-A RING-

A Ring [pict]

-A RING-

Author by Icha @angelofcha

Genre : Romantic, Angst

Rating : G

Lee Donghae [Super Junior]

Lee Hyeorin [OC]

And  the other cast.

 

Disclaim : FF ini adalah milik saya seorang >< dan terbukti keasliannya dan ke originalannya dari pemikiran saya langsung, FF ini juga ada di blog saya sendiri http://elfplaygirlz.wordpress.com. Jadi mohon semohon mohonnya (?) jangan plagiat FF ku ini ya >< Super Junior KRY milik saya seorang.  #abaikan.

 

xxXxx

 Hyeorin melangkahkan kakinya menuju sebuah  kamar apartement yang tidak terlalu besar. Setelah sampai di depan pintu, ia memijat beberapa tombol password kamar tersebut dan tidak lama kemudian pintu apartement itupun terbuka.

 

Hyeorin menggeleng – gelengkan kepalanya dengan gusar ketika melihat keadaan ruangan yang sangat berantakan tersebut. Sambil memasuki ruangan itu lebih dalam, ia memungut kaus kaki dan juga mengambil sepasang sepatu lalu meletakannya pada tempatnya.

Hari menunjukkan pukul 8 pagi KST namun Hyeorin belum mendengar keberadaan seseorang yang harusnya tinggal di apartement tersebut. Ya, apartement tersebut bukanlah miliknya, melainkan milik sang namjachingu Lee Donghae yang telah menjalin kasih dengannya selama 2 tahun terakhir ini. Lee Donghae dulunya adalah sunbae-nya di kampus. Sekarang namja berparas lembut itu telah bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai karyawan biasa. Statusnya yang baru saja lulus kuliah membuatnya tidak bisa mendapatkan posisi yang tinggi walaupun dia lulus dengan nilai yang bisa terbilang tinggi.

‘Gubrak!!!!’ “Aaaahhh…appooooo…” terdengar jeritan dengan suara yang berat dari dalam kamar yang hanya ada satu – satunya di apartement tersebut. Setengah shock Hyeorin bergegas menuju kamar itu lalu membuka pintunya.

“Oppa waegurae????!!!” Tanya Hyeorin panik.  Kepalanya yang mungil tersembul dari balik pintu. Lalu yang ia lihat adalah pemandangan seorang Lee Donghae yang berada di bawah lantai sambil mengusap – usap bokongnya.

“Eoh chagiya,,wasseo?” Tanyanya, ia meringis sesaat, lalu bangun dari posisinya. “Aku hanya terpeleset chagi, lantainya licin rupanya.” Katanya. Namja itu mengembangkan senyuman hangatnya seolah berkata bahwa ia baik – baik saja.

“Kau selalu ceroboh oppa, sudah ku peringatkan untuk mengeringkan kakimu dulu sebelum keluar dari kamar mandi.”

Donghae tertawa kecil, ia terlalu senang karena sang yeojachingu sangat mengkhawatirkan dirinya dan juga memperhatikan dirinya. “Mianhae chagiya, aku terburu – buru.” Ucapnya sambil berlalu kearah lemari, mengambil sebuah dasi hitam lalu mengenakannya.

“Selalu saja beralasan seperti itu.” Hyeorin merengut kesal. “Cha!! Aku akan menyiapkan sarapan oppa dulu. Hari ini aku ada ujian oppa, jadi setelah makan bersama, kita berangkat bersama juga ya.”

“Arraseo chagiya, aku akan mengantarmu sampai ke halte bus di ujung jalan. Cepatlah buat sarapannya, nanti kau telat.”

Lee Donghae bukanlah seorang namja yang berkelebihan materi. Orang tuanya telah meninggal ketika ia masih bersekolah di senior high school. Beruntungnya ia memiliki otak yang cukup pintar sehingga ia tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah dan kelanjutan kuliahnya. Beasiswa bisa dengan mudah ia dapatkan.

Dan di kampus itulah mereka bertemu, Donghae yang kebetulan adalah asisten dosen di sebuah mata kuliah  yang di ikuti oleh Hyeorin mulai merasakan benih – benih cinta karena terlalu sering bersama dengannya. Hyeorin bukanlah orang yang pintar untuk mata kuliah yang di ajarkan oleh Donghae, hingga akhirnya orang tua Hyeorin memanggil Donghae untuk memberikan les private pada anak mereka agar Hyeorin dapat lolos ujian mata kuliah tersebut.

“Hmmm…baunya enak sekali.” Seru Donghae dari kejauhan, ia menghampiri Hyeorin yang masih sibuk berkutat didepan kompor lalu memeluknya dari belakang, melingkarkan tangan hangatnya di pinggang Hyeorin yang ramping.

Hyeorin tersenyum “Bau apa yang enak menurutmu oppa?” godanya.

Donghae menaikkan sebelah alisnya, tersenyum geli mendengar candaan dari Hyeorin. “Mungkin keduanya, bau masakan dan bau seseorang yang akan menjadi istriku di masa depan.”

“Kau pintar menggombal oppa, tidak heran kalau dulu banyak yang tergila – gila padamu.”

“Dan sayangnya aku hanya tergila – gila pada gadis yang ada di hadapanku saat ini.” Donghae mengecup pipi Hyeorin. “Apa sudah selesai? Aku lapar chagiya.” Rengek Donghae, ia meletakkan dagunya di atas bahu kanan Hyeorin, bibirnya mengerucut.

“Cha!!! Sudah selesai, ayo kita makan oppa.”

xxXxx

Hyeorin melihat gerombolan sahabat – sahabatnya tengah bergossip ria di café kampus. Hari itu gerombolan mereka agak lebih ramai dari biasanya, entah apa yang mereka bicarakan yang pasti adalah sesuatu yang seru. Gerombolan itu memang tidak pernah kehabisan obrolan sedikitpun.

“Annyeong, aigoo..kalian bukannya belajar, apa yang kalian bicarakan tanpaku eoh?” Hyeorin langsung duduk di sebuah kursi kosong yang sepertinya memang sengaja disiapkan untuk dirinya. Karena yang terlihat diantara gerombolan tersebut, hanya Hyeorin lah yang belum ada.

“Eoh? Hyeorin-ah, wasseo? Darimana saja kau?” Tanya Hyuna, yeoja yang memiliki tubuh sexy itu langsung menyodorkan sebotol air mineral pada Hyeorin yang dengan senang hati disambut oleh Hyeorin, tentu saja setelah berjalan cukup jauh dari gerbang depan kampus sampai ke café kampus rasa haus begitu melanda dirinya.

“Kau bertanya seolah kau tidak tahu saja Hyuna-ya…tentu saja dia habis menjalankan kewajiban sebagai calon istri yang baik, benarkan Hyeo?” Sahut Yoojin di iringi kerlingan mata dan senyuman yang sulit di artikan.

Hyeorin tertawa renyah “Seperti itu kira – kira..lalu apa yang sedang kalian bicarakan eoh?” matanya menatap secara bergantian 3 yeoja terseksi di kampus mereka. Hyuna, Nana, dan Yoojin. Karena menurut pengamatan Hyeorin, mereka bertigalah penyebab dari kehebohan yang terjadi hari ini.

“Tanyakan saja pada Kahi eonni, dia yang menyebabkan obrolan ini.” Kali ini Nana yang menjawab, gadis berambut blonde itu menunjuk seorang yeoja yang bernama Park Kahi dengan dagunya.

“Lihat ini Hyeo-ah, aku baru saja di berikan cincin oleh Yoochun” Jawab Kahi seraya menyodorkan tangannya yang dimana jari manisnya terhias oleh sebuah cincin berwarna perak yang indah. “Yoochun bilang cincin itu sebagai pengikat kami. Menandakan bahwa aku miliknya.” Jelasnya.

“Eoh?? Benarkah eonni?? Wah, cincin yang sangat indah.” Puji Hyeorin, matanya tak lepas mengamati cincin itu.

Kahi memainkan cincinnya dengan jarinya yang lain “ini hanya cincin biasa, bukan cincin yang sesungguhnya. Yoochun akan membelikan yang sebenarnya saat hari pertunangan kami nantinya. Lalu kau sendiri bagaimana? Kau kan sudah lama berhubungan dengan Donghae sunbae, Hyeo-ah.”

Ucapan Kahi tersebut sukses membuat seluruh mata yang berada dalam gerombolan itu memandang pada Hyeorin, seperti menantikan jawaban darinya.

Hyeorin terdiam, selama ini Donghae tidak pernah membelikan cincin atau semacamnya sebagai tanda pengikat mereka berdua. Ia menghela nafas panjang. “Apakah hal itu perlu eonni?” tanyanya pelan.

“Sebenarnya itu perlu Hyeo-ah.” Sambar Jihyun. “Sebagai pengikat dan penanda bahwa kau miliknya. Apa selama ini Donghae sunbae tidak pernah memberikanmu cincin?” Jihyun mengerutkan keningnya.

Kesedihan mendadak tersirat di wajah Hyeorin, melihat hal itu, Hyuna langsung menyikut perut Jihyun, memberi tanda bahwa yeoja itu telah salah bicara. “Aaa…Hyeo-ah, mi-mianhae aku tidak…”

“Gwenchana Jihyun-ah..” potong Hyeorin cepat, ia tersenyum. “Donghae oppa memang tidak pernah memberikan hal seperti itu, dan selama ini aku pun tidak tahu menahu soal itu.”

xxXxx

“Mwo? Cincin??” Donghae menaikkan sebelah alisnya, menatap heran pada gadisnya yang sedang menyantap sepiring nasi goreng seafood di sebrangnya. “Cincin seperti apa? Buat apa?”

Hyeorin mengaduk – aduk nasi gorengnya tanpa nafsu, ia telah berkali – kali mengehela nafas hari ini. “Hanya sebuah cincin biasa oppa, seperti yang Yoochun oppa berikan pada Kahi eonni, sebagai penanda bahwa Kahi eonni hanyalah milik Yoochun oppa.”

Donghae memasukkan sesuap nasi goreng kedalam mulutnya. “Apakah itu harus?” tanyanya dengan mulut yang penuh.

“Apa oppa tidak mau menandaiku bahwa aku hanya milik oppa?” Hyeorin balas bertanya, nada suaranya gusar. Ia sudah tidak sabar dengan obrolan ini. Yang ia butuhkan hanyalah jawaban atas mau atau tidaknya Donghae membelikan cincin untuknya.

“Menandaimu dengan cincin main – main seperti itu? Bahkan Yoochun sunbae pun harus membeli cincin lagi untuk pertunangannya, lalu kembali membeli yang lain lagi untuk pernikahannya.” Tegas Donghae, namja itu berusaha untuk membuka pikiran yeojachingunya yang menurutnya teracuni sesuatu hal yang tidak berguna.

Hyeorin menundukkan kepalanya dalam – dalam, gerakan tangannya yang memainkan sendok pun terhenti.

“Yoochun sunbae harus membeli 3 kali cincin, itu namanya pemborosan chagiya.”

Hyeorin bangkit dari duduknya dengan kasar, meja makan Donghae sedikit tergeser dan kursi yang di tempati oleh Hyeorin terhempas kebelakang. “Oppa tidak mengerti!!! Sudahlah, aku pulang!!” hentaknya kesal, ia mengambil tasnya lalu berlari menuju pintu keluar.

Donghae menghela nafas, memijat pelipisnya pelan – pelan. Ia memilih untuk tidak mengejar Hyeorin karena dianggapnya percuma, ia hanya akan di diamkan oleh gadisnya.

xxXxx

Hari ini adalah hari jadi Hyeorin dengan Donghae, anniversary mereka yang ke 2tahun 6bulan. Donghae meminta Hyeorin untuk bertemu di halte bus yang tidak jauh dari kantor tempat dimana Donghae bekerja.

Donghae bilang ia akan memberikan sesuatu, setelah itu ia harus kembali bekerja karena pekerjannya sedang banyak dan berjanji akan mengajak Hyeorin makan malam di sebuah restaurant sepulangnya ia kerja nanti.

Hyeorin berpenampilan sangat manis hari ini, meskipun hanya bertemu sebentar untuk siang ini. Ia berharap Donghae akan memberikannya sebuah cincin seperti apa yang ia inginkan. Sudah 10menit gadis itu duduk di halte bus itu sendirian, matanya tak henti – henti mencari keberadaan namjachingunya.

‘Kenapa lama sekali?’ pikir Hyeorin. Ia mengerucutkan bibirnya, melihat jam tangannya. ‘Tidak biasanya oppa terlambat janjian.’ Keluhnya.

“Hyeo-ah!!!!” seru seseorang, suara khas milik Lee Donghae terdengar. Hyeorin menolehkan kepalanya kesumber suara, ia melihat namjanya tengah berlari – lari dengan nafas yang terengah – engah dan sebelah tangan yang tersembunyi dibalik punggung.

Hyeorin tersenyum, lebih tepatnya tersenyum pada tangan yang berada dibalik punggung Donghae, ia tidak sabar untuk melihat apa yang Donghae akan berikan padanya. Dan ia sangat berharap banyak bahwa itu adalah sebuah cincin.

“Mianhae, aku tadi harus menyelesaikan beberapa berkas dulu.” Ucapnya, ia mengambil tempat di sebelah Hyeorin, mengistirahatkan badannya dan mengatur nafasnya. “Mianhae aku membuatmu menunggu.” Donghae mengecup dahi Hyeorin dengan lembut.

“Gwenchana oppa.”

“Hajiman, aku tidak bisa lama – lama sekarang, ini untukmu chagiya.” Donghae mengeluarkan tangannya dari balik punggungnya, memperlihatkan sebuah bungkusan kado yang agak besar untuk sebuah cincin menurut Hyeorin.

“Ige mwoya oppa?”

Donghae mengulum senyuman, sebuah senyuman yang paling hangat yang pernah Hyeorin lihat. “Buka saja chagiya, ku harap kau menyukainya.”

Dengan tergesa – gesa Hyeorin mulai merobek kertas kado berwarna biru laut itu. Hatinya berdebar – debar tak sabar menantikan kado yang ia harapkan. Ketika kertas kado telah terbuka semua, kini ditangan Hyeorin ada sebuah kotak yang berukuran sedang. Perlahan Hyeorin membuka tutup kotaknya.

“Mwo???? Boneka beruang???” jerit Hyeorin kesal. Sungguh sebuah kado yang sangat tidak di harapkan olehnya. Sebuah boneka beruang mungil yang memegang keranjang bunga. “Oppa pikir aku anak kecil??” Dengusnya.

“Hyeo-ah, chankamman, dengarkan aku dulu chagi.”

“Ya!!!! Aku kesal denganmu oppa!! Aku benci kamu!!!” teriak Hyeorin, ia melempar boneka beruang itu kearah jalan raya, kemudian ia membalikkan badannya lalu meninggalkan Donghae.

Tanpa Hyeorin ketahui, Donghae menyebrangi jalan, mengambil boneka beruang yang kini tergeletak di tengah jalan. “Kau jangan sampai hilang,.kalau hilang habislah sudah semuanya.” Gumam Donghae, ia menepuk – nepuk boneka beruang itu, membersihkan segala kotoran dan debu yang menempel, di bibirnya tetap terukir senyuman hangatnya.

‘Ckiiiiiiittttt BRAK!!!!’

“Hey!! Hey!! Lihat ada yang tertabrak!!!”

“OPPAAAAAA!!!!!!!!!!!!”

xxXxx

Hyeorin menatap kosong pada boneka beruang mungil pemberian terakhir dari Donghae, kecelakaan itu merenggut nyawanya. Hyeorin terus menyalahkan dirinya, ia merasa ia yang menyebabkan kecelakaan itu. Kalau saja ia tidak membuang boneka beruang itu, kalau saja pikirannya tidak di kuasai amarah, kalau saja…

“Jadi itu boneka pemberian Donghae sunbae?” Kahi mengusap – usap rambut Hyeorin dengan lembut. Semenjak tragedi itu, sahabat – sahabat Hyeorin berganti – gantian mengunjunginya. Sekedar memberikan semangat, mengajak berbicara, dan lainnya meskipun akan sia – sia. Hyeorin tidak pernah mau mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya terus menatap boneka beruangnya dari pagi hingga malam dengan tatapan kosong.

“Boneka yang bagus.” Kahi terus berbicara walaupun tidak ada tanggapan dari Hyeorin. “boleh eonni lihat?”

Hyeorin hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kahi tersenyum sedih, setidaknya Hyeorin sudah memberikan respon terhadap orang lain. Kahi mengamati boneka beruang itu lekat – lekat, ia seperti melihat sesuatu di sisi dari kepala boneka itu. “Hyeo-ah, lihatlah, kepala boneka beruangnya seperti ada resletingnya.”

Hyeorin mengerjapkan matanya berkali – kali, ia membalik bonekanya perlahan dan menemukan apa yang dimaksud oleh Kahi.

“Mau eonni bantu untuk membukanya Hyeo-ah?” ujar Kahi. Dan kahi hanya mendapatkan gelengan kepala dari Hyeorin, Kahi menepuk – nepuk kepala Hyeorin dengan lembut. “Geurom, eonni keluar saja ne?”

Setelah Kahi keluar dari kamar Hyeorin, Hyeorin mengamati resleting itu lama. Ia menarik resleting itu, dan sebuah benda terjatuh ke atas meja ketika resleting itu berhasil terbuka sepenuhnya.

Sebuah cincin bermatakan permata berwarna sapphire blue.

Jemari Hyeorin menyentuh secarik kertas yang berada didalam kepala beruang itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menarik kertas tersebut keluar dan membuka lipatannya.

“Chagiya, mianhae atas kejadian waktu itu. Bukannya aku tidak mau memberikanmu cincin, tapi aku tidak mau memberikanmu cincin main – main dan murahan seperti itu. Jika kau sudah membaca surat ini, berarti kau sudah menemukan cincin mu. Itu bukan cincin main – main chagiya, itu sebuah cincin tanda kesungguhanku untuk memilikimu. Pakailah cincin itu nanti malam saat kita pergi ke restaurant, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu. –Lee Donghae-“

[END]

27 thoughts on “-A RING-

  1. Aaahh.. Greget bgt aku, thor.. #gi2t jari ampe putus

    kasian bgt donghae, knpa meninggal si thor,? Hepi ending dong.. #reader nyolot

    bgus bgt thor, asli.. 2 kelinci!! #plakk

  2. kok donghae meninga, kok gak hapy ending aja sih, wah saya nangis nih bacanya, haduh oppa kenapa, kau gila lari ke jalanan, kenapa gak dibiarin ada bonekanya tar pas jalanan gak ramai, kan bisa di ambil, salah perempuannya sih, kenapa ngambek segala, jadi beginikan hasinya, oppa mau gak jadi suamiku aja, aku akan terima kamu apa adanya kok, kekekekek, kau pangeranku satu satunya, yang tampan… kekekekekeke….
    ~emmmm, kakak..
    donghae oppa jeongmal saranghaeyo…

    !!! karanganan mu bagus bangetttttttttt,, tapi kok sedih,, teruslah berkarya ya…
    >.<

    from ghani surya mh…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s