[Freelance – Oneshoot] I Adore You My Seongsaengnim

Title : I Adore You, My Seonsaengnim

Length : Oneshot

Rating : PG-13

Genre : Free

Author : Dira

Main Cast : Yoo Eunmi (OC), Luhan EXO

Support Cast : Luna f(x)

Yuhuuuuuu….

Ada orang disini?? Hahaha

Kali ini adalah FF tentang Lulu my deer haha #ditabok fans luhan

Ayo, siapa yang penasaran?? Luhan jadi apa yaahh disini??

Tuh, tuh, liat aja judulnya hehe :b

Udah ah, author gak mau kebanyakan ngomong hahaha

Happy reading chingudeul

Hgh…

Haruskah kubuka cerita ini dengan helaan napas seperti itu? Aku rasa iya. Ini hari senin, hari paling melelahkan sedunia saat kau harus ke sekolah mengenakan rok pendek padahal cuaca diluar sangat ekstrim. Aku kedinginan setengah mati dan apa yang pihak sekolah pikirkan untuk terus memaksa para muridnya masuk sekolah?

Satu kata…MENYEBALKAN!!

Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada ini, saat kau masuk ke satu-satunya kelas favoritmu dan guru yang seharusnya mengajar malah keluar. Oh tidak! Dia adalah guru yang paling menyenangkan sedunia (tidak juga sih) tapi ini lebih buruk. Aku duduk sendirian memandang kanvas kosong di depanku. Semua anak pun begitu. Aku tidak terlalu mengenal mereka, karena kami tentu berasal dari tiga angkatan.

“So Eun ya~” kupanggil temanku, So Eun.

Dia menoleh padaku, enggan. “Apa?” Aku menutup setengah mataku. “Bosan. Ayo, kita keluar dari sini.” Ajakku.

Dia menatap kanvasnya sejenak lalu menatapku, “Aku malas, Eunmi.” Isshh, disaat seperti ini sahabatku memang tidak bisa diajak kompromi. “Payah!” kujulurkan lidahku.

Oh, ayolah, aku hari ini sangat payah, kelas ini pun payah. Aku sungguh tidak mempunyai hasrat untuk menggambar hari ini. Rasanya ingin berteriak saja!!!

Aku meregangkan tubuhku yang kaku, lalu…baru saja aku akan beranjak dari kursiku ketika sebuah suara lembut datang dari depan.

“Selamat siang.”

Aku mengerutkan keningku. Hei, suara siapa ini? Bukan, dia bukan Park seonsaengnim. Suara ini lebih ringan dan lembut. Apa dia guru pengganti? Aigoo, rasanya ingin mem-bullynya sebelum mencoba-coba menggantikan posisi Park seongsaenim.

“So Eun.” Panggilku, namun anak ini tidak bergerak sedikit pun. “So Eun! So Eun!” bisikku lebih keras. So Eun hanya mengangkat tangannya untuk mendiamkanku. Kulihat sekelilingku juga berperilaku sepertinya, terpaku melihat ke depan. Ada apa sih?

Aku menggeser sedikit tubuhku dari kanvas besar di depan untuk melihat si guru baru itu.

Sejenak…aku tidak bisa bernapas. Ya Tuhan! Makhluk apa dia? Apa Kau mengirim seorang Michael Angelo kesini??!!

Aku bisa gila, sungguh gila!!

Wajahnya tidak bisa di ukirkan oleh kata-kata (hei, aku menulisnya sekarang). Postur tubuhnya sangat sempurna dengan kemeja biru langit yang terlihat pas dikulit putih susunya, rambut berwarna kecokelatan, wajah tampan nan sempurna seperti dipahat, dengan kacamata menambah estetika seorang guru (Wuah…ini super duper hebat!!)

Bruukkk…

Setelah sepersekian detik aku baru menyadari bahwa aku sudah berada di lantai dengan malaikat itu berdiri di depanku. “Kau tidak apa-apa?”

Aku menggelengkan kepalaku dan mulai memandangnya. “Tidak…a…aku…”

“Kembali lah ke tempatmu dan kita akan mulai pelajaran hari ini.” ujarnya lembut.

Guru itu mulai memberikan tugas. Menggambar pemandangan yang paling indah yang pernah kau lihat.

Semuanya menggambar gunung, pantai, bukit, oh…bisakah aku menggambar dirimu, seonsaengnim?? Kau adalah pemandangan paling indah!!

***

“Luhan, Luhan seonsaengnim.” ujar Luna pada aku dan So Eun.

“Benar namanya Luhan? Astaga, dia tampan sekali…” tubuhku melemas setiap mengingat wajahnya. “Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman karena dia.”

So Eun tampak kehilangan kata-kata, dia hanya mengangguk. Luhan seonsaengnim itu ternyata berasal dari cina, namun dia sangat fasih berbicara Korea dan jago menggambar, maka itu dia di kirim ke sekolah ini.

“So Eun, aku pastikan aku tidak akan pernah membolos kelas Luhan seonsaengnim sekali pun, walaupun hujan dan badai diluar sana, aku akan tetap datang ke kelasnya.” Ceracauku.

“Benarkah?”

Aku menoleh kearah belakang dan mendapati orang yang kusebut namanya berdiri tepat di belakangku.

“Kau suka dengan pelajaran menggambar?” tanyanya disertai senyuman lembut yang melelehkan hati siapa pun. Aku tersenyum aneh, kepalaku mengangguk dan menggeleng, seperti orang gila karena salah tingkah. Sampai akhirnya, seongsaenim berkata, “Ayo, masuk ke kelas, hari ini kita akan menggambar…sesuatu yang tidak biasa.”

Sesuatu yang tidak biasa?

Yah, tepat sekali. Tugasnya adalah menggambar abstrak dengan seni mengukir tinta, namun aku malah membuatnya semakin jelek dilihat dan seongsaenim tampak ingin tertawa ketika melihat kanvasku. “A…a…aku bisa membetulkannya. Beri aku sedikit waktu, seonsaengnim.” Pintaku, ingin membenarkan image. Dia pun memberi waktu.

Aku masih disana mengaduk-aduk warna dan menggambar. Tak kusadari tinggal kami berdua yang ada di kelas. Luhan seonsaengnim masih setia menunggu sambil membaca buku di depan kelas. Seketika itu aku menjadi tidak enak padanya.

“Maafkan aku, seonsaengnim. Aku biasanya bisa menggambar dengan baik.” Ujarku pelan. Dia pun menurunkan bukunya untuk melihatku, dia tersenyum manis. “Tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kau selesai.” Astaga, dia sangat tulus ketika mengatakannya.

Tidak, seharusnya aku bisa menahan mulutku ini, namun kalimat-kalimat itu dengan lancar keluar dari sana. “Seonsaengnim, suka membaca?” tanyaku dari balik kanvas. “Ya, aku sering membaca buku. Buku tentang seni dan…pengetahuan sastra.” Jawabnya.

“Lebih suka membaca atau melukis?” tanyaku lagi (dasar Eunmi cerewet!)

“Eumm…” dia memejamkan mata, tampak berpikir. “Aku suka menggambar dan membaca. Saat membaca kau akan menemukan banyak ide untuk dituangkan ke dalam kertas gambar. Itu sangat menyenangkan.”

Aku mendengarkan dengan seksama dan memberikan sentuhan terakhir di pinggir gambarku. “Seonsaengnim, aku sudah selesai.” Lalu dia menghampiri tempatku. Seongsaenim berdiri memandangi lukisanku dengan tangan terlipat di dada. Dia menelengkan kepalanya, menyipitkan mata, dan akhirnya tersenyum lembut padaku. “Bisa kau jelaskan apa yang kau gambar?”

“Eumm…aku tidak punya tema khusus dan tidak tahu apa ini. Setiap menggambar abstrak, aku selalu memakai perasaan. Jika hatiku berkata bahwa warna ini bagus, aku akan menggunakannya. Semuanya berjalan begitu saja tanpa kusadari.” Jawabku enteng.

Luhan seonsaengnim tersenyum lagi, dia mengelus dagunya dan berkata, “Aku suka warna ungunya, sama seperti warna bajuku hari ini.”

Uupppsss…

Benar-benar menggunakan perasaan, Yoo Eunmi.

***

Bisakah aku mengatakan bahwa sekarang hubunganku dan Luhan seonsaengnim semakin dekat? (Ayolah…) Hampir setiap hari aku datang ke kelas menggambar walaupun itu bukan jadwalku. Biasanya aku akan menunggu sampai semua orang keluar, lalu perlahan-lahan masuk ke kelas itu dan…

“Haaa!!!” aku mengagetkannya, hingga bukunya hampir jatuh dari tangan. Dia tidak marah, malah tertawa bersamaku. “Maaf, seonsaengnim. Kau mudah dikerjai.”

“Dasar bandel.” Ujarnya memukul pelan kepalaku dengan buku. “Hari ini kita akan menggambar apa?” tanyaku riang, mulai mengeluarkan peralatan menggambar dari tas. Seonsaengnim bersandar pada dinding, menatap keluar jendela. Kalau kau berada di posisiku sekarang, kau akan melihat seorang tokoh manga yang sedang berdiri di tempa sinar matahari sore yang indah.

“Eumm…aku akan menjadi modelnya. Kau harus melukisku.” Katanya dengan santai.

Aku membelakkan kedua mataku. “Aku tidak bisa menggambar manusia. Aku tidak bis…”

Nampaknya dia tidak mau tahu apakah aku bisa atau tidak, dia langsung duduk di depan kertas gambarku, menyilangkan kakinya. “Ayo, mulai.” Suruhnya. Aku bersiap di belakang kertas gambarku. Luhan seonsaengnim menatap lurus ke arahku dengan wajahnya yang seperti malaikat itu. Dia tersenyum dan mengangguk.

“Aku…aku benar-benar…” aku tidak bisa berkata apa-apa selain mulai mengeluarkan pensil sketsa dan mulai menggoreskannya di atas kertas putih itu. Seonsaengnim tampak santai, dia terus memandangku sampai aku merasa tidak nyaman karena itu.   “Seonsaengnim …jangan melihat ke arahku seperti itu.” Ucapku. “Oh, maaf.” Dia mengarahkan pandangan keluar jendela.

Ada sedikit perasaan kecewa namun sekarang aku bisa melihat betapa lentiknya bulu mata itu. Aku mulai membubuhkan pensil warna disana. Setelah beberapa lama, aku pun selesai. “Selesai.” Kataku sambil meregangkan tubuh. Luhan seonsaengnim beranjak dari kursi untuk mengecek pekerjaanku.

Dia mengernyitkan dahinya, aku sudah menyangka dia pasti akan sangat bingung saat melihatnya. Luhan seonsaengnim menatapku penuh tanya, “Bunga matahari?” Aku mengangguk. “Haebaragi adalah bahasa koreanya. Aku tidak bisa melukis wajahmu disini, jadi untuk mewakilinya, aku menggambar haebaragi.”

Luhan seonsaengnim tertawa kecil, dia menggaruk kepalanya. “Eumm…kenapa harus bunga matahari? Apa aku terlihat seperti tanaman?” Aku pun tertawa mendengarnya.

“Pertama, aku harus jujur padamu, seonsaengnim, kau itu objek yang indah. Aku rasa untuk menggambarkan keindahan itu, bunga adalah objek yang tepat. Kenapa bunga matahari? Karena kau selalu tersenyum dalam keadaan apapun, senyumanmu sangat cerah seperti warna kuning bunga ini.” jelasku panjang lebar.

Untuk pertama kalinya Luhan seonsaengnim membelai kepalaku. “Anak pintar. Aku beri nilai seratus untuk gambarmu kali ini.” ujarnya. Aku mendengus, “Karena gambar ini tentang seonsaengnim makanya kau memberikan nilai seratus. Iya kan?”

Dia tertawa lagi. “Terima kasih ya, Eunmi. Kau sangat hebat. Kau boleh bawa pulang gambar itu.” Lalu dia pergi keluar kelas, sedangkan aku membereskan peralatan gambar. Tidak seperti biasanya, dia membiarkanku membawa pulang gambarku. Biasanya dia selalu menariknya.

***

“EXO, aku ingin beli album EXO hari ini. Astaga, tidak kusangka akhirnya tabunganku cukup untuk membelinya.” Celoteh So Eun. Hari ini kami pergi belanja di mall. Aku menemaninya ke toko CD untuk membeli album EXO. So Eun sangat bersemangat saat sampai disana.

Dipojok ruangan, ada sebuah rak buku sastra. Aku melihat beberapa diantaranya dan menemukan satu buku yang covernya mirip dengan buku Luhan seonsaengnim. Aku tidak tertarik untuk membacanya, namun buku ini terasa menyenangkan dipegang apalagi jika membayangkan seongsaenim membacanya di depan kelas sambil menungguku selesai.

“Eunmi, menurutmu aku harus membeli posternya juga atau tidak?” suara So Eun membuyarkan lamunanku. “Aku kesana.” jawabku, menaruh kembali buku itu ke tempatnya.

Aku baru saja membalikkan setengah tubuhku, ketika ada yang menahannya. Pemandangan di luar sana membuatku terpaku dan ada sesuatu yang aneh di dadaku. Aku tidak mengerti apa itu, tapi terasa sakit saat melihat Luhan seongsaenim.

Wajahnya berseri-seri, aku rasa memang pantas jika aku menggambarkannya sebagai bunga matahari. Namun, ada alasan mengapa dia bisa begitu berseri-seri.

seonsaengnim berada di parkiran luar. Dia menggenggam seorang gadis cantik berambut panjang. Motor putihnya terparkir disana, Luhan seonsaengnim mengambil helm pink itu dan memakaikannya pada gadis itu. Mereka tertawa bahagia sambil sang gadis memakaikan helm kepada Luhan seongsaenim. Dia merapikan poninya yang mencuat, lalu dengan perlahan mengeluarkan motornya. Gadis itu naik, juga…memeluk seonsaengnim, menaruh kepalanya di bahu seonsaengnim. Mereka pun pergi.

Aku membeku disana, seperti baru saja terkena zat kimia yang dapat membekukan tubuhku. “Eunmi ya~ Eunmi ya~” panggil So Eun. “Aku beli poster EXO-M.”

***

Beginikah caranya menolakku secara halus?

Aku memandangi gambar ‘Luhan Haebaragi’ yang kutempel di dinding kamarku. Rasanya aku ingin mencabutnya, merobeknya, dan mengunyahnya, menghancurkan semua kenangan tentang Luhan seonsaengnim.

Air mataku hampir kering setiap mengingat bagaimana dia duduk di depan sana, tersenyum padaku, memuji gambarku, membelai kepalaku. Dasar, Eunmi bodoh! Dia tidak mungkin menyukaimu! Gadis itu cantik dan seumuran dengannya. Aku tentu jauh lebih muda dan yang kurasakan saat ini adalah sakit.

Aku tahu mengapa dia menyuruhku membawa pulang gambar ini. Itu karena dia ingin ada sebuah kenangan tentang dirinya untuk kumilikki, karena aku tidak mungkin bisa memilikinya. Hgh…harus kah aku menangis lagi?

Yah…mungkin sekitar tiga jam dari sekarang aku akan terus menangis.

***

Aku tidak masuk ke kelas menggambar. Kukurung semua hasratku untuk pergi kesana walau hanya untuk sekedar melewati kelas itu, mencuri pandang pada Luhan seongsaenim. Tidak! Aku tidak mau datang ke kelas itu lagi!

Tiga hari berlalu dengan cepat. So Eun berkata bahwa Luhan seonsaengnim menanyakan ketidakhadiranku, tapi aku berbohong, kukatakan aku sedang tidak enak badan beberapa hari belakangan ini. “Ada apa sih, Eunmi? Kau pernah bilang kau tidak akan melewati kelasnya walau hujan dan badai sekalipun.” Aku menggelengkan kepala dan berjalan pulang.

***

Hari menjelang malam ketika aku datang ke lapangan basket dekat rumahku. Aku tidak bermain basket disana, hanya duduk sendirian, menghirup udara malam yang dingin menyegarkan. Beratus-ratus khayalan muncul dikepalaku, membuatku terlamun sampai mataku berair karena tidak berkedip.

“Menyebalkan…” gerutuku menendang bola basket ke pinggir lapangan. Aku buru-buru menghapus air mata ketika seseorang datang sambil mendrible bola tersebut. “Kau mau main?” tanya seseorang yang kukenal dengan nama Luhan seonsaengnim.

“Apa yang seonsaengnim lakukan disini?” tanyaku kaget. Dia duduk disampingku sambil memainkan bola basket ditangannya. “So Eun bilang kau tidak enak badan belakangan ini. Aku jadi khawatir dan So Eun bilang kau suka datang ke tempat ini, maka itu aku datang kesini.” Lagi-lagi mengumbar senyuman mematikannya itu.

“Dasar, So Eun ember!” gumamku kesal. Dia tertawa kecil, lalu berkata “Ada apa, Eunmi? Aku kehilangan muridku yang paling berbakat di kelas. Aku jadi tidak semangat.”

Kehilanganku membuatmu tidak semangat? Rasakan apa yang aku rasakan sekarang! Kehilanganmu membuatku ingin mati saja!!

“Eumm…aku tidak apa-apa.” Jawabku hampir berbisik. “Aku bukan psikolog, tapi aku tahu kau sedang berbohong. Itu…terlihat jelas diwajahmu. Jika disuruh menggambar, aku akan memilih bunga beracun berwarna hitam pekat.” Ujarnya.

Aku segera menatapnya. “Seonsaengnim jahat! Aku menggambarmu dengan indah, tapi kau malah ingin menggambarkan bunga beracun!” pekikku dengan mata berair. Dia tampak bingung, namun dengan segera membelai kepalaku. “Kalau begitu, katakan padaku…ada apa, Eunmi?”

Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus berkata bahwa aku ingin sekali membunuh wanita itu, menjambak rambut panjangnya hingga terlepas dari kepala, mencakar kulit mulusnya? Apa aku sudah gila??

“Wanita itu…pacar seonsaengnim?” Ah, akhirnya keluar juga kalimat itu. Luhan seonsaengnim mengusap lehernya dan mengangguk kecil. “Oh, kau melihatnya beberapa waktu yang lalu? Ya, dia pacarku.”

Baiklah, itu menyakitkan, tapi aku merasa lebih baik, karena mendengar dari mulutnya sendiri. “Apa kau sangat mencintainya?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk. “Aku sangat mencintainya.” Hatiku seperti ditusuk, dicincang, direbus…

“Sudah berapa lama? Apa…kau akan menikah dengannya?” kalimat itu puncaknya, aku merasa sebentar lagi aku akan mengoyak nadi tanganku. Luhan seonsaengnim tersenyum, “Sudah cukup lama. Eumm…menikah…aku belum memikirkannya.”

“Aku masih ada harapan! Iya kan?” tiba-tiba aku berkata seperti itu. Isshhh memalukan! Seonsaengnim tertawa kecil dan mencubit pipiku. “Eunmi ya~ kau cantik dan berbakat, pasti kau akan menarik banyak perhatian para laki-laki diluar sana.” Aku terdiam mendengarnya. “Jadi…tidak ada harapan?” Dia tersenyum. “Selalu ada harapan terbuka lebar di depanmu. Aku ingin Eunmi yang kubanggakan menjadi orang yang baik dan bahagia.”

Seketika hatiku yang sakit terasa membaik dan semakin membaik. Aku tidak menyesal menyukai seonsaengnim, dia memang pantas menerimanya. Hgh…aku rasa dia benar, aku harus bahagia.

“Seonsaengnim, boleh aku minta satu hal?”

Malam itu aku duduk dibelakang motornya. Aku memakai helm pink itu dan memeluknya dari belakang. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan wanita itu. Aroma parfum khas seonsaengnim memanjakan hidungku dan kehangatan tubuhnya membuatku nyaman.

“Eunmi ya~kau senang?” tanya Luhan seonsaengnim. Suaranya membuatku tersenyum senang. Sambil mengangguk aku berkata dalam hati…

Luhan seonsaengnim, I do adore you…

 

# THE END #

Hayooooo

Ngaku sini sama author, siapa yang mau jadi muridnya si Luhan seonsaengnim??

“saya, saya, saya” (se erte dateng semua!)

Hahaha…gimance gimance, silahkan di comment, mau bagus ato enggak. I need your opinion hehe

FF ini dibuat dengan khayalan tingkat tinggi jadi pliiisss tunjukkan kalo kalian juga berada di sisi yang sama dengan author #Lho??

12 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] I Adore You My Seongsaengnim

  1. Aaaa unyu banget kalo punya guru lukis kayak Luhannnn ><
    Coba kalo endingnya Eunmi ketemh cowok lain yang seumuran tapi ngegantung gitu~ pasti unyu :3 /penggilahappyending/ wkwkwk–v tapi ini udah unyu maksimal kok thorrr ;;)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s