[Freelance Chapter] Turn Back Time – Chapter 1

Title: Turn Back Time
Length: Chapter
Rating: PG-15
Genre: AU, Romance,Tragedy(dikit),Comedy(dikit), Drama.
Author: Nadine Shafira
Cast
G-Dragon as Kwon Jiyong

Sandara Park as Sandara
Hero Jaejoong as Kim Jaejoong
Ahn Sohee as Peri Waktu._.
Support Cast: silakan cari sendiri hehehe *plaaak
Note:  Author masih pemula, jadi kalau ceritanya masih jelek tolong di maklumi aja..
Silent readers? Go home!

—-

Hari ini semua orang sedang bersedih.. bagaimana tidak? Orang yang mereka amat sayangi itu kini telah tiada, sebuah kecelakaan tragis telah merenggutnya. Semua orang tak bisa menahan air yang telah menumpuk di pelupuk mata mereka, begitu pun dengan diriku. Aku bisa mendengar suara histeris dari berbagai arah yang terus memanggil namanya. Aku pun hanya terdiam dan merasakan dinginnya air hujan yang membasahi seluruh tubuhku dan menutupi air mata kesedihanku, ia adalah orang yang amat ku sayangi di dunia ini.. tak ada orang yang seperti dirinya di dunia ini.. setelah di makamkan orang satu persatu mulai menaruh bunga di sekitar makamnya dan bahkan ada yang masih histeris sambil memeluk batu nisannya yang membuat suasana semakin pedih.. lalu Seven hyung pun menyentuh pundakku dan memajukan dagunya menyuruhku untuk menyampaikan salam terakhir ku untuknya, aku hanya bisa meraba nisannya lembut dan air mataku pun tumpah lebih deras lagi…lalu Seunghyun hyung berdiri di belakang nisannya memulai berpidato.

“Sandara park.. seorang wanita yang luar biasa yang dapat membuat kita semua berbahagia dan merasa tenang di kala masalah menerjang.” Kata Seunghyun hyung dengan suara parau menahan tangis.

“ Kemanisannya dan juga selera humor yang amat baik membuat kita semua tersenyum membuat lupa akan segala masalah.. tingkahnya yang lucu, rupanya yang cantik bagaikan kupu-kupu menari mengelilingi bunga-bunga.. lalu..” katanya terhenti karena ia mulai menangis.

“lalu.. ia pergi begitu saja meninggalkan luka dalam bagi kami orang yang amat menyayanginya.. Dara.. terlalu cepat dirimu meninggalkan kami, kami sama sekali tak bisa berbahagia saat wisuda nanti tanpa dirimu.. tarian kepitingmu yang selalu kami tunggu kini sudah punah.. tidur lah dengan tenang.. kami selalu mendoakanmu..” katanya mengakhiri pidatonya. lalu ia menghapus air matanya kembali dan Seven hyung pun mencoba menenangkannya. Aku pun kembali meraba nisan Dara dan aku terus bergumam.. “Dara.. maafkan aku.. jika bukan karena diriku.. pasti kamu tidak akan..” lalu tiba-tiba tubuhku terangkat oleh dan begitu kulihat, Jaejoong mengangkat ku dengan penuh amarah dan luka hati dan sejujurnya aku sama sekali tidak terkejut.

“YA! KWON JI YONG!” Serunya dengan suara parau tapi penuh amarah.

“APA KAU PUAS SEKARANG?! HEH?! KAU PUAS?!”

“Jaejoong-oppa, sudahlah.. kita juga kehilangan.. tidak hanya kamu saja.” kata Minzy mencoba melerainya.

“KAU MENGGANGGU SAJA!” lalu ia melempar Minzy hingga terjatuh meringgis kesakitan. “ini semua gara-gara kamu Ji Yong! INI SEMUA KARENA KAMU!”

Aku hanya terdiam mendengar teriakan dan melihat tingkah Jaejoong. Tubuhku sudah sangat tak bertenaga untuk bergerak, pita suaraku seakan tertekan sehingga aku sulit mengeluarkan suaraku. lalu ia pun mengahantamkan tinjunya ke arah wajah ku, rasanya memang sakit tapi ini tak sepadang dengan rasa sakit hatinya.. dan begitu pula hatiku… orang-orang di sekelilingku mencoba menolongku tapi aku memberi mereka isyarat untuk tidak mendekat ke arahku dam membiarkan Jaejoong terus memukul ku sampai rasa kecewanya sedikit berkurang.. aku sama sekali tak merasakan sakit di wajah, perut atau dada ku yang terkena pukulan Jaejoong.. pikiran ku sama sekali kosong, tak bisa berpikir apapun lagi..akhirnya yang kurasakan adalah dingin di punggungku yang menandakan bahwa aku tersembab di tanah..

“ya..” kata ku perlahan.

“Justru karena kau lah yang menyebabkan ini terjadi!” lalu aku bangun dan meninju wajahnya.

“Jadi kau menyalahkan ku heh?!” lalu ia kembali memukul perutku dan membuatku kembali terjatuh ke tanah.

“Cukup! Hentikan Jaejoong!” Teriak seseorang.. dari suaranya.. ini sepertinya Wooyoung.

“Aku pun Menyukai Dara.. aku pun juga kecewa.. tapi ini sudah takdirnya.. kita harus menerimanya! Walau bukan oleh Ji Yong maupun dirimu… semua juga pasti akan begini!”

“Tapi tetap saja..”

“Cukup! Kita Pulang sekarang!” katanya menarik Jaejoong pulang.

“Maaf atas segala keributan ini.. kami akan segera pulang..” katanya lalu lama kelamaan suara langkah kakinya menghilang.

“Hyung, kau tidak apa-apa? Kurang ajar sekali dia.. mentang-mentang sedang sakit hati dia melukai dirimu dan juga Minzy seenak jidatnya.. ayo.. bangun hyung.. kita obati lukamu di mobil.” kata Daesung pada ku.

Aku pun mencoba bangun tubuhku di papah oleh Daesung ke dalam mobil Van. Gummy Noona pun membantu mengobatiku luka-lukaku. Saat di beri antiseptic barulah aku mulai merasakan sakit di tubuhku, aku pun meringgis pelan karena suaraku tertahan.

“Ji Yong-ah.. kami tak pernah menyalahkan mu akan kecelakaan itu..” kata Gummy noona masih mengobati ku.

“Saat itu.. Supir Bus itu memang sedang mabuk dan ia melanggar lampu merah… dan saat Dara noona menyebrang..” kata Youngbae juga mencoba menenangkan ku.

“Kau tidak usah menceritakan hal yang sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri Youngbae… hal itu sudah cukup menyakitkan.. dan Noona.. kau tidak usah membelaku.. memang semua ini karena salah ku.. dan kalian semua berhak membenci ku.. karena aku telah membuat seseorang amat disayangi..  tertidur dalam keadaan hati yang kelam.. dan mengenaskan.”

Lalu semua orang diam membisu.. di mobil tidak ada yang berbicara… bahkan radio pun yang seharusnya menjadi hiburan malah sama sekali tak membantu mencairkan suasana.

Aku hanya menatap langit-langit mobil dan terus membisu, mungkin orang kira aku tertidur tapi sebenarnya aku masih terbangun.. dan aku hari kecelakaan itu terus menghantui pikiranku.. dan juga kenangan-kenangan ku bersama Dara..

Beberapa Bulan yang lalu…

Seperti biasa, pagi ini aku berangkat menuju kuliah seni.. aku belajar berbagai seni di sana.. dan seperti biasa pula, sebelum aku memasuki gedung kuliah aku sangat ingin bertemu dengan orang yang paling cantik yang pernah kulihat dalam hidupku.. yap, orang itu adalah Sandara Park alias Dara.. aku benar-benar jatuh pada Dara saat pertama kali melihatnya di studio menari, ia sangat memukau di situ dan yang pastinya membuatku berdebar-debar saat melihatnya.. untuk beberapa saat ini kami memang baru berteman saja.. dan niatnya saat aku ingin bertemu dengannya aku ingin mengungkapkan perasaan ku.. dan jreeng.. tepat di sebelah pintu masuk, aku melihatnya sedang duduk rapi di tangga dan aku pun langsung menghampirinya dengan semangat.

“Annyeong Dara.. menunggu sesuatu?” tanyaku

“ Oh.. Jiyong-ah.. annyeong.. tidak.. aku hanya merasa enggan untuk masuk ke gedung kuliah, kamu sendiri?” tanya balik.

“aku menunggumu..” nadaku sok gombal.

“hiih dasar.. kalau gombal jangan dengan ku ya.. kau itu kan playboy.. kalau perlu bukti.. banyak sekali hati yeoja-yeoja di kuliah ini yang kamu hancurkan.”

“itu sih salah mereka sendiri kenapa mau dengan ku, sudah tau aku tidak menyukai mereka tapi mereka tetap memaksaku.. lagi pula aku sudah punya incaran”

“benarkah..? memangnya kamu sudah punya incaran?”

“Sudah dong~”

“hm.. siapa ya kira-kira, aku jadi ingin tahu..” katanya bernada agak kesal. Apa mungkin dia cemburu ya? asiik.. kesempatan nih kesempatan!

“Bener nih, pingin tau..?” goda ku.

“ kalau kau memang tidak mau memberi tahu lebih baik tidak usah.. “ katanya dan nadanya benar-benar kesal.

Ia pun memutar badan dan melengos ke arah taman seolah ia memilih melihat taman ketimbang melihat diriku, aku pun memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyatakan perasaan ku pada Dara.. biasanya sih yang di film-film romantis tuh namja bawa gitar terus nyanyi lagu romatis dan nanti terakhirnya dia nembak dan diterima… tapi aku kan tidak membawa gitar, jadi gimana ceritanya? Lalu menembaknya dengan bunga mawar merah sambil mengungkapkan cinta, hm.. di sekeliling sini adanya bunga melati dan kamboja… ceritanya gimana lagi hayo? Dan sebuah lampu bohlam di otakku yang sudah lama padam karena sudah lama tidak bayar iuran lisrtik(?) kini menyala dengan terangnya, aku mendapat suatu ide dan semoga saja bekerja dengan baik..

“Dara-ya..” panggilku. Lalu ia menengok ke arahku.

“ya? apa?” katanya masih memasang muka kesal.

Lalu aku membangunkan sedikit badan ku dan aku mengecup pipinya yang amat lembut itu ia pun terkejut dan wajahnya pun mulai merona. Ia masih tetap membatu.. batu udang rebus..

“Kamu lah incaran ku.. aku selalu memikirkan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku padamu.. Would you be my girl, Park Sandara?” kataku memegang tangannya dan aku mengecup tangannya seolah-olah dialah putri bagiku. Dan begitu aku melihat wajah meronanya ia pun mengangguk pelan karena malu..

“Baiklah.. I’m yours now..”jawabnya.

Aku pun bahagia sekali kalau bisa aku mungkin sudah memutari lapangan 100 kali sambil bersalto ria. Aku pun mengangkat tubuh Dara yang amat ringan itu dan berputar bahagia , lalu aku menurunkannya dan memeluknya, ia pun membalas pelukan ku.. benar-benar hari terbaik dalam hidup ku.. kini Dara sudah menjadi milikku… para Saingan? Bye-bye~

Pelukannya begitu hangat, harum rambutnya bagaikan bunga , aku bisa merasakan panas mukanya karena malu barusan di dadaku, sepertinya ini juga sekaligus ia menyembunyikan wajah malunya di dadaku.. benar-benar manis.. aku bersyukur aku jatuh padanya…

“Jiyong-ah..”

“hm?”

“Saranghae..”

“Nado..”

Dan tanpa sadar semua orang yang ada di Kampus melihat kita bermesra-mesraan di depan pintu masuk, aku baru menyadari saat suasana begitu hening dan ada suara camera handphone. Dan sebuah teriakan gemuruh pun menghujani kami..

“CIEEEEEEEEEEEEEEE SUIT SUIIIIT!”

Kami pun langsung kabur ke kelas masing-masing dan.. hal ini adalah hal yang paling membahagiaan dan paling memalukan dalam hidup ku.

———————————

Author POV

“Jiyong-ah.. ya jiyong ah… kita sudah di rumah.. jangan tidur terus.” Kata Seunghyun hyung membangunkan Jiyong dari tidurnya.

“ oh hyung…”

“ayo bangun.. kalau mau tidur nanti lagi saja di kamar..”

Lalu Jiyong bangun dan tidak langsung berjalan ke arah kamar.. melainkan berjalan terus ke jalan raya. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan Seungri yang terus memanggilnya. Semakin keras Seungri memanggilnya, semakin cepat pula ia mempercepat langkahnya.. Daesung pun mencoba menghalanginya tapi ia tetap bisa melewatinya. Ia tetap bergumam menyalahkan dirinya sambil terus menatap awan kelam dan rintik gerimis yang menambah kedinginan hatinya. Orang-orang yang melihatnya pun merasa bahwa Jiyong sedang mabuk karena ia berjalan oleng dan menabrak orang beberapa kali. dan ia tak sengaja menabrak seorang wanita dan wanita itu merasa tersinggung dan seketika ia pun memukulnya, tapi ia tak menunjukkan reaksi apapun, ia malah terus berjalan dan tetap berjalan tak tahu arah. Teman-temannya pun terus mengikuti Jiyong tapi entah kenapa Jiyong saat itu berjalan lebih cepat di banding mereka, lama kelamaan ia berjalan ke jalan raya yang ramai dan jiyong masih berjalan sambil menatap langit dengan sinar mata yang mati dan kaki yang amat lemah yang bahkan tidak bisa menopang tubuhnya kembali. Dari arah yang berlawanan , suara kencang klakson dan sinar lampu yang menyilaukan menyingkirkan penglihata Jiyong dari langit dan berpaling melihat asal suara. Ia pun hanya terdiam membatu dan saat truk itu semakin dekat, kembalilah pikiran Jiyong terbawa kepada kenangannya yang paling menyedihkan kemarin …. Hari kematian Dara..

Sehari yang lalu..

Jiyong POV

Aku sudah jadian dengan Dara selama beberapa bulan terakhir ini, seperti dugaan ku dia seorang yeoja yang amat menarik, cantik, lucu pula.. selain itu dia juga humoris dan peduli dengan lingkungan sekitarnya, dan aku juga berhasil membuat teman-teman di kelas ku iri karena mereka juga mengincar Dara, Saingan terberat ku adalah Jaejoong. Rasanya bangga sekali jika memamerkan kemesraan kami di depan Jaejoong walau pun aku mengerti apa itu resikonya tapi kalau kita hanya sekedar memamerkan tapi tidak menjadi sombong itu tidak salah kan? Jangan sampai saja sudah tak punya apa-apa tapi malah memamerkan apa yang ia tak punya. Saat memasuki kelas aku tak sengaja berpapasan dengannya.

“Hei, Ji Yong..”

“oh ya, hai  Jae..”

“Bagaimana kau dengan Dara? Sebentar lagi ia ulang tahun kan?” tanyanya bertubi.

“iya.. tepat sekali”

“aku sudah menyediakan hadiah untuknya, kau? Pasti belum” ejeknya.

“terserah kau saja deh.. yang jelas hadiah ku lebih baik dari hadiah mu”

“baiklah lihat saja nanti” katanya lalu mencari kursi yang jelas jauh dari tempat duduk ku. Seperti itulah kira-kira percakapanku dengan Jaejoong, ia memang anak orang kaya, ia juga pintar, tampang badai , suaranya juga sangat bagus.. tapi ia memang sangat kompetitif dalam suatu hal contohnya seperti keadaan ku sekarang.

Esok hari adalah hari ulang tahun Dara, aku berencana memasang sebuah kejutan untuknya untuk acara makan-makannya aku bisa memesan makanan dari restoran seven-hyung lalu aku meminta kepada seluruh teman-temanku untuk membantuku menyusun rencana kejutan ini. Kalau masalah hadiah.. aku sudah menyiapkan sebuah cincin yang di dalamnya bertulisan “Sandara” . ia pasti menyukai kado pemberianku ini…

Seusai Kuliah, seperti biasa aku akan menemui Dara di halaman belakang kampus kalau ditanya untuk apa ya.. biasalah .. anak kecil gaboleh tahu(?) (*di gaplok*)

Biasanya sih Dara menungguku di sebuah bangku kecil sambil melihat sekelilingnya mencari ku apakah aku berada di sekitarnya apa tidak. Dan aku selalu mengejutkannya dengan menutup matanya atau mencium pipinya dari belakang.. tenang saja.. kami belum pernah ciuman kok, soalnya hal itu… ya kita bicarakan hal lain saja. Biasanya kami mengobrol bersama, bercanda, terkadang Dara membuatkan makan siang untuk dan rasa masakannya itu menurutku belum ada tandingannya, bahkan terkadang aku mengajari nya beberapa hal seperti rap misalnya.. kalau Dara sedang meng-rap ia pasti suka belibet-libet lidahnya dan saat itu lucu sekali aku bahkan bisa sampai ketawa terbahak-bahak. Aku terus berharap bahwa kita terus bisa seperti ini… rasanya membahagiakan sekali berada di sampingnya dan melihatnya tersenyum semanis itu.. aigoo.. aku selalu saja meleleh melihat senyumannya itu.

Dengan tak sabar aku berjalan ke halaman belakang kampus, dan mencari tempat langganan(?) kami biasanya duduk. saat sebentar lagi aku sampai di tempat aku tidak melihat Dara, biasanya ia yang sampai duluan. Mungkin ia sibuk atau ada apa makanya telat. Setelah ku tunggu selama 20 menit, Dara tak juga datang dan membuat ku bertanya-tanya karena kalau misalnya ia tidak bisa ia pasti bisa mengirimkan pesan padaku kan? Karena terlalu lama aku pun memutuskan jalan-jalan di sekitar halaman belakang, saat aku iseng berjalan di dekat tembok halaman belakang kampus, aku melihat Dara di sana saat akan memanggil namanya, aku sangat di kejutkan oleh sebuah pemandangan.. bagaikan petir di siang bolong, aku melihat Jaejoong dan Dara berpelukan dan Jaejoong mencium Dara tepat di bibirnya. Lelaki mana yang tidak marah yang tidak marah melihat kekasihnya itu diperlakukan seenak jidatnya saja. Aku pun berlari ke arah mereka dan aku pun memukul Jaejoong.

“Apa yang kau lakukan?! Untuk apa kau melakukan itu?!” Teriakku.

Ia pun hanya diam, dan mengahapus darah yang keluar dari mulutnya. Lalu aku merasakan Dara memegang tanganku.

“Jiyong-ah! Ini.. katanya lirih.

“Apa?” kataku mulai berbalik badan ku.

“ada yang mau kau jelaskan?” marah ku.

“itu..” katanya bingung.

“itu apa?! Bicara yang jelas! Kau barus aja membuat ku khawatir dan menunggu lama dan selama ini ke khawatiran ku sia-sia saja! Kau malah sedang Bercumbu dengannya, Kim Jaejoong teman sekelas ku. Bahkan kau saja belum pernah bercumbu dengan ku dan malah melakukan hal itu dengan orang lain!”

Lalu aku melihat Dara mulai minitikkan butiran-butiran air yang sejak tadi sudah menumpuk di pelupuk matanya. Tapi aku tak peduli, aku sudah sangat kecewa padanya.

“Ji.. Jiyong ini bukan salahnya..” kata Jaejoong membuka suara.

“Kau diam saja!” kataku penuh amarah padanya.

“Sejak dulu kukira kau adalah wanita baik-baik dan tidak semudah itu melakukannya dengan orang lain.. tapi ternyata kau sama saja seperti wanita murahan yang ada di tengah jalan menawarkan harga diri demi uang! Ini bukan Sandara yang ku cintai… kau bukan Sandara..!”

“Ji..yong..kamu..” katanya terisak, air matanya kini keluar lebih deras.

“Apa? Kau kira air mata buaya mu itu akan membuatku..”

“Kamu jahat sekali.. aku tidak seperti itu! “ katanya menatapku tajam dan air matanya itu pun masih mengalir.

“lebih jahat mana? Aku baru saja melihat secara langsung seorang wanita yang paling ku cintai baru saja tertangkap basah sedang bemesraan dengan orang lain!”

“bukan seperti itu.. ini..”

“sudah lah.. lelah kalau seperti ini terus.. kau saja sudah tidak bisa berbicara, jadi kau mau bagaimana?”

“ini.. bukan..salah..nya..” katanya makin terisak.

“Oh bagus kini kau membelanya, mungkin ini sudah menjadi jawaban bagiku, sana tolonglah Jaejoong pasti kau akan lebih senang dengannya..” akhirnya kataku yang membuatnya terperanjat.

“silakan lanjutkan ‘kegiatan’ mu itu dengannya.. pasti enakkan?, kenapa diam saja? Jangan cengeng! Sudah besar kok masih nangis? Dasar murahan! sindirku.

Lalu Dara berlari keluar area halaman belakang, dan begitu pun diriku yang sudah sakit hati karena di khianati oleh Dara. Aku tidak memperdulikan Jaejoong yang masih tersembab di tanah.

“Ya! Kwon Jiyong! Kamu sudah keterlaluan! Minta maaflah padanya!” Tegasnya.

Tapi aku tidak mengindahkannya dan berjalan menuju tempat barusan yang tadinya menjadi tempat pertemuanku dengan Dara. Kutendang kursi itu sampai terjatuh dan suaranya membuat orang-orang di sekitarku kaget tapi aku tidak peduli. Pikiranku sedang sangat kacau sekarang..

Tak lama kemudian aku pun memutuskan untuk pulang, aku membereskan barang-barang ku lalu aku segera berjalan pulang. Hatiku kini dingin dan bayangan Jaejoong yang sedang mencium Dara masih ada dan terlihat jelas di kepalaku, aku begitu kesal dan kecewa.. aku baru saja mengharapkan sesuatu yang baik hari ini.. saat di tengah jalan aku tak sengaja melihat sepasang kekasih yang sedang bermesraan, itu membuat ku teringat kepada Dara, aku masih kesal dan kecewa dengan sikapnya tadi.. tapi setelah ku pikir, sepertinya benar juga apa kata Jaejoong, aku sudah keterlaluan kepadanya, bahkan sampai minta mengakhiri hubungan segala.. mungkin ada baiknya aku segera mencari Dara dan memberinya kesempatan kedua. Aku harus meminta maaf padanya dan memperbaiki semua ini. Aku pun berlari ke jalan raya yang biasanya di lewati olehnya, dan di saat yang pas aku menemukan Dara yang hendak menyebrang.. suasana di jalan raya sepi dan kendaraan tidak terlalu aktif, dan orang yang melewati jalan ini sangat sedikit. Rawan memang tapi  jalan ini biasanya aman.

Aku pun berlari mengejar Dara yang akan menyebrang, aku benar-benar ingin meminta meminta maaf padanya akibat perkataan ku aku telah membuatnya menangis dan bahkan aku mencemohnya dengan sebutan “wanita murahan” itu pasti sangat melukai hatinya yang amat rapuh itu. aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk mengejarnya, aku pun berharap agar lampu hijau itu tetap menyala agar aku bisa meraih pundaknya dan meminta maaf padanya.sedikit lagi aku meraih pundaknya, lampu merah pun menyala terang dan ia pun berjalan perlahan sambil terus menatap ke langit yang berawan abu seperti memikirkan sesuatu, aku pun masih terus berlari heran, ia terlalu meninggikan kepalanya dan ia tak melihat situasi jalanan yang rawan ini. Tiba-tiba sebuah bus melaju dengan kecepatan tinggi dan siap menghantam Dara sesaat lagi, aku pun memanggilnya agar menghindar dari jalan itu.

“Dara!! Awas!” teriakku berlari lebih kencang.

Lalu ia pun memutar balik tubuhnya yang mungil itu dan menatap ku dengan mata yang masih di pebuhi butiran air yang tak kunjung mengering sejak aku berbicara padanya.

“Ji..” aku pun melihat mulutnya bergerak mencoba memanggil namaku.

Beberapa langkah lagi aku bisa menyelamatkan Dara, tepat di depan mataku bus itu menghantam dan menghempaskan tubuhnya yang mungil itu bermeter-meter jauhnya, dan ia pun tergeletak berlumuran darah, tak sadarkan diri, aspal jalanan pun ikut bersimbah akan darahnya. Badanku seakan membeku melihat apa yang barusan terjadi, aku pun berlari kembali ke tempat Dara terhempas dan memangku tubuhnya yang mulai dingin…

“Dara-ya.. bertahanlah.. Dara-ya..”Kataku memanggil Dara, tubuhnya begitu lemas dan darahnya terus mengalir..aku pun menepok-nepok pipinya suapaya ia tersadar.. tapi ia tetap menutup kelopak matanya itu.

“Seseorang!! Tolong kemari! Kumohon!” Teriakku dengan nada yang bergetar. Tapi tak ada yang mendengar mereka semua hanya terfokus mengejar supir bus itu, tak ada jalan lain. Aku pun mengangkat tubuhnya dan aku pun berlari ke rumah sakit terdekat, tubuhku sudah tak kuat lagi untuk berlari tapi aku memaksakan diri ku untuk berlari agar Dara selamat.. aku belum meminta maaf padanya.. aku belum mengatakan bahwa aku aku bahagia bersamanya.. aku tak akan membiarkan Dara mati begitu saja!

Tak lama kemudian aku pun menemukan sebuah rumah sakit dan segera mencari ruang UGD.

“Tolonglah siapapun yang ada di sini! Tolong! Ia Terluka parah, Kumohon!” teriakku yang membuat seisi ruangan bergema dengan suara ku.

Mereka pun membawa Dara ke ruang UGD dan aku pun hanya bisa berdoa dan merasa ketakutan.. dia… tepat dimataku.. aku begitu takut.. aku pun mencoba menghubungi yang lain supaya datang ke rumah sakit, mereka semua pun ikut panic dan menyuruhku untuk menunggu mereka, setelah mereka datang mereka hanya bisa memasang muka terkejut karena baju ku bermandikan darahnya, mereka pasti sudah bisa memastikan bahwa keadaan Dara kritis saat ini..ya tuhan kumohon.. selamatkan lah ia.. kumohon..

Beberapa jam kemudian sang dokter pun keluardan membuat lamunan semua orang buyar dan menantikan sebuah suara yang dapat melegakan hati mereka dari keresahan.

“Bagaimana keadaannya dok? Apa kah dia baik-baik saja?!” kata Bom penuh rasa takut.

“ia hanya luka ringan kan? Jawablah dok!” paksa Chaerin.

Dokter itu pun hanya mengela napasnya sambil meleps kacamata tuanya itu dan mulai membuka suaranya ia agak ragu mengatakannya tapi ia pun mencoba menggerakkan mulutnya.

“Maaf.. ia mengalami pendarahan yang hebat dan cedera kepalanya juga parah… kami mencoba sekuat kami, tapi ia tetap tak bisa di selamatkan…. Kami turut berduka cita..”

Aku tak percaya apa saja yang baru ia katakana pada semua orang yang ada disini., aku pun mendekati dokter itu dan mencengkram kuat kerahnya sehingga membuatnya sedikit terangkat.

“Apa katamu barusan? Asal kau tahu ya, ia itu orangnya kuat tau! Mana mungkin ia meninggal!”

“Jiyong-ah.. hentikan! Lepaskan dokter itu! ” kata Youngbae mencoba menenangkanku.

“Dokter ini bohong kan? Jangan bercanda!”

“Hyung lepaskan!” kata Daesung melepaskan cengkraman ku dari kerah dokter itu.

“Dengar hyung! Barusan juga kami melihat berita di televise tentang kasus tabrak lari, Dara terhempas keras sejauh 5 meter kan? Ini mungkin memang sudah kehendak yang maha kuasa. Kita harus menerimanya hyung.. tidak hanya kau saja yang sedih.. kami semua juga hyung.. ” jelas Daesung dengan suara yang goyah.

Aku pun hanya bisa terunduk bisu, di saat terakhir aku melihat Dara, aku melihat air matanya kesedihannya. Kesedihannya yang kubuat karena sifat egois ku yang melukai perasaannya. Aku pun memukul lantai keras dan berteriak keras, tanpa sadar pun aku mengalirkan air mata. aku tak pernah sekali pun berhenti menyalah kan diriku sendiri, kini semua orang berduka.. karena diriku.. karena diriku yang bodoh ini.. wajah Dara yang sedang menangis itu pun terus tergambar di pikiran ku, saat-saat terakhir yang mengenaskan itu.. andaikan saja aku tak terlalu emosi saat itu.. pasti sampai sekarang Dara masih hidup…

“Hyung!!” tiba-tiba ku dengar teriakan Seungri. Dan ia pun mendorong tubuh ku hingga terjatuh dan aku pun di caci maki oleh supir truk dan Seunghyun hyung pun menghampiri dan meminta maaf kepada supir truk tersebut.

“Hyung! Apa kau gila?! Kau mau cepat-cepat mati?! Kau mau menyusul Noona?!” Omel Seungri.

“Ya! kau ini kenapa sih? kau mau menambah penderitaan kami ya?!” teriak Seunghyun hyung sambil menjitak kepalaku.

“aku.. barusan..” kataku linglung.. aku sama sekali tidak merasakan apapun barusan. Kepala ku benar-benar kosong. Yang kuingat adalah kenanganku terflashback secara tiba-tiba.

“Hyung.. kami tau kau sangat menyayangi Noona tapi bukan begini caranya!” omel Daesung.

“Sudah lah yang penting Jiyong tidak apa-apa.. ayo kita pulang… kita semua pasti lelah kan?” kata Youngbae membantu ku bangun dan memapah tubuhku.

        “Gomawo Young bae, aku sudah tidak apa-apa.”

“Jangan pernah lakukan itu lagi! Kau tahu betapa berharganya dirimu bagi kami.” Kata Seunghyun hyunh mengacak-acak rambutku.

“Kalau kau mati memangnya ada yang mau mengurusi Gaho?” celetuk Seungri.

“Jika begitu aku akan mengentayangi mu sampai kau mati” tukas ku.

Lalu hening sebentar dan kami semua pun tertawa, entah apa yang lucu dari perkataan ku tadi tapi rasanya perut ini geli dan ingin tertawa.

“aduuh takut nih kakak..” kata Seungri bergaya manja.

“sepertinya kamu memang titisan yang cucok cucok itu deh..”kata Daesung.

“enak saja! Aku ini ngga cucok tau..”

Lalu sepanjang jalan pulang kami terus menggoda Seungri dengan gaya-gaya yang aneh dan menyerupai.. yang cucok-cucok lah.. yang jelas karena ini hati ku mulai sedikit terobati.

Author POV

Hari ini bisa dibilang cukup cerah, Jiyong mempersiapkan perlengkapan kuliahnya. Walau ia mulai terlihat ceria tapi dalam hatinya ia masih memendam rasa bersalahnya kepada Dara dan semua kerabatnya. Ia masih menyimpan beberapa foto Dara di dompet, di meja belajarnya dan di bawah bantalnya. Walau ia masih merasa sakit saat melihat Dara di lembaran-lembaran gambar itu ia masih mencoba tersenyum walau sesekali menitikkan air matanya, biasanya untuk menahan agar ia tidak menangis adalah ia melihat foto dara bersama Gaho, anjing kesayangannya.

“Lihat nih Gaho… Cantikkan?” katanya sambil memperlihatkan fotonya pada Gaho.

“Dia ini eomma mu.. waktu itu dia masih kikuk bertemu dengan mu karena ia takut kau mengigitnya..” reaksi Gaho adalah mengendusi foto Dara dan menjilatnya.

“tuh kan.. kau menyukainya kan? Jangan di jilati terus! Nanti bisa basah karena liurmu..aku pergi dulu ya Gaho” lalu katanya beranjak dari kasur tidurnya dan segera berlari menuju garasi.

“Hyung! Ayo cepat kita sudah telat nih..” teriak Seungri.

“Iya.. iyaa sabar sedikit..”

“okay.. let’s go go go!” kata Daesung Ceria menyemangati semua orang yang di dalam mobil .

“Seunghyun hyung… makannya pelan-pelan.. nanti tersedak gimana?” kata Youngbae mengingatkan.

“aku sudah lapar sekali nih.. mana tadi tidak sempat sarapan lagi..” katanya seunghyun.

“Kenapa hyung tidak makan di cafeteria saja?” saran Daesung menengok kebelakan sambil menyetir.

“Mungkin karena dia takut kalau-kalau nanti di bertemu dengan Bommie- noona.. ya kan?” goda Seungri yang membuat Seunghyun langsung tersedak dan batuk keras.

“Ya! kau tidak lihat aku sedang makan? Jangan bahas yang tidak-tidak!”

“iyaa iyaa maaf kan aku hyung tapi benar kan..?”

“Aish! Berisik kamu!” katanya sambil menjitak Seungri dan kembali makan.

Semuanya pun tertawa kecil melihat tingkah Seungri kalau sedang ngambek, benar-benar seperti anak kecil,terkadang keberadaannya di butuuhkan dan kadang juga ia tidak di butuhkan.. tapi lebih sering tidak di butuhkannya sih..

Sesampainya di kampus, mereka mulai berpencar karena memiliki urusan masing-masing. Aku selalu di temani oleh Youngbae saat mau ke kelas karena kelas kami tepat bersebelahan. Jadi ketika mereka ingin bertemu tidak sulit untuk mencarinya.

Mereka pun menapakan kaki mereka di tangga masuk kampus dengan tenang dan membuka pintu masuk dengan tengan pula, tapi ketika Jiyong berjalan menuju lokernya ia melihat lockernya sudah hancur dan di penuhi tulisan pilox kata-kata ancaman, ia sama sekali tidak bisa tenang dan Youngbae hanya bisa membelalakan matanya.

“Jiyong… ini…” katanya terbata.

Jiyong masih terdiam dan memperhatikan lockernya yang telah rusak itu, ia pun melihat tulisan di bagian bawah locker yang membuatnya resah “PEMBUNUH”  ia pun berdiri gemetar seakan-akan sebentar lagi tanah akan terbelah dua.

“Siapa yang tega melakukan ini?” tanya Taeyang meraba Locker jiyong yang rusak.

“aku…” tiba-tiba Minzy berjalan dengan dingin kea rah mereka berdua yang sedang membelalakan mata.

“minzy-ah..? wae yo..? kau tahu Jiyong seperti apa sekarang..kan?” tanya Youngbae.

“ itu semua karena ia merenggut nyawa Dara eonni karena masalah yang amat sepele! Andai kan saja dia.. andaikan saja si brengsek ini tidak melakukan hal itu pada eonni pasti sampai sekarang aku masih bisa memeluknya dan berbicara dengannya!”

Jiyong pun mendekati Minzy dan mencoba membuka suaranya..

“Apa kamu.. mendengar cerita itu dari Jaejoong?”

“Iya, Jaejoong Oppa yang memberi tahu pada ku bahwa kau telah memaki eonni sampai kau menghancurkan hati nya yang rapuh itu! tentu saja aku tidak terima!”

Jiyong hanya memasang wajah kosong dan merentangkan tangannya sedikit seakan ia sedang mengambil napasnya dalam-dalam.

“Pukulah aku.. pukulah aku sampai kamu merasa puas..”

“mwo?”

“ya.. pukulah aku.. aku telah merenggut orang paling berharga bagi mu kan?”

“Jiyong! Apa yang kamu lakukan?!”

“tenang saja, walau nanti rasanya sakit tapi tak sebanding dengan luka hati Minzy kan?”

“tapi…” sebelum Youngbae melanjukan kalimatnya Minzy sudah menghantap perut Jiyong dengan keras dan membuatnya meringgis kesakitan.

“Minzy-ah!!” Teriak Youngbae mencoba mengehentikan Minzy.

“Oppa! Lepaskan aku! Ini permintaannya tau! Janggan ganggu  aku!”

“Kau…!”

“Youngbae.. menyingkirlah.. ini tanggung jawabku… lanjutkan saja Minzy-ah” katanya mencoba keras untuk berdiri.

Youngbae sangat iba melihat keadaan saudaranya itu.. baru saja kemarin ia dihantam habis oleh Jaejoong dan sekarang ia kembali di hantam oleh Minzy.. ia tidak bisa melakukan apapun selain melihatnya tega tak tega, ia berkali-kali mendengar teriakan kesakitan Jiyong tapi di kala ia mau menolongnya Jiyong selalu member tanda agar tidak mendekat. Baku hantam pun terhenti sebentar, napas Minzy terengah-engah begitu pun dengan Jiyong yang sedari tadi tidak melawan perlakuan Minzy, mulutnya mengeluarkan darah dan memar pun terlihat di sekitar wajahnya dan tangannya begitu gemetar menahan rasa sakit.

“apa.. ini.. sudah..cukup?” tanya Jiyong kepada Minzy.

“Sudah! Cukup Jiyong kau bahkan tak bisa berdiri lagi!”

Minzy pun mengangkat tangannya tinggi mencoba kembali untuk memukulnya tapi saat di tengan kepalan tangannya terhenti di udara dan ia pun menahan tinjunya di udara.

“MInzy-ah?”

“Oppa.. Wae..wae yo..” tiba-tiba saja airmata keluar dari pelupuk mata Minzy yang sempit itu.

“Kenapa Oppa tega sekali?!” lalu ia melanjutkan tinjunya yang terakhir tepat di wajah Jiyong dan membuat Jiyong tersembab jatuh. Lalu setelah itu Minzy berlari keluar dan tak terlihat lagi. Youngbae pun mencoba membangunkan Jiyong yang badannya tak berdaya itu.

“Jiyong.. kamu memang bodoh..” katanya.

“Iya kah? Aku hanya ingin kesedihan orang-ornag atas kematian Dara menghilang jika salah satunya cara aku harus mengorbankan nyawaku maka aku harus bersedia karena pasti mereka terluka kan? Terutama Minzy.. ia sudah seperti adik bagi Dara dan begitu pula sebaliknya..”

“Sekali-sekali kau juga harus memikirkan kebahagiaan mu sendiri..”

“Sumber kebahagiaanku adalah orang-orang di sekitar ku yang selalu bahagia dan tersenyum Youngbae.. jika mereka kehilangan senyumnya, bagaimana aku bisa tersenyum?”

Tatapan Jiyong begitu kosong membuat Youngbae makin iba padanya, tapi dilain pihak ia juga terharu mendengar perkataan saudaranya itu. tapi tetap saja menurutnya ia melakukan hal bodoh barusan. Ia membantu Jiyong berdiri dan kembali memapahnya karena ia tidak bisa berdiri.

“Kau mau pulang? Aku bisa minta izin pada seonsaengnim nanti..”

“Tidak.. aku ada ujian hari ini.. aku tidak apa-apa kok”

“baiklah jika kau keras kepala… jangan salahkan aku kalau mereka mengejekmu dengan sebutan “telur ungu” nanti”

“Minzy tidak memukul mataku tau, justru ia terus memukul perut dan wajahku berulang-ulang”

“ya ya ya… terserah saja…”

Lalu Young bae mengantarkan Jiyong sampai ke depan kelasnya dan ia kembali ke kelasnya sendiri.

Jiyong melihat sekeliling kelas, semua mahasiswa/wi di kelas memandangnya dengan penuh tatapan seram, dan hampir mereka semua memakai pakaian hitam-hitam tanda berkabung. Maklum di semua mahasiswa/winya adalah penggemar Dara, saat Jiyong masih berpacaran dengan Dara ia pernah satu kali mendapat tatapan seperti ini, alasan mereka melakukan itu adalah karena dulu Jiyong adalah seorang playboy dan mereka sebagai penggemar Dara tentu saja tak mau idola mereka itu di sakiti. Mereka memandang Jiyong dengan mata yang amat dingin, tapi tatapan kali ini berkali-kali lebih dingin dari waktu itu dan membuat Jiyong semakin mengigil karenanya.

“kau… senang sekarang?” kata salah satu dari mereka mendekati meja Jiyong.

“maaf…?”

Lalu ia memukul keras meja Jiyong sampai dentuman suaranya terdengar seisi kelas menegangkan suasana.

“Pembunuh! Kembalikan Dara kami!” Teriaknya.

Jiyong merasakan ada seribu pisau yang sedang menyayat-nyayat dadanya, ini kesekian kalinya ia dipanggil pembunuh. Bibirnya bergetar kecil lidahnya kelu untuk berbicara wajahnya kini bertambah pucat.

“Kenapa kau? Jangan pura-pura menjadi orang bisu! Kita semua tahu dari mulut singamu itu kau membuatnya bunuh diri kan?”

Jiyong pun menatap orang yang ada di depannya itu tajam seakan-akan memberi tahu bahwa apa yang baru dikatakan padanya itu semua bohong dan itu sebuah kesalahan besar. Ia pun berusaha berdiri sekuat tenaga bertumpu di meja dan ia pun membungkuk sekali dan akhirnya ia bersujud dihadapan semua orang yang ada di kelas, mereka pun terkejut dan terdiam untuk sesaat.

“Maaf kan aku.. Silakan kalian memperlakukan ku sepuas kalian. Aku rela.. ini lebih baik dari pada kalian memendam terus rasa kesal,marah dan benci kalian itu pasti menyakitkan. Silakan..” katanya sambil bersujud dan duduk bersimpuh lalu kembali sujud di depan mereka.

Bahu Jiyong bergetar, dalam hatinya ia juga takut apabila mereka menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama sekali ia tidak mau lakukan ia pun memejamkan matanya keras. Selain karena rasa takut dan rasa malunya, ia juga masih bisa merasakan hantaman-hantaman Minzy barusan dan Jaejoong kemarin saat pemakaman Dara.

Semuanya pun saling berbisik, dan hanya bisa menyaksikan hal yang bisa menurunkan harga diri Jiyong itu. tak lama kemudian Seven pun datang dan sudah menduga hal apa yang terjadi pada Jiyong walau di awalnya ia juga terkejut. Ia mendekati Jiyong perlahan lalu menyentuh bahunya dan memanggil namanya pelan.

“Jiyong-ah…”

Lalu Jiyong menaikan kepalanya cepat dan menengok ke arah asal suara.

“Hyung…” kata Jiyong lemah.

“ayo bangun… kita ke loteng sebentar. Kajja” katanya memapah Jiyong bangun.

Mereka pun berjalan ke loteng. seperti Youngbae.. Seven juga merasa iba dengan keadaan Jiyong yang sekarang. Bahkan saat melihat sekitar, orang-orang pun memberikan “sambutan” dingin kepada Jiyong entah dengan bergosip, melihat Jiyong tajam, bahkan ada yang melemparkan benda yang kembali melukai Jiyong.

“Ya! untuk apa kau melakukan itu!?” teriak Seven dan orang itu pun segera kabur dan ia sempat berkata “itu derita mu dasar bodoh!”

“Aish! Orang itu…”

“Hyung.. sudahlah.. sedikit lagi kita sudah ada di loteng.”

Akhirnya mereka pun sampai di loteng. Temapt ini merupakan tempat fafori Jiyong jika ingin menyegarkan pikirannya dan mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hatinya.

“Aku sudah mendengarnya dari Youngbae barusan.. Kenapa kau mau melakukan ini? Kau tahu kalau ini bukan salah mu” kata Seven membuka pembicaraan.

“ini salah ku hyung! Jika mereka kecewa karena salah ku aku harus bertanggung jawab kan?”

“Tapi barusan kau meminta apa? Itu sama saja dengan membunuh dirimu sendiri!”

“aku telah menghilangkan nyawa orang kan? Bukan kah itu imbang jika aku kehilangan nyawa ku juga?”

“Jika memang ini salah mu, apa yang kau lakukan pada Dara?”

“aku.. aku telah melukai hatinya..” kata Jiyong lirih menahan tangis.

“Kenapa, apa yang terjadi?”

“Aku.. melihat Dara dan Jaejoong berpelukan dan mereka bercumbu tepat di depan mataku sedangkan aku sedang menunggunya untuk bertemu dengan ku, aku sangat merindukannya. Aku marah dan memukul Jaejoong hingga ia terjatuh dan aku pun memarahi dan memaki Dara dengan perkataan yang melukai hati kecilnya yang rapuh itu.. aku sangat kecewa Hyung, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membunuhnya.” Lalu beberapa air matanya pun jatuh.

“Jika kau tidak bermaksud kenapa kau bilang bahwa ini adalah salah mu?”

“Haruskah aku mengulang perkataan itu lagi? Berputar-putar dan tak ada jalan untuk berhenti?”

Seven pun ikut terdiam sebentar mengetahui keadaannya sudah agak rumit untuk berbicara santai kembali.

“Kau mau cokelat hangat? Akan ku belikan untuk mu..”

“terima kasih.. akan ku tunggu disini”

Seven pun berjalan ke lantai bawah membeli segelas coklat untuk Jiyong.

Jiyong menatap langit yang kebetulan hari ini mendung, sama seperti hari kemarin dan lusa. Angin pun berhembus lembut mengusap muka Jiyong, ia pun merasa lebih ringan dan kepalanya merasa kembali di segarkan oleh angin itu.

“Dara.. apa kau marah pada ku..?” katanya sambil mengeluarkan foto Dara dari dompetnya. Ia mengecup foto itu dan memasukkannya kembali ke dalam dompet dan mendekati pinggir loteng yang di batasi oleh pagar kecil, dan ia pun menyandarkan lengannya dip agar tersebut merasakan hembusan angin itu kembali. Suara pintu terbuka membuat Jiyong berbalik badan dan mengira bahwa Seven sudah datang kembali dan membawakannya coklat hangat untuknya. tapi yang ia lihat adalah seorang mahasiswa yang ia tak kenal dan ia memasang muka geram.

“kau…” katanya suaranya bernada berat.

“Nugu seyo?”

Tiba-tiba ia berlari ke arah Jiyong cepat dan mendorongnya kuat dan ia pun terjatuh dari gedung kampus berlantai 8 itu.

“Terimalah Deritamu Pembunuh!” teriaknya.

Jiyong hanya terdiam dan tak bisa bergerak, saat ia melihat tanah ia pun memejamkan matanya keras dan menerima takdirnya, tapi lama saat ia memejamkan mata ia tak merasakan sakit apapun. Ia pun sempat berpikir bahwa ia sudah ada di khayangan. Tapi saat ia menggerakkan badannya, badannya seolah melayang dan ia pun terkejut karena daerah sekitarnya masih merupakan kampusnya dan orang-orang dibawahnya berhenti bergerak membatu. Waktu pun terhenti.

“Kwon Jiyong..” tiba-tiba seorang yeoja cantik bersayap terbang menghampiri Jiyong dan memanggilnya lembut.

“siapa kamu? Malaikat?” tanyanya heran.

“apa aku sudah mati?” tanyanya.

“tidak.. belum.. kamu belum mati. Aku Sohee, Peri waktu.”

“Peri..waktu..? jadi kau menghentikan waktu dan menyelamatkan ku?”

Sohee pun menangguk pelan.

“Kenapa? kenapa kau tidak membiarkan ku?”

Sohee pun hanya diam tak mau berbicara, ia malah mendekati Jiyong dan menggenggam tangannya dan menatap matanya.

“Apakah ada sesuatu yang sangat kau ingin kan di dunia ini?”

“apa?”

“Aku bisa mengabulkan permohonanmu jika aku bisa mengabulkan”

“Kau bercanda… jika kau mau mencabut nyawaku seharusnya kau lakukan dari tadi!”

Sohee menggeleng keras dan ia kembali menatap Jiyong.

“Aku tidak mau,  lagi pula kematianmu juga belom saatnya, jadi sebutkan lah permohonanmu”

Jiyong pun terkenang kembali senyum indah Dara dan juga suaranya yang manis itu.

“Aku.. aku ingin memutar waktu kembali… aku ingin mengubah masa lalu ku  aku ingin mengembalikan semua yang telah ku hancurkan…” katanya menunduk.

“Baiklah, permintaanmu akan ku kabulkan.. tapi ingat lah hal ini Jiyong.. Memutar Waktu sebenarnya adalah sebuah permintaan yang sangat tabu dan sama sekali tidak boleh di kabulkan, Jika bisa pun kamu, yang waktunya sudah kembali akan menghadapi rintangan yang berkali-kali lipat lebih berat dari yang sekarang. Apa kau bisa menghadapi rintangan itu?”

“Seperti apa rintangan itu?”

“itu sebuah Rahasia yang maha kuasa dan aku yang seorang peri waktu pun tak tahu apa yang akan terjadi.”

“Baiklah aku terima!”

Lalu Sohee melambaikan tangannya dan terciptalah sebuah Gerbang pemisah Dimensi waktu sekarang dan masa lalu. Sohee pun membawa Jiyong masuk, jalan itu sangat hampa dan membuat apa yang melewatinya melayang begitu pun Jiyong. Sekilas ia melihat-lihat masa-masa lalunya saat masih bersama Dara di dinding-dinding jalan itu.

“ke masa apa nanti kita sampainya?” tanya Jiyong.

“Entah lah, yang jelas aku hanya mengantarkan mu sampai di ujung gerbang ini.”

Tak lama kemudian ada sebuah cahaya putih menyinari mereka, gerbang keluar tak jauh lagi dari tempat mereka berjalan.

“sebentar lagi kita sampai, pengangan lah yang kuat. Arus waktu di sini sangat kuat jika kau tersesat kau akan terperangkap dalam ruang dan waktu yang hampa dan tak bisa keluar selamanya.”

Hal itu membuat Jiyong hanya bisa menelan ludahnya dan menggenggam tangan Sohee lebih erat.

“Baiklah, kita lewat..”

Seperti yang di katakana oleh Sohee, arusnya benar-benar kuat dan membuat Jiyong nyaris terjatuh. Mereka terpontang-panting dan berputar mengikuti arus. Rasanya seperti menaiki roller coaster dengan kecepatan sangat tinggi dan tanpa menggunakan pengaman dan rasanya mengerikan sekali. Saat mereka mendekati gerbang keluar, cahanya membuat mata Jiyong begitu ssilau dan memejamkan mata. saat ia membuka kembali matanya ia telah berada di sebuah taman rumput yang amat luas dan anginnya yang berhembus kencang menyegarkan.

“Kita sudah sampai..” kata Sohee.

“Gomawo, Sohee-sshi.. “

“Aku tetap akan berada di sampingmu sebagai pengawas, berjaga-jaga apabila ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku akan terus mengikuti mu dalam penyamaran”

Lalu ia pun mulai menghilang dan tak terlihat kembali. Jiyong pun melihat-lihat sekitar, ia kebingungan. Di manakah ia, apa yang ia lakukan saat ini, dan sedang apa ia saat itu disini. Jiyong pun hanya duduk di rerumputan dan memandang langit seperti orang yang meratapi nasibnya yang makin malang.. dan saat ia kembali melihat sekitar ia melihat seorang yeoja yang sangat sering ia lihat berlari ke arah nya. Ia memakai gaun kecil putih dan topi bundar di kepalanya. Saat ia berlari, rambutnya berkibar indah berwarna cokelat terang.

“Jiyong-ah~ kamu sedang apa disana?”

Kaget bukan kepalang, Jiyong mengusap-usap matanya berulang kali dan ia kembali melihat yeoja itu kembali masih tidak percaya, ia pun mengorek-orek kupingnya dan mendengarkan suara yeoja itu kembali.

“Ya! jiyong-ah! Kau lupa kita sedang bermain petak umpet?”

“Da…” kata Jiyong terbata.

Yeoja itu pun berhenti di depan matanya dan ikut duduk bersamanya.

“Wae yo? Kenapa kamu? Kamu melihat hantu? Kok wajah kamu shock sekali? Apa kamu kaget kehebatanku dalam petak umpet?”

“Dara..?” katanya sambil mengusap usap pipi dara dan mencubitnya.

“aduh sakit! Kamu kenapa sih?”

Jiyong pun merasa ka nada sesuatu yang meluap di hatinya, ia merasa amat senang bisa melihat Dara kembali.

“Dara-ya!” katanya keras lalu memeluk Dara erat dan ia mencium bahunya lembut.

“Ya ampun… kamu kenapa sih?” heran Dara.

“Aku merindukan mu..” katanya

Dara hanya menaikkan bahu dan membalas pelukan Jiyong hangat.

Setidaknya Jiyong merasa ia masih bisa memeluk orang yang amat di cintainya itu kembali, sebelum ia melalui rintangan hukum yang akan menerjang dirinya. Tak peduli sekeras apapun rintangan itu, Jiyong tetap bertekad akan melaluinya dan memastikan bahwa Dara bahagia dan yang jelas… tak akan membiarkan Dara pergi unuk kedua kalinya.

To be Continued…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s