[Freelance – Oneshoot] Love Story: Last Meet

Title

‘Love Story: Last Meet’

Author

nrfaa (@nrfaa)

Rating

PG-13

Genre

Romance, Angst, Sad, AU

Length

Oneshoot (5766 word)

Main Cast

Cho Kyuhyun [Super Junior]

Han Ilra [OC]

Support Cast

Find by yourself

Summary : Apa jadinya jika bertemu dengan cinta pertama yang sudah 6 tahun tidak bertemu? Banyak sekelebat memori menghiasi hari yang dilewati pasti. Tapi tahukah, pertemuan ini menjadi akhir dari kisah cinta seorang gadis.

Disclamer : Cerita milik author, dan Kyuhyun milik Tuhan! FF ini bener-bener murni dari otak saya tanpa ada unsur nyontek sana-sini dari FF para sunbae saya, dan bila ada kesamaan dalam nama tokoh, latar, dan peristiwa, itu hanya ketidaksengajaan Tuhan memberi inspirasi kepada saya (?)

Note : Annyeong. Apa kabar nika? *efek ajaran kyu* kembali lagi dengan FF Author yang setengah dagleg dijamin labil banget *hiw Ini FF kedua, dan ini super-super gaje banget dengan diiringin bahasa naturalnya alien, harap kalian bisa mengerti keadaan saya yang notabene author amatiran. Ini FF bener-bener nguras otak aku, tapi sayangnya ini FF ga berhasil nguras hati author. Supaya lebih jelasnya lagi, mending baca aja. Maaf kalo typo bertebaran. Kalian juga bisa mampir ke http://nrfaa.wordpress.com *If you wanna^^ Aku tunggu kritik dan sarannya.

Happy reading^^

“Akan ada kisah di balik sebuah pertemuan, kau tahu itu? Entah kisah seperti apa, kita sebagai makhluk hanya bisa menjalani wasiat dari Tuhan bukan?” – nrfaa

***

September, 1 2012

Musim panas kali ini begitu terasa menyengat, berbeda seperti musim panas sebelum-sebelumnya. Mungkin ini akibat terjadinya Global Warming yang dialami bumi sehingga berdampak besar pada sinar-sinar matahari yang terpancar kebumi. Namun, itu hanya akan dirasakan di luar sana, tidak untuk disebuah ruangan berukuran minimalis yang didasari warna hijau muda itu. Memberi sedikit suasana sejuk setidaknya.

Di ruangan tersebut tertata rapih barang-barang sesuai tempatnya, lalu dengan kertas-kertas yang dengan sengaja di tempel tepat didekat jendela. Kertas-kertas itu bukan sekedar kertas, namun ada garis-garis membentuk sebuah design gaun.

Ya, pemilik ruangan itu adalah seorang designer muda yang baru 4 bulan ini membuka butiknya di kota Seoul. Setelah empat tahun ia berkuliah di Prancis, lalu satu setengah tahun ia melanjutkan kesehariannya, masih di Prancis.

Tentu sebelum dia ke Seoul, dia pernah tinggal di Seoul juga. Ania, bukan hanya pernah, bahkan dia lahir dan besar di Seoul. Terlebih lagi dia bersekolah hingga pendidikan terakhirnya di Korea yaitu di Yumkwang High School.

‘tok..tok..tok’ suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu ruangan tersebut.

“Ne, masuk!” Saut seorang gadis dari dalam ruangan tersebut. Gadis di ruangan tersebut masih terus mengadukan ujung pensil ke atas selembar kertas yang tergeetak tepat di atas meja gadis itu.

‘Ceklek’

“Mianhaeyo sajangnim, ada seorang pelanggan yang ingin bertemu denganmu. Sebelumnya dia ingin memilih gaun untuk calon istrinya. Namun ia merasa semua gaun yang dipajang di etalase toko tidak ada yang cocok dengan sang calon. Ottoke sajangnim?” jelas karyawan butik yang bernama Lee Raekyo itu, sontak menghentikan gerakan tangan sajangnimnya tersebut.

“Nuguseyo? Kajja, aku ingin menemuinya.” Kata gadis itu sambil berjalan mendahului karyawannya.

***

Gadis itu sudah semakin dekat dengan keberadaan sepasang calon-suami-istri itu pun mencoba memasang tampang tenang. “Permisi tuan, ada yang bisa saya ban…tu?” sapa gadis itu sekaligus bertanya. Namun bagi siapapun yang mendengarnya, sapaan gadis itu terdengar seperti orang yang menggantungkan perkataannya akibat keterkejutan.

“Ilra~ya,” saut lelaki yang ada dihadapan gadis itu dengan sedikit shock. Ne, gadis berprofesi sebagai designer muda itu bernama Ilra.

Entahlah, seperti ada tarikan yang kuat hingga mereka saling menatap tajam terhadap sosok yang ada dihadapan mereka masing-masing.  “Ehemm,” suara Raekyo menyadarkan Ilra dan sosok lelaki itu, termasuk menyadarkan calon-istri dari lelaki itu yang terlihat bingung melihat dua orang tadi saling melempar tatapan tajam.

“Mianhaeyo tuan, dia pemilik butik ini sekaligus designer gaun yang telah dipajang di etalase toko.” jelas Raekyo dengan halus tepat di samping Ilra.

“ Ne sunbae, senang bertemu denganmu lagi. Ah, ada yang bisa kubantu? Kudengar kau kurang suka dengan semua design baju yang dipajang? Apa benar seperti itu?” tanya IlRa dengan jelas sambil melempar tatapannya kearah yeoja di samping namja itu.

“Oppa, apa kalian saling kenal?” kata yeoja yang berada di samping namja bernama Kyuhyun dengan tampang bingung.

“Ah ne. Jisun~ah, perkenalkan dia hoobae-ku dulu di SMA. Dan Ilra perkenalkan….dia tunanganku.” jelas Kyuhyun dengan ragu dan diakhiri dengan sedikit jeda saat memperkenalkan yeoja disampingnya.

Deg..

‘Kenapa perasaanku begitu sakit seperti ini? Ada apa denganku?’ desis Ilra dalam hatinya.

Seperti hati yang teriris tanpa tahu jelas penyebabnya, Ilra pun menyambangi uluran tangan Jisun yang sudah menggantung dihadapan tubuhnya.

“Jisun imnida,” senyum Jisun mengembang indah begitu memperkenalkan dirinya. Terlihat keceriaan terpancar dari gurat wajah Jisun.

“Han Ilra imnida, bangapta.” balasnya dengan tersenyum, berbeda jauh dengan hatinya yang semakin teriris saat melihat gadis dihadapannya itu terus tersenyum.

‘Bahkan ketika kau memiliki kekasih, kau begitu cocok bersama kekasihmu.’ desisnya kembali saat melihat gadis yang ada disamping Kyuhyun.

Namun, sedetik kemudian ia disadari dengan tujuan pertama sepasang-calon-suami-istri dihadapannya datang ke butik itu.

“Ah ne, kapan kalian akan menikah?” tanyanya sambil terus mengembangkan senyumnya.

Ilra begitu pintar sekali menyembunyikan perasaannya saat ini, menahan rasa tak mampu untuk mendekap sosok namja yang selalu menghantui hari-harinya, seolah otaknya tak pernah bisa diajak berkompromi dengan hatinya.

‘Apa aku terdengar miris melontarkan pertanyaan itu? ha!’ tertawanya dalam hati.

“Kami akan menikah 3 minggu lagi, oenni.” saut Jisun sambil menggelantungkan tangannya pada lengan Kyuhyun. “Ah ne, bolehkan aku memanggilmu oenni?” lanjut Jisun dengan sangat antusias.

“Ne, gwenchana Jisun~ah.”

Kyuhyun sendiri pun menatap tajam Ilra, seolah memberi penjelasan melalui batin-nya. Namun, Ilra tak menyadari tatapan Kyuhyun itu.

“Ne, ada waktu untuk membuat gaun yang baru kurancang. Apa kalian mau melihat rancangan itu? Jika kalian masih ingin menggunakan jasaku tentunya?” tawarnya sambil memasang wajah mengharap lalu menggerakan bola matanya, menatap sepasang-calon-suami-istri.

“Aku ingin melihatnya oen.” saut Jisun lagi dengan mata berbinar.

Berbeda dengan Kyuhyun yang masih menelisik tajam Ilra, seolah ada yang ingin ia sampaikan. Tapi, lagi-lagi Ilra tak menyadarinya.

“Baiklah, kalian tunggu dulu disini.” katanya sambil melenggang pergi menjauhi Kyuhyun dan Jisun menuju ruangan pribadinya.

***

Ilra masih mencari-cari beberapa rancangannya di atas tumpukan kertas dimejanya. Memilih-milih rancangan terbarunya yang baru ia gambar semalam ataupun hari ini. Ilra begitu rajin mengeluarkan imajinasinya tentang gaun pernikahan untuk sekedar dicoretkan diatas kertas. Hampir banyaknya rancangan yang ia buat, bahkan hanya ada 1 diantara 10 rancangan gaun yang ia gambar pasti ia buat dalam bentuk jadi.

Tes..

Setetes cairan kental berwarna merah atau sering kita sebut sebagai darah keluar dari lubang hidungnya, memberikan sebuah tanda bercak diatas rancangan yang ingin ia tunjukan ke spasang-calon-suami-istri di depan sana.

Sontak dengan refleks, ia menahan cairan keluar itu untuk keluar lagi dengan tangannya. Berusaha berlari mengambil tissue basah yang berada di dalam tasnya. Dengan sigapnya, ia cepat mengelap cairan yang sudah mengalir melewati lubang hidungnya itu.

Sudah kedua kalinya cairan itu mengalir pada hari ini. Tapi hal itu sudah biasa dialami oleh gadis itu, seolah cairan kental itu sudah mengalir terlalu banyak dan sudah menjadi bagian dalam hidupnya.

Tidak butuh lama untuk membersihkan darah tersebut. Beberapa saat kemudian, hidung dan tangannya pun sudah bersih dari noda darah tadi. Ilra segera mengambil rancangan-rancangan yang sudah ia pilih dan membawanya untuk menujukan kepada sepasang-calon-suami-istri di depan sana.

***

‘Setidaknya aku punya alasan untuk melupakan dan merelakan dia bersanding dengan gadis pilihannya.’ Desis Ilra dalam hatinya ketika berjalan keluar untuk menghampiri sepasang-calon-suami-istri itu.

“Mianhae lama. Ini, coba kalian lihat-lihat saja dulu.” Ucap  Ilra dengan ramah sambil menyodorkan beberapa rancangannya ke hadapan sepasang-calon-suami-istri itu. Jisun yang merebut kertas-kertas itupun segera melihat-lihat, “Oppa, ini bagus kan?” tunjuknya sambil menyodorkan rancangan itu ke depan wajah Kyuhyun.

“Ania, itu terlalu banyak bentuk.” saut Kyuhyun dengan dingin serta memasang wajah kurang suka.

“Yang ini oppa, bagaimana? Aku suka design-nya.” tanya Jisun lagi masih dengan wajah ceria.

“Aish, yang ini tidak sesuai dengan tema pernikahan kita.” jawab Kyuhyun tak kalah dingin dengan yang tadi. Perdebatan mereka seperti tak ada hentinya. Semua rancangan yang ada digenggaman Jisun, dijawab Kyuhyun dengan dingin, yang berarti Kyuhyun tidak menyukai design tersebut.

“Oppa, ini rancangan terakhir. Kau tahu, aku hampir bosan dengan semua alasan ketidak sukaan-mu itu. Sekarang aku yang akan memilih.” kata Jisun dengan semburat kesal.

“Oenni, rancangan ini aku sangat suka sekali, berbeda dengan rancangan-rancangan yang sebelumnya. Bagaimana eon?” tanya Jisun dengan senyum mengembangnya.

‘Kyu sunbae, seburuk itukah kau memandang apa yang telah kubuat atau mungkin kau tidak ingin kekasihmu itu memakai design gaun pernikahan yang buruk dihari pernikahanmu nanti?’ desis Ilra kembali sambil memandang rancangan yang ditunjukan Jisun.

“Jisun~ah, kau tahu? Itu adalah rancangan gaun yang paling kusuka. Jika kau mau, kajja ikut aku. Aku akan mengukur tubuhmu terlebih dahulu.” kata Ilra sambil menyorotkan bola matanya ke arah Jisun-Kyuhyun bergantian.

“Ne, kajja oen. Oppa kajja.” ajak Jisun kepada Kyuhyun yang masih terdiam memasang gurat kesal.

***

‘Bila aku tak sempat memakai gaun impianku hingga aku sudah tidak bisa memandang dunia lagi. Setidaknya, ada seseorang yang akan mewakilkan perasaanku, untuk mengenakan gaun pernikahan impian itu.’ desis Ilra lagi dalam hatinya sambil terus mengukur setiap lingkar tubuh Jisun.

“Oenni, boleh aku bertanya?” tanya Jisun dengan penuh pengharapan.

“Wae?” saut Ilra dengan lembut, sambil masih mengukur gadis dihadapannya itu. Jisun yang mendengar jawaban Ilra pun melempar tatapan mengejek sekilas ke Kyuhyun yang duduk terdiam memainkan handphone-nya.

“Oenni, apa kau tau siapa cinta pertama Kyu oppa?” tanya Jisun dengan semangat, sontak mengalihkan focus Kyuhyun ke arah Ilra dan Jisun.

“Kau tau oen, Ahra oenni pernah bilang, kalau Kyu oppa selalu bercerita tentang cinta pertamanya. Sampai akhirnya ia bertemu denganku, ia masih saja bercerita tentang cinta pertamanya. Apa seperti itu rasanya memiliki cinta pertama? Tapi sayangnya, Kyu oppa tidak pernah memberitahu siapa yeoja itu. Apa kau tahu oen?” cerita Jisun langsung membuat Kyuhyun memelototi Jisun.

Ilra dan Jisun yang melihat itu pun, terkekeh geli.

“Kau tahu, Kyu sunbae itu dulu banyak yang menyukai. Karena banyak, aku tidak bisa membedakan sikapnya saat bersama yeoja. Dia terlalu dingin untuk meladeni setiap yeoja.” jelas Ilra disusul kekehannya.

“Ilra~ssi, aku tidak seperti itu.” bantah Kyuhyun dengan melempar tatapan membunuh kearah dua yeoja yang tengah berdiri berhadapan.

“Tapi kau tahu Jisun~ah? Saat acara perpisahan sekolah dulu, Kyu sunbae memiliki kekasih. Ya, mereka sangat cocok, tapi bila dibandingkan denganmu sekarang, aku rasa kalian sangat-sangat jauh lebih cocok.” kata Ilra menahan desakan hatinya. Menuntunnya agar melepas segala pertahanan diri agar tidak menangis. Seakan menunjukan bahwa Ilra benar-benar tergila-gila dengan sosok Kyuhyun.

“Jinja oen?” saut Jisun dengan senyum semriungahnya.

“Yak! Bisakah kalian berhenti membicarakan itu, aku bosan mendengar kisahku sendiri.” teriak Kyuhyun dengan kesal masih dari tempat duduknya.

“Arra.. arra oppa,” balas Jisun mencoba menenangkan Kyuhyun.

***

Kyu’s Room

Malam pun tiba. Serbuan angin malam menerpa masuk ke dalam sebuah kamar, dimana ada seorang namja yang tengah terfokus pada PSP-nya. Ya, tidak lain tidak bukan ialah Kyuhyun sang maniak game. Setiap sudut kamarnya sudah dipenuhi dengan erangan-nya kala ia bermain, sambil menunjukan ekspresi yang tiap detiknya akan berubah.
‘YOU LOST’ dua kata itu tiba-tiba muncul setelah berakhirnya permainan. Menandakan sang human control baru saja dikalahkan oleh computer control.

“Aish!” jerit Kyuhyun dengan frustasi sambil mengacak rambutnya dengan kasar, lalu melemparkan PSP-nya ke sampingnya. Kyuhyun segera menuruni ranjangnya, melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya. Kini langkah kakinya mengarah ke pintu yang ada di depan pintu kamarnya.

‘Ceklek’

Kyuhyun yang sudah memasukan kepalanya ke dalam, bermaksud ingin melihat apa yang dilakukan noona-nya. Ya, gadis yang Kyuhyun cari di kamar itu sedang asyik memfokuskan sorot matanya, membaca sesuatu yang sekarang tengah terpampang jelas di layar laptop noona-nya.

“Noona, apa kau tidak bosan membaca kisah orang lain yang nyatanya dia orang terbodoh yang pernah ada di dunia ini. Bahkan kau juga tidak mengenalnya ‘kan?” ucap Kyuhyun ketika ia sudah berada disamping noona-nya, Cho Ahra.

“Kyu, ketika kau menjadi lelaki yang gadis itu selalu ceritakan. Kau akan tahu betul seperti apa cinta yang sesungguhnya, ketika ia sudah tidak pernah muncul dalam sudut ruang di bumi ini lagi. Kepergiannya yang menyadarkan-mu, bahwa dia adalah gadis yang luar biasa.” ucap Ahra dengan lirih sambil menatap sendu namdongsaeng-nya itu.

“Hmm, memangnya apa lagi yang sekarang gadis itu ceritakan di blog-nya?” tanya Kyuhyun sambil merebahkan tubuhnya di ranjang ukuran king-size di kamar itu.

“Bacalah!” tunjuk Ahra sambil mengoper laptopnya ke pangkuan Kyuhyun, sontok Kyuhyun bangkit dari pembaringannya.

“We meet again,” desis Kyuhyun membaca judul dari postingan blog, dan itu masih bisa didengar oleh Ahra noona.

“Aku bersyukur telah bertahun-tahun Tuhan menjaga perasaan ini. Mempertahankannya dalam benakku tanpa ada penggantinya. Aku selalu percaya, bahwa Tuhan punya rencana lain yang suatu saat nanti tidak akan pernah bisa untuk diduga. Dan hari ini, Tuhan telah mempertemukan-ku dengannya, dengan lelaki yang selama ini menguasai setiap ruang hatiku setiap harinya. Tapi aku melihat seorang wanita berada disisinya, merangkul lelaki itu dengan mesra, dan bagai petir yang menyambar hidupku, pernyataan mereka yang ingin ‘menikah’ seolah meyakinkan-ku, bahwa hidupku tidak pernah ada harapan lagi. Kini aku hanya dapat menunggu vonis dokter tentang kematian-ku. Kurasa kematian-ku nanti akan membawa sebuah lembaran kebahagian baru bagi orang yang aku sayang, Oemma, Appa, Halmoni, sahabat-sahabatku, dan cinta pertamaku.”

Kyuhyun pun mengakhiri bacaannya. “Kau tau Kyu, aku seperti mengenal gadis itu begitu dalam. Walau selama ia memposting, ia tidak pernah sekalipun memberi tahukan identitasnya atau cinta pertamanya.” jelas Ahra sambil menatap lurus ke depan.

“Dan Kyu, aku tahu kau masih menyimpan perasaan itu. Kuharap kau bisa menemukannya dan segera mengungkapkan perasaanmu sebelum hari pernikahanmu tiba. Aku ingin melihatmu adil atas perasaanmu untuk siapapun gadis diluar sana, yang sudah berhasil membuatmu tergila-gila seperti ini.” kata Ahra sambil menggengam erat tangan Kyuhyun.

Kyuhyun yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan setiap penuturan Ahra noona. Kini ia mengeluarkan suaranya, menatap sendu gadis disampingnya dan mempererat genggaman tangannya.

“Noona, kau benar. Aku sudah tergila-gila padanya. Aku tak bisa berhenti memikirkan dia, bahkan ketika Appa dan Oemma memutuskan untuk menikahiku, yang terlintas dibenakku hingga kini hanya dia.” ungkap Kyuhyun begitu saja sampai tak sadar ada sebutir cairan bening telah melewati pipinya.

“Noona, aku terlalu pengecut. Aku selalu terlihat lemah dihadapannya.” ucap Kyuhyun seperti menjerit tertahan. Untuk kesekian kalinya cairan bening itu menetes dari ujung pelupuk matanya, lalu melewati pipi Kyuhyun yang putih pucat itu.

“Berhentilah seperti ini Kyu. Jika kau mau merubah kisah cintamu, cari gadis itu dan datanglah padanya. Kisahmu masih bisa dirubah sebelum kau benar benar mengikat janji pernikahanmu nanti.” ucap Ahra noona dengan lembut sambil mengusap cairan bening yang tidak lain adalah air mata di pipi namdongsaengnya itu.

“Percayalah pada hatimu, ikuti kata hatimu mengarah.” sambung Ahra sambil menepuk pelan pundak Kyuhyun dan mengeluarkan senyum untuk menyemangati namdongsaengnya.

– Kalian ingat tentang seorang lelaki yang menangis untuk seorang wanita? Itu seperti tanda bahwa lelaki itu mencintai wanitanya dengan hati yang tulus –

***
September, 3 2012

Seoul International Hospital

“Maaf nona Han, saya harus memberi tahu ini. Penyakitmu sudah mencapai stadium terakhir, mengingat bagaimana anda selalu mengulur waktu untuk pemeriksaan lebih lanjut…waktumu untuk bertahan hidup sudah tidak lama lagi. Bila kau ingin tetap bertahan hidup, secepatnya kau harus mencari donor sumsum tulang belakang yang cocok untuk anda. Kau hanya punya waktu 3 minggu.” Sekelebat perkataan dokter terus membayangi otak Ilra setelah ia keluar dari ruangan dokter Park.
“Ha, kalaupun aku mengikuti kata dokter tentang pencangkokan itu, pada akhirnya suatu saat nanti aku akan meninggalkan dunia ini juga.” gumam Ilra dengan kekehan kecil saat ia sudah berada di koridor lantai dua rumah sakit.

Berjalan pelan seperti terseok dengan air mata yang mulai mengaliri pipinya. Dengan cepat, ia segera menghapus air matanya. Lagi-lagi ia kembali terkekeh, menertawai hidupnya mungkin.

***

‘Kling..’ suara pintu lift yang terbuka menyadarkan lamunan Ilra. Ilra pun segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari lift. Ilra berjalan melewati lobby sambil menundukan kepalanya menuju pintu keluar rumah sakit.

‘Bruk..’

“Hey! Kau tidak punya mata ya? Ha?” teriak seorang lelaki kepada Ilra yang sejak tadi Ilra masih menundukan kepalanya yang sudah sebagian tertutup oleh kupluk dari jaketnya.

Lelaki itu kesal lantaran Ilra menabraknya sehingga membuat segelas kopi yang ada ditangan lelaki itu menumpahi kemeja lelaki tersebut. Lalu Ilra pun menundukan kepalanya bukan tanpa sebab, ia sedang menahan cairan kental yang selama ini selalu keluar melewati lubang hidungnya dengan tangan kanannya.

“HEY! KAU TULI ATAU APA? HA!” teriak lelaki itu lagi.

Ilra yang sadar bahwa dia tidak bisa berlama-lama ditempat itu, lantaran dia dan lelaki itu sudah menjadi tontonan orang di lobby.

“Mianhaeyo tu..an,” ucap Ilra tersekat ketika ia mengangkat kepalanya dan mendapatkan sosok Kyuhyun yang meneraikinya sejak tadi.

“Ilra? Gwenchanayo?” ucap Kyuhyun sedikit shock. Bukan karena orang yang diteriakinya itu Ilra tapi Kyuhyun melihat hidung Ilra beserta tangan gadis itu sudah dilumuri oleh darah.

“Gwenchana sunbae. Mianata sudah membuat kemejamu kotor, jika kau butuh ganti rugi atas kemejamu, hubungi aku. Aku masih ada urusan, annyeong gaseyo.” kata Ilra sambil melenggang pergi meninggalkan Kyuhyun yang masih tak bergeming.

***

Sebuah tissue basah sudah hampir penuh dengan warna merah darah. Tissue itu sudah menjadi pengganti air untuk membasuh darah yang tadi keluar dari lubang hidung Ilra.

Ilra segera mencari handphone di dalam tasnya, setelah mendapatkannya. Ia mencari nomor di daftar kontaknya lalu menghubungi nomor tersebut.

“Yoboseyo,” saut seorang gadis diseberang telpon.
“Ne, Raekyo. Bila nanti ada yang mencariku, jebal bilang aku sedang pergi keluar kota. Dan untuk beberapa hari ke depan aku tidak akan ke butik.” kata Ilra dengan nada memohon.

‘flip’

Ilra sudah memutuskan kontaknya, tanpa Raekyo menjawab. Karena Ilra sudah percaya bahwa Raekyo sangat menuruti perintahnya itu. Ilra pun segera menginjak pedal gasnya menuju apartement-nya.

***
My…

Ketika aku sudah tidak sanggup lagi menatapmu. Saat cintaku masih dalam pertahananku. Menunggu tangan Tuhan ‘kan menjemput setiap langkahku dan segera menghapus setiap jejak yang telah aku arungi. Bawalah aku menari ke kediamanmu dengan tenang, Tuhan. 

Tuhan, berjanjilah padaku. Jagalah orang-orang yang ku sayang ketika aku sudah berada disisimu. Jangan biarkan setetes air mata pun menjelajahi pipi mereka, aku tak mau melihat mereka bersedih dari sisimu.

Angel Auntumn

***

September, 8 2012

Seoul Cafeteria

Musim panas lagi-lagi tak menghalangi Ilra untuk tetap melangkahkan kakinya menuju sebuah cafe. Dengan menggunakan jeans biru pudar dengan atasan T-shirt longgar berwarna putih, lalu rambut yang diikat kuda. Ilra membuka pintu cafe dan mengedarkan pandangannya yang berhiaskan kacamata semasa SMA-nya dulu. Saat ia ingin menuju meja kosong, terdengar suara teriakan memanggil namanya dari sisi kanan langkahnya.

“Hey, Ilra!”

Hal itu berhasil membuat pandangan Ilra berpindah ke arah seorang yeoja yang sedang menatap Ilra dengan wajah yang semreungah. Ilra pun melihat yeoja tersebut dengan wajah senang dan kembali melangkahkan kakinya yang sebelumnya terhenti akibat panggilan yeoja tadi.

“Yak! Kau? Sejak kapan kau ada di Seoul? Ha?” tanya yeoja itu dengan nada seperti menggerutu, setelah Ilra sudah mendudukan tubuhnya di kursi dihadapannya.

“Yak oenni, aku sudah berapa bulan disini ya? Aish aku lupa oen.” kata Ilra dengan penuh senyum.

“Setidaknya kau menghubungi ku. Kau ini banyak sekali alasannya.” yeoja itu pun melemparkan tatapan sebal ke Ilra sekaligus memajukan bibir bawahnya.

“Bagaimana bisa aku menghubungimu, aku saja tidak punya nomor teleponmu oen,” balas Ilra dengan wajah yang masam.

“Mana handphone-mu?” kata yeoja itu sambil menadangkan tangannya ke hadapan Ilra. Ilra pun mengasih handphone-nya.

Beberapa saat kemudian setelah yeoja itu mengetikan sesuatu di handphone Ilra, yeoja itu menyerahkan handphone Ilra ke sang pemiliknya.

“MWO?? Apaan ini? Tsk,” dumel Ilra sambil melihat contact name bertuliskan ‘Ahra’s cute’.

“Jangan banyak protes.” balas yeoja yang bernama Ahra itu.

“Ne..Ne..Ne..” saut Ilra dengan pasrah.

“Hey! Kau sudah punya pacar?” tanya Ahra dengan antusias.

“Mm, belum. Wae?” jawab Ilra dengan santai sambil meyeruput coffee mocca yang tadi ia pesan dan baru saja diantarkan oleh pelayan.

“Yak! Bagaimana bisa kau belum juga mempunyai pacar? Aish, coba saja namdongsaengku belum bertunangan, pasti aku akan memperkenalkannya padamu.” gumam Ahra dengan sedikit menyesal.

“Oh ya? Mm, sepertinya aku tidak akan tertarik.” kata Ilra sambil menahan ketawa.

“Yak! Apa kau tau, namdongsaengku itu bisa membuat semua gadis terpesona, bagaimana kau?. Dan kurasa kalau kau bertemu dengannya, kau pasti bisa melupakan cinta pertamamu itu.” jelas Ahra dengan tatapan penuh keyakinan. Namun, Ilra hanya membalas Ahra dengan senyuman.

“Ah ya, sejak kau di Seoul, apa kau sudah bertemu dengan cinta pertamamu itu?” tanya Ahra dengan nada pelan.

“Kelihatannya?” tanya balik Ilra sambil mengangkat kedua bahunya dan kembali menyeruput minumannya.

“Aish kau ini bodoh atau apa? Kenapa tidak kau ungkapkan saja perasaanmu? Aku yakin betul, semua yang tidak sengaja kau ceritakan dulu di Prancis, aku bisa menarik kesimpulan kalau dia juga mencintaimu.” jelas Ahra yang menatap Ilra tak tega.

Ilra yang mendengar pun terkekeh pelan, “Oenni, jangan terlalu menarik kesimpulan secepat itu. Kalau tidak gimana?”

“Yak! Noona! Ada apa kau memanggilku? Ha?” ucap seseorang dengan sedikit teriak yang hampir dapat terdengar seruangan tersebut. Tapi berhubung ini musim panas, cafe pun sepi.

Lelaki itu berteriak dari belakang punggung Ilra. Ilra yang sedang kembali menyeruput minumannya, ikut mendengar teriakan orang yang ada di belakangnya. Namun Ilra tak mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut.

“Bisakah kau tidak usah berteriak? Ha?” saut Ahra dengan kesal masih di tempat duduknya.
Ilra yang sudah mengembalikan cangkir di atas meja, dan mengalihkan pandangannya ke sumber suara tadi.

“Ilra~ya,” desis orang tadi saat melihat sosok Ilra ada dihadapannya.

‘Hari ini detik ini, aku tidak tahu bagaimana cara bernafas dengan benar. Mencintaimu adalah alasannya.’

***

Cho’s House

‘Cinta itu membuat seseorang menjadi berbeda. Tanpa kita sadari, orang itu telah rapuh. Dan hari ini karena sebuah pertemuan, aku mengetahui cinta pertama namdongsaengku, yaitu orang yang sebelumnya kukenal.’

“Dia masih menunggu cinta pertamanya, Kyu.” ujar Ahra yang berdiri diambang pintu kamar Kyuhyun.

“Nugu? Ha? Tsk, gadis bodoh itu.” Kyuhyun masih berbaring di atas tempat tidurnya setelah pertemuannya tadi dengan Ilra. Hal yang pertama yang ia fikirkan saat bertemu dengan Ilra, apakah gadi itu baik-baik saja? Namun seperti biasanya, Kyuhyun tidak tahu harus berbuat apa saat dihadapan Ilra.

“Dia tidak bodoh. Kau tahu? Wanita lebih tahu mana waktu untuk menunggu seseorang dengan tulus, dan wanita juga punya batasan mencintai seseorang. Ilra, gadis itu membatasi perasaannya ketika ia tahu seseorang yang dia cintai sudah bersama wanita lain. Apa yang bisa ia lakukan? Bukankah para lelaki selalu berkata, bahwa wanita adalah makhluk terlemah. Tapi nyatanya, kaulah makhluk terlemah.” Kata Ahra dengan lirih sambil melemparkan tatapan mengejek, seolah tatapannya berbicara ‘kau bodoh’.

“Sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara. Karena kutahu, kau hanya bisa mencerna kalimat-kalimat perintah di video game-mu dan angka-angka kalkulus, tidak untuk sebuah penjelasan.” lanjut Ahra yang dijawab kekehan kecil dari Kyuhyun.

Ahra yang sudah puas menjelaskan semuanya, kini ia beranjak dari tempat ia berdiri sejak tadi -ambang pintu-. Meninggalkan Kyuhyun sendiri yang masih berbaring tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
***
September, 14 2012 

Han River

‘Aku tidak memiliki titik fokusku lagi. Harapan dan cinta akan sekejap sirna dalam 1 hari yang selalu ditakuti orang, yaitu hari kematian. Begitu pula hari itu akan menjemputku, sepertinya aku sudah siap.’

Angin sore berhembus membawa udara dingin untuk kota Seoul. Sedikit menutupi cuaca panas tadi siang. Sungai han sore ini begitu indah, dengan semilir angin yang menampar permukaan wajah Ilra yang berdiri di pinggir sungai Han.

Memandang kosong ke seberang sungai, seolah disana ada beribu hal fana yang menggiurkan telah menenangkan hati Ilra sejak 15 menit yang lalu. Ilra masih berfikir keras, bagaimana kematiannya akan menjemputnya nanti? Lalu seperti apa reaksi orang-orang yang ia sayang mengetahui ia meninggal nanti? Pertanyaan itulah yang sekarang telah menyarang di otaknya.

“Ilra~ya,” panggil seseorang dengan nada lirih, yang membuat Ilra berhenti melemparkan tatapan kosongnya tadi dan segera menatap objek sumber suara yang memanggilnya.

deg..

Untuk ke empat kalinya Ilra bertemu sosok lelaki yang kian melangkahkan kakinya untuk mendekati Ilra. Hal yang pertama kali Ilra tanyakan dalam benaknya saat melihat sosok lelaki itu adalah ‘bagaimana cara bernafas dengan baik?’.

Saat lelaki itu kian mendekat. Ilra melangkahkan kakinya untuk berbalik arah dan segera pergi. Tapi baru beberapa langkah Ilra menjauh, tangannya tersentak pelan.

“Lepaskan tanganku sunbae!” teriak Ilra dengan penuh amarah.

“Kenapa? Kenapa kau selalu menghindar seperti ini? Ha?” ucap sosok bernama Kyuhyun itu dengan lirih.

“…”

“Jawab aku Ilra!” kata Kyuhyun dengan emosi kali ini. Tangan Kyuhyun yang masih menggenggam pergelangan tangan Ilra semakin mengerat.

“Akh,” desis Ilra kesakitan, namun Kyuhyun tidak lekas melepaskan tangan Ilra.

“Berhenti bersikap seperti ini, aku muak melihat sikapmu seperti ini.” teriak Kyuhyun dengan penuh emosi.

Ilra pun menatap tajam Kyuhyun. Tangannya yang sejak tadi meronta-ronta, kini sudah menetralkan tenaga di tangannya. Ilra yang kini menatap Kyuhyun dengan tajam kembali menghela nafas panjangnya.

“He? Apa kau sadar tuan Cho, apa hakmu melarangku bersikap seperti ini? Bahkan kau bukan siapa-siapaku dengan beraninya meneriakiku seperti itu. Lepaskan tanganku dan biarkan aku pergi.” kata Ilra dengan penuh penekanan.

Kyuhyun yang sejak tadi tidak berhasil menahan emosinya, kini ia mengeluarkan smirk-nya. “Apa kau sekejam itu? Membiarkanku dengan perasaan hampir seperti orang orang gila. Aku menyukaimu, aku menyukaimu Han Ilra.” jelas Kyuhyun penuh emosi detelah melepaskan genggaman tangannya di tangan Ilra.

Ilra yang mendengar itu tak berkedip sekalipun. Kata-kata yang diucap Kyuhyun sedetik yang lalu benar-benar membuat hati Ilra terkejut. Kaki Ilra mulai melemah, seakan tak mampu untuk tetap manapaki bumi.

“Aku menyukaimu. Bagaimana kau tidak meyadari sikapku saat bersamamu? Hanya kau yang membuatku terlihat seperti orang bodoh. Kumohon berhentilah bersikap seperti tadi.” sambung Kyuhyun masih dengan emosi yang membuncah.

“He! Baik. Aku akan bersikap seperti saat kita SMA. Dan kumohon, berhentilah menyukaiku jika kau benar-benar menyukaiku!” jelas Ilra yang menahan pertahanan airmata kebodohan-nya sendiri.

“…”

Kyuhyun yang mendengar penuturan gadis yang selama ini dicintainya hanya bisa membalas ucapan gadis itu dengan tatapan shock.

“Satu lagi, semoga kau tetap melanjutkan pernikahanmu. Mungkin 4 hari lagi, gaun pernikahanmu akan sampai ditangan kau dan gadismu. Itupun jika kau tidak berpikiran bodoh. Dan aku ucapkan selamat untuk pernikahanmu nanti, karena hari itu aku mungkin sudah tidak di Seoul lagi.” kata Ilra tanpa ada nada penyesalan sedikitpun, berbeda dengan hatinya yang terus menyeretnya untuk meruntuhkan segala pertahanannya.

Ilra pun membalikan tubuhnya dan segera meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri shock menuju mobilnya terparkir.

“SHIT!!” teriakan frustasi Kyuhyun benar-benar terdengar dari jarak 10 meter, tempat Ilra kini berdiri. Namun, itu tidak membuat Ilra membalikan langkahnya untuk kembali ke Kyuhyun.

Sejak Ilra pergi menjauh dari Kyuhyun, cardigan pink soft yang Ilra pakai sudah mulai ternodai oleh tetesan cairan merah kental bernama darah. Seiring dengan air mata yang menjorok keluar melewati pipinya.

‘Love is wrong!’
***

September, 18 2012 

Cho’s House

Kediaman keluarga Cho sudah terlihat ramai, banyaknya sanak saudara yang sudah berlalu lalang di dalam rumah itu. Tak luput seorang gadis yang sedang berlari menuju kamar di lantai dua dengan membawa sepasang gaun pengantin yang terlihat lumayan berat untuk ukuran gadis itu.

“Oppa, apa kau tidak berniat melihat gaun pernikahan kita?” Jisun menggerutu kesal saat melihat calon-suami-nya sibuk bermain video game tanpa mengalihkan pandangannya ketika gadis itu memasuki kamar calon suaminya.

“Ne, aku sudah lihat.” jawab Kyuhyun dengan malas, dan tetap memainkan game yang sedang ia mainkan.

“Yak! Oppa, bisakah kau berhenti bermain video game-mu itu?” rengek Jisun setelah melempar sepasang gaun ke atas ranjang Kyuhyun yang sebentar lagi tentunya juga menjadi ranjang Jisun.

“Hngg,” Kyuhyun benar-benar tak berniat untuk mengalihkan pandangannya ke arah Jisun. Entahlah, setelah kejadian beberapa hari yang lalu di sungai Han, sepertinya mampu membuat Kyuhyun runtuh seperti ini. Bayangkan saja, jika orang yang kau sukai menyuruhmu untuk berhenti menyukainya. Apa yang kau rasa? Bagai ribuan tombak telah tertancap di dasar hati, begitu menyakitkan bahkan menyesakan. Itulah yang kini Kyuhyun rasakan.

“Oppa,” Jisun kembali merengek ketika lagi-lagi Kyuhyun mengacuhkan Jisun.

“Ya, kau ada disini. Aish, Jisun~ah kau ini sebentar lagi mau menikah dengannya, seharusnya kau menjaga jarak hingga hari pernikahanmu tiba. Kajja,” Kyu oemma yang sepertinya sudah mencari Jisun sejak tadi, kini mengajak Jisun untuk keluar dari kamar Kyuhyun yang terbilang lumayan suram itu.

“Ne, oemma.” saut Jisun sambil menghentakan kakinya menuju Kyu oemma dengan sebal.

“Akh!!!” teriak Kyuhyun dengan sangat frustasi, lalu mengacak rambutnya dengan kasar. Setelah kedua wanita tadi keluar dari kamarnya.

‘Babo.. Babo.. Hentikan pernikahan gila ini.’

***
September, 21 2012

Sebuah janji sehidup semati telah terucapkan di dalam sebuah gereja di Seoul tepat di atas altar. Janji yang akan menjadi awal dari lembaran kehidupan yang baru bagi mereka yang mengucapkan-nya.

“Cium..cium..cium..” Sorak sorai para tamu undangan menghiasi pernikahan antara Kyuhyun dan Jisun. Namun, Kyuhyun tidak bergeming untuk sedikitpun mengecup gadis dihadapannya itu. Bola mata Kyuhyun mengitari seisi gereja. Berusaha mencari gadis yang kini masih mengisi relung hatinya. Nihil, gadis itu tidak ada di gereja itu. Yang iya dapat hanya tatapan seorang gadis meremehkan seolah tatapan gadis itu berbicara ‘Neo babo namja’. Gadis itu adalah Ahra.

Kyuhyun pun kembali menatap Jisun. Berusaha meyakinkan hatinya, bahwa gadis dihadapannya memang takdir hidupnya.

“Mianhae,” desis kyuhyun dengan spontan.

Kyuhyun pun mendaratkan kecupan di kening Jisun. Saat waktu yang bersamaan, musim gugur baru saja dimulai dan menjadi tanda bahwa ada sebuah kehidupan yang telah tertutup.
Tanpa Kyuhyun sadari, butiran bening baru saja melewati pipinya.

“Oppa, gwenchanyo?” Jisun ternyata menyadari butiran bening itu melewati pipi suaminya.

“Gwenchana,” saut Kyuhyun masih tidak menyadari butiran bening itu. Jisun pun tidak tinggal diam, ia sapu butiran bening itu dengan ibu jarinya dengan pelan. Kyuhyun kembali mencari sosok Ahra, tapi Ahra sudah tidak ada di tempat semula ia berdiri. Kyuhyun melihat Ahra sedikit berlari menuju pintu gereja.

Kyuhyun dan Jisun pun segera berhambur ke para tamu undangan. Kyuhyun yang ingin tahu kemana noona-nya pergi, menghampiri oemma-nya.

“Oemma, noona..” Kyuhyun yang baru saja ingin menanyakan Ahra, oemma-nya segera menyela omongan Kyuhyun.

“Kyu, teman noona-mu meninggal. Maka itu dia minta izin untuk melayat.” jelas oemma Kyu.
Rasa penasaran Kyu benar-benar menyelimuti hatinya. Entahlah, bahkan ada rasa kesedihaan terselip diantaranya.

‘Hari ini aku merasa kehilangan separuh jiwaku.’

***

Cho’s House

‘tap..tap..tap’ Suara langkah kaki mendominasi sunyinya malam di kediaman keluarga Cho. Dengan menggunakan pakaian serba hitam dan mata yang terlihat bengap, Ahra memasuki rumahnya. Beberapa saat yang lalu, ia baru saja mengikuti upacara pemakaman seorang gadis yang tentunya Ahra kenal, bahkan sangat mengenal gadis itu.

“Noona,” Kyuhyun yang baru saja mengambil air menemukan Ahra yang baru beberapa langkah menaiki tangga.

“Ne,” saut Ahra. Suaranya terdengar serak, mungkin efek saat menangis tadi.

Ahra sudah menganggap gadis itu sebagai yeodongsaengnya. Saat gadis itu benar-benar pergi meninggalkan segalanya yang pernah ada dihidupnya, Ahra hanya bisa memohon atas gadis itu.

“Kau dari mana saja pulang selarut ini?” tanya Kyuhyun sambil menegak air ditangannya.

“He, kau tahu? Aku baru saja menghadiri upacara kematian salah satu jiwamu. Sungguh benar-benar aku tidak mempercayainya. Gadis itu,” Ahra pun meneteskan air matanya, seolah Ahra benar-benar kehilangan sesuatu di hidupnya yang sangat berharga.

“Gadis itu, gadis bodoh yang menyerah pada pernikahan gilamu ini.” desis Ahra diambang amarahnya yang semakin menderaskan air matanya. “Gadis itu membenci kebodohan Romeo. Gadis itu sangat tidak suka keramaian. Gadis itu lebih suka menyendiri bersama novel yang baru dibelinya atau kamera SLR pemberian Appa gadis itu. Gadis itu sama bodohnya denganmu. Dan kau tahu? Dialah Angel Auntumn. Ha, bagaimana bisa kita tidak menyadarinya saat membaca setiap postingan bocah bodoh itu. Sepertinya aku juga sudah tertular bodoh oleh kalian.” Sambung Ahra yang hanya membuat air matanya kian deras menelusuri pipinya sambil mengelurkan kekehan.

Kyuhyun berusaha mencerna setiap perkataan Ahra. Tetapi, sekelebat memorinya kembali menayangkan ingatnya saat berada di Yumkwang High School.

Saat Kyuhyun bermain basket bersama teman-temannya, dengan sengaja matanya menoleh kearah seorang gadis tengah duduk di bangku taman dengan sebuah novel di tangan gadis itu. Gadis itulah yang sudah menarik hati Kyuhyun untuk membawa gadis itu masuk ke dalam hatinya.

Ingatan Kyuhyun beralih saat ia tengah berbicara dengan gadis itu, membicarakan bagaimana gadis itu tidak menyukai cerita tentang Romeo dan Juliet karena kebodohan Romeo.

“Aku ingat ketika gadis bodoh itu berkata kalau ia mencintai lelaki yang hanya bisa memahami angka-angka kalkulus. Dan kau tau, aku juga mempunyai adik yang seperti itu. He, sebaiknya kau tidur, dan habiskan malam pertamamu ini dengan benar.” kata Ahra mengejek Kyuhyun yang sulit memahami perkataan dan segera membalikan tubuhnya, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam shock.
Kyuhyun pun menaruh gelas yang dipegangnya tadi ke atas meja telepon dekat tangga. Dengan langkah berlari, ia segera menaiki anak tangga yang tersusun untuk menuju lantai dua rumahnya.

***

Jisun yang sudah tertidur pulas menyambut Kyuhyun yang setengah tak percaya. Tak banyak kata yang terpikir, Kyuhyun segera merampas laptopnya dari atas meja yang ada di kamarnya.
Ia nyalahkan laptopnya dan berusaha menyambungkan internet melalu modem eksternal yang sudah tertancap di laptopnya.
Mencoba menemukan blog gadis itu di daftar history. Karena seingatnya, Ahra noona pernah memakai laptopnya untuk mengunjungi blog Angel Auntumn

—–

After I Die

Hari ini mungkin sudah melewati batas berakhirnya hidupku. Jiwaku telah melayang jauh menembus setiap asa yang terukir. Meninggalkan detik kesedihan saat dijauh sana telah terhembus sebuah kehidupan bahagia.

Kini perjalanan hidupku telah terbayar sudah. Ketika kupejamkan mataku. Ribuan kelopak bunga bertaburan mengiringi setiap dera nafas terakhirku. Mungkin itu seperti keinginan kecil di penghujung hidupku.

Hari ini pula aku begitu bahagia. Seorang gadis di atas altar sebuah gereja telah mewakilkan gaun impianku di hadapan seorang lelaki yang aku cintai. Bagaimana, apakah gadismu terlihat cantik saat itu? Akh, kurasa pasti dia sangat cantik.

Tentang mimpiku dan khayalku. Ada satu hal yang belum aku wujudkan. Entahlah, itu begitu sulit untuk ku wujudkan. Memanggilmu ‘oppa’ adalah impianku selama ini. Tanpa kau disisiku asal aku bisa memanggilmu seperti itu, itu sangat cukup membuatku tenang disini. Tapi inilah nyatanya.

Aku tidak menyangka sebelumnya, tanggal 1 September lalu adalah pertemuan pertamaku setelah bertahun-tahun terus menyembunyikan diriku. Dan lebih lagi, hari itu adalah pertemuan terakhirku setelah melewati masa-masa yang begitu panjang. Tapi inilah takdir Tuhan yang telah berbicara.

Aish! Kurasa aku lelah jika terus menyembunyikan identitasku. Perkenalkan, choneun Ilra, Han Ilra imnida. Aku seorang designer muda yang maniak dengan gaun impian para gadis yaitu gaun pernikahan, kekeke^^ Apa aku harus memberitahu cinta pertamaku juga? Sepertinya tidak, aku takut kalian ikut terpesona dengan ketampanannya :D Tapi berhubung aku kasihan, aku juga tidak rela melihat mati penasaran, aku akan member tahu arti dari namanya. Sifat pengasih dan penyayang, sifat ragu-ragu, pengorbanan, kesantausaan, suka ilmu pengetahuan, kebahagiaan, kehormatan dan pernikahan. Sepertinya itu cukup untuk mencerminkan sosoknya, terlebih lagi aku juga sering menceritakan sosoknya kan? Baik, sudahlah.

Cinta pertama pertama tidak akan pernah kembali. Jika cinta berikutnya datang , waktunya menumbuhkan cinta yang baru. Itu mungkin tak akan sepolos cinta pertama, tapi itu akan sedikit lebih dewasa. Menghapuskan kesedihan akan cinta pertama. Seseorang yang mendambakan cinta, itu adalah seseorang yang menunggu.

September, 21 2012

AutoPosting

—–

September, 21 2018

Seorang gadis kecil berumur 4 tahun tengah asyik menonton kartun yang berasal dari negeri sakura yaitu Doraemon. Sambil memakan menu sarapan yang disediakan halmeoni-nya, gadis kecil itu melahap semuanya hingga tak tersisa. Seperti itulah rutinitas gadis kecil itu setiap harinya.

“Appa,” teriak gadis kecil itu ketika melihat appanya selesai mandi. Orang yang tadi dipanggil gadis itu pun menengok dan segera menghampiri buah hatinya.

“Ne, Jira. Apa kau tidak bosan menonton kartun itu setiap hari? Ha, appa saja hampir bosan. Lebih baik kita bermain video games saja, bagaimana?” Tanya appa gadis itu sambil menatap geli buah hatinya.

“Yak! Kyuhyun, jangan racuni anakmu lagi.” Teriak seorang wanita paruh baya dari arah dapur. Dan berhasil membuat lelaki yang dipanggil Kyuhyun itu terkekeh geli.

“Appa, kalau appa punya jam pemutar waktu seperti Doraemon. Appa ingin kembali kemana?” Tanya Jira sambil mengeluarkan puppy eyes. Asal kalian tahu, Jira memiliki tingkat kecerdasan yang melampaui kecerdasan anak seusianya.

“Mm, appa ingin kembali ketika 3 jam sebelum Jisun oemma melahirkanmu. Dan satu lagi, appa juga ingin kembali ke tahun terakhir appa sekolah. Wae?” Dengan memori yang kembali merolling setiap kejadian yang diinginkan Kyuhyun untuk kembali ke masa-masa itu.

“Nothing. I just asked it to dad. Love you dad.” Balas Jira dengan senyum yang sangat mirip dengan Jisun.

Ya, Jisun telah meninggal ketika melahirkan Jira. Sebelum persalinan itu terjadi. Kyuhyun sedikit bersitegang dengan Jisun saat berada di Myeongdong. Kyuhyun ingat sekali, ketika Jisun berlari menyusuri jalan dalam keadaan membawa beban berat di perutnya, ada sebuah mobil yang kehilangan kendali menyebabkan Jisun tertabrak. Tabrakan itu membuat Jisun harus mengelurkan bayinya dalam waktu yang tidak seharusnya. Terlebih ketika tabrakan itu membuat banyak darah Jisun yang terbuang.

Tangan tuhan telah menolong Jira dan membiarkan Kyuhyun menjaganya hingga ia besar seperti sekarang. Dan Jisun? Tuhan lebih menyayangi Jisun.

End

***

‘Tuhan punya rencana yang tak terduga. Yang dibaliknya ada sebuh hikmah yang begitu indah.’ – nrfaa

Cr quote first love : Hazuki airyn @myls-koreanlover.blogspot.com

Akhirnya kelar  juga, kya gimana? Gimana ceritanya? Jelek ya? Akh kurasa seperti itu. Mianhaeyo kalau jelek, mohon maklumin aku Cuma author amatiran kekeke^^ Mohon kritik dan sarannya ya..

9 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] Love Story: Last Meet

  1. huwaaa….
    hiks… hiks…..
    menguras airrr lautt…
    #eh…
    ending yang sangat” very dehh…
    menyedihkannnn :'(
    huhuhuhuhu T_T
    tp baguss bget alur cerita ny…
    kusukaa…
    feell ny dapet banget…
    daebak buat author :)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s