[Freelance – Oneshoot] The Word ‘Why?’

 

Title   : The Word ‘Why’

Cast   : D.O EXO and Shim Nara (OC)

Length : Oneshot

Rating: PG-13

Summary : Tidak ada yang pernah bisa menemukan jawaban dibalik perasaan Kyungsoo terhadap Shim Nara, gadis teraneh di dunia.

 

 

Mengapa kau mencintaiku?

 

***

Seluruh dunia dapat merasakan atau bertanya-tanya ‘mengapa’. Mengapa bunga tumbuh mengarah ke matahari, atau mengapa langit berwarna biru, atau mengapa anak anjing berbulu cokelat sangatlah lucu, atau mengapa bintang-bintang di langit sangat banyak jumlahnya, atau mengapa Byun Baekhyun mempunyai tangan yang indah melebihi wanita, atau mengapa Park Chanyeol bertubuh tinggi sedangkan Kim Junmyeon harus berjinjit ketika mengambil buku di perpustakaan, atau mengapa Xi Luhan dapat berbicara bahasa Korea hanya dalam waktu dua tahun sedangkan sulit bagi Kim Jongdae mempelajari bahasa Cina di sekolah.

Mengapa dan mengapa?

Mengapa Do Kyungsoo menyukai Shim Nara? Gadis teraneh di dunia.

Mereka tak habis pikir. Do Kyungsoo sempurna. Tidak banyak kata ‘mengapa’ ditujukan padanya karena ya, Do Kyungsoo memang terlahir seperti itu dan dia…sempurna. Do Kyungsoo sempurna dalam fashion, meskipun itu hanyalah sebuah seragam yang juga dipakai oleh Baekhyun, Chanyeol, Junmyeon. Do Kyungsoo sempurna dalam hal pelajaran. Bahasa inggris adalah keahliannya dan orang-orang menempel padanya setiap ujian menjelang. Do Kyungsoo tampan dan kulitnya terlihat sempurna di bawah sinar matahari.

 

Tapi mengapa?

 

Mengapa Do Kyungsoo jatuh cinta pada Shim Nara? Gadis teraneh di dunia.

 

Shim Nara hanyalah seorang gadis biasa, namun dari caranya berjalan, panik dalam segala hal, dari caranya berbicara, atau menatap orang dalam jarak yang cukup dekat, dia…aneh. Tidak banyak kata ‘mengapa’ yang ditujukan pada seorang Shim Nara, karena ya, dia terlahir untuk menjadi seperti itu. Shim Nara aneh dalam berpakaian, syal ungu melingkar di kala dingin atau panas. Shim Nara aneh dalam berbicara, suaranya cempreng dan sumbang, tidak ada yang ingin mengajaknya bicara. Ada sesuatu yang aneh dari caranya menulis di buku, tulisannya jelek seperti cakar ayam dan tak satu pun mengerti apa yang dia tulis.

 

Tapi…mengapa?

 

Mengapa dia bisa menjadi tambatan hati seorang Do Kyungsoo?

 

They say love is blind~” Kyungsoo menyenandungkan lagu G-Dragon yang berjudul That XX ketika semua orang bertanya, ‘mengapa’ dan ‘mengapa’. Sebuah jawaban klise, namun Kyungsoo menyukainya. Lalu beberapa hari kemudian dia tidak yakin bahwa cinta itu buta karena dia tidak buta. Dia bisa melihat wajah Nara yang tersenyum ketika mereka bertemu di halte bus, dimana mereka mempunyai janji disana. Dia bisa melihat setiap helai rambut kering Nara yang menyembul dari kuncirnya atau seragam yang mulai lusuh.

 

Lalu Kyungsoo mengganti jawabannya…

 

I love her just the way she is.”

 

 

Nara tidak pernah, tidak sekali pun dalam hidupnya terganggu akan semua pandangan mencemooh yang jatuh padanya. “Kau punya sepasang mata, satu hidung, satu mulut, sepasang telinga, dua alis.” Kata-kata Kyungsoo menempel di kepalanya seperti sticky notes sehingga Nara dapat terus melihat dan tersenyum. Kau tidak aneh. Kemudian saat para gadis di sekolah berbicara soal perawatan kulit dan bagaimana mereka menatap jijik kulit Nara yang kusam, Nara melihat notes lainnya yang berisi, “Kau punya kulit, kau bukan manusia transparan. Mereka tidak melihat organ dalam tubuhmu.” Nara kembali tertawa dan membiarkan notes itu menempel disana-dipikirannya beberapa saat sampai ada hal lain yang membuatnya terus saja mencari, membalik notes-notes itu.

Kyungsoo tidak memerlukan notes-notes kecil itu di dalam kepalanya atau notes nyata lainnya. Nara sebuah ukiran, sebuah patung pahatan, sebuah patriaan yang bahkan tidak akan sirna oleh waktu. Kyungsoo yakin saat dia melangkah keluar rumah, menghirup udara pagi yang segar, kakinya otomatis membawanya ke halte dimana dia melihat seorang gadis setengah melamun duduk disana. Kyungsoo akan menyapanya, “Hai.” Lalu akan ada jawaban dengan suara cempreng yang khas, “Pagi, Kyungsoo. Apa tidurmu nyenyak?”

 

 

Hari itu…

Hari pertama seorang Shim Nara berjalan tidak sendirian di tengah-tengah koridor. Tidak ada yang berani menghadangnya atau menjulurkan kaki agar gadis itu jatuh.

Do Kyungsoo berjalan bersamanya.

Tangan saling bertautan, senyuman di wajah, dan ketika sebuah kalimat meluncur dari mulutnya. Dia pacarku. Hampir setengah gadis di sekolah kehilangan kesadaran mereka dan bahkan tercekik karena udara disekitar mereka tiba-tiba terasa menipis.

“Mengapa kau melakukan ini?” itu adalah kata ‘mengapa’ pertama dalam hidup Kyungsoo. Tidak ada kesulitan yang menjamah Kyungsoo, karena ya, dia jatuh cinta pada gadis ini dan apakah sulit untuk menjawabnya.

“Karena aku menyukaimu.” Bisik Kyungsoo saat mereka hanya berduaan di taman belakang sekolah, alis bertemu, Nara tampak berpikir keras untuk ini.

“Ini lebih sulit daripada ujian matematika.” Ujarnya polos, tidak mengerti apa alasan dia berbicara seperti itu karena terlalu sulit untuk berbicara saat seorang layaknya pangeran tampan sedang mengamati, mempelajari setiap senti wajahmu.

“Mengapa begitu?” itu adalah kata ‘mengapa’ pertama yang sejauh ini Nara ingat dalam hidupnya. Nafas Kyungsoo terasa menyenangkan dan aroma mint menguar ketika dia berbicara, perlahan dan begitu lembut, hingga ingin rasanya Nara meminta Kyungsoo untuk mengulang setiap perkataannya.

Nara mengangkat bahu dan tertawa kecil, “Entahlah, aku tidak tahu.” Dia tidak berani memandang kea rah Kyungsoo, namun saat sebuah ciuman kecil dan hangat mendarat di dahinya, Nara tahu dirinya akan lebih banyak menemukan “kesulitan” dalam pelajaran, dalam perjalanan pulang ke rumah, dalam mengerjakan PR-nya, dalam mengunyah makan malamnya, dalam tidurnya.

“Astaga…mengapa banyak sekali kupu-kupu di mataku?”

 

Itu adalah kata ‘mengapa’ ke-dua yang meluncur dari mulutnya.

 

 

 

Kyungsoo bukan seorang peramal, namun prediksinya cukup tepat. Tiba-tiba semua orang bertanya mengapa, mengapa, mengapa?!  Ada puluhan surat di lokernya, jatuh berserakan di lantai dan Kyungsoo tidak perlu membacanya karena dia tahu, hanya akan ada ‘mengapa’. Kata itu semakin familiar di telinganya, di kepalanya. Ada beberapa bunga dan cokelat di mejanya. Ada beberapa gadis menangis dihadapannya, meminta agar dia segera mengakhiri hubungannya dengan Nara. Tapi, dengan mudah Kyungsoo menyelinap pergi, semudah ketika dia mengajak pergi Nara ke taman bermain dan kata “ya” memenuhi kepalanya.

Taman bermain sangatlah besar, itu menjadi sebuah dunia baru bagi Nara. Kyungsoo menggenggam tangannya, mengarahkannya ke beberapa arena permainan, menatapnya dekat sekali, tertawa bersamanya, itu adalah sederet hal yang tidak baru bagi Nara.

Nara bersumpah setiap kali mendengar suara Kyungsoo, tawanya yang ringan, atau bahkan napasnya yang memburu setelah mereka menaiki roller coaster itu, Kyungsoo bukanlah manusia melainkan dewa yang turun dari langit. Nara mempunyai agama yang kuat, namun dalam hatinya masih bertanya ‘dosakah jika dia mengagumi Kyungsoo dan menganggapnya malaikat?’ Tidak ada yang pernah berkata bahwa itu adalah sebuah dosa, itu wajar, itu suatu hal yang lumrah. Maka Nara memutuskan bahwa memikirkan Kyungsoo, menyimpannya di sebuah kotak memori khusus yang special, bukan menjadi masalah besar.

Hari itu berakhir bahagia. Kyungsoo tersenyum padanya di bawah sinar rembulan sebelum menempatkan bibirnya di pipi Nara dan berbisik, “Aku menyukaimu, Shim Nara.”

Semuanya terasa membingungkan, juga terlihat mudah. Begitu mudah saraf di tubuhnya melemah dan mengubah kakinya menjadi setumpuk pasir. Nara tidak yakin dia bisa tidur dengan tenang malam ini karena…

“Mengapa bibir Kyungsoo terasa lembut?”

 

Itu adalah kata ‘mengapa’ ke-tiga untuk Kyungsoo.

 

Tiga bulan lamanya.

 

Kyungsoo bukanlah seorang peramal. Tentu saja tidak selamanya apa yang diprediksikan selalu benar. Kyungsoo mengira semua pertanyaan ‘mengapa’ akan menghilang seiring berjalannya waktu. Orang-orang dengan mudahnya melupakan mereka berdua dan kembali ke kehidupan masing-masing tanpa perlu memikirkan apa yang mereka lakukan, kemana mereka berdua pergi, dimana Kyungsoo dan Nara mengakhiri hubungannya. Itu…Konyol! Pikir Kyungsoo. Pertanyaan ‘mengapa’ terus saja menghantui hidup Kyungsoo, seakan mereka tidak pernah berhenti untuk menggerogoti masa-masa bahagia itu dan siap mengubahnya menjadi butir-butir debu yang akan tersapu oleh hujan.

 

Pertanyaan dari Byun Baekhyun: Mengapa harus dia?

Pertanyaan dari Park Chanyeol (sambil menggigiti kukunya): Mengapa             kau mau bersamanya?

Pertanyaan dari Kim Junmyeon: Mengapa harus kau yang jatuh cinta               padanya terlebih dulu?

          Pertanyaan dari Xi Luhan: Mengapa kalian kalian tidak kawin lari dan   bersembunyi di planet EXO?

          Pertanyaan dari Kim Jongdae: Eumm…Mengapa…mengapa kau                        tanyakan aku tentang hal ini? Eumm…aku harus kembali ke kelas, aku harus belajar bahasa Cina.

 

Kyungsoo mengambil napas dan rasanya ingin berteriak jika ada satu lagi pertanyaan ‘mengapa’ yang mempertanyakan tentang hubungannya dengan Nara. Tidak. Tidak ada lagi orang yang bertanya mengapa, namun…

 

Di satu hari yang cerah, dimana matahari bersinar terang, burung-burung berkicau senang, angin bertiup tenang, dimana Kyungsoo menghabiskan lima menit terpaku pada gadis di sampingnya. Gadis itu membaca buku, kakinya bergoyang ke kanan ke kiri dibawah rok putih bermotif bunga-bunga kecil. Dia memakai kacamata yang sedikit melorot di hidungnya, beberapa bintik-bintik cokelat di pipi, dan bulu mata pendek yang menari-nari setiap berkedip.

Kyungsoo tidak bisa menahan diri lebih lama, dia melingkarkan tangannya di pinggang Nara dan membawanya bersandar pada tubuh Kyungsoo. Tidak ada protes atau gerakan reflex, Kyungsoo bersyukur Nara bukanlah seorang yang menguasai jurus bela diri yang mungkin saja bisa mematahkan beberapa tulangnya.

Nara tidak berkata apa-apa, hanya bergumam kecil sebelum kembali hanyut membaca novel kanak-kanak karangan Jacquiline Wilson. Rambutnya menggelitik pipi Kyungsoo dan tak ada cara untuk menghilangkan rasa geli itu selain menempelkan pipinya dengan pipi Nara.

 

“Apa yang kau baca?”

“Apa itu lebih seru daripada memperhatikan kekasihmu disini?”

“Apa kau mau es krim?”

“Aku akan mentraktirmu jika kau mau mendengarkanku setelah ini.”

Sederet pertanyaan Kyungsoo luncurkan, terdengar seperti bisikannya yang manis, yang mampu membawa seribu kupu-kupu ke depan mata Nara.

“Jacquiline Wilson: The Mummy Cats.”

“Apa maksudmu? Aku memperhatikanmu.”

“Aku mau es krim! Rasa cokelat.”

“Apa yang ingin kau katakan?”

 

Pertanyaan terakhir di jawab dengan pertanyaan balik selayaknya boomerang. Nara memiringkan kepalanya agar dapat melihat kekasihnya, laki-laki yang mempunyai nafas beraroma mint menyegarkan seperti udara di musim semi, laki-laki yang tidak pernah membiarkannya berjalan sendiri di koridor penyiksaan itu setelah sebuah pernyataan, pertanyaan…

 

“Aku mencintaimu.”

 

Waktu berhenti. Kyungsoo berharap ada seseorang yang bisa membalikkan waktu hingga dia dapat…setidaknya tidak mengatakannya di hari itu, mungkin di hari lain, mungkin di jam yang lain, di detik yang lain, di minggu yang lain, di bulan yang akan datang, kapan saja dan dimana saja, tidak sekarang, karena…

 

“Mengapa?”

 

Tanya nara, ada kekosongan dalam suaranya yang kali ini Kyungsoo merasa dia bukanlah seorang peramal handal dan tidak akan ada prediksi selanjutnya.

 

Semuanya terlihat jelas dan semakin jelas ketika Kyungsoo duduk di tepi tempat tidurnya. Pikiran kosong, dia bahkan tidak ingat bahwa besok ada ujian bahasa inggris. Namun itu bukan masalah besar. Ada sesuatu yang lebih besar, yang kini membuat Kyungsoo jatuh ke dalam kebodohannya sendiri, dia menyadari semuanya terlalu lama.

Dia tidak pernah menjawab benar-benar pertanyaan ‘mengapa’, ‘mengapa’, ‘mengapa’. Dia muak, dia lelah dengan semua pertanyaan itu, tapi kini dia sadar bahwa tidak ada satu pun pertanyaan ‘mengapa’ yang berhasil dia jawab. Mungkinkah Kyungsoo memang tidak pernah punya jawaban untuk semua itu?

Pertanyaan dari Byun Baekhyun: Mengapa harus dia?

Jawaban dari Kyungsoo: Dia…karena dia…

 

Pertanyaan dari Park Chanyeol (sambil menggigiti kukunya): Mengapa             kau mau bersamanya?

Jawaban dari Kyungsoo: Karena…aku…

Pertanyaan dari Kim Junmyeon: Mengapa harus kau yang jatuh cinta               padanya terlebih dulu?

Jawaban dari Kyungsoo: Itu…bukan…

 

          Pertanyaan dari Xi Luhan: Mengapa kalian kalian tidak kawin lari dan   bersembunyi di planet EXO?

Jawaban dari Kyungsoo: Aku rasa…itu…

 

          Pertanyaan dari Kim Jongdae: Eumm…Mengapa…mengapa kau                        tanyakan aku tentang hal ini? Eumm…aku harus kembali ke kelas, aku harus belajar bahasa Cina.

Jawaban dari Kyungsoo: …. Baiklah, Jongdae. Selamat belajar. Hwaiting!

 

 

Kyungsoo tidak punya jawaban untuk semua pertanyaan.

 

“Aku mencintaimu.”

 

          “Mengapa?”

 

Ya, mengapa? Mengapa seorang Do Kyungsoo jatuh cinta pada Shim Nara? Gadis teraneh di dunia.

***

 

Shim Nara merasa aneh. Tidak ada yang lebih aneh baginya ketika dia harus berjalan sendirian sepanjang koridor sekolah. Tiga bulan lamanya selalu ada tangan yang menggenggamnya erat. Tiga bulan lamanya, selalu ada seseorang di sampingnya. Tiga bulan lamanya, Shim Nara yang aneh, untuk pertama kalinya berjalan diiringi tatapan iri yang berusaha merobeknya. Namun hari ini dia berjalan sendirian, tentu aneh baginya.

 

Kyungsoo menghilang.

 

Shim Nara tidak kembali menjadi gadis teraneh di dunia.

 

Dia menjadi gadis paling kesepian di dunia.

 

 

***

 

Musim panas.

 

Musim gugur.

 

 

Musim dingin.

 

 

Musim semi.

 

 

Adalah musim-musim yang tidak ingin Kyungsoo lewati tanpa seorang Shim Nara di sisinya.

Pada musim gugur yang kelabu, daun-daun berguguran, lemah terkulai di tanah. Sehelai daun merah baru saja gugur jatuh bergabung bersama teman-teman daun yang lainnya. Kyungsoo mengayuh sepedanya yang sedikit berat, membelah timbunan daun, menuju taman dimana pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu mulai timbul setelah beberapa menit dia mengatakan aku…

 

Kyungsoo tidak peduli bahwa ini masih pukul 7 di pagi hari yang dingin. Nara tampak memeluk dirinya sendiri di bawah pohon berdaun jingga. Hidungnya memerah dan kacamata melorot sedikit di hidungnya. Kyungsoo berlari kecil seolah dia adalah seekor kelinci kecil yang meminta wortel. Nara tersenyum sedih, matanya memancarkan sesuatu yang Kyungsoo tidak mengerti mengapa, mengapa, mengapa…

 

“Aku disini untuk menjawab pertanyaanmu.”

“Pertanyaan? Pertanyaan apa, Kyungsoo?”

“Pertanyaan, mengapa aku mencintaimu.”

 

Nara menaikkan alisnya yang tebal dan berantakan. Dia ingat hari itu, hari dimana bisikan bercampur aroma mint yang memabukkan, menggumamkan satu pernyataan yang dibalas pertanyaan. Nara mengira tidak akan pernah mendengar jawabannya, namun detik ini, disini, Kyungsoo berdiri beberapa meter di hadapannya, tampak siap menjawab.

“Kita ulangi adegan itu.” Bisik Kyungsoo yang tanpa Nara sadari, telah memperkecil jarak diantara mereka. Nafas Kyungsoo masih tercium sama seperti yang dia ingat beberapa minggu lalu. Mint dan menyenangkan.

Nara tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengangguk. Entah bagaimana cara mereka mengulangi adegan itu, tapi satu anggukan, ya, dia akan melakukan apa saja, apa pun yang Kyungsoo inginkan.

 

“Aku mencintaimu.”

 

“Mengapa?”

 

Kyungsoo menarik napas dalam-dalam. “Karena ada banyak pertanyaan ‘mengapa’ yang tidak mempunyai alasan dibaliknya.” Dia tersenyum lebar.

 

“Apa maksudmu?” Tanya Nara semakin bingung.

 

Kyungsoo mencium dahinya, mencium hidungnya, mencium pipinya, dan berhenti di depan bibirnya, menyisakan jarak satu sentimeter.

“Karena mencintaimu bukan berdasarkan kata ‘mengapa’, tapi ‘apa’. Apa kau mencintaiku, Shim Nara?”

“Tentu saja ya.”

 

Kyungsoo bukan seorang peramal, namun dia dapat memprediksikan bahwa suatu hari dia dapat mencium Nara di bawah pohon berdaun jingga, di musim gugur, dimana matahari bersinar lemah, dan burung-burung beristirahat tenang di sangkarnya.

“Aku mencintaimu, Shim Nara.”

 

END.

 

A/N: Aaaaa!!! Blushes author *ngumpet di belakang baekhyun* aduh aduh…gimana dong, belakangan ini author suka banget nulis roman2 picisan begindong T.T tapi…

Enjoy it chingudeul :D

6 thoughts on “[Freelance – Oneshoot] The Word ‘Why?’

  1. Keuyeuuunnnnnnnnn~~~~~~ kkkk
    Bahasanya tertutur rapih banget tapi mungkin ada beberapa yang susah aku pahami /bolot.com/ hahaha tp daebakkk!!!!! kyungsoo disini gentle sekalii. dan mencintai gadis tanpa memandang fisik^~♥♥♥♥ ditunggu karya berikutnya dengan cast d.o ya thor :3 파이팅!★

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s