[Freelance – Oneshoot] Say You Love Me

Tittle: Say You Love Me

Lenght: One Shot

Rate: T

Genre: Romance

Author: BlackShin

Cast: Cho Kyuhyun & Lee Yeon Ju (oc)

Disclamer: Kyu-ya milik God, Himself, Sparkyu, Elf & Me. Lee Yeon Ju (oc) adalah ulzzang fav-ku dan aku buat KyuJu (Kyuhyun-Yeon Ju) couple buat FF ku~ No Bash Me OK!!

 

Don’t you know that i want to be more than just your friend

Holdin’ hands is fine, but i’ve got better things on my mind

You know it could happen if

You’d only see me in a different light                             

Maybe when we finally get together,

You will see that i was right

 

Say you love me, you know that it could be nice

If you’d only Say you love me,

Don’t treat me like i was lice

Please love me, i’ll be yours and you’ll be mine

If you’d only Say you love me, baby,

Things would really work out fine

…………….

 

Lagu Say You Love Me dari MYMP namun versi IU penyanyi favoritku ini mengalun pelan dari MP3 playerku, lalu mengalir pelan melewati earphone putih ini, berhenti dan berakhir ditelinga kiriku.

 

Bukan.

 

Lebih tepatnya sekarang lagu ini juga bergema ditelinga seorang namja yang seumuran denganku yang duduk santai disampingku. Memejamkan matanya. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Membuat rambut coklatnya melayang-layang indah. Kami berdua sedang menikmati udara pagi di musim semi di taman kota bernama Green Park yang berada 5 blok dari rumah kami berada. Ya, inilah ritual kami setiap pagi. Menanti keindahan dunia favoritku muncul dari peraduannya. Aku suka melihat sunrise atau matahari terbit. Kota yang kami tinggali adalah kota kecil yang berdiri di dataran tinggi. Dan taman Green Park sendiri lebih tinggi letaknya dibanding rumah atau gedung yang berdiri di kota ini. Sehingga kami bisa melihat matahari terbit tanpa halangan apapun.

 

Kupandangi wajah namja disampingku ini. Aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata tentang wajahnya bila diterpa seberkas mentari pagi yang lewat melalui celah-celah dedaunan oak di depan kami. Hanya satu kata yang bisa kuungkapkan. Sempurna.

 

Aku sangat menyukai angle wajahnya ini. Sudah kubilang hanya satu kata ‘Sempurna’ untuk melukiskannya. Kutelusuri wajahnya, dari alis, mata, pipi, hidung dan terakhir bibirnya. Semua tampak sempurna diwajahnya. Indah. Dia ciptaan Tuhan paling indah yang pernah kulihat. Kusunggingkan senyum puas. Puas karena aku diberi kesempatan untuk melihat hal yang begitu indah ini. Jujur bila dia sedang seperti ini, wajahnya terlihat seperti malaikat yang mengepakkan sayapnya dengan senyum diwajahnya. Membuatku terasa damai dan bahagia.

 

Keindahan wajahnya itu kunikmati sebelum kusadari dia membuka matanya dan tanpa aba-aba memalingkan wajahnya. Mengunciku yang sedang menatapnya. Dan mulailah, menarik sudut bibir kanannya ke atas. Ih … aku paling benci kalau dia sudah memasang senyum seperti itu. Rusak sudah image wajah malaikatnya. Wajah sempurnanya.

 

“Apa kau terpesona padaku, eoh? Sepertinya dari tadi memandangiku terus?”

 

“Terpesona? Tidah salah?” Kuulurkan kedua tanganku untuk menyentuh pipinya. Dia memang ciptaan Tuhan yang paling indah. Walau menyentuhnya menimbulkan desiran hebat dijantungku. Tapi, aku dapat menyembunyikan sensasi ini darinya. Menyentuhnya atau berada sangat dekat dengannya sudah biasa bagiku dan tentunya baginya juga.

 

“Jangan bercanda! Aku memandangimu terus karena kau belum mengembalikan novelku, Tuan Pipi Berlubang.” ucapku setengah bercanda.

 

“Mwo? Kau … kubilang jangan memanggilku seperti itu!” Ditepisnya kedua tanganku dari pipinya dengan kasar, “Wae? Pipimu memang penuh lubang, kok.” Kutekankan bagian kata berlubang agar dia semakin marah. Hahaha …. dia manis kalau sedang marah.

 

“Kauuu … si rakus, penakut, susu kotak coklat, kerangka berjalan, celana olahraga……”

 

“Si pendek, si malas, si pelit, si si si dan si. Apa ada ejekkan baru untukku hari ini, eoh?” potongku. Dia diam. Keningnya berkerut, sepertinya sedang berpikir. Matanya menatapku tajam. Dia paling benci kalau ada yang menyela ucapannya. Sedangkan aku sudah terbiasa dengan semua ejekkannya.

 

“Eotteohke?” tanyaku memecah keheningan yang ditimbulkannya.

 

“Ada.”

 

Dilepaskan earphoneku yang masih menggantung ditelinga kanannya lalu berdiri dari duduknya, “Kau si payah yang mempunyai selera musik payah. Mendengarkan lagu payah yang sama setiap hari.” lanjutnya dengan wajah seperti kepiting rebus. Hahaha … kyeopta. Dia adalah namja termanis kalau sedang marah.

 

Tapi,

 

What?

 

Apa yang dia bilang tadi?

 

Payah katanya?

 

“Tunggu sebentar! Tadi kau bilang aku payah? Kau boleh mengejekku apapun, tapi jangan pernah memanggilku payah.” ucapku marah. Aku tak suka orang memanggilku payah. Merendahkanku.

 

“Ya! Aku sedang bicara. Berhenti!! Mau kemana kau?” teriakku pada namja yang sering membuatku kesal jalan pergi meninggalkanku sendiri.

 

“Menambal pipiku.” sahutnya keras dengan nada kesal yang membumbuinya.

 

Hwahaha …. seketika itu diriku yang kesal akan ejekan payah darinya, tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya. Benar-benar deh, kalau sudah kupanggil Tuan Pipi Berlubang langsung kesalnya setengah mati.

 

Kuhentikan tawaku. Kupandangi punggungnya yang mulai menjauh, menelusuri jalan trotoar yang menghubungkan taman ini dengan rumah kami berada. Kuhirup udara musim semi ini lalu kuhembuskan pelan-pelan. Kusunggingkan senyum dibibirku. Tersenyum akan kenyataan bahwa aku menyukai orang menyebalkan itu. Orang yang mudah membuatku marah tapi juga mudah membuatku tersenyum kembali. Aku sangat menyukainya. Dan aku mulai yakin kalau aku mencintainya.

 

“Kapan aku harus menyatakan perasaanku ini padamu, huh? Tinggal 6 hari lagi kau akan pergi meneruskan kuliahmu di Kyunghee University yang letaknya sangat jauh dengan kota ini. Aku yakin setelah itu kita akan sangat jarang bertemu. Atau kemungkinan yang kubenci kau akan melupakanku. Tapi, dari semua itu aku takut disana nanti kau akan menemukan yeoja yang kau sukai dan menjadikannya pacarmu, sebelum sempat aku menyatakan perasaanku.” gumanku pelan.

 

Sejak kelulusan kelas 3 minggu lalu, hal paling aku takuti setelah itu adalah hal ini. Berpisah dengannya. Orang yang dulu selalu menemaniku menikmati masa kecilku. Sekarang aku tak ingin menganggapnya seperti itu. Orang-orang disekitar kami menjuluki kami sebagai couple twins, couple sahabat sejati, couple orang aneh, couple anti sayur, couple angry bird karena sama-sama pemarah dan masih banyak lagi julukan untuk kami. Kami sama. Dan kami tak terpisahkan. Tapi, sekarang aku ingin benar-benar menjadi couplenya. Pasangannya. Bukan couple yang hanya memiliki hatinya sebagai seorang sahabat ataupun sebagai seorang yang sudah seperti keluarga. Aku ingin menjadi couple yang memiliki hatinya sebagai orang yang mencintainya dan sebagai orang yang dicintainya. Memiliki hatinya seutuhnya. Egois? Ya, egois memang. Tapi bagaimana lagi, aku sudah terlanjur tergila-gila padanya.

 

Kulihat punggungnya mulai mengecil dan menjauh, “Ya! Kyu-ya … tunggu aku!!” Kukejar dia. Aku tak ingin nanti dia pergi seperti ini. Pergi tanpa tahu perasaanku yang sebenarnya.

 

­-o0o-

 

Hoammmph……….

Kurentangkan kedua tanganku keatas. Merenggangkan otot-otot tanganku yang kaku. Kalau saja Appaku tak menyuruhku memasuki universitas pilihannya. Aku tak akan belajar mati-matian seperti ini.

 

“Cukup disini belajarnya.” Kurapikan bukuku dan bersiap naik ke ranjang. Tapi sebelumnya, kulingkari angka 10 pada penanggalan. Tinggal 5 hari lagi, “Apakah aku sanggup berpisah denganmu, Tuan pipi berlubang?”

 

Kurebahkan tubuhku yang lelah dan kutarik selimut putihku. Kuratapi atap kamarku. Perlahan mulai kupejamkan mataku, terbayang wajah malaikatnya. Namun, kali ini bayangan wajah malaikatnya terbentuk tak seperti biasanya. Bayangan wajahnya menyudukkan salah satu sudut bibirnya keatas, seperti tersenyum evil padaku.

 

“Aku benci senyum itu. Tapi, kau tetap tampan.” gumanku pada bayangannya. Kuakui aku mulai menyukainya sejak aku mulai mengenal cinta. Sejak aku dan dia menginjak SMA. Aku diam-diam mulai menyukainya.

 

“Kali ini, besok, apakah hari yang tepat untuk menyatakan perasaanku padamu, huh…?” tanyaku pada bayangannya. Sedetik itupun aku terlonjat kaget dari anganku. Kukerjap-kerjapkan mataku. Memastikan bayangan yang tiba-tiba menganggukkan kepalanya hanya ilusiku semata. Hilang. Ya, dia hanya imaginasiku. Tapi, baru pertama ini bayangannya mengganguk padaku, seakan menyetujui pertanyaanku tadi. Apakah ini artinya besok aku harus menyatakan perasaanku padanya?

 

 

Keesokan harinya, aku sudah berdiri didepan pintu gerbang rumahku, bersiap melakukan ritual minggu pagi kami, yaitu jogging. 1 .. 2 .. 3 .. 4 … tengok kanan … 5 .. 6 .. 7 .. 8 … tengok kiri dan kulakukan gerak-gerak kecil untuk pemanasan pagi ini.

 

“Kenapa dia lama sekali?”

 

Kutengokkan kepalaku kearah kiri, tepatnya kearah rumah keluarga Cho berdiri, disamping kanan rumahku, “Tak biasanya dia terlambat.” Kuperhatikan pintu gerbangnya. Aku berharap dia segera keluar.

 

Terdengar desitan besi pintu gerbang yang terbuka dan aku mungkin hampir tersorak gembira karena orang yang dari tadi kutunggu, akhirnya keluar dari persembunyiannya, “Lama sekali, kau.” keluhku. Tapi, dia hanya diam berjalan kearahku.

 

Kuperhatikan dia. Mulai dari rambut coklatnya yang berantakan, lalu turun ke bagian … eum … bagian yang sangat kusukai yang tentu saja wajah sempurnanya, lalu turun dan seperti biasanya dia memakai baju training biru kerlap-kerlip berkerah panjang. Baju yang juga digunakan aktor Hyun Bin dalam dramanya Secret Garden. Namja ini memang akhir-akhirnya ini menggilai drama tersebut, sampai rela membeli baju yang menurutku seperti lampu disco itu. Kemudian bawahannya, memakai celana pendek warna hitam dipadukan sepatu sport warna biru laut. Tapi, tunggu dulu … apa itu ditangan kanannya?

 

“Emm … Yeon Ju, sepertinya hari ini kita akan jogging ke pasar.” ujarnya sambil mengayun-ayunkan tas belanja kedepan wajahku, “Eh …” Kuangkat sebelah alisku karena setengah tak percaya dengan ucapannya. Baru kali ini aku mendengar dia akan pergi ke pasar.

 

“Jangan menatapku seperti itu. Ini semua perintah eomma. Gara-gara Ahra eonni tak ada dirumah. Belanja ke pasar kali ini aku yang kena. Dan kau harus menemani aku, oke!?” Tanpa banyak kata lagi ditariknya lenganku dan menggiringku menuju pasar tradisional yang berjarak 10 blok dari rumah kami.

 

 

“Aisshi! Matikan benda bodohmu itu! Kau pikir aku ini pembantumu, huh?” Kulemparkan tas belanja yang mulai penuh dengan muatannya. Baru kusadari setelah aku merasa lelah mondar-mandir kesana-kemari membeli sayur, buah, dan bahan-bahan masakan yang tertulis didaftar belanja ini dengan membawa tas belanja yang mulai terasa berat. Sedangkan orang disampingku ini, hanya mengekoriku dan dengan asyik memainkan PSP-nya.

 

“Kau yang belanja, kenapa aku jadi yang repot. Sekarang kau belanja sendiri!” Tak lupa kulemparkan secarik kertas bertuliskan daftar belanja yang harus dibeli padanya.

 

“Ya! Kau ini pemarah sekali. Akukan tak mengerti apa-apa tentang hal ini.” keluhnya disampingku, sambil mencoba menyamakan langkahku, “Ini … toge, lobak, bayam ……” Dibacanya daftar belanja yang belum terbeli, “Aku tak tahu semua ini. Ayolah, bantu aku!?”

 

“Masa bodoh.” acuhku. Tentu saja dia tak tahu nama-nama tersebut, dia tak pernah makan sayur. Kupercepat langkahku, tapi kemudian terhenti. Karena dia sedang menggelayuti lenganku dan menatapku dengan sorot mata memelas.

 

“Ayolah! Kalau aku tak mendapat semua barang di daftar belanja ini, aku pasti kena getokan dari eomma. Mau ya!?” Ditunjukkan puppy eyesnya padaku, tapi kali ini aku tak akan terpengaruh dengan wajah polosnya yang menjijikkan itu.

 

“Tidak.”

 

“Come on! Nanti sepulangnya aku beliin kopi latte dan kue rainbow kesukaanmu, deh.” Rayunya.

 

“Lepaskan! Aku ingin pulang.” ucapku, “Aku tak akan terkena bujuk rayumu.” Hanya saja, dia tak ingin melepaskanku.

 

“Bagaimana ditambah dengan susu coklat 2 pack?” Mendengar minuman favoritku disebut, refleks aku menatapnya dengan mata berbinar-binar senang. Apalagi dia bilang 2 pack, tambah berbinar-binarlah mataku. Dia memang tahu kelemahanku.

 

“Eotteohke?”

 

“Oke. Tapi, kau yang membawa barang belanjaannya dan aku yang membeli belanjaannya!?” negoku.

 

“Oh, sure, Miss Lee Yeon Ju.” jawabnya sok seperti pelayan hotel internasional. Kamipun melanjutkan perburuan kami dipasar.

 

 

Kulahap potongan kecil kue rainbow yang menancap cantik digarpuku, “Hmmm … enaknya. Tak salah kalau kue ini jadi populer.” pujiku pada sepotong kue berwarna-warni yang tersusun dengan indahnya.

 

“Kalau kau makan seperti itu, kapan selesainya?” teriak Kyuhyun, membuyarkanku dari kenikmatan dunia ini.

 

“Ya! Bisa tidak untuk tak berteriak. Mengganggu tahu.” sewotku kesal.

 

“Makanya, cepat habiskan makananmu!” Diraihnya cangkir berisi cappucino, kopi kesukaannya. Dihabiskannya kopinya hanya dengan satu tegukan. Lalu kembali bermain dengan benda bodohnya itu, P.S.P.

 

Kusedu kopi latteku dengan sedikit rasa kesal. Mengingat rencanaku semula gagal. Rencana dimana seharusnya kami jogging dari rumah dan berhenti di taman Green Park. Lalu menyatakan perasaaku disana, di tempat favorit kami itu.

 

Kenyataannya, jogging kali ini berburu dipasar dan berakhir di café langganan kami ini. Tak mungkinkan aku menyatakan perasaanku ditempat para pembeli dan penjual yang berjubel-jubel disana. Aku tak ingin menyatakan ditempat seramai itu. Dan…

 

Sebentar…

 

Sekarangkan aku sedang di café. Kulihat-lihat suasana di café ini. Sedikit ramai. Tapi tak seramai dipasar. Apa aku menyatakannya disini saja, ya? Kupandangi Kyuhyun yang tak berkedip memandangi layar datar PSP-nya. Tiba-tiba saja aku merasa gugup. Kurasakan tanganku bergetar dan berkeringat. Aku merasa sulit bernapas. Dadaku sesak dan jantungku berdetak cepat. Sensasi ini kembali menyerangku. Sensasi seperti ini selalu terjadi padaku bila aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Sepertinya aku harus menundanya lagi?

 

Tanpa kusadari aku menggelengkan kepalaku. Tak setuju akan kepengecutanku ini, “Kau sudah terlalu sering menundanya, Lee Yeon Ju. Sekarang tak boleh.” ucap bayangan wajah Kyuhyun sama persis seperti bayangan tadi malam yang tiba-tiba muncul didepan wajahku. Kuterperanjat kaget, hampir membuatku terjatuh dari kursiku. Kukerjap-kerjapkan mataku. Memastikan penglihatanku tak bermasalah. Tapi, sekarang bayangan itu menghilang.

 

“Ya! Ada apa denganmu?” teriak Kyuhyun, merasa terganggu dengan kelakuanku. Ditatapnya diriku tajam, “Ah, mian.” ucapku setengah sadar dari keterkejutan tadi. Apakah ini artinya aku harus menyatakannya sekarang?

 

Kuhirup oksigen di café ini sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya kembali. Mencoba mengumpulkan segenap keberanianku.

 

“K-kyuhyun.” panggilku gugup.

 

“Eo.” jawabnya singkat, tanpa menoleh padaku. Kutundukkan wajahku. Aku tak berani menatap wajahnya sekarang. Aku takut kalau pipiku sekarang sudah seperti tomat masak.

 

“A-aku…………”

 

“Aku apa?”

 

“A-aku…………”

 

“Aku menyukaimu, oppa.”

 

Mwo?

 

Bukan.

 

Ini bukan suaraku. Suara siapa ini? Kuangkat wajahku dan kulihat seorang yeoja kecil berambut hitam lurus sebahu, memakai seragam anak SD dan sebuah bando pink menghiasi kepalanya. Kyeopta. Dia sedang memeluk Kyuhyun dan memanggilnya, “Oppa, oppa, oppa.”

 

“Nuguya?” tanya Kyuhyun lembut pada yeoja kecil ini, mewakili pertanyaanku yang ingin kulontarkan padanya.

 

“Ah, mian, anak muda. Dia anakku. Dia ini kalau melihat namja tampan sukanya langsung memeluk.” ujar seorang ahjumma, yang sepertinya eomma dari yeoja kecil ini menghampiri kami lalu menarik anaknya yang masih tak ingin melepaskan pelukannya.

 

“Oh, gwaenchana.” ucap Kyuhyun sambil mengusap lembut kepala yeoja kecil ini. Aku yang melihatnya merasa sedikit iri sekaligus cemburu.

 

“Min Ji-ya. Ayo pulang!” ucap eommanya yang masih berusaha menariknya agar melepaskan pelukannya, “Ah, umma, padahal aku masih ingin memeluk oppa.” protes yeoja kecil yang ternyata bernama Min Ji.

 

“Sung Min Ji. Ayo pulang!!” ulang eommanya lagi dengan nada lebih tegas.

 

Seketika itu Min Ji melepaskan pelukannya, “Ne. Oppa aku pulang dulu ya.” Dibungkukkan badan mungilnya, memberi salam perpisahan, “Sampai ketemu lagi, oppa.” Ucapnya kemudian.

 

“Ne.” balas Kyuhyun dengan seulas senyum dan anggukan kecil. Diapun pergi dengan seulas senyum manis merekah dibibirnya. Benar-benar deh aku kalah dengan seorang anak SD.

 

“Kenapa kau menatapnya seperti itu?” tanya Kyuhyun yang menyadari aku menatap tajam kepergian yeoja kecil tadi, “Dan kenapa wajahmu cemberut seperti itu?”

 

“Mwoya?” tanyaku seakan aku tak mengerti pertanyaannya.

 

“Kau menatap kepergian yeoja kecil tadi dengan tatapan seakan kau ingin memakannya saja. Dan aku hafal sifatmu, kalau sudah cemberut seperti itu berarti kau sedang kesal. Jangan bilang kau kesal karena cemburu dengan yeoja manis tadi, eoh….” ujarnya dengan menyipitkan sebelah matanya dan tersenyum evil, mencoba mengintimidasiku.

 

“Cemburu? Hahaha…” Tawaku garing.

 

“Anie.” bohongku.

 

“Kau cemburu.”

 

“Anie.”

 

“Cemburu.”

 

“Anie.”

 

“Yah, yah, sudah. Sekarang cepat habiskan makananmu dan pulang.” ucapnya mengakhiri perdebatan kami.

 

Akhirnya aku menghabiskan makananku dengan muka masam. Yeoja kecil tadi mengambil kesempatanku. Padahal aku mati-matian ingin mengutarakan perasaanku ini. Tapi, yeoja kecil itu dengan mudahnya mengatakan kata-kata yang sangat sulit keluar dari mulutku. Ah …. Sebal, sebal, sebal.

 

 

Sepulang dari café, aku masih kesal setengah mati dengan yeoja kecil tadi, “Huh.” dengusku penuh emosi. Kutendang batu-batu kecil yang kutemui disepanjang jalan trotoar ini. Tiba-tiba saja muncul didepan wajahku, bayangan wajah Kyuhyun yang sama persis bayangan tadi malam dan di café.

 

Karena terkejut, tanpa sengaja aku menendang batu kecil yang ada didepan kakiku dengan penuh tenaga, melayang mengenai Kyuhyun yang berjalan didepanku, “Awww.” ringisnya sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena.

 

“Mianhae, aku tak sengaja, Kyu.” ucapku sambil melangkah mendekatinya.

 

“Kau ini sebenarnya ada apa sih? Dari tadi kelakuanmu abnormal.” ujarnya masih meringis kesakitan.

 

“Gwaenchana? Mianhae.” ucapku masih merasa bersalah, “Ah, sudahlah.” Lalu melangkahkan kakinya kembali.

 

Disaat itu juga bayangan wajah Kyuhyun datang kembali dan mengucapkan, “Sekarang, katakan!” Setelah itu menghilang lagi.

 

“KYUHYUN.” teriakku keras, kututup mulutku yang tanpa perintah berteriak memanggilnya. Ini pasti gara-gara aku terlalu shok dengan bayangannya yang terus datang menghantuiku.

 

“Ya! Aku disini. Kau pikir aku tuli, apa? Berteriak seperti itu.” sahutnya kesal, “Ada apa lagi?”

 

Kulihat dia berhenti tepat didepan pintu gerbang rumahnya dan aku berdiri kira-kira 2 meter darinya. Kurasakan kembali serangan sensasi ini, jantung berdebar cepat, tubuh terasa dingin, tangan gemetaran dan berkeringat. Kutundukkan wajahku karena terlalu gugup untuk menatapnya. Sepertinya memang ini saatnya aku mengatakannya.

 

“Kyuhyun, aku……..”

 

“Aku…….” Kenapa sulit sekali? Ayolah keluar!!

 

“Aku apa?” tanyanya tak sabar.

 

“A-aku…”

 

“AKU MENYUKAIMU.” teriakku penuh emosi yang meluap-luap.

 

Namun, disaat ini juga aku merasa hatiku dan jiwaku bebas tak terkekang. Karena perasaan ini yang selalu membuat dadaku terasa sesak. Sekarang, dadaku terasa baik dan tenang. Aku bisa bernapas lega. Aku tersenyum. Tersenyum akan keberhasilanku ini. Dengan berani kuangkat wajahku agar aku bisa melihat reaksinya. Aku tak menuntut dia untuk menerima perasaanku ini. Karena aku hanya ingin menyatakan perasaanku yang sebenarnya.Walaupun didalam hatiku terdalam aku berharap dia juga menyukaiku.

 

Hanya saja, saat melihat ekspresi wajahnya sekarang, membuatku menyembunyikan senyumku. Aku kaget dan shok melihat reaksinya. Kupikir dia akan membulatkan matanya karena kaget atau segera mengucapkan sesuatu agar aku merasa tenang. Tapi yang terjadi, dia hanya menatapku diam dengan ekspresi yang sulit kumengerti. Dia hanya diam ditempatnya dengan menatapku lekat-lekat.

 

Untuk beberapa menit kami hanya diam berdiri ditempat masing-masing. Saling menatap tanpa tahu apa yang ada dipikirannya sekarang. Ayolah bicara sesuatu! Buatku tenang. Terasa sesuatu bergejolak diperutku. Aku ingin muntah. Aku tak tahan lagi. Akupun berlari melewati Kyuhyun yang masih saja tetap diam ditempatnya dan masuk kerumahku. Aku langsung pergi ke toilet dan memuntahkan gejolak diperutku. Tapi, tak ada yang keluar. Justru airmataku yang keluar. Aku menangis sesegukan di toilet. Aku tak mengerti mengapa akhirnya seperti ini.

 

-o0o-

 

Malam harinya aku tak bisa tidur. Sorot mata dan ekspresinya waktu itu selalu terngiang diotakku. Aku tak mengerti arti dari ekspresi dan sorot matanya itu. Apakah arti dari ekpresinya itu kalau dia tak suka aku menyatakan perasaanku ini? Bagaimana kalau dia membenciku?

 

Andwae!

 

Andwae!

 

Tapi, aku harus bagaimana? Aku takut telah merusak persahabatan kami. Aku takut merusak kebersamaan kami selama ini. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan bila bertemu dia nantinya.

 

Hari ini, 3 hari yang sudah berjalan setelah hari dimana aku menyatakan perasaanku. Dan 3 hari sudah aku tak pernah menemuinya. Aku menghindarinya. Di rumah, di sekolah, dimanapun kemungkinan kami bertemu, aku selalu menghindarinya. Aku terlalu malu untuk menemuinya. Sebenarnya dia pernah meneloponku malam itu setelah kejadian aku menyatakan peraasaanku. Tapi, aku tak mengangkatnya.

 

3 hari ini juga dia tak menampakkan wajahnya dihadapanku. Tidak pernah. Walau aku menghindarinya, sebenarnya aku berharap dia mencariku atau datang ke rumahku dan menemuiku. Lalu mengatakan sesuatu yang dapat menyakinkanku kalau dia baik-baik saja dengan pernyataanku. Tapi, dia tak melakukannya. Semua ini membuatku berpikir bahwa dia benar-benar telah membenciku.

 

Aku berjalan mondar-mandir di kamarku. Seperti orang linglung. Kepalaku seperti ingin meledak, terlalu lama berpikir, “Apakah hari ini aku harus menemuinya terlebih dahulu, tak menunggunya untuk menemuiku?”. Tapi, bila dia tak menemuiku, aku bakal tak melihatnya untuk waktu yang lama. Karena tinggal hari ini dia berada disini, di kota ini. Besok adalah hari dimana dia akan berangkat ke Universitas Kyunghee.

 

Untuk waktu yang lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengiriminya pesan. Setelah benar-benar terkirim. Aku langsung pergi ke café langganan kami.

 

 

Ditemani secangkir kopi latte, aku menunggunya. Menunggunya dengan jantung berdebar-debar luar biasa cepat. Hal ini yang harus kulakukan. Menemuinya atau aku tak pernah melihatnya lagi.

 

Latteku sudah habis dan dia tak kunjung datang. Seharusnya dia sudah datang. Ini sudah lewat setengah jam dari waktu yang kutentukan untuk menemuiku disini.

 

“Hahhh … sepertinya dia tak datang.” desahku kecewa sekaligus sedih, kemudian aku berdiri dari dudukku, keluar dari café ini, untuk pulang kerumah.

 

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, pipiku basah oleh airmata yang tak bisa kubendung lagi. Sepertinya dia benar-benar membenciku. Sesampai di taman Green Park, aku berhenti. Mengenang kebersamaan kami disini. Green Park adalah tempat favorit kami. Dimana kebanyakan waktu kami dihabiskan disini. Sampai kudengar sebuah suara memanggil-manggil namaku.

 

Kubalikkan tubuhku ke arah datangnya suara. Disana, di jalan menuju café yang kutinggalkan tadi. Terlihat sesosok yang sangat kurindukan, yang tak pernah melihatnya selama 3 hari ini, berlari kearahku, “Kyuhyun-ah?” gumanku tak percaya.

 

Dan dia sekarang sudah ada didepanku, “Kau ini tak sabaran sekali. Aku hanya terlambat setengah jam saja kau sudah pergi. Keterlaluan.” ucapnya dengan napas terengah-engah. Tanpa kata lagi, dia menarikku kepelukkannya. Bisa kurasakan jantungnya berdetak cepat. Kubulatkan kedua mataku. Dia tak pernah memelukku seerat ini.

 

“Kyuhyun.” lirihku, meminta penjelasan akan perlakuannya ini.

 

“Diamlah! Aku lelah setelah berlari dari rumah guru Park ke café dan terus berlari mencarimu. Apa kau tahu aku terlambat karena aku harus mengurus beberapa dokumen dengan guru Park.” jelasnya.

 

Dieratkan kedua tangannya memeluk tubukku yang lemas. Aku hanya diam membisu. Tak tahu apa yang terjadi sekarang. Untuk beberapa menit kami saling diam dan masih dalam posisi dia memelukku. Kudengar napasnya mulai teratur, tapi mengapa jantungnya masih berdetak cepat?

 

“Kyuhyun.” seruku untuk memecah keheningan ini.

 

“Aku menyukaimu.” ucapnya sangat jelas. Kubulatkan mataku lebar. Tak percaya akan apa yang kudengar barusan. Aku mencoba untuk melepaskan pelukannya. Melihat wajahnya. Apakah dia sedang bercanda? Tapi, dia tak mengijinkanku dan semakin mempererat pelukannya.

 

“Aku sudah lama menyukaimu. Tapi, tak berani untuk mengatakkannya. Kuakui aku pengecut kalau soal cinta. Kau tahu, aku selalu berusaha untuk menunjukkan rasa sukaku. Sayangnya kau seorang yeoja yang tak peka. Kau tak pernah merespon apapun tentang perasaanku ini. Itu sebabnya kupikir kau tak menyukaiku dan hanya menganggapku sebagai sahabat.”

 

Benarkah?

 

Apa yang dikatakan ini benar?

 

“Saat kau mengatakan kalau kau menyukaiku, aku terkejut tapi senang. Mianhae, waktu itu aku hanya diam seperti orang bodoh. Aku hanya terlalu tak percaya akan pernyataanmu itu. Dan mengapa aku tak menemuimu setelah itu dan hanya meneloponmu satu kali dan itupun kau tak mengangkatnya. Karena aku tahu sifatmu, jika aku menemuimu padahal kau menghindariku, maka kau akan selalu menghindariku. Makanya, aku menunggumu sampai kau yang datang menemuiku terlebih dahulu.” Kekehnya.

“Kau sedang berbohongkan?” tanyaku masih tak percaya.

 

“Ya! Kau masih tak percaya?” Dilepaskan pelukannya dan menatapku lekat-lekat, “Apa yang bisa membuatmu percaya?” kukedikkan pundakku tanda aku tak tahu.

 

“Hmmm … baiklah, aku tahu apa yang akan membuatmu percaya.” Diraihnya daguku, kubelalakan kedua bola mataku lagi.

 

Apa yang akan dia lakukan?

 

Kemudian dia memiringkan wajahnya dan mendekatkannya padaku. Kurasakan hembusan napasnya menerpa wajahku. Hangat. Dan kurasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirku. Jantungku serasa ingin melompat dari tempatnya.

 

Dia menciumku. Cho Kyuhyun menciumku. Kupejamkan mataku. Menerima kecupan lembutnya. Lama. Lama dia mengecup bibirku. Namun, dia mengecupnya perlahan dan lembut. Tidak memaksa. Setelah dia menyadari aku kehabisan napas, dia melepaskan ciumannya.

 

“Sekarang kau percaya?” tanyanya. Kuanggukan kepalaku. Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi. Airmataku mulai jatuh kembali. Airmata kebahagian.

 

“Jangan menangis! Kau seperti ikan rebus kalau menangis.” Seketika itu kehentikan tangisku, kukembungkan kedua pipiku. Dia ini dalam suasana seperti ini masih bisa-bisanya mengejekku.

 

“Kyeopta.” serunya sambil mencubit kedua pipiku.

 

“Appo.” rintihku.

 

“Tapi, Yeon Ju.” ucapnya sambil melepaskan cubitannya, lalu mengusap-usap pipiku lembut.

 

“Kau tahu kan besok aku akan pergi?” sejurus kemudian dia menatapku serius. Terlihat ekspresi sedih diwajahnya. Kuanggukan kepalaku, sebagai jawaban kalau aku tahu, “Apakah kau mau menjalin Long Distance denganku?”

 

Long Distance maksudnya hubungan jarak jauh. Tentu saja aku mau. Aku menyukainya. Aku mencintainya. Dan dia dengan masih tak kupercayai juga menyukaiku. Aku tak mungkin tak mau. Walaupun kau berada jauh disana, walau kau berada di negara berbeda atau benua yang berbeda sekalipun. Hatiku akan tetap bersamamu.

 

“Tentu saja aku mau.” jawabku pasti.

 

“Yeoja pintar.” Ditariknya kembali diriku kedalam pelukkannya. Akupun membalasnya dengan suka cita.

 

Mulai dari sekarang,

 

Di kota ini.

 

Di taman ini.

 

Dan di musim semi ini.

 

Cinta kami dimulai.

 

Cinta sebagai sepasang kekasih.

 

End~

 

 

Jurnal khusus ‘Kyuhyun’!

KYUHYUN: “Kupikir-pikir Lee Yeon Ju itu yeoja yang sangat-sangat tak peka. Saat aku menyebutnya si payah, karena aku kesal. Dia setiap hari selalu memutar lagu Say You Love Me-nya IU. Padahal lagu itu sangat mewakili perasaanku. Aku mati-matian menunjukkan rasa sukaku, tapi dia tak menunjukkan respon apa-apa. Makanya, aku sangat kesal kalau dia memutar lagu itu terus. Kau mengertikan, Thor?”

AUTHOR: “Oh, arra.”

KYUHYUN: “Tapi, Thor. Apa dari tadi kau tak merasakan aura menyeramkan dibelakang kita?”

AUTHOR: (Mendongakkan kepala kebelakang dan melihat sesosok makhluk perempuan dengan dua tanduk dikepalanya)

MAKHLUK YANG DIMAKSUD / LEE YEON JU: “Kau berani-beraninya selingkuh dibelakangku, CHO KYUHYUN.”

KYUHYUN: (Mendongakkan kepalanya kebelakang juga), “Changi.”

LEE YEON JU: “Jangan panggil aku changi, dasar namja sialan.”

KYUHYUN: “Ini tak seperti yang kau pikir. Aku tak selingkuh dengannya.” (Menunjuk Author).

AUTHOR: “Ya, tak seperti yang kau….”

LEE YEON JU: “Diam kau, Thor!!!” (Author langsung mengundurkan diri dari medan perang dua kekasih ini).

AUTHOR: “Oke! Biarkan mereka bertengkar. Terima kasih sudah membaca ffku ini. Aku membutuhkan jejak kalian untuk kebaikan ffku yang lain. Jujur, sebenarnya aku pengunjung+reader baru disini. So, kalau ada sesuatu hal yang kurang pas ma KyuJu couple aku minta maaf. Sekali lagi terima kasih *bow* And See U Later ^^/ … eh lupa, gomawo jg buat min” yg udh ngpost ffku dipage ini~ *bungkuk sedlm”.a* 

17 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] Say You Love Me

  1. Wkwkwk….
    Curhatannya lucu….
    Kyaa… Si evil itu mana bisa jadi angel….><
    Selamanya dia akan tetap menjadi evil.. *eh
    tp, walaupun evil ttp suka ko aku sma dia…*author : apa deh ni anak*
    Tuh anak kecil yg meluk kyu kecentilan deh kayaknya… Kayak himawari adiknya shinchan… Wkwkwk…
    Kalau liat yg tampan dikit aja lengsung deh…
    Ok deh thor… Gomawo atas ff Kyu-nya…
    Chu~:*

  2. hahaa waahh ff-nya daebakk thorr hehe, suka banget sama critanya :P
    Hehe, itu jurnal khusus kyuhyun lucu banget wkwk :P gokill dah
    Nice ff thor :D

  3. Aneh thor! Masa Yeon Ju nya nerima jalinan Long Distance sama kyuhyun gitu aja?

    Yang kurang ending nya gak terlalu cocok sama alur FF nya. Just That

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s