[Freelance Oneshot] Adele

Title: Adele

Author: Febe Aninda (@febeaninda)

Main cast: Adele

Other cast: Sulli, Luna (fx) ; Taemin (Shinee)

Genre: Teen, Sad, Romantic

Length: One Shot

Annyeonghaseyo yeorobun ^^, author back dengan fanfiction berjudul ‘Adele’ terinspirasi dari sebuah cerpen yang pernah author baca di sebuah majalah. Kenapa author kasih main castnya Adele ? Karena Adele bakalan jadi main cast sampai akhir. Penasaran kan kenapa Adele ? well, Adele disini bukan yang nyanyi Someone Like You loh -_- tapi Adele yang lain, yaitu Adele ‘sahabat’ Sulli, teman curhat bahkan bisa dibilang menjadi saksi mata apa yang terjadi dengan Sulli.

Penasaran ? Langsung baca ajah.. annyeong (*giring(?) casts ke backstage*)

—–

Aku bersahabat dengan Sulli sudah sejak Sulli memasuki SMA, bahkan aku adalah saksi mata Sulli masuk Korean Design High School, aku bahkan menjadi saksi pertama yang menyaksikkannya mengenakan seragam sekolahnya. Kemeja putih dipadu blazer serta rok bermotif tartan karena musim gugur sudah datang. Aku dan Sulli sudah tidak bisa terpisahkan.

Hari ini aku duduk menatap jendela ruang kelas Sulli, sementara Sulli sedang mengikuti pelajaran P.E dan aku ditinggal. Selama ini semua teman-teman Sulli sudah terbiasa dengan ku bahkan sudah menyayangi ku. Matahari menyapa ku di ufuk timur dengan sinarnya yang cerah, kubalas sapaannya dengan sebuah senyuman, sementara angin semilir menggelitik ku. Sudah pukul 9 dan sudah seharusnya Sulli kembali.

Kudengar langkah-langkah kaki berdatangan dengan serampangannya. Kadang aku bingung, sekolah ini adalah sekolah design namun, masih tetap ada pelajaran PE yang sama sekali menurutku tidak berguna. Sulli memelukku dari belakang.

“Adele, annyeong..” sapanya. Eye-smilenya menunjukkan kalau ia sedang bahagia, aku bisa merasakan itu. Disampingnya berdiri Luna, teman sekelas Sulli yang memiliki rambut blonde. Luna ikut melambaikan tangannya padaku sembari mengusap kepalaku perlahan.

Sore itu sebenarnya Sulli harus segera pulang. Minho oppa pasti akan marah kalau Sulli dan aku tidak pulang tepat waktu. Saat ini Sulli malah masuk ke ruangan gymnastics sembari mempersiapkan ponselnya menyetel posisi record pada kameranya. Kulihat di tengah lapangan, seorang pria berwajah manis, seperti Sungmin Super Junior (Sungmin : aku manis yaa ? | author : *berasa salah tulis*) atau mungkin Heechul Super Junior (Heechul : *batal wamil gara-gara dibilang manis* | author : *gantiin heechul wamil* #loh? #stress) sedang melakukan lompat indah.

Kutatap Sulli yang senyumnya sudah mencapai daun telinganya, aku tidak berani protes saat melihat wajah bahagia milik Sulli. Sulli tersenyum padaku sementara tangannya masih terus merekam apa yang sedang terjadi di tengah lapangan.

Tiba-tiba aku merasakan tangan Sulli menarikku kebelakang, agak penasaran kuintip kenapa Sulli begitu, kulihat pria tadi menghampiri Sulli, kurasakan tangannya mendingin dan dari belakang aku tau Sulli pasti deg-degan. Sulli mengenggam aku semakin erat, aku seperti tidak bisa bernapas.

“Kau pasti Sulli …” tanya cowok tadi dengan nada yang bersahabat.

Dari belakang, kulihat Sulli mengangguk dengan amat sangat nervous. Aku ingin tau seberapa lebihnya cowok yang tanpa sengaja kudengar namanya Lee Taemin. Kuintip lagi sekilas cowok itu, dari dekat aku melihat dia amat manis, bahkan aku meragukan kalau dia laki-laki (Taemin : maksod ??!! | author : *muka polos*) , nyatanya semua terjawab lewat otot tangannya yang besar.

“Kalau tidak salah, rumahmu hanya beda 1 blok dengan ku kan.. bagaimana kalau hari ini kita pulang bersama ?” tanya Taemin sembari menyeka wajahnya dengan handuk berwarna kuning muda. Entah kenapa warna itu sama dengan kepribadian Sulli yang ceria dan selalu bersinar dimanapun ia berada, bahkan diantara lingkungan keluarganya.

“Kalau begitu aku mandi dulu, dan ambil barang di loker, kamu tunggu saja disini…”

“Ne.. Taemin-ssi..” ucap Sulli gugup. Dari sela-sela punggung Sulli, aku melihat Taemin melangkah menjauh dari kami.

Dengan cepat Sulli menarikku dari belakangnya, entah air mata atau keringat tapi yang pasti mata Sulli berair. Sulli memamerkan hampir 24 giginya beserta gusinya dihadapanku. Dipeluknya aku dengan erat, sembari diputar-putarnya badanku. Aku pusing sejenak, namun kulihat wajah bahagia Sulli, akupun turut bahagia.

Perjalanan pulang kali ini berbeda dari biasanya. Kulihat langkah kaki Sulli dan Taemin dan bayangannya yang berjalan bersisian. Kulirik sejenak Taemin, tepat saat ia tersenyum, entah dari keturunan mana orang ini sampai-sampai aku pun bisa falling dengan senyumnya yang menawan. Aku terkesan seperti nyamuk dibandingkan sahabat Sulli, bahkan aku bisa mendengar jelas obrolan renyah mereka.

“Aku tidak suka gymnastics, aku lebih suka ballet dan hip-hop. Jadi aku tidak mengikuti jejak papa dan oppa ku..” jelas Sulli saat Taemin bertanya kenapa ia tidak menekuni bidang gymnastics. Aku bahkan baru mendengar pengakuan Sulli sekarang.

Perjalanan terasa begitu singkat, tak terasa kami telah sampai didepan rumah Sulli. Sulli melambaikan tangannya pada Taemin yang sudah berjalan berbelok menuju blok rumahnya. Aku dan Sulli masuk kedalam rumah, kulihat Minho oppa sedang menyuci mobil sportnya. Dilihatnya aku dan Sulli pulang.

“Sulli, Adele wasseo ..?” ucap Minho sembari mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Minho oppa sudah menganggap ku sebagai dongsaengnya karena aku amat sangat dekat dengan Sulli. Sulli mengecup pipi Minho oppa sekilas lalu membawaku ke atas, ke kamarnya. Kamarku juga.

“Adele…bwasseo…Taemin oppa jinjja meossitda…keuji ?? Eotteohke.. kau dengar tidak kalau besok ia ingin pulang dengan ku lagi..setelah 2 tahun, akhirnya Taemin benar-benar mendatangi ku. Adele, aku ga tau gimana harus kuberitahu Luna soal hal ini..”cerocos Sulli panjang lebar. Ingin sekali kupeluk Sulli untuk yang kesekian kalinya.

Kali ini aku dan Sulli keluar dari kelas, dan mendapati Taemin sudah menunggu didepan pintu kelas kami. Aku kaget, namun dari pegangan tangannya aku tau Sulli amat sangat bahagia. Luna mengecup ku sesaat lalu mengucapkan annyeong, pada ku, Sulli dan juga Taemin. Luna sudah memiliki pacar dari universitas, kalau tidak salah masih bersahabat dengan Minho oppa, namanya Lee Jinki, namun lebih sering dipanggil Onew.

Taemin membawa kami ke sebuah café yang menjual Pat Bing Soo. Sulli sangat suka sekali dengan Pat Bing Soo, namun Taemin memesan satu untuk berdua. Aku tidak bisa makan pat bing soo. Sembari makan sesekali Taemin melirik kearahku sembari tersenyum bahkan terkadang mengusap ujung kepalaku dengan lembut.

“Kau suka pat bing soo, Taemin oppa ?”

“Hm.. jogeum..karena ada satu gadis yang sangat menyukai pat bing soo jadi aku rasa aku harus menyukai pat bing soo…” Aku tersentak. Kulirik Sulli yang menunjukkan pandangan kecewa. Ataukah yang Taemin maksud adalah Sulli ? Dari senyumnya aku bisa melihat Taemin sepertinya ada hati dengan Sulli. Namun, sepertinya Sulli tidak peka dengan hal itu.

Setelah hampir 2 jam kami ada di café itu, kami memutuskan untuk pulang. Langkah kaki Sulli berbeda dari biasanya, aku bisa merasakan ada perasaan sedih di hatinya. Aku ingin segera memberi tahunya kalau Taemin ada hati padanya. Aku lebih peka dengan perasaan lawan jenis yang menyukai Sulli. Namun, Sulli kadang suka tidak percaya padaku.

Sesampainya di kamar, Sulli menatapku dengan raut muka sedih. Aku duduk di pinggir ranjang menatap Sulli yang tidur-tiduran di kasur, menatap langit-langit sembari membuat selca dengan muka ngantuk dan sedihnya. Kulihat kearah luar, perasaan aneh menggerayap dihatiku. Entah apa itu, tapi ada sesuatu yang tidak bisa aku katakan dengan kata-kata.

Taemin tidak masuk sekolah, belom ada kabar apa-apa. Sejak pagi Sulli berusaha menghubunginya namun ponsel Taemin sepertinya dimatikan. Mungkinkah Taemin benar-benar mempermainkan Sulli ataukah Taemin memang sedang sakit ? Hanya ada dua kemungkinan, pikirku dalam hati.

“Jadi kau sama sekali tidak bertemu dengannya hari ini ??” tanya Luna saat mereka masuk pelajaran pola di kelas. Sonsaengnim tidak masuk, jadi ia hanya memberikan tugas mandiri yang harus dikumpulkan saat jam pelajaran pola berakhir. Sulli menggeleng.

“Sudah kerumahnya ?” tanya Luna. Aku pun ikut sedih. Sulli menatapku sembari menyentuh ujung kepalaku lembut. Air mata mengalir di pipinya. Entah kenapa perasaan aneh kemaren kembali menggerayap dihatiku.

“Mungkin nanti aku kerumahnya…”ucap Sulli perlahan. “Adele.. temani aku ya.”sambung Sulli. Aku tersenyum pahit, namun aku takut mengekspresikannya pada Sulli.

Aku dan Sulli kini berdiri di lapangan dekat semak-semak tak jauh dari kediaman Taemin. Gerbang rumah Taemin terbuka lebar. Tamu dengan baju hitam-hitam keluar masuk hilir mudik dari rumahnya, namun sama sekali tidak ada sosok Taemin. Kulihat orang-orang yang keluar masuk memasang raut muka sedih, dan juga berduka. Siapa yang meninggal?

Baru akan menerka-nerka, Sulli membenamku cepat, kini kami berdua tiarap diantara semak-semak dekat lapangan. Langit mendung dan mulai menurunkan hujan rintik-rintik. Dari sela-sela semak, aku bisa melihat beberapa tamu pengunjung mulai membuka dan mengeluarkan payungnya. Namun, mata Sulli berpusat pada satu titik. Taemin keluar dari rumahnya dan berjalan kearah lapangan.

Ia duduk dibawah salah satu pohon tak jauh dari tempat kami bersembunyi. Sulli membekap ku supaya aku tidak terlihat, sementara kurasakan Sulli bernapas dengan amat sangat hati-hati. Taemin benar-benar amat sangat sedih dan terpuruk, tangannya memegang sesuatu yang terpasang pada lehernya. Tangannya mengenggam kuat dan dengan sekali sentak, kalung yang terpasang manis itu putus.

“AAAARRGGHH..” seru Taemin dengan raungan serta tangisannya. Dengan segala tenaga kulihat Taemin membuang kalung itu. Dan jatuh tepat didepan ku dan Sulli. Aku dan Sulli saling berpandangan. Hujan turun semakin deras, Sulli terlihat basah kuyup sementara aku sudah amat sangat kuyup. Sulli meraih kalung tersebut, aku dan Sulli mengenal cincin yang ada pada kalung tersebut. Aku menatap Sulli, aku mantap dengan asumsi ku semalam.

Sulli menatapku nanar, perlahan aku dipeluknya, dan dengan mantap Sulli berusaha bangkit dari tempat kami bersembunyi.

Sulli bangkit dari tempatnya bersembunyi, digenggamnya kalung pada tangannya. Taemin masih duduk ditempat yang sama sembari menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Sekujur tubuhnya basah kuyup, bahkan Sulli bisa melihat dengan jelas, otot perut yang terjiplak jelas dibalik kemeja Taemin yang tipis.

“Sulli…?” sahut Taemin saat Sulli menyentuh bahu Taemin perlahan.

“Joisonghaeyo.. uljima.. eomonim sudah tenang dialam sana.. semakin kamu menangis, eomonim juga akan sedih..”ucap Sulli.

Taemin bangkit, dengan sekali tarik Sulli masuk kedalam pelukannya. Sulli membalas pelukan Taemin. Taemin memperketat pelukannya dan menangis sesenggukan di pundak Sulli. Tepukan hangat Sulli pada punggung Taemin, membuat Taemin semakin sedih, perlaha Taemin melonggarkan pelukannya dan menatap Sulli dalam-dalam.

“Sulli…aku mungkin akan pindah .. itu sudah jadi keputusanku dan appa kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada eomonim.. tapi aku tidak bisa jauh dari kamu Sulli..”sahut Taemin sembari memegang erat kedua bahu Sulli. Sulli hanya bisa bengong menatap Taemin.

“Taemin-a..”

“Aku … aku ga tau harus cerita ini ke siapa.. aku suka sama kamu dari awal kita masuk.. tapi aku begitu stupid dan tidak menyangka kalau aku akan berpisah jauh dengan mu dalam waktu yang cepat seperti ini..”sahut Taemin. Air hujan menetes dari mulut dan juga rambutnya.

“Memang kemana kamu akan pergi ?” tanya Sulli dengan air mata yang mengalir bersama dengan air hujan yang sudah membasahi mereka berdua.

“Eropa..”ucap Taemin singkat. Sulli hanya terdiam sembari menunduk menatap tanah yang mencoklat karena berpadu dengan tanah liat dari semak-semak. Perlahan Sulli mengangkat sebelah tangannya yang sedari tadi membawa pot bunga berisi dandelion.

“Kita memang bakalan terpisah, geunde Taemin-a uljima.. kau bisa bawa dia..dia adalah sahabatku dari aku masuk SMA, aku harap suatu saat ketika kita bertemu kembali, ada atau tidaknya dia tapi kamu akan selalu ingat akan aku.. aku selalu cerita padanya.” Ucap Sulli sembari menyerahkan pot itu pada Taemin.

“Sulli-ya…gomawo..”sahut Taeminn dengan nada bingung.

“Namanya Adele.. aku harap kita bertiga bisa bertemu kembali.. aku harap kamu bisa cerita semuanya pada Adele dan Adele bisa cerita semuanya padamu.. tentang aku dan perasaanku..”ucap Sulli. Taemin mendekatkan wajahnya pada Sulli, perlahan dan penuh cinta Taemin mengecup dahi Sulli perlahan.

“Of course we’ll meet again.. aku dan Adele tentu akan kembali padamu. Dan janji padaku, kalau suatu saat nanti kau mendapat suatu kesempatan ke Eropa, kau pasti akan kesana..” Sulli mengangguk. Pelukan Taemin mengerat.

Aku menikmati sisa hidupku di Eropa. Sulli benar-benar menepati janjinya,setelah dua tahun ia berusaha keras dan aku mendengar kabar dari Taemin kalauu Sulli mendapat kan beasiswa ke Eropa, namun, aku sama sekali tidak sempat melihat sahabatku datang ke Eropa, yang kulihat hanyalah wajah Sulli saat ia mengantarkan tubuhku ke tempat peristirahatan terakhirku.

Aku berhasil menyatukan dua hati, dua hati yang awalnya amat susah kuraih dan kini mereka berdua berjongkok didepan sebuah gundukan kecil berisi tubuhku yang sudah tak lagi kuat menyaksikan kisah cinta mereka. Yang pasti aku masih sempat melihat acara pertunangan Sulli dan Taemin 3 bulan sebelum Sulli mendapatkan beasiswanya di Eropa.

Dari langit yang keunguan, kulihat dua tangan itu bertautan. Aku berhasil menjadi sahabat, aku berhasil menjalani panggilan ku sebagai dandelion, yang tidak pernah pudar dan selalu mereka ingat bahkan sampai mereka setia menemaniku sampai peristirahatan terakhirku.

Gomapta chingudeul… Sulli wa Taemin.. aku harap kalian hidup bahagia, aku berdoa untukmu. Biar aku di surga dan memandang mu dari langit, serta menghiasi kediamanmu di surga ini dengan kaumku.

-FINISH-

8 thoughts on “[Freelance Oneshot] Adele

  1. Ooh,,,,,,
    enak banget jadi adele,,,,
    di sayangii banyak oraang,,,,,
    apalaghii bisa disayang taemin oppa,,,

    aQ mauu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,*teriak gaje*

  2. Kirain adele itu orang berjenis kelamin cewek (?) Tapi pas ada kalimat “luna mengecup ujung kepalaku” agak bingung. Ini sebenernya cewek atau cowok. Mpos aja deh (?) Trus semakin yakin kalo adele manusia pas ditanya taem dia jawab. Ajaib gitu (?)

    Btw, itu adele mati krn apa ya?
    Nice ff ya. Keep writing
    Oh iya, ending nya susah ketebak gara-gara si Adele itu (?)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s