuman Sooeun membeku. Ia tak mengerti maksud Jiho. Tak ingin mengerti.

“Aku dan Yeonhee memutuskan untuk memperbaiki rumah tangga kami.”

Pikiran Sooeun mendadak kosong. Ia sudah tidak mendengar apa yang di katakan Jiho. Di sekitarnya nampak bergoyang, Sooeun harus memaksakan diri untuk bersandar di bangku taman sebelum tubuhnya terjengkang ke depan.

“Maaf.”

Hanya satu kata itu saja lagi yang bisa di dengar olehnya. Sooeun berusaha menoleh ke sampingnya. Dan ia melihat Jiho sedang menerawang tak memandangnya.

Lelaki itu beranjak bangun dari duduknya. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Tak ada kata perpisahan. Tak ada kecupan singkat. Jiho bahkan sudah tidak memandang Sooeun.

Tapi bukan itu yang membuat Sooeun sakit hati. Bukan karena ia merasa jengkel karena Jiho tidak menghargainya, tidak mengantarnya pulang ke rumah seperti biasa. Hatinya sakit ketika melihat bahu Jiho beranjak menjauh dan hilang di telan kabut yang menaungi matanya.

Ia gelagapan karena tak bisa melihat apa-apa. Seakan saat ini seseorang sedang menutup wajahnya. Membuat Sooeun bukan hanya tak bisa melihat lagi, melainkan juga tak bisa bernapas.

Sooeun mengangkat tangannya dan menekankannya ke dada.

*

Jalanan mendadak sepi.

Lampu-lampu mulai di nyalakan. Namun demikian, ia masih tak bisa melihat apapun.

Butuh tenaga besar bagi Sooeun untuk menyeret kakinya yang gemetar. Ia mencengkram kerah jaketnya kuat-kuat. Tubuhnya menggigil hebat. Tapi bukan karena angin yang bertiup.

Mungkin seluruh syarafnya sudah kehilangan fungsi. Buktinya ia tak bisa melihat, tak bisa mendengar, tak bisa bersuara, dan tak bisa merasakan apa-apa selain nyeri yang menusuk dadanya.

Yang rasanya sakit sekali…

Ia ingin menangis. Ingin menjerit. Namun tak ada suara yang bisa keluar dari tenggorokannya walau mulutnya sudah megap-megap kehabisan napas. Sebelah tangannya terjulur ke depan dan mencengkram pagar besi saat berusaha menuruni tangga satu-persatu.

Dengan tatapan kosong. Dengan hati teriris. Ia terseok-seok menuruni tangga yang terasa begitu panjang dan curam serta tak ada habis-habisnya.

*

Jiho memperlambat langkahnya yang tergesa-gesa. Ia menoleh ke belakang dan menyadari dirinya sudah jauh. Jiho bersandar di salah satu tembok pertokoan. Ia meraih handphone di saku mantelnya dan memanggil seseorang.

“Tolong jemput Sooeun,” desak Jiho pada seseorang yang di teleponnya. “Aku meninggalkannya di taman sendirian. Dia pasti masih ada disana sekarang.”

Jiho naik ke mobilnya. Mesin mobil meraung saat di nyalakan. Tatapan Jiho menerawang. Ia masih merasa enggan untuk pergi.

*

Tidak ada yang perlu di tangisi. Batin Sooeun.

Waktu akan terus bergulir dan suatu hari ia akan melupakan semua itu.

Ia akan melupakan Jiho. Melupakan perasaannya. Dan hidup dengan tenang.

Suatu hari nanti ia bahkan tak akan merasakan apapun lagi.

Karena ia juga akan ikut mati bersama kenangan lelaki itu. Pasti…

Gadis itu mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih dan kukunya menancap dalam ke kulit. Ia bisa saja menjerit karena sakit di telapak tangannya. Namun sekali lagi ia bahkan tak merasakan apapun.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan deru napasnya agar dadanya tidak semakin sakit dan supaya ia bisa bernapas. Perlahan ia beranjak dari posisinya. Dan merasakan tungkai kakinya bergetar. tetapi desakan niat dalam hatinya mendorongnya terus maju selangkah demi selangkah lagi.

Ketika ia merasa tak sanggup lagi menopang beban di hatinya, Sooeun terjerembab di anak tangga kedua yang berhasil ia lewati, sementara sebelah tangannya masih memegangi pegangan tangga.

Saat itulah air mata yang sejak tadi terperangkap berhasil meloloskan diri. Sooeun menutup mulutnya dengan sebelah tangan yang bebas untuk menahan tangisnya yang semakin kencang.

Rasa sakit di dadanya kian menusuk. Semakin ia menangis semakin terasa sakit. Sooeun memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangan.

Akhirnya ia menjerit. Sooeun meringis dalam gelap yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia tak bisa melihat, tapi itu tak apa. Ia tak bisa mendengar, itu juga tak apa. Karena satu yang paling menyiksa baginya, hanya satu. Ia tak bisa merasakan kehadiran Jiho lagi. Dan dunianya seakan menghilang tepat di depan matanya.

*

Changmin tiba di Namsan Park tepat sebelum Sooeun keluar dari sana. Gadis itu tampak oleng dan tertatih-tatih saat berjalan.

Changmin mendekati Sooeun dan langsung memeluk bahu gadis itu dari belakang.

“Changmin?” gumamnya dengan suara mengambang.

“Ayo, kuantar pulang.”

Sooeun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ketika Changmin berbalik gadis itu menggeleng kuat-kuat.

“Aku tak bisa,” serunya rapuh.

“Sooeuna…”

“Kumohon, tinggalkan aku sendiri.”

“Tidak! Apa yang akan kau lakukan?”

Sooeun menggeleng lagi, kali ini dengan lemah. “Kumohon,” lirihnya. “Sekali saja, tinggalkan aku. Aku harus bertemu dengannya. Ada yang ingin kukatakan.”

Changmin terperanjat saat melihat air mata jatuh di pipi Sooeun. Dalam hati ia marah pada Jiho yang sudah membuat gadis itu terluka seperti ini. Tapi ia sudah terlambat untuk bertindak. Sooeun sudah terlanjur mencintai Jiho.

Dengan lemah akhirnya Changmin berbisik, “biar kuantar.”

Sooeun mendongak kaget. “Kemana?” tanyanya linglung.

“Ke rumahnya.”

*

Mereka sampai di depan apartemen Jiho. Changmin berpesan pada Sooeun kalau dirinya akan menunggu di parkiran dan membiarkan gadis itu masuk sendirian.

Changmin melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebelah tangannya mengetuk-ngetuk alat kemudi.

Setelah lama menunggu ia akhirnya memutuskan menelepon Jiho.

Hyeong, kau dimana?” tanya Changmin tak sabaran.

“Aku sedang di jalan.”

“Aku meninggalkan Sooeun di apartemenmu. Cepat kesini sekarang.”

*

Setelah memutuskan hubungan. Jiho membanting stir dan menancap gas kuat-kuat. Mobilnya melesat di padat lalu lintas.

Dan beberapa saat kemudian ia sudah sampai di apartemennya sendiri. Ia bergegas naik ke lantai sembilan dan menemukan Sooeun meringkuk di depan pintu apartemennya.

Melihat gadis itu, hati Jiho seperti di iris-iris. Ia sadar sudah melukai Sooeun. Tapi tak bisa melakukan apapun untuk meredakan sakitnya.

“Sooeuna…” panggilnya lembut.

Sooeun langsung mengangkat kepala. Dan seketika air mata mengalir lagi di wajahnya.

Oppa,” bisik Sooeun serak.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jiho.

Sooeun beranjak berdiri. Jantungnya berdegup sangat kencang, membuat dadanya sakit. Tapi melihat sosok Jiho berdiri di hadapannya tanpa kekurangan satu hal pun membuat hatinya lebih sakit dari sebelumnya. Ia mungkin berharap Jiho sama menderitanya dengan dirinya.

“Masuklah,” ajak Jiho seraya mempersilahkan Sooeun masuk lebih dulu ke dalam apartemennya.

Sooeun menuruti kata-kata Jiho. Lelaki itu segera menutup pintu di belakangnya dan menuntun Sooeun duduk di sofa. Sementara ia sendiri pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman buat mereka.

Sooeun berjalan mengitari ruangan. Ia melirik meja yang terakhir kali di lihatnya memajang foto istri Jiho. Dan tersenyum saat melihat meja itu kosong sekarang.  Ia terlalu malas berpikir sehingga mengacuhkannya.

Sooeun berdiri bersandar di pagar balkon. Udara dingin langsung menyambutnya, namun tidak sampai membuatnya gemetar. Jiho datang dari belakang dengan dua cangkir coklat hangat di tangannya. Sooeun menerima gelas tersebut dan langsung menyesap isinya.

“Lapar tidak?” tanya Jiho sambil tersenyum.

Sooeun menatap senyuman Jiho dan merasakan hatinya di pukul keras-keras. Ia menggeleng. Mata gadis itu merah karena menangis sejak tadi, dan sekarang harus menahan air matanya sekuat tenaga.

“Sooeuna…”

“Hmm?”

“Kau baik-baik saja?”

Sooeun tidak langsung menjawab. Ia terpekur memandang isi cangkirnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia lalu menggeleng.

“Kau mau makan? Aku bisa memasak sesuatu untuk kita.”

Sooeun kembali menggeleng.

“Kalau begitu, mungkin sebaiknya kuantar kau pulang.”

Sooeun merasa tersinggung mendengar nada bicara Jiho. Membuatnya ingin sekali menampar pipi lelaki itu. Ia kecewa karena Jiho baik-baik saja. Padahal ia hampir yakin kalau selama ini Jiho benar-benar mencintainya. Dan sekarang ia harus menelan keyakinan itu bulat-bulat.

Jiho sudah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Sooeun sekali lagi. Sooeun mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu memutuskan untuk mengikuti lelaki itu. Ia perlu bicara dengan Jiho. Tadi ia tidak sempat mengatakan apapun saat mereka di taman. Sekarang ia ingin mengutarakan pendapatnya. Ia merasa berhak. Bukankah ia memang berhak? Ataukah selama ini ia hanya menganggap seperti itu?

Sooeun masuk ke dalam rumah dan melihat Jiho sedang berusaha menyibukkan diri di dapur. Ia berjalan mendekatinya.

Meskipun dalam hati ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tetap tak bisa memungkiri kenyataan kalau dirinya ingin sekali memeluk Jiho dan merasa aman dalam dekapannya. Sooeun mendekati Jiho tanpa suara dan melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu.

Jiho terperanjat. Ia segera memutar badannya.

“Sooeuna…”

Sooeun menatap mata Jiho dan tersenyum lirih. Ia tak mengatakan apapun melainkan menaruh kedua tangannya di bahu Jiho dan berjinjit untuk menciumnya.

Mata Jiho terbelalak. Matanya perih entah karena apa. Ia lalu merengkuh tubuh Sooeun dan membalas ciuman gadis itu.

Beberapa saat kemudian Jiho menghentikan ciuman mereka. Terlalu tiba-tiba. Sampai-sampai Sooeun terjengkang ke belakang.

Ia menatap Jiho dengan heran dan terluka.

“Kau tak menginginkanku?” tanya Sooeun malu.

Jiho menatapnya lekat-lekat. Hatinya juga sakit. Ia berharap Sooeun mengerti. Ia tak pernah bermaksud menyakiti gadis itu sama sekali. Tapi toh ia melakukannya. Dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya.

“Bukan begitu, Sooeun,” balas Jiho serak.

“Lalu apa?”

“Aku menginginkanmu. Sangat menginginkanmu. Kau tahu itu.”

“Kalau begitu, cium aku Oppa.” Sooeun berjalan mendekat. Kembali menopangkan telapak tangannya di dada Jiho yang kekar dan berotot. Sooeun baru saja akan berjinjit ketika Jiho mendorongnya lembut.

“Sebaiknya kau pulang saja,” kata Jiho.

Sooeun menatap lelaki itu salah sangka.

“Aku akan memanggilkanmu taksi atau menyuruh Changmin menjemputmu.”

Harga diri Sooeun terluka. Ia malu di perlakukan seperti itu oleh Jiho. Lelaki yang beberapa hari lalu mengatakan bahwa ia mencintai dirinya. Tapi Sooeun tak ingin pulang. Ia ingin berada di dekat Jiho, sesingkat apapun itu. Karena ia yakin, ini adalah kali terakhir mereka bisa bertemu. Suatu hari nanti, mereka berdua harus menjadi orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Itu sebabnya Sooeun segera berlari ke arah Jiho dan merangkul leher lelaki itu. Menjatuhkan dirinya di dalam pelukan Jiho yang telah membuatnya terluka.

“Mengapa kau melepaskan tanganku, Oppa? Tidakkah aku berarti bagimu seperti dirimu bagiku? Kumohon, jangan menolakku, Oppa. Atau aku akan semakin terluka karenamu,” pinta Sooeun memelas.

Sooeun mendongak dan mencondongkan tubuhnya ke arah Jiho. Sesaat Jiho tampak gusar. Tapi kemudian ia segera merengkuh tubuh Sooeun.

Lengan Jiho melingkari tubuh Sooeun dan mereka berpelukan dalam diam. Ketika Jiho mengangkat kepalanya, ia mengelus rambut Sooeun dengan kedua tangan lalu meraih bibir Sooeun dengan bibirnya.

Sooeun menjerit dalam hati karena senang. Jiho mendesah penuh gairah dan dengan rakus melumat bibir Sooeun. Udara seolah keluar dari paru-paru Jiho dan masuk ke mulut Sooeun. Lengan Sooeun terangkat dan bertopang di bahu Jiho agar lelaki itu dapat mencium bibirnya dengan lebih mudah.

Jiho menciumnya bertubi-tubi. Tanpa ampun lidahnya menyelinap di antara bibir Sooeun.

Sooeun menyisir rambut Jiho dengan jari-jarinya dan menarik lelaki itu semakin dekat ke tubuhnya. Ia menyukai rasa itu. Menyukai tekstur bibir Jiho di bibirnya. Sooeun membalas ciuman Jiho sama bergairah.

Seluruh tubuh Sooeun seakan terbakar ketika Jiho menelusuri bagian belakang punggungnya dengan tangannya. Sooeun menggeliat dalam pelukan Jiho yang kokoh.

Jiho mendesak Sooeun ke dinding. Tapi hanya berhenti sampai di situ. Karena tiba-tiba tangan Jiho tidak lagi bertumpu di pinggang Sooeun. Bibirnya yang tadi melumat gadis itu kini memberi jarak. Dan Sooeun hampir menangis karena frustasi.

Sooeun menatap Jiho yang sepertinya sedang ragu-ragu.

Jiho merasakan dilema antara hati dan pikirannya. Ia memang ingin menyentuh Sooeun, hatinya menjerit sampai terasa sesak. Tapi ia tak ingin melakukan hal yang dapat membuatnya menyesal suatu hari nanti. Tidak jika hal itulah yang akan membuat Sooeun lebih terluka.

Dengan sabar Sooeun meraih tangan Jiho. Mata Jiho tampak berkilat menahan gairah. Sooeun menuntun tangan Jiho dan menaruhnya di dadanya. Jiho terkesiap. Ia menatap mata Sooeun seakan meminta jawaban.

“Aku ingin menyimpan dirimu di dalam hatiku. Menyimpan segala kenangan yang kupunya tentangmu,” Sooeun berbisik lembut. “Mungkin memang menyakitkan jika kenyataannya suatu saat nanti kita harus berpura-pura tidak saling mengenal. Namun aku ingin menjadi milikmu, Oppa. Seutuhnya. Walau setelah itu aku harus merelakan kepergianmu.”

Air mata jatuh di pipi Sooeun. “Aku hanya meminta satu hal, Oppa. Apakah itu terlalu sulit untuk kau penuhi?”

Jiho mengerjap-ngerjapkan matanya. Menahan supaya air matanya tidak ikut-ikutan keluar dari sana. Karena sebenarnya ia ingin. Ia ingin menangis di hadapan Sooeun, dan berharap air mata itu bisa sekaligus membawa perasaannya pergi.

Ragu-ragu Jiho mencium Sooeun. Ketika akhirnya bibir mereka bersentuhan, Jiho tak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Setetes air mata jatuh di pipinya. Tanpa Sooeun sadari.

 

To Be Continued

9 thoughts on “Mr. D E S T I N Y – [Part1]

  1. ceritanya keren banget, sampe bikin aku terhanyut #halah
    gatau mau ngomong apa lagi, tapi aku kasian banget sama sooeun :”(

    next part-nya ditunggu ^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s