[Freelance – Oneshoot] Jealous

Title :
Jealous?

Length :
Oneshoot

Rating :
General

Genre :
Romance

Author :
Rei

Main Cast :
~ Baekhyun ‘EXO-K
~ Mizukami Hita (OC)

Support Cast :
~ Taeyeon ‘Girls Generation’
~ Kris EXO-M
~ Luhan EXO-M

Disclaimers :
FF ini ASLI tercipta dari otak saya. Semua cast (kecuali OC) milik Tuhan YME, diri sendiri, dan orangtua masing-masing.

Author Note :
Ini FF pertama yang saya kirim kemari~ Saya juga termasuk author yang masih baru~ Jadi mohon maaf kalo di FF saya ini masih banyak typo dan sesuatu (?) yang nggak berkenan di hati readers~ FF ini udah pernah saya publish di blog pribadi (Rei Planet), dan beberapa blog. Ada beberapa kalimat/kata yang saya ubah di sini. Jadi kalo ada yang beda, itu bukan plagiat~ Emang saya sengaja ubah biar enak bacanya~

Credit Poster :
Hannie@fanfictionloverz.wordpress.com

 

Happy Reading~

Kutendang kerikil yang menghalangi jalanku. Ingin sekali aku berteriak sekarang. Hari ini sungguh menyebalkan. Baekhyun, namja jelek itu, membuat moodku anjlok seratus persen. Alasannya? Sangat sederhana. Dia, dengan ekspresi innocentnya yang membuatku muak, berbicara seenak jidatnya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.

 

Flashback mode : on

“Hita-ya, boleh aku bicara sebentar?” Tanya Baekhyun, mengejutkanku. Buku yang tadi kubaca segera kuletakkan. “Ada apa, Baekhyun?” Kataku.

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah mengerutkan keningnya. “Kamu memanggilku ‘Baekhyun’? Bukan Oppa atau Baekhyun-ssi?”

Aku menghela napas kesal. Apa maksud namja ini? Bukannya menjawab malah balik bertanya. Lagipula, itu bukan masalah penting. Mau aku memanggilnya Baekhyun, Oppa, Namdongsaeng, atau Tuan Baekhyun, itu tidak akan memberi pengaruh sama sekali. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Ada apa?”

Entah aku berhalusinasi atau apa, aku bersumpah melihat pipi Baekhyun memerah sekilas. Anak ini, ada apa dengannya? “Ano, Hita-ya. Aku mau minta tolong,” katanya lirih. Aku memutar mataku, kesal. “Ya, kamu mau minta tolong apa?”

“Kamu, kan, bekerja di kafé,” Aku mengangguk membenarkan, “jadi, bisakah kamu meminta pada bosmu untuk mengosongkan kafé itu selama satu jam? Aku ingin memesan tempat untukku dan yeojachinguku. Tapi tanpa membayar. Istilah mudahnya, aku meminjam kafé itu.”

Saat mendengar kalimatnya yang ‘untukku dan yeojachinguku‘, aku tersedak ludahku sendiri. Nani?! Dia sudah punya yeojachingu? Kenapa tidak memberitahuku? Aku mencengkeram pinggiran kursi yang kududuki. Dadaku sakit. Dan kalimat terakhirnya itu. Apa maksudnya? Jangan-jangan, dia berniat menggunakan uangku.

“Baekhyun babo. Mana bisa seperti itu? Aku, kan, hanya pegawai biasa. Bos tidak akan memberiku izin. Tidak membayar pula. Mana ada yang seperti itu? Kamu ini bodoh sekali,” balasku. Kuusahakan nadaku terdengar biasa.

Dia menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Dia sangat imut. Kalau situasinya tidak seperti sekarang, pasti aku sudah mencubit pipinya. “Yaah, sayang sekali. Padahal aku ingin menunjukkan yeojachinguku padamu. Aku ingin kamu jadi orang pertama yang tahu,” gumamnya.

Heh. Meskipun nanti aku bisa membujuk bos untuk mengosongkan kaféselama satu jam tanpa membayar biaya sewa, aku tidak akan pernah mau melihat wajah yeojachingunya. Aku melihat jam tanganku. Jam dua siang. Aku harus ke kafé sekarang. Terlambat sedikit saja, gajiku akan dipotong.

Sebelum aku bangkit, Baekhyun berlutut di hadapanku. Dia menangkupkan tangannya dan mengeluarkan kata-kata yang terdengar seperti ‘Please, please. Aku mohon. Sekali ini saja’. Wajahnya terangkat. Kurasakan wajahku memanas. Ini memalukan. Segera kupalingkan wajahku ke samping.

Aku tidak bisa menolak permintaannya jika seperti ini. Meskipun … meskipun jantungku terasa sakit, aku akan melakukan yang diminta Baekhyun. “Iya, iya. Jangan seperti itu. Memalukan sekali. Berdiri!” Bentakku. Dia bangkit, kemudian menunjukkan cengiran khasnya. Dia menepuk puncak kepalaku, kemudian mengacak-acak rambutku. Aku mendesis. “Kamu memang baik, Hita-ya. Yeojachinguku pasti akan senang.”

Deg!

Baekhyun berbalik, meninggalkanku di taman sendirian. “Sakit.”

Flashback mode : off

 

Dan di sinilah aku. Berjalan menujukafé dengan langkah tersaruk-saruk. “Bagaimana aku mengatakannya pada bos?” Gumamku. Sekarang bukan hanya dadaku yang nyut-nyutan, tapi juga kepalaku. Ah, kurasa perutku juga mulai sakit. Kutengok jam tanganku. Sudah jam tiga. Yah, terlambat.

Akhirnya, sampailah aku di kafé tempatku bekerja. Baru masuk beberapa langkah, bosku, Kris, sudah menyerbuku. “Bocah, berani-beraninya kamu terlambat! Kamu tahu sekarang jam berapa?” Aku hanya mengangguk mengiyakan dan menatapnya dengan pandangan datar. Pelipisnya berkedut. “Jangan mem …,”

Ponselnya berbunyi. Dia menjauh dariku, kemudian mengangkatnya. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke hadapanku. “Pakai seragammu, dan mulai bekerja!” Bentaknya. “I-iya, Kris-ssi,” kataku dan segera melesat ke ruang ganti.

Lima menit kemudian, aku sudah memakai seragam pegawaiku. Kris masih ada di tempatnya semula, di depan konter. Aku menoleh ke kanan kiri. Pegawai lain sibuk melayani pelanggan. Kesempatan bagus. Mumpung pegawai lain masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, inilah saat yang tepat untuk menanyakan permintaan Baekhyun pada bos.

“Kris-ssi, boleh saya meminta tolong?” Tanyaku saat bos menoleh padaku. Dia menyipitkan matanya saat mendengar perkataanku. Dalam hati, aku memohon supaya ia tidak marah dan mengabulkan permintaanku.

“Minta tolong? Heh, tidak sopan sekali. Tapi, baiklah. Akan kudengarkan. Asalkan tidak aneh-aneh, aku mungkin aku bisa membantumu,” balasnya.

Aku menghela napas lega mendengarnya. Fiuuh, ternyata bosku ini baik hati juga. “Ano, bisakah Anda mengosongkan kafé selama satu jam?” Tanyaku. Kris memberiku tatapan tajam. Baiklah, aku tahu kalau aku melanggar syarat yang diajukannya tadi, bagian ‘tidak usah aneh-aneh’. Tapi jangan memberiku tatapan seperti itu.

“Boleh saja. Cuma satu jam, kan? Oh ya, memangnya ada apa?”

Bagai tersambar petir, aku terkejut. Amat sangat terkejut. Tadi Kris bilang ‘boleh’ dan tersenyum? Aaa, kurasa aku harus memeriksakan telinga dan mataku nanti. “Teman saya ada acara dengan yeojachingunya. Dan saya disuruh untuk mengatur tempat. Karena itu, saya meminta bantuan pada Anda untuk meminjamkankafé ini. Umm, apa saya harus membayar?”

Dia menggeleng, dan tersenyum simpul. “Karena hari ini suasana hatiku sedang baik, aku tidak akan meminta biaya sewa. Oh ya, kamu saja yang melayani mereka,” katanya, kemudian pergi meninggalkanku.

===

Kata Baekhyun, dia akan datang ke kafé bersama yeojachingunya pada jam tujuh malam. Sekarang sudah jam enam lebih tiga puluh menit. Aku berdiri tegang di balik konter. “Hei, kenapa tegang seperti itu? Seperti mau bertemu penagih hutang saja,“ tegur Luhan, mengagetkanku. Dia menepuk puncak kepalaku. Segera saja kutampik lengannya.

“Tidak sopan. Aku ini sunbaemu!” Bentakku.

Dia mundur satu langkah, kemudian memandangku dengan tatapan tidak suka. ”Sunbae apanya. Aku lebih tu …,”

Perkataannya terhenti karena pintu kafé terbuka. ”Annyeonghaseyo,” sapa seseorang yang baru saja masuk, Baekhyun.

Selamat datang, Tuan. Silahkan duduk,” balas Luhan. Dia menghampiri Baekhyun dan mengarahkannya ke tempat duduk yang sudah disediakan. Aku memajukan kepalaku, melihat keluarkafé. Mana yeojachingunya?

Seakan mengerti apa yang kupikirkan, mendadak pintu kafé terbuka lagi, dan tampaklah seorang yeoja berambut pirang agak coklat sepunggung dan berparas cantik. Aigoo, jadi ini yeojachingu Baekhyun. Pantas saja Baekhyun menyukainya. Dia cantik sekali. Sangat berbeda denganku yang berpenampilan tomboy dan tampak seperti gelandangan.

Aku keluar dari balik konter, membungkuk pada yeoja itu, kemudian mengarahkannya ke tempat duduk yang ada di samping Baekhyun.

”Baekhyun-ah, jadi ini temanmu itu? Cantik sekali,” kata yeoja itu tiba-tiba. Aku yang baru berjalan menjauhi mereka dua langkah bisa mendengar perkataannya itu dengan jelas. Aku yakin dia sedang mengejekku, dan bukannya memujiku. Mulutnya benar-benar berduri, yeoja itu.

”Hei, kemarilah,” katanya. Langkahku terhenti. Aku berbalik, dan mendapati yeoja itu sedang menatapku dan melambaikan tangannya. ”Ada apa, Agassi?” Tanyaku. Bukannya menjawab, dia malah melihatku dari atas sampai ke bawah. Apa-apaan yeoja ini? Cih, sama saja dengan Baekhyun.

Deg!

Lagi-lagi perasaan ini. Kucengkeram ujung seragamku, dan berusaha mengeluarkan senyum terbaikku. ”Bukalah,” katanya.

Dia menyerahkan sebuah bungkusan padaku. Dengan ragu-ragu, aku menerimanya. Kubuka bungkusan itu dengan hati-hati. Kemungkinan bahwa yeoja ini berniat membuatku malu di depan Baekhyun sangatlah besar. Aku harus waspada.

Sebuah benda halus meluncur turun dari bungkusan itu, melewati tanganku, dan jatuh ke lantai. Aku segera mengambilnya. ”Ini …,”

Aku tidak bisa meneruskan kata-kataku. Benda yang ada di tanganku ini adalah sebuah dress. Apa maksud yeoja ini? ”Baekhyun tidak menceritakanku padamu, Hita-ssi? Aku sepupunya, Kim Taeyeon,” katanya.

”Baekhyun memintaku untuk memilihkan dress itu untukmu. Pakailah. Kamu pasti akan tampak sangat cantik.”

Hampir saja mulutku menganga kalau saja aku tidak cepat-cepat kembali ke dunia nyata. Jadi, yeoja ini adalah sepupu Baekhyun dan bukan yeojachingunya? Lalu, siapa yeojachingu Baekhyun? Dan kenapa Taeyeon-ssi memberikan dress ini padaku? Jangan-jangan …

”Kamu yeojachingu Baekhyun, kan? Apa dia tidak memberitahumu kalau hari ini kalian akan kencan?” Kata Taeyeon.

Huappah?! Kutatap Baekhyun dengan tatapan tidak percaya. ”Neo …,” Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa sekarang.

”Err, sebenarnya, aku mau menyatakan perasaanku padamu dengan rencana ini. Tapi, sepertinya gagal, ya,” kata Baekhyun sambil menggaruk tengkuknya.

Mataku memanas. Tapi tidak bisa kupungkiri bahwa perasaanku lega sekali. Ah, mungkin wajahku agak memerah sekarang. ”Babo! Kenapa tidak bilang saja dari awal? Kukira yeojachingumu itu adalah Taeyeon. Membuatku salah paham saja,” kataku sambil mengusap air di sudut mataku.

Dia melongo menatapku. Tapi itu tidak lama. Ekspresinya berubah menjadi ekspresi jahil. ”Aaa, jadi kamu cemburu, ya?” Katanya.

Aniyo! Mana mungkin aku cemburu. Memangnya kamu siapaku?!” Bentakku. Baekhyun dan Taeyeon tertawa mendengarnya.

Hari ini, yang sebelumnya ku-klaim sebagai hari yang menyebalkan untukku, ternyata adalah hari yang sangat membahagiakan. Baekhyun menyatakan perasaannya padaku, dan sekarang aku sudah resmi menjadi yeojachingunya. Aku senang sekali.

Lain kali, kurasa aku harus berpikir dua kali dulu sebelum merasa cemburu. Hehehe ^_^

END

A/N : Gimana FFnya? Nggak jelaskah? Pendek kah? Atau kepanjangan kah? #plakk. Maapkan ke-aLAY-an saya di atas. Maap, yah, kalo masih jelek. Maklum, author baru. Saya butuh kritik dan saran. Jadi, tolong berikan komentar kalian. Don’t be silent readers, please~

 

 

9 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] Jealous

  1. Kyaaaaa….
    Huwaaaa….
    Baekhyun……*teriak gaje*
    Aku suka banget sama Baek thor… Jiaaahh…. Nih author pinter nipu… Aku kira Taeyeon pacarnya,, tp ternyata…..
    Huwaaa… Huwaaa.. Huwaaa…
    *Author : nih bocah kenapa?*
    gomawoooooooo…… Yah thor…. Dah bikin ff yg castnya Baek….
    Chu~:*

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s