[Freelance – Oneshoot] Please, Wait For Me

Title                : Please, Wait for Me

Author            : Rebecca Lee (@PumpkinJewels86)

Main Cast      : Lee Sungmin, Rebecca

Genre             : Romance, Angst

Length            : OneShot

Rate                : T

Disclaimers     : Lee Sungmin isn’t mine. The story is MINE. DON’T STEAL / COPY PASTE!!!  FF ini juga publish disini : http://indofanfictkpop.wordpress.com/

 

A/N                 : Annyeonghaseyo, Rebecca imnida. I’m new author dan FF ini adalah FF pertama yang pernah aku post diluar facebook ( soalnya selama ini cuman posting FF difacebook doang ). So, this is my debut FF on public, hope you enjoy it. Happy Reading Everyone! No Silent Reader, RCL please. Kamsahamnida J *Bow*

 

 

Aku tak pernah punya harapan untuk meneruskan perjalanan hidupku sejak setahun lalu. Tidak pernah lagi sejak kanker paru-paru yang hinggap di tubuhku memutuskan untuk tetap bersarang dan secara perlahan mematikanku melalui setiap inci sel yang dilewatinya. Aku bahkan memutuskan untuk mengubur seluruh impian yang pernah ada dibenakku demi menanti sang malaikat pencabut nyawa datang menjemputku.

 

Namun kini hal itu berubah, harapan untuk meneruskan hidup kini telah muncul kembali. Setidaknya untuk 3 bulan terakhir sejak aku dekat dengan seorang namja berwajah imut, Lee Sungmin. Dialah orang yang berhasil membuat semangat hidupku kembali, dia yang memacuku untuk terus optimis suatu saat kanker dalam tubuhku ini akan hilang sepenuhnya. Meskipun jauh dalam hatiku aku tak pernah meyakini itu, tapi kehadirannya disisiku membuatku yakin aku masih sanggup untuk melewati semuanya.

 

Tak ada hari yang lebih menyenangkan selain hari-hariku bersamanya. Dalam penderitaan dan rasa sakit yang kurasakan, Sungmin selalu ada disampingku. Setia mendampingiku melewati setiap menit yang ada. Berbagi tawa dan air mata bahkan rasa sakit yang kurasa. Dia benar-benar sosok namja idamanku. Dan tentang bagaimana aku bisa mengenal Sungmin, ceritanya tidaklah panjang. Kami bertemu dengan tidak sengaja di rumah sakit.

 

#Flashback

Hari itu aku baru saja menyelesaikan kemoterapi yang entah sudah berapa kali kulakukan dalam setahun terakhir masa hidupku. Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, aku memaksa Omma untuk membawaku keluar dari ruang perawatan dengan sebuah kursi roda. Aku meminta Omma untuk membawaku ke taman dan meninggalkanku disana sendirian. Tak berapa lama setelah Omma meninggalkanku, tiba-tiba seorang namja datang menghampiriku.

 

“Sendirian saja?” Aku menoleh kearah namja yang berdiri disampingku.

 

“Kau berbicara padaku?”

 

“Tentu saja. Pada siapa lagi? Hanya kau orang yang ada disampingku.”

 

“Kau bisa lihat sendiri, kan?”

 

Namja itu mengangguk pelan, dia juga tersenyum padaku. Dan senyumannya itu benar-benar manis. Senyuman terbaik lainnya yang pernah kulihat setelah senyuman Omma-ku tercinta.  Aku terus menatap namja berkaus soft pink itu.

 

“Aku sering melihatmu disini.” Kata namja itu lagi.

 

“Bukan sebuah kejutan untukku kalau kau bilang seperti itu.” Jawabku.

 

“Maksudmu?”

 

“Tentu saja bukan sebuah kejutan. Rumah sakit ini sudah seperti rumah kedua untukku. Dan jika ada banyak orang yang mengenaliku itu hal yang biasa.”

 

“Rumah kedua? Maksudmu?” Kali ini namja itu menoleh kearahku dan menatapku bingung.

 

“Aku salah satu pasien kanker disini. Hampir setiap minggu aku akan berada disini. Entah untuk melakukan terapi atau sekedar pemeriksaan rutin. Itu sudah berlangsung sejak setahun terakhir.” Jelasku.

 

“Kanker? Kau mengidap kanker?” Ekspresi namja itu kini berubah kaget.

 

“Kanker paru-paru stadium akhir. Aku hanya tinggal menunggu hingga kematian menjemputku dan setelah itu semuanya akan berakhir.” Aku terus memandang lurus kedepan, tak lagi memperhatikan wajah namja itu.

 

“Yaa, kenapa berbicara seperti itu?” Namja itu kini berjongkok didepan kursi rodaku. Spontan aku kaget melihat sikapnya.

 

“Kenapa? Karena memang itulah kenyataannya. Lagipula, kau ini siapa? Baru datang sudah menanyaiku macam-macam.”

 

“Siapa yang bertanya macam-macam. Bukankah barusan itu kau sendiri yang cerita? Aku bahkan belum menanyakan pertanyaan yang spesifik. Eh, kenalkan namaku Sungmin, Lee Sungmin. Kau?” Namja itu mengulurkan tangannya padaku.

 

“Aku Rebecca dan tidak usah salaman. Aku baru saja menjalani kemoterapi, lebih baik tidak bersentuhan denganku terlebih dulu. Kau tau maksudku, kan?”

 

“Oh begitu, baiklah. Aku mengerti.” Sungmin tersenyum padaku.

 

“Lalu apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku.

 

“Aku? Aku sedang menjaga adikku. Dia sakit tifus, sudah 3 hari dia rawat inap disini dan sudah 3 hari ini juga aku menjaganya. Dia sedang tidur sekarang, jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan keluar sebentar.” Tanpa perlu kutanya macam-macam Sungmin sudah menjawab semua pertanyaan di otakku.

 

“Sayang sekali, yeoja cantik sepertimu harus menderita penyakit mengerikan seperti itu.” Lanjutnya.

“Maksudmu?”

 

“Eh maaf, aku hanya salah bicara. Ngomong-ngomong, bolehkan aku menjadi temanmu?”

 

“Menjadi temanku? Maksudmu apa? Dari tadi semua pertanyaanmu itu aneh.”

 

“Aneh bagaimana? Aku hanya bertanya maukah kau jadi temanku. Memangnya pertanyaan seperti itu aneh?”

 

“Ah kau ini, sudah lupakan saja.”

 

“Lalu, kau mau jadi temanku tidak?”

 

“Kau ini menyebalkan. Sudahlah terserah kau saja.”

 

“Berarti kau mau jadi temanku, Rebecca-shi? Ah, gomawoyo. Akhirnya aku tidak harus kesepian lagi menjaga Sungjin disini.”

#Flashback End

 

Dan sejak pertemuanku hari itu dengan Sungmin, semuanya berubah. Hubungan pertemanan kami meningkat menjadi hubungan persahabatan. Aku pun mulai menemukan sosok sahabat sejati sekaligus sosok seorang ‘Oppa’ didalam diri Sungmin. Hingga akhirnya setelah 2 bulan berlalu, Sungmin memintaku untuk menjadi yeoja chingu-nya. Sebuah permintaan yang cukup membebaniku mengingat kondisiku yang mungkin tak bisa hidup lebih lama lagi.

 

#Flashback

“Aku mohon, terimalah permintaanku. Jadilah yeoja chingu-ku, Rebecca. Aku mohon.” Sungmin masih bertahan bersujud dihadapanku. Kami sedang berada di taman rumah sakit, ditempat yang sama saat pertama kali bertemu.

 

“Aku benar-benar minta maaf, Sungmin. Tapi, aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak ingin membuatmu kecewa.” Aku berusaha menolak. Meskipun aku tau ini menyakitkan untuknya.

 

“Kecewa? Kau takut membuatku kecewa? Lalu, kau pikir dengan menolakku saat ini kau tidak membuatku kecewa?” Dia menatapku dengan pandangan sedih.

 

“Lee Sungmin, dengarkan aku. Bukannya aku tidak mau menjadi yeoja chingu-mu. Tapi, lihatlah keadaanku sekarang. Waktuku tidak banyak lagi… Dan aku… bisa saja meninggalkanmu sewaktu-waktu. Kanker ini cepat atau lambat akan… segera merenggut nyawaku. Dan aku tidak mau membuatmu merasa kecewa lebih dari ini. Mengertilah maksudku, Sungmin.” Air mata mulai mengalir dikedua pipiku.

 

“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli kanker itu akan merenggut nyawamu cepat atau lambat. Aku tidak peduli jika kau akan meninggalkanku kapan saja. Aku tidak peduli dengan penyakitmu. Aku tidak peduli dengan itu semua. Aku mencintamu dan aku ingin membahagiakanmu. Hanya itu.” Dan kedua mata itu mulai digenangi mata air kecil yang siap untuk meluap kapan saja.

 

“Sungmin…”

 

“Aku mohon… Terimalah aku… Berikan aku kesempatan.” Sungmin menyentuh daguku dan mengangkat wajahku yang tertunduk. Aku hanya terdiam.

 

“Oppa…”

 

Sungmin tersenyum, setetes air mata keluar dari mata kanannya. Dan aku tau itu bukan air mata kesedihan. Dia memelukku erat, sangat erat. Aku merasa nyaman dan hangat didalam pelukannya. Dan saat itu aku sadar aku tidaklah membuat keputusan yang salah.

#Flashback End

 

Hari ini Sungmin kembali datang ke rumahku, hal yang selalu ia lakukan sejak aku menerimanya menjadi namja chingu-ku. Dia selalu datang ke rumahku tepat pukul 8 pagi dan membawakanku setangkai mawar pink untukku. Kini dialah yang menggantikan kakak sepupuku Teuki oppa menjagaku di rumah saat Omma dan Appa pergi bekerja.

 

“Hari ini apa yang mau kita lakukan?” Tanya Sungmin sambil menyiapkan obat-obatan yang akan kuminum pagi ini.

 

“Obat lagi. Sampai kapan aku harus hidup dengan semua obat-obatan itu.” Aku menghiraukan pertanyaan Sungmin dan mengeluh.

 

“Ada apa, chagi?”

 

“Oppa, sampai kapan aku harus meminum semua obat-obatan itu? Aku bosan.” Keluhku. “Boleh tidak kalau pagi ini aku tidak minum obat? Kupikir aku sudah tidak memerlukan obat-obatan itu lagi. Lagipula obat-obatan itu hanya membuatku mual.” Lanjutku, aku merengek pada Sungmin agar dijinkan untuk tidak minum obat. Hal yang seharusnya tidak boleh aku lakukan, tapi pagi ini aku benar-benar sedang tidak ingin minum obat.

 

“Tidak boleh begitu. Kau harus tetap minum obat, chagi. Ini demi kesembuhanmu.” Sungmin membelai rambutku.

 

“Ayolah, Oppa. Sekali melewatkan waktu minum obat kan tidak masalah. Toh, aku juga pernah melakukannya beberapa kali. Tidak ada efeknya, kok.” Aku memohon kepada Sungmin dengan ekspresi wajah yang kubuat seaegyo mungkin.

 

“Baiklah, tapi setidaknya kau harus mau minum vitaminnya. Bagaimana?” Aku mengangguk setuju. Sungmin benar, bagaimanapun juga aku tetap membutuhkan vitamin.

 

“Lalu hari ini kita mau kemana?” Tanya Sungmin.

 

“Aku mau kita jalan-jalan hari ini. Oppa, bawa aku jalan-jalan ke tempat-tempat yang pernah kita kunjugi bersama sebelumnya. Entah kenapa aku ingin bernostalgia hari ini.” Jawabku.

 

“Bernostalgia? Benarkah? Baiklah kalau begitu. Kau siap-siaplah dulu, Oppa akan menunggumu di ruang tamu.” Sungmin pun meninggalkanku sendirian di kamar dan aku mulai bersiap-siap.

 

 

-Sungmin’s POV-

 

Rebecca ingin aku mengajaknya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Terdengar ganjil, tapi aku tetap menuruti permintaannya. Bagaimanapun juga ini bagian dari janjiku untuk membuatnya bahagia. Aku benar-benar mencitainya. Rebecca adalah cinta pertama dalam hidupku.

 

Aku duduk di sofa ruang tamu menunggu chagiya-ku yang sedang bersiap-siap. Sambil menunggu, aku mencoba memikirkan tempat-tempat yang ingin kembali aku kunjungi bersamanya. Kami memang baru 2 bulan menjalin hubungan, tapi aku sudah menghabiskan banyak waktu bersama untuk jalan-jalan hingga akhirnya kami memiliki banyak memori bersama.

 

Sejak pertama kali melihatnya di rumah sakit, aku merasa sudah jatuh hati pada Rebecca. Entah kenapa, dia adalah yeoja yang berbeda dimataku. Untukku, dia bukanlah yeoja yang bisa disamakan dengan yeoja-yeoja lain yang ada diseluruh dunia ini. Dia memiliki suatu hal dalam dirinya yang membuatku merasa dia adalah yeoja yang luar biasa yang pernah kutemui dalam hidupku, setelah Omma-ku sendiri tentunya.

 

Rebecca adalah satu-satunya orang yang bisa mengisi ruang hatiku yang terasa kosong selama ini. Melihatnya tersenyum dan bahagia membuatku merasa ada bagian dalam diriku yang ikut hidup. Da saat melihatnya sedih dan kesakitan, ada bagian diriku pula yang merasa hancur karenanya. Dalam benakku aku ingin terus mencintainya dan membahagiakannya.

 

“Oppa aku sudah siap.” Tiba-tiba Rebecca muncul dihadapanku. Aku agak terkejut melihat penampilannya hari itu. Dia terlihat benar-benar berbeda dari biasanya. Dandananya kali ini seolah dia akan menjalani sebuah kencan bersamaku.

 

“Chagiya, bukankah kita hanya akan berjalan-jalan?” Rebecca mengangguk. “Lalu kenapa pakaianmu seperti itu? Maksudku, apa itu tidak berlebihan jika kita hanya ingin berjalan-jalan.”

 

“Memang sedikit agak berlebihan. Tapi, aku ingin memakai dress ini sekarang. Ini kan dress pemberian Oppa. Lagipula sekali tempo berdandan seperti itu kan tidak apa-apa.” Jawabnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

 

Gaun selutut berwarna soft pink tanpa lengan dipadu dengan bolero berwarna putih dan flat shoes berwarna senada benar-benar membuat Rebecca terlihat cantik. Ditambah dengan rambut panjangnya yang berwarna coklat dibiarkan tergerai dan dihiasi jepit rambut sederhana membuatku semakin terpesona. Penampilannya memang sederhana, tapi dia terlihat sangat cantik untukku.

 

Dan perjalanan panjang kami hari itu pun segera dimulai. Seperti permintaan Rebecca, aku mengajaknya bernostalgia ke tempat-tempat yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Mulai dari taman hingga tempat perbelanjaan, museum, perpustakaan dan beberapa restaurant semuanya telah kami kunjungi.

 

“Oppa, setelah ini kita ke rumah sakit ya?” Permintaan Rebecca barusan membuatku terkejut.

 

“Rumah sakit? Memang kenapa?”  Tanyaku sambil memasukan permen kapas kedalam mulutku. Kami sedang berada di taman bermain dan bermain ayunan sekarang.

“Oppa lupa? Rumah sakit kan juga salah satu tempat bersejarah untuk kita. Disanalah tempat pertama kali kita bertemu.”

 

“Oh, tentu saja. Aku tak akan pernah melupakan tempat dimana aku menemukan kekasih hatiku.”

 

“Tapi, sebelum itu kita ke toko aksesoris itu dulu.” Rebecca menunjuk ke sebua toko diseberang taman.

 

“Untuk apa?” Tanyaku.

 

“Kudengar di toko itu bisa membuatkan berbagai jenis aksesoris untuk pasangan. Aku ingin membuat kalung couple untuk kita berdua. Kita ini kan pasangan, masa tidak memiliki barang yang menunjukan bahwa kita adalah pasangan? Maksudku, aku ingin kita membuat symbol dalam bentuk sebuah barang yang menunjukan bahwa kita berdua adalah pasangan untuk selamanya. Oppa tidak keberatan, kan?”

 

“Apapun asal kau senang, chagiya. Bagaimana kalau kita kesana sekarang?” Aku menarik lembut tangan Rebecca dan mengajaknya berjalan ke arah toko tersebut.

 

Sesampainya disana, sesuai dengan keinginannya aku membiarkan Rebecca membuatkan kalung couple untuk kami berdua. Aku membiarkan dia sendiri yang membuat desain untuk kalung kami sedangkan aku hanya menunggunya.

 

“Oppa sudah jadi!” Serunya. Setelah kurang lebih setengah jam menunggu akhirnya kalung yang itu pun jadi.

 

Dengan semangat Rebecca berjalan kearahku dan menunjukan dua buah kalung perak kepadaku. Kalung itu memiliki 2 buah bandul. Bandul pertama berupa plat biasa dengan inisial R <3 S untuk milikku dan S <3 R untuk Rebecca. Bandul kedua berupa tabung kaca kecil berbentuk hati.

 

“Bandul hati ini untuk apa?” Tanyaku.

 

“Yang itu, aku berencana untuk mengisinya dengan campuran darah kita berdua. Kedengaran mengerikan memang. Tapi, menurutku darah kita yang dicampur merupakan symbol bahwa kita merupakan pasangan yang tidak akan terpisahkan sampai kapanpun. Meskipun maut memisahkan kita.” Jawab Rebecca.

 

“Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang, Oppa? Sekalian untuk mengisi tabung hati ini.”

 

Sesampainya di rumah sakit, aku dan Rebecca segera melakukan pengambilan darah untuk dicampur dan diisikan kedalam tabung hati pada kalung kami berdua. Meskipun awalnya hal itu agak susah dilakukan karena tentu saja berhubungan dengan kebijakan rumah sakit, namun karena pihak rumah sakit yang sudah sangat mengenal Rebecca, akhirnya rencana kami bisa dilakukan. Dan kalung couple kami pun akhirnya selesai.

 

Hari sudah mulai gelap saat kami sampai di taman rumah sakit. Di tempat inilah pertama kalinya kami bertemu. Aku dan Rebecca berjalan ke salah satu sudut taman. Rebecca memberikan kotak berisi kalung kami berdua kepadaku. Kemudian ia memintaku untuk memasangkan kalung itu dilehernya dan ia memasangkan kalung dileherku juga. Dan tiba-tiba ia memelukku.

 

“Chagiya, ada apa denganmu?”

 

“Oppa, terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar bahagia.”

 

“Tidak usah berterima kasih. Ini sudah menjadi tugasku untuk membahagiankamu.”

 

“Oppa, Saranghaeyo.”

 

“Nado Saranghaeyo, chagi.”

 

“Oppa, aku punya satu permintaan lagi. Aku janji ini yang terakhir.” Rebecca melepaskan pelukannya.

 

“Aku lelah. Ijinkan aku tidur dibahumu untuk sesaat.” Rebecca memandangku dengan tatapannya yang lembut. Dia memang terlihat lelah.

 

Aku membawanya ke salah satu bangku kosong di taman itu dan mendudukannya disana. Kubiarkan chagiya-ku menanyandarkan kepalanya dibahuku. Untuk beberapa lama chagiya-ku hanya diam. Dia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya yang sejak pagi tadi sudah berbicara banyak. Hari ini dia memang lebih cerewet dari biasanya.

 

“Kau sudah tidur?” Tanyaku pelan. Kurasakan kepalanya menggeleng pelan dibahuku.

 

 

-Sungmin’s POV End-

 

 

Aku sudah bisa merasakannya. Waktuku yang semakin sempit. Ini adalah saat terakhir untukku sebelum aku benar-benar pergi. Berat. Rasanya aku masih ingin bersama Sungmin beberapa lama lagi, aku belum sanggup untuk meninggalkannya. Kusandarkan kepalaku di bahunya yang kekar. Kuhirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Aku akan sangat merindukan aroma tubuh ini nanti.

 

“Tuhan, berikan aku waktu sedikit lagi. Kumohon jangan ambil aku sekarang. Ijinkan aku untuk merekam memori ini supaya aku selalu bisa mengenangnya. Ijinkan aku untuk menghirup aroma tubuh ini lebih lama lagi supaya aku bisa terus mengingatnya di alam sana. Tuhan, aku mohon berikan aku waktu beberapa menit lagi.” Doaku dalam hati.

 

“Oppa… Aku ingin mengatakan sesuatu. Boleh?” Aku menegakkan kepalaku dan menatap Sungmin. Dia balas menatapku dan tersenyum. Kusentuh pipi Sungmin.

 

Ya Tuhan, wajah ini. Aku akan benar-benar merindukannya. Senyumnya yang begitu manis, sorot matanya yang tajam dan ekspresi wajahnya yang seringkali menunjukan kepolosan. Aku akan benar-benar merindukan semua itu. Dan saat ini, wajah inilah yang akan menjadi gambaran terakhirku tentang Lee Sungmin. Wajah inilah yang akan kurekam dalam memori terakhirku di bumi.

 

“Oppa, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih telah menjadikan hari ini hari terbaik dalam hidupku. Terima kasih telah menjaga dan membahagiakanku selama ini. Aku benar-benar beruntung memiliki namja chingu seperti Oppa.” Ucapku.

 

“Sama-sama, chagi. Asal kau senang aku juga ikut senang.” Jawab Oppa.

 

“Oppa, aku juga minta maaf kalau aku sering membuat kesalahan pada Oppa. Aku minta maaf kalau sering membuat Oppa khawatir dengan kondisiku. Aku juga minta maaf karena  sering membuat Oppa lelah. Aku janji setelah ini aku tidak akan membuat Oppa merasakan hal-hal seperti itu lagi. Aku bersungguh-sungguh.” Lanjutku.

 

“Chagi, kenapa kau berbicara seperti itu?”

 

“Oppa tidak usah khawatir, setelah ini aku akan baik-baik saja. Oppa tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Dan aku minta, tolong setelah ini Oppa harus bahagia.” Aku terus melanjutkan ucapanku. Aku harus membuat Sungmin mendengarkan semua ucapanku kali ini karena waktuku benar-benar sudah tidak banyak lagi.

 

“Chagi hentikan, kau membuat Oppa takut.” Sungmin langsung memelukku.

 

“Mianhae, Oppa.” Aku memejamkan mataku dalam pelukan Sungmin. Aku juga ingin mengenang pelukan ini. Aku membalas pelukannya dengan erat.

 

“Oppa, ini terakhir kalinya aku bisa memelukmu seerat ini. Kau harus benar-benar mengenang ini” Batinku.

 

Setelah beberapa saat aku mulai melepaskan pelukanku, kutatap sekali lagi wajah Sungmin dan kuberikan dia sebuah ciuman dibibir cukup lama. This is our first and last kiss. Kemudian aku kembali menyandarkan kepalaku dibahunya dan mulai memejamkan mata.

 

“Tuhan, aku sudah siap.”

 

Beberapa kali aku mencoba menarik napas. Semuanya masih terasa normal hingga aku merasakan sesuatu yang kental mengalir keluar dari hidungku. Inilah saatnya. Ada perasaan terbakar didalam dadaku, aku semakin sulit untuk bernapas namun aku mencoba untuk tetap tenang. Aku tau ini tidak akan lama. Tak lama kemudian aku mulai merasa nyaman dan sedetik kemudian aku benar-benar merasa ringan. Aku telah terpisah dari ragaku. Kulihat tubuh yang dulunya menjadi milikku masih duduk dengan kepala yang bersandar dibahu Sungmin yang masih belum menyadari kepergianku.

 

 

 

-Sungmin’s POV-

 

Untuk pertama kalinya Rebecca memberikan ciuman dibibir. Ciuman pertama kami yang sukses membuatku merasa tenang setelah kata-kata Rebecca yang membuatku khawatir. Kini chagiya-ku sudah kembali menyandarkan kepalanya dibahuku. Aku tak mau berbicara banyak. Dia lelah, mungkin itulah yang membuatnya berbicara macam-macam. Aku akan membiarkan dia tidur untuk beberapa saat dan membawanya pulang.

Sudah 2 jam Rebecca tidur dan waktu juga sudah menunjukan pukul 20.00. Aku harus membawa chagiya-ku kembali ke rumah untuk beristirahat. Awalnya, aku hanya memanggil namanya untuk membangunkan Rebecca karena biasanya aku memang cukup memanggil namanya untuk membuatnya bangun. Namun, sudah berkali-kali kupanggil dia tetap tidak merespon. Akhirnya aku menoleh dan betapa terkejutnya saat kulihat wajahnya yang begitu pucat dan ada darah yang mengering dihidungnya.

 

“Chagi! Astaga, apa yang sudah terjadi? Chagiya bangun, chagiya bangunlah!” Aku berseru dan menggoncang tubuh Rebecca. Dia sama sekali tidak merespon. Tubuhnya juga begitu dingin, berbeda dari beberapa jam lalu yang masih terasa hangat.

 

Aku benar-benar ketakutan. Aku mencoba untuk menghapus semua pikiran buruk di otakku namun tak berhasil. Aku masih mencoba untuk membangunkan chagiya-ku. Kuraih pergelangan tangan kirinya untuk mencari denyut nadi. Hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada denyut nadi disana.

 

Saat itu barulah aku sadar. Rebecca telah meninggalkanku. Dia sudah benar-benar pergi. Seluruh tubuhku langsung terasa lemas. Sedetik kemudian aku sudah memeluk tubuh tak bernyawa Rebecca dan menangis sejadi-jadinya.

 

 

Chagiya…

Bagaimana kabarmu disana?

Apakah kau baik-baik saja?

Apakah kau bahagia?

 

Chagiya…

Oppa benar-benar merindukanmu

Oppa ingin bertemu lagi denganmu

Bisakah kita bertemu lagi?

 

Chagiya…

Oppa tidak bisa hidup tanpamu

Terlalu berat rasanya menjalani har-hari setelah kepergianmu

Ingin rasanya Oppa menyusulmu secepatnya

 

Chagiya…

Jika kau sudah merindukan Oppa disana, bersabarlah

Oppa janji akan menyusulmu segera

Oppa janji kita akan bersama lagi

 

Chagiya…

Berjanjilah untuk menunggu Oppa

Berjanjilah kau yang akan menyambutku disana

Kumohon, chagiya… Tunggulah aku…

 

 

-THE END-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] Please, Wait For Me

  1. huaaah!! Author!! Kenapa endingnya malah mati si rebecca :( ashh kasian sungmin thorr , sampe terharu gini bacanya ._. Hehe, but, nice ff thor :D
    Suka sama kata2 dan bahasanya :D walaupun ada typo dikit ._.v hehe ..
    Nice ff :D

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s