[Freelance – Oneshoot] History Of Our Loves

Title: History of Our Loves

Length: Oneshoot

Rating: Mollaaa~~~ XD

Genre:  Sad, Romance

Author: SeuLiie Strife

Main Cast: Wu Yi Fan/Kriss (EXO-M)

                    Wang Lulu (OC)

Support Cast: Zhang Yi Xing/Lay (EXO-M)

                         Xiao Zi Ya (OC)

                        Zhou Wei Lai (OC)

Cuap2 penulis: Hedeehh…entah harus bilang apah sayah, tiba2 sajooh tangan sayah bergerak untuk buat fanfiction inih. Dan terobsesih si wuyipan(kris) bisa jadi dokter XD. Sayah minta comment2 pemirsah readers sekalian untuk mengomentari fanfiction sayah yang aneh ginih.

So…gx usah banyak cingcong deh…cekidoottt…hana dul seeeettt!!!

Di salah satu distrik di China, di rumah sakit swasta ternama ada dokter yang sangat dingin yang bernama Wu Yi Fan. Dia merupakan dokter penyakit dalam yang termuda di rumah sakit itu. Dia adalah dokter lulusan Canada, yang lebih banyak dipanggil dengan nama Kriss. Usianya masih 23 tahun. Namun, diusianya tersebut hingga kini dokter itu masih belum memiliki kekasih. Ini membuat orang tuanya khawatir dengan masa depan anaknya tersebut walaupun sang anak memiliki karir yang baik. Wu Yi Fan adalah anak dari pemilik rumah sakit tempatnya ia bekerja sekarang. Jadi, wajar saja bila dia datang, banyak yang menyapanya dan hormat padanya.

“Dokter! Pasien yang berada di ruang ICU kritis!”, ujar seorang perawat yang memasuki ruang kerjanya.

Dengan segera Kriss langsung mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien tersebut.

“Siapkan peralatan!”, ujarnya yang langsung berlari ke ruang ICU tersebut.

Dengan peralatan rumah sakit yang canggih, dan penanganan dari seorang dokter yang bertangan dingin, nyawa pasien tersebut perlahan – lahan membaik. Ya, pasien itu adalah pasien yang baru seminggu yang lalu dioperasinya. Pendarahan otak karena kecelakaan lalu lintas adalah penyebabnya. Karena itu, Kriss mengoperasinya dengan membuka tulang tengkoraknya dan segera menyedot darah yang sebanyak satu sendok teh dari pendarahan otaknya tersebut. Pasien itu bernama Wang Lulu. Seorang gadis yang berusia tidak jauh darinya. Hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Kriss.  Pasien tersebut masih dalam kondisi koma.

Sebelumnya, gadis itu berambut panjang. Namun karena operasinya tersebut, rambutnya harus dihabiskan semuanya. Sekarang ini, hanya wajah tertidurnya saja yang terlihat dengan selang yang berada di hidung dan mulut gadis tersebut. Alat kardiografi di meja sampingnya menunjukkan detak jantungnya.

“Kasihan sekali pasien ini. Hingga kini belum ada keluarga yang menjenguknya walaupun biaya rumah sakitnya telah dibayar lunas.”, ujar perawat itu sambil membetulkan letak selang yang menghubungkan tabung oksigen ke hidungnya.

“Really? Tidak ada keluarga yang menjenguknya?”, tanya Kriss yang hanya bisa menatap wajah gadis yang tengah tertidur itu. Sang perawat pun hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.

“Well, kita biarkan dia istirahat saja. Terus pantau perkembangannya.”, ujar Kriss lagi yang berjalan ke luar ruangan.

Di ruang kerjanya, Kriss tampak sibuk mengerjakan pekerjaan ayahnya yang diserahkan padanya. Kriss harus bertanggung jawab atas laporan rumah sakit selama ayahnya di Jerman.

“Aisshh!! Ayah, kenapa harus memberikan ini semua padaku sih?!”, umpat Kriss yang menjauhi berkas – berkas yang masih menumpuk di atas mejanya.

Hari semakin larut. Kriss tidak mau kembali ke apartmentnya sebelum pekerjaannya selesai. Dia memang tinggal terpisah dari orang tuanya walaupun sama – sama berada di China. Alasannya simple. Dia hanya ingin tempat yang sepi.

“Ssshh!! Aku jenuh dengan ini semua.”, batinnya sambil memijat pelipisnya pelan.

Drrtt…drrrrtt….

“Ya, Bu??”, sapa Kriss saat ibunya menelpon.

“Tidak. Aku masih di rumah sakit. Aku akan pulang ke apartment saja. Ibu jaga kesehatan ya.”, ujar Kriss lagi. Dan tak lama mereka berbicara, akhirnya Kriss meletakkan ponselnya kembali di sampingnya.

“Haah..kurasa aku harus cari udara segar di luar.”

Dan tiba – tiba saja Kriss teringat dengan Lulu, pasiennya yang hingga kini belum dijenguk oleh siapa pun. Terlintas dipikirannya untuk menjenguknya. Kakinya pun melangkah ke ruang ICU. Cukup sepi suasana rumah sakit ini mengingat sekarang sudah jam 11 malam.

Kriss pun mengenakan baju khusus untuk berada di ruang ICU dan segera menukar sepatu yang ia kenakan dengan slippers rumah sakit.

“Dokter…?”, tanya perawat yang bertugas di ruang ICU.

“Oh, hi.”, jawab Kriss dengan datar.

“Apa ada saudara dokter yang masuk di ruangan ini?”

“Tidak. Aku hanya ingin memantau pasienku saja.”, jawab Kriss yang kemudian masuk ke ruangan di mana Lulu di rawat.

“Detaknya lemah sekali.”, batin Kriss saat melihat alat kardiografi yang tersambung pada Lulu.

“Bertahanlah untuk keluargamu. Buka matamu, kurasa kau tertidur terlalu lama. Mereka pasti akan menjengukmu. Percaya itu.”, ucap Kriss pelan di sampingnya.

Sudah seminggu pasien itu masih terbaring koma. Sebagai dokter, Kriss merasa kesal dengan dirinya karena dia tidak bisa membuat pasien itu tersadar.

“Apa ada yang salah saat operasinya?”, pikir Kriss yang kemudian langsung menelpon ayahnya.

“Ada apa Kriss menelpon ayah yang tengah sibuk seperti ini?”, ujar ayahnya.

“Ayah, kalau ayah terganggu, aku akan menelponnya nanti.”

“Tidak usah. Cepat sekarang saja.”, balas ayahnya.

“Begini, aku habis mengoperasi pasienku seminggu yang lalu, tapi kenapa hingga kini dia masih koma juga?”

“Apa yang kau operasi?”

“Otak?”, jawab Kriss lagi.

“Itu wajar Kriss. Kau membuka tengkorak kepalanya, dan mengoperasi otaknya. Di kepala manusia itu banyak sekali saraf, Kriss. Dan nantinya, kau jangan kaget kalau pasienmu itu tidak bisa berbicara lancar dan….”

“Lumpuh sementara.”, sambung Kriss.

“Ya, begitulah. Memang tugas dokter itu berat. Kau harus terus memantau perkembangan pasien – pasienmu, Kriss.”

“Ayah sedang sibuk sekarang. Ada lagi yang ingin kau bicarakan?”

“Tidak. Maaf, aku mengganggumu, ayah.”

“Okay, sampai nanti.”, jawab ayahnya.

Hari terus berjalan. Minggu pun telah berganti bulan. Pasiennya yang bernama Lulu masih juga belum sadar dari komanya. Ini membuat Kriss mencemaskan pasiennya itu. Selama dia mengoperasi, pasiennya tidak pernah ada yang koma selama ini. Keadaannya semakin parah ketika tidak ada keluarga yang menjenguknya seolah dia terlupakan dan sudah musnah dari bumi ini.

“Kriss…”, panggil seorang wanita paruh baya padanya saat dia berada di kantin untuk makan siang.

“I..ibu..?? Kenapa ada di sini?”

“Ibu hanya ingin bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?”

“Buruk.”, jawab Kriss singkat.

“Buruk? Ada apa denganmu?”

“Ada satu pasienku yang masih koma sudah sebulan ini. Kurasa lebih dari sebulan.”

“Oh, baiklah. Ibu tidak ingin mengganggumu dengan pikiran itu lagi. Boleh ibu bicara sesuatu?”

“Ada apa, Bu? Bicara saja.”, jawab Kriss sambil menyesap juice jeruknya.

“Kau lihat foto ini. Namanya Zhou Seo. Cantik bukan?”, tanya ibunya menunjukkan foto seorang gadis berambut panjang dan berwajah oriental padanya.

“Cantik.”, jawab Kriss datar sambil menopang dagunya dengan tangannya.

“Hanya itu komentarmu?”

“Jadi, apa lagi?”, tanya Kriss balik.

“Ibu mengkhawatirkanmu Kriss. Kenapa kau belum juga mau menikah? Atau paling tidak kenalkan ibu pada pacarmu. Kau tahu, sebenarnya ibu sudah ingin menggendong cucu dari anak semata wayangku.”

“Aku masih belum memikirkan itu, Bu.”

“Mau sampai kapan? Kau sudah mapan, apa lagi yang kau tunggu?”

“Coba ibu berada di posisiku. Kalau seandainya ibu tidak mencintai orang tersebut, apa ibu mau menikah?”

“Tapi, sampai kapan?”

“Sampai aku menemukan gadis yang tepat untukku.”, jawab Kriss.

“Haahh! Kau ini seperti ayahmu saja! Susah sekali dikasih tahu!”

“Hahaha. Wajar kan? Aku anak kalian berdua.”, jawab Kriss lagi.

“Haaahh! Ya sudah, ibu mau belanja saja.”

“Hati – hati ya, Bu. Cepat beritahu aku kalau ibu sudah di rumah.”, ucapan Kriss hanya ditanggapi dengan acungan ibu jari ibunya.

Kali ini, Kriss kembali mengunjungi Lulu yang masih berada di ruang ICU-nya. Belum ada perubahan padanya. Masih tampak seperti sebulan yang lalu. Kriss pun menarik kursi yang memang disiapkan untuk keluarga yang menunggui pasien.

“Sadarlah. Kau pasien pertamaku yang bisa koma selama ini.”, ujar Kriss yang menopang dagunya sambil menatap Lulu yang masih memejamkan matanya.

Cukup lama Kriss berada di sampingnya, sampai akhirnya perubahan membaik pun terjadi. Perlahan jarinya mulai bergerak yang tidak sengaja menyentuh permukaan kulit tangan Kriss yang membuat Kriss sedikit senang. Dengan segera dia memeriksa Lulu dibantu oleh perawat yang ia panggilnya. Kini Lulu perlahan membuka matanya dan mulai melihat dunianya kembali. Sorot mata Kriss pun semakin terlihat gembira melihat pasiennya bisa membuka kedua kelopak matanya.

“Siapa dia?”, batinku.

“Kau sudah kembali rupanya. Welcome back, Wang Lulu.”, ujar pria yang berada di depanku yang tengah memakai jas putihnya. Apa dia dokter di sini?

Aku pun harus mengucapkan terima kasih padanya karena mungkin dia adalah dokter yang merawatku. Namun…apa ini?! Kenapa denganku?? Ada apa dengan pita suaraku?! Aku tidak bisa menggerakkan semua anggota tubuhku. Ada apa denganku?!!! Ini akan sia – sia saja, kurasa! Hanya air mata yang kualirkan dari kelopak mataku untuk menunjukkan ekspresi kecewa dan sedihku ini. Pria ini menghapus aliran air mata yang mengalir di pipiku seolah mengerti maksudku.

“Tenang saja. Ini akan sementara. Kau akan perlahan pulih kalau kau rajin terapi.”, ujar pria itu lagi.

Kepalaku benar – benar sakit. Aku bahkan tidak bisa meraba kepalaku sendiri. Menyedihkan! Aku hanya bisa memutar bola mataku saja untuk memberikan kode pada lawan bicaraku.

“Kepalamu masih sakit? Kalau masih sakit kau bisa mengerjapkan matamu satu kali. Kalau tidak sakit, dua kali.”, ujar pria itu lagi.

Sesuai instruksinya, aku mengerjapkan kedua mataku sekali. Ini masih benar – benar sakit. Dengan segera dia memeriksa kondisi kepalaku. Kurasa kepalaku terbalut perban yang tebal. Tiba – tiba saja datang seorang wanita lagi.

“Ini dokter terapi untukmu, Zhang Yi Xing. Panggil saja dia Lay. Berlatih lah menggerakkan tubuhmu dengan dia. Jawab aku seperti tadi ya. Sekali untuk iya, dua kali untuk tidak.”, aku menyetujuinya dengan mengerjapkan kedua mataku sekali. Namun, rupanya ia bisa membaca raut wajahku yang terlihat bertanya – tanya.

“Dia temanku. Kau tidak usah khawatir. Aku sudah mengenalnya lama.”, jawab Kriss.

Hari ini aku mulai terapi dengan dokter ini. Pertama – tama, aku menggerakkan jari – jariku. Ini sangat sulit sekali! Berapa lama aku tertidur hingga sekaku ini tubuhku?

“Lulu?! Ini benar Lulu yang kukenal?? Kenapa kau bisa terbaring di sini, Lulu?”, batin Lay.

“Rasanya aku seperti mengenali orang ini. Siapa dia ya? Akh! Kepalaku sakit sekali!”, batin Lulu saat melihat Lay.

Zhang Yi Xing, adalah mantan kekasih Lulu saat SMA.  Keduanya berpisah karena Lay yang pindah ke Seoul untuk kuliah kedokterannya semenjak hubungan keduanya tidak direstui oleh orang tua kedua belah pihak. Semenjak perpisahan itu, Lay mencoba menghubungi Lulu, namun selalu nihil. Tetap tidak bisa menghubunginya. Bahkan nomornya pun sudah ganti. Melihatnya kini terbaring dihadapannya dengan kondisi seperti ini, membuatnya hatinya yang masih mencintai Lulu terasa sakit.

“Baiklah, kutinggal kalian berdua.”, ujar Kriss memecah keheningan.

“Hemm, gege tidak usah mengkhawatirkannya.”, ujar Lay menepuk bahu Kriss.

“Latihlah dia walaupun itu susah. Permisi.”, jawab Kriss lagi.

Lay pun mulai mengajak Lulu berbicara, “Jadi kau Wang Lulu?”

Lulu hanya menjawabnya dengan kerjapan matanya sekali.

“Apa dia tidak ingat aku?”, pikir Lay.

“Kau tahu? Melihatmu seperti melihat seseorang yang kukenal dulu.”, ujar Lay yang membantu Lulu menggerakkan jari – jarinya. Sedangkan Lulu hanya menatap lay dengan tatapan tidak mengerti.

“Baiklah, lupakan itu. Kita latih saja fungsi otot – ototmu.”, jawab Lay tersenyum pada Lulu.

“Aku harus merahasiakan ini dari gege. Jangan sampai gege tahu kalau Lulu mantanku dulu. Kurasa perhatian gege padanya sangat berbeda.”, batin Lay.

“Oh ya, jika kau nanti sudah bisa bicara, aku mau kau bisa memanggilku dengan namaku saja, tanpa sebutan ‘dokter’. Okay?”, tanya Lay yang juga dijawab dengan kedua mata Lulu.

Malam ini kudengar pintu ruanganku seperti dibuka seseorang. Pria itu lagi. Tapi kali ini dia tidak mengenakan jas putihnya dan hanya kemeja garis birunya dan juga celana hitamnya saja.

“Kau sudah baikkan?”, tanyanya yang hanya kubalas dengan sekali kerjapan mataku.

“Hey, kenapa kau menangis? Berhentilah menangis.”, ujarnya menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

“Kau tidak tahu, aku menangis karena sedih merasa tidak berguna untuk kembali ke dunia.”, batinku. Seandainya saja aku bisa mengatakan hal ini padanya.

“Hey, berhentilah menangis. Kau semakin membuatku bersalah.”, ujarnya lagi.

“Bersalah? Apa maksudnya?”, aku hanya bisa menuntut penjelasannya dari tatapanku padanya.

“Ah! Baiklah, kau belum tahu memang. Harus kumulai dari mana ya? Hemm, begini. Kau korban tabrak lari, lalu kau pendarahan cukup hebat di otakmu, lalu aku mengoperasimu, dan kau koma selama sebulan lebih, kurasa. Karena itu aku merasa bersalah padamu, karena kau koma sebulan lebih. Di tambah lagi kau menangis. Oh ya, aku Wu Yi Fan, panggil saja aku Kriss. Aku dokter yang mengoperasimu.”, aku hanya mengerjapkan mataku sekali karena mengerti dengan penjelasannya.

“Bagaimana terapimu tadi? Apakah berjalan baik?”, tanyanya. Dan aku ingin menunjukkannya dengan menggerakkan jari – jariku di tangan kananku.

“Wow! Kau hebat, Lulu!”, ujarnya.

“Bagaimana dengan yang kiri?”, tanyanya yang kubalas dengan dua kali kerjapan mataku.

“Kau belum bisa? Ayo kita latih tanganmu.”, ujarnya lagi. Kurasa dia orang baik.

Dengan sabarnya ia menemaniku malam ini sambil melatih jari – jariku untuk melemaskan otot – ototku yang kaku.

“Kau banyak perkembangan, Lulu.”, ujarnya senang.

Berminggu – minggu, berbulan – bulan, Lulu terapi setiap harinya bersama Lay. Dia kini sudah bisa duduk. Selain itu, artikulasinya saat bicara juga sudah benar. Dia sudah mulai bisa bicara sedikit demi sedikit. Dia juga sudah bisa menulis dengan tangannya yang sebelumnya tidak bisa digerakkan. Dan sekarang dia melatih kakinya untuk berjalan. Dia berlatih berjalan di ruang terapi dimana pasien akan berjalan dengan berpegangan pada besi yang berada di sisi kanan-kirinya. Mereka berdua pun sudah semakin dekat. Bahkan Lay juga mengetahui persoalan tentang keluarga Lulu yang hingga kini belum ada yang menjenguknya. Hingga kini Lay masih tidak mengerti, kenapa keluarga Lulu begitu tega meninggalkan anaknya begitu saja.

Dokter Kriss yang tadinya hanya memperhatikannya dari jendela, kemudian mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Perlakuan Kriss padanya kini sudah berubah. Yang semulanya hanya memperhatikannya sebagai dokter yang ingin melihat perkembangan pasiennya, sekarang mulai berubah dengan adanya perasaan nyaman dan mulai mencintai Lulu yang tentunya tanpa sepengetahuan Lulu sendiri. Bahkan image dinginnya pada orang lain kini perlahan berubah menjadi pribadi yang hangat.

“Bagaimana? Sudah bisa?”, tanya Kriss.

“Belum.”, jawab Lulu.

“Nanti sore kita bertemu lagi ya.”, pesan Kriss padanya. Dan Lulu hanya tersenyum.

“Wah wah, kalian dekat juga ya.”, ujar Lay pada Lulu ketika Kriss pergi.

“Ng?? Aku tidak merasa demikian. Dia itu menyeramkan!”, jawab Lulu.

“Dia sangat memperhatikanmu. Bahkan lebih memperhatikanmu belakangan ini.”, jawab Lay yang mencoba tersenyum pada Lulu meskipun hatinya sakit melihat kedekatan Lulu, gadis yang masih dicintainya dekat dengan sahabatnya yang sudah dianggapnya layaknya kakak sendiri, Kriss.

Sorenya setelah mengerjakan setumpuk berkas laporan untuk ayahnya, Kriss berjalan menuju ruangan Lulu. Kali ini bukan di ruang ICU, melainkan sudah berada di ruang rawat VVIP. Keluarganya selalu memfasilitasinya, tapi tidak ada satu pun yang datang menjenguknya.

“Lulu…”

“Euhm..?”

“Kau sedang makan?”

“Tidak. Aku hanya iseng memakan semangka ini.”, jawab Lulu.

“Kau mau jalan – jalan di taman?”

“Bolehkah?”, tanya Lulu lagi.

“Aku akan menemanimu.”, ujar Kriss yang kemudian berjalan mendekat ke tempat tidur Lulu.

“Pekerjaanmu?”

“Itu sudah selesai. Tidak usah dipikirkan.”, ujar Kriss lagi yang menggendong Lulu dan memindahkannya ke kursi roda.

“Kau suka?”, tanya Kriss padaku saat membawaku jalan – jalan di taman rumah sakit yang terbilang cukup luas.

“Ya. Bisa menghirup udara selain di ruangan itu sangat menyenangkan.”

“Benarkah? Justru aku merasa bosan.”, jawabnya yang kemudian berhenti mendorong kursi rodaku tepat di sebelah bangku taman di mana dia akan duduk.

“Bosan? Kenapa?”

“Aku bosan dengan kehidupanku.”, jawabnya yang menatap lurus ke depan.

“ Kenapa kau bosan? Kau bisa melakukan apa saja kan? Kau bisa berjalan, bahkan berlari. Kau punya tubuh yang sehat, tapi kau merasa bosan?”

“Sejujurnya, aku ingin meninggalkan dunia ini. Karena ak..”

“Kau bodoh!”, potongku.

“A..apa?”, tanya Kriss yang langsung menoleh padaku.

“Ya, kau bodoh! Kau tahu, pengalamanku yang nyaris mati membuatku lebih menghargai kehidupan. Semua itu tidak enak.”, jawabku.

“Kau tahu, apa yang kualami selama masa koma-ku? Aku diajak seseorang untuk pergi ke suatu tempat yang indah di sana. Aku juga disuruh tinggal disana selama kumau. Bahkan boleh selamanya. Tapi, karena aku ingat dengan keluargaku, aku lebih memilih mereka daripada memenuhi keinginanku sendiri. Seharusnya, kau juga ingat dengan keluargamu, Kriss. Keluargamu yang selama ini menyayangimu. Kurasa, sudah saatnya membuat mereka semua bahagia.”, kulihat Kriss hanya diam dan menatapku.

“Ah! Maaf, bukannya aku bermaksud mengguruimu.”, ujarku yang langsung meminta maaf dan menundukkan kepalaku.

“Tidak. Kurasa, kau benar. Aku kagum denganmu.”

Tanpa mereka sadari, sepasanga mata mengawasi mereka dari jauh. Siapa lagi kalau bukan Lay? Dia tetap ingin mengetahui perkembangan Lulu, meskipun dia harus menahan sakit.

“Apa kenangan saat kita bersama tidak berharga bagimu, Lulu? Kau melupakannya begitu saja.”, batin Lay.

“Di saat seperti ini, dia masih memikirkan keluarganya? Dia masih tetap memikirkan keluarganya walaupun hingga kini tidak ada satu pun keluarga yang menjenguknya.”, batin Kriss.

“Tapi, kenapa kau kembali terdiam?”, tanya Lulu yang membuat Kriss tersadar dari lamunannya.

“Ng? Tidak apa – apa.”, jawab Kriss lagi.

“Kriss…”, panggil Lulu.

“Euhm?”

“Xie-xie…”

“Untuk?”, tanya Kriss lagi.

“Untuk semuanya. Terutama untuk menjadi temanku. Kupikir aku tidak akan memiliki seorang teman lagi setelah aku kecelakaan.”

“Teman? Hanya teman? Aku berharap kita lebih dari itu, Lulu.”, batin Kriss.

“Kriss..??”, panggil Lulu lagi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Kriss yang melamun.

“Kau baik – baik saja? Kenapa kau terus terdiam?”, tanya gadis yang kini hanya memiliki rambut seleher. Rambut panjangnya sudah dipotong habis semenjak operasi itu.

“Aku baik – baik saja.”, jawab Kriss singkat.

“Aku tidak suka kau seperti ini. Aku lebih suka kau sering – sering tersenyum. Apa kau lupa lagi cara tersenyum?”, tanya gadis yang tengah duduk di kursi rodanya.

“Aku tidak akan lupa. Karena kau yang telah mengajariku kembali untuk tersenyum.”, sebuah senyuman pun terukir dari bibir pria tersebut pada gadisnya yang duduk di kursi roda.

“Kau sudah terlalu lama di luar. Ayo masuk.”, ujar Kriss yang kembali mendorong kursi rodanya memasuki gedung kembali.

“Aaaa!! Aku tidak mau!”

“Kenapa?”

“Kau mau menemaniku melatih kakiku sekarang?”

“Tidak sekarang, nona Wang Lulu.”

“Sebentar sajaaa…boleh yaa…”, rajuk gadis itu yang hanya dijawab dengan gelengan kepala Kriss.

“Kau tidak mau membantuku berjalan??”, tanya Lulu lagi yang kali ini dengan tatapan memohonnya pada Kriss. Dan akhirnya, Kriss pun kalah oleh mata Lulu.

“Haaahh….baiklah. Hanya 15 menit. Okay?”, ujar Kriss yang dibalas anggukan Lulu.

Kriss menurunkan kedua kaki Lulu dari pijakan kursi rodanya. Perlahan – lahan Lulu menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu untuk berdiri. Ketika Lulu akan terjatuh, Kriss langsung menangkapnya dan memegang kedua tangan kecil itu. Kriss pun berusaha untuk melepaskan kedua tangannya dari tangan Lulu agar ia bisa berdiri sendiri. Namun baru beberapa detik dilepasnya, Lulu kembali kehilangan keseimbangannya.

“Gerakkan perlahan – lahan. Tidak usah terburu – buru.”, ujar Kriss. Lulu pun menggerakkan kakinya meskipun dia dipegangi oleh Kriss.

“Ayo, melangkah.”, ujar Kriss yang masih memegangi Lulu.

“Euhm, tapi…”

“Kau sudah bisa melangkah sedikit, Lulu. Ya, walaupun itu dengan jarak semut berlari.”, ledek Kriss padanya.

“Iihh! Kau jahat!”, Kriss hanya menanggapi omongan Lulu yang tidak serius itu dengan tertawa kecil.

“Hey! Kau bisa tertawa? Oh Tuhan! Akhirnya kau bisa tertawa…!!”, seru Lulu yang membuat Kriss langsung menutup mulutnya.

“Kenapa berhenti tertawa? Kau selama ini hanya tersenyum saja.”

“Aku bukan orang gila, nona Wang Lulu. Kenapa aku harus tertawa terus?”

“Karena aku suka melihat orang tertawa ataupun tersenyum.”, jawab Lulu lagi yang terlihat cantik oleh Kriss saat dia tersenyum.

“Oh Tuhan, kenapa gadis ini cantik sekali! Aku semakin mencintainya.”, batin Kriss.

“Ayo cepat. Waktumu di luar hampir habis loh!”, ujar Kriss mengingatkan.

“Ugh! Masa secepat itu sih???”

“Ya, tinggal lima menit lagi.”

Kriss kembali membawaku ke ruang rawat setelah aku berlatih berjalan padanya sebentar. Dia benar – benar tidak mengizinkanku untuk berlatih lebih lama! Katanya sih udara sudah mulai tidak baik untukku. Benarkah itu? Huuuhhh!!

Saat aku tiba di ruang rawatku, kulihat sudah ada beberapa koper di sana. Ada apa ini? Selain koper juga aku menemukan parcel buah? Serangkaian bunga, dan juga ucapan ‘cepat sembuh’. Apa ini dari keluargaku? Kenapa mereka tidak mau menemuiku? Apa mereka sudah tidak menganggapku? Ah! Biarlah. Setidaknya mereka masih perhatian denganku.

“Kiriman lagi?”, tanya Kriss yang mendorong kursi rodaku masuk.

“Kurasa. “, jawabku singkat.

“Istirahatlah.”, ujar Kriss yang menggendongku dari kursi roda dan merebahkanku di tempat tidur rumah sakit. Aroma rambutnya tercium olehku. Dan itu sangat wangi.

“Kriss…”

“Ya?”

“Kapan aku boleh pulang? Aku sudah tidak betah di rumah sakit.”, ujarku.

“Kapan ya? Sampai kau benar – benar pulih.”

“Aku sudah sembuh kok! Lihat! Aku sudah bisa mengerjakan apa saja kan??”, ucapku sambil menggerakkan kedua tanganku.

“Bagaimana dengan kakimu?”

“Aku bisa melatihnya sendiri. Di rumah.”, jawabku.

“Di mana kau tinggal?”

“Euhm…sebenarnya sih…di apartment. Hehehe.”, jawabku menggaruk – garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Apartment kau bilang? Hey, kau harus naik berapa lantai untuk di apartmentmu hah? Kau tidak boleh pulang! Kecuali apartmentmu berada di lantai 1!”

“Huuuhh!! Aku mau pulaangg!!”, ucapku dengan memalingkan wajahku sambil melipat kedua tanganku di depan.

“Tidak!”

“Kriss jelek!”, ujarku yang langsung menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Dan aku langsung mendengar suara pintu yang tertutup. Cih! Bahkan dia langsung pergi begitu saja? Sigh! Benar – benar menyebalkan dia!

“Dia mau pulang? Sigh! Bagaimana bisa dengan kondisi kaki seperti itu?”, ujar Kriss yang terus menggerutu di ruang kerjanya.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk.”, ujar Kriss.

“Maaf dokter, ini laporan dari dokter Zhang Yi Xing.”

“Yi Xing! Ah! Benar Lay! Aku bisa meminta bantuan darinya. Kenapa tidak kepikiran dengannya?”, batin Kriss.

“Letakkan saja di situ.”, ujar Kriss.

Dengan segera Kriss langsung menuju ruang dokter yang menjadi sahabatnya itu sejak SMA. Keduanya dekat karena mereka berdua bertetangga dan sering main bersama meskipun beda SMA.

“Lay!”, panggil Kriss dengan panggilan akrabnya pada dokter yang bernama Zhang Yi Xing saat bertemu di lorong gedung rumah sakit.

“Gege?? Ada apa?”, tanya Lay yang menoleh saat Kriss yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri memanggil.

“Kau mau membantuku?”

“Apa? Pasti bersangkutan dengan pasienmu itu lagi.”, tebaknya yang sudah sering menceritakan tentang Lulu padanya. Sebisa mungkin Lay menutup rasa sakit hatinya melihat kedekatan mereka berdua.

“Yup! You’re right! Would you mind to help me?”, tanya Kriss yang kemudian disetujui oleh Lay.

“Okay, let’s talk it.”, ajak Kriss pada Lay untuk menuju ruang kerjanya.

“A-apa?!! Kau mau merawatnya sendiri?!”, tanya Lay yang kaget saat Kriss menceritakannya.

“Yup! What do you think? Apa aku harus membeli apartment baru untuknya?”

“Tidak kurasa.”

“Lalu?”

“Itu akan percuma jika kau beli apartment baru, sementara pujaan hatimu itu tidak ada yang mengurus saat kau di rumah sakit.”, saat ini Lay terlihat ahli membuat ekspresi palsu di wajahnya untuk tetap terlihat seperti biasa di hadapan Kriss.

“Yah, kau benar. Lalu, apa aku perlu memanggil bibi?”

“Perhaps.”, jawab Lay lagi.

“Oh begitu ya…Baiklah..”

“Hey, bagaimana dengan urusan pertunanganmu itu, ge?”

“Tunangan? Aku tidak akan bertunangan dengan gadis pilihan ibuku. Aku sudah punya…”

“Lulu? Tapi apa dia juga mencintaimu?”, potong Lay cepat dan langsung tepat menghujam Kriss. Pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika rasa sakit dihatinya benar – benar memuncak.

“Ng…belum kurasa. Tapi kelak, aku akan membuatnya mencintaiku.”, ujar Kriss tegas. Dilihat dari perkataan Kriss, Lay semakin melihat keseriusan Kriss dan berniat untuk mundur untuk mencintai Lulu.

“Astaga! Belum? Kau benar – benar semakin berada di posisi sulit, ge!”

“Ya, ditambah ibu yang tidak merestuiku dengan Lulu.”

“Kenapa?”

“Karena Lulu lumpuh? Itu bukan lumpuh! Dia hanya butuh terapi!”, ujar Kriss yang langsung cepat menjawab pertanyaannya sendiri.

“Bagaimana meyakinkan ibumu itu, gege?? Susah sekali!”

“Aku perlu waktu untuk itu semua. Hah!”, keluh Kriss.

“Baiklah. Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungmu, gege!”, ujar Lay menepuk bahu Kriss.

“Xie – xie, Lay.”

“Ah! Gawat! Ini jadwalku control pasien. Aku permisi, ge!”, ujar Lay yang kemudian langsung keluar ruangan Kriss.

Cklek! Kudengar ada yang membuka pintu ruangan tempatku dirawat. Apa itu Kriss? Atau Lay? Ah! Kenapa juga terlintas Lay dipikiranku?

“Oh, kau belum tidur rupanya.”, ujarnya. Benar tebakanku! Itu dia. Kenapa dia datang malam – malam seperti ini? Ini kan sudah jam 10 malam. Apa dia tidak pulang? Aku mengabaikannya dengan tidur memunggunginya.

“Ck, aku tahu kau cuma pura – pura tertidur.”

“Haahh…baiklah kalau kau tidak mau pulang besok.”, ujarnya lagi. Mendengar kata pulang, aku langsung menyibak selimutku.

“Apa?! Pulang?? Benarkah? Aku bisa pulang besok? Ah, aww!!”, karena aku bergerak tiba – tiba, kepalaku terasa sakit kembali.

“Ck, kau ini. Kenapa kau tidak bisa pelan – pelan?”, ujar Kriss yang membantuku kembali tiduran di tempat tidurku.

“Besok, kau tidak usah banyak tanya, kalau mau langsung pulang. Sekarang, tidurlah. Sudah jam 10 malam, masih juga belum tidur. Kau ini mau sembuh atau tidak sih?”, ujarnya lagi mengomeliku.

“Untung saja aku sudah menelpon bibi dari kemarin. Jadi, kalau Lulu sekarang ke apartmentku tidak masalah.”, batin Kriss.

Semenjak kehadiran Lulu di dalam kehidupan Kriss, hubungannya dengan ibunya merenggang karena tidak menyetujui Kriss mendekati Lulu. Hingga saat ini, Lulu belum mengetahui masalah Kriss dengan ibunya tersebut. Namun, untuk menjaga Lulu, dia menghubungi pembantunya yang sudah bekerja dengannya sejak Kriss masih bayi. Tidak heran keduanya seperti terlihat keluarga. Zhou Wei Lai, nama orang yang akan membantu mengurus Lulu. Kriss sering memanggilnya dengan sebutan ‘bibi’. Namun, tentunya Kriss merahasiakan pekerjaan Wei Lai saat mengurus Lulu ini dari ibunya. Karena sudah menganggap Kriss sebagai keluarganya, Wei Lai menyetujui kemauan Kriss.

“Ya…??”, sapa Kriss ketika ponselnya berbunyi. Tidak usah memastikan kembali siapa yang menelponnya. Tanpa melihat layar ponselnya, Kriss sudah mengetahuinya. Wei Lai yang kini menelponnya.

“Oh, benarkah? Xie – xie bibi. Aku akan segera membawa Lulu ke apartment.”

“Tidak usah? Bibi yang akan ke sini?”, tanya Kriss lagi.

“Baiklah. Terima kasih banyak, bibi!”, ujar Kriss kembali.

Kriss yang masih sibuk memeriksa pasiennya, meminta bantuan dari perawatnya untuk segera ke kamar Lulu untuk memberikan pesannya.

Lulu, nanti akan ada orang yang menjemputmu. Bibi Wei Lai akan menjemputmu pulang. Dia orang yang akan membantumu. Pulanglah bersamanya okay. Maaf aku tidak bisa menemanimu. Pasienku banyak sekali! Sigh!(=__=)”

                                                                                                                                Wu Yi Fan – Kriss

“Hari ini kepulangan Lulu. Bukan. Ini bukan kepulangannya. Namun, hari pindahnya Lulu ke apartment gege. Aku harus bisa melepaskan Lulu untuk gege.”, batin Lay saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan tempat Lulu dirawat.

“ Hi, Lulu.”, sapa Lay saat memasuki ruangan Lulu. Terlihat Lulu hanya terduduk di tempat tidur memandangi ponselnya.

“Kenapa? Ada yang salah dengan ponselmu?”, tanya Lay.

“Entahlah. Kurasa aku melupakan sesuatu.”

“Kau melupakanku, Lulu.”, batin Lay menatap Lulu.

“Kau…apa kau sekarang sudah nenek nenek?”, ledek Lay.

“Huh! Apa maksudmu? Dasar menyebalkan!”, ujar Lulu mendorong Lay pelan.

Tepat pukul 11 siang, Wei Lai tiba di rumah sakit dan segera menuju ke ruangan tempat Lulu di rawat.

“Permisi…”, ujar Wei Lai.

“Maaf, siapa ya?”, tanya Lulu yang saat ini masih bercanda dengan Lay.

“Saya Zhou Wei Lai, tuan Kriss meminta saya untuk membawa nona pulang.”

“Haahh…baiklah nona Lulu, kau harus segera pulang dari rumah sakit ini.”, ujar Lay lagi.

“Ah! Baiklah. Maaf, merepotkanmu, bibi. Huhhh! Dasar Lay menyebalkan!”, ujar Lulu pada Wei Lai dan kemudian beralih pada Lay.

“Sudah menjadi tugas saya, nona.”, ujar Wei Lai.

“Euhm, bibi, maukah bibi memanggilku dengan namaku saja? Aku risih jika dipanggil dengan sebutan ‘nona’. Aku Lulu.”, ujar Lulu tersenyum padanya.

“Dengan senang hati.”, jawab Wei Lai yang membalas senyum.

“Hemm.. Lulu, bawa ini. Kau boleh membukanya saat kau sedang bersantai saja, okay.”, ujar Lay yang memberikan sebuah kotak yang tidak terlalu besar.

“Apa ini kado kepulanganku?”, tanya Lulu pada Lay.

“Hahaha! Pikiranmu seperti anak kecil saja. Sudah, ingat yang kubilang tadi. Jangan sampai lupa!”, pesan Lay.

“Yup! Baik, pak dokter!”, ujar Lulu yang kemudian mengangkat tangan kanannya memberikan hormat pada Lay.

“Aiisshh!! Kau ini!”

Lulu pun dibawa oleh Wei Lai ke apartment Kriss. Sepanjang jalan, Lulu selalu bertanya, akan dibawa kemana dia. Dan jawaban Wei Lai tetap sama. Ke apartment.

“Bibi, ini kan bukan apartmentku.”

“Memang bukan. Ini apartment tuan Kriss. Tuan yang meminta saya membawa nona, euhm, maksud saya Lulu ke sini.”

“Hah?? Yang benar saja!”

Sebuah apartment di lantai 7 dengan cat cokelat dan putih yang dominan ini memiliki tiga kamar dan satu kamar mandi dengan dapur yang memiliki peralatan masak yang simple. Hanya ada sebuah toaster, kompor gas, juga panci dengan rak piring yang di dalamnya terdapat piring yang tersusun rapi. Sebuah kulkas yang tidak terlalu besar berdiri di samping kompornya. Ruang tengah yang cukup luas untuk ditempati dua buah double sofa dan sebuah single sofa yang semuanya berwarna putih dengan meja cokelat kayu di tengahnya lengkap dengan karpet yang berwarna cokelat kemudaan membuat ruangan tersebut nyaman. Di depannya terdapat sebuah layar tv LED yang bersatu dengan dinding yang berwarna putih.

“Kamarmu ada di sebelah sini.”, ujar Wei Lai yang mendorong kursi roda Lulu ke sebuah kamar. Kamar dengan single bed yang berwarna merah dengan dinding yang bercat putih terlihat di depannya. Sebuah lemari berukuran sedang dengan meja kecil di samping tempat tidur membuat Lulu menaikkan sebelah alisnya.

“Untuk apa Kriss menyiapkan ini semua?”, begitulah yang ada di benak Lulu saat ini.

“Kalau Lulu butuh sesuatu, cepat panggil saya. Saya akan berada di sini sampai tuan Kriss pulang.”

“Euhm. Xie-xie.”, ujar Lulu lagi.

Selama Kriss belum pulang, Wei Lai yang membantu Lulu ke kamar mandi, mandi bahkan mengambilkannya makan.

“Bibi, aku mau belajar sendiri. Bibi tunggulah di luar.”, ujar Lulu saat ingin ke kamar mandi. Ya, dia memang harus belajar sendiri untuk buang air.

“Kalau tidak ada bibi, memang siapa yang mau bantu aku? Aku harus bisa sendiri kan? Mana mungkin aku menahan buang air sampai besoknya?”, batin Lulu.

“Baiklah, saya tunggu di luar.”

Malam hari pun tiba. Pukul tujuh malam, Kriss sudah berada di apartmentnya. Begitu tiba di apartmentnya, terlihat Wei Lai sedang menemani Lulu bercengkerama di ruang tengah. Terlihat senyuman dari bibir Lulu yang membuat rasa lelah Kriss sejenak hilang.

“Oh, tuan Kriss sudah pulang.”, ujar Wei Lai yang memberi hormat pada Kriss yang dibalas Kriss dengan membungkukkan badannya 90 derajat untuk menghormati Wei Lai yang sudah seperti ibunya sendiri.

“Bibi bisa pulang. Terima kasih sudah menjaganya hari ini. Maaf merepotkan bibi sekali..”, ujar Kriss.

“Tidak apa – apa, tuan. Ini memang tugas saya.”

“Oh ya, bi. Besok dan lusa, bibi tidak perlu ke sini. Hari Sabtu dan Minggu, aku tidak di rumah sakit. Bibi bisa istirahat.”

“Baiklah kalau begitu. Saya permisi.”, ujar Wei Lai pada Lulu dan Kriss. Kriss pun mengantar Wei Lai hingga ke pintu dan kembali duduk di sofa tengah dengan Lulu.

“Kenapa kau membawaku ke sini?”

“Supaya mudah mengawasimu.”, jawab Kriss yang duduk bersandar sambil menengadahkan kepalanya pada sandaran sofa. Sesekali dia memijat keningnya.

“Aku kan bukan tahanan!”

“Memang bukan.”

“Lalu?”

“Kalau kau tinggal sendirian, akan susah untukmu. Bagaimana kalau kau terjatuh dari kursi rodamu itu? Siapa yang akan membantumu nanti?”

“Tapi aku akan merepotkanmu nanti.”

“Siapa bilang? Aku tidak merasa repot.”, jawab Kriss.

“Kau sudah makan?”, tanya Kriss lagi.

“Sudah. Kau belum makan? Tadi bibi buat soup krim. Katanya kau juga suka. Bibi juga menyiapkannya untukmu. Tinggal dipanaskan saja lagi.”

“Ada soup krim? Kau mau menemaniku makan lagi?”

“Aku kenyang Kriss.”

“Haah..Baiklah aku makan sendiri.”, ujarnya beranjak dari sofa.

“Apa tidak lebih baik kau mandi dulu?”, tanya Lulu lagi.

“Oh, ya. Kau benar.”, ujarnya yang kemudian masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi.

Jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Kriss yang tadinya menonton di ruang tengah dengan Lulu, langsung mematikan tv-nya.

“Kenapa dimatikan?”, protes Lulu.

“Sudah malam. Ayo tidur. Aku juga sudah ngantuk.”, ujar Kriss yang langsung menggendong Lulu ke kamarnya.

“Hey! Kursinya…!”

“Tenang saja.”, ujar Kriss yang berjalan sambil menendang – nendang kursi roda itu masuk ke kamar Lulu, tentunya dengan dirinya yang masih menggendong Lulu.

“Kau seperti anak kecil yang hobi sekali menendang – nendang bola.”, ujar Lulu yang dijawab dengan senyuman singkat Kriss.

“Tidurlah.”, ujar Kriss pada Lulu yang dibaringkannya di tempat tidurnya dan menyelimutinya.

“Jujur, kau terlalu baik untukku, Kriss.”, batin Lulu.

Di kamarnya, Kriss merebahkan dirinya dan menatap langit – langit kamarnya. Dengan menggunakan tangan kanannya sebagai bantalannya benaknya dipenuhi oleh Lulu.

“Apa aku bisa membuatnya mencintaiku? Bagaimana menunjukkannya?”

Pagi ini, Kriss yang biasanya selalu terlambat bangun, kini bangun lebih awal. Hanya dengan mengenakan kaus putihnya dan celana tidurnya saja dia sudah berkeliaran di dapur. Memasak adalah hal biasa untuknya saat dia tinggal sendirian di apartment. Namun, kali ini ia harus membuat dua porsi makanan, untuknya dan untuk Lulu.

“Makanan apa yang dia suka?”, pikir Kriss. Dan tiba – tiba saja terdengar sesuatu yang mengagetkannya bersamaan dengan suara rintihan.

Brughh!! Mendengar itu, Kriss langsung menuju kamar Lulu. Dan benar saja, Lulu terjatuh dari tempat tidurnya saat berusaha meraih kursi rodanya.

“Kenapa kau tidak memanggilku?”

“Maaf, aku tidak mau merepotkanmu.”

“Ck! Sudah kubilang kan? Kau tidak merepotkanku.”

“Ugh! Ini kan karenamu. Kau terlalu jauh meletakkan kursi rodaku.”, balas Lulu.

“Benarkah? Maaf…”, ujar Kriss pelan.

“Issh…sudahlah. Sekarang aku mau pipis.”, ujar Lulu pada Kriss.

Kriss pun mendorong kursi roda Lulu menuju kamar mandi.

“Yaa!! Stop sampai sini! Kau tidak boleh masuk!”, ujar Lulu. Kriss pun membukakan pintu kamar mandi dan membiarkan Lulu masuk sendiri.

“Kau sudah selesai belum?”, panggil Kriss dari luar.

“Tungguuu…”, teriak Lulu dari dalam.

Zrasshh! Suara air dari closet pun terdengar. Beberapa saat kemudian, Lulu keluar dari toilet.

“Kau tunggu di meja makan.”, ujar Kriss mendorong kursi roda Lulu ke meja makan.

“Hah? Dia masak rupanya? Kenapa aku hanya diam – diam saja di sini?? Huh! Membosankan!”, ujar Lulu yang kemudian menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam kamarnya. Kriss tidak menyadari Lulu yang masuk ke kamarnya karena sibuk memasak.

Terlihat kotak kado dari Lay masih berada di atas meja di samping tempat tidurnya. Lulu pun menghampirinya dan membuka pita dan kertas kado yang membungkusnya. Terlihat beberapa lembar foto dirinya dan Lay, kalung, juga secarik kertas di dalamnya.

Lulu, mungkin kau melupakan kenangan kita, bahkan aku yang kau lupakan begitu saja. Aku tahu kau pasti kaget membaca suratku ini. Kau pasti mengira aku orang gila yang sedang menulis surat. Aku hanya mau mengingatkanmu kembali tentang memorimu yang hilang itu.

Jauh sebelum ini, aku memiliki kenangan manis denganmu. Kau adalah kekasihku, Lulu. Aku mencintaimu, bahkan hingga kini perasaanku tidak berubah. Kau lupa dengan foto – foto itu? Tidak apa – apa, aku mengerti itu. Mungkin karena kecelakaan itu, kau kehilangan sebagian memorimu, Dan kebetulan saja memori tentangku yang hilang ^^”

Mungkin untuk ini juga kau selalu meminta kita berdua selalu menyimpan dua foto yang sama. Foto yang aku miliki sama persis dengan apa yang kau miliki. Tapi, apa foto – foto kita yang ada padamu masih ada? Oh ya, kalung itu…itu hadiah ulang tahunmu yang ke -17 dariku. Saat kau mengembalikannya padaku ketika kita harus berpisah, itu sangat sakit sekali untukku, Lulu.

Bertahun – tahun aku mencarimu, tapi aku tetap saja tidak bertemu denganmu. Lalu, saat Kriss gege mempertemukanku secara tidak langsung dan dengan kondisimu yang seperti itu, aku….aku tidak menyangkanya kau harus terbaring lemah di hadapanku. Tapi, ternyata usahaku berbuah manis. Kau sudah seperti dulu, ya meskipun kau masih belum ingat aku ^^”v

Surat ini, hanya berisi keluhanku saja. Tidak usah terlalu kau pikirkan, okay? Aku tidak mau kau sakit kembali. Lihatlah Kriss gege yang sekarang dihadapanmu. Jangan lihat masa lalumu, ya! Kuharap, kau bisa berbahagia dengan gege ^^

Zhang Yi Xing – Lay

Membaca surat itu, air mata Lulu mengalir. Kini dia perlahan – lahan ingat dengan memorinya yang hilang. Saat dia mengatakan pada Lay kalau dia melupakan sesuatu, ternyata Lay sendiri lah sesuatu yang terlupakan olehnya. Tanpa sengaja Lulu menjatuhkan kotak yang ia pegang. Itu membuat Kriss langsung menghampirinya. Mendapati Lulu yang tengah menangis sambil memegang surat Lay, membuat Kriss langsung berlutut dihadapan Lulu untuk menyamakan tingginya.

“Ada apa?”, tanyanya. Matanya kemudian tertuju pada foto – foto Lay dan Lulu yang berserakan di lantai.

“Kau…”, Kriss hanya menatap Lulu yang menunduk dan menangis dengan tatapan kecewa dan menahan marahnya. Tentu saja dia merasa marah. Karena ternyata di belakangnya, Lay dan Lulu pernah memiliki hubungan. Namun, karena dia tidak ingin membuat Lulu semakin bersedih, dia berusaha menahan emosinya dan merengkuh Lulu pada bahunya untuk menghentikan tangisnya.

“Lay….”, panggil Lulu lirih.

Perasaan Lulu kini sudah mulai tertambat pada Kriss, namun kehadiran Lay saat ini membuat perasaannya tidak menentu. Butuh waktu untuk meyakinkan perasaannya pada kedua pria tersebut. Lulu serasa berada di antara persimpangan jalan untuk memilih satu dari kedua pria tersebut.

Setelah Lulu sudah tenang emosinya dan menghentikan tangisnya, Kriss meminta izin padanya untuk keluar sebentar. Kriss meminta Lulu untuk tidak melakukan apa – apa di apartment. Dia sudah terlanjur meliburkan Wei Lai, jadi tidak bisa dipanggil kembali untuk ke apartmentnya. Kriss juga memastikan keamanan Lulu selama dia sendirian di apartmentnya.

Dengan segera, Kriss melajukan mobilnya menuju rumah Lay, tempat Lay tinggal sendirian terpisah dari keluarganya. Kriss memarkirkan mobilnya sembarangan di depan rumah Lay dan mengetuk – ngetuk pintu rumah Lay dengan kasar. Begitu terbuka, seorang pria yang telah menjadi sahabatnya sejak dulu keluar.

Buughh!! Sebuah tinjuan pun melayang ke wajah Lay, lebih tepatnya sudut bibirnya yang terlihat mengeluarkan darah. Lay pun jatuh ke belakang dan berusaha bangun memegangi sudut bibirnya yang berdarah tersebut.

“Ini yang kau bilang sahabat hah?! Apa kau masih menganggapku ‘kakak’ hah?!!”, tanya Kriss mencengkeram kerah baju Lay.

“Gege…”, Lay hanya bisa menerima perlakuan Kriss padanya.

“Kau masih mencintai Lulu kan?! Kau masih memiliki perasaan padanya kan?!”

“Iya…”, jawab Lay menatap Kriss dengan serius.

“Kenapa kau sejak dulu tidak pernah menceritakannya padaku hah?! Aku ragu dengan statement-mu itu yang mengatakan kalau kau menganggapku sudah seperti kakakmu!”

“A-aku hanya..”

“Cih! Kembali padanya!”, ujar Kriss yang melepaskan kasar cengkeramannya dari kerah baju Lay.

“Gege, tapi Lulu…”

“Apa hah?! Kau masih tidak mau untuk kembali dengannya?!”

“Dia…dia mencintaimu, gege!! Apa kau tidak merasakan hal itu?!!!”, balas Lay yang kemudian menghajar Kriss. Pukulan dari Lay pun membuat hidung Kriss berdarah.

“Kau…!!!”

“Kau memang brengsek! Ikut aku!”, ujar Kriss yang menyeret Lay masuk ke mobilnya.

“Gege…!!”

Kriss melajukan mobilnya kembali ke apartment bersama Lay. Dia terus menyeret Lay hingga ke apartmentnya. Kehadiran Lay dan Kriss kini yang berada di hadapan Lulu membuatnya kaget.

“A-ada apa kalian ini? Astaga! Apa kalian berkelahi? Kriss, kenapa hidungmu? Lay…??”, tanya Lulu pada kedua pria itu.

“Lulu, kau harus memilih diantara kami.”, ujar Kriss.

“A-apa?!”, Lulu semakin bingung dengan pria – pria yang kini dihadapannya. Lay, adalah seseorang dari masa lalunya yang pernah memberikan arti kehidupan yang sesungguhnya. Sedangkan Kriss, secara tidak langsung, dia adalah pria yang menyelamatkan nyawanya dan juga mengajarkan arti kehidupan padanya. Bagi Lulu, Kriss membantunya saat dia terjatuh pada saat menjalani kehidupannya. Begitu pula Kriss yang menganggap Lulu demikian. Lulu lah yang telah membantunya berdiri untuk menata masa depan.

“Kalian…”, terlihat Lulu menahan air matanya.

“Lay…”, ucapan Lulu membuat pemilik nama tersebut menatapnya.

“Maafkan aku. Maaf aku melupakanmu. Kau berharga untukku, kau juga yang membuat kehidupanku jadi lebih berarti. Tapi, kini aku….”

“Aku mengerti. Berbahagialah dengan gege. Aku orang pertama yang mendukung kalian berdua.”, ujar Lay yang berjalan ke arah Lulu, berlutut dan memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Sedangkan Kriss hanya bisa terdiam mendengar ucapan Lulu. Kini perasaannya benar – benar terbalas dengan pernyataan Lulu tadi.

“Haah…I lost my mind when I beside you, Lulu. But, forget it! Gege, awas kalau kau menyia – nyiakannya! Aku akan merebut Lulu kembali darimu!”, ujar Lay pada Lulu dan kemudian beralih mengancam Kriss.

Semenjak kejadian itu, bulan demi bulan yang berlalu, Lay masih menjalin persahabatannya dengan Kriss dan juga Lulu.  Lay kini memiliki tambatan hati yang merupakan salah satu perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama bernama Xiao Zi Ya. Namun, masalah mulai datang dari keluarga Kriss yang semakin menentang hubungannya dengan Lulu. Bahkan ibunya yang kini sudah mengetahui Lulu yang tinggal di apartment Kriss pun mendatangi apartment Kriss tiba – tiba.

“Aku saja yang buka pintu.”, ujar gadis yang kini sudah mengenakan tongkat untuk berjalan pada Kriss yang ingin beranjak dari sofa tengahnya saat membaca majalah kesehatan sore itu.

“Oh, kau gadis lumpuh itu rupanya! Tidak tahu diri! Berapa yang dibayar anakku padamu?!”, tanya wanita paruh baya itu yang mendorong Lulu dengan merendahkan Lulu. Mendengar ribut – ribut di luar, Kriss pun ikut melihat.

“I-ibu…??!”

“Dasar perempuan jalang!!”, ujar wanita itu yang hendak menampar Lulu.

“Ibu…!!! Hentikan!”, ujarnya menarik Lulu ke belakangnya.

Dengan segera ia menutup pintu apartmentnya agar orang sekitar tidak terganggu.

“Kriss! Kau bahkan sudah bisa membangkang pada ibumu hah?!”

“Ini bukan persoalan membangkang atau tidak. Tapi, apa ibu tidak memperhatikan situasi sekitar ibu tadi? Apa pantas ibu berteriak – teriak di tempat umum?”, tanya Kriss.

“Kriss! Untuk apa kau bersama perempuan ini?! Jelas – jelas ibu mengenalkanmu pada wanita yang melebihi segalanya dari pada dia!”, tunjuk wanita itu di hadapan Lulu.

“Aku tidak mau mengenal orang lain, bu!”, ujar Kriss.

“Oh Tuhan! Apa yang kau lakukan pada anakku sampai dia bertekuk lutut dihadapanmu hah, jalang! Kau memberikan tubuhmu??”, mendengar itu, hanya air mata yang keluar dari pelupuk mata Lulu.

“Ibu!! Keterlaluan..! Apa ibu pikir anakmu ini sehina itu?!”, bentak Kriss pada ibunya.

“Kriss?? Kau sudah bisa membentak ibumu sendiri? Itu balasan yang kudapatkan setelah membesarkanmu sampai menjadi seperti ini? Hebat sekali kau!”, ujarnya membulatkan kelopak matanya terkejut melihat perlakuan anaknya terhadapnya. Mendengar itu, Kriss hanya menunduk menyadari perkataan kasarnya pada ibunya tersebut.

“Lihat nanti, Kriss! Ibu akan segera mempercepat pernikahanmu!”,ujarnya yang kemudian pergi dengan membanting pintu.

Kriss yang mendengar itu terbelalak kaget mendengar kata ‘pernikahan’ di telinganya. Sementara Lulu, dia hanya menangis dengan tangan yang masih digenggam oleh Kriss.

“Maafkan aku. Aku tidak akan biarkan kita terpisah.”, ujarnya menghapus air mata yang mengalir di pipi Lulu.

“Apa..hiks..sebaiknya…kita..hiks..tidak bersama…??Huhuhuhu…”

“Bicara apa kau? Tentu saja itu tidak akan terjadi.”, jawab Kriss yang menarik Lulu ke pelukannya.

“Tapi…”

“Sssst, aku tidak mau kata – kata itu terucap lagi olehmu.”

Esoknya, Lay datang berkunjung karena Kriss menelponnya dan memintanya untuk datang.

“A-apa??!!!!! Pernikahan!!”, ujar Lay setelah Kriss menceritakannya.

“Ssstt!! Jangan keras – keras! Nanti Lulu bangun.”, ujar Kriss pada Lay.

“Itu tidak akan terjadi, ge!”, ujar Lay lagi.

“Kau tahu kan, ibu keras kepala? Haish! Aku benci dengan sifatnya itu!”, keluh Kriss yang menyandarkan tubuhnya pada sofa.

Ting Tong! Ting Tong!

“Haisshh!! Siapa sih datang jam – jam seperti ini? Menyebalkan!”, umpat Kriss yang berjalan menuju pintu apartmentnya.

“Tuan Kriss, silahkan anda ikut kami.”

“WHAT?!! WHO ARE YOU!”, bentak Kriss.

“Anda diminta nyonya untuk segera pulang dan mengurus pernikahan hari ini.”

“Holy shit!”, batin Kriss membanting pintu dan menutupnya rapat.

“Ada apa ,ge?”

“Lay, dengar aku! Kalau nanti terjadi sesuatu denganku, bawa Lulu pergi. Aku memintamu untuk menjaganya selama aku tidak ada.”, pesan Kriss.

“Ge! Gege!!”

“Tuan Kriss, jika anda tidak membuka pintu, maka kami akan mendobrak pintu ini!”

“Aku minta tolong padamu, Lay.”, pesan Kriss sebelum membuka pintu apartmentnya dan membiarkannya dia dibawa pergi oleh suruhan ibunya.

“Damn! Aku harus bisa keluar dari sini.”, batin Kriss.

Di saat yang sama, kekasih Lay menelponnya sambil menangis.

“Zi..?? Kenapa? Kau di mana?”, tanya Lay cemas.

“Yi…hiks…maafkan aku…”, ujar Zi Ya yang memanggil Lay dengan panggilan sayangnya, ‘Yi’.

“Zi..?? Kau kenapa?? Kau kenapa menangis?”

“Maafkan aku, Yi…hiks…orang tuaku…huhuhuhu…”

“Zi Ya!! Cepat pakai gaun pengantinmu!!”, terdengar teriakan dari seberang sana yang terdengar oleh Lay.

“Zi…apa yang kau lakukan sekarang? Kau dimana??”, tanya Lay semakin cemas.

“Jaga dirimu Yi, wo ai ni..”, ucapnya yang kemudian memutuskan pembicaraan.

“Zi…!! Zi Ya!!”, panggil Lay melalui ponselnya.

“Sigh!! Apa lagi ini??!!! Gege apa kau gila meninggalkan Lulu begitu saja sementara aku juga memiliki masalah?!! Zi Yaa!! Akh!!!”, Lay pun melempar ponselnya ke sofa.

Lay pun mengetuk kamar Lulu, namun tidak ada jawaban. Lay pun memutuskan untuk memasuki kamar Lulu.

“Lulu…”, panggil Lay.

“Eungh….”, Lulu pun menggeliat melemaskan otot – ototnya yang kaku setelah tidur dan duduk di tepi tempat tidur.

“Kriss gege….”

“Ada apa, Lay? Kenapa Kriss?”

“Kriss gege akan menikah.”

“A-apa?!!”, teriak Lulu yang kaget dan tanpa disadarinya ia berdiri dengan kedua kakinya tanpa alat bantu apa – apa. Ini pun membuat Lay membesarkan kelopak matanya kaget.

“Lulu..kau…kau bisa berdiri?!!”

“Dimana Kriss??!!”, teriak Lulu mencengkeram bahu Lay.

“Aku tidak tahu.”, ujar Lay lagi.

Di waktu yang sama, Kriss tampak di bawa ke sebuah gereja setelah para suruhan ibunya menjemputnya paksa dari apartmentnya.

“Lepaskan brengsek!!”, kedua tangan Kriss diborgol dan diseret masuk ke dalam sebuah ruangan.

“Shit! Aku tidak bisa meninggalkan Lulu!”, batinnya.

“Aku tidak mau, mah…Aku tidak mencintainya…huhuhuhu…”, teriak seorang wanita.

“Zi Ya! Kau harus menurut!! Ini demi perusahaan kita!!”

“Zi Ya?? Bukankah…dia kekasih Lay kan??”, pikir Kriss. Sekilas ia sempat melihat wanita yang akan menjadi mempelai wanitanya. Dan ternyata, itu memang Zi Ya kekasih Lay.

“Mamah dan papah tega menjualku hanya untuk perusahaan??”

“Cepat masuk!!”, ujar pria berjas hitam itu yang mendorong Kriss untuk mengganti pakaiannya.

“Hey! Apa isi kepalamu kosong hah?! Bagaimana aku bisa mengganti pakaian dengan tangan terborgol?”, ujar Kriss. Kriss pun memiliki cara untuk bebas dari sini. Mereka pun membuka borgol tangan Kriss. Namun, todongan pistol pada kepalanya membuat Kriss harus menurut untuk mengganti pakaiannya dengan jas.

“Hey! Mau kemana kau?!”, tanya salah satu dari mereka.

“Ke toilet. Ikuti saja aku kalau kau tidak percaya.”, jawab Kriss enteng yang kemudian diikuti mereka.

Di dalam toilet, Kriss masih saja ditodong pistol pada kepalanya.

“Aku sudah selesai…”, ujar Kriss yang berjalan di depan pria itu. Dengan gerakan santainya, Kriss berusaha mengikuti permainan ini. Namun tiba – tiba….

Srett!! Dhuagh!! Kriss berbalik menendang pria itu dan mengunci tangan pria itu serta mengambil pistol itu dari tangannya.

“Kau lemah sekali. Haha.”, ujar Kriss yang kemudian berlari dengan pistol di tangannya. Kriss pun mengeluarkan ponselnya dan segera menekan beberapa nomor untuk tersambung pada Lay. Nada sambung pun terdengar.

“Gege!! Kau dimana?”, terdengar suara Lay dan tangisan perempuan yang ia pikir itu adalah Lulu.

“Aku di gereja, Lay!”

“Gereja apa? Dimana?”

“Dekat kuil saat darmawisata SMA. Aku…”, belum sempat Kriss melanjutkan ucapannya terdengar pelatuk pistol ditarik di sampingnya.

“Letakkan senjatamu, dan buang ponselmu.”, ujar pria berbadan besar itu.

“Oh, damn!”, batin Kriss.

“Cepat!!”, bentak pria itu lagi.

“Ge, gege!!”, Kriss pun membuang senjatanya dan meletakkan ponselnya di bawah yang masih tersambung dengan Lay.

“Kuil saat darmawisata kan ada banyak. Dimana?”, batin Lay yang saat ini tidak mendengar suara apa pun dari tempat Kriss.

Kriss pun segera memutar kerja otaknya. Dan dia mendapat ide yang kemudian dilontarkannya begitu saja, “Cih! Hanya itu yang bisa kau lakukan? Kau ini seperti kutu! Apa caramu seperti ini? Apa fungsinya mempunyai postur tubuh seperti kau? Kau tidak seperti kuda unicorn yang sangat tangguh! Kau lemah! Sangat berbeda dengan teman – temanmu yang lainnya. Apa kau datang dari planet exo yang antah berantah itu? Kau ini hanya seperti butiran – butiran salju. Hah! Salju yang bisa dilemahkan oleh naga api.”, oceh Kriss.

“Bicara apa kau?! Cepat kembali atau kepalamu akan pecah dengan peluru ini!”, ujar pria itu lagi.

Klik!! Sambungan pun diputus oleh Lay. Ponsel Kriss pun mati. Lay yang kini pikirannya terbagi dua antara Kriss dan juga kekasihnya Zi Ya mengusahakan pikirannya tetap terfokus.

“Ayo pergi!”, ujar Lay padaku.

“Kemana??”, tanyaku disela – sela isak tangisku.

“Aku tahu tempatnya, Lulu.”, ujar Lay yang meyakinkanku.

“Tapi…”

“Ayolah, kau percaya padaku kan?”

Dan dengan segera aku pun mengikuti Lay pergi. Kakiku yang masih terasa sakit ini kupaksakan berlari. Rasa sakit kakiku ini kurasa tidak sebanding dengan hatiku yang mendengar tentang pernikahan Kriss.

“Taxi!”, teriak Lay.

Aku pun memasuki taxi tersebut dan disusul oleh Lay di belakangku.

“Ke kuil Shin Zei An.”, ujar Lay.

“Kuil?? Kuil mana itu?”, batinku.

“Lay…kau yakin?”

“Aku yakin, Lulu. Kuil itu memiliki relief naga api.”, ujar Lay lagi.

“Naga api?? Apa hubungannya?”, batinku lagi.

“Gege terdesak sekarang. Kita harus membantunya.”

“Ter-terdesak??”

“Exo, itu adalah code kita saat kita dalam kondisi darurat. Gege mengucapkan kata itu tadi saat menelpon. Dan tidak hanya itu. Kini gege berada di sebuah gereja.”

“Tunggu! Tapi, kau menunjukkan supir taxi ke arah kuil kan?”, ulangku.

“Gereja itu berdekatan dengan kuil itu. Gege juga menyebutkan kata ‘butiran salju’, dan ‘unicorn’. Kau tahu? Gereja itu memiliki lukisan tiga dimensi. Terlihat bagai butiran salju saat kau memandangnya. Dan unicorn, patung unicorn terdapat di depan gereja.”, jawab Lay.

“Sudah sampai, tuan.”, ujar supir taxi.

“Ini uangnya. Ambil saja kembaliannya.”, ujar Lay yang kemudian keluar taxi begitu pun juga aku.

“Tidak!! Lepaskan aku, mah!! Aku tidak mau menikah!! Aku hanya mencintai Yi Xing!!!”, teriak Zi Ya.

“Lupakan Yi Xing! Yi Fan jauh lebih baik dari Yi Xing!!”

“Zi…??”, batin Lay saat melihat kekasihnya di seret menuju gereja.

“Astaga! Kriss!!”, teriak Lulu yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat Kriss yang menuruni anak tangga dengan tangan terborgol.

“Nyonya, ada satu aksen penting pada gaun nona Zi Ya untuk pernikahan sacral ini.”, ujar penata busana pada ibunya.

“Baiklah, segera ke ruang ganti lagi.”, untuk sejenak Zi Ya merasa lega karena dia belum dihadapkan dengan pria itu. Ya, pria yang belakangan ini ia ketahui sebagai sahabat kekasihnya.

Sementara itu, Lay dan Lulu menyusun rencana.

“Aku akan ke ruangan Zi Ya.”, ujar Lulu.

“Apa kau tidak apa – apa? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?”, tanya Lay.

“Tidak akan. Percaya padaku.”, ujar Lulu pada Lay dan segera berlari menyelinap ke ruang tempat Zi Ya berada.

Saat Lulu ke ruangan Zi Ya, Lay pun segera menyelinap ke ruangan Kriss.

Dhuagh!! Tendangan pun dilayangkannya pada orang yang menghalanginya masuk untuk menemui Kriss.

“Lay…??!!”

“I got this key!”, ujar Lay yang melepas borgol Kriss.

“Dimana Lulu?”

“Di tempat Zi…”

“Kau sudah mengetahuinya?”

“Tentu saja! Aku tadi melihat Zi diseret.”

Prok! Prok! Prok! Terdengar suara tepuk tangan seseorang.

“Bagus…bagus…sangat dramatis. Zhang Yi Xing, kukira kau anak baik – baik ya? Ternyata kau berkomplot dengan Kriss untuk membebaskannya. Kau pikir, kau siapa hah?!”, ujar ibu Kriss.

“Ibu! Aku juga tidak mencintai Zi Ya! Zi Ya itu milik Lay!”, ujar Kriss lantang.

“Hahaha, apa kurangnya Xiao Zi Ya? Dia lebih sempurna daripada gadis lumpuh itu!”

“Dia tidak lumpuh, bu!!”

“Jaga ucapanmu! Pada siapa kau bicara? Kau berani membentak ibumu sendiri?!”

“Ibu, aku tidak akan menikah dengan Zi Ya!”

“Baik, kalau itu memang maumu. Jangan pernah berharap melihat ibu lagi di dunia!”, ancam ibu Kriss yang bersiap menembak kepalanya sendiri.

“Ibu! Jangan konyol!”

“Kalau kau tidak menikah dengan Zi Ya, sama saja kau ingin ibu mati!”

“Tidak, ibu…!!”

“Jangan mendekat! Atau ibu akan benar – benar menembakkan pistol ini!”

“Ibu, jangan!!”

“Gege…lakukan ini demi ibumu.”, ujar Lay.

“Tidak, Lay.”

“Baiklah, selamat tinggal, Kriss…”

“Ibu!! Baik! Baiklah! Aku akan menikah dengan…Zi Ya…”, ujar Kriss menunduk lemas.

Kriss pun berjalan menuju gereja. Dia sudah berdiri dengan seorang pendeta di sana yang siap menikahkannya denga Zi Ya. Terlihat seorang wanita bertudung pengantin dengan gaun pengantinnya yang panjang itu melangkah masuk bersama pendampingnya.

“Lulu, maafkan aku…”, batin Kriss yang semakin bersalah pada Lulu.

Kini pengantin wanita itu tepat berdiri di sampingnya tanpa menatap Kriss. Kriss pun diharuskan menggenggam tangan sang mempelai wanita.

“Tunggu, ini…tangan ini…”, batin Kriss.

“Wu Yi Fan, apa kau bersedia mengasihi, mencintai wanita ini sebagai wanita yang menjadi pendampingmu seumur hidupmu dalam keadaan suka dan duka, dalam senang maupun susah?”

“Aku bersedia.”, dengan cepat Kriss menjawab ucapan pendeta itu sebagai janji sucinya.

“Xiao Zi Ya, bersedi…”

Belum sempat pendeta itu meneruskan kalimatnya, sang wanita pun berbicara dengan menundukkan kepalanya, “Aku…bukan Xiao Zi Ya…”

“Xiao Zi Ya, ada di sini…!!”, teriak seorang wanita yang berada di depan pintu bersama kekasihnya, Lay.

“Haah….sudah kuduga, kau itu bukan Zi Ya.”, ucap Kriss.

“Apa – apaan ini?!!! Apa – apaan kalian?!!!”, teriak ibu Kriss. Para tamu yang datang pun ricuh dan tampak saling berbisik satu sama lainnya.

“Mamah, papah, aku tidak mencintai Kriss. Aku hanya mencintai Yi Xing. Biarkan Kriss bahagia dengan Lulu. Maaf, aku mengecewakan kalian. Tapi, aku tetap pada keputusanku.”, ujar Zi Ya lantang.

“TIDAK!!! INI TIDAK BISA TERJADII!!!!!”, teriak ibu Kriss yang kemudian jatuh pingsan.

“Ibu!!”, Kriss pun langsung berlari pada ibunya. Sedangkan Lulu, menelpon ambulance untuk membawa ibu Kriss ke rumah sakit.

Pasca acara pernikahan itu gagal, tujuh bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 31 December, dilangsungkan dua pernikahan sekaligus. Pernikahan Xiao Zi Ya-Zhang Yi Xing, juga pernikahan Wu Yi Fan-Wang Lulu. Kedua pasangan ini sepakat untuk mengambil tanggal 31 December karena malamnya mereka akan melakukan pergantian tahun yang diharapkan kehidupan mereka juga berganti menjadi kehidupan yang lebih baik. Kini nama Xiao Zi Ya akan berubah menjadi Zhang Zi Ya, sedangkan nama Wang Lulu berganti menjadi Wu Lulu.

-THE END-

Iklan

8 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] History Of Our Loves

  1. Kris jadi dokter…??
    Jinjjaa…..??? Gk kebayang deh… -_-Bisa2 pasiennya langsung sembuh seketika pas liat Kris…
    Kris bisa kayak gtu…?? Jinjja…??
    Ok thor, gomawo atas ff Kris-nya…
    Chu~:*

  2. waahh ff-nya keren hehe :D keren banget malah wkwk daebak thor :D
    Ahh akhirnya kriss sma lulu juga hehe, kirain bakal sama zi ya :D
    Hehe, itu sih kriss keren kasih kodenya ya , suka banget sma ff ini, ceritanya bagus banget thor :D
    Nice ff thor :D

  3. Wuaaaaaa KEYEN(?) tp genre hrs tmbah tuch action*halahsoktau*

    Critanya singkat padat dan jelas.ngk terlalu buru-buru.

    Jng salah nama istrinya kris bkan wu lulu tp Wu Yuna(namuku thor)*platakdijitakyeppa*

    Okai aku tnggu karya BARUMUUU^_^….
    FighTAENG^_^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s