Till Death Separate Us -Chapter 1- (Sequel Of Don’t Say Yes)

Till Death Separate Us_2

Title

Till Death Separate Us

Author

Park Yoo An aka Ega Arista

Length

Multichapter

Rating

T

Genre

Romance

Main Cast

Im Yoona

Kim Jong In

Other Cast

Find them by yourself

Words Cound

2296 words

“Proudly dedicated this story as the sequel of Don’t Say Yes”

Till Death Separate Us

 

Yoona sibuk mengepak barang-barangnya ke dalam koper. Apa yang dirasanya penting dia masukan begitu saja ke dalam koper. Termasuk foto keluarga, foto dirinya bersama Kai dan tentu saja pakaiannya.

Sambil mengepak barang-barangnya, yeoja itu kembali berpikir apakah sudah benar keputusannya bersama Kai untuk meninggalkan Seoul? Ke Jeju? Dan membuka lembaran baru disana tanpa adanya restu? Lalu, bagaimana nanti resikonya?

 

Yoona menghela nafasnya, ‘Tidak, kau harus optimis Im Yoona.’ batinnya berusaha menenangkan diri. Tapi tetap saja, yang sedang berkelebat di kepalanya adalah resiko terburuk keputusan mereka nanti.

“Sudah selesai?” tanya seorang laki-laki di depan pintu kamar Yoona. Membuyarkan pikiran Yoona.

“Eum, sedikit lagi Oppa.” jawab Yoona tanpa memalingkan mukanya.

“Oooohh, aku sudah selesai mengepak barang-barangku.” ujaran Kai kontan membuat Yoona mengernyit lalu menoleh ke arahnya.

“Barang-barangmu? Bukankah kau tadi kabur dan belum sempat membawa barang-barangmu?” tanya Yoona.

“Aku sering tidur di rumah Sehun dan D.O. Maka dari itu ada beberapa bajuku yang ada di rumah mereka. Aku tadi mengambilnya, aku juga sudah mengatakan kepada mereka agar tidak memberitahukan keberadaanku kepada Appa dan Omma.” jelas Kai.

***

Pukul 11.00 PM. Malam ini Kai dan Yoona akan segera berangkat menuju Jeju. Keduanya kini sedang duduk di kursi untuk menunggu pesawat yang akan membawa mereka ke Jeju datang. Sudah sedari 2 jam mereka menunggu di bandara itu.

“Hoammm…” Yoona menguap saking ngantuknya.

Kai yang menyadarinya menoleh ke arah Yoona dan tersenyum gemas. Ditariknya kepala Yoona ke dekapannya.

“Kau sudah mengantuk?” tanya Kai.

“Baboyo!” Yoona meninju pelan dada Kai. “Tentu saja aku mengantuk Oppa, apa kau tidak lihat aku tadi sudah menguap?” kata Yoona, matanya terpejam.

“Hehe, iya.” cengir (?) Kai. Namja itu mengelus rambut Yoona lembut.

“Mianhae…” desah Kai.

Yoona mengernyit mendengarnya, tapi matanya masih setia memejam. “Untuk apa?” tanya Yoona.

“Karena aku mengajakmu kabur malam-malam begini dan membuatmu mengantuk. Harusnya kau sudah ada di tempat tidurmu.” jawab Kai. Namja itu makin mengeratkan dekapannya. Mencoba menghangatkan (?) tubuh Yoona. Mungkin saja yeoja itu kedinginan.

“Gwenchana.” ucap Yoona. Yeoja itu membuka matanya.

“Kenapa bangun?” tanya Kai.

“Kurasa sebentar lagi kita akan segera berangkat.”

“Yoong, tentang rencana kita itu. Melarikan diri ke Jeju dan menikah disana. Kurasa, sebelum itu kita harus membeli rumah dulu. Aku tidak mau kita tinggal di apartemen.” ujar Kai.

“Rumah?” tanya Yoona.

“Ne. Kurasa sisa uang di tabunganku cukup untuk membeli rumah yang sederhana. Otte?”

Yoona diam. Mencoba memikirkannya. Sekilas, yeoja itu tersenyum dan mengangguk. Pertanda menyetujui usulan Kai.

“Baiklah, aku menyetujuinya. Tapi setelah itu, apa yang harus kita lakukan untuk mencari uang? Apakah aku harus mendaftar di perguruan tinggi sana sambil bekerja sampingan? Atau aku tidak usah masuk ke perguruan tinggi yang baru dan mencari pekerjaan?” tanya Yoona panjang lebar.

“Eumm, bagaimana ya? Kalau menurutmu?” tanya Kai balik.

“Aku sih mau saja jika harus masuk ke perguruan tinggi lagi.” jawab Yoona.

“Begini saja, kau tetap dirumah. Dan aku akan mengurusi perusahaanku di Jeju.”

Mata Yoona membulat mendengar perkataan Kai. Mwo? Perusahaan?

“Mwo? Perusahaan?” tanya Yoona kaget.

“Ne, aku memang punya perusahaan di Jeju.”

“Tap-tapi, kenapa aku tidak tahu?” tanya Yoona.

“Ohh, aku lupa memberitahukannya kepadamu. Aku baru saja membeli saham perusahaan itu seminggu lalu. Hehe, mianhae.”

Yoona terdiam. Sungguh, dalam hati dia merasa beruntung mempunyai Kai sebagai kekasihnya. Namja itu, selain tampan, baik, dan kaya, dia juga dianugrahi banyak talenta dan kecerdasan otak yang luar biasa (?). Bahkan diusianya yang 26 tahun itu, namja itu sudah mampu membeli saham perusahaan. Sementara Yoona sendiri? Dia hanya gadis biasa, yang tidak kaya dan yatim piatu. Bahkan, yeoja itu tidak pernah mencetak prestasi bidang akademik maupun non akademik selama riwayat pendidikannya.

Setelah lumayan lama bergelut dengan pikirannya tentang perbedaan dirinya dengan Kai, kedua tangan manusia menekan lembut pipinya.

“Im Yoona! Kita akan segera berangkat.” kata Kai menyadarkan Yoona dalam lamunannya (?).

“Ah ne Oppa.”

***

3 Hari Kemudian…

Sebuah mobil Ford berhenti di depan sebuah rumah kecil bertingkat dua yang terbuat dari kayu bercat putih itu, namun tampak asri dan indah.

Rumah itu terletak tepat di samping pantai. Di sampingnya juga terdapat beberapa rumah penduduk sekitar.

Seorang namja dan yeoja keluar dari mobil itu. Siapa lagi kalau bukan Kai dan Yoona.

“Kau suka?” tanya Kai kepada Yoona.

Yoona kagum (?) dengan rumah dihadapannya. “Suka, sangat suka Oppa.”

Yoona melangkahkan kakinya mendekati rumah itu, dibelakangnya Kai menyusul mengikutinya.

Yoona menelusuri halaman rumahnya. Beberapa bunga tulip tertanam di pot-pot yang dijejer rapi. Di dekat pagar juga terdapat ayunan berwarna putih.

Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul di otak Yoona.

Dimana ada dirinya, Kai dan seorang anak kecil, yang tengah bermain di ayunan itu. Mereka tampak bahagia. Anak kecil itu mirip sekali seperti Kai.

‘Ya Tuhan, kenapa aku berpikiran seperti itu?’ batin Yoona.

Yoona menggelengkan kepalanya keras. Cepat-cepat yeoja itu membalikan badannya, “Kajja Oppa, kita keluarkan barang-barang dan membersihkan rumah…” ajak Yoona.

Hari itu, Kai dan Yoona menata barang-barang dan perabot mereka di rumah baru itu.

“Oppa!” teriak Yoona dari ruang tengah. Kai yang sedang sibuk menata kamar yang terletak di lantai dua cepat-cepat turun dan mendapati Yoona yang tengah berkacak pinggang sambil memanyunkan bibirnya. ‘Pasti ngambek,’ batin Kai.

“Wae?” tanya Kai.

“Disini ada 8 ruangan. Aku bingung dimana seharusnya letak dapur, ruang tamu dan kamar tamu juga kamarku…”

“Jeongmalyo? Oh, kalau dapur, ruang tamu dan kamar tamu dipikir nanti saja…”

“Ya! Mana bisa begitu Oppa?” gerutu Yoona.

“Lalu?” tanya Kai.

“Aishhh, bagaimana dengan kamarku?” tanya Yoona.

“Tentu saja berdua denganku.” jawab Kai santai.

“MWO? APA MAKSUDMU?”

“Tentu saja kamar kita berdua.”

“Ya! Mana bisa begitu? Bagaimana kalau tetangga sebelah berpikiran yang negatif??” tanya Yoona panik.

“Tidak akan! Lagipula sebentar lagi kita juga akan resmi menjadi suami istri. Wajar saja kalau kita satu kamar…”

“Tapi kan kita belum menikah Oppa!” rengek Yoona.

“Memang belum, tapi sebentar lagi! Mungkin sekitar satu minggu atau mungkin dua minggu lagi…” kekeh Kai.

“Nah, kalau begitu, kamarnya pisah dulu nanti kalau sudah menikah kita akan sekamar.” usul Yoona.

“Ckkk, bagaimana ya? Tapi, kau itu terlalu polos sekali sayang. Aku takut kau nanti akan kaget dengan ‘itu’. Makanya aku mau kita sekamar walaupun kita belum menikah, jadi kita bisa belajar dan berlatih dulu bagaimana caranya melakukan hubungan suami istri itu!” goda Kai.


Yoona membulatkan matanya. “YA! DASAR MESUM!” Yoona meraih majalah di dekatnya dan mengarahkan majalah itu ke wajah Kai. Tapi sayangnya, Kai cepat-cepat menghindar dan berlari menuju ke kamar mereka.

Malam harinya…

Sedari tadi sejak pertengkaran konyol mereka, Yoona masih tetap terus merengut dan tidak mau bicara dengan Kai. Sementara itu Kai terus senyum-senyum tidak jelas.

Keduanya kini tengah berbaring di ranjang yang sama.

“Yoong…” panggil Kai pelan.

“…” Yoona diam tidak menanggapi Kai.

“Yoong…” panggil Kai sekali lagi.

“…” Yoona tetap saja diam.

“Aish! YOONG!” panggil Kai setengah kesal karena Yoona tak juga menanggapinya.

Yoona membalikan tubuhnya membelakangi Kai.

“Aku benci padamu…” ujar Yoona pelan.

“Wae? Apa salahku?” tanya Kai.

“Mana boleh kita tidur seperti ini sementara kita belum menikah?” tanya Yoona. Yoona membalikan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Kai.

“Ya, chagi-ya kan aku sudah bilang kalau i-” sebelum Kai sempat menyelesaikan kalimatnya, Yoona dengan cepat mendorong Kai yang sedang enak-enakan berbaring, hingga akhirnya namja itu jatuh dari kasur ke lantai.

“Aish! Appo! Sakit tau!” rintih Kai sambil mengusap pantatnya.

“Salahmu sendiri!” Yoona menjulurkan lidahnya. “Awas kalau kau sampai pindah ke atas!” ancam Yoona. Yeoja itu berbaring lagi di kasurnya dan mulai memejamkan mata.

“Kau tega! Kenapa kau menyuruhku tidur di lantai yang dingin ini?” tanya Kai memelas (?).

“Ambil saja selimut kalau begitu.” jawab Yoona enteng. Tetap menutup matanya.

Kai mencibir Yoona. Sepintas ide konyol muncul di otaknya. Namja itu menyeringai ke arah kekasihnya yang sudah memejamkan matanya. ‘Begitu ya? Aku yakin setelah ini kau yang akan kalah dan aku yang akan menang sayangku,’ kekeh Kai dalam hatinya.

Setelah menemukan waktu yang tepat (?), Kai melompat menuju kasur dan cepat-cepat berbaring di ranjang.

Yoona yang merasakan kasurnya bergetar (?) membuka matanya dan terkejut mendapati Kai.

“Ya!” pekik Yoona. Tapi, Kai cepat-cepat menarik tubuh yeoja itu ke pelukannya. Hingga posisi mereka sekarang berpelukan.

‘Aish! Selalu saja kau yang menang jika berdebat denganmu…’ gerutu Yoona dalam hati.

Karena tidak bisa melawan, Yoona akhirnya pasrah saja. Toh, dia sedang tidak dalam masa suburnya. :p


Akhirnya, Yoona dan Kai terlelap dalam posisi berpelukan.

Dalam hati Kai, namja itu bersorak senang karena akhirnya Yoona mengalah (?) dan pasrah saja. Tapi Kai juga merasa bersalah karena menurutnya memang tidak seharusnya mereka tidur berudaan seperti itu sementara mereka belum menikah. Kai, takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Yoona.

Dan pada akhirnya, ditengah malam Kai bangun dan menatap wajah cantik Yoona yang sedang damai dalam tidurnya di pelukan namja itu.

“Aish, baboya Kai! Seharusnya jika kau mencintai Yoona kau tidak memaksanya untuk tidur denganmu seperti ini. Ini sama saja dengan kau merusak harga dirinya. Bukankah, kekasih yang baik tidak akan merusak harga diri yeojanya namun akan menjaga kesuciannya (?) ?” gumamnya pada diri sendiri.

Didekatkannya wajahnya ke wajah Yoona. “Mianhae babe, aku tidak akan membuatmu menanggung akibatnya sebelum kita menikah.” diciumnya bibir Yoona, lalu dikecupnya dahi Yoona.

Perlahan, Kai melepaskan pelukannya dan menyelimuti Yoona.

Setelah itu beringsut dari ranjang menuju lemari dan mengambil selimut untuk digelarnya di lantai.

“Malam Yoona! Mimpi yang indah! Mimpikan aku! Dan aku akan memimpikanmu. Yang pasti bukan mimpi buruk ya? Night~” katanya kepada Yoona yang sedang tertidur. Walau tidak mungkin jika Yoona akan mendengarnya. Kan yeoja itu sudah tidur.

***

Keesokan harinya…

Pukul 05.00 AM Yoona sudah bangun dari tidurnya. Dirabanya kasurnya itu. Heran, kenapa tak ada Kai?

Yoona bangun dari tempat tidur dan mendapati Kai yang masih tidur di lantai dengan beralaskan selimut tebal.

“Aish…” Yoona berjalan ke arah Kai. “Oppa, bangun.” kata Yoona sambil mengguncangkan tubuh Kai.

“Ngghhh…” erang Kai kecil.

“Pagi Yoong, kau sudah bangun?” tanya Kai, matanya masih sembab.

“Hmm… Oppa, kenapa kau tidur dibawah? Bukannya tadi malam kau memaksa untuk tidur bersama?” tanya Yoona seraya mengelus rambut Kai.

“Apa aku tega membuat kekasihku sendiri kehilangan harga dirinya dengan tidur denganku?” tanya Kai balik sambil tersenyum.


Yoona terdiam, ‘Baik sekali,’ batinnya.

“Tadi malam aku hanya bercanda. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu sebelum kita resmi menjadi sepasang suami istri.” ujar Kai. Yoona tersenyum mendengarnya.

“Gomawo Oppa…” ucap Yoona.

Pukul 07:00 AM

Yoona tengah menyiapkan sarapan untuknya dan untuk Kai. Hari ini Kai akan pergi ke perusahaannya, karena sudah 1 minggu tugasnya di perusahaan barunya itu digantikan oleh asistennya. Sebenarnya, Kai boleh saja tidak masuk ke perusahaannya. Tapi, katanya dia tidak enak membuat repot (?) asistennya.

Kai turun menuruni tangga kayu rumah mereka. Namja itu sudah terbalut rapi dengan jas. Tangan kirinya menenteng sebuah tas hitam. Yoona yang saat ini sedang menyiapkan nasi, melihat Kai dan tersenyum.

“Kau sudah siap?” tanya Yoona lembut.

“Ne.” jawab Kai lembut.

“Apa menu masakanmu kali ini?” tanya Kai setelah dirinya sampai di depan meja makan.

“Bulgogi dan ikan panggang Oppa.”

“Oooh, sepertinya enak.” komentar Kai. Yoona mengerutkan keningnya. Sejujurnya, yeoja itu takut kalau-kalau setelah Kai merasakan masakannya, namja itu akan memuntahkannya dan memilih membeli makan di kantin dekat perusahaan.

“Kuharap begitu.” ujar Yoona pelan sekali hingga hanya dirinya yang mendengarnya.

Kai menarik kursi didekatnya dan duduk. Yoona menyodorkan sepiring nasi kepadanya dan berkata, “Mau yang mana? Bulgogi atau ikan panggangnya? Aku ambilkan.”

“Ckkk, apa kau sedang berlatih untuk menjadi istri yang baik dengan cara mengambilkanku makanan? Kekeke” kikik Kai.

Yoona memanyunkan bibirnya. “Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku baru tahu kau bersikap seperti ini. Hanya saja saat kau menawariku untuk diambilkan makanannya, aku merasa seperi kita sudah berumah tangga saja.”

Wajah Yoona memerah padam saat itu juga. Yeoja itu sedang salah tingkah sekarang. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri.

Diletakannya sendok sayur yang digenggamnya tadi. “Ya sudah, kalau begitu, ambil sendiri saja makanannya.” sungut Yoona lalu membalikan tubuhnya dan pergi menuju ruang tamu.

“Ya ya yak!” teriak Kai. “Makanannya bagaimana?” tanya Kai setengah berteriak.

“Ambil saja sendiri!”

“Aish, kalau tahu begini aku tidak akan mengejeknya tadi…” umpat Kai kesal pada dirinya sendiri. Kemudian mengambil sendok sayur yang dipegang Yoona tadi dan mengambil makanan yang tersedia.

***

Seberangkatnya Kai ke perusahaannya, Yoona memutuskan untuk pergi ke supermarket. Menyadari bahan makan di kulkas mereka hampir habis. Dan sudah lama pula Yoona tidak pergi berbelanja. Ya, membeli bahan makanan sekaligus cuci mata.

Setelah merasa cukup rapi (?) dengan dress berwarna putih yang dikenakannya, yeoja itu berangkat dengan berjalan kaki menuju supermarket, berhubung letak supermarket tak jauh dari rumahnya bersama Kai.

Ditengah-tengah perjalanannya, Yoona tak sengaja bertabrakan dengan seorang yeoja cantik.

Sekilas Yoona mengenali wajah yeoja itu. Tapi karena kaca mata, blazzer dan jaket yang digunakan yeoja itu membuat Yoona meragukan dugaannya.

“Joseonghamnida…” ucap Yoona meminta maaf.

Yeoja tadi menatap Yoona dari balik kaca mata hitamnya. “Gwenchana…” balas yeoja itu dingin.

Yeoja itu melangkah menjauhi Yoona. Yoona terus melihat kepergian yeoja itu. Dirinya menerka-nerka siapa yeoja itu. Instingnya mengatakan dia pernah melihat yeoja itu sebelumnya, namun di lain sisi dia meragukannya.

“Apakah yeoja tadi……..” Yoona menggantungkan perkataannya. “Ahh tidak mungkin! Mana mungkin itu dia?”.

Yoona berusaha menepis pikiran-pikirannya. Akhirnya yeoja itu memutuskan untuk menyeberang jalan. Tapi karena kecerobohannya, yeoja itu melintas jalan disaat seorang namja melintas menggunakan sepeda motornya. Alhasil, Yoona terserempet. Lecet yang sekarang terukir di kulitnya.

***

Yoona dibawa ke puskesmas (?) terdekat. Dokter wanita membersihkan luka-luka lecetnya. Sambil menunggu Kai datang, Yoona masih kalut dengan pikirannya. Dalam hati, yeoja itu cemas kalau-kalau yeoja yang ditabraknya tadi merupakan orang yang benar-benar diduganya tadi.

“Yoong, gwenchana?” tanya Kai yang entah sejak kapan datang.

“Gwenchana Oppa.” jawab Yoona. Tatapannya tetap lurus ke depan. Masih kalut dengan pikirannya.

Saking kalut dan sibuknya yeoja itu dengan pikirannya, sampai-sampai dia tidak memperhatikan Kai yang terus berceloteh menceramahinya panjang lebar di sampingnya.

***

Seorang yeoja menekan tombol ‘Call’ di gadgetnya.

“Ahjussi, saya sudah menemukan dimana Kai dan kekasihnya berada…”

“Baiklah. Biarkan mereka bersenang-senang dulu sebelum kita menjalankan rencana. Biarkan mereka menikmati masa-masa indah mereka, lalu kita akan membuat kebahagiaan mereka menjadi kesengsaraan…”

“Baik Ahjussi…”

“Satu lagi, saat kau sudah menemukan waktu yang tepat, celakakan Im Yoona dan bawa Kai kembali ke rumah…”

 

TBC

Huh, akhirnya chapter 1 udah jadi nih :D

Bagaimana? Bagaimana?

Oiya rencana chapter 1-2 nanti ada unsur comedy nya (ya walaupun garing sih ._.v).

Tapi rencana sih chapter selanjutnya sedih. Gimana, setuju nggak? Soalnya sih kalo diselaraskan dengan judul dan alur yang saya buat di teaser, ini bagusnya dibuat sad fanfic. Yah, moga aja nanti nggak ada yang kecewa sama endingnya :)

Komen-komen! Ayo jangan pelit!

15 thoughts on “Till Death Separate Us -Chapter 1- (Sequel Of Don’t Say Yes)

  1. Author, kalau bisa di chapter 2 nya jangan terlalu sad ending yahh.. Kalau misalnya kai jd nikah sm ‘orang itu’, yoona dicariin namja lain :D heheh

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s