[Freelance – Oneshoot] Be Romantic

Title : Be Romantic

Length : Oneshot

Rating : PG-15

Genre : Romance

Author : Hangukffindo

Main Cast :

  • You
  • Chanyeol (EXO-K)

Support Cast : –

Summary : Chanyeol adalah pacar paling menyebalkan di muka bumi. Tidak ada jalan baginya untuk menjadi romantis.

 

Hollllaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :D

(‘a’nya kebanyakan ya? Maaf yaa haha)

Kali ini ada FF Park Chanyeol, ayo wassupp Kreeeaaass (?) haha :D

Coba bayangkan betapa menyebalkan si Chanyeol ini hmm *naro jari di jidat*

(kalo author sih, mau Chanyeol nyebelin ato gimana, tetep aja suka. Kan dia artis (?)

Yah pokoknya dibaca aja deh. Semoga suka :D

 

Happieeehhh ewrrreeadddiiinnggg!

 

Menurutmu…

 

Apa yang akan kau lakukan saat usia pacaranmu menginjak 1 tahun dan kau menyadari bahwa selama ini, kau terus bersama kekasihmu yang sangat menyebalkan, cuek, tidak peduli, dan…apakah kalian punya kata-kata lain yang bisa kulemparkan padanya??

Aku ingin meledak. Rasanya ingin melemparkan sesuatu, apapun itu ketika aku melihat dirinya berjalan di luar rumahku.

Dia tinggi, 185 cm, cukup membuatku menengadah saat berbicara padanya. Rambut merah kecokelatannya seperti daun di musim gugur (well, aku tidak protes tentang hal ini), dia…tampan, SANGAT TAMPAN, walau wajahnya terkadang tampak bodoh, konyol, saat mencoba mencerna apa yang kukatakan. Matanya besarr dan bulat, berkedip-kedip ketika kami bertengkar atau terkadang sulit mengatakan bahwa kami memang tidak cocok dalam beberapa hal.

Dia punya tubuh yang bagus mengenakan baju apapun (aku suka dia mengenakan kaus biru lengan panjang, jeans hitam, sneakers merah, SEMPURNA!)

Park Chanyeol mendekati sempurna jika dia tidak marah setiap kali aku memilih es krim rasa caramel untuk kamu berdua.

“Terserah. Rasa apa saja.” Dia berkata 1 menit yang lalu dan 20 detik kemudian…

“Kau tahu aku tidak suka rasa caramel. Manis dan membuatku mual.”

Dan…

Kami bertengkar.

Park Chanyeol mendekati sempurna jika dia tidak menyerah dalam permainan mengambil boneka di mesin itu. Hanya sekali percobaan, gagal, dan dia menyerah.

Ketika dia tidak bisa mengambil boneka itu, dia akan berkata, “Buat apa bersusah payah mengambilnya? Aku bisa membelinya di toko.”

Dan aku menjawab, “Tapi itu akan lebih berkesan karena kau berjuang mendapatkannya.”

Lalu Chanyeol akan membalas. “Aku bisa membelikanmu yang warna ungu, sebesar ini…” dia membuka lengannya selebar mungkin di hadapanku.

Kemudian aku membuat wajah semenyebalkan yang kubisa dan pergi menjauh darinya, tidak berbicara dengannya sepanjang hari.

Lalu kencan kami berantakan di penghujung hari.

Ya, baiklah, aku tidak menuntut seorang Park Chanyeol yang sempurna, mendekati sempurna, atau baik dalam beberapa hal, jika ini kedengaran seperti aku menuntut banyak darinya. Tapi…bisakah dia mengerti apa yang kuinginkan? Tidak! Aku tidak perlu dia mengerti.

Aku ingin dia…tahu, hanya mengetahui apa yang kuinginkan tanpa memenuhinya, setidaknya itu cukup membuatku yakin bahwa kami tidak begitu jauh dan berbeda dalam segala hal.

Bisakah?

 

Hari ini. Tepat 12 September ini.

Satu tahun hari jadi kami. Ya, hari ini! Hari dimana langit begitu cerah, matahari bersinar terang, dan udara sejuk menyegarkan (bukankah ini langka?) Dan aku menelepon Chanyeol untuk pergi ke pantai, menunggu dalam diam untuk jawabannya selagi jariku menyilang, dan aku mendengar jawaban “ya” setelah itu, dan aku berdoa pada Tuhan, dalam hati terdalam, aku memohon: Jangan biarkan hari ini berakhir parah.

Aku menempel teru-teru bozu di jendelaku, berharap hujan pergi berlibur entah kemana. Aku melakukan beberapa “ritual” agar hari ini dapat berjalan sesuai keinginanku. Aku bercermin sejenak, memakai mini dress berwarna ungu muda, rambutku tertata rapi, dan aku sudah siap untuk berangkat, menunggu Chanyeol datang.

Tubuhnya yang tinggi keluar dari mobil. Dia memakai kacamata hitam dan…wow! Dia keren. Chanyeol memakai kaus putih dan jeans seperti biasa. Oke, oke, walau ini hari special dan dia berpakaian seperti layaknya Chanyeol pada hari-hari lain, aku tidak akan mempermasalahkannya, karena aku benar-benar tidak ingin merusak hari ini dan aku akan terus menjaga sikapku.

Biarkan satu hari ini saja, Tuhan.

Aku membuka pintu, menyapanya dengan senyuman dan wajah cerah, dan…hufftthhh Chanyeol tersenyum balik, itu permulaan yang baik.

Aku melangkah untuk membawanya dalam pelukan. “Happy 1st anniversary.” Bisikku pelan dan dia memelukku erat tanpa berkata apa-apa, hanya mengangguk. Beberapa saat aku hilang, menikmati aroma parfum Chanyeol yang maskulin.

Aku berharap dapat berada di posisi itu selamanya, namun CHanyeol melepaskannya, dan menatap ke belakangku. “Dimana barang-barangmu?”

“Oh ya, tentu, barang-barangku.” Aku sedikit melompat kaget dan menyerahkan tasku padanya, sedikit senang Chanyeol tidak memprotes karena tasku yang berat. Dia memasukkannya ke dalam bagasi mobil dan kami pun berangkat.

Aku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum sepanjang perjalanan. Musik mengalun lembut, aku mencuri pandang ke arahnya, hingga dia menoleh dan mengerutkan dahinya. “Ada apa? Kenapa kau memandangku seperti itu?”

Aku tergelak. “Tidak, aku hanya senang kita bisa dan merayakan satu tahun hari jadi kita yang pertama. Bukankah begitu?” tanyaku bersandar pada pintu agar bisa melihatnya lebih jelas. Ya, Tuhan aku bersumpah dari sisi ini, Chanyeol terlihat sempurna. Rambutnya yang sedikit berantakan tertimpa sinar matahari, lalu kaus putih itu, semuanya…

“Eumm…entah mengapa, aku merasa biasa saja.”

Oke.

Positif, positif. Berpikirlah positif! Aku memaksa diriku sedikit lebih keras untuk tersenyum dan duduk kembali ke posisi sebelumnya. Aku menoleh sekilas pada Chanyeol. “Kacamata keren.” Komentarku sebelum membiarkan music yang mengisi kekosongan diantara kami, hingga laut biru itu mulai kelihatan, indah dan menyenangkan.

Aku membuka jendela, membiarkan angin laut beraroma asin menerpa wajahku, mengisi paru-paruku.

Mungkin aku terlalu berlebihan saat keluar, menginjak pasir di bawah sandalku. Aku terlihat norak dan tertawa senang berlari kecil kea rah bibir pantai. Chanyeol berada di belakang, mengikutiku dalam jarak beberapa meter.

Kulepaskan sandalku dan mulai membiarkan air membasahi kakiku, sensasi dingin merayap dikulit, aku sedikit merinding, namun masih terbawa suasana senang. Aku berbalik dan melihat Chanyeol berdiri disana, berada di belakang garis pasir basah. Dia tidak membuka sepatunya, hanya berdiri menyilangkan tangan di dada, memperhatikanku seakan aku ini adalah anaknya yang perlu diawasi.

Aku menghampirinya, memeluk lengan Chanyeol sambil tersenyum. “Apa yang kau tunggu? Ayo lepas sepatumu dan berjalan-jalan disana.” Pintaku sedikit memelas.

Namun Chanyeol tidak bergeming. “Disini sudah cukup. Kau saja yang berjalan.”

“Tapi ini kan hari jadi kita. Aku ingin kita berjalan dengan ombak menyentuh kaki kita. Itu akan terlihat romantic-“

“Kenapa tiba-tiba kau jadi puitis seperti ini? Aku mau tetap ada disini, aku tidak mau celanaku basah.” Potongnya, membuatku cukup panas, bukan hanya karena matahari yang mulai membakar kulitku. “Lagipula, mataharinya sangat terik. Apa kau tidak merasa kepanasan, heh?” Chanyeol mengusap-usap lengannya.

Oke.

Sabar, sabar.

Aku menunjukkan senyumanku lagi sebelum menarik-narik tangannya. “Ayolah, Chanyeol. Kau bawa baju ganti kan? Lagipula itulah alasan kita kesini, kita bermain air dan pasir.” Jujur saja aku sudah menata rencana di dalam kepalaku. Aku melihat diriku berpegangan tangan dengannya, menyusuri tepi pantai sambil bermain air, mengobrol, sampai saatnya kami duduk di pasir yang basah, memandang matahari terbenam di ujung laut. Huffftthh, itu super duper sempurna, namun melihat keadaannya saat ini, aku mulai ragu.

Tapi aku belum menyerah! (menyemangati diri sendiri)

“Kita bisa berjalang dengan payung.” Aku memeragakannya dengan sangat baik, namun Chanyeol lagi-lagi ‘memukul’ jatuh diriku yang hampir melayang. Dia menggosok lehernya dan memandang kea rah lain. “Kau bisa berjalan sendiri, lalu bisakah kita makan setelah itu? Aku lapar.”

Oke! Ini memang sudah jam makan siang dan ya, aku juga lapar. Tapi aku rela mengesampingkan semuanya demi rencana ini dan dia…dia…

Aku mengambil napas dalam-dalam dan kini aku tidak bisa tersenyum. Kupakai sandalku dan berjalan ke arahnya. “Kita makan. Tapi setelah itu, aku mai kita berjalan di sepanjang pantai. Oke?” ujarku sedikit galak.

Chanyeol tidak menjawab, dia merangkul tubuhku yang lebih pendek darinya, sedikit terhuyung, lesu melihat diriku sendiri menjauh dari pantai menuju restoran.

Kami memesan beberapa makanan seafood yang sesungguhnya…aku sedikit alergi dengan udang. Tapi tidak masalah, karena aku selalu membawa obat anti alergi dan lagipula…Chanyeol baru saja memasukkan dua udang yang besar ke dalam mulutnya.

Dia benar-benar kelaparan.

Aku menghela napas, cukup keras hingga Chanyeol menatapku bingung. “Ada apa?”

Hei, Park Chanyeol! Apakah kau perlu bertanya seperti itu? Jangan pandang aku dengan matamu itu, karena, ya, aku sangat membencimu sampai rasanya ingin merebusmu bersama udang-udang itu!!

Tenang saja. Itu hanya suara dalam kepalaku J

Aku tersenyum lebar, memainkan garpuku mengaduk-aduk piring yang masih penuh. “Kau…lapar?” tanyaku tiba-tiba merasa konyol.

Chanyeol tergelak sambil melanjutkan makannya. “Sangat. Aku belum sarapan pagi ini.”

Oh, haruskah aku mengelus kepalamu dan merasa kasihan?

Tidak ada kata-kata yang tepat untuk membalasnya, tapi dari caranya memakan, melahap setiap makanan itu, aku merasa ada sesuatu yang janggal.

Park Chanyeol memang suka makan, tapi…

Tidak seperti ini.

Dia makan dengan sangat cepat, aku mengira dia hampir lupa mengunyah makanan itu di mulut. Setiap suapan membuat pipinya menggembung karena makanan di dalam mulut sebelum semuanya ditelan. Aku bersandar pada kursiku, menelaahn perilakunya. Aku ingat betul pernah melihat tingkah Chanyeol seperti ini saat dia akan menghadapi ujian tengah semester.

Apa…

Dia stress?

Aku menggelengkan kepalaku, berkata dalam hati bahwa itu tidak mungkin. Ini pantai! Tempat semi-surga yang menenangkan jadi tidak ada alasan untuk merasa tertekan. Aku pun menghilangkan pikiran itu dan mulai merayu Chanyeol untuk berjalan di pantai setelah selesai makan.

“Kau sudah selesai makan? Ayo kita jalan-jalan…”

“Aku kekenyangan.” Lagi-lagi dia memberikan tatapan puppy eyes-nya itu. “Lihat perutku! Oh! Gendut sekali.” Aku tahu dia sedang beralasan dengan memukul-mukul perutnya yang buncit.

Aku segera beranjak dan melemparkan serbet ke arahnya dengan kesal. “Terserah! Urusi saja perutmu. Aku pergi.” Aku mendengar suaranya memanggil-manggilku dari belakang, tapi aku tahu dia tidak bergerak dari sana sedikit pun.

Uggh!!

Aku mengelap air mata yang berhasil lolos dari mataku setelah beberapa saat kutahan. Restoran di belakangku semakin kecil terlihat. Aku duduk di pasir yang basah, tidak peduli dress-ku. Ini sungguh menyebalkan! Hari ini tidak akan berakhir menyenangkan. Aku bisa jamin seratus persen beberapa jam kemudian, aku akan keluar dari mobilnya dan menangis di kasurku sepanjang malam.

Ini…

Buruk!

Aku memainkan pasir ketika mendapati ranting kecil di dekatku. Kutulis nama Park Chanyeol disana beserta keluhan-keluhanku, beberapa sifat menyebalkan Chanyeol dan gambar wajahnya bersama rambut setengah keritingnya.

Entah apakah pantai ini membenciku menghina Chanyeol, atau mereka benar-benar jatuh cinta pada si tinggi itu, karena semua hasil karyaku tersapu air laut dan membersihkan semua hal tentang Chanyeol. “Ya! Kau…iiissshh!” aku kembali menggambar ketika air surut.

Park Chanyeol adalah kacang panjang!

Park Chanyeol adalah udang yang tidak bungkuk!

Park Chanyeol-

Aku menengok kea rah restoran, dimana kulihat Chanyeol melambai dari luarnya. Aku segera membuang wajah dan melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.

adalah ranting jelek yang kering!

Lalu ada sebuah gambar wajah Chanyeol memakai kacamata hitamnya yang keren. Sekali lagi, dan kupastikan ini adalah yang terakhir, air laut menghapus segalanya. Tidak hanya itu, dia juga membawa sebelah sandalku dan air surut dengan cepat, seolah menggodaku, mengajakku bermain.

“Hei! Hei! Sandalku!” aku pun mengejarnya.

 

***

 

Chanyeol memainkan ponselnya, memutar lagu cukup keras hingga dia tidak sadar bahwa ada pelayan di sampingnya, berusaha memberikan bill. Butuh beberapa menit untuk Chanyeol menyadari dan segera mengeluarkan dompet. Dia membayar semuanya dan tampak sedikit khawatir bahwa kekasihnya tidak memakan semua makanan itu.

Tidak sengaja Chanyeol menyenggol jatuh payung yang didepannya. “Aiishh, katanya ingin pakai payung.” Ujarnya mengembalikan payung itu ke posisi semula dan dia mengedarkan pandangan ke arah pantai. Pantai tampak bersih, biru, dan ombak berwarna putih saat bergulung-gulung menghampiri daratan.

Chanyeol menyukainya, sangat menyukainya. Dia menutup mata, menghirup aroma menyegarkan yang memanjakan hidungya.

Namun jantungnya tiba-tiba melompat seiring dia tidak menemukan sosok itu. Chanyeol berdiri terlalu cepat. Meja bergetar karena menabrak tubuhnya dan kakinya terasa lemas, berubah menjadi setumpuk jelly.

Dimana dia?

Otaknya lumpuh seketika, saraf-sarafnya melemas, dia tidak sanggup melangkahkan kakinya ketika memori itu menyeruak ke dalam kepalanya. Namun ini tidak boleh terjadi, dia memaksakan dirinya untuk berlari ke pantai selayaknya penjaga pantai.

Dimana dia? Dimana dia?

Chanyeol merasa dunia mengkerut, tidak menyisakan ruang untuk bernapas saat dia tidak bisa menemukan gadis itu. Sia-sia. Pantai kosong tanpa satu makhluk pun. Chanyeol memanggi-manggil namanya, tapi yang dia dengar hanyalah deburan ombak yang tidak menjawab pertanyaannya. Beberapa orang di restoran melihatnya bingung, namun Chanyeol lebih dari mereka. Dia ingin mati saja jika tidak menemukan kekasihnya dalam beberapa jam. Haruskah dia menelepon penjaga pantai?

Chanyeol berhenti seketika sebelum kakinya menginjak garis pasir yang basah. Dia ragu, dia sangat…

Takut.

Meskipun dia memakai sepatu, pasir basah itu tetap terasa aneh dibawah kakinya. Meskipun dia menyukai air dingin menyentuh kulitnya, air laut membuatnya merasa asing dan benci mereka membasahi celana jeansnya. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain…

 

***

Aku berhasil mengambil sandalku. Hei, ini sandal mahal, tahu! Aku tidak peduli seberapa jauh air membawanya, tidak peduli dress kesayangan dan paling special ini jadi basah. Kini aku kedinginan, aku memeluk diriku sendiri melewati beberapa penjual aksesoris sebelum benar-benar berhenti karena kalung mutiara berwarna pink itu jelas menarik perhatianku.

“Berapa harganya?” tanyaku sambil memegang kalung itu di tangan, tanpa mengingat bahwa aku benar-benar pergi dengan tangan kosong. Lagipula, aku berjalan cukup jauh dari restoran dan tempat aku duduk tadi. Hufftth, ini benar-benar membuatku frustasi. Aku tidak mungkin bisa membelinya.

Tapi…

Tiba-tiba aku melihat sosok tinggi itu, setengah berlari ke arahku.

Selamatlah hidupku! Kalung ini bisa jadi milikku!

Aku melambaikan tangan dan tersenyum secerah mentari pagi. Aku tidak bisa melihat wajah Chanyeol dari sini, dia cukup jauh dan aku tidak memakai kacamata, maka itu aku benar-benar tidak tahu ekspresinya saat dia berjalan menghampiriku.

Semuanya nampak jelas ketika Chanyeol semakin dekat, hanya berjarak beberapa meter. Langkahnya besar-besar, wajahnya…entahlah aku tidak tahu apa yang terjadi. Poninya basah, menempel di dahi, celana jeansnya setengah basah, dan aku tahu ada yang tidak beres disini. Tapi sekali lagi aku katakan, aku tidak punya ide apa-apa tentang orang ini. Apa yang dia lakukan sampai celananya basah seperti itu? Apa dia bermain air sendirian?

“Hei, sayang, kau sudah selesai makan? Coba lihat in-“ Chanyeol memotong kalimatku dengan memelukku erat-erat hingga aku hampir tidak bisa bernapas. Apa Chanyeol bermaksud membunuhku? Hei, ini sama sekali tidak lucu, Park Chanyeol! Aku benar-benar tidak bisa bernapas.

Namun, di samping itu aku mendengar suaranya yang berbeda, terselip nada khawatir dan aku menyadari tubuhnya bergetar. Sekejap aku tidak peduli dengan pelukannya yang membunuh ini, dan aku merasa pelukan ini semakin nyaman.

“Kau kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana. A-aku…kira kau tenggelam dan, dan…” baru kali ini aku mendengarnya tergagap seperti itu. Aku mendorong tubuhnya agar pelukan kami terlepas dan memegang wajahnya. Dia terlihat ketakutan, matanya membesar. Aku menyapukan ibu jariku pada pipinya dan berkata, “Aku hanya jalan-jalan sebentar, sayang. Kau lihat, aku tidak apa-apa.” Aku berbicara dengan sangat perlahan.

“Tapi kau menghilang seperti itu. Aku membayangkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi padamu. Aku…” kini aku memeluknya lagi dan mencoba menenangkan Chanyeol.

Astaga…apa yang sedang terjadi saat ini? Chanyeol khawatir, dia cemas saat melihat aku tidak berada disana. Dia…Chanyeol, pacarku yang bernama Park Chanyeol ini KHAWATIR!! Haruskah aku melompat-lompat gembira dan menyalakan kembang api?? Karena ini sebuah sejarah!

“Aku tidak apa-apa, Chanyeol. Aku…”

“Jangan seperti itu lagi!” ada nada peringatan dalam suaranya dan itu membuatku tersenyum di bahunya. Kami berpelukan cukup lama di depan penjual kalung itu.  Aku tidak peduli, mungkin ini terlihat seperti film remaja murahan, tapi…hei! Ini berjalan seperti yang kuinginkan. Kami berpelukan di tepi pantai, minus penjual kalung tentunya.

 

Kami duduk di pasir, saling berdiam diri. Chanyeol memandang laut di depan, sedangkan aku mengagumi kalungku yang cantik. Mereka bersinar lembut di bawah matahari, Chanyeol membelikannya untukku dan haruskah aku menganggap ini adalah hadiah untuk ulang tahun hari jadi kami? Chanyeol bernapas pelan di sampingku dan aku menyandarkan kepalaku dibahunya.

“Kenapa kau harus setakut itu?” tanyaku.

Chanyeol diam saja, namun setelah itu aku baru mendengar suaranya, melantun pelan menceritakan pengalaman buruknya terhadap laut. Saat umurnya menginjak 5 tahun, sebagai hadiah ulang tahun, mereka sekeluarga pergi ke pantai. Chanyeol kecil sangat suka bermain pasir bersama kakaknya. Lalu tiba-tiba ombak membawa seperangkat mainannya. Chanyeol berusaha mengambilnya, berlari mengejarnya tanpa peduli perkataan kakaknya yang menyuruh untuk tetap disana dan tidak perlu mengambil mainan itu. Namun Chanyeol tidak mendengarkannya, terus berlari ke tengah laut hingga kakinya tidak lagi mempunyai tempat untuk berpijak. Chanyeol kecil tenggelam, untunglah dia masih bisa terselamatkan. Namun itu menjadi pengalaman pahit dalam hidupnya. Membekas selamanya.

Ini menjadi masuk akal ketika mengingat bagaimana cara Chanyeol makan tadi siang. Dia benar-benar stress.

“C-Chanyeol, kenapa…kenapa kau tidak bilang dari awal? Kita bisa pergi ke tempat lain. Tidak perlu ke tempat ini.” Pekikku tiba-tiba merasa bersalah. Semua kekesalanku yang bersarang selama satu tahun bersih tersapu seperti air laut menyapu pasir.

Chanyeol menggeleng, masih tidak melihatku. “Kau senang pergi ke pantai, iya kan? Aku mendengar suaramu di telepon, sangat gembira. Mana bisa aku menolaknya, lagipula hari ini adalah ulang tahun hari jadi kita yang pertama. Aku tidak ingin merusaknya.”

“Kau konyol, Park Chanyeol! Kau harus tahu itu!” pekikku kesal. Ini bukan kekesalan yang biasa kutunjukkan saat Chanyeol berubah menjadi orang paling menyebalkan di muka bumi. Tapi ini terasa seribu kali lipat menyebalkan daripada biasanya. Dadaku naik turun karena emosi. Kupegang wajahnya agar melihatku.

Chanyeol menaikkan alisnya, tidak berbicara apa-apa atau protes, karena aku juga tidak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang. Otakku mampet seperti wastafel di rumah, aku tidak bisa berpikir. Selama ini aku kira Chanyeol adalah orang yang tidak peduli, cuek, tapi aku baru sadar ternyata dia tidak seperti yang kupikirkan.

Dia peduli! Dia peduli kepadaku, sampai dia mengesampingkan ketakutannya demi kesenanganku semata. Dan kini aku merasa sangat bersalah. Seribu kali lipat merasa bersalah.

“Maaf.” Bisikku hampir menjatuhkan air mata yang menggenang di pelupuk. Aku tidak berharap Chanyeol memaafkanku, karena ini terlalu parah. Aku tidak heran jika sehabis ini Chanyeol akan berubah menjadi hulk dan mengamuk. “Maafkan aku, Chanyeol. Aku tidak tahu kalau…”

 

Kalau…

 

Kau akan menciumku seperti ini.

 

Chanyeol menghentikan mulutku untuk berbicara lebih jauh lagi dengan menciumku. Bibirnya bergerak perlahan, lembut dan manis terasa. Aku memejamkan mata dan tanpa kusadari lenganku melayang, melingkar di lehernya, mempertipis jarak diantara kami.

Hei, ini fantastis! Ini hebat! Tepat seperti apa yang aku bayangkan.

Kami memisahkan diri, namun masih menjaga jarak kami agar tetap berdekatan. Chanyeol bernapas pendek-pendek sama sepertiku. Dia melengkungkan senyum. Dahi kami bersentuhan dan ya Tuhan! Ini terlalu sempurna! Ini terlalu hebat! Kau membuatnya terlalu baik dan romantic.

“Jangan seperti itu lagi, oke? Berjanji padaku.” Napas Chanyeol terasa menyenangkan.

Aku pun mengangguk kecil, “Janji. Dan kita tidak akan pernah pergi ke pantai lagi.” Ujarku sedikit pahit, karena aku sangat menyukai pantai, tapi mungkin aku bisa pergi sendiri kesini tanpanya.

Chanyeol menggeleng. “Tidak.”

Tidak?

“Pantai oke. Tapi tidak ada berjalan di tepi pantai dan membiarkan kaki kita terkena ombak.” Dia meng-copy kata-kataku. Aku pun tertawa dan menjauhkan diri, mengira ini semua sudah selesai, namun Chanyeol menarik wajahku kembali dekat dengannya.

“Kita belum selesai.” Gumamnya.

“A-apa?” apakah ada perjanjian lain lagi.

Tidak. Tidak ada perjanjian.

Chanyeol tersenyum, memamerkan sederet giginya yang putih. Dia menciumku beberapa kali hingga aku hanyut dalam ciuman yang panjang dan menyenangkan.

 

Oke, Park Chanyeol. Harus kuakui kau adalah pria ter-romantis di muka bumi ini.

 

THE END

***

Waaaaaaaaaa…

author blushes nih hahaha (bikin sendiri malah malu sendiri. aneh lu thor)

jadi gimana, chingudeul? *ngomong sambil ngumpet di belakang Baekhyun* baguus gak??

udah, jawabnya di comment aja yah hehe

gomawooo :*

 

16 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] Be Romantic

  1. OMG!
    Chanyeol noona.noona jga mau di ehem… Kyak gtu(?)*sambil lirik luhan*

    Romantisnya Ya allah ^_^.tp koq rada merinding bgian trakhrnya. Tap…tapi KECE BADAI lah crtanya^_^.

    Aku tnggu karya barunya^_^.
    FighTAENG yaaa^_^.

  2. Waaaaaaa ending nya bikin ngiler dan ngebayangin seandainya….. ( woy lg puasa) ceritanya bagus banget author apalagi narasi pembukanya bikin ketawa haahaha two thumbs up buat author kereeeen

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s